Healing for Woman

Ada banyak orang yang japri saya menanyakan hal yang sama, apakah Healing for Woman berbeda dengan Healing Class yang biasa diadakan?

Aduuhhh Nurlelaaaa. Kalau iya isinya sama, terus kenapa judulnya harus beda 😦

Tentu jelas BERBEDA, Nona…

Mungkin maksudnya pengen nanya, “Apa sih yang membedakan Healing for Woman dengan Healing Class yang biasa diadakan?” Itu sih kayaknya. Cuma kadang orang suka keburu tegang duluan. Padahal gak aku pegang-pegang lho. Eitsss…

Baik, di postingan kali ini saya akan mencoba menjelaskan sejelas mungkin tentang event ini. Biar gak keriting jempol jawabin satu-satu japri yang masuk. Bismillahirrahmaanirrahiim….

Kita mulai dari penjelasan singkat tentang Healing Class dulu yaa. Sebenarnya ini pernah saya bahas juga di blog. Tapi gak apa, saya coba jelaskan lagi dengan bahasa yang berbeda yaa. Semoga lebih kebayang. Healing Class yang diadakan Komunitas Emotional Healing Indonesia di bawah asuhan Teh Irma Rahayu (penulis buku Emotional Healing Therapy, bisa dicek profil lengkapnya di www.IrmaRahayu.com) adalah sebuah kelas yang akan membantu kamu untuk mengeluarkan pendaman emosi berupa RASA yang selama ini menuhin memori di pikiran dan hati. Bisa dari masalah yang dihadapi saat ini, atau trauma masa lalu yang selalu menghantui hi hi hi hi hi (Oke, galucu). Contoh RASA di sini maksudnya apa? Rasa marah, sedih, kecewa, sakit hati, benci, dendam, terpuruk, terhina, tidak percaya diri, dsb dsb dsb… sebuah rasa yang sifat dan terdegarnya NEHATIP. Rasa yang pasti akan ada dalam diri kita sebagai penyeimbang dan penyempurna hidup. Tapiiiii, kalau rasa nehatip ini terlalu lama diam di dalam tubuh apalagi jumlahnya lebih banyak dan mendominasi, ini yang repot cuy. Pikiran jadi sulit jernih, solusi dari setiap masalah jadi terlihat pelik, hati berasa sesak tapi kok kosong, kalau bahasa Sunda nya sih, asa teu pararuguh. Atau bahkan ngaruhnya ke kondisi badan, physically. Pernah denger penyakit psikosomatis? Kondisi badan berasa ada yang sakit dan bermasalah, tapi setelah dicek secara medis gak ada satu pun bagian yang kelainan. Beware fellas, kamu sepertinya memendam emosi yang gak sepele. I’ve been there. Sering tetiba kram, keringet dingin, sesak nafas macam mau mati tapi kalau diperiksa yaa gak ada apa-apa. Sekali dua kali kayak gitu yaudah lah yaa lupa. Sering?? Yaa lelah juga lah. Sering banget??? Emmm bisa jadi malah abai dan terbiasa drama, dan itu yang BAHAYA. Yakali hidup diisi sama hal-hal geje kayak gitu. Indahnya dunia jadi kurang maksimal kita dapetin nya juga.

Okey, balik lagi ke Healing Class yaaah. Siapa saja yang butuh di-Healing? Yaaa yang merasa butuh aja. Ga semua harus Healing, yang kelihatannya butuh juga belum tentu harus Healing. Karena Healing Class yang diadakan oleh EHI ini hanyalah salahsatu ikhtiar pengobatan untuk menjadi manusia yang lebih ajeg, aware, napak, dan matang. Banyak pelatihan serupa. Banyak program serupa yang menawarkan fasilitas yang sama. Bisa dicek ke toko sebelah sebagai perbandingan. Intinya di bagian nguras emosi kotor dan emosi yang sudah tidak penting dalam hati dan badan. Itu.

Jadi kalau dianalogikan, Healing Class itu kayak terapi bekam. Kalau bekam kan darah kotor yang dikuras, kalau Healing Class ini emosi kotor. Gimana caranya? Yaaa dikeluarkan. Heu. Ada cara yang baik dan benarnya. Biar lebih kebayang saran saya sih baca aja buku Teh Irma. Kalau saya agak kurang kompeten menjelaskan. Hanya saja sebagai penyelenggara, saya mau kasih gambaran kalau Healing Class itu kelas terapi mengeluarkan emosi dengan bantuan instruktur, dalam hal ini Teh Irma Rahayu sendiri sebagai penulisnya langsung.

Di kelas ini kamu akan mendapatkan wadah yang sangat tepat dan private untuk mengeluarkan apapun yang selama ini kamu tahan dan simpan, tapi kamu udah ga sanggup untuk  menahan dan menyimpannya. Kurang lebih begitu. Let me repeat yaa.. Apa aja itu? Rasa marah, kecewa, sedih, kesal, putus asa, tidak percaya diri, terhina, terpuruk, dsb dsb dsb.

NAAAHHH gimana dengan Healing for Woman? (Hahaha langsungin aja yaa loncat ke sini biar gak kepanjangan).

Healing for Woman ini dibuat selama 2 hari sampe nginep segala, Karena EHI ingin kasih sesuatu yang SPESIAL buat kamu para wanita. Kan wanita sukanya yang spesial-spesial. Yakaaaaan. Kita akan bahas dan kupas tuntas tentang permasalahan seputar wanita, baik dari segi emosi, karir atau rezeki, dan topik seputar cintaaaa… Apapun status kamu saat ini. Single? Taken? Married? Divorce? Pelakor? #eh… yaaa pokoknya apapun kondisi kamu saat ini yang bikin kamu JENGAH dengan hidup, kita akan sentuh dengan bagaimana wanita ingin disentuh. Hihihihi geli juga pemilihan bahasanya.

Dan yang jelas pesertanya semuanya WANITA jadi semoga ini bisa bikin kamu nyaman juga selama acara. Akang banquet dan teknisi hotel juga DILARANG masuk (yaiyalah Nurlelaaaa).

Ada satu postingan Teh Irma yang bagi saya pribadi sangat PAS menggambarkan apa yang akan disajikan di Healing for Woman ini, begini katanya….

Wanita itu susah di mengerti oleh lelaki, hanya bisa dipahami oleh sesama wanita ….. katanya 

Terlalu banyak drama wanita yg mampir ke EHI

Tentang hati yang hancur karena LELAKI 
Tentang hati yang beku karena SITUASI
Tentang hati yang hampa karena KEHILANGAN
Tentang hati yang dingin karena DENDAM
Tentang segala asa yang tak pernah TERWUJUD

Wanita dan segala dramanya, kisahnya, perjalanannya….. selalu menjadi cerita dan inspirasi dunia.

Wanita yang punya kisah tak sempurna, yuk kita ketemuan di event ini.

Gitu katanya.

Sooo, masih bingung apa yang membedakan Healing for Woman dengan Healing Class biasa?? Yaudahlah japri aja gapapa hahaha. Curhatin ajaa panitianya, curhatin ajaaa. Tapi udah itu daftar dan bereskan urusan administrasinya yaak. Buruan, untuk kelas Februari nanti tinggal ada 2 seat lagi nih. Kalau ga kebagian yaa masuk daftar Waiting List.

Terakhir, saran saya… sebelum senapsaran sama event dan kelas yang diselenggarakan EHI, ada baiknya kamu baca bukunya dulu. Emotional Healing Therapy oleh Irma Rahayu atauuuu kepoin gaya nya Teh Irma kalau nyablak di channel Youtubenya, Rumah Mamak. Biar lebih kebayang dan membantu kamu memutuskan, bener gak kamu butuh yang kayak ginian. Jangan ambil kelas, hanya karena ikut-ikutan atau karena lagi trend aja. Buang waktu, duit, dan tenaga ituh namanya. Hidup nya makin blangsak yang ada.

Disclaimer: Healing Class BUKAN event SAKTI yang bisa bikin hidupmu langsung berubah 180 derajat menjadi kaya, sukses, bebas hutang, financial freedom, bahagia dunia akhirat, happily ever after, atau sembuh total dari penyakit panu, kudis, kurap, dan kutuan. It’s just an event. Kesembuhan dan perubahan hidup yang HQQ kuncinya tetap di kegigihan kamu dalam berbenah diri dan ketentuan Ilahi Rabbi.

Sekian.

Semoga tulisan ini cukup mencerahkan. Penulis menerima japri TERKAIT info Healing via WA 0812 2702 3499

Advertisements

FAQ Healing Class Irma Rahayu

Banyak yang nanya tentang APA SIH HEALING CLASS itu Chii?? Dari flyer Healing Class yang saya share di sosial media akhir-akhir ini, gak sedikit yang kepo dan japri dengan berbagai pertanyaan. Baiklah, kayaknya kudu dibuat tulisan FAQ Healing Class by Irma Rahayu di blog. Semoga membantu dan mencerahkan yaa, terutama yang mager dan minder untuk nanya japri tentang Healing Class hehehe…

Continue reading

Berobat ke Klinik Tong Fang

Desir angin menerpa deretan hordeng berwarna pink bunga-bunga. Ada tukang parabot melewat di depan rumah. Tidak ketinggalan mamang cuankie yang mengetok-ngetokin pintu tetangga, yang belum bayar jajanannya.

Sore yang indah tapi sebenernya biasa-aja-sih di sebuah komplek perumahan sederhana, di perbatasan Cimahi dan Bandung Kota….

Aku menatap langit lalu bertanya pada diri sendiri, aku ini lagi apa. Mungkin aku ingin seperti tokoh-tokoh di novel drama tapi kayaknya tatapanku malah merusak suasana. Bukan tatapan iba atau sedih yang dramatis, hanya tatapan bingung melihat antena tv yang sudah karat dan patah dimana-mana. Watiiiir. Pantesan kemarin gak bisa nonton Persib 😁

Mau nulis apa sih Chiiii sebenernya hahahaha. Rebek amat 😂 Maap yak. Gak cocok nulis sebangsa prosa deskriptif hihihi.

Well. Seharian ini saya cukup shock dimasukkan ke WAG yang berisi wanita-wanita rempong kumpulan pasien salah satu klinik ternama, klinik TONG FANG. Asuhan Ibu Irma Rahayu. Buat yang belum tau beliau, Irma Rahayu adalah seorang life coach, yang sangat spesifik mengatasi kejiwaan. Jadi yang jadi muridnya semua sakit jiwa hahahaha. Engga deng. Aku mah waras. Cuma buat mengisi waktu luang aja biar gak kisut. Hahaha dusta 😁

Setiap manusia punya doa yang sama, ingin dipertemukan dengan pasangan yang bisa mengisi dan melengkapi apa yang belum dia punya. Saya berdoa agar Allah anugerahi saya suami yang sabar dan bertanggung jawab. Dan di belahan Indonesia di bagian Kelurahan Melong Kecamatan Cimahi Selatan, ada seorang bujang yang berdoa juga agar dipertemukan dengan seorang wanita yang kuat untuk dipersunting jadi istrinya. Kuat ngangkat galon dan kuat mindahin rumah manatau kebanjiran. Yagakgitujugakaliiiii.

Lalu akhirnya dua manusia ini Allah persatukan, demi menjawab doa mereka masing-masing. Sang istri bahagia, begitu pun suaminya.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Baju berganti baju. Eh garing 😐

Mereka mulai lebih dalam mengenal satu sama lain. Tapi sayang mereka gagal paham dengan jawaban dari doa yang mereka panjatkan. Bukan kesabaran yang dirasakan oleh sang istri, malah sikap cuek dan kurang peka. Bukan kekuatan seorang istri yang didapat oleh suami, malah sikap kurang ajar dan mau menang sendiri. Dua-duanya teriak, duuuh pusing lah pala barbie hijab syariiii 😣

Suami istri yang saling melempar marah dan kecewa. Tiap hari ribut mempertanyakan jawaban atas doanya. Meledak. Lalu padam. Meledak lagi. Padam lagi. Kayak orang belum bayar listrik. Mati-Nyala-Mati-Nyala. Seakan tidak ada ujung, yang ada hanya lelah dan gundah. Rasa syukur pun perlahan menguap.
Solusi demi solusi dijajal dan tetap tidak menemukan titik terang, hingga akhirnya mereka bertemu klinik Tong Fang 😂😂😂

Kepanjangan dari Tolong dong Fang Warasin hidup saya Mbaaak! #Sundaan hahaha
Selama menjalani perawatan di klinik Tong Fang, tabibnya hobi amat ngegeplak… ngerokin tembok ego dan topeng “butuh pengakuan”. Diseret sampe ngesot-ngesot untuk melihat akar masalah dari rasa marah, kecewa, dan pendaman emosi lainnya.
Hingga perlahan daya pikir dan sentuhan rasa mulai sesuai pada porsinya dan sesuai pada tempatnya.
Perlahan mulai luruh pikiran merasa dibiarkan, dicuekkan, dan di-engga peka-kan. Mulai bisa merasakan sikap sabar pada pasangan yang selama ini dipungkiri dan tidak diakui.
Perlahan mulai terasah kekuatan istri, harus dimana saja energinya dimanfaatkan. Agar barokah dan perahu tetap berjalan sama arah.

Selama pembelajaran di klinik ini, kami belajar bahwa setiap doa tidak Allah jawab dalam kondisi matang. Atau sudah jadi.

Doa dihantarkan dalam bentuk butuh proses. Agar ketika menikmati hidangan dari setiap doa, ada rasa puas dan tenang dalam setiap kunyahannya. Nikmaaat alhamdulillah…
Terima kasih klinik Tong Fang.. kehidupan berangsur waras dan lebih napak dalam menghadapi setiap tantangan baru yang ada.

Hidup pusing ngejelimet pengen teriak?? Butuh solusi dari setiap masalah?? Jangan sampe asal coba-coba kalau gak mau  berujung pada sia-sia atau bahkan terjerat kasus narkoba. Eaaaa

Cobain aja klinik Tong Fang. Tolong dong Fang Warasin hahahaha bersama Ibu Irma Rahayu. Info lebih lengkap silakan buka websitenya Irma Rahayu atau SMS 081227023499

Jangan lupa cari cara buat waras…
Hidup buat nyiapin mati, jangan lupa abisin waktu buat berbenah diri…

Salam sayang,

salahsatu pasien dari klinik Tong Fang 😊

Life Coaching part 3

Halooooo selamat pagi Indonesia… Hari ini rencananya mau ada jadwal diskusi kasus gigi tiruan lengkap bersama bapak dosen, tapi hingga pukul 11.00 belum ada message yang masuk apakah jadi atau gimana kelanjutan nasib saya.

Well. Yaudahlahyaaa. Tinggal kerjain kerjaan lain. Yaitu curhat. Eh, yaitu nulis.

Saya mau meneruskan cerita Life Coaching yang kemarin yaaa. Siap mendengarkan lanjutan ceritanya?

Oke… Here we go!

Eh sebentaaaaarrr.. Gaes, kalau kalian tetiba masuk ke tulisan ini sebelum baca yang part 1 dan part 2. Plis baca dulu 2 part sebelumnya yaa. Biar nyambung.

Okey, thankyou 😊

Saya sudah lolos tahap wawancara. Alhamdulillah. Saya pun berkenalan dengan teman sejawat LC 10 lainnya. Oiya, dan Atha juga lolos. Asik asiik.

Anak LC 10 datang dari berbagai latar belakang. Pengusaha, staff di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, ada pakar bekam dan ruqyah, ada banker juga, ada yang bergerak di bidang perpajakan, IT, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya…

Tugas pertama saat itu buat kami Bangkoters 10 adalah BEBERES rumah, gudang, laci-laci, lemari baju, tas, dompet dari segala isi yang TIDAK PENTING, BUKAN HAK nya, dan dari sampah-sampah masa lalu yang masih ngendon aja di dalam rumah. At least yang jelas wujudnya dalam rumah mari kita singkirkan karena agak susah kalau yang masih lekat dalam hati mah. Tsaaaaah ~

Hari itu saya belum cerita perihal LC ke bapak suami. Masih bingung banget nyeritainnya gimana, apalagi cerita bayarnya berapa… Kalau penyampaiannya gak baik, nanti dia tiba-tiba ke salon minta waxing sebadan-badan karena shock hahahaha *sorry Ayah, aku analoginya agak lebay*

Saya stay cool and stay fresh from the oven aja. Tetap kerjain tugas pertama dari  Teh Irma yaitu beberes. Diubek lah semua rak buku, lemari, gudang, dompet dan sebagainya dan sebagainya.. Anin juga ikut heboh. Dari proses merapikan dan membuang, cukup bikin baper karena kepaksa buka file-file lama. File-file sama mantan juga. Aduhyaampun pusing pala Bunda, Nin 😂😂😂

Dan lagian ini kenapa gue masih simpen aja siiih hahaha…

Masalalu itu ada yang nyebelin ada yang ngangenin. Yang nyebelin bikin saya bersyukur atas apa yang terjadi hari ini. Thanks God my life feels better now. Masalalu yang ngangenin bikin saya bersemangat kalau hidup saya pernah cerah dan ada prestasinya. It makes me feel more motivated.

Tugas beberes cukup bikin badan dan hati pegel. Bikin banyaaaak sekali bersyukur dan berbenah. Dari hasil beberes, saya belajar untuk mengenal kata CUKUP.

Saya belajar untuk tidak menumpuk hal yang tidak perlu. Saya belajar untuk mengalirkan satu energi materi yang ada di rumah ini. Saya belajar melepaskan apa yang harus keluar agar tetap ada hal baru dan yang lebih menyenangkan, lebih saya butuhkan untuk datang ke rumah ini, ke dalam hati dan jiwa kami.

Ada yang keluar, ada yang masuk. Ketika ada yang ingin masuk, ada yang harus dikeluarkan dulu.

Jangan membiarkan rumah atau hati diisi oleh hal yang menumpuk. Hal kecil kayak gini ternyata membawa pengaruh besar pada sektor hidup lainnya. *kamana atuh SEKTOR 😁

Okey. Kita harus belajar pada arti kata CUKUP.

Momen yang benar-benar menyentuh adalah ketika begitu banyak barang yang keluar dari rumah, kami tumpuk di pojok tempat sampah, ada banyak sekali pemulung yang begitu cerah wajahnya melihat “harta karun” yang kami keluarkan. Ada satu anak kecil sangat bahagia menemukan “mainan kadaluarsa” nya Anin yang saya keluarkan. That was so amazing. Bikin aku krai dan bahagia sekali.

Rumah juga jauh terlihat lapang dan rapi. Daaaan ternyata itu nyetrum juga ke hati. Ahhhh I was so happy at that moment.

Bapak suami seneng juga liatnya. Liat saya yang produktif semingguan penuh beberes. Bonding sama Anin juga makin kuat. Saya bisa liat dia (bapak suami) ikut happy..

Setelah tugas beberes, lanjut pada persiapan hati untuk ngomong sama bapak suami tentang kontrak LC nanti.

Bapak suami cukup kaget dengan keputusan saya ikut program ini. Pertama, karena saya itu HOBI BANGET ikut seminar dan pelatihan, dan sebagai orang yang udah cukup sering dimintain izin untuk hal beginian, sangat wajar dia bilang…

“Ini apaan lagi sih Be???” Hahaha…

Tidak mudah. Sangat tidak mudah untuk meyakinkan bapak suami kalau saya sangat yakin ambil program ini. Bahwa program ini worthed dan saya sudah melakukan banyak riset hingga akhirnya mantap ambil program ini.

Kedua, biaya nya cukup fantastis. Iya, terutama untuk kami pasangan muda yang lagi banyak banget rencana beli ini beli itu, nabung buat ini nabung buat itu, nominal segitu kalau gak worthed-worthed amat akan menjadi pemborosan skala besar tahun 2016 heu.

Tapi sekali lagi (berkali-kali sih tepatnya), saya yakinkan bapak suami bahwa saya benar-benar yakin dan serius sama program ini. Saya hanya butuh izin, masalah biaya, saya bilang sama dia kalau I will figure it out.

Tapi dalam doa pun saya bilang sama Allah. Ya Allah, aku gak akan maksa. Gimana Allah aja. Kasih petunjuknya via suami. Kalau suami memang bener-bener gak kasih izin dan gak ridho saya ambil program ini, saya bakal tinggalin. Ridho Allah adalah ridho suami.

Alhamdulillah setelah semalaman diskusi. Besoknya suami ngasih permission. Dengan segala konsekuensi siap tanggung sendiri.

Oke, bismillahirrahmaanirrahiim..

Bener-bener dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya siap sepenuh hati menjalankan program Life Coaching ini.

Nah, langsung deh kan yaaa pusing nyari duit 15 juta pertama darimana. Tadinya mau ada piutang yang cair dan bisa untuk bayar LC termin pertama. Sayangnya piutang itu statusnya mendadak gakjelas. Aduh sad banget deh.  Saya galau.. Banget.

Tugas kedua dari Mamak datang, yaitu latihan BERPRASANGKA BAIK dalam segala hal. Berprasangka baik pada macet, pada barang yang ketinggalan, pada suami kalau lagi ngomel, pada anak yang hobi rewel, pada duit buat bayar LC yang belum jelas bakal datang dari mana, berprasangka baik pada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita.

Okeeeeeeyyy gaaaess, you know what… Tugas berprasangka baik makes me craazzzzyyy *krai banyak*

Di situ saya sadar bahwa saya selama ini hobinya “ngatur” Allah, protes sama Allah, gak sabaran, dan kurang iman.

Saya sok jago mengandalkan logika saya sendiri dan gak percaya sama apapun skenario yang Allah kasih.

Salah satu yang hits saat itu yaaa proses darimana saya bisa bayar administrasi LC termin pertama.

Malam itu, H-1 batas akhir pembayaran. Masih blank banget dapet duit darimana. Saya curhat sama Teh Nani,

“Gue bayar pake apaaaa Teeeh… Gak ada duit segede itu saat ini..”

“Yah lo jual dulu apa kek. Mobil, motor, perhiasan, baju, apa kek… Pasti ada pengorbanan yang harus lo lakukan untuk dapet hal yang lebih baik..”

“Ebuseeet ya gak bisa gitu lah Teh. Gue aja dapet izin ikut LC setengah mati, kalau sampe gue pake jual barang segala bisa dijadiin Achii Asam Manis kayaknya ama laki gue…” Hahahaha padahal laki gue gak se kriminal itu juga sik.

“Ya apa kek.. Gadai mesin Kangen dulu…”

“Hemmm… Bener juga, bisa dicoba… Secara banyak yang kepengen punya tuh mesin..”

“Yaudah cobain gih… Buruan.. Waktu terus berjalan…”

“Hahaha berasa lagi main The Apperentice yak gue…”

Saya pun menghubungi beberapa teman pengusaha yang mau pake mesin Kangen Water sebulan biar saya bisa pake dulu duitnya. Simbiosis mutualisme. Karena di LC kita dilarang ngutang. Kita harus yakin sepenuhnya kalau ini jalannya, Allah kasih gampang.

Momen ini tuh yaa buat saya kayak mau naik roller coaster. Saya melakukan ikhtiar terbaik (pasang sabuk pengaman, dan mematuhi aturan yang sudah dibuat), sisanya pasraaaaah lillahita’ala. Lepasin tegangnya, dan teriak kenceng deh kalau mau biar gak terlalu degdegan.

Tau kan sensai naik roller coaster?? Berasa mau mati, berasa kayak mau diambil jantung dan hati, tapi nyatanya sih gak gimana-gimana, gak kenapa-kenapa… Seru-seru aja, dan yaaa nyawa masih nempel kok sama badan. Alhamdulillah.

Ketika saya ngejapri temen-temen, banyaaak sekali penyakit hati dan perlawanan terhadap topeng yang selama ini saya asik pake.

Takut dianggap kere lah. Lah yaemang.
Takut dianggap bangkrut lah. Lah yaemang
Takut dianggap cupu lah. Lah yaemang.

Saya melepaskan semua ketakutan itu dan berani jujur sama diri sendiri tentang kondisi saya saat itu. Saya belajar untuk menerima kondisi real saya saat itu yang selama ini lebih sering saya tutupi, saya bumbui, menjadi sosok yang bukan saya banget.

Beneran deh itu rasanya kayak naik roller coaster!!!!

Tangan saya dingin megangin handphone. Saya sadar banget, ini bukan hanya tentang transaksi gadai mesin, tapi ini transaksi jiwa saya untuk BERANI JUJUR dan APA ADANYA.

Lalu apa yang terjadi? Malah ada dua orang yang bersedia dipasangin mesin di rumahnya dan mau minjemin duit 15 juta untuk saya.. Alhamdulillah..

Ahhh saya bersyukur banget punya mesin Kangen. Dia sudah banyak menemani saya melewati banyak hal. Mulai dari menemani saya ngilangin sembelit, kenal sama banyak orang baru, nemenin saya sedekah air, bantu bayarin utang, jadi wasilah saya bisa naik kapal pesiar dan jalan-jalan ke 3 negara, dan sekarang dia bisa “disekolahin” biar saya nya makin pinter, sehat lahir bathin. Thankyou my SD501 !

Transaksi berjalan lancar. Saya sudah aman admimistrasi LC nya. Teman saya juga happy karena bisa ngerasain air Kangen fresh from machine enaknya kayak apa selama satu bulan. Daaan beberapa hari kemudian, di belahan dunia bagian Cianjur ada yang beneran mau beli mesin, di mana komisi penjualan mesin tersebut cukup untuk membawa pulang SD501 yang saya pinjamkan dulu. Semudah itu ternyata.

Yaaa tapi pas latihan BERPRASANGKA BAIK sama Allah nya bikin mules. Amat sangat.

Dan saya belajar lagi bahwa Allah gak kemana. Allah akan kasih jalan keluar untuk ummatnya yang mau bergerak dan usaha.

Alhamdulillah… Saya pun semakin semangat menikmati setiap “game” yang harus dilalui selama LC. Semakin lama semakin seru, meski bikin sesak, tapi saya semakin dalam mengenal siapa saya sebenarnya dan hal apa yang akan sangat nyaman saya lakukan dan merasa TENANG ! Itu penting.

Buat yang masih penasaran dengan cerita LC saya, kayaknya akan dibuat part 4 nya deh. Ada beberapa yang masih ingin saya ceritakan tentang bagaimama akhirnya saya yang hobi bilang iya alias susah nolak jadi lebih fokus dan punya pendirian untuk melakukan apa yang benar-benar harus saya lakukan. Bagaimana saya perlahan memaafkan masalalu. Bagaimana saya mulai ngerti galau-galau masa kini darimana datangnya. Saya akan cerita bagaimana Mamak (sebutan khusus Bangkoters untuk Teh Irma) membedah semua aib dan kecupuan saya. Pokoknya Mamak menang banyak, saya kalah telak hahaha.. Hidup berasa dipencetin tombol RESET 😂

Haaah…

Semoga masih penasaran yaa 😊

Life Coaching part 2

Wait,

Kalian udah baca Life Coaching part 1 kan? Harus baca dulu yaaa biar nyambung..

Oke, sampe mana kemarin? Oyaa sampe sesi wawancara. Sesi yang berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

Hari itu di PVJ, saya dan Atha, teman yang selalu dengan sukarela diracunin ikut ini itu sama saya heuheu, bersiap untuk diwawancara langsung oleh Teh Irma. Saat itu ada tiga kandidat yang menyerahkan diri untuk jadi calon anak LC batch 10. Saya, Atha, dan satu wanita lagi. Wanita yang sudah menikah dan punya satu anak.

Kami diwawancara secara bersamaan dan langsung ditembak dengan satu pertanyaan pamungkas,

“Kenapa lo mau ikut Life Coaching?”

To the point a la Mamak.

Saat itu saya jawab,

“Ingin punya hidup yang lebih baik lagi, Teh..”

“Ah jawaban lo standar banget. Normatif banget..”

“Emm.. Pengen mengenal Allah lebih jauh lagi, Teh…”

“Yaa ngaji.. Ke ustadz atau ustadzah. Jangan ama gue.. Gue aja masih belajar..”

“Emmm.. Pengen ngebenerin hidup, Teh..”

“Kenapa harus sama gue? Kan banyak pelatihan di luar sana. Lebih cepat. Dan jauh lebih murah. Ikutan yang lain aja. Jangan sama gue..”

“Emmmm… Pengen jadi istri shaleha dan ibu yang baik, Teh..”

“Datang ke pengajian, bukan ama gue…”

“Emmm…”

Gue cuma bengong, satu pertanyaan yang udah gue jawab dengan berbagai macam jawaban tetap gak masuk akal buat doi. Gue bingung.

“Haaaah lo aja gak tau pasti lo sebenernya mau apa, malah mau coba-coba ikut kelas gue. Kan mahal. Dan gue gak kasih jaminan duit kembali yaa.”

“Emmmm justru itu Teh. Gue pengen ngerti sebenernya diri gue itu siapa dan kudu gimana…”

“Terus???”

“Yaa makanya pengen ikut Life Coaching..”

“Terus???”

“Biar gue sadar sama diri gue sendiri. Biar gue waras-an Teh…”

“Terus???”

Ini soulhealer apa tukang parkir sih. Teras terus teras terus doang daritadi. Hiks.

Gue diem. Gue cuma bisa menatap Teh Irma hopeless. Kami bertiga menjawab secara bergantian dan gak ada satu pun jawaban yang memuaskan dia.

“Gue kasih gambaran dikit yaa tentang Life Coaching ini. Gue gak pake kurikulum. Tiap orang akan berbeda treatment nya dan sangat spesifik. Gue hanya akan mendampingi lo untuk membuka topeng dan akar dari setiap masalah lo, yang mungkin akan bikin lo sesak napas untuk mengakuinya. Keberhasilan sepenuhnya ada di tangan lo. Gue tidak menjamin apapun. Itu bukan hak gue. Itu tergantung usaha lo untuk mau berubah dan memperbaiki semuanya dan gimana Allah juga mau dibikin kayak apa hidup lo. Karena lo bertiga muslim, gue akan berbicara tentang aqidah lo sebagai muslim. Gue ogah yaa kalau lo lakukan semua ini untuk orang lain, atau gak enakan ama gue misalnya, atau siapapun. Ini untuk lo sendiri dan Allah. Karena di kontrak nanti kita akan berjanji bareng atas nama Allah. Janji lo bukan sama gue. Janji lo sama Allah. Gue pun janjinya sama Allah untuk melakukan yang terbaik dari keilmuan yang gue miliki untuk mendampingi lo. Dan itu gak main-main.. Lo harus trust sama gue dan lo bersedia komit untuk ngerjain tugas yang gue kasih. Jangan setengah-setengah. Apalagi coba-coba.”

Gue nyimak. Teh Irma cerita tentang segala pengalaman doi meng-coaching anak-anak didiknya atau yang biasa dia sebut Bangkoters. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Ada yang terus lanjut, ada yang menyerah di tengah jalan. Intinya kami harus siap benar-benar dibuat jujur sama diri sendiri, sakit, bangkrut, berdarah, dan terluka atau kehilangan materi yang memang harus hilang.

Serem sih dengerinnya. Ini kok yaa kayak mau ngapain ajaa.

Dan hal paling berat menari-nari di kepala saya saat itu adalah, saya belum izin sama suami untuk menjalani setiap proses ini.

Saya agak ragu jadinya saat itu. Laki gue ngijinin gak yaa..

Tapi saat itu di pikiran saya adalah saya benar-benar ingin berubah secara kontinu dan serius seserius-seriusnya. Saya yakin bahwa apa yang terjadi dalam hidup saya, jatuh bangunnya datang dari diri saya sendiri dan bentuk ujian hidup dari Tuhan agar saya terus naik kelas. Bukan karena anak yang susah diatur atau pasangan yang rese.

Saya harus fokus dengan serius memperbaiki diri saya sendiri. Now or never... Untuk kehidupan yang lebih baik.

Pada akhir sesi wawancara saya bilang sama Teh Irma,

“Pengajian yang terakhir gue ikutin mengajarkan gue tentang makna kematian. Makna hidup sebagai tempat satu-satunya berburu bekal pulang saat mati nanti. Tapi gue belum ngerti sepenuhnya gimana caranya hidup yang benar dan bagaimana caranya siap untuk menyambut kematian. Makin ke sini hidup gue makin kusut dan gue merasa linglung harus bertanya dan bercerita ke siapa tentang segala kegalauan yang gue alami. Gue butuh guru kehidupan yang nemenin gue, yang bisa gue ajak diskusi secara objektif untuk menjawab setiap teka-teki hidup yang sedang gue alami. Udah sekian banyak seminar dan pelatihan gue ikuti. Tapi kesemuanya hanya menjawab kegalauan gue di permukaan aja. Setelah gue baca 4 buku yang Teteh tulis. Gue menemukan sesuatu yang berbeda. Gue akan serius mengikuti Life Coaching ini semampunya gue. Tujuan gue tentu hanya Allah. Benar-benar Allah. Karena dari pengajian sebelumnya gue paham bahwa semua yang ada di sekitar gue hanyalah perangkat yang menemani gue mengenal Allah. Jadi gue ikut LC ini adalah cara gue ngaji. Cara gue mengenal diri gue sendiri. Cara yang mungkin gak harus sama dengan orang lain, tapi gue pilihnya ini. Apalagi di LC ini Teteh beneran pegang setiap dari kita secara private dan personal. Gue siap dengan apapun konsekuensinya selama proses coaching nanti.”

Saya gak tau deh yaa. Apakah pemaparan tersebut berhasil meyakinkan Teh Irma untuk meloloskan saya jadi salahsatu muridnya apa kagak. Saya cuma bisa pasrah. Cuma itu yang saya rasakan. And for your information, ketika wawancara pun actually saya belum tau duitnya darimana buat bayar program LC tersebut haha.

Saya cuma punya Allah. Itu aja.

Teh Irma pun berkali-kali mewanti-wanti kalau program ini cukup mahal biaya nya. Tidak ada jaminan akan pasti berhasil. Dan selama prosesnya nanti akan banyak kejadian tak terduga yang bikin kita engap-engapan.

Emang pada dasarnya saya udah hopeless, desperate dan butuh pencerahan 2016, saya siap. Saya menyerahkan sepenuhnya sama Allah. Kalau lolos dan ada rezekinya berarti ini adalah bagian dari episode hidup saya. Kalau bukan yaa saya cari yang lain, cari cara untuk betul-betul paham tentang hidup kudu gimana agar tenang dan mati dengan damai.

Alhamdulillah beberapa minggu setelah wawancara saya di-invite ke Grup WA Life Coaching 10 oleh Uni Laura. Saya sudah masuk jadi kandidat Bangkoters dan bersiap untuk tanda tangan kontrak dan menyiapkan uang untuk biaya administrasinya. HA!

Nah, gimana ceritanya saya bisa dapat izin suami dan uang untuk ikut LC? Dan bagaimana kesan-kesan menjadi anak LC di bulan pertama??

Di postingan berikutnya yaaa. Bersambung lagi berhubung ada kerjaan lain yang harus diberesin hehe..

Semoga penasaran 😊