Apa itu KIMI?

Akhir bulan Oktober ini, saya memantapkan hati untuk kembali membuka registrasi keanggotaan KIMI. Apa itu KIMI? KIMI adalah singkatan dari Komunitas IBUMUDA Indonesia. Komunitas yang sudah saya bangun sejak tahun 2013. Sejarah lengkapnya seperti apa bisa dibaca di sini yaaa

Flyer Open Register New Member sudah disebar via medsos. Dan tentu saja pertanyaan dasar akan bermunculan bagi yang berminat untuk gabung. Baiklah, buibu tercinta…. berikut akan saya jelaskan secara lengkap tentang keanggotaan KIMI dan apa yang akan didapatkan jika bergabung dengan komunitas ini. Check it out 🙂

Apa itu KIMI?

KIMI adalah sebuah komunitas yang menitikberatkan pada pengenalan diri sendiri. Topik yang akan dibahas adalah tentang bagaimana kita SADAR kira-kira masalah atau penyakit yang selama ini kita hadapi akarnya ada di mana. KIMI akan banyak membahas tentang kondisi emosi dan self awareness dalam menyikapi permasalahan hidup, terutama konflik rumahtangga. Atau mungkin tentang…. mantan. Hehe…

Siapa saja yang boleh masuk KIMI?

As long as kamu WANITA, kamu berhak masuk KIMI. Kelahiran berapapun… Sudah menikah atau belum… Sudah punya anak atau belum… IRT atau wanita bekerja…. Boleh…. boleeeh banget gabung, karena balik lagi ke visimisi KIMI, yaitu mengajak para wanita Indonesia untuk bisa kenal SIAPA diri nya dan MAU dibawa kemana hidupnya.

Saya berada di pulau atau kota “X” apakah bisa bergabung KIMI?

Keanggotaan KIMI tidak berbatas domisili. Di manapun kamu, boleh banget gabung KIMI. Karena kegiatannya lebih banyak dilakukan via grup WA. Sejauh ini kopdar hanya dilakukan di kota Bandung, Jakarta, dan Bogor karena jumlah anggota yang terdaftar yang paling banyak. Jadi tidak menutup kemungkinan jika jumlah anggota di kota mu sudah mulai banyak, bisa bikin kopdar sendiri.

Apa saja kegiatan KIMI?

Kegiatan KIMI terbagi menjadi dua agenda besar, diskusi di grup WA dan kopdar KIMI yang dilakukan di 3 kota tadi. Apa saja yang didiskusikan di grup WA KIMI? Selain masalah domestik kegalauan seorang wanita pada umumnya, KIMI memfasilitasi para member untuk curhat dan berbagi beban. Ada juga hari spesial untuk para ibu yang punya bisnis untuk bukalapak di #JumatJualan. Daaan kegiatan yang paling seru dan dinanti adalah #challengeKIMI, yaitu berupa kegiatan sehari-hari yang ditentukan tema nya, manfaatnya bisa mengulik dan mengorek potensi para buibu yang selama ini belum terkuak. Dan tentu akan ada pembelajaran di balik challenge tersebut. Tidak sedikit dari  pengalaman challenge, banyak member yang jadi lebih jauh mengenal dirinya sendiri.

Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dengan bergabung dengan komunitas ini?

Selain bertambahnya saudara sesama perempuan, para member KIMI yang sudah tergabung selama ini merasakan manfaat berupa perspektif baru dan berbeda dalam menyikapi setiap masalahnya. Karena selama prosesnya kita akan sama-sama KENAL dengan diri kita yang sebenarnya. KIMI bisa menjadi sahabat yang akan menerima kamu apa adanya. Well ini abstrak banget sih emang, tapi ini akan kamu rasakan ketika sudah masuk dan merasakan interaksi di KIMI 🙂

Apa yang membedakan KIMI dengan komunitas lain?

KIMI tidak akan secara khusus membahas tentang pernikahan, sekolah anak, parenting, ASI vs Sufor, MPASI, metode lahiran, pilihan karir, dan topik spesifik lainnya. It’s about us, as a WOMAN.

Apa syarat bergabung dengan KIMI?

Pertama, mengisi database di bit.ly/databaseKIMI. Kedua, siap jadi diri sendiri dan MENERIMA diri sendiri.

Oiya, buat yang belum tau dan kenal. Kenalkan…. Saya Asri Fitriasari atau biasa dipanggil Achii. Seorang ibu dengan satu anak yang sedang hamil anak kedua, koas doktergigi di FKG Unpad, domisili Cimahi, dan seorang wanita yang senang sekali menulis. Saya founder dari komunitas ini. Am I an expert in these things??? Engga. Saya pun masih gesrek, butuh masukan dan diingetinnya. Saya membuat komunitas ini karena sadar bahwa wanita itu sebetulnya SANGAT KUAT, hanya saja suka lupa caranya kuat itu kayak gimana. Saya kumpulkan para wanita dengan segala cerita dan latar belakangnya untuk saling mengingatkan dan menguatkan bahwa KITA ITU HEBAT !

Baiklaaah… sekian informasi singkat tentang KIMI, silakan jika berminat kenalan dan merasakan serunya komunitas ini bisa japri saya via WA 0812 2702 3499 🙂

 

 

THANKYOUUU *smooch*

Advertisements

Menitipkan Anak

image

Ada yang pernah menitipkan anaknya untuk berbagai alasan? Untuk ngantor? Sekolah? Atau sekedar menikmati waktu sendiri?

Saya pernah dengan 3 alasan di atas, dan ini sekelumit cerita tentang pengalaman saya menitipkan anak…. Feel free to judge me, I’ll be okay and feel bodo amat with what you’re thinking.

Anin lahir di usia saya yang masih 23 tahun. Saat itu saya belum selesai koas. Status saya masih sebagai mahasiswa sebuah fakultas yang harus diam sejenak mengurus bayi dengan segala keterbatasan ilmu dan pengalaman. Anak pertama bokkk. Entah sebuah anugerah atau ujian, hingga pada waktunya lahiran saya belum juga mendapat asisten yang bisa membantu saya mengurus Anin dan menjaganya ketika saya harus melipir ke sekolah. Saya terpaksa menjadi ibu yang anteng duduk manis di rumah, membesarkan Anin.

Ketika Anin berusia sekitar 8 bulan, saya mendapat seorang asisten di rumah, tapi belum saya percayai sepenuhnya untuk menjaga Anin.  Saya tetap memegang Anin hampir full 24 jam, kadang adakalanya dititip kalau mau belanja ke Borma atau mau paketin barang ke ruko depan.

Apa yang saya rasakan saat itu adalah, to be honest, rasa lelah yang amat sangat, rasa jenuh yang amat sangat, dan rasa marah (pada diri sendiri karena gak bisaan ngurus anak dan pada lingkungan yang kadang suka bikin sensi). Saya bahagia punya anak, yaaa kali masa punya anak malah gak bahagia, tapi yagitu deeeeh heu.. Hingga akhirnya di usia Anin yang menginjak 1,5 tahun ada kenalan yang masih kerabat dekat bersedia mengasuh Anin jika saya mau kembali ke rutinitas sekolah. Insya Allah yang ini cukup bikin saya percaya dan siap nitipin Anin.

Masa-masa kacrut itu yang cukup membekas dan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Masa di mana pertama kali saya lihat wajah memelas Anin yang gak rela dan gak suka ditinggal. Sedih sih, tapi pas saya udah asik di luar, saya suka lupa kalau punya anak… Haaah my bad. Saya akui itu sebagai suatu kesalahan dan kedodolan saya sebagai seorang ibu. Asik aktif ini itu dan mulai melakukan aksi pembalasan setelah hampir 2 tahun stuck di rumah.

Semua digunakan sebagai pembenaran, kan saya harus beresin sekolah, kan saya harus bantu suami cari duit juga, kan saya harus punya waktu sendiri. Daaaaan segala tetek bengek alasan yang sebenarnya menutupi aksi PELARIAN saya dari sebuah kenyataan bahwa saya sekarang punya anak, dan ngurus anak itu gak semudah yang saya bayangkan 😭😭😭

Sekolah gak beres juga. Bisnis pun malah meluncur bebas gak bersisa. Lalu saya jadinya bahagia?? Yaaa enggaklah ~

Emosi yang gak karuan yang mengisi hari-hari bersama Anin. Ketika Anin masuk usia 3 tahun, ketika dia sudah mulai bisa berkomunikasi sebagai selayaknya ‘manusia’, saya pelan-pelan mulai tersadar bahwa ada jarak yang cukup besar antara saya dengan dia. Peran saya hanya sebagai ibu biologisnya saja, makna ibu yang sebenarnya dia dapatkan dari lingkungan, dari mana saja dia sempat dititipkan.

Sakit. Perih. Dan merasa kehilangan….

Baper is everywhere ketika Anin mulai merengek lebih ingin main bersama Teteh (ART di rumah), Ateu, atau Enin nya. Apalagi kalau dia udah mulai cranky bilang Bunda nya galak atau bilang dia gak sayang sama Bunda nya, gak mau sama Bunda..

Hiksss… Langsung kayak ditabrak pake buldozer, terus yang lagi nyetir buldozernya itu Gajah Afrika yang lagi hamil 9 bulan. Hahaha lebay bin ngarang wkwkwk.

Satu persatu bagian tubuh yang hancur ketabrak buldozer terus yang nyetirnya Gajah hamil 9 bulan itu (tetep yaa) dikumpulin dan saya pasangkan lagi sesuai posisinya masing-masing. Baper won’t take you anywhere, Chiii..

Ayo bangkit, semangat, waras, dan berbenah..

Fase menerima kenyataan adalah fase yang paling menyakitkan. Karena kenyataan hampir tidak selalu sesuai harapan. Karena harapan manusia terlalu cetek jika dibandingkan rencana yang sudah Tuhan siapkan. Jadi saya pun belajar untuk menerima kenyataan dan berhusnudzon dengan segala skenario yang Allah siapkan.

Saya mencoba memaafkan diri saya sendiri terlebih dulu setelah apa-apa yang saya lakukan sama Anin. Mbakbroooo, jangan tanya prosesnya kayak apa yaaa. Memaafkan diri sendiri itu lebih bikin mual muntah daripada memaafkan orang lain. Feeling gulity itu lebih ganas sifatnya dan menyebar ke setiap sudut sel-sel tubuh. Heu.

Setelah saya memiliki kekuatan untuk menerima dan memaafkan apa yang sudah terjadi, ada banyak hikmah yang bisa saya ambil. Ada banyak pembelajaran hidup yang membuat saya sangat tidak mau mengulanginya lagi. Amat amat amat gak mau. Saya gak kenal sih sama si Amat. Tapi katanya Amat juga gak mau. Hahaha apasih garing.

Saya pernah merasakan bagaimana menjadi ibu yang diam di rumah tapi gak pinter bersyukur, saya juga pernah merasakan menjadi ibu yang asik di luar sampe lupa kodrat awal. Dua-duanya gak proporsional…

Tapi dari situ saya bisa belajar bagaimana menjadi ibu yang bisa tetap tenang dan bahagia meski harus diam di rumah, dan tetap tau diri ketika harus beraktifitas di luar rumah. Baru tau loh yaah, prakteknya masih ngesooooooot hehehehe..

Sekarang, saya gakmau keenakan lagi nitipin Anin. Nitipin yaa hanya karena cukup gak memungkinkan bawa-bawa Anin. Mau serepot dan serempong apapun kalau lagi sama dia, saya dan suami harus terima risikonya, terima tanggung jawabnya, dan terima semua proses yang harus dilalui. Kami mungkin bukan ayah dan ibu yang terbaik untuk Anin, figuritas kami sebagai orang tua juga agak agak gimanaa gitu, tapi saya sendiri yakin… semua bisa karena biasa, saya dan suami pasti bisa jadi partner hidup yang baik untuk Anin…. sebelum dia menemukan partner hidup yang lain setelah dewasa nanti. Eaaaa jadi sararedih ginih hahaha..

Terima kasih Anin, kamu adalah guru cilik di rumah… Maaf yaa Bunda suka keenakan dan hobi banget titip-titip Anin. Doakan Bunda cepet lulus kuliahnya yaaaa!!!

Habiburrahmaan, 22 Ramadhan 1437 H
Asri Fitriasari
Ibu yang mulai waras wkwk

Pick Your Battle

Haloo selamat malaaam..

Jelang midnight tetiba pengen pengakuan dosa (lagi). Hahaha hobi amat yaa gue pengakuan akhir-akhir ini.

Efek Life Coaching Sis 😅

Berasa banget hidup lagi di-reset. Berasa bangeeeet hidup lagi di-defrag. Jujur aja Sis, gak enaaakkk. Sesak menyakitkan dada menghadapi kenyataan haha.

Oke.. Izinkan saya melakukan beberapa pengakuan yang bisa jadi kurang nyaman untuk dibaca atau bikin kamu ngomen dalam hati, “Dih kenapa sih si Achii.. Kebanyakan ngemil jengkol kali yaa ini orang, omongannya kok aneh.. Hahaha..”

TERSERAH.

Tulisan ini adalah tulisan tentang revolusi mental yang akhir-akhir ini saya lakukan. Mau komen negatif, silahkaaan. Mau baca sampe abis, silahkan. Manatau bisa jadi insight baru untuk hidup para Sis dan Bro yang kebetulan baca.

Oke, pertama tentang MENIKAH.

Dulu saya anaknya Nikah Minded banget.  Getol koar-koar “Ayo dong NIKAH secepatnya. Makin muda nikahnya makin berjaya kehidupannya. Percayalah, percayalaaaah!”

Dan Allah dengan sangat baik hati ngasih banyak cerita, drama, dan ujian yang bikin saya mikir… Mikiiiir banget. Gak bisa Chii, lo nyamain jalan hidup lo yang (katanya) bahagia nikah muda lalu beropini kalau orang yang nikahnya cepet itu udah pasti bener hidupnya. NO! Ada banyak variabel dari setiap hidupnya orang yang bikin dia belum bisa menikah dan atau nunda nikah.

Kedua tentang IBU RUMAH TANGGA.

Duileee inget banget deh dulu saya pernah ngetwit tentang #FullTimeMom kemudian cerita betapa bangga dan bahagianya saya jadi ibu yang stay di rumah dan menganggap ini pilihan terbaik seorang wanita. Banyak yang muji dan nge-ritwit, dan pasti banyak juga yang ngerasa sakiiit ketika baca apa yang saya twit. Astaghfirullah. Terlepas ada yang pro dan kontra tentang apa yang saya sampaikan, tapi saat saya melakukan hal itu, saya cukup sotoy dan melihat sebuah masalah dari satu sudut pandang aja. Kembali, Allah dengan baik hati ngasih skenario hidup yang bikin saya harus ninggalin anak dan memiliki aktifitas layaknya ibu bekerja. Nah udah deh dari situ saya bisa liat dan bener-bener ngerasain suka dukanya jadi ibu bekerja, enaknya apa, kesiksanya kayak apa. Masya Allah beneran langsung taubat dari segala prasangka tanpa sebab, yang selama ini saya umbar-umbar..

Ketiga, masalah jadi PEKERJA atau PENGUSAHA.. Mana yang lebih mulia?

Duh kalau yang ini agak ngejelimet kalau diceritain. Cuma intinya sih dulu saya yakin banget kalau jadi pengusaha itu mulia banget. Apalagi pengusaha yang shaleh. Duh impian banget deh. Saban hari saya berjuang jadi pengusaha yang shaleh. Dan dengan pede nya maksa suami untuk RESIGN aja. Tanpa tau bakal siap atau engga dengan konsekuensinya.

Kejadian demi kejadian datang.. Bikin saya mikir dan ngerti… Hidup gak sekeras itu. Dilemesin aja dulu kali, Chii..

Kesalahan yang dilakukan berulang-ulang adalah, saya semangat melabuhkan pilihan sama sesuatu hal yang saya pun belum kebayang konsekuensinya akan seperti apa. Mostly karena liat orang sukses, terinspirasi orang sukses tapi kebablasan.

Well. We have our own path of life. Termotivasi dan terinspirasi itu gak salah. Yang salah itu kalau kita ngikutin orang lain tapi gak napak sama hidup kita sendiri.

Kitaa?? Elo aja kali chiii hahaha ~

Dari sejak dulu suami selalu bilang, kita kudu sadar sama apa yang kita mau, tetep zero, dan mikir jernih.. Gak harus apa yang kamu denger langsung kamu kerjain.

Baru ngerti dan sanggup ngejalaninnya sekarang hahahaha. Maap yaa Pak Suami..

Saya sadar kalau selama ini apa yang saya kejar itu cuma ILUSI. Seperti yang butuh padahal engga. Seperti yang harus kesampean padahal bukan itu tujuan akhir yang harus dicapai.

Jadinya saya up and down gak jelas. Kalau lagi enjoy yaa enjoy bangeeet, kalau lagi ngedrop yaa ngedrop banget. Saya sendiri gaktau apa yang sebenarnya saya inginkan. Tanpa sadar berjalan sambil membawa luka kemana-mana dan cari penawar dengan racikan yang salah.

Alhamdulillah, sekarang satu persatu cahaya mulai keliatan. Mulai bisa napak ke bumi dan SADAR tentang siapa saya yang sebenarnya dan BUTUH nya apa.

Alhamdulillah, sekarang satu persatu impian yang udah pernah ditulis mulai saya hapus. Lohkok? Yaa justru karena saya sudah semakin kenal diri saya dan ternyata bukan ke arah sana larinya.

Hal yang paling menyenangkan adalah ketika kita gak gampang terbawa suasana atau intervensi dari luar diri kita. Ajeg. Yakin. Pageuh sama intuisi yang Allah titipkan pada hati kita.

Wah masih proses sih sebenernya itu juga. Cuma yaa saya belajar bahwa sebuah prinsip hidup itu cukup kita dulu yang jalanin, gak usah maksa orang untuk ikut dengan pemahaman kita.

Daaaan gak usah repot mikirin hidup orang kenapa belum nikah ajaa, kenapa itu anaknya ditinggal kerja, kenapa anaknya tetangga dikasih sufor, kenapa itu gak berani resign, kenapa dia begini, kenapa dia begitu. Udah. Udahan, saya mau udahan mikirin itu. Saya mau benerin dulu hidup saya sendiri. Kita semua punya prinsip, dan prinsip yang kita pegang bukan berarti harus jadi prinsip semua orang. Bukan gitu cara mainnya.

Saya masih inget pesannya Teh Febi, dan akan selalu inget…

“Pick your Battle, Chii”

Waktu Teh Febi ngomong itu saya baru setengah ngerti. Saya baru mulai belajar “melepas” satu persatu ambisi saya dan belajar FOKUS sama pertarungan yang benar-benar harus saya hadapi.

Alhamdulillah Teh (mudah-mudahan Teh Febi baca blog ini hehe) sekarang Achii udah bener-bener ngerti pesannya Teteh dan bener-bener BERANI untuk beresin battle yang sebenarnya. Takes time banget ya Teh sampe Achii bisa sadar banyak hal hehehe.

Well.. Jadi kalau sekarang saya terlihat sedang “shut down” di beberapa kegiatan yang selama ini saya kejar dengan penuh ambisi, bukan berarti saya berhenti. Saya sedang memilih pertarungan hidup yang lebih hakiki (mulai keluar bahasa planet geteknya haha).

Gak harus sama dengan orang lain. Dan orang lain juga gak harus sama kayak saya.

Itu aja.

Sekian curhat jelang midnight malam ini. Semoga bermanfaat. Mohon maaf lahir bathin. Selamat bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 😚

Salam Hangat Penuh Semangat,
AchiiYangSemakinBeraniJadiDiriSendiri
*semacam kayak nama FB anak alay 90an 😂😂😂

Belajar dari Khadijah

Saat saya mengikuti seminar Pak Jamil Azzaini mengenai Proposal Hidup, di acara tersebut dijelaskan mengenai impian dunia dan impian akhirat. Apa yang menarik bagi saya adalah ketika beliau menceritakan impian akhiratnya yaitu, ingin memeluk Rasulullah SAW di surga kelak. Sehingga apa yang beliau kejar dan kerjakan dalam impian dunianya adalah agar Rasulullah bangga dan ingin memeluknya. Wow, it’s cool, isn’t?

Saya segera bertanya pada diri sendiri. “Lah terus persisnya impian akhirat gue apaan ya?” Perasaan cuma impian dunia aja yang kebayang gambarannya kayak apa. Impian akhirat, masuk surga doang? Kurang bikin greget kalau kata Pak Jamil. It’s everybody’s dream. Too cliche.

Well, kalau Pak Jamil ingin memeluk Rasul. Saya pengen peluk istrinya ajaa. Istri pertama beliau yang begitu setia dan total mendampingi dalam suka dan duka, dalam susah dan senang, dan dalam setiap juang serta menang. Siapa lagi kalau bukan Khadijah binti Khuwailid.

Beliau adalah salahsatu wanita yang Allah jaminkan surga yang terindah di akhirat kelak. Ihhhh pingiiiin sekali yaa rasanya saat ‘istirahat’ nanti kita bisa satu atap dengan wanita surga bidadari dunia ini. That will be my ultimate dream.

Bagi siapa yang belum kenal Khadijah,  dia adalah pengusaha wanita sukses yang pada usianya ke-40 tahun meminang Muhammad bin Abdullah yang berusia 25 tahun. Khadijah besar dari keluarga yang terpandang di kota Makkah pada masa itu. Ia terkenal sebagai wanita yang santun dan istimewa perangainya. Berkat kecerdasan dan ketajaman intuisinya, ia mampu mengembangkan usaha peninggalan suaminya yang pertama dan kedua saat mereka wafat. Khadijah tumbuh menjadi wanita yang kuat secara akhlak, finansial, dan hubungan sosialnya. Maka tak sedikit pula lelaki yang ingin sekali menikahi Khadijah saat ia ditinggal wafat suaminya. Tapi Khadijah menolak dan memilih berjuang sendiri untuk membesarkan 3 anaknya dan mengembangkan bisnisnya tersebut.

Hingga pada satu ketika, Tuhan pertemukan Khadijah dengan pemuda Mekkah yang pandai dalam urusan dagang karena terkenal dengan kejujurannya, yaitu Muhammad bin Abdullah atau sering dijuluki Al Amin (Orang yang Terpercaya). Selain rasa puas karena berhasil melakukan kerja sama dagang dengan Muhammad, Khadijah pun menyimpan rasa kagum pada sosok Muhammad yang sederhana namun penuh karya nyata.

Singkat cerita, akhirnya mereka menikah dan bersama mengemban amanah dakwah penyebaran agama Islam. Bukan hanya sebagai istri, namun Khadijah adalah sahabat terdekat Muhammad saat itu yang menemani beliau berjuang menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Khadijah adalah orang pertama yang memeluk, menenangkan, dan mendukung Muhammad sepenuhnya saat amanah sebagai Nabi diturunkan padanya. Bukan hanya saja dukungan berupa moril tetapi juga harta yang begitu banyak sudah Khadijah sedekahkan untuk kepentingan ummat. Khadijah dengan cekatan dan juga cermat mengurus semua urusan domestik rumah tangga agar Muhammad dapat fokus dalam bidang bisnis dan dakwahnya. Kolaborasi suami istri yang patut dijadikan teladan bagi saya dan untuk kita semua.

Pernah dengar istilah alpha female? Sosok wanita yang kuat dalam karir dan juga pencapaian hidupnya yang lain? Sebut saja Dian Sastro, Najwa Shihab atau mungkin Oprah. Khadijah adalah salahsatunya, bahkan ia tumbuh dan sudah menjadi inspirasi sejak 14 abad lalu. Kiprahnya dalam dunia perdagangan (karir), penyebaran Islam, dan kerumahtanggan benar-benar membuat kagum milyaran manusia sejak zamannya hingga sekarang, termasuk saya.

Ahhh rasanya terlalu singkat, amat sangat singkat jika saya harus menceritakan keistimewaan Khadijah, sang wanita surga bidadari dunia lewat tulisan kecil ini.

Apa yang saya dapat dari membaca beberapa artikel biografi beliau, baik dalam sebuah buku maupun googling kesini kesitu, ada beberapa poin yang menjadi titik semangat dan inspirasi bagi saya seorang wanita yang sudah menjadi istri dan ibu dari seorang Khadijah.

1. Khadijah menunjukkan pada kita bahwa sebagai wanita, kita harus tumbuh menjadi insan yang kuat dan mandiri. Meski sudah ditinggal wafat dua kali oleh suaminya, ia justru berkembang menjadi saudagar kaya di  kotanya. Terkenal dengan kepiawaian dagang dan kesantunan karakternya.

2. Khadijah menunjukkan bahwa sebagai wanita kita harus tumbuh menjadi insan yang memiliki wibawa, dalam hal ini maksudnya adalah kuat menjaga integritas dan harga diri. Tidak mudah mengeluh dan menyerah pada kondisi.

3. Khadijah menunjukkan pada kita bahwa sebagai wanita kita punya hak untuk menyampaikan gagasan dan keinginan, dengan cara yang baik, proporsional dan cerdas. Dia lah yang meminang Muhammad untuk menjadi pendampingnya. Dia tau apa yang dia mau dan butuhkan, yaitu Muhammad dengan karakternya, yang ia yakini betul mampu melengkapi langkah juangnya. Dalam kasus ini, saya belajar bagaimana Khadijah memadukan antara logika dan rasanya. Berani dan terukur!

4. Meski terpaut 15 tahun lebih tua, tidak menjadikan Khadijah sebagai istri yang dominan dan merasa lebih tau daripada Muhammad, padahal jika dilihat dari pengalaman hidup jelas Khadijah lebih berpengalaman. Namun, Khadijah mampu mendampingi, menyamakan posisi dan patuh sepenuhnya sebagai istri bagi Muhammad. Mampu menurunkan ego dan menyelaraskan setiap misi yang mereka jalani bersama.

5. Khadijah dan Muhammad mengajarkan pada kita tentang kerja sama antar suami istri yang apik. Saling mendukung, tidak saling menuntut satu sama lain, tapi memberikan yang terbaik sesuai porsinya masing-masing.

6. Apa yang Khadijah lakukan adalah semata-mata bentuk pengabdiannya pada Tuhan. Itulah yang sebetulnya membuat beliau tak henti dan tak lelah untuk mengabdi dan mendampingi Sang Nabi.

Setiap episode hidup Khadijah tentu tidaklah mudah baginya, tapi yang membuat saya salut… Apapun kondisinya, dia tetap menjadi Khadijah yang kuat. Khadijah yang terbaik di setiap pencapaiannya. Hingga Tuhan pun menganugerahkan pendamping hidup yang tidak biasa, seorang nabi yang kiprahnya begitu lestari hingga akhir zaman. Ada Khadijah yang selalu menguatkan Muhammad dalam beratnya dakwah penyebaran Islam. Tuhan pun langsung menobatkan beliau sebagai wanita terhormat yang dijanjikan surga.

Duh, rasanya ingin menyamainya saja sudah hadir nuansa nirwana di pelupuk mata. Apalagi benar-benar berjuang untuk memiliki karakter yang sama dengannya.

Wanita sudah Tuhan ciptakan begitu mulia dan istimewa dengan setiap kodratnya.

Karena hidup di dunia, jerihnya adalah untuk beroleh surga, nikmati saja setiap episode ujiannya. Sebagai istri yang taat, sebagai ibu yang mengajarkan banyak manfaat, dan sebagai kader terbaik Tuhan agar keselamatan dan kedamaian semakin luas tercipta.

Semoga kita tumbuh menjadi Khadijah-Khadijah berikutnya bagi pasangan, anak, dan lingkungan kita. Menanam benih kebaikan agar menuai hasilnya di taman surga kelak.

Biarkan setiap tangis dan rasa perih menjadi cerita indah yang akan Tuhan usap dengan kenikmatan tiada bertepi.

Selamat berjuang menjadi Khadijah yang istimewa dalam hidupmu. Semoga Allah mempertemukan para wanita tangguh  dan patuh dalam atap yang sama, surga terbaik di akhirat sana…

Salam hangat penuh semangat,
Asri Fitriasari
Part of Komunitas Ibu Muda Indonesia

Kehamilan di Luar Kandungan

Sore itu hari Jumat tanggal 18 Oktober, saat saya, Atha, dan Mas Edo sedang duduk manis ngobrol cantik (/ganteng untuk Mas Edo nya hihi) tiba-tiba kerasa ada kontraksi di bagian tulang ekor. Duh kenapa ini kayak mau ‘dapet’ aja. Tiap berapa menit pas lagi ngobrol, ada kontraksi.

“Lo ga apa-apa, chii?”

“Gak apa-apa tha. Gue suka ngerasain kayak ginian tapi udah lama juga gak ngerasa kayak gini. Biasanya sih kalau mau dapet, tapi gue baru dapet kemarin sih.. Gatau nih, kambuh lagi…”

“Coba di rontgen deh chi. Serem kalau ada apa-apa di tulang ekor lo..” saran Mas Edo yang ikut khawatir ngeliat saya yang meringis kayak nahan sakit.

“Pulang aja yuk. Udah malam, kasian pak Indra di rumah sendirian…”

“Ayok.. Biar gue bayar billnya.”

Dan dua manusia baik hati itu bayarin acara ngopi bareng sambil ngobrol cantik (/ganteng untuk Mas Edo nya hihi). Kita bubar, ga pake cipika cipiki seperti seharusnya sahabat pisahan ngumpyl. Yeaaa kumpulan orang lempeng, what do you expect?

Perjalanan menyetir ke rumah baik-baik saja. Cuma badan emang mengalami rasa ga enak yang cukup lumayan. Sesampainya di rumah, keluar mobil udah mulai bungkuk-bungkuk. Duh lumayan yaah kok sakitnya nambah.

Buka pintu, ucapkan salam, ganti baju dan langsung selonjoran di kasur…

“Yaaang perut aku sakit. Kenapa ya.. Boleh minta pijit ga?”

“Ya ampun kenapa kamu?? Sini aku pijitin. Kaniiin, sini Nin.. Bunda sakit nih..”

Kanin nyamperin sambil masang muka khawatir dan cerewet nanya-nanya. Kenapa Bunda, sakit apa Bunda, dan rentetan pertanyaan lainnya yang sebenernya agak males saya jawab karena plis ini sakitnya kok makin nambah.

Malam makin larut. Pak Indra mencoba berbagai cara biar saya lebih enakan dan rileks alias ga mikir aneh-aneh.

Jam 10 malam ada darah yang keluar. Loh kok ‘dapet’ lagi pikir saya heran ditambah rasa khawatir yang bikin suasana hati cukup mencekam…

“Yang, ke UGD aja yuk. Kok agak serem yaa sakitnya sampe keluar darah..”

“Yaudah hayo buruan ganti baju. Mau ke RS mana?”

Awalnya kita sepakat untuk ke RS bersalin di perempatan depan komplek, tapi ga terima kasus emergensi selain lahiran. Akhirnya kita pun melipir ke Hermina. Saat itu, buat kita paling deket dari rumah.

Nyampe di Hermina, pasien UGD lagi banyak-banyaknya. Sempet dianggurin beberapa saat sampe akhirnya dokter jaga nyamperin saya yang masih meringis kesakitan, dikasih obat pereda sakit dan si dokter kembali wara-wiri nyamperin pasien gawat lainnya.

“Ditunggu aja ya Bu reaksinya, kita sambil observasi…”

Saya dan suami pun cuma bengong dan culang-cileung ga jelas. Ini jam set 11 malem. Saya nahan sakit, dia nahan ngantuk.

Tik tok tik tok tik tok. Saya ga diapa-apain lagi sama dokternya. (Emang lo pengen diapain chiii ama dokternya?? Haha.. *tengah malem mikirnya agak sengkle)

Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk pulang aja, gak ditindak lebih lanjut juga. Bobo di kasur sendiri jauh lebih nyaman daripada di kasur rumahsakit, apalagi ruang UGD.

Sampe rumah saya gak bisa tidur. Dia lelap tidur.

Waktu bertambah, sakit juga bertambah. Sekarang udah merembet ke punggung dan bahu. Ya ampuun ini kenapa?!?!?! Gerak dikit sakiiiit banget rasanya berasa otot berubah kayak papan. Keras banget. Gerak aja sakit apalagi berdiri. Tapi karena sekitar jam 3 pagi saya kebelet buang air, akhirnya maksain ke toilet sambil tertatih-tatih jalan. Dua kali ke toilet, dua kali saya jatoh. Limbung gak jelas.

Waktu shubuh berkumandang dan sakitnya makin gak ketahan. Saking sakitya nangis pun udah ga sanggup, udah ga bertenaga. Ya Allah, ini kenapa yaaa huhuhu.

Sekitar jam 7 pagi, Bu Yanti, terapis Yoga kesayangan saya, akhirnya nyampe rumah juga. Iya, sejak kejadian sakit malamnya saya gak berhenti update kondisi ke beliau. Dia yang paling tau struktur badan saya kayak apa, jadinya curhatnya ke Bu Yanti. Bu Yanti mencoba ngulik apa yang salah sama badan saya. Asumsi kami semua saat itu, ini ada salah urat atau ga miss-alignment otot. Bu Yanti dengan apik mijitin saya. Balik badan pun saya teriak-teriak saking sakitnyaaaaaaaa….

Jam 8 Mama nelp suami minta jemputin Fajar di gerbang tol. Pak Indra akhirnya menceritakan lah kondisi di rumah saat ini kayak apa. Padahal niatnya emang gak mau cerita ke Mama, takut panik sendiri soalnya. Dan ya, pas tau saya lagi sakit Mama dan Papa langsung melipir ke rumah ingin lihat kondisi saya. Mereka pun (Mama doang sih) meng-cancel agenda seminar dies nya di Trans Hotel.

“Teteh harus cepet dibawa ke rumah sakit. Kita periksa syarafnya. Takut kenapa-kenapa..”

Pagi itu pun kondisi rumah semakin hectic. Ditambah saya yang akhirnya pingsan dengan muka udah pucat pisaaaan.

Sekitar jam 9 saya sampai di UGD RS Santosa, ditangani oleh dr Dion (ahhh pahlawan banget deh dokter ini). Saya langsung dicek dari atas sampe bawah, ditanya anamnesa dsb, langsung pasang infus sambil nunggu pemeriksaan lebih lanjut karena saya udah semakin gak berdaya.

Awalnya Mama minta dirujuk ke spesialis syaraf dan minta saya di MRI. Asumsi kami masih sama, kayaknya ada syaraf atau otot yang bermasalah, tapi dr Dion minta kita untuk USG dan cek urin dulu. Ya kita nurut aja deh.

Saya pun di USG sambil nahan-nahan sakit karena badan saya agak ditekan-tekan. Dokter spesialis radiologinya ngasih info kalau ada banyak sekali cairan bebas yang bertebaran tidak pada tempatnya, dan usus saya bengkak. Masya Allah, saya kenapaaaa. Saya langsung down banget waktu denger hasil USG. Agak kecewa karena masa sih badan saya seancur itu, padahal kan padahal kaaan rajin olahraga rajin minum air putih dan ga nakal-nakal banget pola makannya. Hati saya hancur dan makin spooky aja kondisi saat itu. Kemungkinannya ada dua, kalau ga pecah usus, ada kehamilan di luar kandungan. Waaaks dua-duanya kok ya serem banget yaa Dok 😦

Saya pun melakukan tes urin, dan hasilnya apa saudar-saudara?? Saya POSITIF hamil! Lhaaa kok bisaaa, secara tiap bulan rutin ‘dapet’ Ah saya cuma bisa pasrah ajaa. Mama dengan sigap langsung ngurus administrasi dan segala hal menyangkut persiapan operasi saya. Menurut dokter, ini harus cepet ditindak karena pendarahan udah sampai organ hepar (hati). Innalillahi 😦

Saya udah mikir yang aneh-aneh deh. Udah speechless dan cuma bisa banyak doa dan dzikir aja. Mama pun dengan kalemnya nenangin saya dan kasih semangat.

“Gapapa teh. Ini operasi biasa kok. Insya Allah bisa ditangani. Tenang ajaa..”

Kekuatan terbesar saya saat itu yaa karena ngeliat Mama yang super tenang dan gak telihat ngedrop sama sekali ketika nyiapin operasi saya. Oke, all is well chii!

Saya minta Syifa (adik bungsu saya) untuk segera kabarin suami dan Atha. Minta doa dan kelancaran. Oiya, suami kebetulan lagi ada diklat di kantornya yang bikin doi ga bisa nganter ke UGD, thanks God ada Mama yang bisa tetep nganterin ke UGD. Ga usah ditanya reaksi suami pas tau diagnosa saya yaa. Yang jelas dia panik dan kaget banget.

Saya pun udah gamau lagi pegang hape, gamau mikirin apa-apa selain dzikir dan taubat. Ya mana tau mana tau kaaan 😥

Dokter spesialis kandungan yang akan menangani saya nyamperin, dia liat kondisi saya dan memperkenalkan diri bahwa dia yang akan ambil tindakan operasi pengangkatan saluran tuba yang pecah tersebut.

“Duh badannya udah pucat begini yaa. Semoga ga kenapa-kenapa..” muka dokternya terlihat khawatir.

YA AMPUN DOK, KATA-KATANYA BIKIN TERMOTIVASI BANGET DEH huhuhuhu..

“Tapi bisa kan ya dok?” saya mengiba prognosa yang baik sama dokternya. Oiya, prognosa itu kemungkinan sembuh ketika dilakukan terapi (istilah medis).

“Yaa kita lakukan apa yang bisa kita lakukan, ini tahapannya udah masuk life saving..”

Makin pucet deh kayaknya gue denger begituan.

Arrrggghhh.. it’s so scary for me. Pak Indraaa cepet sini, I wanna hold your hand. I need you so much bangeeet huhuhu.

Saya dipasangin lagi infus. Saya disiapkan untuk dilakukan operasi pengangkatan saluran tuba yang pecah dan pembersihan pendarahan. Beneran gak nyangka diagnosisnya begini. Lahaulawalquwwata ila billah..

Jam 14.40 saya masuk ruang OK. Bius total. Dan saya gatau apa yang terjadi di ruang itu. Bismillah… Ya Allah Engkau yang memiliki tubuh ini, Engkau lebih tau apa yang terjadi dalam tubuh ini, Engkau yang menggerakkan setiap tangan dan pikiran serta pengetahuan orang-orang yang akan merawat hamba, Engkau yang mengatur setiap alat dan bahan yang ada di ruang ini. Tolong hamba ya Allah, berikan kemudahan dan kelancaran. Izinkan tubuh dan jiwa hamba normal kembali  dan melanjutkan hidup ya Rabb.. Izinkan hamba… *ambil tissue*

Kayaknya sih sekitar jam 5 saya udah mulai sadar, dengan kondisi yang ga sesakit sebelumnya. Cuma lagi sekuat tenaga aja ngumpulin nyawa setelah berjam-jam dibius Alhamdulillah operasi sesarnya lancar. Bayinya ga selamat karena hanya berupa tumpukan darah, hiks.

Sekitar jam 7 kayaknya saya baru keluar dari ruang recovery dan dianter ke kamar rawat inap. Badan jauuuh lebih nyaman dan gak se spooky tadi. Pas nyampe kamar, kesadaran udah mulai ngumpul secara utuh. Saya baru sadar banyak banget yang nungguin saya tadi operasi. Thanks yaaa you guys..

Kejadian ini mendadak banget, di luar dugaan dan sekarang saya hanya bisa bersyukur amat banyak untuk semua pertolongan Allah yang datang di waktu yang tepat dan kemudahan dan kelancaran yang Allah kasih.

Saya introspeksi banyak hal juga dari kejadian ini, saya yakin ada pesan Allah yang ingin Dia sampaikan. Bisa berupa teguran, atau kesempatan untuk naik kelas.

Alhamdulillah, terima kasih yaaa untuk semua yang sudah mendoakan. Semoga kejadian KET atau hamil di luar kandungan ini ga kejadian sama kalian. Asli nyeremin banget, lebih sakit dan lebih serem daripada waktu lahiran dulu.

Terima kasih yaa udah mau ‘denger’ saya cerita kejadian istimewa kemarin. Semoga bermanfaat, dan tentu harus tetap semangaaat!

Salam hangat,

asriFit

P.S

Sampe lupa, kalau ada yang nanya kejadian ini penyebabnya apa. Kata dokternya sih karena ada infeksi dari alat kontrasepsi yang saya pake (IUD), jadi ada sperma yang lolos tapi gak bisa balik lagi ke kantong rahim setelah pembuahan dengan sel telur. Alhasil tumbuhnya di saluran tuba, bukan di kandungan yang seharusnya. Hemmm serem yaa efeknya di saya bisa begini. Semoga bisa jadi informasi tambahan buat para ibu awareness tentang alat kontrasepsi. Saya sih udah gakmau pake lagi, trauma. KB alami aja deh atau ga bapaknya aja yang ‘disarungin’ hehe. Semoga bermanfaat!

grand #launchingIBUMUDA

Semua berawal dari kebutuhan sendiri, keluh kesah pribadi. Saya dan teman-teman di KAMA syar’i berinisiatif membuat kumpulan para IBUMUDA untuk saling tukar cerita dan menguatkan. Hari itu tanggal 11 Desember 2013 kami berkumpul untuk pertama kalinya di Dapur Eyang Resto di jalan Tubagus Ismail. Terdaftar ada 22 wanita, baik single maupun sudah menikah, baik yang sudah punya anak maupun belum. Senang sekali rasanya punya teman baru dengan berbagai latar belakang berbeda. Sejak saat itu dibuatlah kesepakatan bersama untuk bertemu secara rutin sebulan sekali dengan konsep ketemuan semacam arisan.

Gak kerasa udah setahun berlalu, semua anggota sudah menang. Ilmu dan pengalaman pun sudah bikin kenyang. Rasanya kurang puas jika ini hanya berhenti dalam 22 orang saja. Akhirnya dengan modal nekat bin iseng, kami yang ber 22 orang ini berinisiatif membuka ‘lowongan’ baru untuk IBUMUDA dan wanita lainnya untuk ikut gabung, sekaligus meresmikan kumpulan ibu-ibu rempong ceria ini menjadi sebuah komunitas penuh manfaat.

Persiapan mendekati hari H tentu saja penuh drama dan keribetan ala ibu-ibu. Saya pribadi sempat was-was untuk mengadakan acara ini, aduh bisa gak ya? Jujur aja saya pun mengurus dan mempersiapkan acara ini benar-benar di waktu sisa antara sekolah, mengurus anak, dan menjalani bisnis harian. Tapi karena semangat dalam tim yang gak pernah padam meski hanya berbentuk lentera kecil, saya tidak menjadi goyah dan menyerah. Acara ini harus jadi, sesederhana apapun yang bisa kami lakukan. Niat baik ini harus tetap direalisasikan. Akhirnya dengan segala tantangan, ditentukanlah tanggal event sakral ini di 21 Desember 2014. Pertimbangannya karena menyesuaikan dengan kesanggupan panitia dan mendekati peringatan tahunan hari Ibu di Indonesia.

Melalui acara yang dibuka untuk umum ini, kami semuanya kembali belajar tentang karakter, profesionalitas kerja, totalitas berbagi, dan hal lainnya. Alhamdulillah grand launching pun berjalan apik dan lancar di luar ekspektasi kami sebagai panitia. Antusias dan animo para wanita muslimah untuk turut belajar bersama di acara ini begitu besar. Awalnya sempat khawatir dengan jumlah peserta yang tidak memenuhi kuota anggaran.. tapi alhamdulillah pertolongan Allah begitu dekat, Allah pertemukan hati para IBUMUDA dan wanita lainnya untuk berkumpul dan berbagi di acara ini. Hari H, ruangan acara FULL SEAT! Peserta yang daftar di hari H on the spot cukup banyak. Partisipan stand bazaar pun di luar ekspektasi kami. Kebayang kan paciweuh nya kita, tim masih pada pemula tapi antusias peserta begitu hebat. Alhamdulillah alhamdulillah…

Sedikit review dari acara #launchingIBUMUDA kemarin, saya sangat berterima kasih dan angkat topi pada para pembicara dan narasumber yang hadir. TOP MARKOTOP JOS GANDOSS SIP MARKOSIP NYUS MAKNYUSS YUK! Pertama acara diawali oleh materi superluarbiasa dari Bunda @fufuelmart penulis buku best seller Menikah itu Mudah, Jodoh Dunia Akhirat, dan masih banyak lainnya.

Saya pribadi gak begitu menyimak isi materinya. Hiks. Karena sibuk lalu lalang kesana kemari di backstage untuk memastikan printilan lain sudah selesai dan tepat pada tempatnya. Tapi ada salahsatu teman saya yang bercerita tentang materi yang dibawakan Fufu, bahwa kekesalan dan keresahan yang dialami IBUMUDA ada karena trauma masa lalunya. Jujur aja deh yaa, pernah kan kita kesal atau kecewa dengan apa yang dilakukan Ibu Bapak kita di masa lalu? Apakah itu terpatri kuat an membekas hingga sekarang. Nah, hati-hati, itu bisa jadi polemik untuk kehidupan rumah tangga kita sekarang. As always, materi yang dibawakan Fufu ini selalu bikin JLEBBB dan bikin penasaran untuk tau lebih jauh, langsung deh kayaknya para peserta pengen konsultasi secara pribadi, minta di-cleansing dari trauma masa launya.. hehehehe..

Beranjak ke sesi berikutnya, alhamdulillah saya kedatangan tamu istimewa, teman sekelas di Kajian Dasar Islam Intensif nya ust Fatih Karim, namanya Teh Elma. Beliau adalah salahsatu penggerak dan penggagas SEMAI 2045. Selamatkan Anak Indonesia 2045. Pergerakan ini concern membahas tentang kiprah orang tua dalam proses pendidikan dan pendampingan anaknya. Kasus kriminalitas saat ini udah sangat banyak, dan yang paling bikin ngeri adalah pelaku dan penikmatnya sudah merambah pada usia anak huhuhu. Kemarin teh Elma berbagi informasi tentang pergerakan ini dan mengajak IBUMUDA dan wanita lainnya yang ikut acara kemarin untuk sama-sama bergerak dan siaga 1 terhadap segala kejahatan, terutama bullying dan kejahatan seks pada anak. Thankyou teh Elma, semoga ke depannya kita bisa bersinergi lebih erat lagi yaaa…

Sesi setelahnya adalah talkshow bersama teh Sasa dan teh Atalia Kamil. Ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 11.00 saya dan teh Sasa memulai lebih dulu berhubung Teh Ataia masih di jalan. Ah seruu banget deh sama ustadzah gaul satu ini.. Yang bikin terharu adalah beliau masih ingat saya yang dulu pernah mengudang beliau saat saya masih SMA. Amaazeeee.. Materinya pun asiiik. Materi keislaman yang nyaman untuk disimak dan dipraktekkan. Teh Sasa berbagi ilmu bahwa kiprah perempuan memang banyak. Wanita yang ditempa harus menjadi anak yang baik, istri yang shaleha, ibu penuh teladan, dan sosok penggerak ummat. Kuncinya sih sabar dan jangan dibawa beban. Ketika kita tau apa yang kita lakukan adalah ibadah dan TRANSAKSI sepenuhnya adalah hanya dengan Allah, semua akan lebih santai dijalani. Jangan menuntut di dunia. Bukan di sini waktunya seorang hamba diapresiasi atas segala jerih payahnya. Kunci kehidupan setelah menikah itu fastabiqul khairat bersama suami. Gak usah nunggu siapa yang lebih dulu untuk belajar dan lebih baik, baik suami maupun istri harus berlomba-lomba melakukan dan menyebarkan kebaikan. Biar Allah yang menilai dan membalsanya di akhirat sana. Ahhh, bener banget deh. Kita kan selama ini selalu merasa diri paling repot, riweuh, rempong, dan sulit ceria. Padahal semua yang kita lakukan adalah ibadah indah untuk mendapat kasih sayang Allah. Penting untuk kita untuk tau kemana semua akan berakhir, dan kemana kita akan pulang 🙂

Selanjutnya adalaaah.. sesi istimewa bersama Ibu Walikota. Waw banget yaaa teh Atalia bisa berkenan hadir di acara ini. Sampe speechless sendiri. Nuhuun teh atas waktu, cerita, dan supportnya. Kemarin di #launchingIBUMUDA beliau berbagi kisah seru tentang perjalanan pernikahan di awal bersama Kang Emil. Seruu, haruuu, dan penuh dengan inspirasi. Bagaimana Teh Ataia betul-betul sabar dan mendampingi suaminya untuk mengejar impian. Bagaimana teh Atalia menelaah bahasa cinta pasangan. Jadi yaa bu ibu, kalau misalkan kita kesel sama pasangan.. Coba berhenti sejenak untuk menelaah bahasa cinta kita dan pasangan seperti apa. Apakah dengan kata-kata, sentuhan, hadiah, atau apa..

Teh Atalia juga mengajarkan kita untuk tetap tangguh dan pantang menyerah dalam setiap fase hidup dan tantangan di dalamnya. Dinikmati dan disyukuri setiap apa yang terjadi. Pesan beliau, akan baik untuk para IBUMUDA dan wanita lainnya untuk memiliki sahabat wanita untuk saling berbagi penat dan saling menguatkan. Alhamdulillah di akhir sesi, teh Atalia pun meresmikan kumpulan ini menjadi komunitas IBUMUDA Indonesia yang siap berbagi dan menemani para wanita untuk siap menghadapi segala tantangan.

Jadilah, kemarin tanggal 21 Desember 2014 menjadi hari bersejarah untuk kita semua. Kabar gembira, #IBUMUDA sekarang sudah ada komunitasnya!! Selamat datang bagi para wanita yang ingin bergabung. Info lengkap tentang kegiatan dan pendaftaran bisa hub 081227023499

Akhirul kalam, saya ucapkan terima kasih dan penghormatan yang begitu besar untuk seluruh panitia, anggota ibumuda batch 1, pengisi acara, dan segala pihak yang sudah membantu banyak dalam kesuksesan acara ini. Semoga menjadi tabungan pahala yang akan menjadi saksi di hari akhir nanti.

Terima kasih Allah untuk segalanyaaa..

Bismillahirrahmaanirrahiim, mari bersama saling menguatkan dan tebar kebaikan!!

Salam hangat penuh semangat,

asriFit

Founder Komunitas IBU MUDA Indonesia

penatnya menjadi Ibu

Alhamdulillah.. Gak ada kata lain selain puji syukur kehadirat Allah atas segala yang terjadi dalam hidup kita. Susah senangnya adalah harta yang berharga, ilmu yang berguna untuk kita menjadi lebih baik lagi.

Cieee bijak banget kalimat pembukanya…

Hai fellas, apa kabar? Akhirnya saya bisa kembali posting dan berbagi cerita lagi. Setelah update-update singkat di social media.. Akhirnya punya waktu luang juga untuk bikin postingan di blog. Alhamdulillah…

Ada kabar gembira niiih !! BBM harganya naiiikk hihihihi.. kabar baik apanyaa –“ Eh bukan naik sih, katanya sih pengalihan subsidi aja. Yaaah, we’ll see lah yaa. Yang pasti di postingan kali ini saya gak akan membahas kenaikan harga BBM. Sulit dan penat rasanya. Amat sangat complicated. Amat sangat politik. Lieur ah.

Bagi para ibu yang merasakan perubahan harga gara-gara BBM naik, saya cuma bisa bilaang.. SABAAR YAAA 😀

Back to topic,

Hari kemarin saya berkesempatan silaturahmi ke rumah seorang teman, stay at home mom, dan dari beliau saya belajar banyak mengenai perjuangan seorang ibu. Dia adalah sseeorang yang dulunya sangat mobile kesana kemari jadi hanya diam di rumah, mengurus anak, suami, dan rumah. Padahal hasrat jualan dan cari duit tetep ada… Bisa dibayangkan pertarungan batinnya untuk berdamai dengan ego sendiri 🙂

Teman saya ini tentu tidak sendirian. Ada banyak sekali ibu yang merasakan stress, penat, dan rasanya-mau-teriak dengan rutinitas hariannya. Semua wanita ketika di fase sudah menikah dan punya anak akan mengalami hal yang sama, pertanyaa yang sama…. Aku tuh harus apa sih sebenernyaa?? Aku tuh harus gimana sih sebenernyaaa?? Bingung dengan prioritasnya sendiri. Antara anak, rumah, suami, dan cari duit. Kondisi yang dinamakan “tantangan zaman” saat ini membuat seorang wanita harus memutar otak gimana caranya menghasilkan uang tapi gak boleh ninggalin urusan rumah tangga. *lap keringet*

Gak salah sih, lah emang harus. Wanita juga harus pandai mencari pemasukan. Jadi kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, infrastruktur tidak goyah.

Masalahnya adalah… dengan waktu yang hanya 24 jam. Dengan beban tanggung jawab yang tidak hanya satu dua, banyak wanita yang akhirnya semaput sendiri. Kegiatan yang dijalani malah kontraproduktif dengan apa yang seharusnya dia selesaikan.

Saya bisa ngomong gini karena yaaa ngalamin sendiri. Ngalamin banget pusingnya ngatur kerjaan. Merasa diri paling riweuh seantero jagad raya. Merasa kalau sudah melakukan banyak hal tapi tidak diapresiasi. Merasa sudah melakukan ini itu tapi hasilnya gitu-gitu aja. Cewe banget lah.. DRAMA! 😛

Mungkin pada dasarnya sama, tapi enggak semua wanita terjebak dengan perasaan itu loh. Ada banyak sekali seorang istri dan juga ibu memiliki kondisi yang sama tapi outputnya beda. Hatinya riang dan keluarganya pun bahagia.

Dari obrolan saya bersama para wanita yang sudah menikah, fase paling berat adalah ketika awal masuk ke dalam bingkai rumah tangga. Awal menjadi istri, awal menjadi ibu. Ya gimana gak berat dan bingung.. Kehidupan nyata udah di depan mata tapi ilmu untuk menjalaninya GAK ADA. Modal cuma nyontek rumah tangga nya ortu yang belum tentu juga sreg di hati, belum tentu baik dan benar untuk dijalani. Fiuuh. Sesak napaas.

Tapi ada beberapa di antara para IBUMUDA yang mau BELAJAR dan cari tau ilmunya, sehingga tidak terjebak pada nangis di toilet atau pukul-pukul bantal karena menahan kesal. Semua ada solusinya. Semua masalah adalah hidangan Tuhan yang paling bergizi untuk tubuh kita. Paling enak, nikmat, dan mengenyangkan!

Coba deh lihat di sekeliling kita, lihat kondisi para wanita yang sudah berumah tangga, baik yang bekerja kantoran maupun stay di rumah, dengerin mereka cerita…. Pasti bikin jidat berkerut, macem-macem keluhannya… ada yang suaminya super cuek, ada yang anaknya susah diurus, ada yang kondisi keuangannya seret, ada yang hubungan dengan mertuanya gak akur, ada yang kena perselingkuhan, ahhh banyak bener ragam masalahnya. Tapi dari setiap obrolan itu tentu saya belajar dan jauh lebih bersyukur. Karena ternyata sepahit apapun kondisi kita saat ini, ada yang lebih pahit.

Jadi, bagi para ibu muda, ibu rumah tangga, ibu bekerja, atau siapapun wanita yang nyasar ke laman blog ini. Yuk, kita gedein rasa syukur kita.. banyakin nyebut Alhamdulillah.. karena yang namanya IBU memang gak pernah mudah tantangan hidupnya, itulah kenapa kita dihadiahi surga di kaki kita..

Jangan nyerah, jangan kalah… You are not alone.. Ada saya dan beberapa teman curhat saya lainnya yang punya kepenatan yang sama. Kalau di luar sana ada banyak wanita yang bisa sukses di keluarga dan karyanya, kita juga bisa. Karena kita punya kondisi yang sama, sama-sama istrinya suami, sama-sama ibunya anak-anak.

Keep on FIGHT mom!

Yuk ah kita kopdaran nanti di launching komunitas IBUMUDA. Kita curhat sepuasnyaa ^^

Tungguin ajaa yaa informasi lengkapnyaa..

Salam hangat penuh semangat,

@asriFit

IBUMUDA