Bagaimana Caranya Menjadi Wanita Hebat?

Bagaimana caranya menjadi wanita yang hebat? Bagaimana sih?Β 

Pertanyaan ini berputar di kepala ketika saya selesai jalan-jalan di sosmed para wanita yang menurut saya hebat. Langsung mupeng. Langsung baper. Kapankah saya bisa sehebat mereka jengjengjenggggg… Kapankah saya menjadi seorang wonder woman hahaha… *efek abis nongton layar tancep

Kalau kita mau flashback pada perjalanan hidup kita sejak lahir, masuk TK, jadi murid SD, SMP, SMA hingga kuliah… Lalu menikah dan punya anak. Atau apapun deh pokoknya cerita hidup yang sudah kita lewati dan sedang dihadapi, sebetulnya ada banyak fitur yang menggosok kita untuk menjadi hebat.

Fitur itu dinamakan konflik atau masalah.

Continue reading

Advertisements

Karena ALLAH Gak Pernah Ada

​

Itu yang selalu bikin kita ngerasa putus asa, dan bawaannya kesel dan ngedumel.
Karena ALLAH gak pernah ada di HATI dan PIKIRAN kita 😭😭😭
Ini satu cerita, pengalaman selama mempersiapkan Healing Class Bandung kemarin. Proses apa aja yang saya lewati sampai ketemu titik di mana peserta membludak, sampe kudu nolak yang terakhir daftar.

Continue reading

Berobat ke Klinik Tong Fang

Desir angin menerpa deretan hordeng berwarna pink bunga-bunga. Ada tukang parabot melewat di depan rumah. Tidak ketinggalan mamang cuankie yang mengetok-ngetokin pintu tetangga, yang belum bayar jajanannya.

Sore yang indah tapi sebenernya biasa-aja-sih di sebuah komplek perumahan sederhana, di perbatasan Cimahi dan Bandung Kota….

Aku menatap langit lalu bertanya pada diri sendiri, aku ini lagi apa. Mungkin aku ingin seperti tokoh-tokoh di novel drama tapi kayaknya tatapanku malah merusak suasana. Bukan tatapan iba atau sedih yang dramatis, hanya tatapan bingung melihat antena tv yang sudah karat dan patah dimana-mana. Watiiiir. Pantesan kemarin gak bisa nonton Persib 😁

Mau nulis apa sih Chiiii sebenernya hahahaha. Rebek amat πŸ˜‚ Maap yak. Gak cocok nulis sebangsa prosa deskriptif hihihi.

Well. Seharian ini saya cukup shock dimasukkan ke WAG yang berisi wanita-wanita rempong kumpulan pasien salah satu klinik ternama, klinik TONG FANG. Asuhan Ibu Irma Rahayu. Buat yang belum tau beliau, Irma Rahayu adalah seorang life coach, yang sangat spesifik mengatasi kejiwaan. Jadi yang jadi muridnya semua sakit jiwa hahahaha. Engga deng. Aku mah waras. Cuma buat mengisi waktu luang aja biar gak kisut. Hahaha dusta 😁

Setiap manusia punya doa yang sama, ingin dipertemukan dengan pasangan yang bisa mengisi dan melengkapi apa yang belum dia punya. Saya berdoa agar Allah anugerahi saya suami yang sabar dan bertanggung jawab. Dan di belahan Indonesia di bagian Kelurahan Melong Kecamatan Cimahi Selatan, ada seorang bujang yang berdoa juga agar dipertemukan dengan seorang wanita yang kuat untuk dipersunting jadi istrinya. Kuat ngangkat galon dan kuat mindahin rumah manatau kebanjiran. Yagakgitujugakaliiiii.

Lalu akhirnya dua manusia ini Allah persatukan, demi menjawab doa mereka masing-masing. Sang istri bahagia, begitu pun suaminya.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Baju berganti baju. Eh garing 😐

Mereka mulai lebih dalam mengenal satu sama lain. Tapi sayang mereka gagal paham dengan jawaban dari doa yang mereka panjatkan. Bukan kesabaran yang dirasakan oleh sang istri, malah sikap cuek dan kurang peka. Bukan kekuatan seorang istri yang didapat oleh suami, malah sikap kurang ajar dan mau menang sendiri. Dua-duanya teriak, duuuh pusing lah pala barbie hijab syariiii 😣

Suami istri yang saling melempar marah dan kecewa. Tiap hari ribut mempertanyakan jawaban atas doanya. Meledak. Lalu padam. Meledak lagi. Padam lagi. Kayak orang belum bayar listrik. Mati-Nyala-Mati-Nyala. Seakan tidak ada ujung, yang ada hanya lelah dan gundah. Rasa syukur pun perlahan menguap.
Solusi demi solusi dijajal dan tetap tidak menemukan titik terang, hingga akhirnya mereka bertemu klinik Tong Fang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kepanjangan dari Tolong dong Fang Warasin hidup saya Mbaaak! #Sundaan hahaha
Selama menjalani perawatan di klinik Tong Fang, tabibnya hobi amat ngegeplak… ngerokin tembok ego dan topeng “butuh pengakuan”. Diseret sampe ngesot-ngesot untuk melihat akar masalah dari rasa marah, kecewa, dan pendaman emosi lainnya.
Hingga perlahan daya pikir dan sentuhan rasa mulai sesuai pada porsinya dan sesuai pada tempatnya.
Perlahan mulai luruh pikiran merasa dibiarkan, dicuekkan, dan di-engga peka-kan. Mulai bisa merasakan sikap sabar pada pasangan yang selama ini dipungkiri dan tidak diakui.
Perlahan mulai terasah kekuatan istri, harus dimana saja energinya dimanfaatkan. Agar barokah dan perahu tetap berjalan sama arah.

Selama pembelajaran di klinik ini, kami belajar bahwa setiap doa tidak Allah jawab dalam kondisi matang. Atau sudah jadi.

Doa dihantarkan dalam bentuk butuh proses. Agar ketika menikmati hidangan dari setiap doa, ada rasa puas dan tenang dalam setiap kunyahannya. Nikmaaat alhamdulillah…
Terima kasih klinik Tong Fang.. kehidupan berangsur waras dan lebih napak dalam menghadapi setiap tantangan baru yang ada.

Hidup pusing ngejelimet pengen teriak?? Butuh solusi dari setiap masalah?? Jangan sampe asal coba-coba kalau gak mau Β berujung pada sia-sia atau bahkan terjerat kasus narkoba. Eaaaa

Cobain aja klinik Tong Fang. Tolong dong Fang Warasin hahahaha bersama Ibu Irma Rahayu. Info lebih lengkap silakan buka websitenyaΒ Irma RahayuΒ atau SMS 081227023499

Jangan lupa cari cara buat waras…
Hidup buat nyiapin mati, jangan lupa abisin waktu buat berbenah diri…

Salam sayang,

salahsatu pasien dari klinik Tong Fang 😊

Menitipkan Anak

image

Ada yang pernah menitipkan anaknya untuk berbagai alasan? Untuk ngantor? Sekolah? Atau sekedar menikmati waktu sendiri?

Saya pernah dengan 3 alasan di atas, dan ini sekelumit cerita tentang pengalaman saya menitipkan anak…. Feel free to judge me, I’ll be okay and feel bodo amat with what you’re thinking.

Anin lahir di usia saya yang masih 23 tahun. Saat itu saya belum selesai koas. Status saya masih sebagai mahasiswa sebuah fakultas yang harus diam sejenak mengurus bayi dengan segala keterbatasan ilmu dan pengalaman. Anak pertama bokkk. Entah sebuah anugerah atau ujian, hingga pada waktunya lahiran saya belum juga mendapat asisten yang bisa membantu saya mengurus Anin dan menjaganya ketika saya harus melipir ke sekolah. Saya terpaksa menjadi ibu yang anteng duduk manis di rumah, membesarkan Anin.

Ketika Anin berusia sekitar 8 bulan, saya mendapat seorang asisten di rumah, tapi belum saya percayai sepenuhnya untuk menjaga Anin.  Saya tetap memegang Anin hampir full 24 jam, kadang adakalanya dititip kalau mau belanja ke Borma atau mau paketin barang ke ruko depan.

Apa yang saya rasakan saat itu adalah, to be honest, rasa lelah yang amat sangat, rasa jenuh yang amat sangat, dan rasa marah (pada diri sendiri karena gak bisaan ngurus anak dan pada lingkungan yang kadang suka bikin sensi). Saya bahagia punya anak, yaaa kali masa punya anak malah gak bahagia, tapi yagitu deeeeh heu.. Hingga akhirnya di usia Anin yang menginjak 1,5 tahun ada kenalan yang masih kerabat dekat bersedia mengasuh Anin jika saya mau kembali ke rutinitas sekolah. Insya Allah yang ini cukup bikin saya percaya dan siap nitipin Anin.

Masa-masa kacrut itu yang cukup membekas dan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Masa di mana pertama kali saya lihat wajah memelas Anin yang gak rela dan gak suka ditinggal. Sedih sih, tapi pas saya udah asik di luar, saya suka lupa kalau punya anak… Haaah my bad. Saya akui itu sebagai suatu kesalahan dan kedodolan saya sebagai seorang ibu. Asik aktif ini itu dan mulai melakukan aksi pembalasan setelah hampir 2 tahun stuck di rumah.

Semua digunakan sebagai pembenaran, kan saya harus beresin sekolah, kan saya harus bantu suami cari duit juga, kan saya harus punya waktu sendiri. Daaaaan segala tetek bengek alasan yang sebenarnya menutupi aksi PELARIAN saya dari sebuah kenyataan bahwa saya sekarang punya anak, dan ngurus anak itu gak semudah yang saya bayangkan 😭😭😭

Sekolah gak beres juga. Bisnis pun malah meluncur bebas gak bersisa. Lalu saya jadinya bahagia?? Yaaa enggaklah ~

Emosi yang gak karuan yang mengisi hari-hari bersama Anin. Ketika Anin masuk usia 3 tahun, ketika dia sudah mulai bisa berkomunikasi sebagai selayaknya ‘manusia’, saya pelan-pelan mulai tersadar bahwa ada jarak yang cukup besar antara saya dengan dia. Peran saya hanya sebagai ibu biologisnya saja, makna ibu yang sebenarnya dia dapatkan dari lingkungan, dari mana saja dia sempat dititipkan.

Sakit. Perih. Dan merasa kehilangan….

Baper is everywhere ketika Anin mulai merengek lebih ingin main bersama Teteh (ART di rumah), Ateu, atau Enin nya. Apalagi kalau dia udah mulai cranky bilang Bunda nya galak atau bilang dia gak sayang sama Bunda nya, gak mau sama Bunda..

Hiksss… Langsung kayak ditabrak pake buldozer, terus yang lagi nyetir buldozernya itu Gajah Afrika yang lagi hamil 9 bulan. Hahaha lebay bin ngarang wkwkwk.

Satu persatu bagian tubuh yang hancur ketabrak buldozer terus yang nyetirnya Gajah hamil 9 bulan itu (tetep yaa) dikumpulin dan saya pasangkan lagi sesuai posisinya masing-masing. Baper won’t take you anywhere, Chiii..

Ayo bangkit, semangat, waras, dan berbenah..

Fase menerima kenyataan adalah fase yang paling menyakitkan. Karena kenyataan hampir tidak selalu sesuai harapan. Karena harapan manusia terlalu cetek jika dibandingkan rencana yang sudah Tuhan siapkan. Jadi saya pun belajar untuk menerima kenyataan dan berhusnudzon dengan segala skenario yang Allah siapkan.

Saya mencoba memaafkan diri saya sendiri terlebih dulu setelah apa-apa yang saya lakukan sama Anin. Mbakbroooo, jangan tanya prosesnya kayak apa yaaa. Memaafkan diri sendiri itu lebih bikin mual muntah daripada memaafkan orang lain. Feeling gulity itu lebih ganas sifatnya dan menyebar ke setiap sudut sel-sel tubuh. Heu.

Setelah saya memiliki kekuatan untuk menerima dan memaafkan apa yang sudah terjadi, ada banyak hikmah yang bisa saya ambil. Ada banyak pembelajaran hidup yang membuat saya sangat tidak mau mengulanginya lagi. Amat amat amat gak mau. Saya gak kenal sih sama si Amat. Tapi katanya Amat juga gak mau. Hahaha apasih garing.

Saya pernah merasakan bagaimana menjadi ibu yang diam di rumah tapi gak pinter bersyukur, saya juga pernah merasakan menjadi ibu yang asik di luar sampe lupa kodrat awal. Dua-duanya gak proporsional…

Tapi dari situ saya bisa belajar bagaimana menjadi ibu yang bisa tetap tenang dan bahagia meski harus diam di rumah, dan tetap tau diri ketika harus beraktifitas di luar rumah. Baru tau loh yaah, prakteknya masih ngesooooooot hehehehe..

Sekarang, saya gakmau keenakan lagi nitipin Anin. Nitipin yaa hanya karena cukup gak memungkinkan bawa-bawa Anin. Mau serepot dan serempong apapun kalau lagi sama dia, saya dan suami harus terima risikonya, terima tanggung jawabnya, dan terima semua proses yang harus dilalui. Kami mungkin bukan ayah dan ibu yang terbaik untuk Anin, figuritas kami sebagai orang tua juga agak agak gimanaa gitu, tapi saya sendiri yakin… semua bisa karena biasa, saya dan suami pasti bisa jadi partner hidup yang baik untuk Anin…. sebelum dia menemukan partner hidup yang lain setelah dewasa nanti. Eaaaa jadi sararedih ginih hahaha..

Terima kasih Anin, kamu adalah guru cilik di rumah… Maaf yaa Bunda suka keenakan dan hobi banget titip-titip Anin. Doakan Bunda cepet lulus kuliahnya yaaaa!!!

Habiburrahmaan, 22 Ramadhan 1437 H
Asri Fitriasari
Ibu yang mulai waras wkwk

TIMEOUT

image

Kata siapa ngedidik anak itu gampang??? Hih masya Allah ya Rabbi… Bikin bibir eike keritiiinggg. Kalau ga pinter-pinter ngurus emosi, bisa perang dunia rumah tangga tiap hari deh ampuuuun.

Memasuki usia Kanin yang 4 tahun, tantangan hidup ternyata makin seru ajaa yaaa.. Baru tau dan baru ngerasain rasanya dilawan sama anak, dijawabin sama anak, kzl banget deh beneran. Udah gitu kadang anaknya lamaaaaaa banget kalau disuruh, banyak alasan, banyak pembenaran, banyak nundanya. Sama banget yekaaaan. Sama banget kayak elo chiiii πŸ˜‚

Mamam deh tuh kelakuan 😁😁😁

Tapi bagaimanapun, meskipun, walaupun, andaipun gimanapun kita sebagai emaknya harus tetap tegas. Ngaca sama kelakuan anak boleh tapi jangan keterusan baper, terus malah jadi permisif sama kesewenangan bocah, hahaha gue mah dulu gitu orangnyaa 😁

Sekuat tenaga banget deh membedakan mana yang bener-bener  gak boleh dikasih, mana yang yaudah-deh-boleh.. Secaraaa kan dirisendiri dulu yang kudu WARAS, biar bisa mengaplikasikan didikan ke anak secara proporsional. Haaah beraaaat bahasa looo Sis..

Salahsatu tips dari Mak Irma untuk mendidik Kanin yang suka semenaedewe adalah dengan menyediakan pojok ‘timeout’ kalau desse udah mulai keterlaluan dan gak nurut ama emaknya for a good reason. Kita juga harus belajar konsisten, persisten, dan kompeten ketika ngejelasin ‘rules’ ama anak.

Ampuuuun gak gampang juragaaaaan.    Banyak drama dan luka yang terkuak *apaseeeh

Tapi alhamdulillah ada progress, dikiiiiiiit πŸ˜‚

Aku coba terus yaaa Sissss.. Harus rajin minum Kangen Water pH 9,5 deh ini mah biar setrong menghadapi kenyataan πŸ˜‚πŸ˜…

Kalian para buibuk warbiyasaaah di luarsana tetaplah semangaat, karena surga didapat memang dengan bayaran yang MAHAL!

Gausah itungan, makin diitung, capeknya yang makin kerasa gede, bukan pencapaiannya. Pengalaman pribadi aja ini mah 😁

Terusin yaa Bundaknya Aniiin yaaa meski kalau lagi mengeluarkan jurus ‘timeout’, anak kecil itu malah merepet nasehatin Bundaknyaa..

“Bunda tuh gak boleh gini sama anak kecil. Anin kan cuma tumpahin bedak serumah-rumah. Anin kan cuma masukin mainan kotor ke kulkas. Anin kan cuma narikin mukena Bunda pas lagi shalat sampe Bunda nya jatoh.. bla bla bla…”

Pokoknya mah kalau Bunda nya lagi ngasih arahan dan himbauan dalam hal kebaikan, anaknya hobi jawabin…

Bunda-tuh-gak-boleh-gitu-sama-anak-kecil……..

Hhhhhhhh πŸ˜₯

#semprotBeautyWater dulu deh biar gak penuaan dini
#ceritaANIN
#curhatBunda
#timeout
#BundaNgesoootDuluKak

Pick Your Battle

Haloo selamat malaaam..

Jelang midnight tetiba pengen pengakuan dosa (lagi). Hahaha hobi amat yaa gue pengakuan akhir-akhir ini.

Efek Life Coaching Sis πŸ˜…

Berasa banget hidup lagi di-reset. Berasa bangeeeet hidup lagi di-defrag. Jujur aja Sis, gak enaaakkk. Sesak menyakitkan dada menghadapi kenyataan haha.

Oke.. Izinkan saya melakukan beberapa pengakuan yang bisa jadi kurang nyaman untuk dibaca atau bikin kamu ngomen dalam hati, “Dih kenapa sih si Achii.. Kebanyakan ngemil jengkol kali yaa ini orang, omongannya kok aneh.. Hahaha..”

TERSERAH.

Tulisan ini adalah tulisan tentang revolusi mental yang akhir-akhir ini saya lakukan. Mau komen negatif, silahkaaan. Mau baca sampe abis, silahkan. Manatau bisa jadi insight baru untuk hidup para Sis dan Bro yang kebetulan baca.

Oke, pertama tentang MENIKAH.

Dulu saya anaknya Nikah Minded banget.Β  Getol koar-koar “Ayo dong NIKAH secepatnya. Makin muda nikahnya makin berjaya kehidupannya. Percayalah, percayalaaaah!”

Dan Allah dengan sangat baik hati ngasih banyak cerita, drama, dan ujian yang bikin saya mikir… Mikiiiir banget. Gak bisa Chii, lo nyamain jalan hidup lo yang (katanya) bahagia nikah muda lalu beropini kalau orang yang nikahnya cepet itu udah pasti bener hidupnya. NO! Ada banyak variabel dari setiap hidupnya orang yang bikin dia belum bisa menikah dan atau nunda nikah.

Kedua tentang IBU RUMAH TANGGA.

Duileee inget banget deh dulu saya pernah ngetwit tentang #FullTimeMom kemudian cerita betapa bangga dan bahagianya saya jadi ibu yang stay di rumah dan menganggap ini pilihan terbaik seorang wanita. Banyak yang muji dan nge-ritwit, dan pasti banyak juga yang ngerasa sakiiit ketika baca apa yang saya twit. Astaghfirullah. Terlepas ada yang pro dan kontra tentang apa yang saya sampaikan, tapi saat saya melakukan hal itu, saya cukup sotoy dan melihat sebuah masalah dari satu sudut pandang aja. Kembali, Allah dengan baik hati ngasih skenario hidup yang bikin saya harus ninggalin anak dan memiliki aktifitas layaknya ibu bekerja. Nah udah deh dari situ saya bisa liat dan bener-bener ngerasain suka dukanya jadi ibu bekerja, enaknya apa, kesiksanya kayak apa. Masya Allah beneran langsung taubat dari segala prasangka tanpa sebab, yang selama ini saya umbar-umbar..

Ketiga, masalah jadi PEKERJA atau PENGUSAHA.. Mana yang lebih mulia?

Duh kalau yang ini agak ngejelimet kalau diceritain. Cuma intinya sih dulu saya yakin banget kalau jadi pengusaha itu mulia banget. Apalagi pengusaha yang shaleh. Duh impian banget deh. Saban hari saya berjuang jadi pengusaha yang shaleh. Dan dengan pede nya maksa suami untuk RESIGN aja. Tanpa tau bakal siap atau engga dengan konsekuensinya.

Kejadian demi kejadian datang.. Bikin saya mikir dan ngerti… Hidup gak sekeras itu. Dilemesin aja dulu kali, Chii..

Kesalahan yang dilakukan berulang-ulang adalah, saya semangat melabuhkan pilihan sama sesuatu hal yang saya pun belum kebayang konsekuensinya akan seperti apa. Mostly karena liat orang sukses, terinspirasi orang sukses tapi kebablasan.

Well. We have our own path of life. Termotivasi dan terinspirasi itu gak salah. Yang salah itu kalau kita ngikutin orang lain tapi gak napak sama hidup kita sendiri.

Kitaa?? Elo aja kali chiii hahaha ~

Dari sejak dulu suami selalu bilang, kita kudu sadar sama apa yang kita mau, tetep zero, dan mikir jernih.. Gak harus apa yang kamu denger langsung kamu kerjain.

Baru ngerti dan sanggup ngejalaninnya sekarang hahahaha. Maap yaa Pak Suami..

Saya sadar kalau selama ini apa yang saya kejar itu cuma ILUSI. Seperti yang butuh padahal engga. Seperti yang harus kesampean padahal bukan itu tujuan akhir yang harus dicapai.

Jadinya saya up and down gak jelas. Kalau lagi enjoy yaa enjoy bangeeet, kalau lagi ngedrop yaa ngedrop banget. Saya sendiri gaktau apa yang sebenarnya saya inginkan. Tanpa sadar berjalan sambil membawa luka kemana-mana dan cari penawar dengan racikan yang salah.

Alhamdulillah, sekarang satu persatu cahaya mulai keliatan. Mulai bisa napak ke bumi dan SADAR tentang siapa saya yang sebenarnya dan BUTUH nya apa.

Alhamdulillah, sekarang satu persatu impian yang udah pernah ditulis mulai saya hapus. Lohkok? Yaa justru karena saya sudah semakin kenal diri saya dan ternyata bukan ke arah sana larinya.

Hal yang paling menyenangkan adalah ketika kita gak gampang terbawa suasana atau intervensi dari luar diri kita. Ajeg. Yakin. Pageuh sama intuisi yang Allah titipkan pada hati kita.

Wah masih proses sih sebenernya itu juga. Cuma yaa saya belajar bahwa sebuah prinsip hidup itu cukup kita dulu yang jalanin, gak usah maksa orang untuk ikut dengan pemahaman kita.

Daaaan gak usah repot mikirin hidup orang kenapa belum nikah ajaa, kenapa itu anaknya ditinggal kerja, kenapa anaknya tetangga dikasih sufor, kenapa itu gak berani resign, kenapa dia begini, kenapa dia begitu. Udah. Udahan, saya mau udahan mikirin itu. Saya mau benerin dulu hidup saya sendiri. Kita semua punya prinsip, dan prinsip yang kita pegang bukan berarti harus jadi prinsip semua orang. Bukan gitu cara mainnya.

Saya masih inget pesannya Teh Febi, dan akan selalu inget…

“Pick your Battle, Chii”

Waktu Teh Febi ngomong itu saya baru setengah ngerti. Saya baru mulai belajar “melepas” satu persatu ambisi saya dan belajar FOKUS sama pertarungan yang benar-benar harus saya hadapi.

Alhamdulillah Teh (mudah-mudahan Teh Febi baca blog ini hehe) sekarang Achii udah bener-bener ngerti pesannya Teteh dan bener-bener BERANI untuk beresin battle yang sebenarnya. Takes time banget ya Teh sampe Achii bisa sadar banyak hal hehehe.

Well.. Jadi kalau sekarang saya terlihat sedang “shut down” di beberapa kegiatan yang selama ini saya kejar dengan penuh ambisi, bukan berarti saya berhenti. Saya sedang memilih pertarungan hidup yang lebih hakiki (mulai keluar bahasa planet geteknya haha).

Gak harus sama dengan orang lain. Dan orang lain juga gak harus sama kayak saya.

Itu aja.

Sekian curhat jelang midnight malam ini. Semoga bermanfaat. Mohon maaf lahir bathin. Selamat bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 😚

Salam Hangat Penuh Semangat,
AchiiYangSemakinBeraniJadiDiriSendiri
*semacam kayak nama FB anak alay 90an πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kopi, Chamomile Tea, Air Putih, dan Pilihan Hidup

Siang itu, hujan mengguyur Taman Hutan Raya Juanda di sudut Dago Bandung. Tidak deras tapi tidak juga kecil. Sambil memegang payung merah dengan logo Ferrari yang kata Atha alay itu, kami berlari-lari mencari kedai kopi yang cukup terkenal di Tahura. Armor Coffee namanya.

Ternyata letak kedai kopi itu cukup nyingcet. Ada di samping kiri pintu masuk hutan kota tersebut. Pemandangan hutan yang eksotis dengan udara dinginnya Bandung emang cukup kawin jika dipasangkan dengan segelas kopi panas. Hemmm… Pikiran saya sudah menerawang dan mulai terasa ringan padahal kopi panasnya belum saya sentuh.

Kedai Armor menyediakan dua tempat untuk konsumennya, outdoor dan indoor. Karena siang itu hujan tentu ruangan indoor lebih penuh dengan pengunjung.

Wangi kopi sudah mulai menggelitik penciuman kami. Ahhh entah kenapa bisa begini. Kami yang sebelumnya gak kepikiran suka kopi hitam tanpa gula, sekarang malah menjadi pemburu citarasa kopi di beberapa tempat yang memungkinkan untuk kami datangi.

Siang itu kami memesan longback biji kopi gayo dengan teknik V60 dan flat bottom.

Saya lupa sih tepatnya pesanan saya apa dan cara nulisnya gimana hahaha. Maap pemula πŸ™ˆ

Bandung, rintik hujan, dan segelas kopi hangat. Beserta percakapan ringan tentang hidup dan impian. Azek.

Ngomong-ngomong soal hobi ngopi. Minuman favorit tiap orang itu beda-beda yaah. Suami saya mah kagak suka banget kopi, jangankan kopi item gak pake gula, kopi ada latte nya aja dia gak begitu suka.  Bapak suami sukanya susu banget. Dari dulu hingga sekarang. Jadi pas awal nikah gak pusing dengan praktek “Cara Membuat Kopi yang Benar dan Enak” karena dikasih segelas susu yang tinggal ngocorin dari kotaknya, udah happy banget. Teh juga gak gitu suka dia mah. Kecuali teh susu. Emmm emang ujung-ujungnya selama ada susu-nya, aman lah πŸ˜‚

Nah, kalau ngobrolin teh, itu ada bahasan tersendiri juga. Sama halnya dengan kopi, teh juga ada pecinta nya dan teh pun terdiri dari berbagai jenis. Beda-beda karakter dan wanginya.

Sebelum suka sama aroma dan citarasa kopi, saya penyuka teh panas juga. Kalau minum teh, apalagi teh garut, saya selalu merasa seperti ada di rumah. Karena memang keluarga hobi banget minum teh, tapi tanpa gula.

Sejak hobi nongkrong di cafe dan mengerjakan banyak hal di sana, salahsatunya bikin tulisan, saya sangat suka pesan peach tea atau lychee tea. Wanginya genit menurut saya hahahaha.. Apalagi peach tea, haaaah berasa ada di surga bagian teras hihi. Wangi dan ya itu, rasanya genit.

Mamak Irma beda lagi, dia suka nya chamomile tea, hanya chamomile tea. Saya baru tau signature tea-nya doi itu chamomile pas ketemuan coaching kemarin di PIM.

Setiap orang itu punya karakter yang khas, itu yang menentukan pilihan hidup mereka akan seperti apa, mulai dari memilih hal kecil seperti memilih mau suka kopi, teh, atau susu, hingga memilih karir apa yang akan mereka jalani dan cintai.

Selama perjalanan life coaching ini saya belajar bahwa setiap orang itu unik. Amat sangat unik dengan setiap apa yang mereka cintai dan apa yang mereka tak sukai. Saya belajar untuk lebih mengerti dengan pilihan orang dan berusaha menghargai, pun mengapresiasi.

Dulunya saya selalu berpikir bahwa kebenaran itu mutlak. Apa yang menurut saya benar, itu lah kebenaran yang benar. Halah belibet amat bahasanya. Mungkin saja seperti itu, tapi untuk beberapa hal kebenaran bisa bersifat relatif.

Tidak semua orang suka kopi dan itu tidak masalah. Penyuka kopi pun terbagi menjadi beberapa mazhab, ada yang suka kopi hitam tanpa gula, ada yang suka kopi dengan campuran lainnya.

Tidak semua orang suka teh dan itu tidak jadi masalah. Penyuka teh pun terbagi menjadi beberapa geng, ada geng yang suka teh yang terbuat dari daun lokal dan tanpa gula, ada juga geng yang suka teh dari bunga-bungaan dengan tambahan sedikit gula.

Tidak semua orang suka susu dan itu tentu tidak harus jadi masalah. Penyuka susu pun terbagi menjadi berbagai macam jenisnya. Ada yang suka susu yaa susu putih aja tanpa diolah, ada juga yang sangat suka susu dan segala olahannya.

Itu karakter.. Itu ke-khas-an. Yang membuat kita berbeda. Yang membuat setiap dari kita istimewa πŸ™‚

Dan air putih? Adakah yang tidak suka air putih? Yaaa mungkin ada aja. Tapi hampir semua makhluk hidup, manusia termasuk di dalamnya, sangat butuh air putih. Menurut beberapa literatur yang saya pernah baca, tubuh kita terdiri dari 70-80% air, dan tentu hanya AIR PUTIH yang bisa mensupply kebutuhan tersebut. Jangan salah, meski hanya air putih, jenisnya pun berbeda-beda. Terbagi juga menjadi beberapa mazhab, geng, whatever you named it.

Saya termasuk yang suka dan sangat menikmati jenis air putih dengan melalui proses elektrolisis. Airnya terasa lebih segar, berasa banget nyerap ke badan, dan bikin pencernaan jauh lebih lancar. Kalau beli eceran emang mahal, itu lah kenapa maksain punya mesinnya.

Mungkin pernah denger Kangen Water? Itu jenis air putih yang saya konsumsi tiap hari. Ada tulisan lama saya yang membahas apa perbedaan Kangen Water ini dengan air lain. Boleh mampir aja yaa ke sini.

Ada juga sebagian orang yang meyakini bahwa air TANPA mineral lebih bagus untuk kesehatan, atau biasa disebut air destilasi. Ada juga yang sukanya itu.

Duh, buat air putih aja pilihan orang bisa beda-beda yaa. Itulah dunia. Itulah manusia. Tuhan Yang Maha Kaya membuat kita ramai dengan berbagai pilihan.

Apapun kopi pilihanmu.

Apapun teh pilihanmu.

Apapun air putih pilihanmu.

Apapun itu, tetaplah menjadi satu dan berpadu menuju Tuhan yang satu.

Karena Dia adalah ujung dari segala apa yang akan kita tuju πŸ™‚

Waktu sudah beranjak. Sore sudah mulai menjelang. Kopi yang tadi dituang sudah habis kami nikmati. Lain waktu sepertinya saya akan kembali ke kedai kopi ini lagi. Sambil sebelumnya menyusuri setiap pohon-pohon tinggi yang menjulang dan begitu cantik menghiasi suasana kota Bandung ini. Taman Hutan Raya Juanda yang baru kali ini saya liat penampakannya kayak apa, padahal lahir dan gede di Bandung hahaha maafkan saya Kang Emil πŸ˜…

Terimakasih Atha sudah menemani siang ini minum kopi. Nanti kita kesana lagi yaaa πŸ™‚

Sekian.

Salam hangat untuk yang baca,
asrifitriasari