Healing for Woman

Ada banyak orang yang japri saya menanyakan hal yang sama, apakah Healing for Woman berbeda dengan Healing Class yang biasa diadakan?

Kalau iya isinya sama, terus kenapa judulnya harus beda 😦

Tentu jelas BERBEDA, yaa.

Mungkin maksudnya pengen nanya, “Apa sih yang membedakan Healing for Woman dengan Healing Class yang biasa diadakan?” Itu sih kayaknya. Cuma kadang orang suka keburu tegang duluan. Padahal gak aku pegang-pegang lho. Eitsss…

Baik, di postingan kali ini saya akan mencoba menjelaskan sejelas mungkin tentang event ini. Biar gak keriting jempol jawabin satu-satu japri yang masuk. Bismillahirrahmaanirrahiim….

Kita mulai dari penjelasan singkat tentang Healing Class dulu yaa. Sebenarnya ini pernah saya bahas juga di blog. Tapi gak apa, saya coba jelaskan lagi dengan bahasa yang berbeda yaa. Semoga lebih kebayang. Healing Class yang diadakan Komunitas Emotional Healing Indonesia di bawah asuhan Teh Irma Rahayu (penulis buku Emotional Healing Therapy, bisa dicek profil lengkapnya di www.IrmaRahayu.com) adalah sebuah kelas yang akan membantu kamu untuk mengeluarkan pendaman emosi berupa RASA yang selama ini menuhin memori di pikiran dan hati. Bisa dari masalah yang dihadapi saat ini, atau trauma masa lalu yang selalu menghantui hi hi hi hi hi (Oke, galucu). Contoh RASA di sini maksudnya apa? Rasa marah, sedih, kecewa, sakit hati, benci, dendam, terpuruk, terhina, tidak percaya diri, dsb dsb dsb… sebuah rasa yang sifat dan terdegarnya NEGATIF. Rasa yang pasti akan ada dalam diri kita sebagai penyeimbang dan penyempurna hidup. Tapiiiii, kalau rasa negatif ini terlalu lama diam di dalam tubuh apalagi jumlahnya lebih banyak dan mendominasi, ini yang repot. Pikiran jadi sulit jernih, solusi dari setiap masalah jadi terlihat pelik, hati berasa sesak tapi kok kosong, kalau bahasa Sunda nya sih, asa teu pararuguh. Atau bahkan ngaruhnya ke kondisi badan, fisiknya ancur-ancuran. Pernah denger penyakit psikosomatis? Kondisi badan berasa ada yang sakit dan bermasalah, tapi setelah dicek secara medis gak ada satu pun bagian yang kelainan. Be aware, kamu sepertinya memendam emosi yang gak sepele. I’ve been there. Sering tetiba kram, keringet dingin, sesak nafas macam mau mati tapi kalau diperiksa yaa gak ada apa-apa. Sekali dua kali kayak gitu yaudah lah yaa lupa. Sering?? Yaa lelah juga lah. Sering banget??? Emmm bisa jadi malah abai dan terbiasa drama, dan itu yang BAHAYA. Ya masa hidup diisi sama hal-hal geje kayak gitu. Indahnya dunia jadi kurang maksimal kita dapetinnya.

Okey, balik lagi ke Healing Class yaaah. Siapa saja yang butuh di-Healing? Yaaa yang merasa butuh aja. Ga semua harus Healing, yang kelihatannya butuh juga belum tentu harus Healing. Karena Healing Class yang diadakan oleh EHI ini hanyalah salah satu ikhtiar pengobatan untuk menjadi manusia yang lebih ajeg, aware, napak, dan matang. Banyak pelatihan serupa. Banyak program serupa yang menawarkan fasilitas yang sama. Bisa dicek ke toko sebelah sebagai perbandingan. Intinya di bagian nguras emosi kotor dan emosi yang sudah tidak penting dalam hati dan badan.

Jadi kalau dianalogikan, Healing Class itu kayak terapi bekam. Kalau bekam kan darah kotor yang dikuras, kalau Healing Class ini emosi kotor. Gimana caranya? Yaaa dikeluarkan. Heu. Ada cara yang baik dan benarnya. Biar lebih kebayang saran saya sih baca aja buku Teh Irma. Kalau saya agak kurang kompeten menjelaskan. Hanya saja sebagai penyelenggara, saya mau kasih gambaran kalau Healing Class itu kelas terapi mengeluarkan emosi dengan bantuan instruktur, dalam hal ini Teh Irma Rahayu sendiri sebagai penulisnya langsung.

Di kelas ini kamu akan mendapatkan wadah yang sangat tepat dan private untuk mengeluarkan apapun yang selama ini kamu tahan dan simpan, tapi kamu udah ga sanggup untuk menahan dan menyimpannya. Kurang lebih begitu. Jadi meskipun barengan (bukan one on one), rahasiamu insya Allah terjaga. Let me repeat yaa.. Apa aja itu? Rasa marah, kecewa, sedih, kesal, putus asa, tidak percaya diri, terhina, terpuruk, dsb dsb dsb.

NAAAHHH gimana dengan Healing for Woman?

Healing for Woman ini dibuat selama 2 hari sampe nginep segala, Karena saya ingin kasih sesuatu yang SPESIAL buat kamu para wanita. Kan wanita sukanya yang spesial-spesial. Yakaaaaan. Kita akan bahas dan kupas tuntas tentang permasalahan seputar wanita, baik dari segi emosi, karir atau rezeki, dan topik seputar cintaaaa… Apapun status kamu saat ini. Single? Taken? Married? Divorce? Pelakor? #eh… yaaa pokoknya apapun kondisi kamu saat ini yang bikin kamu JENGAH dengan hidup, kita akan sentuh dengan bagaimana wanita ingin disentuh. Hihihihi geli juga pemilihan bahasanya.

Dan yang jelas pesertanya semuanya WANITA jadi semoga ini bisa bikin kamu nyaman juga selama acara.

Ada satu postingan Teh Irma yang bagi saya pribadi sangat PAS menggambarkan apa yang akan disajikan di Healing for Woman ini, begini katanya….

Wanita itu susah di mengerti oleh lelaki, hanya bisa dipahami oleh sesama wanita ….. katanya

Terlalu banyak drama wanita yg mampir ke EHI

Tentang hati yang hancur karena LELAKI
Tentang hati yang beku karena SITUASI
Tentang hati yang hampa karena KEHILANGAN
Tentang hati yang dingin karena DENDAM
Tentang segala asa yang tak pernah TERWUJUD

Wanita dan segala dramanya, kisahnya, perjalanannya….. selalu menjadi cerita dan inspirasi dunia.
Wanita yang punya kisah tak sempurna, yuk kita ketemuan di event ini.

Gitu katanya.

Sooo, masih bingung apa yang membedakan Healing for Woman dengan Healing Class biasa?? Yaudahlah japri aja gapapa hahaha. Curhatin ajaa panitianya, curhatin ajaaa. Tapi udah itu daftar dan bereskan urusan administrasinya yaak. Buruan, untuk kelas Februari nanti tinggal ada terbatas hanya untuk 30 orang yaa. Kalau ga kebagian yaa masuk daftar Waiting List.

Terakhir, saran saya… sebelum senapsaran sama event dan kelas yang diselenggarakan EHI, ada baiknya kamu baca bukunya dulu. Emotional Healing Therapy oleh Irma Rahayu atau kepoin gaya nya Teh Irma kalau nyablak di channel Youtubenya, Rumah Mamak. Biar lebih kebayang dan membantu kamu memutuskan, bener gak kamu butuh yang kayak ginian. Jangan ambil kelas, hanya karena ikut-ikutan atau karena lagi trend aja. Buang waktu, duit, dan tenaga namanya. Hidup nya makin blangsak yang ada.

Disclaimer: Healing Class BUKAN event SAKTI yang bisa bikin hidupmu langsung berubah 180 derajat menjadi kaya, sukses, bebas hutang, financial freedom, bahagia dunia akhirat, happily ever after, atau sembuh total dari penyakit panu, kudis, kurap, dan kutuan. It’s just an event. Kesembuhan dan perubahan hidup yang HQQ kuncinya tetap di kegigihan kamu dalam berbenah diri dan ketentuan Ilahi Rabbi.

Sekian.

Semoga tulisan ini cukup mencerahkan. Penulis menerima japri TERKAIT info Healing via WA 0812 2702 3499

Review buku Emotional Healing Therapy

Halooo selamat pagi Indonesiaaa!

Hari ini saya mau mereview 4 buah buku yang saya baca setahun lalu tapi perubahannya dalam hidup sangat sangat sangat berasa dan emang beneran mengubah sudut pandang dan sikap saya. For a good things for sure. Menurut saya sih, gak tau kalau menurut Mas Anang hihi.

Saya tau penulis buku ini sudah sejak lama, kayaknya tahun 2012-an deh, lupa, pokoknya udah lama banget. Saya tau penulisnya dari twitterland karena direkomendasikan oleh guru saya bapak Indra Noveldy. Nama penulisnya Irma Rahayu, atau akrab disapa Teh Irma. Akun twitternya @irmasouhealer. Boleh dikepoin twitternya, tapi jangan lupa pake helm. Tulisan Teh Irma, baik di twitter maupun di fanpage FBnya gak pernah santai hahaha. Cablak dan hobi ngeplak. Ini yang dulu waktu awal tau Teh Irma agak gimanaaa gitu sama doi hahaha. Sampe akhirnya di tahun 2015 ngerasa hidup stuck bangeeeeet, dan ngerasa sendirian aja, gak ada yang bisa ngerti dan bantu..

Continue reading

FAQ Healing Class Irma Rahayu

Banyak yang nanya tentang APA SIH HEALING CLASS itu Chii?? Dari flyer Healing Class yang saya share di sosial media akhir-akhir ini, gak sedikit yang kepo dan japri dengan berbagai pertanyaan. Baiklah, kayaknya kudu dibuat tulisan FAQ Healing Class by Irma Rahayu di blog. Semoga membantu dan mencerahkan yaa, terutama yang mager dan minder untuk nanya japri tentang Healing Class hehehe…

Continue reading

Rasa SAKIT

​Ketika memutuskan untuk ikut program Life Coaching bersama Teh Irma Rahayu, saya pikir urusan saya dengan rasa SAKIT dalam hati akan selesai dan beres. Nyata nya enggaaa wkwkwk. Justru sejak jadi anak LC, saya lebih AWARE dengan rasa sakit… berat badan nambah karena saban hari makan ati muluuu hahaha.
Iyaa, rasa SAKIT gak akan pernah hilang dalam setiap perjalanan kehidupan kita. Dia akan selalu ada, dalam bentuk marah, kesal, kecewa, ataupun terhina. Halaaah bahasa lo Chiii, drama banget 😂 Kalau kita udah gak ngerasa sakit, ada dua kemungkinan, pertama mungkin karena kita udah mati, kedua karena kita udah kayak zombie… Hiii ngeri!

Rasa SAKIT itu udah pasti bakal terus ada deh. Skenarionya seperti ini, dalam sebuah ketenangan ragawi dan batiniawi (bahasa apaan sih ini Chii haha) kita tiba-tiba kedatangan KONFLIK. Bisa konflik yang memang baru kita ketemui, atau konflik yang dari dulu menghantui, gak kelar-kelar kayak Tersanjung season 6….

Continue reading

Berobat ke Klinik Tong Fang

Desir angin menerpa deretan hordeng berwarna pink bunga-bunga. Ada tukang parabot melewat di depan rumah. Tidak ketinggalan mamang cuankie yang mengetok-ngetokin pintu tetangga, yang belum bayar jajanannya.

Sore yang indah tapi sebenernya biasa-aja-sih di sebuah komplek perumahan sederhana, di perbatasan Cimahi dan Bandung Kota….

Aku menatap langit lalu bertanya pada diri sendiri, aku ini lagi apa. Mungkin aku ingin seperti tokoh-tokoh di novel drama tapi kayaknya tatapanku malah merusak suasana. Bukan tatapan iba atau sedih yang dramatis, hanya tatapan bingung melihat antena tv yang sudah karat dan patah dimana-mana. Watiiiir. Pantesan kemarin gak bisa nonton Persib 😁

Mau nulis apa sih Chiiii sebenernya hahahaha. Rebek amat 😂 Maap yak. Gak cocok nulis sebangsa prosa deskriptif hihihi.

Well. Seharian ini saya cukup shock dimasukkan ke WAG yang berisi wanita-wanita rempong kumpulan pasien salah satu klinik ternama, klinik TONG FANG. Asuhan Ibu Irma Rahayu. Buat yang belum tau beliau, Irma Rahayu adalah seorang life coach, yang sangat spesifik mengatasi kejiwaan. Jadi yang jadi muridnya semua sakit jiwa hahahaha. Engga deng. Aku mah waras. Cuma buat mengisi waktu luang aja biar gak kisut. Hahaha dusta 😁

Setiap manusia punya doa yang sama, ingin dipertemukan dengan pasangan yang bisa mengisi dan melengkapi apa yang belum dia punya. Saya berdoa agar Allah anugerahi saya suami yang sabar dan bertanggung jawab. Dan di belahan Indonesia di bagian Kelurahan Melong Kecamatan Cimahi Selatan, ada seorang bujang yang berdoa juga agar dipertemukan dengan seorang wanita yang kuat untuk dipersunting jadi istrinya. Kuat ngangkat galon dan kuat mindahin rumah manatau kebanjiran. Yagakgitujugakaliiiii.

Lalu akhirnya dua manusia ini Allah persatukan, demi menjawab doa mereka masing-masing. Sang istri bahagia, begitu pun suaminya.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Baju berganti baju. Eh garing 😐

Mereka mulai lebih dalam mengenal satu sama lain. Tapi sayang mereka gagal paham dengan jawaban dari doa yang mereka panjatkan. Bukan kesabaran yang dirasakan oleh sang istri, malah sikap cuek dan kurang peka. Bukan kekuatan seorang istri yang didapat oleh suami, malah sikap kurang ajar dan mau menang sendiri. Dua-duanya teriak, duuuh pusing lah pala barbie hijab syariiii 😣

Suami istri yang saling melempar marah dan kecewa. Tiap hari ribut mempertanyakan jawaban atas doanya. Meledak. Lalu padam. Meledak lagi. Padam lagi. Kayak orang belum bayar listrik. Mati-Nyala-Mati-Nyala. Seakan tidak ada ujung, yang ada hanya lelah dan gundah. Rasa syukur pun perlahan menguap.
Solusi demi solusi dijajal dan tetap tidak menemukan titik terang, hingga akhirnya mereka bertemu klinik Tong Fang 😂😂😂

Kepanjangan dari Tolong dong Fang Warasin hidup saya Mbaaak! #Sundaan hahaha
Selama menjalani perawatan di klinik Tong Fang, tabibnya hobi amat ngegeplak… ngerokin tembok ego dan topeng “butuh pengakuan”. Diseret sampe ngesot-ngesot untuk melihat akar masalah dari rasa marah, kecewa, dan pendaman emosi lainnya.
Hingga perlahan daya pikir dan sentuhan rasa mulai sesuai pada porsinya dan sesuai pada tempatnya.
Perlahan mulai luruh pikiran merasa dibiarkan, dicuekkan, dan di-engga peka-kan. Mulai bisa merasakan sikap sabar pada pasangan yang selama ini dipungkiri dan tidak diakui.
Perlahan mulai terasah kekuatan istri, harus dimana saja energinya dimanfaatkan. Agar barokah dan perahu tetap berjalan sama arah.

Selama pembelajaran di klinik ini, kami belajar bahwa setiap doa tidak Allah jawab dalam kondisi matang. Atau sudah jadi.

Doa dihantarkan dalam bentuk butuh proses. Agar ketika menikmati hidangan dari setiap doa, ada rasa puas dan tenang dalam setiap kunyahannya. Nikmaaat alhamdulillah…
Terima kasih klinik Tong Fang.. kehidupan berangsur waras dan lebih napak dalam menghadapi setiap tantangan baru yang ada.

Hidup pusing ngejelimet pengen teriak?? Butuh solusi dari setiap masalah?? Jangan sampe asal coba-coba kalau gak mau  berujung pada sia-sia atau bahkan terjerat kasus narkoba. Eaaaa

Cobain aja klinik Tong Fang. Tolong dong Fang Warasin hahahaha bersama Ibu Irma Rahayu. Info lebih lengkap silakan buka websitenya Irma Rahayu atau SMS 081227023499

Jangan lupa cari cara buat waras…
Hidup buat nyiapin mati, jangan lupa abisin waktu buat berbenah diri…

Salam sayang,

salahsatu pasien dari klinik Tong Fang 😊

Kenapa Healing Class Direkomendasikan

Lantas di mana letak salahnya kok ada manusia yang mampu berdamai dengan masalah dan ujian, tapi banyak pula yang gagal paham dan menepi kejauhan? Kalau memang ALLAH tidak memberi beban melebihi kemampuan kita, kenapa kita seperti kepayahan mengarungi kehidupan? Kok rasanya kesusahan ini tak berujung?

Aduh ini kalimat cukup nyesek ya? Kok bikin penasaran ya? Kok gue banget yaa haha ~

Sebelum akhirnya saya kepengen banget baca buku Soul Healing Therapy, saya dihadapkan pada kondisi bisnis yang stuck bangeeeet nget nget nget padahal sebelumnya lancar jaya dan saldo rekening aman sentausa. Pas saya jatoh, liat rekan sejawat lainnya makin mencuat melesat bikin sirik beraaaat.

Eungap. Sesak nafas rasanya.

Saya sempat “marah” pada keadaan. Menyimpan sedikit kesal pada Tuhan. Perasaan kerja udah edan, pengorbanan udah dilakukan. Tahajud, dhuha, infaq, sodaqoh, dan membantu sesama udah. Tapi kenapa doa belum juga ketemu jawabannya. Hidup makin sempiiiit aja rasanya. Mulai kan sombong dan perhitungan sama Tuhan. Amit-amit deh itu kelakuan hahaha. Mau ngapa-ngapain bawaannya males dan emosiiii aja jadinya.

Pas “dipaksa” baca buku Soul Healing Therapy ama Bu Nani Kurniasari, brand owner NKsyari, ada kalimat di atas yang cukup nusuk dan bikin penasaran.

Iya.. iya iya sih kenapa kok tetiba suka ngerasa hidup gini-gini amaaadddd??? Pake D amat nya juga biar nendang! Padahal sebenernya masih banyak yang bisa disyukuri tapi kok yaaa rungsing a.k.a kacau terus pikiran. Hayati butuh piknik…

Dan di buku itu dijelaskanlah bahwa ada yang namanya PROSES dan KONSEKUENSI DOA.



Beuh. Apapula itu.

Pertama, doa yang baik dan cepat sampe ke Tuhan Yang Maha Mengabulkan, adalah doa dari jiwa yang tenang. Haduuuh tuh kan jiwa yang tenang lagi kyaaaaa susah banget gaes punya jiwa yang tenang itu. Prosesnya panjaaaaang dan berliku. Bentuknya juga abstrak gatauuuu. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang “menyerah” pada kuasa Tuhan. Bisa menyelaraskan setiap emosi negatif yang ada dan mengetahui dan mengakui setiap ketakutan yang paling dalam pada diri kita. Jiwa yang tenang dan eling akan lebih enak saat kirim doa pada Sang Kuasa.

Wahai jiwa yang tenang.. Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS Al Fajr 27-30)

Kedua, harus siap dengan segala konsekuensi doa. Konsekuensi doa ini hadir dalam bentuk masalah.

Jadi selama coaching sama Teh Irma, tiap kali ngeluh dan protes sama hidup, Mamak cuma bilang dengan entengnya, “Coba yaaa diinget lagi doa-doanya…

“Glek. Jlebbb. Keselek!

Langsung lemes.

Doa ingin jadi istri shaleha yang setia mendampingi suami. Jadi ibu yang baik.

Doa ingin keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Doa ingin diangkat derajatnya jadi ummat yang mulia.

Doa ingin dibersihkan hartanya dari yang haram dan syubhat.

Doa ingin bisa membahagiakan orang tua dan lingkungan sekitar.

Doa ingin hidup lebih baik terus lebih baik setiap harinya.

Doa… doa gue dipikir-pikir cliche tapi yaaa konsekuensinya yaaa gakan mudah lah pastinya!

Belum lagi ditambah doa pengen bebas hutang dan jadi horang kayah. Punya penghasilan ratusan juta. Bisa bangun sekolah gratis dan menggerakan sejuta ibumuda. Whaaaaat doa lo luarbiasaa. Gak sebanding sama usaha dan kondisi jiwa lo Nyoong wkwkwk

Tareeeek napas dulu Sis. Eungap bangeeet inih.

Tiap inget doa yang udah “direngekin” sama Allah dan bandingin sama kelakuan, langsung istighfar. Ya ampuuun minta semprot dulu beauty water biar segeerr huhu. Aerr putih mana aerrr putih… malu banget liat kelakuan sendiri. Hiks.

Satu tahap hidup berhasil kita naiki ketika kita sadar bahwa setiap yang terjadi adalah ulah diri sendiri. Masalah yang datang sebenarnya nyuruh kita bangun. Woooi itu banyak banget yang kudu dibenahin dalam diri lo. Allah mau  ngasih nih apa yang lo minta tapi itu benerin dulu hatinya. Siapin dulu mentalnya. Biar lo gak makin belingsatan. Biar Allah ridho dengan setiap apapun yang Dia kasih dan dia ambil. Biar Allah selalu ridho sama hidup lo. Wakeeee upppp!!!! Lukanya dibuka, diobatin, dibikin sembuh. Penyakit hatinya gosokiiiin, bikin kinclong duluuu. Biar kalau lo dikasih nikmat yang banyak, lo tau cara yang bener untuk tetap berpijak dan gak bertindak seenak jidat.

Haaaahhh. Sesak yaaah.

Kurang lebih itu yang selama ini didapat sepanjang baca buku Soul Healing Therapy dan ikut kelas Healing. Dibelek matanya untuk melihat indahnya proses ketika Allah ingin mengabulkan doa kita. Kayak mau lahiran. Sakiiiit banget nunggu pembukaan. Sampe kadang kudu diinduksi dulu dua kali baru keluar deh anugerah Tuhan paling seksi. Seksi soalnya pas keluar belum dibajuin. -Garing-

Setiap doa ada proses dan konsekuensinya. Siap-siap ajaaa.

Jadi kalau tiap hari ada aja masalah yang harus dihadepin yaaa dimamam ajaa. Vitamin Sis biar siap jiwa raga ketika Allah kasih yang kita semua minta saat doa.
Tareeek napas dalaam. Keluarkan perlahan…

Tenang… tenang… maka lo MENANG

Semoga bermanfaat yaaaw.

Selamat mengingat kembali doa yang udah diminta dan menerima konsekuensinyaaah! Kalau bener-bener gak ngerti sama diri sendiri harus digimanain, gabung yuk di kelas healing 🙂

Salam hangat penuh semangat,

AF

Founder of IBUMUDA Indonesia :*

Life Coaching part 3

Halooooo selamat pagi Indonesia… Hari ini rencananya mau ada jadwal diskusi kasus gigi tiruan lengkap bersama bapak dosen, tapi hingga pukul 11.00 belum ada message yang masuk apakah jadi atau gimana kelanjutan nasib saya.

Well. Yaudahlahyaaa. Tinggal kerjain kerjaan lain. Yaitu curhat. Eh, yaitu nulis.

Saya mau meneruskan cerita Life Coaching yang kemarin yaaa. Siap mendengarkan lanjutan ceritanya?

Oke… Here we go!

Eh sebentaaaaarrr.. Gaes, kalau kalian tetiba masuk ke tulisan ini sebelum baca yang part 1 dan part 2. Plis baca dulu 2 part sebelumnya yaa. Biar nyambung.

Okey, thankyou 😊

Saya sudah lolos tahap wawancara. Alhamdulillah. Saya pun berkenalan dengan teman sejawat LC 10 lainnya. Oiya, dan Atha juga lolos. Asik asiik.

Anak LC 10 datang dari berbagai latar belakang. Pengusaha, staff di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, ada pakar bekam dan ruqyah, ada banker juga, ada yang bergerak di bidang perpajakan, IT, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya…

Tugas pertama saat itu buat kami Bangkoters 10 adalah BEBERES rumah, gudang, laci-laci, lemari baju, tas, dompet dari segala isi yang TIDAK PENTING, BUKAN HAK nya, dan dari sampah-sampah masa lalu yang masih ngendon aja di dalam rumah. At least yang jelas wujudnya dalam rumah mari kita singkirkan karena agak susah kalau yang masih lekat dalam hati mah. Tsaaaaah ~

Hari itu saya belum cerita perihal LC ke bapak suami. Masih bingung banget nyeritainnya gimana, apalagi cerita bayarnya berapa… Kalau penyampaiannya gak baik, nanti dia tiba-tiba ke salon minta waxing sebadan-badan karena shock hahahaha *sorry Ayah, aku analoginya agak lebay*

Saya stay cool and stay fresh from the oven aja. Tetap kerjain tugas pertama dari  Teh Irma yaitu beberes. Diubek lah semua rak buku, lemari, gudang, dompet dan sebagainya dan sebagainya.. Anin juga ikut heboh. Dari proses merapikan dan membuang, cukup bikin baper karena kepaksa buka file-file lama. File-file sama mantan juga. Aduhyaampun pusing pala Bunda, Nin 😂😂😂

Dan lagian ini kenapa gue masih simpen aja siiih hahaha…

Masalalu itu ada yang nyebelin ada yang ngangenin. Yang nyebelin bikin saya bersyukur atas apa yang terjadi hari ini. Thanks God my life feels better now. Masalalu yang ngangenin bikin saya bersemangat kalau hidup saya pernah cerah dan ada prestasinya. It makes me feel more motivated.

Tugas beberes cukup bikin badan dan hati pegel. Bikin banyaaaak sekali bersyukur dan berbenah. Dari hasil beberes, saya belajar untuk mengenal kata CUKUP.

Saya belajar untuk tidak menumpuk hal yang tidak perlu. Saya belajar untuk mengalirkan satu energi materi yang ada di rumah ini. Saya belajar melepaskan apa yang harus keluar agar tetap ada hal baru dan yang lebih menyenangkan, lebih saya butuhkan untuk datang ke rumah ini, ke dalam hati dan jiwa kami.

Ada yang keluar, ada yang masuk. Ketika ada yang ingin masuk, ada yang harus dikeluarkan dulu.

Jangan membiarkan rumah atau hati diisi oleh hal yang menumpuk. Hal kecil kayak gini ternyata membawa pengaruh besar pada sektor hidup lainnya. *kamana atuh SEKTOR 😁

Okey. Kita harus belajar pada arti kata CUKUP.

Momen yang benar-benar menyentuh adalah ketika begitu banyak barang yang keluar dari rumah, kami tumpuk di pojok tempat sampah, ada banyak sekali pemulung yang begitu cerah wajahnya melihat “harta karun” yang kami keluarkan. Ada satu anak kecil sangat bahagia menemukan “mainan kadaluarsa” nya Anin yang saya keluarkan. That was so amazing. Bikin aku krai dan bahagia sekali.

Rumah juga jauh terlihat lapang dan rapi. Daaaan ternyata itu nyetrum juga ke hati. Ahhhh I was so happy at that moment.

Bapak suami seneng juga liatnya. Liat saya yang produktif semingguan penuh beberes. Bonding sama Anin juga makin kuat. Saya bisa liat dia (bapak suami) ikut happy..

Setelah tugas beberes, lanjut pada persiapan hati untuk ngomong sama bapak suami tentang kontrak LC nanti.

Bapak suami cukup kaget dengan keputusan saya ikut program ini. Pertama, karena saya itu HOBI BANGET ikut seminar dan pelatihan, dan sebagai orang yang udah cukup sering dimintain izin untuk hal beginian, sangat wajar dia bilang…

“Ini apaan lagi sih Be???” Hahaha…

Tidak mudah. Sangat tidak mudah untuk meyakinkan bapak suami kalau saya sangat yakin ambil program ini. Bahwa program ini worthed dan saya sudah melakukan banyak riset hingga akhirnya mantap ambil program ini.

Kedua, biaya nya cukup fantastis. Iya, terutama untuk kami pasangan muda yang lagi banyak banget rencana beli ini beli itu, nabung buat ini nabung buat itu, nominal segitu kalau gak worthed-worthed amat akan menjadi pemborosan skala besar tahun 2016 heu.

Tapi sekali lagi (berkali-kali sih tepatnya), saya yakinkan bapak suami bahwa saya benar-benar yakin dan serius sama program ini. Saya hanya butuh izin, masalah biaya, saya bilang sama dia kalau I will figure it out.

Tapi dalam doa pun saya bilang sama Allah. Ya Allah, aku gak akan maksa. Gimana Allah aja. Kasih petunjuknya via suami. Kalau suami memang bener-bener gak kasih izin dan gak ridho saya ambil program ini, saya bakal tinggalin. Ridho Allah adalah ridho suami.

Alhamdulillah setelah semalaman diskusi. Besoknya suami ngasih permission. Dengan segala konsekuensi siap tanggung sendiri.

Oke, bismillahirrahmaanirrahiim..

Bener-bener dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya siap sepenuh hati menjalankan program Life Coaching ini.

Nah, langsung deh kan yaaa pusing nyari duit 15 juta pertama darimana. Tadinya mau ada piutang yang cair dan bisa untuk bayar LC termin pertama. Sayangnya piutang itu statusnya mendadak gakjelas. Aduh sad banget deh.  Saya galau.. Banget.

Tugas kedua dari Mamak datang, yaitu latihan BERPRASANGKA BAIK dalam segala hal. Berprasangka baik pada macet, pada barang yang ketinggalan, pada suami kalau lagi ngomel, pada anak yang hobi rewel, pada duit buat bayar LC yang belum jelas bakal datang dari mana, berprasangka baik pada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita.

Okeeeeeeyyy gaaaess, you know what… Tugas berprasangka baik makes me craazzzzyyy *krai banyak*

Di situ saya sadar bahwa saya selama ini hobinya “ngatur” Allah, protes sama Allah, gak sabaran, dan kurang iman.

Saya sok jago mengandalkan logika saya sendiri dan gak percaya sama apapun skenario yang Allah kasih.

Salah satu yang hits saat itu yaaa proses darimana saya bisa bayar administrasi LC termin pertama.

Malam itu, H-1 batas akhir pembayaran. Masih blank banget dapet duit darimana. Saya curhat sama Teh Nani,

“Gue bayar pake apaaaa Teeeh… Gak ada duit segede itu saat ini..”

“Yah lo jual dulu apa kek. Mobil, motor, perhiasan, baju, apa kek… Pasti ada pengorbanan yang harus lo lakukan untuk dapet hal yang lebih baik..”

“Ebuseeet ya gak bisa gitu lah Teh. Gue aja dapet izin ikut LC setengah mati, kalau sampe gue pake jual barang segala bisa dijadiin Achii Asam Manis kayaknya ama laki gue…” Hahahaha padahal laki gue gak se kriminal itu juga sik.

“Ya apa kek.. Gadai mesin Kangen dulu…”

“Hemmm… Bener juga, bisa dicoba… Secara banyak yang kepengen punya tuh mesin..”

“Yaudah cobain gih… Buruan.. Waktu terus berjalan…”

“Hahaha berasa lagi main The Apperentice yak gue…”

Saya pun menghubungi beberapa teman pengusaha yang mau pake mesin Kangen Water sebulan biar saya bisa pake dulu duitnya. Simbiosis mutualisme. Karena di LC kita dilarang ngutang. Kita harus yakin sepenuhnya kalau ini jalannya, Allah kasih gampang.

Momen ini tuh yaa buat saya kayak mau naik roller coaster. Saya melakukan ikhtiar terbaik (pasang sabuk pengaman, dan mematuhi aturan yang sudah dibuat), sisanya pasraaaaah lillahita’ala. Lepasin tegangnya, dan teriak kenceng deh kalau mau biar gak terlalu degdegan.

Tau kan sensai naik roller coaster?? Berasa mau mati, berasa kayak mau diambil jantung dan hati, tapi nyatanya sih gak gimana-gimana, gak kenapa-kenapa… Seru-seru aja, dan yaaa nyawa masih nempel kok sama badan. Alhamdulillah.

Ketika saya ngejapri temen-temen, banyaaak sekali penyakit hati dan perlawanan terhadap topeng yang selama ini saya asik pake.

Takut dianggap kere lah. Lah yaemang.
Takut dianggap bangkrut lah. Lah yaemang
Takut dianggap cupu lah. Lah yaemang.

Saya melepaskan semua ketakutan itu dan berani jujur sama diri sendiri tentang kondisi saya saat itu. Saya belajar untuk menerima kondisi real saya saat itu yang selama ini lebih sering saya tutupi, saya bumbui, menjadi sosok yang bukan saya banget.

Beneran deh itu rasanya kayak naik roller coaster!!!!

Tangan saya dingin megangin handphone. Saya sadar banget, ini bukan hanya tentang transaksi gadai mesin, tapi ini transaksi jiwa saya untuk BERANI JUJUR dan APA ADANYA.

Lalu apa yang terjadi? Malah ada dua orang yang bersedia dipasangin mesin di rumahnya dan mau minjemin duit 15 juta untuk saya.. Alhamdulillah..

Ahhh saya bersyukur banget punya mesin Kangen. Dia sudah banyak menemani saya melewati banyak hal. Mulai dari menemani saya ngilangin sembelit, kenal sama banyak orang baru, nemenin saya sedekah air, bantu bayarin utang, jadi wasilah saya bisa naik kapal pesiar dan jalan-jalan ke 3 negara, dan sekarang dia bisa “disekolahin” biar saya nya makin pinter, sehat lahir bathin. Thankyou my SD501 !

Transaksi berjalan lancar. Saya sudah aman admimistrasi LC nya. Teman saya juga happy karena bisa ngerasain air Kangen fresh from machine enaknya kayak apa selama satu bulan. Daaan beberapa hari kemudian, di belahan dunia bagian Cianjur ada yang beneran mau beli mesin, di mana komisi penjualan mesin tersebut cukup untuk membawa pulang SD501 yang saya pinjamkan dulu. Semudah itu ternyata.

Yaaa tapi pas latihan BERPRASANGKA BAIK sama Allah nya bikin mules. Amat sangat.

Dan saya belajar lagi bahwa Allah gak kemana. Allah akan kasih jalan keluar untuk ummatnya yang mau bergerak dan usaha.

Alhamdulillah… Saya pun semakin semangat menikmati setiap “game” yang harus dilalui selama LC. Semakin lama semakin seru, meski bikin sesak, tapi saya semakin dalam mengenal siapa saya sebenarnya dan hal apa yang akan sangat nyaman saya lakukan dan merasa TENANG ! Itu penting.

Buat yang masih penasaran dengan cerita LC saya, kayaknya akan dibuat part 4 nya deh. Ada beberapa yang masih ingin saya ceritakan tentang bagaimama akhirnya saya yang hobi bilang iya alias susah nolak jadi lebih fokus dan punya pendirian untuk melakukan apa yang benar-benar harus saya lakukan. Bagaimana saya perlahan memaafkan masalalu. Bagaimana saya mulai ngerti galau-galau masa kini darimana datangnya. Saya akan cerita bagaimana Mamak (sebutan khusus Bangkoters untuk Teh Irma) membedah semua aib dan kecupuan saya. Pokoknya Mamak menang banyak, saya kalah telak hahaha.. Hidup berasa dipencetin tombol RESET 😂

Haaah…

Semoga masih penasaran yaa 😊

Life Coaching part 1

Hari ini tanggal 1 Mei 2016. Jam 05.45 saya sudah duduk di pool travel untuk bersiap berangkat ke Jakarta. Tentu bukan untuk demo Hari Buruh. Pertama, saya bukan buruh. Kedua, saya orangnya lebih suka demo masak daripada demo buruh. Yuuuk.

Hari ini adalah jadwal ketemu Mamak alias Teh Irma Rahayu untuk sesi private coaching kesekian kalinya. Program yang sudah saya jalani selama 4 bulan ke belakang. Program LIFE COACHING namanya.

Beberapa spoiler sering saya share via social media saya yang lain. Via Path, Instagram, atau Facebook. Tentang apa yang saya dapat dari kegiatan #LifeCoaching tersebut.

Di blog, saya akan jelaskan secara lengkap dan lebih rinci apa itu Life Coaching bersama Irma Rahayu dan kenapa saya memutuskan untuk mengikuti program tersebut.

Saya tau Teh Irma itu sejak tahun 2012 (kalau tidak salah) saat saya sedang sangat aktif di dunia Twitter. Teh Irma adalah seorang soulhealer yang cukup rajin berseliweran dan ngoceh pedes di jagat timeline Twitter. Bisa tau Teh Irma karena direkomendasikan oleh pak Indra @noveldy dan istri, penulis buku Menikah Untuk Bahagia. Kesan-kesan saya waktu itu ketika menyimak twit-twitnya Teh Irma adalah,

“Dih ni orang sompral banget yaa ngomongnya. Dalem. Blak-blakan abis. Sinis dan galak. Tapiiii bener sih yang diomongin.”

Jadi mau unfollow juga, sayang ilmunya. Ga apa deh galak. Variasi dikit.

Saya sempet penasaran dengan metode dan ilmu healing-nya yang sering dia bahas di. Sempat juga diajak ikut kelasnya di Bandung. Tapi saat itu saya merasa belum perlu-perlu amat. Saya abaikan saja dan asik dengan hidup saya sendiri. Going ahead dengan segala topeng dan pencitraan yang lekat dengan keseharian saya. Ngahahaha.. mamam tuh pencitraan dan butuh pengakuan..

Sampai suatu ketika, rekan bisnis di KAMA -salahsatu brand owner yang men-supply produk di KAMA, ngajakin saya jadi bagian yang berpartisipasi untuk acara Emotional Healing Therapy di Bandung. Sekali lagi saya abaikan, karena saat itu kebetulan banget saya nya lagi belajar bilang “TIDAK” untuk amanah yang belum prioritas-prioritas amat. Saya sedang punya fokus lain yang harus dikerjakan. Gaya amat yak.

My life is going on…

Sampe akhirnya mentoooook. Lelah yang amat sangat dengan skala galau luarbiasa. Gak jelas sendiri dan butuh pencerahan yang bener-bener baru, bukan ala-ala motivator yang udah kenyang saya kunyah tiap hari.

Iseng buka Twitter bulan November 2015, ada sosok Irma Rahayu pas buka timeline lagi. Doi lagi mau bedah buku barunya di BANDUNG !

Hah, apa saya samperin juga yah ni orang. Manatau manatau ada hal baru yang bisa saya ambil dari doi ketika saya bisa ketemu secara langsung.

Alhamdulillah diizinin suami keluar, padahal saat itu kondisinya masih dalam masa bedrest pasca operasi besar hamil di luar kandungan. Watir kali yaa liat muka saya yang udah bosen lumutan dan gak bergairah berhari-hari ngendon di rumah.

Hari itu menjadi hari pertama saya ketemu sosok Teh Irma Rahayu. Sosok yang emang cablak dan semena-mena banget ngomongnya. Bibirnya gue rasa ada dua karet imajiner yang ngiket. PEDES ABIS. Tapi entah kenapa saya suka dan makin penasaran. Saya pun beli bukunya dan aslik terkesiap dengan apa yang dia tulis di buku Soul Healing Therapy nya. Tentang konsep DOA dan makna BERIBADAH pada Allah. Beda tapi yaa eta pisaaan banget lah pokoknya. Baca deh, asli rekomen banget. Benar-benar pencerahan 2016 hihi…

Lalu saya nanya-nanya dengan urat kepo yang cukup tebal sama Teh Nani, rekan bisnis yang sekarang jadi artis (hihi), tentang siapa dan sebenarnya apa sih yang diajarkan oleh Teh Irma ini. Secara doi ikut jadi muridnya.

Teh Nani cuma nyuruh saya ikut healing.

“Udah lo coba aja kelas healing-nya Teh Irma. Udahan itu bakal enakan pikiran lo. Dan bakal bantu lo liat insight baru tentang hidup…”

“Bayar berapa?”

“1 juta.”

“Wah mahal yaaa.. Gue lagi gak ada duit banyak Teh…”

“Ah masa sih? Bukannya lo lagi bagus banget bisnisnya…”

“Hah… Keliatannya aja. Justru ini tuh lagi terjun bebaaaas. Gak ngerti gue juga. Pusing pala barbie anak gue.”

*Lah kenapa jadi bawa barbie-nya anak gue… Haha..

“Yaudah lo doa aja. Kalau emang ini jalan lo buat cari solusi. Pasti ada jalan…”

Singkat cerita, saya akhirnya bisa ikut healing sama Teh Irma dan ambil satu kali private coaching ama doski di rumahnya. Saya baca 4 bukunya. Dan bener-bener dibuka oleh banyak hal dari setiap tulisannya. BANYAK HAL.

Banyak pertanyaan dalam hidup yang cukup terjawab dari bukunya Teh Irma. Kenapa saya anaknya lebay, drama, emosian, mentok ngedidik anak, mentok ngobrol sama pasangan, dan beberapa konflik receh yang numpuk tapi saya cukup linglung untuk ngeberesinnya kayak apa. Rajin shalat, ngaji, puasa, dan dhuha tapi hobi itung-itungan amal sama Allah. Kusut banget deh pokoknya.

Masalah kita tuh bisa RECEH BANGET, tapi kalau numpuk yaaa bisa milyaran juga jumlahnya sampe bikin mampet segala macem, rezki salahsatunya.

Jadi yaudah deh, saya makin kepoin tentang Teh Irma lewat Teh Nani itu. Makin dikepoin makin bikin penasaran.

Lagi-lagi Teh Nani cuma bilang,

“Udah deh menurut gue lo ikut Life Coaching aja Chii. Elo kudu diwarasin. Hidup lo gak akan kemana-mana, akan stuck gitu-gitu aja kalau lo ga sadar siapa diri lo dan apa yang lo mau sebenernya. Teh Irma bisa bantu lo. Lo coba aja daftar…”

“Iyasih pengen tapi kan bayarnya mahal bangeeeet. Duit darimana gue???”

“Doa, Chii. Lo gak pernah tau gimana Allah bakal kasih jalan. Mau aja dulu, usaha aja dulu. Jadi apa kagaknya bukan urusan lo…”

“Hemmm… Gitu yaa.”

Akhirnya saya memberanikan diri daftar Life Coaching ke Uni Laura, aspri nya Teh Irma. Saya pun menjalani sesi wawancara, sebuah persyaratan sebelum dianggap sah jadi anak didik Teh Irma.

Dan tau gak sih gaes, suasana wawancara yang terjadi saat itu di luar ekspektasi saya !!

Teh Irma galaknya minta ampun deh… Berasa dilepeh dan ditolak-tolak untuk jadi anaknya doski. Ini gimana sih kok gue jadi bingung.

Dia yang bikin kelasnya. Dia yang nolak-nolak calon muridnya… ANEH.

Haaah gaes, tangan gue pegel dan ceritanya masih cukup panjang hahaha. Bersambung yaaa. Kita lanjutkan di postingan berikutnya… Nanti saya cerita segalak apa doski saat wawancara dan bagaimana bulan pertama ngerjain tugas-tugas LC yang sukses bikin badan pegel-pegel, kepala senat-senut, dan mata yang makin sering dibikin mewek inih..

Semoga penasaran 🙂

Jangan Mau Nikah Muda : sebuah pengakuan

Pernikahan? Siapa yang mau nikah acungkan tangannya katakan SAYA !

Nikah muda? Nikah muda? Siapa yang kepengen nikah muda, acungkan tangannya katakan SAYA !

Tjieeee aku nya udah cocok banget jadi motivator dalam bidang pernikahan gini. Hahaha PRET AH 😀

9 tahun yang lalu, saya masih ingat sekali di mana saya menempel FOTO PERNIKAHAN di halaman awal buku impian saya. Dari SMA udah ngebet pengen nikah anaknya, ampuuun. Makin gede makin ngebet, hingga akhirnya sama Allah dikasih jalan dan lancar. Tahun 2010 dipertemukan dengan jodoh dan dapat momen ijab-sah, mendahului momen dapat ijazah hehehe.

Tahun pertama di awal bulan, happy banget. Euphoria anak muda yang baru dapat mainan baru yang udah lamaaaa banget diidam-idamkan. 6 bulan berikutnya, eh kok gini yaaa.. Tahun berikutnya, aduh kok jadi gini siihhh… Tahun berikutnya lagi, wuaaakss harus gue apain ini.. Tahun berikutnya lagi, ampuuun juragan.. minta bantuaaan hahaha..

Pernikahan adalah hal yang lebih complicated daripada denah perumahan Margahayu dan Pharmindo. Rumit banget. Awalnya gak nyadar, malah sibuk pencitraan dan cari pengakuan. Hai-saya-Asri.. Menikah di usia 21 tahun dan saya sangat bahagia serta bangga karena sudah menikah muda. Ayo dong, kamu juga nikah muda biar seru. Kurang lebih begitu kelakuan saya beberapa tahun yang lalu. Aktif banget koar-koar tentang pernikahan macam ngerti banget dan fasih banget menjalani kehidupan pernikahan. Padahal mah heeey anak kemarin sore. Kagak ngerti ape-ape gueee. Saya sibuk dan asik menutup ketidaksempurnaan dan busuk yang saya punya dengan memberikan tips bagaimana menikah muda dan bagaimana menjalani kehidupan berumah tangga. Duh, aib sih itu sebenernya haha. Malu-malu geli gimana gitu…

Jumlah follower akun sosial media saya beranjak naik dan terus bertambah. Mereka muji-muji saya dan kenyang lah ego saya akan perhatian, pengakuan, dan pujian manusia. Tapi behind the scene nya sih ancur-ancuran. Selayaknya pernikahan manusia normal yang penuh deru debu dan noktah noda.

Saya terjebak dengan ilusi dan ambruk sendiri melihat realita yang ada.

Tidak ada hal bombastis sih dalam pernikahan saya. Tidak carut-marut amat, tapi yaaa gak juga seedan keren amat selayaknya orang-orang di luaran sana berprasangka. Saya, manusia, normal, dan sama keringetan darahnya mengenali cinta dalam pernikahan, sama kayak jutaan orang di luar sana.

Saya sempat terjebak sibuk merapihkan bungkus tanpa lihat di dalamnya ada apa.

Itu saya. Dulu.

Dari kelakuan saya yang aktif dan concern bahas pernikahan, terutama pernikahan muda, tidak sedikit orang yang malah makin ngebet untuk nikah dan curhat-curhat colongan tentang pernikahan lewat jalur pribadi. Makin banyak yang pengen, makin ditunjukkan lah saya dengan berbagai kejadian bahwa HALOOO ACHIIII… Pernikahan itu gak se-simple yang lo koar-koarin loh yaaa. Akhirnya saya ciut dan berhenti. Saya diam dan saya menoleh ke dalam pernikahan saya sendiri. Ampun deh, rujit 😀

Saya pun mengulur tali yang kusut, awal mula darimana semua kepabeulitan ini terjadi. Well, semua berawal dari tujuan dan motif saya menikah. Saya sadari saat itu dan saat ini saya akui bahwa kemarin saya menikah hanya untuk berlari. Lari dari begitu banyaknya hal yang membuat saya merasa sakit hati dan benci. Saya pikir bahwa pernikahan bisa menjadi obat dan penawar racun. Happily ever after.

Hoho… ya mana bisa. Racun yang saya sudah konsumsi bertahun-tahun bukan dengan pernikahan obatnya, tapi dengan mengakui, menerima, dan dibiarkan keluar dari peredaran metabolisme tubuh. Bukan dengan berbagi racun dengan orang yang baru saya kenal dan sekarang menjadi suami saya, imam saya, dan bapak dari anak saya.

Aduh gimana sih chii ini maksudnya? Kok  agak gak ngerti maksudnya gimana..

Hahaha maap, emang ribet sih ini. Saya agak bingung juga nyeritainnya. Tapi saya bener-bener ingin menyampaikan bahwa PERNIKAHAN is a BIG THING.. bener-bener BIG THING banget banget banget. Jadi yaa kalau emang belum waktunya, gak usah heboh dan galau nanya kapan jodoh saya datang, kapan saya halal, atau jatohnya malah berlarut dalam iri liat kehidupan percintaan tetangga sebelah yang lebih pinky warnanya. No.. marriage is a BIG THING ! Perjalanan dan hidup baru yang berbentuk anak tangga-anak tangga menuju Tuhan.

Love is a BIG THING!

Saya punya issue besar dengan diri saya sendiri, cukup banyak. Saya tidak sadar dan saya berlari dan berharap dengan menikah, sesuatu yang kosong itu akan terisi. Tapi saya salah besar. Pernikahan justru menyodorkan dan menyimpan tanggung jawab yang lebih besar lagi. Pondasi hati belum kuat-kuat amat, ini malah megang beban berat. Yaa gitu deh.

Ekspektasi. Harapan. Daaaan segala macam peluru emosi akhirnya meledak di tengah asiknya hidup berumah tangga. Saya mencari dari mana semua peluru ekspektasi dan harapan ini hadir. Harus saya buang dan bereskan agar tidak ada lagi ledakan yang mengganggu.

Butuh proses yang tidak sebentar sampai akhirnya, saya pribadi AWARE dengan diri saya sendiri. Merasakan dan mengakui apa-apa yang kurang dari saya dan tidak melampiaskan semua itu dalam dunia pernikahan. Berbagai kegiatan dan buku dijabanin. Sampai akhirnya ketemu buku Emotional Healing Therapy nya teh Irma Rahayu. Dari sana semua misteri hidup mulai terkuak perlahan. Dari mana semua kegalauan yang gak ada ujungnya ini berasal. Baca deh bukunya, seru bikin pengen nimpuk diri sendiri hahaha..

Sekarag saya memang sedang mengikuti program life coaching yang dibimbing langsung oleh teh Irma Rahayu, di postingan berikutnya akan saya jelaskan apa itu Life Coaching dan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk ikut kelasnya.

Balik lagi ke pernikahan, jadi setelah jujur sama diri sendiri dan sekuat hati mengendalikan ego sendiri. Saya mengubah motif menikah saya. Menikah adalah fase hidup yang SUPER SERIUS. Jelas bukan tempat yang tepat untuk pelarian 😦 Pelarian dari apapun yang kita sempat sakit dan jatuh sebelumnya.

Pernikahan adalah tempat belajar selanjutnya dengan metode berkelompok bersama pasangan dan anak-anak yang hadir di dalamnya. Tempat belajar yang akan menempa kita untuk lebih tangguh dan semakin dewasa dari yang sebelumnya.

Haaah beruntung banget dapat pasangan yang luaaaar biasaaaa sabarnyaaa. Luaaaar biasa pengertian dan dewasanya. Dia tetap setia meski perasaan dan akal sehat saya berantakan gak jelas bentuknya kayak apa hahahaha..

Ini adalah cuplikan dari obrolan saya dan suami beberapa malam kemarin ketika sedang membahas pernikahan dan mem-breakdown perjalanan pernikahan kami, yang masih lebih banyak drama nya daripada pencapaiannya hihihihihi..

A: Jadi Be, sekarang tujuan kamu menikah itu apa?

B: Emmmm. Untuk belajar. Iyaa, untuk belajar.

A: Sama Be. Kalau belajar boleh salah kan?

B: Boleh..

A: Iya boleh, yang penting terus belajar biar gak salah terus dan bisa naik kelas. Mau kan naik kelas bareng Aa?

B: Ah kamuuu *nutup muka*

A: Udah jangan kelamaan duduk di bangku SD. Boleh kamu main ke SD, tapi cuma untuk main aja Be. Jangan betah-betah amat jadi anak SD ahh..

Saya yang biasanya gak terima ‘dihina’ begitu sama suami cuma bisa senyum dan meneteskan air mata. Saya tau maksud dia itu apa dan saya sadar banget ke-anak SD-an saya itu kayak apa.

Well. Bismillah ya A. Gak akan ada lagi anak yang gak lulus-lulus SD ini. Cuma ada mahasiswa yang gak lulus-lulus koas aja hahahaha..

Selamat nongrong sore fellasss! Semoga sedikit pengakuan dan curhat dari seorang (yang dulunya) motikampret #NikahMuda ini memberikan sedikit pencerahan tentang pernikahan. You don’t have to be hurry. Siapin diri bener-bener. Siapin jiwa raga mental rasa untuk kehidupan penuh wahana memacu adrenalin ini!! Semoga dilancarkan segala urusan. Thanks for reading yaaaa. Kismwah :*

ibumuda yang tetap bersemangat,

Asri Fitriasari