Apa itu KIMI?

Akhir bulan Oktober ini, saya memantapkan hati untuk kembali membuka registrasi keanggotaan KIMI. Apa itu KIMI? KIMI adalah singkatan dari Komunitas IBUMUDA Indonesia. Komunitas yang sudah saya bangun sejak tahun 2013. Sejarah lengkapnya seperti apa bisa dibaca di sini yaaa

Flyer Open Register New Member sudah disebar via medsos. Dan tentu saja pertanyaan dasar akan bermunculan bagi yang berminat untuk gabung. Baiklah, buibu tercinta…. berikut akan saya jelaskan secara lengkap tentang keanggotaan KIMI dan apa yang akan didapatkan jika bergabung dengan komunitas ini. Check it out πŸ™‚

Apa itu KIMI?

KIMI adalah sebuah komunitas yang menitikberatkan pada pengenalan diri sendiri. Topik yang akan dibahas adalah tentang bagaimana kita SADAR kira-kira masalah atau penyakit yang selama ini kita hadapi akarnya ada di mana. KIMI akan banyak membahas tentang kondisi emosi dan self awareness dalam menyikapi permasalahan hidup, terutama konflik rumahtangga. Atau mungkin tentang…. mantan. Hehe…

Siapa saja yang boleh masuk KIMI?

As long as kamu WANITA, kamu berhak masuk KIMI. Kelahiran berapapun… Sudah menikah atau belum… Sudah punya anak atau belum… IRT atau wanita bekerja…. Boleh…. boleeeh banget gabung, karena balik lagi ke visimisi KIMI, yaitu mengajak para wanita Indonesia untuk bisa kenal SIAPA diri nya dan MAU dibawa kemana hidupnya.

Saya berada di pulau atau kota “X” apakah bisa bergabung KIMI?

Keanggotaan KIMI tidak berbatas domisili. Di manapun kamu, boleh banget gabung KIMI. Karena kegiatannya lebih banyak dilakukan via grup WA. Sejauh ini kopdar hanya dilakukan di kota Bandung, Jakarta, dan Bogor karena jumlah anggota yang terdaftar yang paling banyak. Jadi tidak menutup kemungkinan jika jumlah anggota di kota mu sudah mulai banyak, bisa bikin kopdar sendiri.

Apa saja kegiatan KIMI?

Kegiatan KIMI terbagi menjadi dua agenda besar, diskusi di grup WA dan kopdar KIMI yang dilakukan di 3 kota tadi. Apa saja yang didiskusikan di grup WA KIMI? Selain masalah domestik kegalauan seorang wanita pada umumnya, KIMI memfasilitasi para member untuk curhat dan berbagi beban. Ada juga hari spesial untuk para ibu yang punya bisnis untuk bukalapak di #JumatJualan. Daaan kegiatan yang paling seru dan dinanti adalah #challengeKIMI, yaitu berupa kegiatan sehari-hari yang ditentukan tema nya, manfaatnya bisa mengulik dan mengorek potensi para buibu yang selama ini belum terkuak. Dan tentu akan ada pembelajaran di balik challenge tersebut. Tidak sedikit dariΒ  pengalaman challenge, banyak member yang jadi lebih jauh mengenal dirinya sendiri.

Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dengan bergabung dengan komunitas ini?

Selain bertambahnya saudara sesama perempuan, para member KIMI yang sudah tergabung selama ini merasakan manfaat berupa perspektif baru dan berbeda dalam menyikapi setiap masalahnya. Karena selama prosesnya kita akan sama-sama KENAL dengan diri kita yang sebenarnya. KIMI bisa menjadi sahabat yang akan menerima kamu apa adanya. Well ini abstrak banget sih emang, tapi ini akan kamu rasakan ketika sudah masuk dan merasakan interaksi di KIMI πŸ™‚

Apa yang membedakan KIMI dengan komunitas lain?

KIMI tidak akan secara khusus membahas tentang pernikahan, sekolah anak, parenting, ASI vs Sufor, MPASI, metode lahiran, pilihan karir, dan topik spesifik lainnya. It’s about us, as a WOMAN.

Apa syarat bergabung dengan KIMI?

Pertama, mengisi database di bit.ly/databaseKIMI. Kedua, siap jadi diri sendiri dan MENERIMA diri sendiri.

Oiya, buat yang belum tau dan kenal. Kenalkan…. Saya Asri Fitriasari atau biasa dipanggil Achii. Seorang ibu dengan satu anak yang sedang hamil anak kedua, koas doktergigi di FKG Unpad, domisili Cimahi, dan seorang wanita yang senang sekali menulis. Saya founder dari komunitas ini. Am I an expert in these things??? Engga. Saya pun masih gesrek, butuh masukan dan diingetinnya. Saya membuat komunitas ini karena sadar bahwa wanita itu sebetulnya SANGAT KUAT, hanya saja suka lupa caranya kuat itu kayak gimana. Saya kumpulkan para wanita dengan segala cerita dan latar belakangnya untuk saling mengingatkan dan menguatkan bahwa KITA ITU HEBAT !

Baiklaaah… sekian informasi singkat tentang KIMI, silakan jika berminat kenalan dan merasakan serunya komunitas ini bisa japri saya via WA 0812 2702 3499 πŸ™‚

 

 

THANKYOUUU *smooch*

Advertisements

Menitipkan Anak

image

Ada yang pernah menitipkan anaknya untuk berbagai alasan? Untuk ngantor? Sekolah? Atau sekedar menikmati waktu sendiri?

Saya pernah dengan 3 alasan di atas, dan ini sekelumit cerita tentang pengalaman saya menitipkan anak…. Feel free to judge me, I’ll be okay and feel bodo amat with what you’re thinking.

Anin lahir di usia saya yang masih 23 tahun. Saat itu saya belum selesai koas. Status saya masih sebagai mahasiswa sebuah fakultas yang harus diam sejenak mengurus bayi dengan segala keterbatasan ilmu dan pengalaman. Anak pertama bokkk. Entah sebuah anugerah atau ujian, hingga pada waktunya lahiran saya belum juga mendapat asisten yang bisa membantu saya mengurus Anin dan menjaganya ketika saya harus melipir ke sekolah. Saya terpaksa menjadi ibu yang anteng duduk manis di rumah, membesarkan Anin.

Ketika Anin berusia sekitar 8 bulan, saya mendapat seorang asisten di rumah, tapi belum saya percayai sepenuhnya untuk menjaga Anin.  Saya tetap memegang Anin hampir full 24 jam, kadang adakalanya dititip kalau mau belanja ke Borma atau mau paketin barang ke ruko depan.

Apa yang saya rasakan saat itu adalah, to be honest, rasa lelah yang amat sangat, rasa jenuh yang amat sangat, dan rasa marah (pada diri sendiri karena gak bisaan ngurus anak dan pada lingkungan yang kadang suka bikin sensi). Saya bahagia punya anak, yaaa kali masa punya anak malah gak bahagia, tapi yagitu deeeeh heu.. Hingga akhirnya di usia Anin yang menginjak 1,5 tahun ada kenalan yang masih kerabat dekat bersedia mengasuh Anin jika saya mau kembali ke rutinitas sekolah. Insya Allah yang ini cukup bikin saya percaya dan siap nitipin Anin.

Masa-masa kacrut itu yang cukup membekas dan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Masa di mana pertama kali saya lihat wajah memelas Anin yang gak rela dan gak suka ditinggal. Sedih sih, tapi pas saya udah asik di luar, saya suka lupa kalau punya anak… Haaah my bad. Saya akui itu sebagai suatu kesalahan dan kedodolan saya sebagai seorang ibu. Asik aktif ini itu dan mulai melakukan aksi pembalasan setelah hampir 2 tahun stuck di rumah.

Semua digunakan sebagai pembenaran, kan saya harus beresin sekolah, kan saya harus bantu suami cari duit juga, kan saya harus punya waktu sendiri. Daaaaan segala tetek bengek alasan yang sebenarnya menutupi aksi PELARIAN saya dari sebuah kenyataan bahwa saya sekarang punya anak, dan ngurus anak itu gak semudah yang saya bayangkan 😭😭😭

Sekolah gak beres juga. Bisnis pun malah meluncur bebas gak bersisa. Lalu saya jadinya bahagia?? Yaaa enggaklah ~

Emosi yang gak karuan yang mengisi hari-hari bersama Anin. Ketika Anin masuk usia 3 tahun, ketika dia sudah mulai bisa berkomunikasi sebagai selayaknya ‘manusia’, saya pelan-pelan mulai tersadar bahwa ada jarak yang cukup besar antara saya dengan dia. Peran saya hanya sebagai ibu biologisnya saja, makna ibu yang sebenarnya dia dapatkan dari lingkungan, dari mana saja dia sempat dititipkan.

Sakit. Perih. Dan merasa kehilangan….

Baper is everywhere ketika Anin mulai merengek lebih ingin main bersama Teteh (ART di rumah), Ateu, atau Enin nya. Apalagi kalau dia udah mulai cranky bilang Bunda nya galak atau bilang dia gak sayang sama Bunda nya, gak mau sama Bunda..

Hiksss… Langsung kayak ditabrak pake buldozer, terus yang lagi nyetir buldozernya itu Gajah Afrika yang lagi hamil 9 bulan. Hahaha lebay bin ngarang wkwkwk.

Satu persatu bagian tubuh yang hancur ketabrak buldozer terus yang nyetirnya Gajah hamil 9 bulan itu (tetep yaa) dikumpulin dan saya pasangkan lagi sesuai posisinya masing-masing. Baper won’t take you anywhere, Chiii..

Ayo bangkit, semangat, waras, dan berbenah..

Fase menerima kenyataan adalah fase yang paling menyakitkan. Karena kenyataan hampir tidak selalu sesuai harapan. Karena harapan manusia terlalu cetek jika dibandingkan rencana yang sudah Tuhan siapkan. Jadi saya pun belajar untuk menerima kenyataan dan berhusnudzon dengan segala skenario yang Allah siapkan.

Saya mencoba memaafkan diri saya sendiri terlebih dulu setelah apa-apa yang saya lakukan sama Anin. Mbakbroooo, jangan tanya prosesnya kayak apa yaaa. Memaafkan diri sendiri itu lebih bikin mual muntah daripada memaafkan orang lain. Feeling gulity itu lebih ganas sifatnya dan menyebar ke setiap sudut sel-sel tubuh. Heu.

Setelah saya memiliki kekuatan untuk menerima dan memaafkan apa yang sudah terjadi, ada banyak hikmah yang bisa saya ambil. Ada banyak pembelajaran hidup yang membuat saya sangat tidak mau mengulanginya lagi. Amat amat amat gak mau. Saya gak kenal sih sama si Amat. Tapi katanya Amat juga gak mau. Hahaha apasih garing.

Saya pernah merasakan bagaimana menjadi ibu yang diam di rumah tapi gak pinter bersyukur, saya juga pernah merasakan menjadi ibu yang asik di luar sampe lupa kodrat awal. Dua-duanya gak proporsional…

Tapi dari situ saya bisa belajar bagaimana menjadi ibu yang bisa tetap tenang dan bahagia meski harus diam di rumah, dan tetap tau diri ketika harus beraktifitas di luar rumah. Baru tau loh yaah, prakteknya masih ngesooooooot hehehehe..

Sekarang, saya gakmau keenakan lagi nitipin Anin. Nitipin yaa hanya karena cukup gak memungkinkan bawa-bawa Anin. Mau serepot dan serempong apapun kalau lagi sama dia, saya dan suami harus terima risikonya, terima tanggung jawabnya, dan terima semua proses yang harus dilalui. Kami mungkin bukan ayah dan ibu yang terbaik untuk Anin, figuritas kami sebagai orang tua juga agak agak gimanaa gitu, tapi saya sendiri yakin… semua bisa karena biasa, saya dan suami pasti bisa jadi partner hidup yang baik untuk Anin…. sebelum dia menemukan partner hidup yang lain setelah dewasa nanti. Eaaaa jadi sararedih ginih hahaha..

Terima kasih Anin, kamu adalah guru cilik di rumah… Maaf yaa Bunda suka keenakan dan hobi banget titip-titip Anin. Doakan Bunda cepet lulus kuliahnya yaaaa!!!

Habiburrahmaan, 22 Ramadhan 1437 H
Asri Fitriasari
Ibu yang mulai waras wkwk

Pick Your Battle

Haloo selamat malaaam..

Jelang midnight tetiba pengen pengakuan dosa (lagi). Hahaha hobi amat yaa gue pengakuan akhir-akhir ini.

Efek Life Coaching Sis πŸ˜…

Berasa banget hidup lagi di-reset. Berasa bangeeeet hidup lagi di-defrag. Jujur aja Sis, gak enaaakkk. Sesak menyakitkan dada menghadapi kenyataan haha.

Oke.. Izinkan saya melakukan beberapa pengakuan yang bisa jadi kurang nyaman untuk dibaca atau bikin kamu ngomen dalam hati, “Dih kenapa sih si Achii.. Kebanyakan ngemil jengkol kali yaa ini orang, omongannya kok aneh.. Hahaha..”

TERSERAH.

Tulisan ini adalah tulisan tentang revolusi mental yang akhir-akhir ini saya lakukan. Mau komen negatif, silahkaaan. Mau baca sampe abis, silahkan. Manatau bisa jadi insight baru untuk hidup para Sis dan Bro yang kebetulan baca.

Oke, pertama tentang MENIKAH.

Dulu saya anaknya Nikah Minded banget.Β  Getol koar-koar “Ayo dong NIKAH secepatnya. Makin muda nikahnya makin berjaya kehidupannya. Percayalah, percayalaaaah!”

Dan Allah dengan sangat baik hati ngasih banyak cerita, drama, dan ujian yang bikin saya mikir… Mikiiiir banget. Gak bisa Chii, lo nyamain jalan hidup lo yang (katanya) bahagia nikah muda lalu beropini kalau orang yang nikahnya cepet itu udah pasti bener hidupnya. NO! Ada banyak variabel dari setiap hidupnya orang yang bikin dia belum bisa menikah dan atau nunda nikah.

Kedua tentang IBU RUMAH TANGGA.

Duileee inget banget deh dulu saya pernah ngetwit tentang #FullTimeMom kemudian cerita betapa bangga dan bahagianya saya jadi ibu yang stay di rumah dan menganggap ini pilihan terbaik seorang wanita. Banyak yang muji dan nge-ritwit, dan pasti banyak juga yang ngerasa sakiiit ketika baca apa yang saya twit. Astaghfirullah. Terlepas ada yang pro dan kontra tentang apa yang saya sampaikan, tapi saat saya melakukan hal itu, saya cukup sotoy dan melihat sebuah masalah dari satu sudut pandang aja. Kembali, Allah dengan baik hati ngasih skenario hidup yang bikin saya harus ninggalin anak dan memiliki aktifitas layaknya ibu bekerja. Nah udah deh dari situ saya bisa liat dan bener-bener ngerasain suka dukanya jadi ibu bekerja, enaknya apa, kesiksanya kayak apa. Masya Allah beneran langsung taubat dari segala prasangka tanpa sebab, yang selama ini saya umbar-umbar..

Ketiga, masalah jadi PEKERJA atau PENGUSAHA.. Mana yang lebih mulia?

Duh kalau yang ini agak ngejelimet kalau diceritain. Cuma intinya sih dulu saya yakin banget kalau jadi pengusaha itu mulia banget. Apalagi pengusaha yang shaleh. Duh impian banget deh. Saban hari saya berjuang jadi pengusaha yang shaleh. Dan dengan pede nya maksa suami untuk RESIGN aja. Tanpa tau bakal siap atau engga dengan konsekuensinya.

Kejadian demi kejadian datang.. Bikin saya mikir dan ngerti… Hidup gak sekeras itu. Dilemesin aja dulu kali, Chii..

Kesalahan yang dilakukan berulang-ulang adalah, saya semangat melabuhkan pilihan sama sesuatu hal yang saya pun belum kebayang konsekuensinya akan seperti apa. Mostly karena liat orang sukses, terinspirasi orang sukses tapi kebablasan.

Well. We have our own path of life. Termotivasi dan terinspirasi itu gak salah. Yang salah itu kalau kita ngikutin orang lain tapi gak napak sama hidup kita sendiri.

Kitaa?? Elo aja kali chiii hahaha ~

Dari sejak dulu suami selalu bilang, kita kudu sadar sama apa yang kita mau, tetep zero, dan mikir jernih.. Gak harus apa yang kamu denger langsung kamu kerjain.

Baru ngerti dan sanggup ngejalaninnya sekarang hahahaha. Maap yaa Pak Suami..

Saya sadar kalau selama ini apa yang saya kejar itu cuma ILUSI. Seperti yang butuh padahal engga. Seperti yang harus kesampean padahal bukan itu tujuan akhir yang harus dicapai.

Jadinya saya up and down gak jelas. Kalau lagi enjoy yaa enjoy bangeeet, kalau lagi ngedrop yaa ngedrop banget. Saya sendiri gaktau apa yang sebenarnya saya inginkan. Tanpa sadar berjalan sambil membawa luka kemana-mana dan cari penawar dengan racikan yang salah.

Alhamdulillah, sekarang satu persatu cahaya mulai keliatan. Mulai bisa napak ke bumi dan SADAR tentang siapa saya yang sebenarnya dan BUTUH nya apa.

Alhamdulillah, sekarang satu persatu impian yang udah pernah ditulis mulai saya hapus. Lohkok? Yaa justru karena saya sudah semakin kenal diri saya dan ternyata bukan ke arah sana larinya.

Hal yang paling menyenangkan adalah ketika kita gak gampang terbawa suasana atau intervensi dari luar diri kita. Ajeg. Yakin. Pageuh sama intuisi yang Allah titipkan pada hati kita.

Wah masih proses sih sebenernya itu juga. Cuma yaa saya belajar bahwa sebuah prinsip hidup itu cukup kita dulu yang jalanin, gak usah maksa orang untuk ikut dengan pemahaman kita.

Daaaan gak usah repot mikirin hidup orang kenapa belum nikah ajaa, kenapa itu anaknya ditinggal kerja, kenapa anaknya tetangga dikasih sufor, kenapa itu gak berani resign, kenapa dia begini, kenapa dia begitu. Udah. Udahan, saya mau udahan mikirin itu. Saya mau benerin dulu hidup saya sendiri. Kita semua punya prinsip, dan prinsip yang kita pegang bukan berarti harus jadi prinsip semua orang. Bukan gitu cara mainnya.

Saya masih inget pesannya Teh Febi, dan akan selalu inget…

“Pick your Battle, Chii”

Waktu Teh Febi ngomong itu saya baru setengah ngerti. Saya baru mulai belajar “melepas” satu persatu ambisi saya dan belajar FOKUS sama pertarungan yang benar-benar harus saya hadapi.

Alhamdulillah Teh (mudah-mudahan Teh Febi baca blog ini hehe) sekarang Achii udah bener-bener ngerti pesannya Teteh dan bener-bener BERANI untuk beresin battle yang sebenarnya. Takes time banget ya Teh sampe Achii bisa sadar banyak hal hehehe.

Well.. Jadi kalau sekarang saya terlihat sedang “shut down” di beberapa kegiatan yang selama ini saya kejar dengan penuh ambisi, bukan berarti saya berhenti. Saya sedang memilih pertarungan hidup yang lebih hakiki (mulai keluar bahasa planet geteknya haha).

Gak harus sama dengan orang lain. Dan orang lain juga gak harus sama kayak saya.

Itu aja.

Sekian curhat jelang midnight malam ini. Semoga bermanfaat. Mohon maaf lahir bathin. Selamat bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 😚

Salam Hangat Penuh Semangat,
AchiiYangSemakinBeraniJadiDiriSendiri
*semacam kayak nama FB anak alay 90an πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚