Wilujeng ya A …

Katanya hidup kita belum sempurna kalau belum punya pasangan hidup. Apakah itu benar? Mari kita buktikan.

Saya mengenal seorang pria sunda yang memiliki perawakan mirip Surya Saputra. Gak mirip sih, tapi anggap saja mirip. Kanin sih yang bilang mirip ^^v Saya akan menceritakan pria ini tapi tidak usah kalian sambil membayangkan Surya Saputra. Tidak usah. Bams Samson mungkin boleh. Ah tidak juga. Oke gak usah dibahas bagian muka. Next….

Awal pertemuan saya melihat pria ini sebagai seseorang yang begitu hangat dan humoris, di balik pembawaannya yang dingin dan seperlunya. Saya pun tidak tau mengapa saya bisa jatuh hati pada pria ini. Saya cukup lupa apa yang membuat saya  berani menikah dengannya. Saya menjadi bagian dari skenario hidupnya.

Tiga tahun hidup bersama pria ini, saya diajak membuktikkan bawa hidup berdua dengan orang yang berbeda karakter dan pola pikir itu adalah KESEMPURNAAN yang Tuhan ciptakan dalam sebuah bingkai pernikahan.

Lewat dia saya jadi tau sisi lain tentang hidup. Tentang bagaimana memperbaiki diri dengan cara lain yang berbeda jauh dari apa yang saya jalani saat sendiri.

Pria ini memang tidak sempurna. Selayaknya pria di luar sana. Tapi sisi dalam hidupnya, sisi dalam dirinya adalah potongan puzzle yang membuat hidup saya lengkap. Membuat hatinya menjadi tempat yang sangat nyaman untuk merebahkan beban.

Selisih dan adu pendapat tidak jarang membuat saya sebal dan benci pada pria ini. Itu adalah efek jangka pendek saja. Karena tidak lama setelah benci, saya kembali kepada cinta. Cinta yang lebih tebal, cinta yang lebih kuat, dan cinta yang membuat saya semakin sayang pada Tuhan. Ahh… dan itulah bagian yang paling indah.

Saya percaya jika memiliki suami adalah pelengkap bahagia. Pelengkap pasti.

dan pria itu bernama Indra Purnama Irawan. Ayah dari anak saya, Ayah dari si lucu Kanin.

Seorang suami dan ayah yang tidak pernah menyerah untuk membahagiakan anak dan istrinya. Seorang suami dan ayah yang begitu erat menjaga anak dan istrinya. Seorang suami dan ayah yang selalu mempunyai waktu untuk memeluk kami dalam hangat, pelukan yang selalu kami rindukan saat ia harus kembali bekerja. We love you Ayah and happy birthday :*

 Tulisan ini diketik tanggal 2 Maret, ulang tahun suami tanggal 4 Maret, tapi baru diposting sekarang hehe ^^v

Kamu teman hidupku

Yang memilihku masuk ke dalam skenario hidupmu

Ada benci ada juga rindu

Tapi semua jadi satu

Dalam cinta yang semakin utuh

Kamu adalah potongan hatiku

Yang menjadikan jiwa lengkap

Diukirkan dalam janji

Dipersatukan dalam bahagia

Semoga apa yang tercipta dalam hati kita

adalah pengantar jiwa menuju surga 🙂

Surat untuk Kanin

 Bismillahirrahmaanirrahiim..

Hai Kanin, Assalamu’alaikum wr wb…

Selamaaaat Pagiii Cantiiikkkk 🙂

Begitu deh Bunda nyapa kamu kalau pagi-pagi liat kamu melek. Dan pagi ini, 2 Oktober 2012 adalah spesial untuk Bunda dan juga Ayah. Kamu harus tau yaa kenapaa, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Ayah dan Bunda. Sudah 2 tahun kami hidup bareng. Gak kerasa…

Nah, di ulang tahun yang kedua ini Bunda mau sedikit cerita yaa sama kamu. Mungkin di hari ini kamu belum ngerti sama sekali apa yang Bunda ceritakan, ahhh jangankan ngerti, baca pun belum bisa. Ya iyaaa la, kamu masih berumur 4 bulan Nak ^^

Kanin sayang, Bunda mau cerita tentang sebuah pernikahan. Yayaya… itulah topik yang selalu membuat Bunda tertarik untuk membahasnya, dan hari ini bertepatan dengan hari istimewa 2 tahun yang lalu, Bunda #Menikah dengan Ayah-mu. Ayah kamu yang paling ganteeeeng sedunia *tulisan berbayar* hehehe.. Continue reading

Satu Tahun Sama Kamu, bahagia!

  Bismillahirrahmaanirrahiim..

Ini adalah Jumat malam yang kesekian di mana Bb nahan ngantuk untuk nunggu kamu pulang. Tau gak A? Ini adalah Jumat yang hampir mengantarkan kita ke satu tahun usia pernikahan kita. Alhamdulillah ya A.. Kita berhasil melewati satu tahun pertama kita. Tahun pertama di mana Bb kenal kamu dengan sebenar-benarnya. Kamu juga gitu. Sama-sama sadar kalo kita berdua adalah pribadi yang rumit. Kalo lagi dateng ramenya, kita bicara dengan 8 mata. Aku dan aku yang lainnya, kamu dan kamu yang lainnya. Kita berdiskusi mulai dari hal yang ngaruh sama kehidupan masa depan sampe diskusi yang kayaknya semut juga ogah untuk ngerti. Ya kaliii deh masalahnya semut sama kayak masalahnya kita. Hehehe…

Perjalanan kita belum apa-apanya banget ya A.. Meskipun di tahun pertama ini kita berhasil lolos dari selisih satu ke selisih lain, dari perbedaan satu ke perbedaan lain, tapi ini belum seberapa. Kehidupan kita berdua masih berpuluh-puluh tahun lagi. Badainya pun akan semakin kencang ke depan… tapi Bb percaya kamu bisa pegang tangan Bb semakin erat.

I’m so proud to be your wife.

I’m so happy to be your partner..

Menikah sama kamu itu seperti masuk satu kelas yang hanya kita penghuninya. Kita sama-sama belajar. Terkadang kamu yang jadi gurunya, kadang juga Bb, kadang juga kita sama-sama menjadi murid sebuah masalah yang membuat kita belajar dan semakin saling cinta. Kamu itu perwujudan kriteria yang selama ini hanya bayangan dalam angan Bb. Kamu adalah impian Bb yang terwujud.

Menikah sama kamu bikin Bb belajar bahwa pernikahan itu bukan tentang cinta, tapi tentang komitmen dan gimana caranya menumbuhkan letup cinta yang harus selalu ada untuk menyirami komitmen itu agar semakin kuat.

Menikah sama kamu bikin Bb belajar bahwa cinta itu sama sekali bukan tentang bagaimana meminta atau menuntut, tapi bagaimana kita memberi dan mempersembahkan yang terbaik untuk pasangan kita.

Menikah sama kamu bikin Bb belajar bahwa cinta itu adalah tanggung jawab, bagaimana setiap rencana ke depannya harus diselesaikan dan menjadi pencapaian yang membahagiakan untuk pasangan.

Menikah sama kamu bikin Bb belajar bahwa cinta itulah yang membuat setiap kekurangan dan kelebihan yang kita punya adalah puzzle indah nan unik yang hanya kita penikmat seni sempurnaNya.

Menikah sama kamu selalu bikin Bb belajar, tentang semua hal… meskipun Be belum menjadi murid yang baik dengan mampu mengukir prestasi terbaik, tapi Bb ga mau ada jam istirahat. Biarkan Be asik di kelas ini, hanya sama kamu berdua..

Eh engga ding.. Sekarang udah ada murid baru, masih dalam perut tapinya 🙂

Happy 1st Anniversary A… Terima kasih sudah menemani Bb belajar banyak tentang berbagai ilmu kehidupan. Kamu adalah rumah yang baik untuk hati Bb berteduh. I love u…

*d itulis pada tanggal 30 September 2011 🙂

LONG TIME NO WRITE!!!

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Assalamu’alaikum warrahmatullahiwabarakatuh duluuuurrr!!

Ah kangen kangen kangennnn!!

Sudah lama saya tidak meracau dan berbagi opini sama dunia mayaaa.. Apa kabar kaliaannn?? Semoga sedang dalam kondisi sehat, semangat, dan sejahtera. Amiin…

Wah bingung nih si sayah mau nulis apa. Too many story to share!!!!! Mulai dari pengalaman-pengalaman unik selama jadi koass, ilmu-ilmu baru di dunia perekonomian, fenomena2 di Indonesia yang bikin gatel pengen kasih opini, percakapan-percakapan bodoh antara suami istri (as usual),sampe turun naiknya motivasi dan semangat saya. Banyak banget!!!

Sebentar.. pelan-pelan ah.. jangan seradak-seruduk.. cerita apa dulu ya emmm.. Saya mau cerita tentang ilmu ekonomi aja deh yaaa..

Suami saya teh lulusan ekonomi dan dia adalah salah satu lulusan ekonomi yang sangat concern dengan financial planning. Suami saya ”agak beruntung” dipertemukan dengan istri yang samaaaaa sekali gak ngerti ekonomi. Boro-boro ngerti ekonomi dehhh.. Punya skill nabung aja gak, hahaha.. Pernah sih nabung tapi duluuu banget waktu masih belum sekolah, waktu ingus masih dilap pake baju maen (agak jorok yaa analoginya, padahal kenyataannya saya gak pernah gitu waktu kecil). Saya nabung buat beli sepeda. Itu aja. Sampe sekarang susaaaah banget mau nabung. Parah kan yaa? Kalian bisa membayangkan ”seru” nya rumah tangga kami yang diisi oleh dua latar belakang yang berbeda. Suami yang ngerti ekonomi dan istri yang cuma tau krim ekonomi itu apa, hahahaha..

Menikah dengan Om Indra ternyata dapet bonus kuliah gratis tentang Ekonomi seumur hidup! Allah baik banget ya? Saya jadi ga usah ngambil dual degree untuk ngerti ekonomi 🙂 hehehehe..

Sekarang bacaan saya udah mulai melebar, dulu biasanya baca buku-buku motivasi dan novel, sekarang udah mulai baca buku ekonomi, yang ringan-ringan tentunya… yang untuk kalangan awam seperti saya. Buku yang bisa mengenalkan dengan simple bahwa krim ekonomi itu berbeda dengan ilmu ekonomi, jauuuhhh berbeda *ya eyaalaaaa*

Jadi inget dulu sebelum nikah sebenernya Om Indra udah kasih intro tentang dunia ekonomi tapi saya cuma iya-iya aja. Butuh waktu 6bulan lebih buat saya untuk ngerti apa maksud dari obrolan waktu awal-awal nikah hihihihi.. kenapa harus ada rencana keuangan, apa itu investasi, jenis-jenis investasi, pentingnya investasi, daaann semuanya yang berbau ekonomi… Sampe kadang suka olab juga 😀 (olab means muntah in Sundanese :P) Okei, saya sendiri belum bisa sepenuhnya mempraktekkan dengan sangat disiplin apa aja yang sudah saya pelajari dari suami, sulit cyiiiinnn. Kebiasaan hidup yang sudah mendarah daging itu sulit untuk direkontruksi ulang. Butuh perjuangan dan alhamdulillah suami saya sabaaaar banget ^^ (loveuloveu).

Nah, sejauh ini sih saya udah mulai mengerti apa itu rencana keuangan, gimana cara ngolahnya, bagaimana memilahnya biar bisa jadi aset yang ”jadi” dan modal berinvestasi, jenis2 investasi itu apa aja, resikonya gimana dan cara maeninnya gimana. Cuma sebatas teori looo saya baru ngertinya.. dan itu butuh waktu 6bulan!! Agak lemot yaa sayaa.. hehehe 😀 tapi ternyata seru sekali 😀 Sebagai wanita yang sudah mendapat jabatan ibu negara alias ibu rumah tangga, maluuu banget rasanya kalo gak ngerti yang beginian. Seneng rasanya ketika saya gak usah cari financial planner independen dan bayar mereka untuk ngatur cashflow saya, saya bisa belajar sendiri dan itu gampang kok 😉

Jadi kalo nanti ada orang ngajak ngobrol tentang dunia ekonomi, dikit-dikit saya ngerti lah, huhuyyy…

Ilmu ekonomi yang saya dapet selain dari suami, kemarin saya ikut Sanlat Investasi Syariah juga sama Om Ahmad Gozali, dan sekarang lagi baca bukunya Teh Ligwina Hananto =) lagi semangat banget cari tau dan sekarang udah mulai gak olab kalo dikasih nutrisi ilmu sama suami, karena udah nyetel di otak 😀 doain aja semoga saya jadi manusia yang lebih berguna dan bermanfaat buat sekitar, bangsa, negara dan agama. Doain semoga harta yang saya dan suami kelola dalam rumah tangga nilainya berkah…

Pentingnya kita ngerti rencana keuangan dan investasi itu kehidupan kita akan lebih baik, lebih tenang, dan insya Allah semakin royal sedekahnya =) Orang Islam itu wajib kaya kan yaa?

Ah udah segitu aja dulu… saya gak mau banyak ngomong dulu karena saya juga masih di titik nol di bidang ini, belum ada apa-apanya. Baru dapet bekal dan baru mau jalan.. Saya dan suami sepakat kalo belajar ilmu keuangan itu mutlak hukumnya. Bukan cuma untuk kehidupan rumah tangga kita aja, tapi untuk sesama juga… Kita hidup di dunia ini kan memang jobdesknya menjadi manfaat untuk orang lain.

Satu hal yang bisa saya petik hikmahnya dari perjalanan belajar yang satu ini, manusia itu gak punya batas. Hanya Allah dan aturanNya yang berhak memberikan kita batas. Maksudnya apa? Saya dan suami sepakat untuk gak menutup diri dengan ilmu yang ada. Meskipun dunia kerja saya yang utama adalah jadi dokter gigi, gak ada alasan untuk saya gak mempelajari hal lain selain kedokteran gigi. Ilmu Allah itu Maha Luas.. Sayang kan ya kalo hidup hanya mereguk setitik kecil dari apa yang Allah sudah berikan kepada kita. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, kita gak punya batas! Hanya Allah dan aturanNya yang membatasi ruang gerak kita. Selama tidak berbenturan dengan syariah Islam, kita bebas berlari kemanapun kita mau…

Okeiiii, tetap semangat, tetap bergerak.. Naik turun spirit itu biasa.. Satu hal yang gak boleh itu, ber-hen-ti dan merasa gak mampu. Jangan pernah mengecilkan kemampuan diri kita sendiri, nanti Yang Menciptakan kita marah 😀

Bersyukur harus, tapi bersyukur yang salah kaprah kadang membuat kita melakukan pembenaran untuk merasa puas dengan apa yang ada dan tidak berani melangkah lebih jauh dari kapasitas yang kita punya. Quran sudah menuliskan bahwa kita hidup di dunia ini sebagai khalifah. Hidup bukan untuk diri sendiri, tapi untuk orang lain juga. Sangat banyak PR ke-khalifah-an yang harus kita tunaikan jadiiii jangan pernah diam, karena diam itu mematikan..

Oiyaa, satu lagi satu lagiii… ternyata untuk berkecimpung di dunia investasi itu gak harus punya duit jutaan loh.. Ratusan ribu juga bisa. Kok bisa? ya bisaa lah, ada ilmunya kokkk 🙂

Sebuah tulisan untuk diri sendiri sebenernya :DD semoga tetap bisa jadi manfaat untuk teman-temin yaaaa… Maaff kalo ada salah pemilihan kata, pemilihan opini, pemilihan topik, atau mungkin pemilihan media publikasi.

Love in the air for you guysss!!

Wassalamu’alaikum wr wb…

-@achiisurachii-

my life now…

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Hari ini hari Jumat dan hari ini saya untuk ke sekian kalinya nyadar kalo udah lama gak update postingan di blog! Arrrrrggghhh… gak banget deh. Dulu ampir tiap pengalaman, perasaan, kebodohan saya tulis di blog ini. Sekarang mah, adaaa aja alasan yang bikin mandek gak ngasi makan sama tukang loteks. Ohh jangan lagi deh. Masalahnya kan nulis itu jiwa saya, kalo saya gak rajin nulis, bisa-bisa jiwanya genyatangan gak jelas dan tak tau arah. (Halaaah apasih).

Oke, mungkin saya bakal cerita dulu kemana aja saya selama ini. (Ah perasaan setiap posting isinya tentang ini mulu). Eits, tunggu dulu… hidup saya kan selalu dinamis, jadi update hidup saya sekarang pasti beda dengan hidup saya yang kemarin.

What I am doing now is…

1. Kelarin tugas akhir alias skripsi

Ahhh pengen cepet wisuda banget deh. Pengen cepet SKG. Kemarin liat orang pada di wisuda, mupengnya luar biasaaaa. Saya ambil bagian Pedodonsia alias Ilmu Kedokteran Gigi Anak untuk skripsi saya. Judulnya Alat Stabilisasi Fraktur Gigi Anak. Ada yang mau kasih data? Saya pake metode studi literatur nih. Siapa tau ada yang punya data yang berhubungan dengan judul skripsi saya. Hah… begini ya rasanya skripsi. Males tapi harus cepet selesai. Mengganjal di hati bokkk. Kan enak kalo udah di wisuda, satu challenge terlewati. Ah gak kerasa juga ya saya nguli udah 4tahun aja. Wewww.. Perjuangan selama ini mameennn bertahan di Fakultas Kebanyakan Galau, hahahaha… Alhamdulillah gening ya saya bisa nyampe tingkat akhir dan lolos masuk klinik (Padahal dulu selalu berazzam pengen kayak Tina Talisa yang hengkang dari dunia perdoktergigian dan belok ke dunia komunikasi, but now, I start to love this job, yippi!). Ayo ah cepet wisuda!

2.  Jadi dokter gigi muda di RSGM FKG Unpad

Sistem baru yang baru dijalankan di angkatan saya bikin kita yang belum SKG udah boleh ngejalanin dunia klinik. Banyak kontroversi dan perselisihan yang meramaikan perubahan sistem ini. Ahh say amah enjoy sajaaa. Saya gakan pusing sama orang yang gak suka ada angkatan saya tiba-tiba menclok di klinik. Ngapain juga. Mereka kan gatau betapa beratnya kita ngejalanin semua ini. Siapa juga yang mau skripsi sambil klinik. Lagian boleh ngejalanin klinik itu gak diukur dari udah selesai skripsi atau engga, gak ada korelasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Kita tetep sesuai prosedur kok untuk kerja di klinik. Ada orientasinya, ada tes kelayakannya, dan kita memang siap loh kerja ke pasien. Buktinya ada temen yang udah kelar satu requirement gigi tiruan sebagian lepasan dengan lancar jaya (sambil ngelus dada karena saya belum jodoh sama pasien. Hiks T,T )

3. Bersenang-senang di bisnis Oriflame

Ini nih yang baruuuuu. Saya sekarang lagi bisnis yang seru banget. Modal awal di bawah 50 rebu. Tutup poin tinggal mengalihkan belanja bulanan ke produk Oriflame yang berkualitas. Dapet temen baru dari Sabang sampe Merauke. Belajar banyak tentang ilmu Internet Marketing GRATIS. Dapet motivasi dan inspirasi yang gak abis-abis tiap harinya. Saya juga berubah jadi makin pede, semangat, seger, fresh, dan melek bisnis! Padahal yaaa dulu saya anti banget bisnis. Tapi ya gitu, zaman sekarang mah kalo gak pinter memanfaatkan peluang bisnis, nanti yang ada malah abis waktunya buat kerja. Uangnya ada, waktunya abis. Terus nikmatinnya kapan? Makanyaaa say amah cari bisnis yang beneran bisa membebaskan fnansial dan waktu. Banyak tawaran untuk 2 hal ini (kebebasan waktu dan financial), tapi saya gak salah pilih. Oriflame dan dBCNetwork bikin semuanya terasa mudah dan menyenangkan. Saya yang lagi sibuk-sibuknya skripsi dan klinik, masih sempet mengembangkan diri untuk jiwa bisnis dan jiwa bersemangat yang gak ada habisnya. Keren banget deh pokoknya! Kadang saya juga suka gak pede gitu. Bisa-bisanya di saat temen-temen yang lain fokus skripsi dan klinik, saya masiiiihhh aja ngurusin hal lain. Suka iri sih ngeliat temen yang progress skripsi dan kliniknya lebih cepet daripada saya. Tapi saya yakin kok kalo apa yang sedang saya jalani sekarang bakal ada hasilnya nanti. Mungkin saya berjalan lebih lambat untuk skripsi dan klinik, tapi saya berjalan lebih cepat untuk menyiapkan masa depan yang aman. Masa depan yang bener-bener bisa saya nikmati lahir dan bathin. Saya pengen ketika lulus setelah sumpah doktergigi nanti, saya udah punya jaring yang kuat untuk memfasilitasi kehidupan dokter gigi saya. Modal awal praktek dokter gigi itu gak murah loh 🙂 Soooo, tetap semangat! Apapun omongan orang, saya mah gak peduli! Saya buktiin nanti aja yaaaa ^^

4. Merintis usaha wedding planner

Dan untuk yang satu ini saya juga bingung, kok sempet-sempetnya yaaa. Udah mah skripsi dan klinik teh hektik, ditambah oriflame, ditambah ini juga. Hahahaha. Bismillah sih saya juga. Ini berangkat dari hobi dan salahsatu impian juga pengen punya tim Event Organizer. Saya ngerjain ini bareng 2 orang yang sama anehnya sama saya hahaha. Mudah-mudahan jadi kas pemasukan yang lumayan buat tabungan saya nanti. Sekarang sih masih merancang konsep, SOP, dan media promosi. Tungguin aja yaa nanti.. Secepatnya rilis dengan nama baru 😉 [Udah rilis sebelumnya namanya Ubin Planner, tapi gak jadi… namanya gak ear catching ;p]

5. Magang di praktek dokter gigi

Tambah lagi ini????? WEW. Hahaha tenang aja. Ini gak kejar target atau dikejar deadline. Saya jalani kehidupan magang dengan sangat senang hati. Apalagi saya tergabung sama manajemen yang oke banget. Manajemen yang kekeluargaan banget.  Saya banyak dapet ilmu dokter gigi dari para senior. Tips ‘n trick nanganin setiap kasus. Tips n trick bikin pasien balik lagi dan praktek jadi rame. Yaaa lumayan buat ilmu nanti pas saya praktek.

Sooooo many things to do in this year. Seperti kata suami, ini adalah tahun perjuangan. Tahun di mana kita berdua sama-sama mau bikin pondasi yang kuat di segala bidang untuk rumah tangga kita berdua. Semua saya lakukan untuk masa depan dan masa sekarang juga tentunya. Badan emang bakal baret-baret di awal, tapi saya bakal jadi orang yang jauh lebih sabar, tahan banting, dan sukses dunia akhirat nantinya. Amiiiiiiinnnnn.

Buat siapapun yang gak sengaja baca tulisan ini, satu hal pesan dari saya, siapin keranjang finansial dari SEKARANG, apapun kondisi temen-temen. Lajang atau menikah. Jomblo atau Taken. Labil atau stabil. Galau atau Bahagia. Siapin keranjang finansial dari SEKARANG! Karena semakin ditunda, ke depannya persaingan bakal semakin sulit! Percaya deh sama saya 😀

Oke, see u soon loteks! Happy Friday!

 

x.o.x.o

nyonyabisnis

 

 

 

hidup lebih luas tanpa alasan!

Sudah pernah dengar dengan kata: keluarlah dari zona nyaman Anda!

Ah pasti udah pernah mendengar lah ya, itu kan klise banget. Klise tapi iya. Saya dari zaman SMP selalu senang dengan kata keluar dari zona nyaman sampai ketemu pada satu titik yang saya kasih judul: jenuh dan cape.

Terus saya diem aja gitu di zona nyaman dan gak kemana-mana lagi? Hmm.. ternyata gak bisa. Hidup saya makin jenuh dan flat aja kerasanya. Setuju banget deh sama ceritanya Sang Adik di notes yang ini. Notes yang ngebahas tentang mahasiswa Kupu-kupu dan Kura-kura. Hidup itu buat saya adalah perpindahan dari pencapain satu ke pencapaian yang lain. Hidup itu bergerak. Maka kalo saya diam berarti mematikan. Sepakat. Nah, tapi ternyata gak semudah itu deh untuk selalu keluar dari zona nyaman. Selama perjalanannya selalu ada scene deg-degan, cemas, galau, lelah, ngeluh, daaaannn masih banyak scene lainnya yang gak ngenakin. Okei, dengan ini saya proklamasikan bahwa saya selalu mengalami hal itu. Anytime! Tapi hidup kan memang seperti buku cerita kan ya? Saya mah nikmatin-nikmatin aja tuh. More experience, more lesson. Meskipun buat saya pengalaman bukan guru yang terbaik, tapi guru yang terlabil. Masa ngasih pelajaran pas kita udah ngalamin sesuatu? Hahaha… mirip KBK jadinya (^^)7

Saya udah hampir 4 tahun ini menjalani hidup dengan rutinitas yang gak cuma satu. Selain kuliah, adaaaa aja hal lain yang saya kerjakan. Cape? Pasti. Galau? Pasti. Stress? Ada lah… Tapi dari semua poin negatif itu, saya jaaauhhh lebih banyak dapat poin positifnya tanpa saya sadari. Well, semenjak menikah (lagi-lagi sejak nikah), saya semakin semangat untuk memainkan zona nyaman saya. Kenapaaa? Soalnya suami saya memberikan paradigma yang berbeda tentang zona nyaman. Apakah itu? Cekidot!

Tadi di awal saya tulisnya: Keluarlah dari zona nyaman Anda!

Kalau kata suami saya, apa yang kita lakukan itu bukan keluar dari zona nyaman kita, tapi memperlebar zona nyaman. Mungkin kita memang harus keluar sekali-kali untuk menarik batas zona nyaman dan menjadikannya lebar. Cape? Pasti. Galau? Pasti. Tapi hal yang saya rasakan sejauh ini sih memang yang ada justru zona kenyamanan saya lebih luas. Dulu yang asalnya saya pemalu dan gak nyaman ketemu banyak orang jadi nyaman dan biasa aja. Dulu yang asalnya saya gak pede dan gak nyaman ngomong di depan orang banyak jadi nyaman dan biasa aja. Dulu yang asalnya saya gak bisaan bisnis dan gak nyaman nawarin barang ke customer jadi biasa aja. Dulu yang asalnya saya gak nyaman bergaul dengan kalangan tertentu, saya jadi nyaman bergaul dengan siapa aja. Dulu yang asalnya masih milih-milih mau ikut acara apa aja untuk nambah ilmu, sekarang nyaman-nyaman aja tuh diajak ikut acara apa aja, yang penting ada manfaatnya. Sekarang saya selalu nyaman ditempatkan di kondisi apa aja (meskipun gak semua lah ya). Semuanya butuh proses. Proses untuk melebarkan zona nyaman. Nah, kalo saya tawarkan kata: melebarkan zona nyaman, mungkin terdengar lebih positif dan bikin semangat kan ya? Jadi, sudah sepanjang dan selebar apa zona nyaman kamu? Kamu sendiri yang bisa menilainya 🙂

Ada satu tips bagaimana caranya melebarkan zona nyaman tanpa ada halangan dan rintangan. Make your life without excusing! Hidup itu selalu bisa kok selama kita mau. Contoh konkrit: Saya itu ingin punya usaha sendiri. Saya pengen punya penghasilan tambahan. Nah, keinginan itu gak akan terwujud kalo masih ada excuse. Ah gimana bisa dapet uang tambahan orang saya gak bisa bisnis. Ah gimana bisa dapet penghasilan tambahan kan saya pemalu, mau ketemu orang aja males, apalagi nawarin barang, bisa gemetaran aja yang ada. Ah gimana saya bisa dapet duit, kuliah aja jadwalnya padat gini. Ah gimana saya bisa meluangkan waktu untuk usaha, requirement praktikum banyak yang keteteran. Ah saya kan lagi mau nyusun skripsi, mana bisa sambil bisnis. Teruuuusss aja kumpulin excusenya. Kita semua selalu punya stok excuse yang super duper banyak. Lah emang manusia diciptakan sebagai makhluk yang pandai mengeluh dan beralasan kan ya? Tapi, emang hidup mau diisi sama keluhan dan alasan melulu? Hmmm.. itu yang jauh bikin lebih cape! Percaya deh.

So, apapun alasan yang sedang kamu rancang untuk tidak melakukan sesuatu, saya bantu deh jawab alasan itu (yang di mana kalian pun pasti udah punya jawabannya sendiri). Life without excusing bakal membantu banyak hal dalam hidup kamu. Kamu bakal lebih banyak berbuat dan bertindak daripada sebelumnya. Saya itu gak bisaan bisnis, ngatur uang masih belepotan, dan belum pintar baca peluang, tapiiii… dengan hidup tanpa alasan, saya sekarang punya penghasilan tambahan dari 2 sumber yang berbeda, bahkan nanti nambah lagi jadi 3. Kok bisa? Ya bisa lah… Semua itu tergantung keinginan dan motivasi kita sebesar apa untuk mewujudkan impian tersebut. Jangan bilang berani ber-impian kalo masih punya banyak alasan.

Kalau udah kayak gini, saya bisa. Kenapa kalian engga?

Sipdeh. Pokoknya, stay young and positive ya people!

 

Rgds,

www.nyonyabisnis.in

 

P.S: Makasi buat Mas Isa, Aanya Bb, De Ika, Shaliha, Teh Marthy dan semua keluarga di dBCNetwork, juga orang-orang yang membuat saya yakin kalau saya BISA 🙂

 

Suami dan Inspirasinya :)

Menghitung hari sih udah biasa. Apalagi hari-hari pra nikah. Always happy through that thing! Dan setelah pernikahan banyak hal yang berubah, banyak sekali. Untuk cerita yang satu ini adalah salah satu changing yang terjadi pasca pernikahan saya dengan Aa. It’s about how to manage financial things, tentang situasi menghitung dalam rumah tangga kami 🙂

Dari awal kita udah banyak ngobrol masalah duit. Masalah paling sensitif dan santer dijadikan penyebab utama keretakan rumah tangga. Tiada lain dan tiada bukan adalah: masalah ekonomi. Agak khawatir sih ketika tau bahwa jodoh yang ada di hadapan saya adalah seorang ekonom. Hmmm.. sosok yang memiliki keahlian dimana keahliannya itu gak banget buat saya. Saya gak gitu suka sama ekonomi. Saya gak pernah care sama yang namanya duit. Flownya cuma dikasih sama ortu, terus dibeliin makan, ongkos ke sana ke mari, nyalon, dan beli buku. Just it. Gak terpikir untuk memanagenya menjadi suatu cashflow yang rapi jali dan mungkin malah nambah pemasukan. Sama sekali gak terpikir untuk itu. Tapi, semuanya berubah ketika saya ketemu sama si calon suami. Saya diajak untuk tau cashflow dia sebelum lebih jauh diajak married sama dia (Eh, diajakin married dulu ding baru dikasih the big secret of his life-nya). Pertama kali dikasih liat file tentang perencanaan keuangannya saya hanya cengok bego, garuk-garuk kepala padahal gak ada ketombenya. First impression saya, apaan sih ini? Gak ngerti. Hihihi.

Dia pun menjelaskan file dengan judul “INDRA’S FINANCIAL MONTHLY MAP 2010” Itu rapi banget. Semua pemasukan dia selama satu bulan, kalkulasinya dalam setahun, dan mau dibawa ke mana semua pemasukan itu nantinya, semuanya terplanning rapi sekali. Pantesan dulu dia dengan antusiasnya merekomendasikan situs tujuanloapa[dot]com. Itu dia banget ternyata. Dia dengan berapi-api menjelaskan setiap detail perencanaannya. Mulai dari pemasukan gaji bulanan, rencana jangka pendek, rencana jangka panjang, rencana investasi. Semuanya! Okei, saya cuma mangap dengan gak cantiknya. Selain gak gitu ngerti, saya amaze banget, ini bukan saya sama sekali. Setelah selesai dia menjelaskan, dia nanya sama saya,

“Gimana yang? Ada masalah gak dengan semua yang udah aku plan beberapa tahun ke depan?”

“Heh? Masalah? Masalah apa ya? Gak ada. Aku setuju-setuju aja.”

”Yah, kok setuju-setuju aja. Gak ada masukan???”

 

Aje gileee.. Saya aja bingung. Bener-bener bingung mana yang harus saya koreksi. Itu udah almost perfect buat saya. Sedikit cerita tentang latar belakang suami, dia itu pria (iyalah), anak pertama dari 3 bersaudara, kelahiran 83. Dia udah iseng-iseng nyari duit sejak kuliah. Dia bergabung dengan band religi yang sempet naik daun di Bandung. Mulai dari karirnya di dunia musik itulah dia punya penghasilan tambahan. Saya gak inget persis bagaimana perjalanan karirnya, yang pasti di usianya yang masih mahasiswa saat itu (terlepas mahasiswa asli atau abadi, hehe), dia udah punya banyak pengalaman kerja di sana-sini. Dia bisa biayain skripsi dan beli motor sendiri. Dan mungkin pembelian-pembelian barang lain yang dia beli pake uang sendiri tanpa sepengetahuan saya, karena saat masa-masa itu I’m not his someone special yet.

Januari 2009 saya dan dia mulai dekat berkat bantuan jejaring sosial dan di tahun itu pula dia langsung mengajak saya menikah. Dengan sangat matang. Selain pengetahuannya yang luas dan membuat saya nyaman diskusi apa saja dengan dia, dia sudah mapan. Hmmm.. bukan berarti saya matre yaa, tapi yang namanya hidup berdua itu bukan cuma makan cinta. Ada perhitungan teknis yang juga harus disiapkan untuk menyemikan cinta itu menjadi indah dan tidak menyusahkan sekitar dan juga calon anak. Iya ga?

Nah, sekarang sudah hampir 3 bulan usia pernikahan saya dengan dia. Banyak hal yang saya pelajari tentang keuangan. Amat sangat banyak. Sempet sih eneg juga kalo udah diskusi tentang rencana keuangan lagi, rencana keuangan lagi. Tapi beberapa hal yang akan jadi poin saya di tulisan ini adalah:

  1. Uang itu bukan segalanya tapi segalanya (meskipun terkadang tidak semua) membutuhkan yang namanya uang, jadi kita harus bener-bener mengaturnya dengan baik. Agar ketika kita butuh, uang itu selalu stand by untuk digunakan 😉
  2. Semua impian butuh dana. Saya dan impian seperti belahan jiwa, tidak ada impian tidak ada semangat, dan dari kesemua impian itu saya harus menyiapkan dana untuk mewujudkannya. Dengan pengetahuan tentang perencanaan keuangan, saya bisa mengatur mana impian yang membuat saya menghasilkan uang, mana yang membuat saya harus mengeluarkan uang. Semakin rapi, insya Allah semua impian saya akan terwujud.
  3. Dengan perencanaan, kita terlatih untuk displin. Ketika kita sudah mahir mengotak-atik pemasukan dan pengeluaran, kita tidak pernah merasa kekurangan. Karena apa? Karena kita tau dari mana uang itu datang dan akan ke mana uang itu pergi.
  4. Berhubung saya orang Islam yang sangat dihimbau oleh ajaran agama untuk rajin bersedekah, saya ingin punya penghasilan yang lebih dari yang lain agar saya selalu bisa berpartisipasi dalam kegiatan amal dan kegiatan sosial 🙂

Intinya adalah… siapapun anda. Sudah berkeluarga atau tidak, ayo kita mulai merubah pola pikir yang tadinya hanya mencari uang dan membelanjakannya, dengan pola pikir bagaimana uang ini berputar secara rapi dan menghasilkan nilai lebih di akun tabungan kita nanti. Banyak hal yang harus kita lakukan sebagai calon-calon orang sukses, jangan sampai keadaan ekonomi yang jadi hambatan. Selama kita mau, kita pasti bisa.

Saya adalah seorang istri yang amat sangat terinspirasi oleh pria pembelajar sejati tentang masalah financial planning ini. Saya jadi ikut tenang untuk kondisi keuangan saya nantinya. Dia bilang, susah atau senang dalam hidup itu bukan seberapa banyak uang yang kita punya tapi bagaimana kita bisa mengaturnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan. Kekayaan orang itu dinilai bukan dari uang yang masuk ke rekeningnya dia, tapi bagaimana dia bijak memutarkannya. Orang dengan penghasilan 100 juta dengan orang yang penghasilannya 10 juta akan terlihat sama saja, it’s about how you manage your cashflow 😉

Mungkin di luar sana masih banyak pria usia 27 tahun yang karirnya lebih baik dan lebih sukses daripada suami saya, tapi perjalanan yang sudah suami saya toreh di dunia keuangan, saya yakin dia adalah 1 dari 100 pria yang ada di Indonesia ini yang dapat melakukan hal tersebut. Atau mungkin 1 di antara 1000? Saya belum sempet survey sih. Hehe. Tapi yang pasti, di usianya yang masih kepala dua, dia sudah berhasil membeli rumah, menikahi mahasiswi yang juga dibiayai kuliah dan biaya hidupnya, dan juga membantu sesama untuk mewujudkan impian mereka. Terima kasih Allah. Semoga Aa selalu diberikan kebahagiaan yang tidak ada habisnya oleh Tuhan. Oiya, FYI, saya yang di awalnya bener-bener gak bisaan ngatur duit, berkat motivasi dan pembelajaran dari sang suami, sekarang saya juga udah punya penghasilan tambahan loh selain sibuk nguliah dan ngoass 🙂

It’s not about you can or not, it’s about you want or not!

Semoga bermanfaat!

Menikah: Perjanjian Besar dengan Tuhan :)

Ba’da Maghrib, sudah 3 hari ini kebiasaan baru saya adalah menyicil bacaan pada buku-buku yang suami saya berikan saat seserahan kemarin. Buku yang saya minta sebenernya. Buku-buku Islam yang sudah lama ingin saya beli tapi belum ada kesempatan dan uang yang cukup untuk membelinya. Alhamdullillah suami diberikan rizki oleh Allah untuk mewujudkan keinginan saya terhadap buku-buku itu. Buku-bukunya kereeennn.. Bukunya bantu saya untuk terus merenungi hidup dan menelaah keseharian saya yang, waw, masih jauh dari syariah (bankk kali ah syariah ;p)

Untuk kali ini, ada kutipan dari salah satu buku yang saya baca dan ingin saya sharing sama teman-teman, tentang pernikahan. Apa lagi nih? Tulisan saya akhir-akhir ini tentang nikah mulu ya? Semoga bisa jadi nasihat untuk yang belum menikah dalam merencanakan pernikahan nantinya. Maaf loh kalo bikin mupeng. Saya sering diprotes sama temen akhir-akhir ini kalo nulis atau nge-status update, katanya bikin sirik, bikin iri, bikin mupeng. Ya maap. Saya nulis apa yang saya rasain aja. Kalo bikin sirik, mupeng, iri, dan perasaan-perasaan lain yang gak jauh dari kata-kata yang tadi, yaaaa maap. Siapa tau jadi motivasi kan? Seperti yang udah saya bilang tadi, semoga justru jadi pencerahan buat yang belum married untuk menyiapkan mental. Anggap aja saya ngasi gambaran dari salah satu contoh kehidupan pernikahan, versi saya gitu. Oke, saya gak akan berlama-lama memberi klarifikasi. *Penting amat

Langsung aja yaaa.

Ada satu hal yang sangat menarik di buku yang saya baca tadi, bahwa pernikahan itu adalah perjanjian antara kita (pengantin) dengan Allah. WOW. Segitunya yaa? Iya, segitunya loh. Jadi, dalam Al-qur’an itu ada frasa bunyinya Miitsaaqan ghaliizhaa yang artinya ’perjanjian besar’. WOW (lagi ah). Frasa itu dituliskan 3 kali dalam al quran. Selain pernikahan, miitsaaqan ghaliizhaa lainnya adalah, perjanjian antara Allah dengan Bani Israil sampai-sampai Ia mengangkat gunung Thursina ke atas mereka, dan juga perjanjian agung antara Allah dan Rasul-rasulNya. WOW (untuk ketigakalinya). Keren banget gak seh seh seh? Kenapa sih sampai bisa segitunya? Iyalah. Banyak hal yang terjadi dalam pernikahan. Ini yang menurut pengalaman pribadi aja yaaa.

Menikah ituuuu:

Punya sahabat pria

Pernikahan yang saya rasain sekarang adalah ketika saya punya teman hidup yang statusnya lawan jenis. Saya punya banyak sahabat perempuan, emm.. sahabat lelaki saya ya cuma satu ini, suami saya. Bentar, saya juga punya sih sahabat cowo, contohnya si Jaja dan masih banyak lagi lainnya, tapi sahabat pria yang tingkat kedekatannya sepadan sama sahabat wanita saya, ya suami saya. Malah lebih dari itu. Ya, pernikahan bikin saya bener-bener punya sahabat pria. Seseorang yang selalu sabar dan setia menemani saya lagi bete atau senang.

Punya dua blok keluarga (dikata komplek, pake blok..)

Setelah saya dikasih seorang sahabat pria, pernikahan juga memberikan saya sebuah keluarga baru. Keluarga yang harus saya perlakukan sama dengan keluarga yang sudah menemani saya sejak 21 tahun yang lalu. Keluarga yang harus saya bagi cinta dan sayang sama seperti keluarga saya sebelumnya. Udah banyak yang bilang kalo menikah itu bukan kita menikah dengan si Fulan saja, menikah itu berarti kita menikah dengan Fulan dan keluarganya. Menerima si Fulan dengan segala kekurangan dan kelebihannya sih rada gampang yaa, pake cinta gitu, tai ayam juga rasa coklat, tapi kalo menerima apa yang ada pada keluarga si Fulan? Tentu tidak semudah menerima si Fulannya. Ada banyak tradisi dan sudut pandang keluarga pasangan kita yang berbeda dengan apa yang kita punya. Pernikahan membuat saya punya dua pasang orang tua dan keluarga besar yang mengirinya dan harus sama-sama saya sayangi dan hormati.

Punya kebiasaan baru

Okei, mungkin untuk yang satu ini belum begitu saya rasain banget, secara saya beda kota. Gak terlalu banyak yang berubah. Ada pasti yang berubah. Contohnya, kalo dulu tiap malam Sabtu saya cuma sumringah karena besok adalah weekend dan saatnya liburan, kalo sekarang, malam Sabtu adalah saat-saat saya dengan semangatnya menahan ngantuk untuk menunggu suami pulang nengokin saya di kosan. Saya yang dulunya boros dan gak pernah mikir kalo ngabisin uang, sekarang saya harus lebih cermat kalo memanage uang. Dulu, kalo saya bangun tidur, saya cuma mikirin hari ini mau ngapain aja, tapi sekarang, saya juga pengen tau apa yang mau dilakukan suami saya di ujung sana. Dulu, kalo makan siang saya asik kenyang sendiri, sekarang tiap kali makan siang saya suka kepikiran yang di sana inget makan siang apa enggak ya, makan siangnya sehat apa enggak ya. Dulu, kalo mau vacation atau ada acara kampus, saya langsung iya-iya aja dan langsung capcus, sekarang, saya harus minta izin sama suami, dan ngatur jadwal bareng biar bisa tetep ketemu minimal 2 kali sebulan. Dulu, kalo saya pengen kentut dan ada dia, saya tahan sebisa mungkin, sekarang? Ya elaaaa.. Bisa mati menahan kentut yang ada kalo ditahan. (Akhir hidup dengan sketsa muka yang jelek banget tuh pasti) Haha. Banyak sih sebenernya kebiasaan baru saya semenjak menikah. Semua butuh kesabaran dan keikhlasan. Merubah kebiasaan gak semudah membalikkan telapan tangan bukan?

Punya tanggung jawab lebih

Ini sih poin penting di mana pernikahan menjadi perjanjian yang besar di mata Allah. Ketika kita menikah, Allah menghalalkan yang awalnya haram. Sesuatu yang gak pernah bisa diubah hanya dengan materi, tapi hanya dengan akad. Ada ijab dan qabul. Ketika suami menggenggam tangan Papa saya saat akad, ada gemuruh yang mendebar dada, dan melunturkan keringat ketegangan dalam dir saya, ada pula haru yang luruh dan tersurat dalam derai air mata. Ketika kata ”sah” terucap, itu artinya ada pergantian pemain antara Papa dan suami dalam hal menjaga saya. Menjaga lahir dan bathin saya. Menafkahi kebutuhan jasmani dan ruhani saya. Sebelum menikah, Papa-lah yang menjadi imam bagi saya. Ketika ada hal yang harus diputuskan dalam hidup saya, Papa-lah yang memutuskan dan memberi kebijakan. Ketika saya bingung harus shalat Idul Adha tanggal 16 atau 17, Papa-lah yang menentukan, saya, mama, dan adik-adik ikut yang mana. Sekarang, semua yang akan terjadi dalam hidup saya, saya percayakan kepada suami saya. Semua keputusan dan kebijakan ada di tangan suami saya. Itulah poin pentingnya. Saya percayakan suami untuk menuntun saya berbahagia di dunia dan akhirat. Saya percayakan pada suami untuk menjadikan saya menjadi hamba yang semakin dicintai Allah. Saya dan suami saat ini ada dalam tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Ketika hati tak hanya ada satu. Ketika pikiran tak hanya ada satu. Ketika senang harus dibagi bersama. Ketika susah harus dinikmati berdua. Menikah adalah tanggung jawab di mana kita melestarikan komitmen di atas segala perbedaan dan persamaan yang ada. Menikah adalah kebutuhan semua manusia. Maka dari itu, ada tanggung jawab yang Allah sisipkan di dalamnya. Agar ada geliat sehingga kita terus bergerak. Karena jika kita tidak menikah, kita hanya diam dalam satu titik, titik yang hanya ada satu individu saja, dan diam adalah mematikan.

Hmmmm… Panjang sekali saya menguraikan poin keempat. Yaaa kurag lebih seperti itulah menikah. Gampang gampang susah. Seru seru lelah. Tapi satu yang pasti, insya Allah semuanya bernilah ibadah 🙂

Itu aja kali yaaaaa.. Intinya mah, pernikahan itu saking penting dan sakralnya, harus kita siapkan sebaik mungkin. Mulai dari membangun niatnya, memilih pasangan, menyiapkannya sesuai syariah, hingga mengambil tanggung jawabnya. Semuanya harus siap lahir bathin. Udah yah yah yah. Semoga bermanfaat. Bukan cuma bikin sirik dan mupeng, tapi juga jadi penyemangat untuk terus memperbaiki diri hingga Allah percayakan tanggung jawab yang indah itu untuk kita. Cemangadh eaaaaa… ;p

Another Romantic…

“Kamu bahagia gak nikah sama Bb?”

Entah kenapa semalem saya tiba-tiba nanya itu sama suami. Dan sudah bisa dipastikan suami langsung heran, ”Ngapain sih kamu nanya kayak gitu? Kamu berharap Aa jawab apa?”

”Bilang bahagia juga cukup kok.”

”Oke. Aa bahagia, Be.. Bahagia banget.”

Ahh.. sebenernya pertanyaan itu selalu muter-muter di otak saya. Saya suka ngerasa insecure. Di mata saya, dia semakin cuek, perubahan perilaku cowok yang sebenernya emang sudah sewajarnya ketika dia udah mendapatkan apa yang dia kejar. Tapi tetep aja bikin saya was-was sendiri. Entahlah. Saya gak tau apakah ini hanya perasaan saya aja atau perasaan setiap wanita di dunia ini. Dengan karakteristik suami yang memang dari sononya lempeng bin kalem, saya gak bisa berharap banyak. Fortunately, saya punya sobat yang cetakannya gak jauh beda sama suami. Temen saya selalu bilang kalo orang lempeng kayak mereka itu gak perlu harus selalu mengungkapkan apa yang dirasakan. Katanya, dengan mereka tetap setia ada di samping pasangannya, itu udah cukup untuk membuktikan kalo mereka itu sayang sama pasangannya.

Well. Mungkin saya emang belum bisa sepenuhnya santai dengan kelempengan suami. Tapi, saya udah gak seuring-uringan waktu awal mula saya tau dia itu lempeng bin kalem. Saya udah mulai bisa nerima. Saya udah gak berharap dikasih kejutan manis yang segimananya sama dia. Saya gak berharap tiba-tiba didatengin ke klinik dengan sebuket bunga di tangannya, hahaha fairy tale banget ya? But it’s me. Saya emang orangnya tipe yang romantis. Dan dia enggak. Sering saya sharing sama sobat yang juga didiagnosa lempeng itu, mereka itu bukannya gak mau dan bukan gak segitunya sama kita, tapi mereka punya cara yang berbeda untuk nunjukin sayang sama kita. Hal yang kayak gitu-gitu remeh banget buat mereka. Gak kepikiran aja gitu. Okei, baiklah.

Eniwei, apapun tipe suami saya, saya cinta sama dia. Dari awal emang bukan karena keromantisannya saya jatuh cinta sama dia. Saya cinta dia karena dia punya karakter yang kuat. Visi yang jelas, setia, dan penuh tanggung jawab. Kurang apa lagi hayoooo…

Saya tau dia punya cara sendiri untuk menunjukkan cinta dan sayangnya sama saya. Mungkin bukan seperti pangeran dengan kuda putihnya, tapi dengan dia selalu setia mendengarkan keluh kesah saya, manjanya saya, labilnya saya, dan tetap cinta sama saya dengan segala kekurangan saya, oh Men.. itu udah lebih dari cukup sepertinya.

Banyak cara untuk menjadi romantis. Dukungan yang gak pernah hilang itu juga bisa dibilang romantis. Semuanya bisa jadi romantis, bagaimana kita menyikapinya.

 

Terimakasih ya Aa. Kamu sudah mengajari aku keromantisan yang berbeda 🙂

Love u.

The Honeyday

Unfortunately, abis nikahan saya dan suami gak punya waktu yang cukup untuk spend time together kayak penganten baru lainnya. Aa sih cuti. Saya? Mahasiswi dengan jadwal kuliah yang gak jelas. Ceritanya sih weekday after saya married mau ada jadwal ujian. Nama ujiannya OSCE. Objective Stuctural Clinical Ex…apaaa gitu. Lupa. Ujian ini adalah ujian praktek untuk menentukan saya bisa lolos klinik atau enggak. Ujian yang gak maen-maen dong??? Makanya saya dan suami memutuskan untuk gak kemana-mana after nikah. Huuuu… gak seruuuu. Tapi, saya masih punya waktu buat bener-bener bisa ngerasain bulan madu sama suami. Hari Senin tanggal 4 Oktober setelah saya nikah, saya bolos kuliah untuk menghabiskan waktu bareng suami, berdua aja. Sehari doang, tapi mayanlaaa.

Hari itu kita rencananya mau nginep di hotel dan napak tilas ke tempat di mana kita ngopdar di awal pedekate. Prikitiiiwww ;p Kita gak milih hotel yang berbintang karena niatnya cuma biar bisa berduaan aja tanpa orang lain, sayang kan kalo cuma dipake bobo harus ngeluarin kocek yang gede?? Kita pilih hotel yang gak berbintang tapi cozy di daerah Dago. Worth it lah. Sebelum check in di hotel jam 12, jam 10an kita brunch di destination pertama kita hari itu.

 

Ngopdul.

Begitu bersejarahnya tempat ini buat kita. Kenapakah?

Jadi ceritanya gini, saya sama Aa selama ini hanya kenal via social network. Pernah sih kenalan secara langsung, duluuu banget. Waktu saya SMA kelas 2. Waktu itu saya dikenalin sama Kak Aziz, tetangga saya yang kebetulan temen kuliahnya dia. FYI, Aa ini adalah salah satu personel band nasyid ternama di Bandung waktu zaman itu. Zaman di mana peradaban di Bandung baru dimulai. (Hadeuuh). Okei, saya akui dulu saya adalah fans terbaik band nasyid itu. Tiap kali mereka manggung saya pasti sempetin nontonin mereka, meski harus rela ngeluarin duit dari uang mingguan kiriman ortu. Ngefans abis gilaaa. *Hoek* Nah, karena Kak Aziz ini tau betapa saya ngefans sama band nasyid yang tidak boleh disebut namanya, suatu ketika saya ketemu sama Aa secara tidak sengaja di Salman ITB pas ada launching albumnya Faliq, duo nasyid made in Bandung juga, dikenalinlah saya sama Indra Purnama Irawan ini. Nothing special. Biasa aja. Daaa saya mah ngefans sama vokalisnya bukan sama bassist-nya. Heuheu. Tapi yaa mayanlaa.. Saya tau banget Kang Indra (dulu saya manggilnya akang donggg), kalo lagi manggung dia kan orang yang paling autis, asik sendiri, dan ngehayatin banget deh. Eh, Aa.. dari semua personel Shaffix, tapi kamu loh yang suka be perhatiin kalo lagi manggung. Gayanya itu looo.. autis banget. Hahahaha.. (Eh, tadi saya nyebut merk band-nya ya? Ups. Gak sengaja. Maaf ya).

Time after time, karena udah kenal, saya sama dia jadi temenan juga di dunia maya, Friendster! *haseekkk* Saling kirim testimoni gak penting but like I said, nothing special.Kita cuma saling update kabar dan kesibukan. Basa-basi busuk. Mayanlah nambah kuantitas testimoni yang masuk di kotak komennya. Biar gaya aja gitu. Haha, alay. Eh, saya sih emang ngerasa biasa aja sih waktu itu. Gatau tuh kalo dari pihak pengantin pria-nya mah. Mungkin aja kan He had a little crush sama saya. Yaa gatau juga yaa. Hihi.

Untuk skala ketemuan, gak sekali itu aja, (waktu di Salman-red) saya gak sengaja ketemu sama dia. Tiga kali gitu? Lupa. Pokoknya lebih dari sekali deh, tapi yaa gitu. Gak ada rasa sama sekali. Secara dia temennya temen saya, dan pernah suatu massa di mana dia adalah temennya mantan saya. Ngapain juga ada apa-apanya sama dia. Gak penting. Uwoooo…

Terus, kok bisa jadi deket? It’s destiny. Ceritanya saya udah lamaaaa banget gak keep contact sama dia. Sampai suatu ketika saya butuh nanya CP nasyid untuk acara rohis di kampus. Satu-satunya anak nasyid yang saya tau yaa cuma dia. Saya cuma bermodalkan profilenya di FS untuk ngehubungin dia. Ya udah tinggal log in FS, dan whoola! Ada komen terbaru di FS saya, Indra Purnama has sent you a comment. Wawww.. what a coincidende! Yaudin, tanpa basa-basi busuk lagi saya langsung bilang ke dia kalo saya butuh bantuan tentang nanasyidan. Dengan senang hati dia pun bantuin saya banget. Percakapan saya dan Aa dimulai di YM. Saya gak bisa ketemuan sama dia. Secara saya di Jatinangor, dia di Tasik. Hari gini kalo gak manfaatin teknologi, apa kabar dunia?!?!

Pertama kali YM sama dia, kok saya langsung ngerasa asik banget ya chat sama dia. Kayak ketemu temen lama. Kayak ketemuu… diri sendiri. Dia itu saya versi cowonya. Itu sih first impression saya waktu pertama kali chat sama Kang Indra (aduh akanggg). Abis chatting malam itu, saya senyum-senyum sendiri. Entahlah. Kayak gak mau cuma sekali doang saya chat sama dia. Kok bikin ketagihan ya? Dia beda. Dia seru. Dia… kayak saya.

Singkat cerita, akhirnya saya pun tukeran no hp sama dia untuk memperlancar komunikasi saya dan dia untuk urusan yang nanasyidan tea. Saya masih inget lo sms pertama dia


Tes.. tes..

Gitu doang.

Ada lagi satu sms yang dia kirim ke saya dan saya masih inget. Waktu itu kalo gak salah kita udah selesai berurusan tentang nasyid. Saya sebisa mungkin untuk gak smsan sama dia. Meskipun nagih tapi saya tahan. Saya bener-bener lagi gak mau punya temen deket cowo waktu itu. Sampai ada sms ini…

 

Eh tau singkatannya sosekpolbudhankamrata ga?

Saya waktu itu lagi asik-asiknya nonton Madagascar di bioskop. So, I didn’t take care his sms much.

Aduh apa ya. Knp gitu tiba-tiba nanya begituan?

Engga. Udah gak usah dipikirin.

Eniwei, Apa kabar?

Gubrak. Kirain apaaa, yang ada saya waktu itu cuma heran aja. Kenapa harus pertanyaan tentang sosekpolbudhankamrata sih yang jadi intro? Kenapa gak sekalian nanya kenapa ya Megawati kayaknya sebel banget sama SBY? Dasar aneh.

Ah pokoknya semuanya mengalir dengan sederhana, semenjak itu saya jadi kecanduan chatting sama dia. Smsan sama dia. Ditelpon sama dia. Saya nikmatin banget saat-saat dimana saya saling tuker pikiran. Saling sharing. Saling ngasih tau lagu kesukaan. Saling ngasih tau website bagus dan inspiratif. Saling ngobrolin selera masing-masing. Dan saling makin tertarik satu sama lain. Waw. Saya waktu itu mencoba untuk memungkiri perasaan senang di hati saya. (Aduh, kamana atuh memungkiriiii???) tapi ternyata makin sini saya emang makin tertarik sama dia. Dia yang smart, gokil, kocak, fresh, dan kayak…… saya. Pokoknya saya jadi makin penasaran deh sama dia. Saya sebenernya gak suka dengan situasi ini, setelah beberapa bulan yang lalu saya putus sama mantan yang lumayan lama menjalin hubungan sama saya, saya sedikit trauma untuk build a little crush sama cowo lain. Ogah deh pacaran. Gak pasti. Udah gitu gak boleh sama agama. Iya kan? Jadi yaaa saya coba menjalani hubungan sama dia as a friend aja. Udah gitu doang. Hanya sebatas kenalan lama yang butuh bantuan aja. Tapiiii… makin ke sini, dia emang makin menarik buat saya, Aduhhhh….

Akhirnya saya pun jadi sering keep in touch sama dia. Sampai akhirnya waktu itu ada konser nasyid di Sabuga. Udah lama banget saya gak nonton nasyid!! Saya jadi tergoda ke sana, tapi gak ada temen. Yaudah saya iseng ngasih tau ke dia kalo saya pengen banget ke sana tapi gak ada temen. Secara gak langsung pengen bilang, temenin dong, Huahahahahaha.

Saya waktu itu bilang ke dia kalo saya bakal dateng tapi paling culang cileung sorangan. Dia pun bilang ke saya kalo dia punya waktu dan bisa pulang ke Bandung, dia mau nemenin saya culang cileung sorangan. Yess! Berhasil.

Hari itu pun saya untuk pertama kalinya ketemu dia lagi dengan keadaan saya udah jauh lebih kenal dia daripada waktu terakhir kali saya ketemu dia. Aduh deg-degaaaannn. Coba dicatet ya, bahkan saat itu pun saya bener-bener gak ada feeling yang segimananya. Cuma rasa deg-degan ketemu sama cowo. Anak nasyid. Gitu lah kurang lebih.

Saya pun ketemu dia secara nyata, gak sekedar pake teknologi. Saya dikenalin sama temen-temennya. Yeaaa.. saya disangka ada apa-apanya deh sama temen-temennya. Padahal kita waktu itu beneran temen chatting doang. To. Pas lagi asik-asiknya menikmati suasana konser nasyid waktu itu, dia ngajak saya ke ngopdul. Yap, ngopdul. Inilah kenapa buat saya ngopdul cukup bersejarah buat saya dan dia. (Cerita latar belakangnya panjang banget yaa?). Saya gak berduaan aja ke ngopdulnya. Aje gilee. Emang saya on a date ama dia?! Enggaklah. Saya, dia, dan temen segengannya. Saat itu untuk pertama kalinya juga saya hang out sama sekumpulan om-om. Hahahaha… Eh tapi mereka om-om yang asik banget loh. Saya baru pertama kali kenal mereka tapi udah ngerasa nyaman aja. Selama di ngopdul saya dicengin sama temennya dia. Iya, iya, iya… saya disangka ada apa-apanya sama dia. Padahal enggak ada sama sekali.But well, itu adalah pertemuan saya untuk pertama kalinya sama dia dengan kesengajaan. Saya seneng banget hari itu. Saya seneng banget bisa ketemu dia. Hah. Aneh.

Semenjak itu saya jadi makin deket sama dia. Makin in to him deh. Dia juga gitu ke saya. Tiap ada weekend yang memungkinkan kita untuk jalan, dia ngajak saya jalan. Untuk ketemuan berikutnya, just the two of us. Setiap ketemuan, saya jadi makin bisa liat aslinya gimana. Orangnya seruuu. Kita jadi makin sering jalan. Kalo gak nonton di PVJ, kita ke Ciwalk. Nah destination honeyday berikutnya ke Ciwalk.

 

Ciwalk.

Saya lupa waktu itu saya ama dia dalam rangka apa ya ke Ciwalk? Yang saya inget waktu itu makannya di Gokana Teppan. Pas honeyday ini kita pun duduk di kursi yang sama waktu kita jalan dan dengan posisi yang sama. Hihi. Seneng deh rasanya… Saya pun ngingetin Aa obrolan dodol waktu dulu kita makan di Gotep. Di mana saya sama dia belum samsek have any relationship.

 

Istri: Yang, inget gak waktu kita makan di sini dan kita ngebahas tentang mie.

Suami: Inget lahh.. Waktu itu kamu bilang gini, Aku mah yah nanti kalo udah punya keluarga gak akan nyediain mie instan da di dapur. Mie instan kan gak baik buat kesehatan. Kalo aku nge-stok mie instan di rumah, ntar malah jadi kebiasaan makan mie instan suami sama anak aku.

Istri: Iyaa, terus kamu dengan polosnya bilang, Aku kan suka mie instan.

Suami: Hahahaha.. padahal peduli amat ya kalopun Aa suka mie instan. Toh belum tentu juga waktu itu Aa jadi suami kamu… Dodol.

Istri: Itu dulu. Sekarang, 1 tahun setelah itu kita duduk di tempat yang sama dan menu yang sama, tapi status kita udah jauh beda. Kamu suami aku sekarang 🙂

Suami: Hmmmm… gak nyangka yah, Yang?

Saya pun cuma bisa senyum bahagia. What a lucky I am having you in my life, A… Alhamdulillah.

Daannnn… Sesi napak tilas hari itu pun kita cukupkan hanya di Ngopdul sama GoTep Ciwalk doang. Masih banyak sih tempat kenangan lain untuk kita jabanin dalam rangka napak tilas, tapi kita mau cepet-cepet ke hotel aja. Udah malem. Nanti hotelnya keburu tutup. Hehehehehe…

Now, 38 days after that moment. I always happy spend time together with him, no matter what. Udah dua minggu gak ketemu dan rasanya ya ampuuunnn kangen brutal!

 

Thanks God I found you, A… Bebe makin sayang sama kamu.