Apa itu KIMI?

Akhir bulan Oktober ini, saya memantapkan hati untuk kembali membuka registrasi keanggotaan KIMI. Apa itu KIMI? KIMI adalah singkatan dari Komunitas IBUMUDA Indonesia. Komunitas yang sudah saya bangun sejak tahun 2013. Sejarah lengkapnya seperti apa bisa dibaca di sini yaaa

Flyer Open Register New Member sudah disebar via medsos. Dan tentu saja pertanyaan dasar akan bermunculan bagi yang berminat untuk gabung. Baiklah, buibu tercinta…. berikut akan saya jelaskan secara lengkap tentang keanggotaan KIMI dan apa yang akan didapatkan jika bergabung dengan komunitas ini. Check it out 🙂

Apa itu KIMI?

KIMI adalah sebuah komunitas yang menitikberatkan pada pengenalan diri sendiri. Topik yang akan dibahas adalah tentang bagaimana kita SADAR kira-kira masalah atau penyakit yang selama ini kita hadapi akarnya ada di mana. KIMI akan banyak membahas tentang kondisi emosi dan self awareness dalam menyikapi permasalahan hidup, terutama konflik rumahtangga. Atau mungkin tentang…. mantan. Hehe…

Siapa saja yang boleh masuk KIMI?

As long as kamu WANITA, kamu berhak masuk KIMI. Kelahiran berapapun… Sudah menikah atau belum… Sudah punya anak atau belum… IRT atau wanita bekerja…. Boleh…. boleeeh banget gabung, karena balik lagi ke visimisi KIMI, yaitu mengajak para wanita Indonesia untuk bisa kenal SIAPA diri nya dan MAU dibawa kemana hidupnya.

Saya berada di pulau atau kota “X” apakah bisa bergabung KIMI?

Keanggotaan KIMI tidak berbatas domisili. Di manapun kamu, boleh banget gabung KIMI. Karena kegiatannya lebih banyak dilakukan via grup WA. Sejauh ini kopdar hanya dilakukan di kota Bandung, Jakarta, dan Bogor karena jumlah anggota yang terdaftar yang paling banyak. Jadi tidak menutup kemungkinan jika jumlah anggota di kota mu sudah mulai banyak, bisa bikin kopdar sendiri.

Apa saja kegiatan KIMI?

Kegiatan KIMI terbagi menjadi dua agenda besar, diskusi di grup WA dan kopdar KIMI yang dilakukan di 3 kota tadi. Apa saja yang didiskusikan di grup WA KIMI? Selain masalah domestik kegalauan seorang wanita pada umumnya, KIMI memfasilitasi para member untuk curhat dan berbagi beban. Ada juga hari spesial untuk para ibu yang punya bisnis untuk bukalapak di #JumatJualan. Daaan kegiatan yang paling seru dan dinanti adalah #challengeKIMI, yaitu berupa kegiatan sehari-hari yang ditentukan tema nya, manfaatnya bisa mengulik dan mengorek potensi para buibu yang selama ini belum terkuak. Dan tentu akan ada pembelajaran di balik challenge tersebut. Tidak sedikit dari  pengalaman challenge, banyak member yang jadi lebih jauh mengenal dirinya sendiri.

Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dengan bergabung dengan komunitas ini?

Selain bertambahnya saudara sesama perempuan, para member KIMI yang sudah tergabung selama ini merasakan manfaat berupa perspektif baru dan berbeda dalam menyikapi setiap masalahnya. Karena selama prosesnya kita akan sama-sama KENAL dengan diri kita yang sebenarnya. KIMI bisa menjadi sahabat yang akan menerima kamu apa adanya. Well ini abstrak banget sih emang, tapi ini akan kamu rasakan ketika sudah masuk dan merasakan interaksi di KIMI 🙂

Apa yang membedakan KIMI dengan komunitas lain?

KIMI tidak akan secara khusus membahas tentang pernikahan, sekolah anak, parenting, ASI vs Sufor, MPASI, metode lahiran, pilihan karir, dan topik spesifik lainnya. It’s about us, as a WOMAN.

Apa syarat bergabung dengan KIMI?

Pertama, mengisi database di bit.ly/databaseKIMI. Kedua, siap jadi diri sendiri dan MENERIMA diri sendiri.

Oiya, buat yang belum tau dan kenal. Kenalkan…. Saya Asri Fitriasari atau biasa dipanggil Achii. Seorang ibu dengan satu anak yang sedang hamil anak kedua, koas doktergigi di FKG Unpad, domisili Cimahi, dan seorang wanita yang senang sekali menulis. Saya founder dari komunitas ini. Am I an expert in these things??? Engga. Saya pun masih gesrek, butuh masukan dan diingetinnya. Saya membuat komunitas ini karena sadar bahwa wanita itu sebetulnya SANGAT KUAT, hanya saja suka lupa caranya kuat itu kayak gimana. Saya kumpulkan para wanita dengan segala cerita dan latar belakangnya untuk saling mengingatkan dan menguatkan bahwa KITA ITU HEBAT !

Baiklaaah… sekian informasi singkat tentang KIMI, silakan jika berminat kenalan dan merasakan serunya komunitas ini bisa japri saya via WA 0812 2702 3499 🙂

 

 

THANKYOUUU *smooch*

Advertisements

Small Things

Siang itu ketika sedang asyik berselancar di Fesbuk, saya menonton sebuah video yang di-share oleh teman di linimasa nya. Video yang benar-benar menggugah dan menyentuh. Bisa liat videonya di link ini yaa.

Video ini berisi tentang Kristina Kuzmic, seorang wanita, seorang ibu yang begitu depresi dan merasa sangat tidak berharga setelah perceraiannya. She felt broke. Totally like a complete loser dengan segala penolakan dan kejadian yang terjadi di hidupnya. Ada yang pernah merasakan hal yang sama? Feel so depressed dan gatau mau ngapain. Kayaknya semua yang dikerjain salah. Kayaknya semua yang sudah dikerjakan gak ada artinya. Gagal. Rusak. Hancur…

Gak ada lagi orang yang percaya.. Bahkan kita pun sudah gak percaya sama diri kita sendiri. Ada yang ngerasain hal yang sama?

Continue reading

Kenapa Healing Class Direkomendasikan

Lantas di mana letak salahnya kok ada manusia yang mampu berdamai dengan masalah dan ujian, tapi banyak pula yang gagal paham dan menepi kejauhan? Kalau memang ALLAH tidak memberi beban melebihi kemampuan kita, kenapa kita seperti kepayahan mengarungi kehidupan? Kok rasanya kesusahan ini tak berujung?

Aduh ini kalimat cukup nyesek ya? Kok bikin penasaran ya? Kok gue banget yaa haha ~

Sebelum akhirnya saya kepengen banget baca buku Soul Healing Therapy, saya dihadapkan pada kondisi bisnis yang stuck bangeeeet nget nget nget padahal sebelumnya lancar jaya dan saldo rekening aman sentausa. Pas saya jatoh, liat rekan sejawat lainnya makin mencuat melesat bikin sirik beraaaat.

Eungap. Sesak nafas rasanya.

Saya sempat “marah” pada keadaan. Menyimpan sedikit kesal pada Tuhan. Perasaan kerja udah edan, pengorbanan udah dilakukan. Tahajud, dhuha, infaq, sodaqoh, dan membantu sesama udah. Tapi kenapa doa belum juga ketemu jawabannya. Hidup makin sempiiiit aja rasanya. Mulai kan sombong dan perhitungan sama Tuhan. Amit-amit deh itu kelakuan hahaha. Mau ngapa-ngapain bawaannya males dan emosiiii aja jadinya.

Pas “dipaksa” baca buku Soul Healing Therapy ama Bu Nani Kurniasari, brand owner NKsyari, ada kalimat di atas yang cukup nusuk dan bikin penasaran.

Iya.. iya iya sih kenapa kok tetiba suka ngerasa hidup gini-gini amaaadddd??? Pake D amat nya juga biar nendang! Padahal sebenernya masih banyak yang bisa disyukuri tapi kok yaaa rungsing a.k.a kacau terus pikiran. Hayati butuh piknik…

Dan di buku itu dijelaskanlah bahwa ada yang namanya PROSES dan KONSEKUENSI DOA.



Beuh. Apapula itu.

Pertama, doa yang baik dan cepat sampe ke Tuhan Yang Maha Mengabulkan, adalah doa dari jiwa yang tenang. Haduuuh tuh kan jiwa yang tenang lagi kyaaaaa susah banget gaes punya jiwa yang tenang itu. Prosesnya panjaaaaang dan berliku. Bentuknya juga abstrak gatauuuu. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang “menyerah” pada kuasa Tuhan. Bisa menyelaraskan setiap emosi negatif yang ada dan mengetahui dan mengakui setiap ketakutan yang paling dalam pada diri kita. Jiwa yang tenang dan eling akan lebih enak saat kirim doa pada Sang Kuasa.

Wahai jiwa yang tenang.. Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS Al Fajr 27-30)

Kedua, harus siap dengan segala konsekuensi doa. Konsekuensi doa ini hadir dalam bentuk masalah.

Jadi selama coaching sama Teh Irma, tiap kali ngeluh dan protes sama hidup, Mamak cuma bilang dengan entengnya, “Coba yaaa diinget lagi doa-doanya…

“Glek. Jlebbb. Keselek!

Langsung lemes.

Doa ingin jadi istri shaleha yang setia mendampingi suami. Jadi ibu yang baik.

Doa ingin keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Doa ingin diangkat derajatnya jadi ummat yang mulia.

Doa ingin dibersihkan hartanya dari yang haram dan syubhat.

Doa ingin bisa membahagiakan orang tua dan lingkungan sekitar.

Doa ingin hidup lebih baik terus lebih baik setiap harinya.

Doa… doa gue dipikir-pikir cliche tapi yaaa konsekuensinya yaaa gakan mudah lah pastinya!

Belum lagi ditambah doa pengen bebas hutang dan jadi horang kayah. Punya penghasilan ratusan juta. Bisa bangun sekolah gratis dan menggerakan sejuta ibumuda. Whaaaaat doa lo luarbiasaa. Gak sebanding sama usaha dan kondisi jiwa lo Nyoong wkwkwk

Tareeeek napas dulu Sis. Eungap bangeeet inih.

Tiap inget doa yang udah “direngekin” sama Allah dan bandingin sama kelakuan, langsung istighfar. Ya ampuuun minta semprot dulu beauty water biar segeerr huhu. Aerr putih mana aerrr putih… malu banget liat kelakuan sendiri. Hiks.

Satu tahap hidup berhasil kita naiki ketika kita sadar bahwa setiap yang terjadi adalah ulah diri sendiri. Masalah yang datang sebenarnya nyuruh kita bangun. Woooi itu banyak banget yang kudu dibenahin dalam diri lo. Allah mau  ngasih nih apa yang lo minta tapi itu benerin dulu hatinya. Siapin dulu mentalnya. Biar lo gak makin belingsatan. Biar Allah ridho dengan setiap apapun yang Dia kasih dan dia ambil. Biar Allah selalu ridho sama hidup lo. Wakeeee upppp!!!! Lukanya dibuka, diobatin, dibikin sembuh. Penyakit hatinya gosokiiiin, bikin kinclong duluuu. Biar kalau lo dikasih nikmat yang banyak, lo tau cara yang bener untuk tetap berpijak dan gak bertindak seenak jidat.

Haaaahhh. Sesak yaaah.

Kurang lebih itu yang selama ini didapat sepanjang baca buku Soul Healing Therapy dan ikut kelas Healing. Dibelek matanya untuk melihat indahnya proses ketika Allah ingin mengabulkan doa kita. Kayak mau lahiran. Sakiiiit banget nunggu pembukaan. Sampe kadang kudu diinduksi dulu dua kali baru keluar deh anugerah Tuhan paling seksi. Seksi soalnya pas keluar belum dibajuin. -Garing-

Setiap doa ada proses dan konsekuensinya. Siap-siap ajaaa.

Jadi kalau tiap hari ada aja masalah yang harus dihadepin yaaa dimamam ajaa. Vitamin Sis biar siap jiwa raga ketika Allah kasih yang kita semua minta saat doa.
Tareeek napas dalaam. Keluarkan perlahan…

Tenang… tenang… maka lo MENANG

Semoga bermanfaat yaaaw.

Selamat mengingat kembali doa yang udah diminta dan menerima konsekuensinyaaah! Kalau bener-bener gak ngerti sama diri sendiri harus digimanain, gabung yuk di kelas healing 🙂

Salam hangat penuh semangat,

AF

Founder of IBUMUDA Indonesia :*

Menitipkan Anak

image

Ada yang pernah menitipkan anaknya untuk berbagai alasan? Untuk ngantor? Sekolah? Atau sekedar menikmati waktu sendiri?

Saya pernah dengan 3 alasan di atas, dan ini sekelumit cerita tentang pengalaman saya menitipkan anak…. Feel free to judge me, I’ll be okay and feel bodo amat with what you’re thinking.

Anin lahir di usia saya yang masih 23 tahun. Saat itu saya belum selesai koas. Status saya masih sebagai mahasiswa sebuah fakultas yang harus diam sejenak mengurus bayi dengan segala keterbatasan ilmu dan pengalaman. Anak pertama bokkk. Entah sebuah anugerah atau ujian, hingga pada waktunya lahiran saya belum juga mendapat asisten yang bisa membantu saya mengurus Anin dan menjaganya ketika saya harus melipir ke sekolah. Saya terpaksa menjadi ibu yang anteng duduk manis di rumah, membesarkan Anin.

Ketika Anin berusia sekitar 8 bulan, saya mendapat seorang asisten di rumah, tapi belum saya percayai sepenuhnya untuk menjaga Anin.  Saya tetap memegang Anin hampir full 24 jam, kadang adakalanya dititip kalau mau belanja ke Borma atau mau paketin barang ke ruko depan.

Apa yang saya rasakan saat itu adalah, to be honest, rasa lelah yang amat sangat, rasa jenuh yang amat sangat, dan rasa marah (pada diri sendiri karena gak bisaan ngurus anak dan pada lingkungan yang kadang suka bikin sensi). Saya bahagia punya anak, yaaa kali masa punya anak malah gak bahagia, tapi yagitu deeeeh heu.. Hingga akhirnya di usia Anin yang menginjak 1,5 tahun ada kenalan yang masih kerabat dekat bersedia mengasuh Anin jika saya mau kembali ke rutinitas sekolah. Insya Allah yang ini cukup bikin saya percaya dan siap nitipin Anin.

Masa-masa kacrut itu yang cukup membekas dan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Masa di mana pertama kali saya lihat wajah memelas Anin yang gak rela dan gak suka ditinggal. Sedih sih, tapi pas saya udah asik di luar, saya suka lupa kalau punya anak… Haaah my bad. Saya akui itu sebagai suatu kesalahan dan kedodolan saya sebagai seorang ibu. Asik aktif ini itu dan mulai melakukan aksi pembalasan setelah hampir 2 tahun stuck di rumah.

Semua digunakan sebagai pembenaran, kan saya harus beresin sekolah, kan saya harus bantu suami cari duit juga, kan saya harus punya waktu sendiri. Daaaaan segala tetek bengek alasan yang sebenarnya menutupi aksi PELARIAN saya dari sebuah kenyataan bahwa saya sekarang punya anak, dan ngurus anak itu gak semudah yang saya bayangkan 😭😭😭

Sekolah gak beres juga. Bisnis pun malah meluncur bebas gak bersisa. Lalu saya jadinya bahagia?? Yaaa enggaklah ~

Emosi yang gak karuan yang mengisi hari-hari bersama Anin. Ketika Anin masuk usia 3 tahun, ketika dia sudah mulai bisa berkomunikasi sebagai selayaknya ‘manusia’, saya pelan-pelan mulai tersadar bahwa ada jarak yang cukup besar antara saya dengan dia. Peran saya hanya sebagai ibu biologisnya saja, makna ibu yang sebenarnya dia dapatkan dari lingkungan, dari mana saja dia sempat dititipkan.

Sakit. Perih. Dan merasa kehilangan….

Baper is everywhere ketika Anin mulai merengek lebih ingin main bersama Teteh (ART di rumah), Ateu, atau Enin nya. Apalagi kalau dia udah mulai cranky bilang Bunda nya galak atau bilang dia gak sayang sama Bunda nya, gak mau sama Bunda..

Hiksss… Langsung kayak ditabrak pake buldozer, terus yang lagi nyetir buldozernya itu Gajah Afrika yang lagi hamil 9 bulan. Hahaha lebay bin ngarang wkwkwk.

Satu persatu bagian tubuh yang hancur ketabrak buldozer terus yang nyetirnya Gajah hamil 9 bulan itu (tetep yaa) dikumpulin dan saya pasangkan lagi sesuai posisinya masing-masing. Baper won’t take you anywhere, Chiii..

Ayo bangkit, semangat, waras, dan berbenah..

Fase menerima kenyataan adalah fase yang paling menyakitkan. Karena kenyataan hampir tidak selalu sesuai harapan. Karena harapan manusia terlalu cetek jika dibandingkan rencana yang sudah Tuhan siapkan. Jadi saya pun belajar untuk menerima kenyataan dan berhusnudzon dengan segala skenario yang Allah siapkan.

Saya mencoba memaafkan diri saya sendiri terlebih dulu setelah apa-apa yang saya lakukan sama Anin. Mbakbroooo, jangan tanya prosesnya kayak apa yaaa. Memaafkan diri sendiri itu lebih bikin mual muntah daripada memaafkan orang lain. Feeling gulity itu lebih ganas sifatnya dan menyebar ke setiap sudut sel-sel tubuh. Heu.

Setelah saya memiliki kekuatan untuk menerima dan memaafkan apa yang sudah terjadi, ada banyak hikmah yang bisa saya ambil. Ada banyak pembelajaran hidup yang membuat saya sangat tidak mau mengulanginya lagi. Amat amat amat gak mau. Saya gak kenal sih sama si Amat. Tapi katanya Amat juga gak mau. Hahaha apasih garing.

Saya pernah merasakan bagaimana menjadi ibu yang diam di rumah tapi gak pinter bersyukur, saya juga pernah merasakan menjadi ibu yang asik di luar sampe lupa kodrat awal. Dua-duanya gak proporsional…

Tapi dari situ saya bisa belajar bagaimana menjadi ibu yang bisa tetap tenang dan bahagia meski harus diam di rumah, dan tetap tau diri ketika harus beraktifitas di luar rumah. Baru tau loh yaah, prakteknya masih ngesooooooot hehehehe..

Sekarang, saya gakmau keenakan lagi nitipin Anin. Nitipin yaa hanya karena cukup gak memungkinkan bawa-bawa Anin. Mau serepot dan serempong apapun kalau lagi sama dia, saya dan suami harus terima risikonya, terima tanggung jawabnya, dan terima semua proses yang harus dilalui. Kami mungkin bukan ayah dan ibu yang terbaik untuk Anin, figuritas kami sebagai orang tua juga agak agak gimanaa gitu, tapi saya sendiri yakin… semua bisa karena biasa, saya dan suami pasti bisa jadi partner hidup yang baik untuk Anin…. sebelum dia menemukan partner hidup yang lain setelah dewasa nanti. Eaaaa jadi sararedih ginih hahaha..

Terima kasih Anin, kamu adalah guru cilik di rumah… Maaf yaa Bunda suka keenakan dan hobi banget titip-titip Anin. Doakan Bunda cepet lulus kuliahnya yaaaa!!!

Habiburrahmaan, 22 Ramadhan 1437 H
Asri Fitriasari
Ibu yang mulai waras wkwk

Menghadapi Anin

image

Menghadapi Anin itu semacam ujian hidup mengenal diri sendiri. Karena Anin adalah sebentuk makhluk yang kelakuannya hampir sama dengan Emaknya haha. Kayak dikasih kaca dan cukup senewen ketika sadar kalau saya itu keras, ga sabaran, banyak maunya, dan susah dikasih tau hahahaha. Mamam banget kaaan.

Takes time banget deh gimana caranya menghadapi nona Anin. Pun hingga saat ini. Kalau saya nya gak kalem, ujungnya pasti drama.

Yeaaah semua ibu pasti ngalamin deh suka dukanya ngedidik anak. Gimana caranya pesan yang ingin disampaikan itu nyampe dan anaknya mau nurut. Sesuatu sekali itu ya Allah 😂😂😂

Nyuruh anak mandi, sikat gigi, buang sampah pada tempatnya, gak makan atau minum sambil berdiri, mau cuci muka dan pipis sebelum tidur, gak kelamaan nonton Youtube, dan sebagainya, sebagainya, sebagainya. Kalau kita nya gak kuat iman dan tenang ngadepinnya, malah bikin anak sensi dan makin keki ama kita. Bilang kita jahat lah, gak sayang lah, ini lah, itu lah.. Huffft..

Semua orangtua udah pasti kepingin yang terbaik untuk anaknya, gak ada orangtua yang punya niat anaknya jadi rusak. Gak ada. Tapi somehow karena kelakuan orangtua sendiri anak malah jadi rusak dan bebal. And we won’t that happen kan yaa. Jadi emang harus pinter-pinter cari cara agar anak mudah untuk nurut sama kita. Selain nyuruh ini itu dan ngedidik kudu begini begitu, kita sebagai ortu harus nemenin juga kesel dan berontaknya anak atas apa yang ingin kita ajarkan. Kita kan juga pernah di posisi anak, tau banget kan rasanya harus nurut dan disiplin. Rasanya tuh GAK ENAK banget. Bahkan mungkin setelah kita jadi ortu pun kita masih jadi makhluk yang susah diatur dan susah disiplin. Jadi yaa kudu pelan dan sabaaaaar banget sama anak. Gampang? Yaa enggaklah 😂😂😂

Kalau gampang hadiahnya gak akan surga. Payung cantik doang warna pelangi haha..

Ada satu percakapan antara saya dan Anin kalau bujukin dia untuk sikat gigi. Siapa tau bermanfaat, karena belakangan ini Anin jadi gak begitu susah diajak sikat gigi. Dan format percakapan ini saya pake juga untuk bujukin hal lain. And mostly berhasil untuk bujukin doi.

“Anin.. Anin gak suka ya Bunda suruh sikat gigi?? Bunda boleh tau kenapa?? Males yaa? Sakit yaa? Gak enak yaa?? Emm iyasih Bunda ngerti. Bunda juga suka males. Tapi kan kalau gak disikat nanti kumannya banyak banget bobo di gigi Anin. Ih emang Anin mau kumannya ikut bobo di gigi Anin. Gak enak loh nanti. Bener gak Nin? Mau yaa sikat gigi? Bunda temenin.. Pelan-pelan aja. Terserah mau sama Anin sendiri atau dibantu Bunda..”

Kurang lebih kayak gitu. Intinya sih kita bener-bener menempatkan diri pada posisi anak. Empati, bener-bener empati. Jangan maksa dan beneran diajakin ngobrol dari hati ke hati. Feel-Felt-Found. Ngerasain apa yang dia rasain dari sudut pandang dia sebagai anak kecil. Curhat colongan juga kalau kita pun pernah di fase kayak dia dan ngalamin apa yang dia rasain. Dan kita sudah menemukan solusi untuk menghadapi itu. Tawarkan solusi yang sama atau bantu anak untuk mencari solusinya sendiri. Dan kunci dari semua siasat parenting itu adalah TENANG alias KALEM !

Hahahaha. Itu justru PR nya yaa Sis 😂😂😂

Yaaah semoga kita selalu dikasih kekuatan untuk terus benerin diri sendiri. Karena ilmu parenting terbaik adalah fokus benerin diri sendiri. Anak akan lebih cepet kopas daripada ngedengerin. Selamat berdarah-darah dan berurai air mata untuk bebenah diri sendiri yaa Sis. I  know it’s so haaaarrrdd. Hahaha~

*bagiin bakiak*

Jangan Mau Nikah Muda : sebuah pengakuan

Pernikahan? Siapa yang mau nikah acungkan tangannya katakan SAYA !

Nikah muda? Nikah muda? Siapa yang kepengen nikah muda, acungkan tangannya katakan SAYA !

Tjieeee aku nya udah cocok banget jadi motivator dalam bidang pernikahan gini. Hahaha PRET AH 😀

9 tahun yang lalu, saya masih ingat sekali di mana saya menempel FOTO PERNIKAHAN di halaman awal buku impian saya. Dari SMA udah ngebet pengen nikah anaknya, ampuuun. Makin gede makin ngebet, hingga akhirnya sama Allah dikasih jalan dan lancar. Tahun 2010 dipertemukan dengan jodoh dan dapat momen ijab-sah, mendahului momen dapat ijazah hehehe.

Tahun pertama di awal bulan, happy banget. Euphoria anak muda yang baru dapat mainan baru yang udah lamaaaa banget diidam-idamkan. 6 bulan berikutnya, eh kok gini yaaa.. Tahun berikutnya, aduh kok jadi gini siihhh… Tahun berikutnya lagi, wuaaakss harus gue apain ini.. Tahun berikutnya lagi, ampuuun juragan.. minta bantuaaan hahaha..

Pernikahan adalah hal yang lebih complicated daripada denah perumahan Margahayu dan Pharmindo. Rumit banget. Awalnya gak nyadar, malah sibuk pencitraan dan cari pengakuan. Hai-saya-Asri.. Menikah di usia 21 tahun dan saya sangat bahagia serta bangga karena sudah menikah muda. Ayo dong, kamu juga nikah muda biar seru. Kurang lebih begitu kelakuan saya beberapa tahun yang lalu. Aktif banget koar-koar tentang pernikahan macam ngerti banget dan fasih banget menjalani kehidupan pernikahan. Padahal mah heeey anak kemarin sore. Kagak ngerti ape-ape gueee. Saya sibuk dan asik menutup ketidaksempurnaan dan busuk yang saya punya dengan memberikan tips bagaimana menikah muda dan bagaimana menjalani kehidupan berumah tangga. Duh, aib sih itu sebenernya haha. Malu-malu geli gimana gitu…

Jumlah follower akun sosial media saya beranjak naik dan terus bertambah. Mereka muji-muji saya dan kenyang lah ego saya akan perhatian, pengakuan, dan pujian manusia. Tapi behind the scene nya sih ancur-ancuran. Selayaknya pernikahan manusia normal yang penuh deru debu dan noktah noda.

Saya terjebak dengan ilusi dan ambruk sendiri melihat realita yang ada.

Tidak ada hal bombastis sih dalam pernikahan saya. Tidak carut-marut amat, tapi yaaa gak juga seedan keren amat selayaknya orang-orang di luaran sana berprasangka. Saya, manusia, normal, dan sama keringetan darahnya mengenali cinta dalam pernikahan, sama kayak jutaan orang di luar sana.

Saya sempat terjebak sibuk merapihkan bungkus tanpa lihat di dalamnya ada apa.

Itu saya. Dulu.

Dari kelakuan saya yang aktif dan concern bahas pernikahan, terutama pernikahan muda, tidak sedikit orang yang malah makin ngebet untuk nikah dan curhat-curhat colongan tentang pernikahan lewat jalur pribadi. Makin banyak yang pengen, makin ditunjukkan lah saya dengan berbagai kejadian bahwa HALOOO ACHIIII… Pernikahan itu gak se-simple yang lo koar-koarin loh yaaa. Akhirnya saya ciut dan berhenti. Saya diam dan saya menoleh ke dalam pernikahan saya sendiri. Ampun deh, rujit 😀

Saya pun mengulur tali yang kusut, awal mula darimana semua kepabeulitan ini terjadi. Well, semua berawal dari tujuan dan motif saya menikah. Saya sadari saat itu dan saat ini saya akui bahwa kemarin saya menikah hanya untuk berlari. Lari dari begitu banyaknya hal yang membuat saya merasa sakit hati dan benci. Saya pikir bahwa pernikahan bisa menjadi obat dan penawar racun. Happily ever after.

Hoho… ya mana bisa. Racun yang saya sudah konsumsi bertahun-tahun bukan dengan pernikahan obatnya, tapi dengan mengakui, menerima, dan dibiarkan keluar dari peredaran metabolisme tubuh. Bukan dengan berbagi racun dengan orang yang baru saya kenal dan sekarang menjadi suami saya, imam saya, dan bapak dari anak saya.

Aduh gimana sih chii ini maksudnya? Kok  agak gak ngerti maksudnya gimana..

Hahaha maap, emang ribet sih ini. Saya agak bingung juga nyeritainnya. Tapi saya bener-bener ingin menyampaikan bahwa PERNIKAHAN is a BIG THING.. bener-bener BIG THING banget banget banget. Jadi yaa kalau emang belum waktunya, gak usah heboh dan galau nanya kapan jodoh saya datang, kapan saya halal, atau jatohnya malah berlarut dalam iri liat kehidupan percintaan tetangga sebelah yang lebih pinky warnanya. No.. marriage is a BIG THING ! Perjalanan dan hidup baru yang berbentuk anak tangga-anak tangga menuju Tuhan.

Love is a BIG THING!

Saya punya issue besar dengan diri saya sendiri, cukup banyak. Saya tidak sadar dan saya berlari dan berharap dengan menikah, sesuatu yang kosong itu akan terisi. Tapi saya salah besar. Pernikahan justru menyodorkan dan menyimpan tanggung jawab yang lebih besar lagi. Pondasi hati belum kuat-kuat amat, ini malah megang beban berat. Yaa gitu deh.

Ekspektasi. Harapan. Daaaan segala macam peluru emosi akhirnya meledak di tengah asiknya hidup berumah tangga. Saya mencari dari mana semua peluru ekspektasi dan harapan ini hadir. Harus saya buang dan bereskan agar tidak ada lagi ledakan yang mengganggu.

Butuh proses yang tidak sebentar sampai akhirnya, saya pribadi AWARE dengan diri saya sendiri. Merasakan dan mengakui apa-apa yang kurang dari saya dan tidak melampiaskan semua itu dalam dunia pernikahan. Berbagai kegiatan dan buku dijabanin. Sampai akhirnya ketemu buku Emotional Healing Therapy nya teh Irma Rahayu. Dari sana semua misteri hidup mulai terkuak perlahan. Dari mana semua kegalauan yang gak ada ujungnya ini berasal. Baca deh bukunya, seru bikin pengen nimpuk diri sendiri hahaha..

Sekarag saya memang sedang mengikuti program life coaching yang dibimbing langsung oleh teh Irma Rahayu, di postingan berikutnya akan saya jelaskan apa itu Life Coaching dan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk ikut kelasnya.

Balik lagi ke pernikahan, jadi setelah jujur sama diri sendiri dan sekuat hati mengendalikan ego sendiri. Saya mengubah motif menikah saya. Menikah adalah fase hidup yang SUPER SERIUS. Jelas bukan tempat yang tepat untuk pelarian 😦 Pelarian dari apapun yang kita sempat sakit dan jatuh sebelumnya.

Pernikahan adalah tempat belajar selanjutnya dengan metode berkelompok bersama pasangan dan anak-anak yang hadir di dalamnya. Tempat belajar yang akan menempa kita untuk lebih tangguh dan semakin dewasa dari yang sebelumnya.

Haaah beruntung banget dapat pasangan yang luaaaar biasaaaa sabarnyaaa. Luaaaar biasa pengertian dan dewasanya. Dia tetap setia meski perasaan dan akal sehat saya berantakan gak jelas bentuknya kayak apa hahahaha..

Ini adalah cuplikan dari obrolan saya dan suami beberapa malam kemarin ketika sedang membahas pernikahan dan mem-breakdown perjalanan pernikahan kami, yang masih lebih banyak drama nya daripada pencapaiannya hihihihihi..

A: Jadi Be, sekarang tujuan kamu menikah itu apa?

B: Emmmm. Untuk belajar. Iyaa, untuk belajar.

A: Sama Be. Kalau belajar boleh salah kan?

B: Boleh..

A: Iya boleh, yang penting terus belajar biar gak salah terus dan bisa naik kelas. Mau kan naik kelas bareng Aa?

B: Ah kamuuu *nutup muka*

A: Udah jangan kelamaan duduk di bangku SD. Boleh kamu main ke SD, tapi cuma untuk main aja Be. Jangan betah-betah amat jadi anak SD ahh..

Saya yang biasanya gak terima ‘dihina’ begitu sama suami cuma bisa senyum dan meneteskan air mata. Saya tau maksud dia itu apa dan saya sadar banget ke-anak SD-an saya itu kayak apa.

Well. Bismillah ya A. Gak akan ada lagi anak yang gak lulus-lulus SD ini. Cuma ada mahasiswa yang gak lulus-lulus koas aja hahahaha..

Selamat nongrong sore fellasss! Semoga sedikit pengakuan dan curhat dari seorang (yang dulunya) motikampret #NikahMuda ini memberikan sedikit pencerahan tentang pernikahan. You don’t have to be hurry. Siapin diri bener-bener. Siapin jiwa raga mental rasa untuk kehidupan penuh wahana memacu adrenalin ini!! Semoga dilancarkan segala urusan. Thanks for reading yaaaa. Kismwah :*

ibumuda yang tetap bersemangat,

Asri Fitriasari

 

 

Belajar dari Khadijah

Saat saya mengikuti seminar Pak Jamil Azzaini mengenai Proposal Hidup, di acara tersebut dijelaskan mengenai impian dunia dan impian akhirat. Apa yang menarik bagi saya adalah ketika beliau menceritakan impian akhiratnya yaitu, ingin memeluk Rasulullah SAW di surga kelak. Sehingga apa yang beliau kejar dan kerjakan dalam impian dunianya adalah agar Rasulullah bangga dan ingin memeluknya. Wow, it’s cool, isn’t?

Saya segera bertanya pada diri sendiri. “Lah terus persisnya impian akhirat gue apaan ya?” Perasaan cuma impian dunia aja yang kebayang gambarannya kayak apa. Impian akhirat, masuk surga doang? Kurang bikin greget kalau kata Pak Jamil. It’s everybody’s dream. Too cliche.

Well, kalau Pak Jamil ingin memeluk Rasul. Saya pengen peluk istrinya ajaa. Istri pertama beliau yang begitu setia dan total mendampingi dalam suka dan duka, dalam susah dan senang, dan dalam setiap juang serta menang. Siapa lagi kalau bukan Khadijah binti Khuwailid.

Beliau adalah salahsatu wanita yang Allah jaminkan surga yang terindah di akhirat kelak. Ihhhh pingiiiin sekali yaa rasanya saat ‘istirahat’ nanti kita bisa satu atap dengan wanita surga bidadari dunia ini. That will be my ultimate dream.

Bagi siapa yang belum kenal Khadijah,  dia adalah pengusaha wanita sukses yang pada usianya ke-40 tahun meminang Muhammad bin Abdullah yang berusia 25 tahun. Khadijah besar dari keluarga yang terpandang di kota Makkah pada masa itu. Ia terkenal sebagai wanita yang santun dan istimewa perangainya. Berkat kecerdasan dan ketajaman intuisinya, ia mampu mengembangkan usaha peninggalan suaminya yang pertama dan kedua saat mereka wafat. Khadijah tumbuh menjadi wanita yang kuat secara akhlak, finansial, dan hubungan sosialnya. Maka tak sedikit pula lelaki yang ingin sekali menikahi Khadijah saat ia ditinggal wafat suaminya. Tapi Khadijah menolak dan memilih berjuang sendiri untuk membesarkan 3 anaknya dan mengembangkan bisnisnya tersebut.

Hingga pada satu ketika, Tuhan pertemukan Khadijah dengan pemuda Mekkah yang pandai dalam urusan dagang karena terkenal dengan kejujurannya, yaitu Muhammad bin Abdullah atau sering dijuluki Al Amin (Orang yang Terpercaya). Selain rasa puas karena berhasil melakukan kerja sama dagang dengan Muhammad, Khadijah pun menyimpan rasa kagum pada sosok Muhammad yang sederhana namun penuh karya nyata.

Singkat cerita, akhirnya mereka menikah dan bersama mengemban amanah dakwah penyebaran agama Islam. Bukan hanya sebagai istri, namun Khadijah adalah sahabat terdekat Muhammad saat itu yang menemani beliau berjuang menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Khadijah adalah orang pertama yang memeluk, menenangkan, dan mendukung Muhammad sepenuhnya saat amanah sebagai Nabi diturunkan padanya. Bukan hanya saja dukungan berupa moril tetapi juga harta yang begitu banyak sudah Khadijah sedekahkan untuk kepentingan ummat. Khadijah dengan cekatan dan juga cermat mengurus semua urusan domestik rumah tangga agar Muhammad dapat fokus dalam bidang bisnis dan dakwahnya. Kolaborasi suami istri yang patut dijadikan teladan bagi saya dan untuk kita semua.

Pernah dengar istilah alpha female? Sosok wanita yang kuat dalam karir dan juga pencapaian hidupnya yang lain? Sebut saja Dian Sastro, Najwa Shihab atau mungkin Oprah. Khadijah adalah salahsatunya, bahkan ia tumbuh dan sudah menjadi inspirasi sejak 14 abad lalu. Kiprahnya dalam dunia perdagangan (karir), penyebaran Islam, dan kerumahtanggan benar-benar membuat kagum milyaran manusia sejak zamannya hingga sekarang, termasuk saya.

Ahhh rasanya terlalu singkat, amat sangat singkat jika saya harus menceritakan keistimewaan Khadijah, sang wanita surga bidadari dunia lewat tulisan kecil ini.

Apa yang saya dapat dari membaca beberapa artikel biografi beliau, baik dalam sebuah buku maupun googling kesini kesitu, ada beberapa poin yang menjadi titik semangat dan inspirasi bagi saya seorang wanita yang sudah menjadi istri dan ibu dari seorang Khadijah.

1. Khadijah menunjukkan pada kita bahwa sebagai wanita, kita harus tumbuh menjadi insan yang kuat dan mandiri. Meski sudah ditinggal wafat dua kali oleh suaminya, ia justru berkembang menjadi saudagar kaya di  kotanya. Terkenal dengan kepiawaian dagang dan kesantunan karakternya.

2. Khadijah menunjukkan bahwa sebagai wanita kita harus tumbuh menjadi insan yang memiliki wibawa, dalam hal ini maksudnya adalah kuat menjaga integritas dan harga diri. Tidak mudah mengeluh dan menyerah pada kondisi.

3. Khadijah menunjukkan pada kita bahwa sebagai wanita kita punya hak untuk menyampaikan gagasan dan keinginan, dengan cara yang baik, proporsional dan cerdas. Dia lah yang meminang Muhammad untuk menjadi pendampingnya. Dia tau apa yang dia mau dan butuhkan, yaitu Muhammad dengan karakternya, yang ia yakini betul mampu melengkapi langkah juangnya. Dalam kasus ini, saya belajar bagaimana Khadijah memadukan antara logika dan rasanya. Berani dan terukur!

4. Meski terpaut 15 tahun lebih tua, tidak menjadikan Khadijah sebagai istri yang dominan dan merasa lebih tau daripada Muhammad, padahal jika dilihat dari pengalaman hidup jelas Khadijah lebih berpengalaman. Namun, Khadijah mampu mendampingi, menyamakan posisi dan patuh sepenuhnya sebagai istri bagi Muhammad. Mampu menurunkan ego dan menyelaraskan setiap misi yang mereka jalani bersama.

5. Khadijah dan Muhammad mengajarkan pada kita tentang kerja sama antar suami istri yang apik. Saling mendukung, tidak saling menuntut satu sama lain, tapi memberikan yang terbaik sesuai porsinya masing-masing.

6. Apa yang Khadijah lakukan adalah semata-mata bentuk pengabdiannya pada Tuhan. Itulah yang sebetulnya membuat beliau tak henti dan tak lelah untuk mengabdi dan mendampingi Sang Nabi.

Setiap episode hidup Khadijah tentu tidaklah mudah baginya, tapi yang membuat saya salut… Apapun kondisinya, dia tetap menjadi Khadijah yang kuat. Khadijah yang terbaik di setiap pencapaiannya. Hingga Tuhan pun menganugerahkan pendamping hidup yang tidak biasa, seorang nabi yang kiprahnya begitu lestari hingga akhir zaman. Ada Khadijah yang selalu menguatkan Muhammad dalam beratnya dakwah penyebaran Islam. Tuhan pun langsung menobatkan beliau sebagai wanita terhormat yang dijanjikan surga.

Duh, rasanya ingin menyamainya saja sudah hadir nuansa nirwana di pelupuk mata. Apalagi benar-benar berjuang untuk memiliki karakter yang sama dengannya.

Wanita sudah Tuhan ciptakan begitu mulia dan istimewa dengan setiap kodratnya.

Karena hidup di dunia, jerihnya adalah untuk beroleh surga, nikmati saja setiap episode ujiannya. Sebagai istri yang taat, sebagai ibu yang mengajarkan banyak manfaat, dan sebagai kader terbaik Tuhan agar keselamatan dan kedamaian semakin luas tercipta.

Semoga kita tumbuh menjadi Khadijah-Khadijah berikutnya bagi pasangan, anak, dan lingkungan kita. Menanam benih kebaikan agar menuai hasilnya di taman surga kelak.

Biarkan setiap tangis dan rasa perih menjadi cerita indah yang akan Tuhan usap dengan kenikmatan tiada bertepi.

Selamat berjuang menjadi Khadijah yang istimewa dalam hidupmu. Semoga Allah mempertemukan para wanita tangguh  dan patuh dalam atap yang sama, surga terbaik di akhirat sana…

Salam hangat penuh semangat,
Asri Fitriasari
Part of Komunitas Ibu Muda Indonesia