Kenapa Healing Class Direkomendasikan

Lantas di mana letak salahnya kok ada manusia yang mampu berdamai dengan masalah dan ujian, tapi banyak pula yang gagal paham dan menepi kejauhan? Kalau memang ALLAH tidak memberi beban melebihi kemampuan kita, kenapa kita seperti kepayahan mengarungi kehidupan? Kok rasanya kesusahan ini tak berujung?

Aduh ini kalimat cukup nyesek ya? Kok bikin penasaran ya? Kok gue banget yaa haha ~

Sebelum akhirnya saya kepengen banget baca buku Soul Healing Therapy, saya dihadapkan pada kondisi bisnis yang stuck bangeeeet nget nget nget padahal sebelumnya lancar jaya dan saldo rekening aman sentausa. Pas saya jatoh, liat rekan sejawat lainnya makin mencuat melesat bikin sirik beraaaat.

Eungap. Sesak nafas rasanya.

Saya sempat “marah” pada keadaan. Menyimpan sedikit kesal pada Tuhan. Perasaan kerja udah edan, pengorbanan udah dilakukan. Tahajud, dhuha, infaq, sodaqoh, dan membantu sesama udah. Tapi kenapa doa belum juga ketemu jawabannya. Hidup makin sempiiiit aja rasanya. Mulai kan sombong dan perhitungan sama Tuhan. Amit-amit deh itu kelakuan hahaha. Mau ngapa-ngapain bawaannya males dan emosiiii aja jadinya.

Pas “dipaksa” baca buku Soul Healing Therapy ama Bu Nani Kurniasari, brand owner NKsyari, ada kalimat di atas yang cukup nusuk dan bikin penasaran.

Iya.. iya iya sih kenapa kok tetiba suka ngerasa hidup gini-gini amaaadddd??? Pake D amat nya juga biar nendang! Padahal sebenernya masih banyak yang bisa disyukuri tapi kok yaaa rungsing a.k.a kacau terus pikiran. Hayati butuh piknik…

Dan di buku itu dijelaskanlah bahwa ada yang namanya PROSES dan KONSEKUENSI DOA.



Beuh. Apapula itu.

Pertama, doa yang baik dan cepat sampe ke Tuhan Yang Maha Mengabulkan, adalah doa dari jiwa yang tenang. Haduuuh tuh kan jiwa yang tenang lagi kyaaaaa susah banget gaes punya jiwa yang tenang itu. Prosesnya panjaaaaang dan berliku. Bentuknya juga abstrak gatauuuu. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang “menyerah” pada kuasa Tuhan. Bisa menyelaraskan setiap emosi negatif yang ada dan mengetahui dan mengakui setiap ketakutan yang paling dalam pada diri kita. Jiwa yang tenang dan eling akan lebih enak saat kirim doa pada Sang Kuasa.

Wahai jiwa yang tenang.. Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS Al Fajr 27-30)

Kedua, harus siap dengan segala konsekuensi doa. Konsekuensi doa ini hadir dalam bentuk masalah.

Jadi selama coaching sama Teh Irma, tiap kali ngeluh dan protes sama hidup, Mamak cuma bilang dengan entengnya, “Coba yaaa diinget lagi doa-doanya…

“Glek. Jlebbb. Keselek!

Langsung lemes.

Doa ingin jadi istri shaleha yang setia mendampingi suami. Jadi ibu yang baik.

Doa ingin keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Doa ingin diangkat derajatnya jadi ummat yang mulia.

Doa ingin dibersihkan hartanya dari yang haram dan syubhat.

Doa ingin bisa membahagiakan orang tua dan lingkungan sekitar.

Doa ingin hidup lebih baik terus lebih baik setiap harinya.

Doa… doa gue dipikir-pikir cliche tapi yaaa konsekuensinya yaaa gakan mudah lah pastinya!

Belum lagi ditambah doa pengen bebas hutang dan jadi horang kayah. Punya penghasilan ratusan juta. Bisa bangun sekolah gratis dan menggerakan sejuta ibumuda. Whaaaaat doa lo luarbiasaa. Gak sebanding sama usaha dan kondisi jiwa lo Nyoong wkwkwk

Tareeeek napas dulu Sis. Eungap bangeeet inih.

Tiap inget doa yang udah “direngekin” sama Allah dan bandingin sama kelakuan, langsung istighfar. Ya ampuuun minta semprot dulu beauty water biar segeerr huhu. Aerr putih mana aerrr putih… malu banget liat kelakuan sendiri. Hiks.

Satu tahap hidup berhasil kita naiki ketika kita sadar bahwa setiap yang terjadi adalah ulah diri sendiri. Masalah yang datang sebenarnya nyuruh kita bangun. Woooi itu banyak banget yang kudu dibenahin dalam diri lo. Allah mau  ngasih nih apa yang lo minta tapi itu benerin dulu hatinya. Siapin dulu mentalnya. Biar lo gak makin belingsatan. Biar Allah ridho dengan setiap apapun yang Dia kasih dan dia ambil. Biar Allah selalu ridho sama hidup lo. Wakeeee upppp!!!! Lukanya dibuka, diobatin, dibikin sembuh. Penyakit hatinya gosokiiiin, bikin kinclong duluuu. Biar kalau lo dikasih nikmat yang banyak, lo tau cara yang bener untuk tetap berpijak dan gak bertindak seenak jidat.

Haaaahhh. Sesak yaaah.

Kurang lebih itu yang selama ini didapat sepanjang baca buku Soul Healing Therapy dan ikut kelas Healing. Dibelek matanya untuk melihat indahnya proses ketika Allah ingin mengabulkan doa kita. Kayak mau lahiran. Sakiiiit banget nunggu pembukaan. Sampe kadang kudu diinduksi dulu dua kali baru keluar deh anugerah Tuhan paling seksi. Seksi soalnya pas keluar belum dibajuin. -Garing-

Setiap doa ada proses dan konsekuensinya. Siap-siap ajaaa.

Jadi kalau tiap hari ada aja masalah yang harus dihadepin yaaa dimamam ajaa. Vitamin Sis biar siap jiwa raga ketika Allah kasih yang kita semua minta saat doa.
Tareeek napas dalaam. Keluarkan perlahan…

Tenang… tenang… maka lo MENANG

Semoga bermanfaat yaaaw.

Selamat mengingat kembali doa yang udah diminta dan menerima konsekuensinyaaah! Kalau bener-bener gak ngerti sama diri sendiri harus digimanain, gabung yuk di kelas healing 🙂

Salam hangat penuh semangat,

AF

Founder of IBUMUDA Indonesia :*

Wilujeng ya A …

Katanya hidup kita belum sempurna kalau belum punya pasangan hidup. Apakah itu benar? Mari kita buktikan.

Saya mengenal seorang pria sunda yang memiliki perawakan mirip Surya Saputra. Gak mirip sih, tapi anggap saja mirip. Kanin sih yang bilang mirip ^^v Saya akan menceritakan pria ini tapi tidak usah kalian sambil membayangkan Surya Saputra. Tidak usah. Bams Samson mungkin boleh. Ah tidak juga. Oke gak usah dibahas bagian muka. Next….

Awal pertemuan saya melihat pria ini sebagai seseorang yang begitu hangat dan humoris, di balik pembawaannya yang dingin dan seperlunya. Saya pun tidak tau mengapa saya bisa jatuh hati pada pria ini. Saya cukup lupa apa yang membuat saya  berani menikah dengannya. Saya menjadi bagian dari skenario hidupnya.

Tiga tahun hidup bersama pria ini, saya diajak membuktikkan bawa hidup berdua dengan orang yang berbeda karakter dan pola pikir itu adalah KESEMPURNAAN yang Tuhan ciptakan dalam sebuah bingkai pernikahan.

Lewat dia saya jadi tau sisi lain tentang hidup. Tentang bagaimana memperbaiki diri dengan cara lain yang berbeda jauh dari apa yang saya jalani saat sendiri.

Pria ini memang tidak sempurna. Selayaknya pria di luar sana. Tapi sisi dalam hidupnya, sisi dalam dirinya adalah potongan puzzle yang membuat hidup saya lengkap. Membuat hatinya menjadi tempat yang sangat nyaman untuk merebahkan beban.

Selisih dan adu pendapat tidak jarang membuat saya sebal dan benci pada pria ini. Itu adalah efek jangka pendek saja. Karena tidak lama setelah benci, saya kembali kepada cinta. Cinta yang lebih tebal, cinta yang lebih kuat, dan cinta yang membuat saya semakin sayang pada Tuhan. Ahh… dan itulah bagian yang paling indah.

Saya percaya jika memiliki suami adalah pelengkap bahagia. Pelengkap pasti.

dan pria itu bernama Indra Purnama Irawan. Ayah dari anak saya, Ayah dari si lucu Kanin.

Seorang suami dan ayah yang tidak pernah menyerah untuk membahagiakan anak dan istrinya. Seorang suami dan ayah yang begitu erat menjaga anak dan istrinya. Seorang suami dan ayah yang selalu mempunyai waktu untuk memeluk kami dalam hangat, pelukan yang selalu kami rindukan saat ia harus kembali bekerja. We love you Ayah and happy birthday :*

 Tulisan ini diketik tanggal 2 Maret, ulang tahun suami tanggal 4 Maret, tapi baru diposting sekarang hehe ^^v

Kamu teman hidupku

Yang memilihku masuk ke dalam skenario hidupmu

Ada benci ada juga rindu

Tapi semua jadi satu

Dalam cinta yang semakin utuh

Kamu adalah potongan hatiku

Yang menjadikan jiwa lengkap

Diukirkan dalam janji

Dipersatukan dalam bahagia

Semoga apa yang tercipta dalam hati kita

adalah pengantar jiwa menuju surga 🙂

Allah Titipkan

Allah titipkan pada kita mata untuk melihat ilmu dan ciptaanNya yg begitu kaya dan lua tak terkira, agar kita semakin menghamba.

Allah titipkan pada kita telinga agar bisa mendengar senandung alam dan syahdunya murattal, agar kita semakin menghamba pada Allah.

Allah titipkan bibir untuk berucap kebaikan, untuk lafadzkan tilawah, agar kita semakin menghamba padaNya.

Allah titipkan tangan dan kaki utk kita bergerak dan menggapai tempat dan kesibukan yang penih berkah, agar kita semakin menghamba padaNya..

Allah titipkan hati untuk merasa dan menikmati indahnya sayang dan cinta, agar kita semakin menghamba padaNya 🙂

Allah titipkan detak jantung, hembus nafas, aliran darah utk hidup, utk mengeja setiap pesan Allah, agar kita semakin menghamba.

Allah titipkan rumah untuk berteduh dan mengatur miniatur surga di dunia, agar kita semakin menghamba..

Allah titipkan pasangan utk teman hidup, agar kita lebih kuat menerjang badai, lebih mampu hadapi cobaan, agar kita semakin menghamba pdNya

Allah titipkan anak pd kita, utk mendidik hati yg terlalu byk egonya, utk mendidik jiwa agar lbh sabar&ikhlas, agar kita semakin menghamba.

Allah titipkan kendaraan pd kita agar waktu yg dibekali lbh luas manfaatnya, lbh byk keberkahannya, agar kita semakin menghamba padanya ^^

Nuhun ya Rabb atas segala nikmat yg telah Kau titipkan pdku, tuntun & teruslah bersamaiku, agar apapun ini adl jalan cinta menuju ridhoMu :*

Satu Tahun Kanin

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Dear Kanin…

1 tahun yang lalu di hari ini, 22 Mei 2012 Bunda untuk pertama kalinya merasakan kesakitan yang amat sangat. Kesakitan yang juga dirasakan oleh Nin, dan para ibu lain yang sudah tidak sabar untuk memeluk buah hatinya yang selama ini tumbuh besar dalam rahimnya.

1 tahun yang lalu, Bunda begitu gusar karena harus menunggu 2 hari dengan sakit yang tidak bisa dideskripsikan oleh kata untuk nunggu Kanin keluar, mengeluarkan tangisan yang memecah haru dan suasana. Continue reading

New Year New Chapter

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Ahhh akhirnya bisa nulis lagi dan ini tahun 2013. Alhamdulillah 🙂

Satu tahun itu gak berasa banget yaaa. Dan kalau di-flash back ternyata banyak sekali yang terjadi setahun belakang. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah, jauuuuh lebih banyak kebahagiaan yang berserak daripada kesedihan yang ikut nyempil doang 🙂

Sedikit review tentang 2012, apa aja yang udah saya dapet di satu tahun ke belakang. Tahun 2012 buat saya sangat spesial. Ada 2 momen besar yang terjadi, wisuda dan lahiran. Alhamdulillah semuanya dikasih kelancaran dan kebahagiaan yang gak bisa diurai oleh kata. Continue reading

Dear Kanin…

Dear Kanin..

Putri kecil Bunda yang lucunya gak ketulungan. Anak shaleha yang menggemaskan…

Kemarin kamu hebat banget deh! Kamu adalah bayi anteng yang amat sangat dan kooperatif ketika Bunda sedang riweuh ngurusin acara #SeminarNikahBDG.

Iyaa, kemarin tanggal 28 Oktober 2012 adalah kali pertamanya Bunda ngadain acara dan udah ada kamu dalam hari-hari Bunda. Honestly itu gak mudah buat Bunda. Kamu yang masih berusia 5 bulan dan harus udah ikut acara begituan.. Emm, bukan, kamu memang bukan salah satu pesertanya tapi kamu adalah bagian yang menarik dalam persiapan acara ini.

Nak, mau tau gak cerita tentang kamu yang selalu setia nemenin kemanapun Bunda pergi?

Ceritanya begini….

Continue reading

Menikah: Perjanjian Besar dengan Tuhan :)

Ba’da Maghrib, sudah 3 hari ini kebiasaan baru saya adalah menyicil bacaan pada buku-buku yang suami saya berikan saat seserahan kemarin. Buku yang saya minta sebenernya. Buku-buku Islam yang sudah lama ingin saya beli tapi belum ada kesempatan dan uang yang cukup untuk membelinya. Alhamdullillah suami diberikan rizki oleh Allah untuk mewujudkan keinginan saya terhadap buku-buku itu. Buku-bukunya kereeennn.. Bukunya bantu saya untuk terus merenungi hidup dan menelaah keseharian saya yang, waw, masih jauh dari syariah (bankk kali ah syariah ;p)

Untuk kali ini, ada kutipan dari salah satu buku yang saya baca dan ingin saya sharing sama teman-teman, tentang pernikahan. Apa lagi nih? Tulisan saya akhir-akhir ini tentang nikah mulu ya? Semoga bisa jadi nasihat untuk yang belum menikah dalam merencanakan pernikahan nantinya. Maaf loh kalo bikin mupeng. Saya sering diprotes sama temen akhir-akhir ini kalo nulis atau nge-status update, katanya bikin sirik, bikin iri, bikin mupeng. Ya maap. Saya nulis apa yang saya rasain aja. Kalo bikin sirik, mupeng, iri, dan perasaan-perasaan lain yang gak jauh dari kata-kata yang tadi, yaaaa maap. Siapa tau jadi motivasi kan? Seperti yang udah saya bilang tadi, semoga justru jadi pencerahan buat yang belum married untuk menyiapkan mental. Anggap aja saya ngasi gambaran dari salah satu contoh kehidupan pernikahan, versi saya gitu. Oke, saya gak akan berlama-lama memberi klarifikasi. *Penting amat

Langsung aja yaaa.

Ada satu hal yang sangat menarik di buku yang saya baca tadi, bahwa pernikahan itu adalah perjanjian antara kita (pengantin) dengan Allah. WOW. Segitunya yaa? Iya, segitunya loh. Jadi, dalam Al-qur’an itu ada frasa bunyinya Miitsaaqan ghaliizhaa yang artinya ’perjanjian besar’. WOW (lagi ah). Frasa itu dituliskan 3 kali dalam al quran. Selain pernikahan, miitsaaqan ghaliizhaa lainnya adalah, perjanjian antara Allah dengan Bani Israil sampai-sampai Ia mengangkat gunung Thursina ke atas mereka, dan juga perjanjian agung antara Allah dan Rasul-rasulNya. WOW (untuk ketigakalinya). Keren banget gak seh seh seh? Kenapa sih sampai bisa segitunya? Iyalah. Banyak hal yang terjadi dalam pernikahan. Ini yang menurut pengalaman pribadi aja yaaa.

Menikah ituuuu:

Punya sahabat pria

Pernikahan yang saya rasain sekarang adalah ketika saya punya teman hidup yang statusnya lawan jenis. Saya punya banyak sahabat perempuan, emm.. sahabat lelaki saya ya cuma satu ini, suami saya. Bentar, saya juga punya sih sahabat cowo, contohnya si Jaja dan masih banyak lagi lainnya, tapi sahabat pria yang tingkat kedekatannya sepadan sama sahabat wanita saya, ya suami saya. Malah lebih dari itu. Ya, pernikahan bikin saya bener-bener punya sahabat pria. Seseorang yang selalu sabar dan setia menemani saya lagi bete atau senang.

Punya dua blok keluarga (dikata komplek, pake blok..)

Setelah saya dikasih seorang sahabat pria, pernikahan juga memberikan saya sebuah keluarga baru. Keluarga yang harus saya perlakukan sama dengan keluarga yang sudah menemani saya sejak 21 tahun yang lalu. Keluarga yang harus saya bagi cinta dan sayang sama seperti keluarga saya sebelumnya. Udah banyak yang bilang kalo menikah itu bukan kita menikah dengan si Fulan saja, menikah itu berarti kita menikah dengan Fulan dan keluarganya. Menerima si Fulan dengan segala kekurangan dan kelebihannya sih rada gampang yaa, pake cinta gitu, tai ayam juga rasa coklat, tapi kalo menerima apa yang ada pada keluarga si Fulan? Tentu tidak semudah menerima si Fulannya. Ada banyak tradisi dan sudut pandang keluarga pasangan kita yang berbeda dengan apa yang kita punya. Pernikahan membuat saya punya dua pasang orang tua dan keluarga besar yang mengirinya dan harus sama-sama saya sayangi dan hormati.

Punya kebiasaan baru

Okei, mungkin untuk yang satu ini belum begitu saya rasain banget, secara saya beda kota. Gak terlalu banyak yang berubah. Ada pasti yang berubah. Contohnya, kalo dulu tiap malam Sabtu saya cuma sumringah karena besok adalah weekend dan saatnya liburan, kalo sekarang, malam Sabtu adalah saat-saat saya dengan semangatnya menahan ngantuk untuk menunggu suami pulang nengokin saya di kosan. Saya yang dulunya boros dan gak pernah mikir kalo ngabisin uang, sekarang saya harus lebih cermat kalo memanage uang. Dulu, kalo saya bangun tidur, saya cuma mikirin hari ini mau ngapain aja, tapi sekarang, saya juga pengen tau apa yang mau dilakukan suami saya di ujung sana. Dulu, kalo makan siang saya asik kenyang sendiri, sekarang tiap kali makan siang saya suka kepikiran yang di sana inget makan siang apa enggak ya, makan siangnya sehat apa enggak ya. Dulu, kalo mau vacation atau ada acara kampus, saya langsung iya-iya aja dan langsung capcus, sekarang, saya harus minta izin sama suami, dan ngatur jadwal bareng biar bisa tetep ketemu minimal 2 kali sebulan. Dulu, kalo saya pengen kentut dan ada dia, saya tahan sebisa mungkin, sekarang? Ya elaaaa.. Bisa mati menahan kentut yang ada kalo ditahan. (Akhir hidup dengan sketsa muka yang jelek banget tuh pasti) Haha. Banyak sih sebenernya kebiasaan baru saya semenjak menikah. Semua butuh kesabaran dan keikhlasan. Merubah kebiasaan gak semudah membalikkan telapan tangan bukan?

Punya tanggung jawab lebih

Ini sih poin penting di mana pernikahan menjadi perjanjian yang besar di mata Allah. Ketika kita menikah, Allah menghalalkan yang awalnya haram. Sesuatu yang gak pernah bisa diubah hanya dengan materi, tapi hanya dengan akad. Ada ijab dan qabul. Ketika suami menggenggam tangan Papa saya saat akad, ada gemuruh yang mendebar dada, dan melunturkan keringat ketegangan dalam dir saya, ada pula haru yang luruh dan tersurat dalam derai air mata. Ketika kata ”sah” terucap, itu artinya ada pergantian pemain antara Papa dan suami dalam hal menjaga saya. Menjaga lahir dan bathin saya. Menafkahi kebutuhan jasmani dan ruhani saya. Sebelum menikah, Papa-lah yang menjadi imam bagi saya. Ketika ada hal yang harus diputuskan dalam hidup saya, Papa-lah yang memutuskan dan memberi kebijakan. Ketika saya bingung harus shalat Idul Adha tanggal 16 atau 17, Papa-lah yang menentukan, saya, mama, dan adik-adik ikut yang mana. Sekarang, semua yang akan terjadi dalam hidup saya, saya percayakan kepada suami saya. Semua keputusan dan kebijakan ada di tangan suami saya. Itulah poin pentingnya. Saya percayakan suami untuk menuntun saya berbahagia di dunia dan akhirat. Saya percayakan pada suami untuk menjadikan saya menjadi hamba yang semakin dicintai Allah. Saya dan suami saat ini ada dalam tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Ketika hati tak hanya ada satu. Ketika pikiran tak hanya ada satu. Ketika senang harus dibagi bersama. Ketika susah harus dinikmati berdua. Menikah adalah tanggung jawab di mana kita melestarikan komitmen di atas segala perbedaan dan persamaan yang ada. Menikah adalah kebutuhan semua manusia. Maka dari itu, ada tanggung jawab yang Allah sisipkan di dalamnya. Agar ada geliat sehingga kita terus bergerak. Karena jika kita tidak menikah, kita hanya diam dalam satu titik, titik yang hanya ada satu individu saja, dan diam adalah mematikan.

Hmmmm… Panjang sekali saya menguraikan poin keempat. Yaaa kurag lebih seperti itulah menikah. Gampang gampang susah. Seru seru lelah. Tapi satu yang pasti, insya Allah semuanya bernilah ibadah 🙂

Itu aja kali yaaaaa.. Intinya mah, pernikahan itu saking penting dan sakralnya, harus kita siapkan sebaik mungkin. Mulai dari membangun niatnya, memilih pasangan, menyiapkannya sesuai syariah, hingga mengambil tanggung jawabnya. Semuanya harus siap lahir bathin. Udah yah yah yah. Semoga bermanfaat. Bukan cuma bikin sirik dan mupeng, tapi juga jadi penyemangat untuk terus memperbaiki diri hingga Allah percayakan tanggung jawab yang indah itu untuk kita. Cemangadh eaaaaa… ;p

the letters of memory

Atas permintaan Neng Risma Putri, saya posting-kan tulisan saya untuk Mama dan Papa. Tulisan ini adalah tulisan yang saya bacain pas pengajian nikahan saya 1 Oktober kemarin. Semoga bermanfaat 🙂

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mama, teteh awali semua ini dengan cinta. Cinta tulus seorang anak kepada ibunya yang mungkin tak seberapa. Mama, izinkan aku mencoba mengingat beberapa kenangan indah dan penuh manfaat 21 tahun ke belakang. Mama, mungkin aku tak akan pernah ingat ketika aku dibesarkan dalam kandunganmu yang penuh kasih itu. Aku tak akan ingat saat-saat di mana engkau berpeluh keringat melahirkanku di klinik itu. Aku tak akan bisa mengingatnya.

Tapi aku sudah mulai bisa mengingat ketika Mama selalu menjagaku di pelabuhan antara Jawa dan Sumatra. Mama yang tak pernah menolak ketika kuminta dibelikan popmie di kapal laut penuh kenangan itu. Aku sudah bisa mengingat Ma, ketika Mama selalu mengajakku penuh semangat ke tempat wisata ketika aku kecil. Sungguh Mama, aku saat itu sangat bahagia. Hingga sampai saat ini pun aku tak tau harus membalas kebahagiaan yang kau berikan saat itu dengan apa. Mama, ingat tidak ketika kelas 3 SD aku tidak masuk rangking 5 besar? Aku menagis sejadinya. Dan tubuhmu yang penuh kasih begitu erat mendekapku hangat. Sejak saat itu aku selalu ingat bahwa perjuangan itu tak pernah ada akhirnya. Kau tau, Bisikan semangatmu masih terasa hingga saat ini.

Mama, aku juga masih ingat pertengkaran-pertangkaran kita ketika aku sudah mulai beranjak besar. Ketika aku hanya mementingkan inginku sendiri tanpa menghiraukan nasihatmu. Aku dengan dunia remajaku yang selalu membuatmu risau. Ah sepertinya tak perlu kusebutkan satu persatu kenakalan apa saja yang telah membuatmu menangis banyak. Sungguh mama.. meskipun aku menyesal tak terkira, bagiku itu adalah masa terindah di mana aku menjadi banyak belajar tentang hidup, cinta sejati, dan kasih sayangmu yang tak ada batasnya.

Duhai engkau bidadari hatiku, hanya Allah yang begitu hebat telah mengukir cinta di hatimu. Menambahkan kesabaran yang tak pernah habisnya di kotak hati itu. Apapun kenakalan yang telah membuatmu kecewa, kau tetap bersemangat mencintaiku. Tak pernah berhenti mencintaiku. Hingga ketika aku beranjak semakin dewasa aku selalu berusaha untuk memperbaiki semua. Semakin memahami bahwa nasihatmu adalah kunci berkahnya hidupku. Meski mungkin teteh terlihat cuek dan sangat santai menanggapi nasihat Mama tapi Mama harus tau bahwa aku selalu berusaha menjadi anak perempuan yang baik dan menjadi kakak sulung yang baik untuk 2 adikku. Perjuangan itu berat Ma.. Menjadi semakin baik itu ternyata sulit Ma.. Namun doamu selalu menjadi kekuatan bagiku. Teladanmu selalu menjadi semangat di setiap pagiku. Mama yang tak pernah melewatkan sepertiga malammu. Mama yang tidak pernah terdengar hening di setiap pagi karena syahdunya alunan mengaji. Mama yang mengatur awal hari dengan sigap. Mama yang meski lelah pulang bekerja tapi tetap ada untuk memenuhi keinginan anak-anaknya. Mama yang selalu membuat aku rindu untuk pulang ke rumah meski Mama tak tau itu…

Kini sudah 21 tahun berlalu dengan segala kenangan indah bersama Mama.. Sungguh tak terasa. Perjuangan Mama selama kuliah membesarkan aku dalam rahimnya hingga kini saatnya melepas aku untuk menjalani perjuangan yang mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah Mama jalani. Tidak bisa aku sebutkan semuanya karena sungguh tak terhitung jumlahnya semua kenangan itu. Maaf ma, teteh belum bisa membalas semua kebaikan Mama. Maaf teteh masih saja membuat mama sedih atau kesal. Maaf untuk segala maaf yang belum ada perbaikan ke arah lebih baiknya. Kita tidak pernah tau sampai kapan kita bisa bersama. Kita tidak pernah tau sampai kapan kita masih mampu saling memberi dukungan. Tapi yang pasti, besok teteh mau minta izin ma.. Besok teteh mau nikah. Subhanallah. Sungguh waktu berjalan begitu cepat dan jodoh menjemputku begitu awal. Teteh tidak pernah tau sepenuhnya apakah teteh siap atau tidak. Tapi Allah sepertinya memang memberikan jalan untuk mengabari hati bahwa teteh cukup siap untuk menjalani semua ini. Skenario Allah yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dengan segala  kekurangan teteh, dan dengan sepenuh keridhoan Mama. Izinkan teteh menjadi lebih mandiri lagi ya Ma. Lebih belajar lagi tentang hidup. Lebih bisa mengendalikan diri dan dekat dengan Allah. Terima kasih untuk semua pelajaran, nasihat, dan keteladanan yang Mama berikan. Kasih sayang, motivasi, dan kerja keras yang Mama berikan sehingga teteh bisa menjadi seperti ini. Mama tau? Semua itu yang selalu membuat teteh merasa siap untuk menghadapi hari esok. Hari di mana tanggung jawab akan lebih besar lagi. Hari di mana teteh akan menjadi seperti mama, menjadi istri seorang yang shaleh dan kelak akan menjadi ibu dari cucunya Mama. Hari di mana teteh sudah mulai harus berbagi kebahagiaan dengan keluarga lain selain keluarga kita ini. Maka dari itu, dengan segala cinta, kasih sayang, ucapan maaf dan terima kasih yang tak akan pernah ada habisnya, teteh minta izin Ma.. Doakan teteh biar bisa sehebat Mama, sekuat Mama, dan sesabar Mama menjalani kehidupan rumah tangga. Teteh yakin doa Mama adalah segalanya untuk teteh. Terima kasih ya Mama. Teteh sayaaaang banget sama Mama 🙂

Satu lagi surat untuk Papa.. Surat untuk seorang pria hebat yang telah membesarkan saya hingga saat ini. Papa, setelah tadi teteh mencoba mengingat beberapa kenangan indah teteh bersama Mama. Sekarang izinkan teteh untuk kembali mengingat kenangan indah teteh dengan Papa. Kalau Papa bertanya sejak kapan teteh bisa mengingat kenangan teteh bersama Papa, jujur saja Pa.. bukan di saat-saat Papa sedang berjuang mencari nafkah untuk menghidupi Mama dan janin yang ada di dalamnya. Bukan di saat papa harus kesana kemari berjualan untuk menambah tabungan untuk kelahiran teteh yang Papa sengaja siapkan di klinik terbaik di Buahbatu saat itu. Bukan pada saat Papa mencari permintaan tolong para dosen yang ingin dibuatkan perkerjaan labnya. Bukan pada saat-saat penuh perjuangan itu. Saat-saat di mana justru teteh ingin ada bersama Papa dan menemani Papa untuk belajar dan meringankan beban Papa.

Teteh baru ingat kebersamaan kita ketika Papa selalu meninabobokan teteh dengan ayat-ayat suci Al quran di gendongan Papa. Teteh baru ingat di saat Papa yang selalu memandikan teteh yang baru pulang main dari lapangan pada saat teteh masih TK. Teteh juga masih ingat ketika Papa selalu mengajak teteh ke tempat yang luar biasa saat di Palembang sana. Papa yang selalu mengajak teteh tau dan lebih kenal dengan dunia luar. Papa masih ingat tidak waktu pertama kali teteh diajak shalat berjamaah? Waktu itu Papa membacakan surat Wal Ashr. Dan dengan polosnya teteh menjawab dengan ucapan Wal Papa Wal Mama. Hahaha.. Papa yang mengajari teteh keberanian saat teteh baru belajar berenang. Papa yang mengajari teteh untuk terus mencoba ketika teteh kesulitan belajar bersepeda. Papa yang selalu mengajarkan teteh bahwa hidup itu selalu bisa ketika kita mau terus berjuang dan berusaha.

Kenangan masa kecil yang sangat sangat indah bersama Papa tidak pernah akan teteh lupakan. Hingga beranjak dewasa entah kenapa kita tidak sedekat dulu. Apalagi ketika di keluarga ini sudah ada anggota baru seorang lelaki yang menjadi adik pertamaku. Kebersamaan kita tidak sesering dulu lagi. Mungkin kita tidak sama-sama menyadarinya saat itu.. karena saat itu pun aku sudah asik dengan sahabat-sahabatku. Meski begitu, Papa lah yang selalu menenangkan dan mengingatkan teteh ketika teteh sedang bersitegang dengan Mama. Papa yang selalu mencoba menenangkan suasana meski teteh tau Papa pun sama kesalnya dengan Mama. Papa selalu mengingatkan bahwa ridho orang tua apalagi ibu adalah segalanya. Papa yang selalu mengingatkan tujuan utama hidup itu harus kemana. Meski tidak seperti dulu lagi, tapi teteh masih selalu merasakan perjuangan yang sama, perjuangan yang tidak pernah berubah sejak teteh masih dalam kandungan, perjuangan terbaik papa untuk menyekolahkan teteh di sekolah-sekolah terbaik. Mulai dari TK hingga kuliah saat ini, perjuangan Papa lah yang selalu menjadi motivasi teteh untuk bisa bersekolah di sekolah terbaik. Perjuangan Papa yang tidak pernah kenal lelah. Perjuangan Papa yang membuat Papa tidak pernah memiliki jam tidur yang cukup untuk beristirahat. Dalam hati paling dalam, teteh malu sekali Pa. Teteh belum bisa memberikan yang terbaik. Belum bisa membuat Papa bangga. Belum bisa meringankan beban Papa. Belum bisa membalas semua perjuangan itu. Teteh belum secemerlang Papa ketika Papa kuliah. Teteh belum segigih Papa dalam berjuang. Teteh belum bisa menjadi apa yang Papa inginkan. Masih banyak sebenarnya hal yang belum teteh berikan dan tunjukkan pada Papa.

Paa… meski begitu, beberapa hal yang Papa mungkin belum menyadarinya. Apa yang sudah Papa berikan untuk teteh, selalu teteh ingat. Meskipun belum teteh aplikasikan sepenuhnya tapi semua didikan Papa selama ini sudah menjadi teman yang setia di manapun teteh berada. Papa yang tidak pernah mendidik teteh dengan materi membuat teteh tidak pernah mengeluh bagaimanapun kondisi lingkungan teteh. Papa dan juga Mama selalu bilang kalau materi itu tidak akan selalu setia menemani kita. Maka dari itu, bukan materi yang selama ini teteh kejar. Tapi sayangnya Allah kepada kita itu yang selalu teteh jadikan teman dan terus teteh kejar. Selain itu, Papa yang selalu sederhana menjadikan teteh selalu bisa menerima keadaan. Tidak pernah malu dengan kesederhanaan. Papa selalu mengajarkan teteh bahwa yang penting itu bukan apa yang kita punya, tapi apa yang bisa kita berikan pada yang lain. Bagaimana bahwa hidup itu harus jadi jalan manfaat bukan jalan kesulitan bagi saudaranya. Papa adalah idola teteh. Setinggi apapun prestasi yang sudah papa capai, papa tidak pernah berhenti untuk tetap rendah hati. Papa selalu bangun pagi sekali untuk membantu pekerjaan Mama dan bibi. Papa yang tidak pernah malu menyapu di jalan. Papa yang selalu apik dan mengajarkan teteh untuk menjadikan kebersihan dan kerapihan menjadi suatu kebiasaan. Papa selalu menjadi inspirasi untuk teteh. Papa yang selalu berprestasi di manapun papa berada. Papa dengan dedikasi yang tinggi, papa yang jujur, papa yang pekerja keras, papa yang selalu bertanggung jawab dan memberikan yang terbaik yang papa bisa lakukan untuk semua orang. Papa yang selalu ringan tangan membantu sesama. Papa yang dekat dengan masyarakat. Papa adalah segalanya dalam hidup teteh. Teteh tau, meski dalam diam, pikiran dan hati Papa tetap bekerja. Papa adalah papa paling hebat dalam hidup teteh. Teteh bisa seperti ini semua karena didikan dan kerja keras Papa. Mungkin teteh belum menjadi seorang anak yang dewasa sepenuhnya. Tapi percayalah

Pa.. apa yang sudah Papa berikan selalu teteh ingat dan berusaha teteh amalkan. Hari ini adalah hari terakhir Papa sepenuhnya menjaga teteh. Besok Pa.. besok akan ada pria yang akan sama hebatnya dengan Papa. Pria yang juga akan bertanggung jawab atas apa yang teteh lakukan. Pria yang akan menjaga teteh seperti selama ini Papa menjaga teteh. Pria yang akan menemani teteh belajar seperti Papa sudah menemani teteh belajar selama 21 tahun ini. Maka dari itu, izinkan pria itu untuk mengambil tanggung jawab itu ya Pa. Percayakan teteh pada dia ya Pa.. Besok.. tugas Papa untuk menjaga dan membesarkan teteh sudah akan selesai. Besok, pria itu akan membawa teteh ikut serta dalam putaran dan aturan hidupnya. Ikhlaskan teteh Pa.. Terima kasih sekali untuk semua hal yang sudah Papa berikan sama teteh. Sungguh, hingga kapanpun teteh tidak akan bisa membalasnya. Maaf pula untuk setiap perilaku, ucap kata, atau tindakan yang tidak berkenan di hati Papa. Maaf ya Pa teteh belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kedua anak papa yang lain. Teteh masih banyaaaak sekali kekurangannya. Masih banyak hal yang belum teteh lakukan untuk membuat Papa bangga. Tapi Papa harus percaya sama teteh, teteh tidak akan pernah berhenti berusaha. Semoga keputusan teteh untuk menikah muda adalah jalan bagi teteh untuk jauh lebih baik dan menjadi teladan untuk Aa dan Neng.

Doakan teteh ya Pa… Doakan teteh untuk selalu jadi yang terbaik untuk Papa dan keluarga kita. Doakan teteh bisa memberikan cucu yang hebat seperti Papa. Terakhir, teteh sayang Papa. Papa adalah pria terbaik dalam hidup teteh. Pria terhebat dalam hidup teteh. Pria yang selalu teteh banggakan. Pria yang selalu membuat teteh kagum. Pria yang sangat setia dan bertanggung jawab pada keluarganya. Papa adalah pahlawan dalam hidup teteh. Sekali lagi terima kasih Pa.. terima kasih untuk semuanya.

Mama, Papa.. Mungkin itu saja curahan hati teteh. Teteh yakin Mama dan Papa pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk teteh. Teteh izin mau pamit ya Ma,.. Pa,.. besok teteh mau nikah. Besok teteh akan mengemban tanggung jawab hidup teteh sendiri bareng A Indra. Jodoh itu misteri. Kita sekeluarga sama-sama tidak mengira akan dating secepat ini. Semoga pernikahan teteh sama A Indra jadi pernikahan yang berkah, sakinah, mawadah, dan warahmah.

Terima kasih untuk semua perjuangan Mama dan Papa yang sudah mengantarkan teteh ke gerbang yang indah ini. Gerbang yang di dalamnya ada lautan lepas penuh badai dan angina kencang. Doakan teteh kuat dan sabar yaa.. Mama dan Papa selalu bilang teteh pasti bisa. Iya Ma.. Iya Pa.. teteh pasti bisa! Bismillah :]

 

Ditulis satu bulan sebelum dibacakan, dengan penuh hormat, kasih, sayang dan cinta.

Bandung, 1 September 2010

Teteh.

Bukan Bencana Biasa

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Allahuakbar. Allahuakbar. Allahuakbar.

Allah Maha Besar dengan segala kekuasaanNya. Saat ini, Indonesia lagi diuji oleh bencana yang gak biasa. Gak cuma sekedar kabakaran, kabanjiran, atau tabung gas yang meledak, tapi meletusnya Gunung Merapi, Gempa dan Tsunami di Mentawai, dan Banjir besar di Wasior. Allahuakbar… Ini bukan cuma ujian, bukan hanya itu, tapi ini sebuah peringatan untuk kita semua. Benar-benar peringatan.

Awalnya saya gak terlalu taking care sama semua bencana yang menimpa Indonesia. Saya masih begitu egois dengan segala urusan dan beban yang saya punya sendiri. Makin ke sini, Allah ingin semakin menggertak kita yang gak taking it seriously, termasuk saya. Letusan Merapi semakin parah aja. Kemarin waktu suami nge-tweet kalo Abu udah nyampe ke Tasik, saya udah mulai ngeri, dan hari ini ada info kalo abu udah nyampe Bandung!! Allahuakbar. Sekarang bukan hanya saudara kita yang di Jogja yang harus pake masker, tadi di social network twitter, warga Bandung udah di warning untuk pake masker. Keadaan makin ngeri aja.

Hati saya sekarang udah bener-bener tergetar. Amat sangat tergetar. Saya gak mau mengeluh lagi. Saya gak mau pusing mikirin diri saya sendiri lagi. Ini peringatan. Saya harus berubah.

 

Saya, GA MAU MALES dan MENGELUH lagi. GAK MAU!

 

#PrayForIndonesia