Bagaimana Caranya Menjadi Wanita Hebat?

Bagaimana caranya menjadi wanita yang hebat? Bagaimana sih?Β 

Pertanyaan ini berputar di kepala ketika saya selesai jalan-jalan di sosmed para wanita yang menurut saya hebat. Langsung mupeng. Langsung baper. Kapankah saya bisa sehebat mereka jengjengjenggggg… Kapankah saya menjadi seorang wonder woman hahaha… *efek abis nongton layar tancep

Kalau kita mau flashback pada perjalanan hidup kita sejak lahir, masuk TK, jadi murid SD, SMP, SMA hingga kuliah… Lalu menikah dan punya anak. Atau apapun deh pokoknya cerita hidup yang sudah kita lewati dan sedang dihadapi, sebetulnya ada banyak fitur yang menggosok kita untuk menjadi hebat.

Fitur itu dinamakan konflik atau masalah.

Continue reading

Karena ALLAH Gak Pernah Ada

​

Itu yang selalu bikin kita ngerasa putus asa, dan bawaannya kesel dan ngedumel.
Karena ALLAH gak pernah ada di HATI dan PIKIRAN kita 😭😭😭
Ini satu cerita, pengalaman selama mempersiapkan Healing Class Bandung kemarin. Proses apa aja yang saya lewati sampai ketemu titik di mana peserta membludak, sampe kudu nolak yang terakhir daftar.

Continue reading

Berobat ke Klinik Tong Fang

Desir angin menerpa deretan hordeng berwarna pink bunga-bunga. Ada tukang parabot melewat di depan rumah. Tidak ketinggalan mamang cuankie yang mengetok-ngetokin pintu tetangga, yang belum bayar jajanannya.

Sore yang indah tapi sebenernya biasa-aja-sih di sebuah komplek perumahan sederhana, di perbatasan Cimahi dan Bandung Kota….

Aku menatap langit lalu bertanya pada diri sendiri, aku ini lagi apa. Mungkin aku ingin seperti tokoh-tokoh di novel drama tapi kayaknya tatapanku malah merusak suasana. Bukan tatapan iba atau sedih yang dramatis, hanya tatapan bingung melihat antena tv yang sudah karat dan patah dimana-mana. Watiiiir. Pantesan kemarin gak bisa nonton Persib 😁

Mau nulis apa sih Chiiii sebenernya hahahaha. Rebek amat πŸ˜‚ Maap yak. Gak cocok nulis sebangsa prosa deskriptif hihihi.

Well. Seharian ini saya cukup shock dimasukkan ke WAG yang berisi wanita-wanita rempong kumpulan pasien salah satu klinik ternama, klinik TONG FANG. Asuhan Ibu Irma Rahayu. Buat yang belum tau beliau, Irma Rahayu adalah seorang life coach, yang sangat spesifik mengatasi kejiwaan. Jadi yang jadi muridnya semua sakit jiwa hahahaha. Engga deng. Aku mah waras. Cuma buat mengisi waktu luang aja biar gak kisut. Hahaha dusta 😁

Setiap manusia punya doa yang sama, ingin dipertemukan dengan pasangan yang bisa mengisi dan melengkapi apa yang belum dia punya. Saya berdoa agar Allah anugerahi saya suami yang sabar dan bertanggung jawab. Dan di belahan Indonesia di bagian Kelurahan Melong Kecamatan Cimahi Selatan, ada seorang bujang yang berdoa juga agar dipertemukan dengan seorang wanita yang kuat untuk dipersunting jadi istrinya. Kuat ngangkat galon dan kuat mindahin rumah manatau kebanjiran. Yagakgitujugakaliiiii.

Lalu akhirnya dua manusia ini Allah persatukan, demi menjawab doa mereka masing-masing. Sang istri bahagia, begitu pun suaminya.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Baju berganti baju. Eh garing 😐

Mereka mulai lebih dalam mengenal satu sama lain. Tapi sayang mereka gagal paham dengan jawaban dari doa yang mereka panjatkan. Bukan kesabaran yang dirasakan oleh sang istri, malah sikap cuek dan kurang peka. Bukan kekuatan seorang istri yang didapat oleh suami, malah sikap kurang ajar dan mau menang sendiri. Dua-duanya teriak, duuuh pusing lah pala barbie hijab syariiii 😣

Suami istri yang saling melempar marah dan kecewa. Tiap hari ribut mempertanyakan jawaban atas doanya. Meledak. Lalu padam. Meledak lagi. Padam lagi. Kayak orang belum bayar listrik. Mati-Nyala-Mati-Nyala. Seakan tidak ada ujung, yang ada hanya lelah dan gundah. Rasa syukur pun perlahan menguap.
Solusi demi solusi dijajal dan tetap tidak menemukan titik terang, hingga akhirnya mereka bertemu klinik Tong Fang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kepanjangan dari Tolong dong Fang Warasin hidup saya Mbaaak! #Sundaan hahaha
Selama menjalani perawatan di klinik Tong Fang, tabibnya hobi amat ngegeplak… ngerokin tembok ego dan topeng “butuh pengakuan”. Diseret sampe ngesot-ngesot untuk melihat akar masalah dari rasa marah, kecewa, dan pendaman emosi lainnya.
Hingga perlahan daya pikir dan sentuhan rasa mulai sesuai pada porsinya dan sesuai pada tempatnya.
Perlahan mulai luruh pikiran merasa dibiarkan, dicuekkan, dan di-engga peka-kan. Mulai bisa merasakan sikap sabar pada pasangan yang selama ini dipungkiri dan tidak diakui.
Perlahan mulai terasah kekuatan istri, harus dimana saja energinya dimanfaatkan. Agar barokah dan perahu tetap berjalan sama arah.

Selama pembelajaran di klinik ini, kami belajar bahwa setiap doa tidak Allah jawab dalam kondisi matang. Atau sudah jadi.

Doa dihantarkan dalam bentuk butuh proses. Agar ketika menikmati hidangan dari setiap doa, ada rasa puas dan tenang dalam setiap kunyahannya. Nikmaaat alhamdulillah…
Terima kasih klinik Tong Fang.. kehidupan berangsur waras dan lebih napak dalam menghadapi setiap tantangan baru yang ada.

Hidup pusing ngejelimet pengen teriak?? Butuh solusi dari setiap masalah?? Jangan sampe asal coba-coba kalau gak mau Β berujung pada sia-sia atau bahkan terjerat kasus narkoba. Eaaaa

Cobain aja klinik Tong Fang. Tolong dong Fang Warasin hahahaha bersama Ibu Irma Rahayu. Info lebih lengkap silakan buka websitenyaΒ Irma RahayuΒ atau SMS 081227023499

Jangan lupa cari cara buat waras…
Hidup buat nyiapin mati, jangan lupa abisin waktu buat berbenah diri…

Salam sayang,

salahsatu pasien dari klinik Tong Fang 😊

Menitipkan Anak

image

Ada yang pernah menitipkan anaknya untuk berbagai alasan? Untuk ngantor? Sekolah? Atau sekedar menikmati waktu sendiri?

Saya pernah dengan 3 alasan di atas, dan ini sekelumit cerita tentang pengalaman saya menitipkan anak…. Feel free to judge me, I’ll be okay and feel bodo amat with what you’re thinking.

Anin lahir di usia saya yang masih 23 tahun. Saat itu saya belum selesai koas. Status saya masih sebagai mahasiswa sebuah fakultas yang harus diam sejenak mengurus bayi dengan segala keterbatasan ilmu dan pengalaman. Anak pertama bokkk. Entah sebuah anugerah atau ujian, hingga pada waktunya lahiran saya belum juga mendapat asisten yang bisa membantu saya mengurus Anin dan menjaganya ketika saya harus melipir ke sekolah. Saya terpaksa menjadi ibu yang anteng duduk manis di rumah, membesarkan Anin.

Ketika Anin berusia sekitar 8 bulan, saya mendapat seorang asisten di rumah, tapi belum saya percayai sepenuhnya untuk menjaga Anin.  Saya tetap memegang Anin hampir full 24 jam, kadang adakalanya dititip kalau mau belanja ke Borma atau mau paketin barang ke ruko depan.

Apa yang saya rasakan saat itu adalah, to be honest, rasa lelah yang amat sangat, rasa jenuh yang amat sangat, dan rasa marah (pada diri sendiri karena gak bisaan ngurus anak dan pada lingkungan yang kadang suka bikin sensi). Saya bahagia punya anak, yaaa kali masa punya anak malah gak bahagia, tapi yagitu deeeeh heu.. Hingga akhirnya di usia Anin yang menginjak 1,5 tahun ada kenalan yang masih kerabat dekat bersedia mengasuh Anin jika saya mau kembali ke rutinitas sekolah. Insya Allah yang ini cukup bikin saya percaya dan siap nitipin Anin.

Masa-masa kacrut itu yang cukup membekas dan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Masa di mana pertama kali saya lihat wajah memelas Anin yang gak rela dan gak suka ditinggal. Sedih sih, tapi pas saya udah asik di luar, saya suka lupa kalau punya anak… Haaah my bad. Saya akui itu sebagai suatu kesalahan dan kedodolan saya sebagai seorang ibu. Asik aktif ini itu dan mulai melakukan aksi pembalasan setelah hampir 2 tahun stuck di rumah.

Semua digunakan sebagai pembenaran, kan saya harus beresin sekolah, kan saya harus bantu suami cari duit juga, kan saya harus punya waktu sendiri. Daaaaan segala tetek bengek alasan yang sebenarnya menutupi aksi PELARIAN saya dari sebuah kenyataan bahwa saya sekarang punya anak, dan ngurus anak itu gak semudah yang saya bayangkan 😭😭😭

Sekolah gak beres juga. Bisnis pun malah meluncur bebas gak bersisa. Lalu saya jadinya bahagia?? Yaaa enggaklah ~

Emosi yang gak karuan yang mengisi hari-hari bersama Anin. Ketika Anin masuk usia 3 tahun, ketika dia sudah mulai bisa berkomunikasi sebagai selayaknya ‘manusia’, saya pelan-pelan mulai tersadar bahwa ada jarak yang cukup besar antara saya dengan dia. Peran saya hanya sebagai ibu biologisnya saja, makna ibu yang sebenarnya dia dapatkan dari lingkungan, dari mana saja dia sempat dititipkan.

Sakit. Perih. Dan merasa kehilangan….

Baper is everywhere ketika Anin mulai merengek lebih ingin main bersama Teteh (ART di rumah), Ateu, atau Enin nya. Apalagi kalau dia udah mulai cranky bilang Bunda nya galak atau bilang dia gak sayang sama Bunda nya, gak mau sama Bunda..

Hiksss… Langsung kayak ditabrak pake buldozer, terus yang lagi nyetir buldozernya itu Gajah Afrika yang lagi hamil 9 bulan. Hahaha lebay bin ngarang wkwkwk.

Satu persatu bagian tubuh yang hancur ketabrak buldozer terus yang nyetirnya Gajah hamil 9 bulan itu (tetep yaa) dikumpulin dan saya pasangkan lagi sesuai posisinya masing-masing. Baper won’t take you anywhere, Chiii..

Ayo bangkit, semangat, waras, dan berbenah..

Fase menerima kenyataan adalah fase yang paling menyakitkan. Karena kenyataan hampir tidak selalu sesuai harapan. Karena harapan manusia terlalu cetek jika dibandingkan rencana yang sudah Tuhan siapkan. Jadi saya pun belajar untuk menerima kenyataan dan berhusnudzon dengan segala skenario yang Allah siapkan.

Saya mencoba memaafkan diri saya sendiri terlebih dulu setelah apa-apa yang saya lakukan sama Anin. Mbakbroooo, jangan tanya prosesnya kayak apa yaaa. Memaafkan diri sendiri itu lebih bikin mual muntah daripada memaafkan orang lain. Feeling gulity itu lebih ganas sifatnya dan menyebar ke setiap sudut sel-sel tubuh. Heu.

Setelah saya memiliki kekuatan untuk menerima dan memaafkan apa yang sudah terjadi, ada banyak hikmah yang bisa saya ambil. Ada banyak pembelajaran hidup yang membuat saya sangat tidak mau mengulanginya lagi. Amat amat amat gak mau. Saya gak kenal sih sama si Amat. Tapi katanya Amat juga gak mau. Hahaha apasih garing.

Saya pernah merasakan bagaimana menjadi ibu yang diam di rumah tapi gak pinter bersyukur, saya juga pernah merasakan menjadi ibu yang asik di luar sampe lupa kodrat awal. Dua-duanya gak proporsional…

Tapi dari situ saya bisa belajar bagaimana menjadi ibu yang bisa tetap tenang dan bahagia meski harus diam di rumah, dan tetap tau diri ketika harus beraktifitas di luar rumah. Baru tau loh yaah, prakteknya masih ngesooooooot hehehehe..

Sekarang, saya gakmau keenakan lagi nitipin Anin. Nitipin yaa hanya karena cukup gak memungkinkan bawa-bawa Anin. Mau serepot dan serempong apapun kalau lagi sama dia, saya dan suami harus terima risikonya, terima tanggung jawabnya, dan terima semua proses yang harus dilalui. Kami mungkin bukan ayah dan ibu yang terbaik untuk Anin, figuritas kami sebagai orang tua juga agak agak gimanaa gitu, tapi saya sendiri yakin… semua bisa karena biasa, saya dan suami pasti bisa jadi partner hidup yang baik untuk Anin…. sebelum dia menemukan partner hidup yang lain setelah dewasa nanti. Eaaaa jadi sararedih ginih hahaha..

Terima kasih Anin, kamu adalah guru cilik di rumah… Maaf yaa Bunda suka keenakan dan hobi banget titip-titip Anin. Doakan Bunda cepet lulus kuliahnya yaaaa!!!

Habiburrahmaan, 22 Ramadhan 1437 H
Asri Fitriasari
Ibu yang mulai waras wkwk

TIMEOUT

image

Kata siapa ngedidik anak itu gampang??? Hih masya Allah ya Rabbi… Bikin bibir eike keritiiinggg. Kalau ga pinter-pinter ngurus emosi, bisa perang dunia rumah tangga tiap hari deh ampuuuun.

Memasuki usia Kanin yang 4 tahun, tantangan hidup ternyata makin seru ajaa yaaa.. Baru tau dan baru ngerasain rasanya dilawan sama anak, dijawabin sama anak, kzl banget deh beneran. Udah gitu kadang anaknya lamaaaaaa banget kalau disuruh, banyak alasan, banyak pembenaran, banyak nundanya. Sama banget yekaaaan. Sama banget kayak elo chiiii πŸ˜‚

Mamam deh tuh kelakuan 😁😁😁

Tapi bagaimanapun, meskipun, walaupun, andaipun gimanapun kita sebagai emaknya harus tetap tegas. Ngaca sama kelakuan anak boleh tapi jangan keterusan baper, terus malah jadi permisif sama kesewenangan bocah, hahaha gue mah dulu gitu orangnyaa 😁

Sekuat tenaga banget deh membedakan mana yang bener-bener  gak boleh dikasih, mana yang yaudah-deh-boleh.. Secaraaa kan dirisendiri dulu yang kudu WARAS, biar bisa mengaplikasikan didikan ke anak secara proporsional. Haaah beraaaat bahasa looo Sis..

Salahsatu tips dari Mak Irma untuk mendidik Kanin yang suka semenaedewe adalah dengan menyediakan pojok ‘timeout’ kalau desse udah mulai keterlaluan dan gak nurut ama emaknya for a good reason. Kita juga harus belajar konsisten, persisten, dan kompeten ketika ngejelasin ‘rules’ ama anak.

Ampuuuun gak gampang juragaaaaan.    Banyak drama dan luka yang terkuak *apaseeeh

Tapi alhamdulillah ada progress, dikiiiiiiit πŸ˜‚

Aku coba terus yaaa Sissss.. Harus rajin minum Kangen Water pH 9,5 deh ini mah biar setrong menghadapi kenyataan πŸ˜‚πŸ˜…

Kalian para buibuk warbiyasaaah di luarsana tetaplah semangaat, karena surga didapat memang dengan bayaran yang MAHAL!

Gausah itungan, makin diitung, capeknya yang makin kerasa gede, bukan pencapaiannya. Pengalaman pribadi aja ini mah 😁

Terusin yaa Bundaknya Aniiin yaaa meski kalau lagi mengeluarkan jurus ‘timeout’, anak kecil itu malah merepet nasehatin Bundaknyaa..

“Bunda tuh gak boleh gini sama anak kecil. Anin kan cuma tumpahin bedak serumah-rumah. Anin kan cuma masukin mainan kotor ke kulkas. Anin kan cuma narikin mukena Bunda pas lagi shalat sampe Bunda nya jatoh.. bla bla bla…”

Pokoknya mah kalau Bunda nya lagi ngasih arahan dan himbauan dalam hal kebaikan, anaknya hobi jawabin…

Bunda-tuh-gak-boleh-gitu-sama-anak-kecil……..

Hhhhhhhh πŸ˜₯

#semprotBeautyWater dulu deh biar gak penuaan dini
#ceritaANIN
#curhatBunda
#timeout
#BundaNgesoootDuluKak

Pick Your Battle

Haloo selamat malaaam..

Jelang midnight tetiba pengen pengakuan dosa (lagi). Hahaha hobi amat yaa gue pengakuan akhir-akhir ini.

Efek Life Coaching Sis πŸ˜…

Berasa banget hidup lagi di-reset. Berasa bangeeeet hidup lagi di-defrag. Jujur aja Sis, gak enaaakkk. Sesak menyakitkan dada menghadapi kenyataan haha.

Oke.. Izinkan saya melakukan beberapa pengakuan yang bisa jadi kurang nyaman untuk dibaca atau bikin kamu ngomen dalam hati, “Dih kenapa sih si Achii.. Kebanyakan ngemil jengkol kali yaa ini orang, omongannya kok aneh.. Hahaha..”

TERSERAH.

Tulisan ini adalah tulisan tentang revolusi mental yang akhir-akhir ini saya lakukan. Mau komen negatif, silahkaaan. Mau baca sampe abis, silahkan. Manatau bisa jadi insight baru untuk hidup para Sis dan Bro yang kebetulan baca.

Oke, pertama tentang MENIKAH.

Dulu saya anaknya Nikah Minded banget.Β  Getol koar-koar “Ayo dong NIKAH secepatnya. Makin muda nikahnya makin berjaya kehidupannya. Percayalah, percayalaaaah!”

Dan Allah dengan sangat baik hati ngasih banyak cerita, drama, dan ujian yang bikin saya mikir… Mikiiiir banget. Gak bisa Chii, lo nyamain jalan hidup lo yang (katanya) bahagia nikah muda lalu beropini kalau orang yang nikahnya cepet itu udah pasti bener hidupnya. NO! Ada banyak variabel dari setiap hidupnya orang yang bikin dia belum bisa menikah dan atau nunda nikah.

Kedua tentang IBU RUMAH TANGGA.

Duileee inget banget deh dulu saya pernah ngetwit tentang #FullTimeMom kemudian cerita betapa bangga dan bahagianya saya jadi ibu yang stay di rumah dan menganggap ini pilihan terbaik seorang wanita. Banyak yang muji dan nge-ritwit, dan pasti banyak juga yang ngerasa sakiiit ketika baca apa yang saya twit. Astaghfirullah. Terlepas ada yang pro dan kontra tentang apa yang saya sampaikan, tapi saat saya melakukan hal itu, saya cukup sotoy dan melihat sebuah masalah dari satu sudut pandang aja. Kembali, Allah dengan baik hati ngasih skenario hidup yang bikin saya harus ninggalin anak dan memiliki aktifitas layaknya ibu bekerja. Nah udah deh dari situ saya bisa liat dan bener-bener ngerasain suka dukanya jadi ibu bekerja, enaknya apa, kesiksanya kayak apa. Masya Allah beneran langsung taubat dari segala prasangka tanpa sebab, yang selama ini saya umbar-umbar..

Ketiga, masalah jadi PEKERJA atau PENGUSAHA.. Mana yang lebih mulia?

Duh kalau yang ini agak ngejelimet kalau diceritain. Cuma intinya sih dulu saya yakin banget kalau jadi pengusaha itu mulia banget. Apalagi pengusaha yang shaleh. Duh impian banget deh. Saban hari saya berjuang jadi pengusaha yang shaleh. Dan dengan pede nya maksa suami untuk RESIGN aja. Tanpa tau bakal siap atau engga dengan konsekuensinya.

Kejadian demi kejadian datang.. Bikin saya mikir dan ngerti… Hidup gak sekeras itu. Dilemesin aja dulu kali, Chii..

Kesalahan yang dilakukan berulang-ulang adalah, saya semangat melabuhkan pilihan sama sesuatu hal yang saya pun belum kebayang konsekuensinya akan seperti apa. Mostly karena liat orang sukses, terinspirasi orang sukses tapi kebablasan.

Well. We have our own path of life. Termotivasi dan terinspirasi itu gak salah. Yang salah itu kalau kita ngikutin orang lain tapi gak napak sama hidup kita sendiri.

Kitaa?? Elo aja kali chiii hahaha ~

Dari sejak dulu suami selalu bilang, kita kudu sadar sama apa yang kita mau, tetep zero, dan mikir jernih.. Gak harus apa yang kamu denger langsung kamu kerjain.

Baru ngerti dan sanggup ngejalaninnya sekarang hahahaha. Maap yaa Pak Suami..

Saya sadar kalau selama ini apa yang saya kejar itu cuma ILUSI. Seperti yang butuh padahal engga. Seperti yang harus kesampean padahal bukan itu tujuan akhir yang harus dicapai.

Jadinya saya up and down gak jelas. Kalau lagi enjoy yaa enjoy bangeeet, kalau lagi ngedrop yaa ngedrop banget. Saya sendiri gaktau apa yang sebenarnya saya inginkan. Tanpa sadar berjalan sambil membawa luka kemana-mana dan cari penawar dengan racikan yang salah.

Alhamdulillah, sekarang satu persatu cahaya mulai keliatan. Mulai bisa napak ke bumi dan SADAR tentang siapa saya yang sebenarnya dan BUTUH nya apa.

Alhamdulillah, sekarang satu persatu impian yang udah pernah ditulis mulai saya hapus. Lohkok? Yaa justru karena saya sudah semakin kenal diri saya dan ternyata bukan ke arah sana larinya.

Hal yang paling menyenangkan adalah ketika kita gak gampang terbawa suasana atau intervensi dari luar diri kita. Ajeg. Yakin. Pageuh sama intuisi yang Allah titipkan pada hati kita.

Wah masih proses sih sebenernya itu juga. Cuma yaa saya belajar bahwa sebuah prinsip hidup itu cukup kita dulu yang jalanin, gak usah maksa orang untuk ikut dengan pemahaman kita.

Daaaan gak usah repot mikirin hidup orang kenapa belum nikah ajaa, kenapa itu anaknya ditinggal kerja, kenapa anaknya tetangga dikasih sufor, kenapa itu gak berani resign, kenapa dia begini, kenapa dia begitu. Udah. Udahan, saya mau udahan mikirin itu. Saya mau benerin dulu hidup saya sendiri. Kita semua punya prinsip, dan prinsip yang kita pegang bukan berarti harus jadi prinsip semua orang. Bukan gitu cara mainnya.

Saya masih inget pesannya Teh Febi, dan akan selalu inget…

“Pick your Battle, Chii”

Waktu Teh Febi ngomong itu saya baru setengah ngerti. Saya baru mulai belajar “melepas” satu persatu ambisi saya dan belajar FOKUS sama pertarungan yang benar-benar harus saya hadapi.

Alhamdulillah Teh (mudah-mudahan Teh Febi baca blog ini hehe) sekarang Achii udah bener-bener ngerti pesannya Teteh dan bener-bener BERANI untuk beresin battle yang sebenarnya. Takes time banget ya Teh sampe Achii bisa sadar banyak hal hehehe.

Well.. Jadi kalau sekarang saya terlihat sedang “shut down” di beberapa kegiatan yang selama ini saya kejar dengan penuh ambisi, bukan berarti saya berhenti. Saya sedang memilih pertarungan hidup yang lebih hakiki (mulai keluar bahasa planet geteknya haha).

Gak harus sama dengan orang lain. Dan orang lain juga gak harus sama kayak saya.

Itu aja.

Sekian curhat jelang midnight malam ini. Semoga bermanfaat. Mohon maaf lahir bathin. Selamat bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 😚

Salam Hangat Penuh Semangat,
AchiiYangSemakinBeraniJadiDiriSendiri
*semacam kayak nama FB anak alay 90an πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kopi, Chamomile Tea, Air Putih, dan Pilihan Hidup

Siang itu, hujan mengguyur Taman Hutan Raya Juanda di sudut Dago Bandung. Tidak deras tapi tidak juga kecil. Sambil memegang payung merah dengan logo Ferrari yang kata Atha alay itu, kami berlari-lari mencari kedai kopi yang cukup terkenal di Tahura. Armor Coffee namanya.

Ternyata letak kedai kopi itu cukup nyingcet. Ada di samping kiri pintu masuk hutan kota tersebut. Pemandangan hutan yang eksotis dengan udara dinginnya Bandung emang cukup kawin jika dipasangkan dengan segelas kopi panas. Hemmm… Pikiran saya sudah menerawang dan mulai terasa ringan padahal kopi panasnya belum saya sentuh.

Kedai Armor menyediakan dua tempat untuk konsumennya, outdoor dan indoor. Karena siang itu hujan tentu ruangan indoor lebih penuh dengan pengunjung.

Wangi kopi sudah mulai menggelitik penciuman kami. Ahhh entah kenapa bisa begini. Kami yang sebelumnya gak kepikiran suka kopi hitam tanpa gula, sekarang malah menjadi pemburu citarasa kopi di beberapa tempat yang memungkinkan untuk kami datangi.

Siang itu kami memesan longback biji kopi gayo dengan teknik V60 dan flat bottom.

Saya lupa sih tepatnya pesanan saya apa dan cara nulisnya gimana hahaha. Maap pemula πŸ™ˆ

Bandung, rintik hujan, dan segelas kopi hangat. Beserta percakapan ringan tentang hidup dan impian. Azek.

Ngomong-ngomong soal hobi ngopi. Minuman favorit tiap orang itu beda-beda yaah. Suami saya mah kagak suka banget kopi, jangankan kopi item gak pake gula, kopi ada latte nya aja dia gak begitu suka.  Bapak suami sukanya susu banget. Dari dulu hingga sekarang. Jadi pas awal nikah gak pusing dengan praktek “Cara Membuat Kopi yang Benar dan Enak” karena dikasih segelas susu yang tinggal ngocorin dari kotaknya, udah happy banget. Teh juga gak gitu suka dia mah. Kecuali teh susu. Emmm emang ujung-ujungnya selama ada susu-nya, aman lah πŸ˜‚

Nah, kalau ngobrolin teh, itu ada bahasan tersendiri juga. Sama halnya dengan kopi, teh juga ada pecinta nya dan teh pun terdiri dari berbagai jenis. Beda-beda karakter dan wanginya.

Sebelum suka sama aroma dan citarasa kopi, saya penyuka teh panas juga. Kalau minum teh, apalagi teh garut, saya selalu merasa seperti ada di rumah. Karena memang keluarga hobi banget minum teh, tapi tanpa gula.

Sejak hobi nongkrong di cafe dan mengerjakan banyak hal di sana, salahsatunya bikin tulisan, saya sangat suka pesan peach tea atau lychee tea. Wanginya genit menurut saya hahahaha.. Apalagi peach tea, haaaah berasa ada di surga bagian teras hihi. Wangi dan ya itu, rasanya genit.

Mamak Irma beda lagi, dia suka nya chamomile tea, hanya chamomile tea. Saya baru tau signature tea-nya doi itu chamomile pas ketemuan coaching kemarin di PIM.

Setiap orang itu punya karakter yang khas, itu yang menentukan pilihan hidup mereka akan seperti apa, mulai dari memilih hal kecil seperti memilih mau suka kopi, teh, atau susu, hingga memilih karir apa yang akan mereka jalani dan cintai.

Selama perjalanan life coaching ini saya belajar bahwa setiap orang itu unik. Amat sangat unik dengan setiap apa yang mereka cintai dan apa yang mereka tak sukai. Saya belajar untuk lebih mengerti dengan pilihan orang dan berusaha menghargai, pun mengapresiasi.

Dulunya saya selalu berpikir bahwa kebenaran itu mutlak. Apa yang menurut saya benar, itu lah kebenaran yang benar. Halah belibet amat bahasanya. Mungkin saja seperti itu, tapi untuk beberapa hal kebenaran bisa bersifat relatif.

Tidak semua orang suka kopi dan itu tidak masalah. Penyuka kopi pun terbagi menjadi beberapa mazhab, ada yang suka kopi hitam tanpa gula, ada yang suka kopi dengan campuran lainnya.

Tidak semua orang suka teh dan itu tidak jadi masalah. Penyuka teh pun terbagi menjadi beberapa geng, ada geng yang suka teh yang terbuat dari daun lokal dan tanpa gula, ada juga geng yang suka teh dari bunga-bungaan dengan tambahan sedikit gula.

Tidak semua orang suka susu dan itu tentu tidak harus jadi masalah. Penyuka susu pun terbagi menjadi berbagai macam jenisnya. Ada yang suka susu yaa susu putih aja tanpa diolah, ada juga yang sangat suka susu dan segala olahannya.

Itu karakter.. Itu ke-khas-an. Yang membuat kita berbeda. Yang membuat setiap dari kita istimewa πŸ™‚

Dan air putih? Adakah yang tidak suka air putih? Yaaa mungkin ada aja. Tapi hampir semua makhluk hidup, manusia termasuk di dalamnya, sangat butuh air putih. Menurut beberapa literatur yang saya pernah baca, tubuh kita terdiri dari 70-80% air, dan tentu hanya AIR PUTIH yang bisa mensupply kebutuhan tersebut. Jangan salah, meski hanya air putih, jenisnya pun berbeda-beda. Terbagi juga menjadi beberapa mazhab, geng, whatever you named it.

Saya termasuk yang suka dan sangat menikmati jenis air putih dengan melalui proses elektrolisis. Airnya terasa lebih segar, berasa banget nyerap ke badan, dan bikin pencernaan jauh lebih lancar. Kalau beli eceran emang mahal, itu lah kenapa maksain punya mesinnya.

Mungkin pernah denger Kangen Water? Itu jenis air putih yang saya konsumsi tiap hari. Ada tulisan lama saya yang membahas apa perbedaan Kangen Water ini dengan air lain. Boleh mampir aja yaa ke sini.

Ada juga sebagian orang yang meyakini bahwa air TANPA mineral lebih bagus untuk kesehatan, atau biasa disebut air destilasi. Ada juga yang sukanya itu.

Duh, buat air putih aja pilihan orang bisa beda-beda yaa. Itulah dunia. Itulah manusia. Tuhan Yang Maha Kaya membuat kita ramai dengan berbagai pilihan.

Apapun kopi pilihanmu.

Apapun teh pilihanmu.

Apapun air putih pilihanmu.

Apapun itu, tetaplah menjadi satu dan berpadu menuju Tuhan yang satu.

Karena Dia adalah ujung dari segala apa yang akan kita tuju πŸ™‚

Waktu sudah beranjak. Sore sudah mulai menjelang. Kopi yang tadi dituang sudah habis kami nikmati. Lain waktu sepertinya saya akan kembali ke kedai kopi ini lagi. Sambil sebelumnya menyusuri setiap pohon-pohon tinggi yang menjulang dan begitu cantik menghiasi suasana kota Bandung ini. Taman Hutan Raya Juanda yang baru kali ini saya liat penampakannya kayak apa, padahal lahir dan gede di Bandung hahaha maafkan saya Kang Emil πŸ˜…

Terimakasih Atha sudah menemani siang ini minum kopi. Nanti kita kesana lagi yaaa πŸ™‚

Sekian.

Salam hangat untuk yang baca,
asrifitriasari

Life Coaching part 3

Halooooo selamat pagi Indonesia… Hari ini rencananya mau ada jadwal diskusi kasus gigi tiruan lengkap bersama bapak dosen, tapi hingga pukul 11.00 belum ada message yang masuk apakah jadi atau gimana kelanjutan nasib saya.

Well. Yaudahlahyaaa. Tinggal kerjain kerjaan lain. Yaitu curhat. Eh, yaitu nulis.

Saya mau meneruskan cerita Life Coaching yang kemarin yaaa. Siap mendengarkan lanjutan ceritanya?

Oke… Here we go!

Eh sebentaaaaarrr.. Gaes, kalau kalian tetiba masuk ke tulisan ini sebelum baca yang part 1 dan part 2. Plis baca dulu 2 part sebelumnya yaa. Biar nyambung.

Okey, thankyou 😊

Saya sudah lolos tahap wawancara. Alhamdulillah. Saya pun berkenalan dengan teman sejawat LC 10 lainnya. Oiya, dan Atha juga lolos. Asik asiik.

Anak LC 10 datang dari berbagai latar belakang. Pengusaha, staff di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, ada pakar bekam dan ruqyah, ada banker juga, ada yang bergerak di bidang perpajakan, IT, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya…

Tugas pertama saat itu buat kami Bangkoters 10 adalah BEBERES rumah, gudang, laci-laci, lemari baju, tas, dompet dari segala isi yang TIDAK PENTING, BUKAN HAK nya, dan dari sampah-sampah masa lalu yang masih ngendon aja di dalam rumah. At least yang jelas wujudnya dalam rumah mari kita singkirkan karena agak susah kalau yang masih lekat dalam hati mah. Tsaaaaah ~

Hari itu saya belum cerita perihal LC ke bapak suami. Masih bingung banget nyeritainnya gimana, apalagi cerita bayarnya berapa… Kalau penyampaiannya gak baik, nanti dia tiba-tiba ke salon minta waxing sebadan-badan karena shock hahahaha *sorry Ayah, aku analoginya agak lebay*

Saya stay cool and stay fresh from the oven aja. Tetap kerjain tugas pertama dariΒ  Teh Irma yaitu beberes. Diubek lah semua rak buku, lemari, gudang, dompet dan sebagainya dan sebagainya.. Anin juga ikut heboh. Dari proses merapikan dan membuang, cukup bikin baper karena kepaksa buka file-file lama. File-file sama mantan juga. Aduhyaampun pusing pala Bunda, Nin πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Dan lagian ini kenapa gue masih simpen aja siiih hahaha…

Masalalu itu ada yang nyebelin ada yang ngangenin. Yang nyebelin bikin saya bersyukur atas apa yang terjadi hari ini. Thanks God my life feels better now. Masalalu yang ngangenin bikin saya bersemangat kalau hidup saya pernah cerah dan ada prestasinya. It makes me feel more motivated.

Tugas beberes cukup bikin badan dan hati pegel. Bikin banyaaaak sekali bersyukur dan berbenah. Dari hasil beberes, saya belajar untuk mengenal kata CUKUP.

Saya belajar untuk tidak menumpuk hal yang tidak perlu. Saya belajar untuk mengalirkan satu energi materi yang ada di rumah ini. Saya belajar melepaskan apa yang harus keluar agar tetap ada hal baru dan yang lebih menyenangkan, lebih saya butuhkan untuk datang ke rumah ini, ke dalam hati dan jiwa kami.

Ada yang keluar, ada yang masuk. Ketika ada yang ingin masuk, ada yang harus dikeluarkan dulu.

Jangan membiarkan rumah atau hati diisi oleh hal yang menumpuk. Hal kecil kayak gini ternyata membawa pengaruh besar pada sektor hidup lainnya. *kamana atuh SEKTOR 😁

Okey. Kita harus belajar pada arti kata CUKUP.

Momen yang benar-benar menyentuh adalah ketika begitu banyak barang yang keluar dari rumah, kami tumpuk di pojok tempat sampah, ada banyak sekali pemulung yang begitu cerah wajahnya melihat “harta karun” yang kami keluarkan. Ada satu anak kecil sangat bahagia menemukan “mainan kadaluarsa” nya Anin yang saya keluarkan. That was so amazing. Bikin aku krai dan bahagia sekali.

Rumah juga jauh terlihat lapang dan rapi. Daaaan ternyata itu nyetrum juga ke hati. Ahhhh I was so happy at that moment.

Bapak suami seneng juga liatnya. Liat saya yang produktif semingguan penuh beberes. Bonding sama Anin juga makin kuat. Saya bisa liat dia (bapak suami) ikut happy..

Setelah tugas beberes, lanjut pada persiapan hati untuk ngomong sama bapak suami tentang kontrak LC nanti.

Bapak suami cukup kaget dengan keputusan saya ikut program ini. Pertama, karena saya itu HOBI BANGET ikut seminar dan pelatihan, dan sebagai orang yang udah cukup sering dimintain izin untuk hal beginian, sangat wajar dia bilang…

“Ini apaan lagi sih Be???” Hahaha…

Tidak mudah. Sangat tidak mudah untuk meyakinkan bapak suami kalau saya sangat yakin ambil program ini. Bahwa program ini worthed dan saya sudah melakukan banyak riset hingga akhirnya mantap ambil program ini.

Kedua, biaya nya cukup fantastis. Iya, terutama untuk kami pasangan muda yang lagi banyak banget rencana beli ini beli itu, nabung buat ini nabung buat itu, nominal segitu kalau gak worthed-worthed amat akan menjadi pemborosan skala besar tahun 2016 heu.

Tapi sekali lagi (berkali-kali sih tepatnya), saya yakinkan bapak suami bahwa saya benar-benar yakin dan serius sama program ini. Saya hanya butuh izin, masalah biaya, saya bilang sama dia kalau I will figure it out.

Tapi dalam doa pun saya bilang sama Allah. Ya Allah, aku gak akan maksa. Gimana Allah aja. Kasih petunjuknya via suami. Kalau suami memang bener-bener gak kasih izin dan gak ridho saya ambil program ini, saya bakal tinggalin. Ridho Allah adalah ridho suami.

Alhamdulillah setelah semalaman diskusi. Besoknya suami ngasih permission. Dengan segala konsekuensi siap tanggung sendiri.

Oke, bismillahirrahmaanirrahiim..

Bener-bener dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya siap sepenuh hati menjalankan program Life Coaching ini.

Nah, langsung deh kan yaaa pusing nyari duit 15 juta pertama darimana. Tadinya mau ada piutang yang cair dan bisa untuk bayar LC termin pertama. Sayangnya piutang itu statusnya mendadak gakjelas. Aduh sad banget deh.Β  Saya galau.. Banget.

Tugas kedua dari Mamak datang, yaitu latihan BERPRASANGKA BAIK dalam segala hal. Berprasangka baik pada macet, pada barang yang ketinggalan, pada suami kalau lagi ngomel, pada anak yang hobi rewel, pada duit buat bayar LC yang belum jelas bakal datang dari mana, berprasangka baik pada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita.

Okeeeeeeyyy gaaaess, you know what… Tugas berprasangka baik makes me craazzzzyyy *krai banyak*

Di situ saya sadar bahwa saya selama ini hobinya “ngatur” Allah, protes sama Allah, gak sabaran, dan kurang iman.

Saya sok jago mengandalkan logika saya sendiri dan gak percaya sama apapun skenario yang Allah kasih.

Salah satu yang hits saat itu yaaa proses darimana saya bisa bayar administrasi LC termin pertama.

Malam itu, H-1 batas akhir pembayaran. Masih blank banget dapet duit darimana. Saya curhat sama Teh Nani,

“Gue bayar pake apaaaa Teeeh… Gak ada duit segede itu saat ini..”

“Yah lo jual dulu apa kek. Mobil, motor, perhiasan, baju, apa kek… Pasti ada pengorbanan yang harus lo lakukan untuk dapet hal yang lebih baik..”

“Ebuseeet ya gak bisa gitu lah Teh. Gue aja dapet izin ikut LC setengah mati, kalau sampe gue pake jual barang segala bisa dijadiin Achii Asam Manis kayaknya ama laki gue…” Hahahaha padahal laki gue gak se kriminal itu juga sik.

“Ya apa kek.. Gadai mesin Kangen dulu…”

“Hemmm… Bener juga, bisa dicoba… Secara banyak yang kepengen punya tuh mesin..”

“Yaudah cobain gih… Buruan.. Waktu terus berjalan…”

“Hahaha berasa lagi main The Apperentice yak gue…”

Saya pun menghubungi beberapa teman pengusaha yang mau pake mesin Kangen Water sebulan biar saya bisa pake dulu duitnya. Simbiosis mutualisme. Karena di LC kita dilarang ngutang. Kita harus yakin sepenuhnya kalau ini jalannya, Allah kasih gampang.

Momen ini tuh yaa buat saya kayak mau naik roller coaster. Saya melakukan ikhtiar terbaik (pasang sabuk pengaman, dan mematuhi aturan yang sudah dibuat), sisanya pasraaaaah lillahita’ala. Lepasin tegangnya, dan teriak kenceng deh kalau mau biar gak terlalu degdegan.

Tau kan sensai naik roller coaster?? Berasa mau mati, berasa kayak mau diambil jantung dan hati, tapi nyatanya sih gak gimana-gimana, gak kenapa-kenapa… Seru-seru aja, dan yaaa nyawa masih nempel kok sama badan. Alhamdulillah.

Ketika saya ngejapri temen-temen, banyaaak sekali penyakit hati dan perlawanan terhadap topeng yang selama ini saya asik pake.

Takut dianggap kere lah. Lah yaemang.
Takut dianggap bangkrut lah. Lah yaemang
Takut dianggap cupu lah. Lah yaemang.

Saya melepaskan semua ketakutan itu dan berani jujur sama diri sendiri tentang kondisi saya saat itu. Saya belajar untuk menerima kondisi real saya saat itu yang selama ini lebih sering saya tutupi, saya bumbui, menjadi sosok yang bukan saya banget.

Beneran deh itu rasanya kayak naik roller coaster!!!!

Tangan saya dingin megangin handphone. Saya sadar banget, ini bukan hanya tentang transaksi gadai mesin, tapi ini transaksi jiwa saya untuk BERANI JUJUR dan APA ADANYA.

Lalu apa yang terjadi? Malah ada dua orang yang bersedia dipasangin mesin di rumahnya dan mau minjemin duit 15 juta untuk saya.. Alhamdulillah..

Ahhh saya bersyukur banget punya mesin Kangen. Dia sudah banyak menemani saya melewati banyak hal. Mulai dari menemani saya ngilangin sembelit, kenal sama banyak orang baru, nemenin saya sedekah air, bantu bayarin utang, jadi wasilah saya bisa naik kapal pesiar dan jalan-jalan ke 3 negara, dan sekarang dia bisa “disekolahin” biar saya nya makin pinter, sehat lahir bathin. Thankyou my SD501 !

Transaksi berjalan lancar. Saya sudah aman admimistrasi LC nya. Teman saya juga happy karena bisa ngerasain air Kangen fresh from machine enaknya kayak apa selama satu bulan. Daaan beberapa hari kemudian, di belahan dunia bagian Cianjur ada yang beneran mau beli mesin, di mana komisi penjualan mesin tersebut cukup untuk membawa pulang SD501 yang saya pinjamkan dulu. Semudah itu ternyata.

Yaaa tapi pas latihan BERPRASANGKA BAIK sama Allah nya bikin mules. Amat sangat.

Dan saya belajar lagi bahwa Allah gak kemana. Allah akan kasih jalan keluar untuk ummatnya yang mau bergerak dan usaha.

Alhamdulillah… Saya pun semakin semangat menikmati setiap “game” yang harus dilalui selama LC. Semakin lama semakin seru, meski bikin sesak, tapi saya semakin dalam mengenal siapa saya sebenarnya dan hal apa yang akan sangat nyaman saya lakukan dan merasa TENANG ! Itu penting.

Buat yang masih penasaran dengan cerita LC saya, kayaknya akan dibuat part 4 nya deh. Ada beberapa yang masih ingin saya ceritakan tentang bagaimama akhirnya saya yang hobi bilang iya alias susah nolak jadi lebih fokus dan punya pendirian untuk melakukan apa yang benar-benar harus saya lakukan. Bagaimana saya perlahan memaafkan masalalu. Bagaimana saya mulai ngerti galau-galau masa kini darimana datangnya. Saya akan cerita bagaimana Mamak (sebutan khusus Bangkoters untuk Teh Irma) membedah semua aib dan kecupuan saya. Pokoknya Mamak menang banyak, saya kalah telak hahaha.. Hidup berasa dipencetin tombol RESET πŸ˜‚

Haaah…

Semoga masih penasaran yaa 😊

Life Coaching part 2

Wait,

Kalian udah baca Life Coaching part 1 kan? Harus baca dulu yaaa biar nyambung..

Oke, sampe mana kemarin? Oyaa sampe sesi wawancara. Sesi yang berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

Hari itu di PVJ, saya dan Atha, teman yang selalu dengan sukarela diracunin ikut ini itu sama saya heuheu, bersiap untuk diwawancara langsung oleh Teh Irma. Saat itu ada tiga kandidat yang menyerahkan diri untuk jadi calon anak LC batch 10. Saya, Atha, dan satu wanita lagi. Wanita yang sudah menikah dan punya satu anak.

Kami diwawancara secara bersamaan dan langsung ditembak dengan satu pertanyaan pamungkas,

“Kenapa lo mau ikut Life Coaching?”

To the point a la Mamak.

Saat itu saya jawab,

“Ingin punya hidup yang lebih baik lagi, Teh..”

“Ah jawaban lo standar banget. Normatif banget..”

“Emm.. Pengen mengenal Allah lebih jauh lagi, Teh…”

“Yaa ngaji.. Ke ustadz atau ustadzah. Jangan ama gue.. Gue aja masih belajar..”

“Emmm.. Pengen ngebenerin hidup, Teh..”

“Kenapa harus sama gue? Kan banyak pelatihan di luar sana. Lebih cepat. Dan jauh lebih murah. Ikutan yang lain aja. Jangan sama gue..”

“Emmmm… Pengen jadi istri shaleha dan ibu yang baik, Teh..”

“Datang ke pengajian, bukan ama gue…”

“Emmm…”

Gue cuma bengong, satu pertanyaan yang udah gue jawab dengan berbagai macam jawaban tetap gak masuk akal buat doi. Gue bingung.

“Haaaah lo aja gak tau pasti lo sebenernya mau apa, malah mau coba-coba ikut kelas gue. Kan mahal. Dan gue gak kasih jaminan duit kembali yaa.”

“Emmmm justru itu Teh. Gue pengen ngerti sebenernya diri gue itu siapa dan kudu gimana…”

“Terus???”

“Yaa makanya pengen ikut Life Coaching..”

“Terus???”

“Biar gue sadar sama diri gue sendiri. Biar gue waras-an Teh…”

“Terus???”

Ini soulhealer apa tukang parkir sih. Teras terus teras terus doang daritadi. Hiks.

Gue diem. Gue cuma bisa menatap Teh Irma hopeless. Kami bertiga menjawab secara bergantian dan gak ada satu pun jawaban yang memuaskan dia.

“Gue kasih gambaran dikit yaa tentang Life Coaching ini. Gue gak pake kurikulum. Tiap orang akan berbeda treatment nya dan sangat spesifik. Gue hanya akan mendampingi lo untuk membuka topeng dan akar dari setiap masalah lo, yang mungkin akan bikin lo sesak napas untuk mengakuinya. Keberhasilan sepenuhnya ada di tangan lo. Gue tidak menjamin apapun. Itu bukan hak gue. Itu tergantung usaha lo untuk mau berubah dan memperbaiki semuanya dan gimana Allah juga mau dibikin kayak apa hidup lo. Karena lo bertiga muslim, gue akan berbicara tentang aqidah lo sebagai muslim. Gue ogah yaa kalau lo lakukan semua ini untuk orang lain, atau gak enakan ama gue misalnya, atau siapapun. Ini untuk lo sendiri dan Allah. Karena di kontrak nanti kita akan berjanji bareng atas nama Allah. Janji lo bukan sama gue. Janji lo sama Allah. Gue pun janjinya sama Allah untuk melakukan yang terbaik dari keilmuan yang gue miliki untuk mendampingi lo. Dan itu gak main-main.. Lo harus trust sama gue dan lo bersedia komit untuk ngerjain tugas yang gue kasih. Jangan setengah-setengah. Apalagi coba-coba.”

Gue nyimak. Teh Irma cerita tentang segala pengalaman doi meng-coaching anak-anak didiknya atau yang biasa dia sebut Bangkoters. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Ada yang terus lanjut, ada yang menyerah di tengah jalan. Intinya kami harus siap benar-benar dibuat jujur sama diri sendiri, sakit, bangkrut, berdarah, dan terluka atau kehilangan materi yang memang harus hilang.

Serem sih dengerinnya. Ini kok yaa kayak mau ngapain ajaa.

Dan hal paling berat menari-nari di kepala saya saat itu adalah, saya belum izin sama suami untuk menjalani setiap proses ini.

Saya agak ragu jadinya saat itu. Laki gue ngijinin gak yaa..

Tapi saat itu di pikiran saya adalah saya benar-benar ingin berubah secara kontinu dan serius seserius-seriusnya. Saya yakin bahwa apa yang terjadi dalam hidup saya, jatuh bangunnya datang dari diri saya sendiri dan bentuk ujian hidup dari Tuhan agar saya terus naik kelas. Bukan karena anak yang susah diatur atau pasangan yang rese.

Saya harus fokus dengan serius memperbaiki diri saya sendiri. Now or never... Untuk kehidupan yang lebih baik.

Pada akhir sesi wawancara saya bilang sama Teh Irma,

“Pengajian yang terakhir gue ikutin mengajarkan gue tentang makna kematian. Makna hidup sebagai tempat satu-satunya berburu bekal pulang saat mati nanti. Tapi gue belum ngerti sepenuhnya gimana caranya hidup yang benar dan bagaimana caranya siap untuk menyambut kematian. Makin ke sini hidup gue makin kusut dan gue merasa linglung harus bertanya dan bercerita ke siapa tentang segala kegalauan yang gue alami. Gue butuh guru kehidupan yang nemenin gue, yang bisa gue ajak diskusi secara objektif untuk menjawab setiap teka-teki hidup yang sedang gue alami. Udah sekian banyak seminar dan pelatihan gue ikuti. Tapi kesemuanya hanya menjawab kegalauan gue di permukaan aja. Setelah gue baca 4 buku yang Teteh tulis. Gue menemukan sesuatu yang berbeda. Gue akan serius mengikuti Life Coaching ini semampunya gue. Tujuan gue tentu hanya Allah. Benar-benar Allah. Karena dari pengajian sebelumnya gue paham bahwa semua yang ada di sekitar gue hanyalah perangkat yang menemani gue mengenal Allah. Jadi gue ikut LC ini adalah cara gue ngaji. Cara gue mengenal diri gue sendiri. Cara yang mungkin gak harus sama dengan orang lain, tapi gue pilihnya ini. Apalagi di LC ini Teteh beneran pegang setiap dari kita secara private dan personal. Gue siap dengan apapun konsekuensinya selama proses coaching nanti.”

Saya gak tau deh yaa. Apakah pemaparan tersebut berhasil meyakinkan Teh Irma untuk meloloskan saya jadi salahsatu muridnya apa kagak. Saya cuma bisa pasrah. Cuma itu yang saya rasakan. And for your information, ketika wawancara pun actually saya belum tau duitnya darimana buat bayar program LC tersebut haha.

Saya cuma punya Allah. Itu aja.

Teh Irma pun berkali-kali mewanti-wanti kalau program ini cukup mahal biaya nya. Tidak ada jaminan akan pasti berhasil. Dan selama prosesnya nanti akan banyak kejadian tak terduga yang bikin kita engap-engapan.

Emang pada dasarnya saya udah hopeless, desperate dan butuh pencerahan 2016, saya siap. Saya menyerahkan sepenuhnya sama Allah. Kalau lolos dan ada rezekinya berarti ini adalah bagian dari episode hidup saya. Kalau bukan yaa saya cari yang lain, cari cara untuk betul-betul paham tentang hidup kudu gimana agar tenang dan mati dengan damai.

Alhamdulillah beberapa minggu setelah wawancara saya di-invite ke Grup WAΒ Life Coaching 10 oleh Uni Laura. Saya sudah masuk jadi kandidat Bangkoters dan bersiap untuk tanda tangan kontrak dan menyiapkan uang untuk biaya administrasinya. HA!

Nah, gimana ceritanya saya bisa dapat izin suami dan uang untuk ikut LC? Dan bagaimana kesan-kesan menjadi anak LC di bulan pertama??

Di postingan berikutnya yaaa. Bersambung lagi berhubung ada kerjaan lain yang harus diberesin hehe..

Semoga penasaran 😊

Life Coaching part 1

Hari ini tanggal 1 Mei 2016. Jam 05.45 saya sudah duduk di pool travel untuk bersiap berangkat ke Jakarta. Tentu bukan untuk demo Hari Buruh. Pertama, saya bukan buruh. Kedua, saya orangnya lebih suka demo masak daripada demo buruh. Yuuuk.

Hari ini adalah jadwal ketemu Mamak alias Teh Irma Rahayu untuk sesi private coaching kesekian kalinya. Program yang sudah saya jalani selama 4 bulan ke belakang. Program LIFE COACHING namanya.

Beberapa spoiler sering saya share via social media saya yang lain. Via Path, Instagram, atauΒ Facebook. Tentang apa yang saya dapat dari kegiatan #LifeCoaching tersebut.

Di blog, saya akan jelaskan secara lengkap dan lebih rinci apa itu Life Coaching bersama Irma Rahayu dan kenapa saya memutuskan untuk mengikuti program tersebut.

Saya tau Teh Irma itu sejak tahun 2012 (kalau tidak salah) saat saya sedang sangat aktif di dunia Twitter. Teh Irma adalah seorang soulhealer yang cukup rajin berseliweran dan ngoceh pedes di jagat timeline Twitter. Bisa tau Teh Irma karena direkomendasikan oleh pak Indra @noveldy dan istri, penulis buku Menikah Untuk Bahagia. Kesan-kesan saya waktu itu ketika menyimak twit-twitnya Teh Irma adalah,

“Dih ni orang sompral banget yaa ngomongnya. Dalem. Blak-blakan abis. Sinis dan galak. Tapiiii bener sih yang diomongin.”

Jadi mau unfollow juga, sayang ilmunya. Ga apa deh galak. Variasi dikit.

Saya sempet penasaran dengan metode dan ilmu healing-nya yang sering dia bahas di. Sempat juga diajak ikut kelasnya di Bandung. Tapi saat itu saya merasa belum perlu-perlu amat. Saya abaikan saja dan asik dengan hidup saya sendiri. Going ahead dengan segala topeng dan pencitraan yang lekat dengan keseharian saya. Ngahahaha.. mamam tuh pencitraan dan butuh pengakuan..

Sampai suatu ketika, rekan bisnis di KAMA -salahsatu brand owner yang men-supply produk di KAMA, ngajakin saya jadi bagian yang berpartisipasi untuk acara Emotional Healing Therapy di Bandung. Sekali lagi saya abaikan, karena saat itu kebetulan banget saya nya lagi belajar bilang “TIDAK” untuk amanah yang belum prioritas-prioritas amat. Saya sedang punya fokus lain yang harus dikerjakan. Gaya amat yak.

My life is going on…

Sampe akhirnya mentoooook. Lelah yang amat sangat dengan skala galau luarbiasa. Gak jelas sendiri dan butuh pencerahan yang bener-bener baru, bukan ala-ala motivator yang udah kenyang saya kunyah tiap hari.

Iseng buka Twitter bulan November 2015, ada sosok Irma Rahayu pas buka timeline lagi. Doi lagi mau bedah buku barunya di BANDUNG !

Hah, apa saya samperin juga yah ni orang. Manatau manatau ada hal baru yang bisa saya ambil dari doi ketika saya bisa ketemu secara langsung.

Alhamdulillah diizinin suami keluar, padahal saat itu kondisinya masih dalam masa bedrest pasca operasi besar hamil di luar kandungan. Watir kali yaa liat muka saya yang udah bosen lumutan dan gak bergairah berhari-hari ngendon di rumah.

Hari itu menjadi hari pertama saya ketemu sosok Teh Irma Rahayu. Sosok yang emang cablak dan semena-mena banget ngomongnya. Bibirnya gue rasa ada dua karet imajiner yang ngiket. PEDES ABIS. Tapi entah kenapa saya suka dan makin penasaran. Saya pun beli bukunya dan aslik terkesiap dengan apa yang dia tulis di buku Soul Healing Therapy nya. Tentang konsep DOA dan makna BERIBADAH pada Allah. Beda tapi yaa eta pisaaan banget lah pokoknya. Baca deh, asli rekomen banget. Benar-benar pencerahan 2016 hihi…

Lalu saya nanya-nanya dengan urat kepo yang cukup tebal sama Teh Nani, rekan bisnis yang sekarang jadi artis (hihi), tentang siapa dan sebenarnya apa sih yang diajarkan oleh Teh Irma ini. Secara doi ikut jadi muridnya.

Teh Nani cuma nyuruh saya ikut healing.

“Udah lo coba aja kelas healing-nya Teh Irma. Udahan itu bakal enakan pikiran lo. Dan bakal bantu lo liat insight baru tentang hidup…”

“Bayar berapa?”

“1 juta.”

“Wah mahal yaaa.. Gue lagi gak ada duit banyak Teh…”

“Ah masa sih? Bukannya lo lagi bagus banget bisnisnya…”

“Hah… Keliatannya aja. Justru ini tuh lagi terjun bebaaaas. Gak ngerti gue juga. Pusing pala barbie anak gue.”

*Lah kenapa jadi bawa barbie-nya anak gue… Haha..

“Yaudah lo doa aja. Kalau emang ini jalan lo buat cari solusi. Pasti ada jalan…”

Singkat cerita, saya akhirnya bisa ikut healing sama Teh Irma dan ambil satu kali private coaching ama doski di rumahnya. Saya baca 4 bukunya. Dan bener-bener dibuka oleh banyak hal dari setiap tulisannya. BANYAK HAL.

Banyak pertanyaan dalam hidup yang cukup terjawab dari bukunya Teh Irma. Kenapa saya anaknya lebay, drama, emosian, mentok ngedidik anak, mentok ngobrol sama pasangan, dan beberapa konflik receh yang numpuk tapi saya cukup linglung untuk ngeberesinnya kayak apa. Rajin shalat, ngaji, puasa, dan dhuha tapi hobi itung-itungan amal sama Allah. Kusut banget deh pokoknya.

Masalah kita tuh bisa RECEH BANGET, tapi kalau numpuk yaaa bisa milyaran juga jumlahnya sampe bikin mampet segala macem, rezki salahsatunya.

Jadi yaudah deh, saya makin kepoin tentang Teh Irma lewat Teh Nani itu. Makin dikepoin makin bikin penasaran.

Lagi-lagi Teh Nani cuma bilang,

“Udah deh menurut gue lo ikut Life Coaching aja Chii. Elo kudu diwarasin. Hidup lo gak akan kemana-mana, akan stuck gitu-gitu aja kalau lo ga sadar siapa diri lo dan apa yang lo mau sebenernya. Teh Irma bisa bantu lo. Lo coba aja daftar…”

“Iyasih pengen tapi kan bayarnya mahal bangeeeet. Duit darimana gue???”

“Doa, Chii. Lo gak pernah tau gimana Allah bakal kasih jalan. Mau aja dulu, usaha aja dulu. Jadi apa kagaknya bukan urusan lo…”

“Hemmm… Gitu yaa.”

Akhirnya saya memberanikan diri daftar Life Coaching ke Uni Laura, aspri nya Teh Irma. Saya pun menjalani sesi wawancara, sebuah persyaratan sebelum dianggap sah jadi anak didik Teh Irma.

Dan tau gak sih gaes, suasana wawancara yang terjadi saat itu di luar ekspektasi saya !!

Teh Irma galaknya minta ampun deh… Berasa dilepeh dan ditolak-tolak untuk jadi anaknya doski. Ini gimana sih kok gue jadi bingung.

Dia yang bikin kelasnya. Dia yang nolak-nolak calon muridnya… ANEH.

Haaah gaes, tangan gue pegel dan ceritanya masih cukup panjang hahaha. Bersambung yaaa. Kita lanjutkan di postingan berikutnya… Nanti saya cerita segalak apa doski saat wawancara dan bagaimana bulan pertama ngerjain tugas-tugas LC yang sukses bikin badan pegel-pegel, kepala senat-senut, dan mata yang makin sering dibikin mewek inih..

Semoga penasaran πŸ™‚