Kedewasaan Berpikir

Ampuun. Kenapa judulnya selalu serius-serius amat sih haha. Untuk judul yang satu ini mah salahkan saja Kang Indra. Doi yang nyeletuk tentang kedewasaan berpikir. Topik sarapan kami pagi ini. Di tengah manis kopi dan hangatnya roti bakar.

Pagi ini kami membahas perbedaan dan prioritas kami yang kembali bentrok. Sesuatu yang sangat wajar terjadi dalam kehidupan rumah tangga pada umunya. Alhamdulillah pagi ini bisa ngobrol enak gapake tandukan untuk menyamakan keinginan. Fiuh..

Be, aku pernah baca dimana yaa lupa.. Intinya sih pasangan yang udah lama menikah itu harus dewasa dalam berpikir…

Maksudnya, A? Tanya saya agak kurang paham…

Iyaa.. contoh nih kalau kita lagi jalan-jalan. Mau nonton. Kamu pengennya makan Mekdi, aku pengennya makan Kaefci. Yaudah makan aja masing-masing dulu. Nanti ketemuan di bioskop. Atau sebaliknya, misal makannya yang barengan di Pitsahat, nontonnya masing-masing karena kepengennya beda. Ada saatnya harus barengan, ada saatnya memilih dan menjalani apa yang diinginkan oleh masing-masing pihak.

Hmmmmm… *sebuah gumaman agak gak nerima sebenernya HAHAHAHA maapkan aku Ay.

Menurut aku sih, perbedaan itu harus diterima dan dihadapi. Dibuat sama-sama enak dan saling menghargai. Karena kita gak bisa sepenuhnya memaksakan atau menyamaratakan sesuatu keinginan. Itu yang namanya dewasa dalam berpikir. Gitu, Be..

Tetep sih agak loading menerimanya. Dan sedikit suudzon sama dia karena takut ini akal-akalan dia aja biar gak nge iya-in maunya saya hahahaha. But well, yang diomongin ada benernya sih. Kita dikelilingi oleh perbedaan. Kanan kiri atas bawah. Gausah dulu keluar rumah, di dalam rumah aja kita akan selalu bentrok sama hal yang beda, sama suami terutama. Itulah kenapa kita sama sekali tidak bisa menghindar dari perbedaan. Yang kita butuhkan adalah kedewasaan dalam berpikir. Menjalani apa yang menurut kita benar, dan menghargai apa-apa saja yang berbeda.

Tentu saja prakteknya akan selalu tidak mudah.

Haaaa yang jelas, relationship goal kami sih satu, bisa adem ngobrolin perbedaan. Tetap saling dukung, support, dan paham keinginan satu sama lain. Dikomunikasikan dengan baik. Jangan apa-apa pake tanduk. Tidak ada ruang bagi ego untuk sebuah cinta. Hahahaha KAMANA ATUH GAYA :)))

Terima kasih atas obrolan paginya yaaa Aa nya Bb. Selamat pitness hari ini. Semoga kita bisa kurus kayak gini lagi!!!

DSC00391

Advertisements

Tabu Tapi Perlu

Okey.

Tulisan ini khusus bagi kamu yang sudah menikah. Karena memang full of konten yang harus disensor hahaha.

Ini tentang kegiatan suami istri di kamarnya! If you know what I mean, eh. Kegiatan yang kesannya apasih kalau dijadikan topik serius, dan kudu hati-hati karena ini merupakan obrolan yang sangat privasi. 

Tapi bagaimanapun saya merasa perlu menuliskannya di blog. Meski yaa rada getek-getek gimana gitu. Semoga siapa saja yang gak sengaja mampir ke tulisan ini bisa mendapatkan pencerahan barang sedikit, dan yang jelas lebih AWARE lagi dan tidak menganggap remeh satu hal ini.

Satu hal yang membedakan interaksi umat manusia biasa, dengan umat yang sudah memiliki sertifikasi halal antara keduanya. Kegiatan boleh pegang-pegangan dan adegan berikutnya yang tidak perlu dijelaskan secara rinci dan terang-terangan.

Making Love.

Adalah sebuah kegiatan suami istri yang bisa menjadi indikasi sehat atau tidaknya kehidupan rumah tangga itu sendiri.

Segitunya? Iyaaa segitunyah.

Ini berbicara mengenai seberapa sering dan seberapa enak dirasakan oleh keduanya. Sorry yes kalau makin sini makin vulgar bahasanya. Ini memang tabu tapi perlu.

Dari banyak literatur yang saya baca. Dan diskusi dengan beberapa pakar pasutri, making love between husband and wife itu KUNCI PENTING dalam biduk rumah tangga. Ini bukan hanya tentang penyaluran hasrat atau kebutuhan biologis semata, tapi juga penyatuan dua jiwa, dua soul dalam rangka BERIBADAH pada Tuhannya. Wowww se-serius itukah?? Aslinaaa??

Iya ih. Aslinaaa!

Making love itu bukan hanya sebatas interaksi fisik, tapi juga spirit. Bukan asal enak, bukan asal masuk, bukan asal melayang-layang di udara terus yaudah gitu aja lanjut mandi besar. Gak se cemen itu gaes.

Judulnya aja Making Love. Membuat Cinta kalau diartikan secara harfiah mah. Jadi memang persiapan dan pelaksanaannya gak bisa sembarang udul-udul baju ajaah.

Well, ketika saya tau fakta ini. Fakta bahwa Making Love bukan sekedar rutinitas biologis layaknya makan, minum, dan pup… jujur aja langsung nge blank dan zonk… Haaa terus kami kudu gimanaaa??? *langsung lirik-lirik suami

Yang jelas, ternyata Islam sudah mengatur ini. Suprisingly, Rasul bahkan mencontohkan step by step nya bagaimana menjalankan kegiatan Making Love ini sebagai sebuah IBADAH yang cukup SAKRAL yang dilakukan oleh suami dan istri. Ibadah yang membutuhkan interaksi dua sejoli. Berbeda dengan ibadah shalat, puasa, zakat, atau bahkan naik haji. Ini butuh DUA pasang mata yang harus saling bersinergi dan saling me-nyaman-kan satu sama lain. Ibadah yang membutuhkan komunikasi yang apik antara dua manusia berbeda kepala dengan egonya masing-masing.

Tidak jarang pasangan suami istri punya masalah di bagian yang satu ini. Dan jika hanya satu pihak yang merasakan ada masalah, justru itu cukup BESAR masalahnya. Secara pan kalau suami istri udah rutinitas. Pasti ada bosennya. Dan dikerjakan sekenanya gitu aja. But heyyyy be aware. Kalau kita ngentengin dan ngeremehin yang satu ini, efeknya bakal kemana-mana. Karena ini bukan hanya sekedar interaksi fisik, tapi jiwa. Kalau asal-asalan, enaknya doang yang dapet tapi ada sisi dalam jiwa yang kosong. Hufff dalem amat yaa. Tapi ini REALITA nya. Rasain aja deh sendiri 🙂

Pernikahan adalah tentang dua manusia yang saling menyamakan visi dan misi. Pernikahan adalah tentang dua manusia yang saling bersinergi dan menjaga satu sama lainnya. Pernikahan adalah perjanjian di depan Tuhan untuk saling menyayangi dan mengisi satu sama lain.

Dan semua implementasi interaksi antara dua manusia tersebut, bisa terukur dari KUALITAS hubungan satu sama lain di zona privasinya.

ML nya enak. ML nya kompak… Bisa jadi booster yang dahsyat untuk urusan yang lainnya.

Kalau sama-sama cuek, atau salahsatunya cuek, jangan herman kalau ada yang CRANKY dan RUNGSING di rumah.

Jadi, kapan terakhir ML enak sama pasangan kamu? Bicarakan yaaaa. Ini memang tabu. Tapi amat sangat perlu 🙂

Membandingkan

Kemarin abis ribut cukup serius sama suami. Sampe kudu diem-dieman selama 2 hari. Ditambah ada tugas kantor yang bikin dia gak pulang selama 2 hari itu. Perfect moment buat kita sama-sama take some space dan mikir dengan bener. Apa yang salah, mana yang berlebihan, dan mana yang seharusnya gak boleh diabaikan.

7 tahun pernikahan ternyata bukan waktu yang cukup bagi saya dan suami untuk saling kenal, benar-benar saling kenal. Eh, emang untuk kenalan sama pasangan hidup ada waktu yang cukup gitu? Rasanya tidak. Menikah itu kan memang gerbang awal kenalan sama orang from A to Z balik lagi ke A sampai ke Z, and repeat, ampe mati kalau iyaa jodohnya ampe mati.

Lelah? Yaaa kalau lagi sengklek otaknya sih yaa pengen bilang lelah. Pengen banget nyerah. Apalagi kalau pake bumbu-bumbu drama india dan telenovela. Ya Tuhan kenapa dia gitu banget. Kayaknya aku gak cocok sama dia. Kayaknya dia bukan cinta sejatiku. Kayaknya bla bla bla bla… Udah pasti bawaannya pengen nyerah…. Karena ngerasa stuck dan bosen kalau masalahnya itu lagi itu lagi. Iya gak?

Continue reading

Tahun Keenam: Little Sweet Escape

Hari itu hari cukup galau dan ngeselin, pasalnya… cieee pasalnya… hari itu datang ke RSGM dan kembali gak ada kerjaan lagi. Bete. Melipir aja deh ke kosan temen, numpang bobo siang aja deh biar tetep ada agenda. Wkwkwk agenda apaaaaan itu tidur siang haha. Di kosan temen, ikutan leyehan dulu, buka-buka sosmed dan sukses dibikin mupeng sama temen yang baru kewong kemarin, apalagi kalau bukan foto-foto menyiksa mata berisi snapchat selama honeymoon. Yaampooon maafkan aku ya Allah.. Aku  iriii. Aku siriiikk..

Lalu iseng nge-screen capture dan berniat ngirim kode ke suami. Tom, Cabe butuh liburaaan.

Dan surprisingly, pas mau japri Tomat a.k.a my suami, dia udah ngirim pict hotel booked untuk tanggal 30 September. He said that “Ini kado buat anniversary 6 tahun. Aku sekalian ambil cuti.”

WHAAAATTTTTT… Kebahagiaan macam apa iniiiii… Ya Allah… aku refleks norak loncat-loncat dan teriak gak jelas. Saking happy nya.

Masih gak percaya tapi ini semua benar adanya.

Continue reading

Kencan sama Ayah, Dulu dan Kini.

Waktu awal ketemu dengan pria bernama Indra Purnama Irawan, hal yang paling dia tunggu adalah bisa duduk hadap-hadapan di tempat makan dan ngobrol banyak hal ngalor ngidul gak jelas, dan saling ngerasa nyaman satu sama lain. Eaaaaaa co cwiiit banget lah..

“Be, Aa gak suka kalau boncengin kamu…”

“Lah kenapa??? Emang aku berat yaa??” Anaknya sensi amat yak hahahaha.

“Engga, kalau Aa boncengin kamu, Aa gak bisa liatin muka kamu…”

Gombaaaaaaalmu Paaaaak waktu itu 😁😂

Kini, kalau udah turun dari motor atau mobil. Bapaknya udah asik sama dunianya sendiri. Saya awalnya bete. Tapi emang default lakik begitu sih yaaa. Kalau di tempat makan, sekarang mah udah gak berlaku pengen-liatin-muka-kamu lagi wkwkwkwk. Yaakali deh, udah senep juga kali liatin saya hahahaha. Kalau gak mainin gadget, udah khusyuk sama makanan yang dipesen, pokoknya apa kek… malah jarang ngobrol.

Justru sekarang kalau lagi boncengan atau nemenin dia di sebelah kursi supir, segala obrolan pecah. Kesana kemari. Ngalor ngidul seru. Mulai dari saling hina tanpa batas. Literally tanpa batas. Yang bikin pihak cewe langsung bete dan manyun liat ke arah jendela hahahaha hingga topik manis romantis yang bikin pihak cewe bilang “Ahhhhh kamuuu… bisa ajaa” terus melukin tangannya yang lagi sibuk mindahin gigi dan nyiumin mukanya yang lagi serius liatin jalan. Hahahaha Halaal halaaal.

Baik sekarang maupun dulu, chemistry itu gak pernah hilang meski dengan cara yang berbeda. Ketika ada perubahan pola, pihak cewek sempet drama. Selalu mikir berlebihan, kok-dia-jadi-beda sih hahahaha.

Emangnya lo juga gak-jadi-beda Sis 😂😂😂

Tiap hari nambah konflik sama suami. Tapi tiap hari nambah sayang juga. Cieeeeee. Yaaa doain aja dah yaah awet sampe kakek nenek. Aamiin….


Sekian dan salam sayang,


MUAH!

Jangan Mau Nikah Muda : sebuah pengakuan

Pernikahan? Siapa yang mau nikah acungkan tangannya katakan SAYA !

Nikah muda? Nikah muda? Siapa yang kepengen nikah muda, acungkan tangannya katakan SAYA !

Tjieeee aku nya udah cocok banget jadi motivator dalam bidang pernikahan gini. Hahaha PRET AH 😀

9 tahun yang lalu, saya masih ingat sekali di mana saya menempel FOTO PERNIKAHAN di halaman awal buku impian saya. Dari SMA udah ngebet pengen nikah anaknya, ampuuun. Makin gede makin ngebet, hingga akhirnya sama Allah dikasih jalan dan lancar. Tahun 2010 dipertemukan dengan jodoh dan dapat momen ijab-sah, mendahului momen dapat ijazah hehehe.

Tahun pertama di awal bulan, happy banget. Euphoria anak muda yang baru dapat mainan baru yang udah lamaaaa banget diidam-idamkan. 6 bulan berikutnya, eh kok gini yaaa.. Tahun berikutnya, aduh kok jadi gini siihhh… Tahun berikutnya lagi, wuaaakss harus gue apain ini.. Tahun berikutnya lagi, ampuuun juragan.. minta bantuaaan hahaha..

Pernikahan adalah hal yang lebih complicated daripada denah perumahan Margahayu dan Pharmindo. Rumit banget. Awalnya gak nyadar, malah sibuk pencitraan dan cari pengakuan. Hai-saya-Asri.. Menikah di usia 21 tahun dan saya sangat bahagia serta bangga karena sudah menikah muda. Ayo dong, kamu juga nikah muda biar seru. Kurang lebih begitu kelakuan saya beberapa tahun yang lalu. Aktif banget koar-koar tentang pernikahan macam ngerti banget dan fasih banget menjalani kehidupan pernikahan. Padahal mah heeey anak kemarin sore. Kagak ngerti ape-ape gueee. Saya sibuk dan asik menutup ketidaksempurnaan dan busuk yang saya punya dengan memberikan tips bagaimana menikah muda dan bagaimana menjalani kehidupan berumah tangga. Duh, aib sih itu sebenernya haha. Malu-malu geli gimana gitu…

Jumlah follower akun sosial media saya beranjak naik dan terus bertambah. Mereka muji-muji saya dan kenyang lah ego saya akan perhatian, pengakuan, dan pujian manusia. Tapi behind the scene nya sih ancur-ancuran. Selayaknya pernikahan manusia normal yang penuh deru debu dan noktah noda.

Saya terjebak dengan ilusi dan ambruk sendiri melihat realita yang ada.

Tidak ada hal bombastis sih dalam pernikahan saya. Tidak carut-marut amat, tapi yaaa gak juga seedan keren amat selayaknya orang-orang di luaran sana berprasangka. Saya, manusia, normal, dan sama keringetan darahnya mengenali cinta dalam pernikahan, sama kayak jutaan orang di luar sana.

Saya sempat terjebak sibuk merapihkan bungkus tanpa lihat di dalamnya ada apa.

Itu saya. Dulu.

Dari kelakuan saya yang aktif dan concern bahas pernikahan, terutama pernikahan muda, tidak sedikit orang yang malah makin ngebet untuk nikah dan curhat-curhat colongan tentang pernikahan lewat jalur pribadi. Makin banyak yang pengen, makin ditunjukkan lah saya dengan berbagai kejadian bahwa HALOOO ACHIIII… Pernikahan itu gak se-simple yang lo koar-koarin loh yaaa. Akhirnya saya ciut dan berhenti. Saya diam dan saya menoleh ke dalam pernikahan saya sendiri. Ampun deh, rujit 😀

Saya pun mengulur tali yang kusut, awal mula darimana semua kepabeulitan ini terjadi. Well, semua berawal dari tujuan dan motif saya menikah. Saya sadari saat itu dan saat ini saya akui bahwa kemarin saya menikah hanya untuk berlari. Lari dari begitu banyaknya hal yang membuat saya merasa sakit hati dan benci. Saya pikir bahwa pernikahan bisa menjadi obat dan penawar racun. Happily ever after.

Hoho… ya mana bisa. Racun yang saya sudah konsumsi bertahun-tahun bukan dengan pernikahan obatnya, tapi dengan mengakui, menerima, dan dibiarkan keluar dari peredaran metabolisme tubuh. Bukan dengan berbagi racun dengan orang yang baru saya kenal dan sekarang menjadi suami saya, imam saya, dan bapak dari anak saya.

Aduh gimana sih chii ini maksudnya? Kok  agak gak ngerti maksudnya gimana..

Hahaha maap, emang ribet sih ini. Saya agak bingung juga nyeritainnya. Tapi saya bener-bener ingin menyampaikan bahwa PERNIKAHAN is a BIG THING.. bener-bener BIG THING banget banget banget. Jadi yaa kalau emang belum waktunya, gak usah heboh dan galau nanya kapan jodoh saya datang, kapan saya halal, atau jatohnya malah berlarut dalam iri liat kehidupan percintaan tetangga sebelah yang lebih pinky warnanya. No.. marriage is a BIG THING ! Perjalanan dan hidup baru yang berbentuk anak tangga-anak tangga menuju Tuhan.

Love is a BIG THING!

Saya punya issue besar dengan diri saya sendiri, cukup banyak. Saya tidak sadar dan saya berlari dan berharap dengan menikah, sesuatu yang kosong itu akan terisi. Tapi saya salah besar. Pernikahan justru menyodorkan dan menyimpan tanggung jawab yang lebih besar lagi. Pondasi hati belum kuat-kuat amat, ini malah megang beban berat. Yaa gitu deh.

Ekspektasi. Harapan. Daaaan segala macam peluru emosi akhirnya meledak di tengah asiknya hidup berumah tangga. Saya mencari dari mana semua peluru ekspektasi dan harapan ini hadir. Harus saya buang dan bereskan agar tidak ada lagi ledakan yang mengganggu.

Butuh proses yang tidak sebentar sampai akhirnya, saya pribadi AWARE dengan diri saya sendiri. Merasakan dan mengakui apa-apa yang kurang dari saya dan tidak melampiaskan semua itu dalam dunia pernikahan. Berbagai kegiatan dan buku dijabanin. Sampai akhirnya ketemu buku Emotional Healing Therapy nya teh Irma Rahayu. Dari sana semua misteri hidup mulai terkuak perlahan. Dari mana semua kegalauan yang gak ada ujungnya ini berasal. Baca deh bukunya, seru bikin pengen nimpuk diri sendiri hahaha..

Sekarag saya memang sedang mengikuti program life coaching yang dibimbing langsung oleh teh Irma Rahayu, di postingan berikutnya akan saya jelaskan apa itu Life Coaching dan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk ikut kelasnya.

Balik lagi ke pernikahan, jadi setelah jujur sama diri sendiri dan sekuat hati mengendalikan ego sendiri. Saya mengubah motif menikah saya. Menikah adalah fase hidup yang SUPER SERIUS. Jelas bukan tempat yang tepat untuk pelarian 😦 Pelarian dari apapun yang kita sempat sakit dan jatuh sebelumnya.

Pernikahan adalah tempat belajar selanjutnya dengan metode berkelompok bersama pasangan dan anak-anak yang hadir di dalamnya. Tempat belajar yang akan menempa kita untuk lebih tangguh dan semakin dewasa dari yang sebelumnya.

Haaah beruntung banget dapat pasangan yang luaaaar biasaaaa sabarnyaaa. Luaaaar biasa pengertian dan dewasanya. Dia tetap setia meski perasaan dan akal sehat saya berantakan gak jelas bentuknya kayak apa hahahaha..

Ini adalah cuplikan dari obrolan saya dan suami beberapa malam kemarin ketika sedang membahas pernikahan dan mem-breakdown perjalanan pernikahan kami, yang masih lebih banyak drama nya daripada pencapaiannya hihihihihi..

A: Jadi Be, sekarang tujuan kamu menikah itu apa?

B: Emmmm. Untuk belajar. Iyaa, untuk belajar.

A: Sama Be. Kalau belajar boleh salah kan?

B: Boleh..

A: Iya boleh, yang penting terus belajar biar gak salah terus dan bisa naik kelas. Mau kan naik kelas bareng Aa?

B: Ah kamuuu *nutup muka*

A: Udah jangan kelamaan duduk di bangku SD. Boleh kamu main ke SD, tapi cuma untuk main aja Be. Jangan betah-betah amat jadi anak SD ahh..

Saya yang biasanya gak terima ‘dihina’ begitu sama suami cuma bisa senyum dan meneteskan air mata. Saya tau maksud dia itu apa dan saya sadar banget ke-anak SD-an saya itu kayak apa.

Well. Bismillah ya A. Gak akan ada lagi anak yang gak lulus-lulus SD ini. Cuma ada mahasiswa yang gak lulus-lulus koas aja hahahaha..

Selamat nongrong sore fellasss! Semoga sedikit pengakuan dan curhat dari seorang (yang dulunya) motikampret #NikahMuda ini memberikan sedikit pencerahan tentang pernikahan. You don’t have to be hurry. Siapin diri bener-bener. Siapin jiwa raga mental rasa untuk kehidupan penuh wahana memacu adrenalin ini!! Semoga dilancarkan segala urusan. Thanks for reading yaaaa. Kismwah :*

ibumuda yang tetap bersemangat,

Asri Fitriasari

 

 

Tahun Kelima

2 oke

Malam ini saya iseng buka folder “Musik”, cari-cari folder dengan judul “achiindra”. Folder yang isinya lagu-lagu kiriman Pak Indra ke saya dan sebaliknya ketika kita memulai percakapan di penghujung hari, di lepas penat dia ketika saya dan dia selesai dengan rutinitas harian masing-masing, saya yang masih kuliah dan dia yang sibuk ngotak-ngatik angka di file excelnya.

Setiap sore, atau setiap jeda waktu yang ada kami memulai semua ini dari obrolan ringan via Yahoo Mesengger. Tanpa ada ikatan yang kata anak muda namanya ‘pacaran’, kami hanya sekedar bertukar pikiran melepas lelah sambil memutar lagu yang kami saling rekomendasikan. Siapa sangka, 6 tahun setelah itu, saat ini, kami sudah berganti status, bukan hanya pacaran… tapi sudah menjadi sepasang suami istri dengan satu anak lucu imut cerewet dan menggemaskan.

Ahhh time flies so fast! Kalau ditanya kok bisa dan gimana ceritanya bisa jadi nikah sama temen chatting? Yeaaa panjang lah gaes.. Pernah saya ceritain juga sih di blog ini gimana saya bisa jatuh hati sama bapak cerdas, jago main alat musik, dan juga lempeng ini. Hehehe..

Gak kerasa 5 tahun sudah saya membangun hidup bersama dia… Banyak sekali potongan puzzle yang sudah kami temukan bersama. Merangkum pesan Tuhan dan mengubah hidup lebih baik bersama.

Di awal pernikahan, saya sempet down… Apa yang saya bayangkan tentang pernikahan ternyata berbeda dengan apa yang saya jalani. Amat sangat berbeda. Apalagi saat itu saya menikah di usia yang cukup muda. Ketika fokus utama masih harus selesaikan kuliah, ini udah harus mikirin lika-likunya hidup berumah tangga. Menikah muda tidak semudah yang saya pikirkan..

Haaah… perjalanan untuk meraba dan menapaki arti sebenarnya dari pernikahan pun saya coba telusuri satu per satu.. Dengan perbedaan karakter yang ada, saya mencoba memadukan setiap potongan puzzle yang terserak.

5 tahun adalah waktu yang cukup bagi saya untuk melihat gambaran umum mau dibawa kemana semua ini, lewat berbagai peristiwa dan konflik yang ada di antara kami…

Saya bersyukur banyak. Saya belajar amat sangat. Gak kebayang kalau dulu ga ambil keputusan menikah muda, akan ada banyak hal yang tidak saya dapat dalam 5 tahun ini. Apalagi ketika Allah mempercayai bayi tumbuh di rahim saya, pembelajaran hidup benar-benar dimulai..

Ulang tahun pernikahan selalu menjadi momentum yang indah untuk mengenang kembali janji suci yang kami ikrarkan bersama di depan Papa, bapak penghulu, dan ribuan malaikat yang menyaksikan. Saya semakin mengerti tentang arti CINTA yang sebenarnya, tentang tujuan pernikahan yang sebenarnya..

Saya merasakan cinta justru ketika berjuang meredam ego untuk bisa memahami apa yang tidak bisa saya lihat dari mata kepala saya sendiri. Saya merasakan cinta justru ketika dia bertingkah begitu menyebalkan dan mengesalkan, entah kenapa justru di sana lah rasa syukur itu datang… rasa cinta itu semakin berkembang.

Perselisihan yang tidak pernah ada ujungnya ternyata di situlah cinta kami saling terpaut. Saat kekecewaan hadir, ternyata di situlah cinta datang untuk menjelaskan apa saja yang tersembunyi dan belum sepenuhnya kami pahami.

Saya gak pernah bisa ngebayangin kalau bukan dia yang jadi pasangan hidup saya. Betapa sabarnya, betapa tenangnya, betapa dewasanya menghadapi setiap kelemahan dan kekurangan saya.

Terima kasih Allah atas karunia selama 5 tahun ini. Dalam isak tangis sedih, dalam geram amarah, dalam kesal membara.. selalu terselip bahagia dan cinta untuk kamu A.. Aku gak akan bergerak jauh dari pusat tata surya kamu.. aku akan terus nemenin kamu.. sampai nanti, ketika Allah memanggil kita pulang dan istirahat tenang.

Happy 5th wedding anniversary pacar seumur hidupku :*

CiumBasah,

Your Be