Berobat ke Klinik Tong Fang

Desir angin menerpa deretan hordeng berwarna pink bunga-bunga. Ada tukang parabot melewat di depan rumah. Tidak ketinggalan mamang cuankie yang mengetok-ngetokin pintu tetangga, yang belum bayar jajanannya.

Sore yang indah tapi sebenernya biasa-aja-sih di sebuah komplek perumahan sederhana, di perbatasan Cimahi dan Bandung Kota….

Aku menatap langit lalu bertanya pada diri sendiri, aku ini lagi apa. Mungkin aku ingin seperti tokoh-tokoh di novel drama tapi kayaknya tatapanku malah merusak suasana. Bukan tatapan iba atau sedih yang dramatis, hanya tatapan bingung melihat antena tv yang sudah karat dan patah dimana-mana. Watiiiir. Pantesan kemarin gak bisa nonton Persib 😁

Mau nulis apa sih Chiiii sebenernya hahahaha. Rebek amat 😂 Maap yak. Gak cocok nulis sebangsa prosa deskriptif hihihi.

Well. Seharian ini saya cukup shock dimasukkan ke WAG yang berisi wanita-wanita rempong kumpulan pasien salah satu klinik ternama, klinik TONG FANG. Asuhan Ibu Irma Rahayu. Buat yang belum tau beliau, Irma Rahayu adalah seorang life coach, yang sangat spesifik mengatasi kejiwaan. Jadi yang jadi muridnya semua sakit jiwa hahahaha. Engga deng. Aku mah waras. Cuma buat mengisi waktu luang aja biar gak kisut. Hahaha dusta 😁

Setiap manusia punya doa yang sama, ingin dipertemukan dengan pasangan yang bisa mengisi dan melengkapi apa yang belum dia punya. Saya berdoa agar Allah anugerahi saya suami yang sabar dan bertanggung jawab. Dan di belahan Indonesia di bagian Kelurahan Melong Kecamatan Cimahi Selatan, ada seorang bujang yang berdoa juga agar dipertemukan dengan seorang wanita yang kuat untuk dipersunting jadi istrinya. Kuat ngangkat galon dan kuat mindahin rumah manatau kebanjiran. Yagakgitujugakaliiiii.

Lalu akhirnya dua manusia ini Allah persatukan, demi menjawab doa mereka masing-masing. Sang istri bahagia, begitu pun suaminya.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Baju berganti baju. Eh garing 😐

Mereka mulai lebih dalam mengenal satu sama lain. Tapi sayang mereka gagal paham dengan jawaban dari doa yang mereka panjatkan. Bukan kesabaran yang dirasakan oleh sang istri, malah sikap cuek dan kurang peka. Bukan kekuatan seorang istri yang didapat oleh suami, malah sikap kurang ajar dan mau menang sendiri. Dua-duanya teriak, duuuh pusing lah pala barbie hijab syariiii 😣

Suami istri yang saling melempar marah dan kecewa. Tiap hari ribut mempertanyakan jawaban atas doanya. Meledak. Lalu padam. Meledak lagi. Padam lagi. Kayak orang belum bayar listrik. Mati-Nyala-Mati-Nyala. Seakan tidak ada ujung, yang ada hanya lelah dan gundah. Rasa syukur pun perlahan menguap.
Solusi demi solusi dijajal dan tetap tidak menemukan titik terang, hingga akhirnya mereka bertemu klinik Tong Fang 😂😂😂

Kepanjangan dari Tolong dong Fang Warasin hidup saya Mbaaak! #Sundaan hahaha
Selama menjalani perawatan di klinik Tong Fang, tabibnya hobi amat ngegeplak… ngerokin tembok ego dan topeng “butuh pengakuan”. Diseret sampe ngesot-ngesot untuk melihat akar masalah dari rasa marah, kecewa, dan pendaman emosi lainnya.
Hingga perlahan daya pikir dan sentuhan rasa mulai sesuai pada porsinya dan sesuai pada tempatnya.
Perlahan mulai luruh pikiran merasa dibiarkan, dicuekkan, dan di-engga peka-kan. Mulai bisa merasakan sikap sabar pada pasangan yang selama ini dipungkiri dan tidak diakui.
Perlahan mulai terasah kekuatan istri, harus dimana saja energinya dimanfaatkan. Agar barokah dan perahu tetap berjalan sama arah.

Selama pembelajaran di klinik ini, kami belajar bahwa setiap doa tidak Allah jawab dalam kondisi matang. Atau sudah jadi.

Doa dihantarkan dalam bentuk butuh proses. Agar ketika menikmati hidangan dari setiap doa, ada rasa puas dan tenang dalam setiap kunyahannya. Nikmaaat alhamdulillah…
Terima kasih klinik Tong Fang.. kehidupan berangsur waras dan lebih napak dalam menghadapi setiap tantangan baru yang ada.

Hidup pusing ngejelimet pengen teriak?? Butuh solusi dari setiap masalah?? Jangan sampe asal coba-coba kalau gak mau  berujung pada sia-sia atau bahkan terjerat kasus narkoba. Eaaaa

Cobain aja klinik Tong Fang. Tolong dong Fang Warasin hahahaha bersama Ibu Irma Rahayu. Info lebih lengkap silakan buka websitenya Irma Rahayu atau SMS 081227023499

Jangan lupa cari cara buat waras…
Hidup buat nyiapin mati, jangan lupa abisin waktu buat berbenah diri…

Salam sayang,

salahsatu pasien dari klinik Tong Fang 😊

Tentang IBUMUDA Indonesia

​Malam itu di sudut kota Bandung. Di antara tumpukan kosan dan kontrakan Sekeloa yang semakin padat, saya dan dua sahabat teman curhat sedang membicarakan strategi bisnis untuk menguatkan ikatan secara personal dengan customer pada sebuah brand yang kami buat namanya KAMA syar’i. Agar lebih loyal, dan semakin rajin belanja gamis di toko kami. Hahaha modus banget.

Akhirnya tercetuslah acara Arisan IBUMUDA sebagai wadah bagi kami mengumpulkan para customer dan calon customer untuk saling berbagi kisah dan cerita, serta saling menguatkan. Bandung, 11 Desember 2013 saya bertemu dengan 22 orang ibumuda dari berbagai latar belakang. Ada yang memang saya kenal sebelumnya, ada yang baru kenal dan memang daftar via media sosial. Belum pernah ketemu sebelumnya.

Hari itu hari yang cukup bersejarah. Hari pertama bagi saya untuk mengenal jenis hidup yang berbeda-beda dari setiap sudut cerita para ibumuda. Sebenernya sih nama IBUMUDA sendiri hanya simbol ajaaa wkwk. Biar gemes gitu dengernya. Sekaligus rasa prihatin saya dengan konotasi ibumuda yang selalu jadi sasaran predator gakjelas di luaran sana. Mudah-mudahan ibumuda yang ini mah shaleha semua terjaga semuanya yaaa Aamiin.

Dari awal anggota IBUMUDA sangat beragam. Single, newlywed, senior, senior banget juga ada. Ibumuda yang masalahnya gitu doang dan gitu banget juga ada. Tahun pertama perjalanan komunitas ini diisi dengan saling mengenal satu sama lain terutama bagi yang baru kenal. Mulai curhat satu persatu anggotanya, dan dari sesi curhat itu lah tak terasa kami semakin dekat. Saya pribadi merasa semakin kaya akan ilmu dan rasa syukur. Bahwa ternyata ada yang hidupnya lebih menyakitkan daripada yang saya alami.

Alhamdulillah pada tanggal 21 Desember 2014 komunitas ini dikukuhkan secara resmi oleh ibu walikota Bandung, Teh Atalia Kamil. Member pun bertambah, tidak hanya di Bandung. Kota Bogor dan Jakarta pun sudah mulai ada. Tapi di tahun kedua saat itu kegiatan malah kurang terarah hehehe. Saya nya sih yang salah. Wara wiri gak jelas sebenarnya mau ngurusin apah hahaha.

Sempet mikir, apa bubarin aja yaah. Berat gini ternyata pegang komunitas heuheuheu.  Tapi karena dorongan dan support dari teman-teman juga komunitas ini tetap bertahan dan masing-masing di kota nya tetap rutin mengadakan pertemuan dan menjadikan sesi arisan sebagai sesi lepas lelah dan curhat-curhatan.

Saya masih ingat doa saya di awal membuat komunitas ini. Yaitu ingin menggerakkan 1 juta ibumuda Indonesia untuk memiliki hidup bahagia dunia akhirat. Hahahaha berat emang doanya. Konsekuensinya juga beraaaat. Berkali-kali saya menghadapi konflik batin untuk komunitas ini. Terusin gak yaa. Gedein gak yaaa. Karena saya sendiri belum bener ngurus apa yang ada di rumah. Ini sok sokan mau gerakin 1 juta ibumuda. Ampuuuun 😦

Makanya pergerakan komunitas ini senyaaap sekali. Karena saya nya sendiri masih meraba-raba mau gimana dan harus digimanain buibu ini. Kejadian demi kejadian dan curhat demi curhat membuat saya memilih untuk tidak berharap banyak dan berkonsep hebat. Saya akan besarkan komunitas ini sebagai tempat yang nyaman untuk para ibu merebahkan badan. Saya ingin di komunitas ini kita berani mengakui rasa sakit dan jadi diri sendiri, sekaligus saling menguatkan. Saya ingin melalui komunitas ini kita belajar dan aware untuk tau betul siapa diri kita dan apa yang kita mau. Belajar untuk menerima dan bersyukur dengan tidak membanding-bandingkan hidup satu sama lain. Karena itu proses yang selama ini saya rasakan. Bertemu dan berbincang dengan satu ibu dan ibu lainnya. Ujiannya beda-beda dan kadang mereka hanya butuh telinga yang siap mendengar tanpa mengeluarkan judge.

Tapiii meski begitu di sini harus saling mengingatkan biar kalau memang ada luka membusuk yang selama ini kita tutup, bisa sembuh.

Allah lah tempat segala berawal dan bermuara. Apa yang terjadi di hidup ini udah Allah atur serinci mungkin. Rezeki tidak ada yang tertukar. Begitu juga dengan cobaan. Semoga dengan adanya komunitas ini, kita bisa saling menguatkan dan mengingatkan.

Jangan takut.

Jangan merasa sendiri..

IBUMUDA Indonesia ada untuk menemani 🙂

Asri Fitriasari

Founder Komunitas IBUMUDA Indonesia

duapuluhempat Anindra

Hari ini ulang tahunmu nak, yang kedua. Duapuluh empat bulan sudah Bunda menemanimu bertumbuh. Menjadi anak yang amat sangat lucu, menggemaskan, dan membuat Bunda dan Ayah BAHAGIA!

Ay ay naaak.. Waktu benar-benar begitu tidak terasa, rasanya baru kemarin Bunda menahan sakit karena kontraksi hebat di sekujur tubuh Bunda, tapi sekarang kamu sudah bisa berlari kesana kemari, menyanyi dan mengerlingkan mata dengan begitu genit dan manis.

Hari ini pun perayaan bagi Bunda yang sudah lulus selama 2 tahun memberimu ASI, hanya ASI tanpa tambahan susu formula. Alhamdulillah… perjuangan yang sangat panjang menahan perih, lelah, kantuk, dan pegal yang tidak ada duanya ketika harus tetap memberimu gizi terbaik melalui ASI. Itu yang bisa Bunda berikan, hanya sebagian kecil dari apa yang telah Allah anugerahkan untuk hidupmu.

Anin sayang, pada ulang tahun kedua ini Bunda ingin berbicara mengenai CINTA. Kenapa tentang cinta, Bunda? Ah entahlah, mungkin karena dampak nonton film cinta malam ini dan sekelumit kesah di luar sana yang merisaukan mengenai cinta.

Tahukah kau Nak? Arti CINTA yang sebenarnya adalah rasa di mana kamu merasa senang dan tentram. Bukan terjebak dalam tanya dan ketidakpastian yang berlarut panjang, atau mungkin romansa yang belum jelas ujungnya seperti apa.

Siang tadi Bunda mengirim pesan singkat untuk Ayahmu, betapa Bunda sangat bersyukur dengan kehidupan Bunda saat ini. Memiliki suami yang begitu baik hati dan penyabar, kamu yang sehat, cantik, dan menggemaskan, kehidupan yang layak, tidak kurang makan, Alhamdulillah. Tidak ada lah jua nikmat Allah yang akan Bunda dustakan. Terlebih mengenai CINTA.

Bersama Ayahmu, Bunda betul-betul mengerti arti cinta yang sebenarnya. Arti rasa tenang dan nyaman. Arti berjuang saat suka dan duka dengan ikatan yang halal.

Bunda begitu bahagia ketika saat ini bisa berbagi rasa senang dan lara dengan pasangan yang halal, cinta dunia yang menghembuskan nafas surga. Berselisih paham yang semakin mengikatkan genggaman. Suluh asmara yang menggugurkan dosa saat berpegangan tangan. Tatapan hangat yang menggetarkan jalan-jalan menuju nirwana.

Tidak mudah sayang untuk mendapat dan merasakan cinta yang indah seperti ini, Bunda dan Ayah harus mengikatnya dalam janji di depan wali. Ketika kau besar nanti, kau kelak akan mengerti bahwa rasa suka pada lawan jenis adalah hal yang indah. Jangan terbuai hanya dengan indah saat itu saja, cinta yang sebenarnya adalah perjalanan panjang bersama mengenal Tuhan melalui segala peristiwa dan ciptaanNya.

Bunda saat ini paham, bahwa CINTA sejati adalah pada Sang Pencipta, cinta dalam taat, bagaimana kita yakin penuh dengan segala aturan dan larangannya. Bagaimana kita menghamba tanpa tapi dan nanti.

Ketika CINTA itu sudah tumbuh dalam hatimu, segala yang ada di hadapan akan menjadi indah meski perih untuk dikunyah, meski pahit untuk ditelan.

Cintailah Tuhanmu Allah Yang Maha Esa melebihi apapun di dunia ini. Cintai Dia melebihi orang tua, pasangan, bahkan anakmu sendiri. Cintai Dia sebelum kau mencintai aktifitasmu dan apapun yang membuatmu sibuk. Cintai Dia dengan segenap hati dan rasa taatmu. Percayalah, itulah sebenar-benarnya cinta. Cinta yang seutuhnya membuatmu bahagia.

Selamat milad ya Anindra sayang, terima kasih sudah menjadi ladang amal untuk Bunda memberikan separuh hidup lewat ASI selama 2 tahun ini. I love you full, mmuuuah!!

Image

metamorfoself Anindra #2nd

Wilujeng ya A …

Katanya hidup kita belum sempurna kalau belum punya pasangan hidup. Apakah itu benar? Mari kita buktikan.

Saya mengenal seorang pria sunda yang memiliki perawakan mirip Surya Saputra. Gak mirip sih, tapi anggap saja mirip. Kanin sih yang bilang mirip ^^v Saya akan menceritakan pria ini tapi tidak usah kalian sambil membayangkan Surya Saputra. Tidak usah. Bams Samson mungkin boleh. Ah tidak juga. Oke gak usah dibahas bagian muka. Next….

Awal pertemuan saya melihat pria ini sebagai seseorang yang begitu hangat dan humoris, di balik pembawaannya yang dingin dan seperlunya. Saya pun tidak tau mengapa saya bisa jatuh hati pada pria ini. Saya cukup lupa apa yang membuat saya  berani menikah dengannya. Saya menjadi bagian dari skenario hidupnya.

Tiga tahun hidup bersama pria ini, saya diajak membuktikkan bawa hidup berdua dengan orang yang berbeda karakter dan pola pikir itu adalah KESEMPURNAAN yang Tuhan ciptakan dalam sebuah bingkai pernikahan.

Lewat dia saya jadi tau sisi lain tentang hidup. Tentang bagaimana memperbaiki diri dengan cara lain yang berbeda jauh dari apa yang saya jalani saat sendiri.

Pria ini memang tidak sempurna. Selayaknya pria di luar sana. Tapi sisi dalam hidupnya, sisi dalam dirinya adalah potongan puzzle yang membuat hidup saya lengkap. Membuat hatinya menjadi tempat yang sangat nyaman untuk merebahkan beban.

Selisih dan adu pendapat tidak jarang membuat saya sebal dan benci pada pria ini. Itu adalah efek jangka pendek saja. Karena tidak lama setelah benci, saya kembali kepada cinta. Cinta yang lebih tebal, cinta yang lebih kuat, dan cinta yang membuat saya semakin sayang pada Tuhan. Ahh… dan itulah bagian yang paling indah.

Saya percaya jika memiliki suami adalah pelengkap bahagia. Pelengkap pasti.

dan pria itu bernama Indra Purnama Irawan. Ayah dari anak saya, Ayah dari si lucu Kanin.

Seorang suami dan ayah yang tidak pernah menyerah untuk membahagiakan anak dan istrinya. Seorang suami dan ayah yang begitu erat menjaga anak dan istrinya. Seorang suami dan ayah yang selalu mempunyai waktu untuk memeluk kami dalam hangat, pelukan yang selalu kami rindukan saat ia harus kembali bekerja. We love you Ayah and happy birthday :*

 Tulisan ini diketik tanggal 2 Maret, ulang tahun suami tanggal 4 Maret, tapi baru diposting sekarang hehe ^^v

Kamu teman hidupku

Yang memilihku masuk ke dalam skenario hidupmu

Ada benci ada juga rindu

Tapi semua jadi satu

Dalam cinta yang semakin utuh

Kamu adalah potongan hatiku

Yang menjadikan jiwa lengkap

Diukirkan dalam janji

Dipersatukan dalam bahagia

Semoga apa yang tercipta dalam hati kita

adalah pengantar jiwa menuju surga 🙂

Ta’aruf yang Benar

Siapa yang sedang berstatus pacaran? Atau pernah PACARAN? How does it feel? Bahagiakah?

Saya pernah pacaran. 5x sebelum menikah, pacar terakhir sekarang statusnya sudah merangkap sebagai suami dan bapak anak saya. Saya sudah cukup kenyang dengan yang namanya pacaran. Kenyang dengan pengalaman perihnya. Hehe.

Kalau boleh memutar waktu, rasanya ingin sekali mengulangi hidup dengan menjalaninya TANPA PACARAN. Meski begitu, semuanya harus menjadi pembelajaran. Saya tidak akan pernah berhenti berbagi tentang cerita pahit dan perihnya, agar dapat menjadi pelajaran, hikmah, dan jalan terang. Agar menjadi penggugur dosa atas apa yang sudah terlewati. Agar yang lain tidak terjebak pada dosa yang sama.

Saya tidak mengerti pastinya bagaimana PACARAN bisa menjadi sesuatu yang biasa, lumrah, dan dianjurkan di tengah masyarakat muslim, ketika sudah begitu jelas agama tidak mengajarkan, Rasul pun tidak mencontohkan. Kok bisa?

Ada banyak sekali faktor pendukungnya. Mulai dari ketidakharmonisan di rumah, lingkungan, media, iklan, program televisi yang MENGHALALKAN pacaran dan membuatnya menjadi hal biasa dan wajar.

Ketika teknologi semakin kencang berkembang, dan zaman semakin dewasa dengan modernisasinya, saya malah semakin cupu, saya semakin MENOLAK pacaran. Hari gini masih pacaran? Jika kembali ke masa lalu dan mengkalkulasikan waktu, energi, dan kegalauan yang tercipta dalam hubungan pacaran kayaknya bisa untuk membuat karya atau pencapaian yang luar biasa. Kalau saja…

Baiklah. Saya harusnya tidak boleh men-generalisir. Mereka yang pacaran pasti protes. Ah gue pacaran, tetep sukses kok! Iya deh iyaaa, tetep bisa sukses. Tetep bisa.

Tapi, jelas sudah umat Islam tidak diajarkan untuk berpacaran. Saya yakin itu karena lebih banyak peliknya daripada indahnya. Saya yakin itu. Yakin banget karena udah ngalamin sendiri. Apalagi ketika Pak Indra Noveldy (pakar pernikahan) mengatakan bahwa TIDAK ADA HUBUNGANNYA antara pacaran dengan pernikahan, wuiiih makin mantep saya say ENGGA! sama yang namanya pacaran. Ini adalah pilihan hidup masing-masing kita, mau ikut bilang ENGGA atau bilang iya, bebas.

Sebenarnya ada pilihan lain selain pacaran untuk mempersiapkan PERNIKAHAN. Agar yakin dan tidak salah pilih. Istilah ini dikenal dengan nama TA’ARUF. Untuk yang satu ini saya belajar banyak dari sahabat saya Shaliha. Saya gak ngalamin sendiri, tapi saya tau proses detailnya seperti apa. Penuh berkah menuju pernikahan indah 🙂

Lalu bagaimana step TA’ARUF YANG BENAR??

Kalau kita siap untuk bilang ENGGA sama pacaran dan bersedia memilih jalan TA’ARUF untuk menikah, kita harus hati-hati. Jangan gegabah dan asal pake feeling aja. Semuanya harus pake data dan berdasarkan akal sehat (logika). Jangan salah, cara TA’ARUF ini pun gak sedikit yang menyebabkan perceraian atau ketidakharmonisan pernikahan jika tidak dijalankan dengan hal yang benar. Teman saya, Shaliha, menggabungkan aturan ta’aruf dari Teteh mentornya dengan ilmu kenalan yang diajarkan Pak Indra Noveldy. Insya Allah akurat ^^

Saat itu Shaliha yang sedang tidak memikirkan MENIKAH sama sekali, tiba-tiba ditelp oleh Bapaknya bahwa ada pria yang ingin melamar. Waktu Shali cerita sama saya, saya sudah kagum dengan pria ini. Berani datangi wali! Nah, step pertama menuju pernikahan adalah….

 1. Minta izin sama wali. Itu lebih sopan dan menunjukkan sifat jantan penuh keberanian.

Lalu, step kedua adalah..

2. Menyiapkan CV dan saling bertukar

Bapak Shali meminta mereka berdua membuat CV atau Curicculum Vitae. CV inilah yang menjadi kekuatan Shali untuk membedah habis-habisan calon imamnya ini. Shali pake ilmu Pak Indra Noveldy untuk mengulik diri sendiri dan calon pasangannya. Semuanya tertulis super lengkap di CV ini. Ibarat kata mau merger perusahaan bisnis, Shali sedang menyiapkan PROPOSALnya. Saya nanya sama Shali, “Kenapa gak ketemu dulu? Kalau gak cocok gimana?” Sahali bilang kalau step ini didahulukan agar kita lebih objektif melihat seseorang dari innernya dulu sebelum fisiknya. Dalemnya dulu sebelum casingnya. Oh, gitu.

Isi dari proposal ini adalah data diri, visi misi, kondisi keluarga, impian dan target, lingkungan tempat tinggal seperti apa, teman-temannya seperti apa, hobinya apa, pekerjaannya apa, dan masiiihhh banyak lagi.

Shali pun membuatnya superlengkap. Dia menyampaikan detail kehidupannya. Sekalian evaluasi dan kenalan sama diri sendiri. Saya juga masuk tuh ke proposal Shali hehehehehe.. saking lengkapnya.

Saat bertukar, Shali menandai bagian mana saja yang menjadi PERTANYAAN dan KERAGUAN di proposal calon suaminya.

Setelah OKE baca CV. Setelah isi CV bikin tertarik, step berikutnya adalah jadwalkan ketemuan 🙂

3. Ketemuan (didampingi muhrim). Liat wajahnya. Bikin nyaman dan suka ga? 

Kalau sudah oke, bisa langsung ke step berikutnya

4. Sesi Tanya Jawab dan klarifikasi tentang SEMUA ISI proposal tersebut. Bahas tuntas sampe kenyang, didampingi oleh muhrim. Waktu itu Shali ditemani Ibunya.

Saat proses tanya jawab sudah menambah keyakinan, Shali kencangkan dengan ibadah dan riyadhoh. Agar apapun keputusannya ada Allah yang membersamai. Alhamdulillah, Shali langsung yakin meski hanya 3 kali pertemuan. Bismillah yaa chii, kata dia saat menceritakan kemantapannya.

Huaaaa malah saya yang deg-degan…

Saya lupa tepatnya kapan, tidak lama sejak proses ta’aruf yang hanya berlangsung TIGA BULAN itu Shali dan Kak Anhar melangsungkan khitbah atau lamaran. Mereka berencana menikah. MENIKAH!!

Sekarang sudah hampir satu tahun pernikahan antara Shali dan Kak Anhar. Alhamdulillah rumah tangga nya tidak menemukan kesulitan yang menyeramkan. Justru lebih berkah dan indah daripada mereka yang menyiapkan pernikahan dengan lamanya pacaran.

Modal utama mereka dalam menikah hanyalah KEYAKINAN KUAT pada Allah. Cukup itu saja. Sekarang Shali sedang mengandung anak pertamanya. Doakan sehat hingga persalinan yaa. Bentar lagi nih masuk bulan ke-9 🙂

Buat teman-teman yang ingin kenal Shali lebih jauh boleh main ke blognya ^^

Baiklah sekian sharing tentang TA’ARUF YANG BENAR. Semoga mencerahkan. Semoga menambah keyakinan bahwa pernikahan bahagia bisa cukup disiapkan hanya dengan 4 kali pertemuan sebelum ijab. Bismillah yaaa SEMANGAT!!!

Salam hangat,

IBU MUDA

@asriFit

P.S

Buat yang mau membuat PROPOSAL NIKAH (seperti yang Shali buat), saya punya template-nya. Kalau mau, kirim e-mail kosong dengan subject: Proposal Nikah kirim ke AsriFitriasari@gmail.com yaaa J

Ikut Cerita di SekolahPernikahanDotCom

ImageSiapa yang sudah menikah?

Siapa yang sudah merasa BAHAGIA seutuhnya dalam pernikahan?

Siapa yang ingin Nikah Muda?

Siapa yang sudah menemukan bagaimana indahnya Nikah Muda?

Apapun pertanyaan kamu tentang menikah, terutama Menikah Muda… Mampir yuk ke postingan saya di http://www.SekolahPernikahan.com !

Sekalian ubek-ubek artikel lainnya yaa 🙂

Klik langsung aja link yang ini: Satu Cerita tentang Nikah Muda

Semoga bermanfaat!

Serius nih mau Nikah Muda?

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Halohalohalooo..

Mentemen, adakah di sini yang kepengan Nikah Muda? Serius nih mau Nikah Muda? Udah tau konsekuensinya seperti apa?

Emmm.. oke deh, sebagai pelaku Nikah Muda, nih ah.. saya cerita sedikit tentang lika-liku Nikah Muda. Cekibroot!

Menikah itu adalah suatu perjanjian suci yang besaaaar sekali tanggung jawabnya. Perjanjian besar di hadapan Tuhan. Dulu sih sebelum nikah cuma tau dari definisinya aja dan setelah menjalaninya.. Subhanallah… bener-bener perjanjian besar! Bukan sekedar aku suka kamu, kamu suka aku, yuk kita nikah. Jauh jauuuuh sekali dari romansa itu.

Continue reading

Surat untuk Kanin

 Bismillahirrahmaanirrahiim..

Hai Kanin, Assalamu’alaikum wr wb…

Selamaaaat Pagiii Cantiiikkkk 🙂

Begitu deh Bunda nyapa kamu kalau pagi-pagi liat kamu melek. Dan pagi ini, 2 Oktober 2012 adalah spesial untuk Bunda dan juga Ayah. Kamu harus tau yaa kenapaa, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Ayah dan Bunda. Sudah 2 tahun kami hidup bareng. Gak kerasa…

Nah, di ulang tahun yang kedua ini Bunda mau sedikit cerita yaa sama kamu. Mungkin di hari ini kamu belum ngerti sama sekali apa yang Bunda ceritakan, ahhh jangankan ngerti, baca pun belum bisa. Ya iyaaa la, kamu masih berumur 4 bulan Nak ^^

Kanin sayang, Bunda mau cerita tentang sebuah pernikahan. Yayaya… itulah topik yang selalu membuat Bunda tertarik untuk membahasnya, dan hari ini bertepatan dengan hari istimewa 2 tahun yang lalu, Bunda #Menikah dengan Ayah-mu. Ayah kamu yang paling ganteeeeng sedunia *tulisan berbayar* hehehe.. Continue reading

Menikah: Perjanjian Besar dengan Tuhan :)

Ba’da Maghrib, sudah 3 hari ini kebiasaan baru saya adalah menyicil bacaan pada buku-buku yang suami saya berikan saat seserahan kemarin. Buku yang saya minta sebenernya. Buku-buku Islam yang sudah lama ingin saya beli tapi belum ada kesempatan dan uang yang cukup untuk membelinya. Alhamdullillah suami diberikan rizki oleh Allah untuk mewujudkan keinginan saya terhadap buku-buku itu. Buku-bukunya kereeennn.. Bukunya bantu saya untuk terus merenungi hidup dan menelaah keseharian saya yang, waw, masih jauh dari syariah (bankk kali ah syariah ;p)

Untuk kali ini, ada kutipan dari salah satu buku yang saya baca dan ingin saya sharing sama teman-teman, tentang pernikahan. Apa lagi nih? Tulisan saya akhir-akhir ini tentang nikah mulu ya? Semoga bisa jadi nasihat untuk yang belum menikah dalam merencanakan pernikahan nantinya. Maaf loh kalo bikin mupeng. Saya sering diprotes sama temen akhir-akhir ini kalo nulis atau nge-status update, katanya bikin sirik, bikin iri, bikin mupeng. Ya maap. Saya nulis apa yang saya rasain aja. Kalo bikin sirik, mupeng, iri, dan perasaan-perasaan lain yang gak jauh dari kata-kata yang tadi, yaaaa maap. Siapa tau jadi motivasi kan? Seperti yang udah saya bilang tadi, semoga justru jadi pencerahan buat yang belum married untuk menyiapkan mental. Anggap aja saya ngasi gambaran dari salah satu contoh kehidupan pernikahan, versi saya gitu. Oke, saya gak akan berlama-lama memberi klarifikasi. *Penting amat

Langsung aja yaaa.

Ada satu hal yang sangat menarik di buku yang saya baca tadi, bahwa pernikahan itu adalah perjanjian antara kita (pengantin) dengan Allah. WOW. Segitunya yaa? Iya, segitunya loh. Jadi, dalam Al-qur’an itu ada frasa bunyinya Miitsaaqan ghaliizhaa yang artinya ’perjanjian besar’. WOW (lagi ah). Frasa itu dituliskan 3 kali dalam al quran. Selain pernikahan, miitsaaqan ghaliizhaa lainnya adalah, perjanjian antara Allah dengan Bani Israil sampai-sampai Ia mengangkat gunung Thursina ke atas mereka, dan juga perjanjian agung antara Allah dan Rasul-rasulNya. WOW (untuk ketigakalinya). Keren banget gak seh seh seh? Kenapa sih sampai bisa segitunya? Iyalah. Banyak hal yang terjadi dalam pernikahan. Ini yang menurut pengalaman pribadi aja yaaa.

Menikah ituuuu:

Punya sahabat pria

Pernikahan yang saya rasain sekarang adalah ketika saya punya teman hidup yang statusnya lawan jenis. Saya punya banyak sahabat perempuan, emm.. sahabat lelaki saya ya cuma satu ini, suami saya. Bentar, saya juga punya sih sahabat cowo, contohnya si Jaja dan masih banyak lagi lainnya, tapi sahabat pria yang tingkat kedekatannya sepadan sama sahabat wanita saya, ya suami saya. Malah lebih dari itu. Ya, pernikahan bikin saya bener-bener punya sahabat pria. Seseorang yang selalu sabar dan setia menemani saya lagi bete atau senang.

Punya dua blok keluarga (dikata komplek, pake blok..)

Setelah saya dikasih seorang sahabat pria, pernikahan juga memberikan saya sebuah keluarga baru. Keluarga yang harus saya perlakukan sama dengan keluarga yang sudah menemani saya sejak 21 tahun yang lalu. Keluarga yang harus saya bagi cinta dan sayang sama seperti keluarga saya sebelumnya. Udah banyak yang bilang kalo menikah itu bukan kita menikah dengan si Fulan saja, menikah itu berarti kita menikah dengan Fulan dan keluarganya. Menerima si Fulan dengan segala kekurangan dan kelebihannya sih rada gampang yaa, pake cinta gitu, tai ayam juga rasa coklat, tapi kalo menerima apa yang ada pada keluarga si Fulan? Tentu tidak semudah menerima si Fulannya. Ada banyak tradisi dan sudut pandang keluarga pasangan kita yang berbeda dengan apa yang kita punya. Pernikahan membuat saya punya dua pasang orang tua dan keluarga besar yang mengirinya dan harus sama-sama saya sayangi dan hormati.

Punya kebiasaan baru

Okei, mungkin untuk yang satu ini belum begitu saya rasain banget, secara saya beda kota. Gak terlalu banyak yang berubah. Ada pasti yang berubah. Contohnya, kalo dulu tiap malam Sabtu saya cuma sumringah karena besok adalah weekend dan saatnya liburan, kalo sekarang, malam Sabtu adalah saat-saat saya dengan semangatnya menahan ngantuk untuk menunggu suami pulang nengokin saya di kosan. Saya yang dulunya boros dan gak pernah mikir kalo ngabisin uang, sekarang saya harus lebih cermat kalo memanage uang. Dulu, kalo saya bangun tidur, saya cuma mikirin hari ini mau ngapain aja, tapi sekarang, saya juga pengen tau apa yang mau dilakukan suami saya di ujung sana. Dulu, kalo makan siang saya asik kenyang sendiri, sekarang tiap kali makan siang saya suka kepikiran yang di sana inget makan siang apa enggak ya, makan siangnya sehat apa enggak ya. Dulu, kalo mau vacation atau ada acara kampus, saya langsung iya-iya aja dan langsung capcus, sekarang, saya harus minta izin sama suami, dan ngatur jadwal bareng biar bisa tetep ketemu minimal 2 kali sebulan. Dulu, kalo saya pengen kentut dan ada dia, saya tahan sebisa mungkin, sekarang? Ya elaaaa.. Bisa mati menahan kentut yang ada kalo ditahan. (Akhir hidup dengan sketsa muka yang jelek banget tuh pasti) Haha. Banyak sih sebenernya kebiasaan baru saya semenjak menikah. Semua butuh kesabaran dan keikhlasan. Merubah kebiasaan gak semudah membalikkan telapan tangan bukan?

Punya tanggung jawab lebih

Ini sih poin penting di mana pernikahan menjadi perjanjian yang besar di mata Allah. Ketika kita menikah, Allah menghalalkan yang awalnya haram. Sesuatu yang gak pernah bisa diubah hanya dengan materi, tapi hanya dengan akad. Ada ijab dan qabul. Ketika suami menggenggam tangan Papa saya saat akad, ada gemuruh yang mendebar dada, dan melunturkan keringat ketegangan dalam dir saya, ada pula haru yang luruh dan tersurat dalam derai air mata. Ketika kata ”sah” terucap, itu artinya ada pergantian pemain antara Papa dan suami dalam hal menjaga saya. Menjaga lahir dan bathin saya. Menafkahi kebutuhan jasmani dan ruhani saya. Sebelum menikah, Papa-lah yang menjadi imam bagi saya. Ketika ada hal yang harus diputuskan dalam hidup saya, Papa-lah yang memutuskan dan memberi kebijakan. Ketika saya bingung harus shalat Idul Adha tanggal 16 atau 17, Papa-lah yang menentukan, saya, mama, dan adik-adik ikut yang mana. Sekarang, semua yang akan terjadi dalam hidup saya, saya percayakan kepada suami saya. Semua keputusan dan kebijakan ada di tangan suami saya. Itulah poin pentingnya. Saya percayakan suami untuk menuntun saya berbahagia di dunia dan akhirat. Saya percayakan pada suami untuk menjadikan saya menjadi hamba yang semakin dicintai Allah. Saya dan suami saat ini ada dalam tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Ketika hati tak hanya ada satu. Ketika pikiran tak hanya ada satu. Ketika senang harus dibagi bersama. Ketika susah harus dinikmati berdua. Menikah adalah tanggung jawab di mana kita melestarikan komitmen di atas segala perbedaan dan persamaan yang ada. Menikah adalah kebutuhan semua manusia. Maka dari itu, ada tanggung jawab yang Allah sisipkan di dalamnya. Agar ada geliat sehingga kita terus bergerak. Karena jika kita tidak menikah, kita hanya diam dalam satu titik, titik yang hanya ada satu individu saja, dan diam adalah mematikan.

Hmmmm… Panjang sekali saya menguraikan poin keempat. Yaaa kurag lebih seperti itulah menikah. Gampang gampang susah. Seru seru lelah. Tapi satu yang pasti, insya Allah semuanya bernilah ibadah 🙂

Itu aja kali yaaaaa.. Intinya mah, pernikahan itu saking penting dan sakralnya, harus kita siapkan sebaik mungkin. Mulai dari membangun niatnya, memilih pasangan, menyiapkannya sesuai syariah, hingga mengambil tanggung jawabnya. Semuanya harus siap lahir bathin. Udah yah yah yah. Semoga bermanfaat. Bukan cuma bikin sirik dan mupeng, tapi juga jadi penyemangat untuk terus memperbaiki diri hingga Allah percayakan tanggung jawab yang indah itu untuk kita. Cemangadh eaaaaa… ;p

Another Romantic…

“Kamu bahagia gak nikah sama Bb?”

Entah kenapa semalem saya tiba-tiba nanya itu sama suami. Dan sudah bisa dipastikan suami langsung heran, ”Ngapain sih kamu nanya kayak gitu? Kamu berharap Aa jawab apa?”

”Bilang bahagia juga cukup kok.”

”Oke. Aa bahagia, Be.. Bahagia banget.”

Ahh.. sebenernya pertanyaan itu selalu muter-muter di otak saya. Saya suka ngerasa insecure. Di mata saya, dia semakin cuek, perubahan perilaku cowok yang sebenernya emang sudah sewajarnya ketika dia udah mendapatkan apa yang dia kejar. Tapi tetep aja bikin saya was-was sendiri. Entahlah. Saya gak tau apakah ini hanya perasaan saya aja atau perasaan setiap wanita di dunia ini. Dengan karakteristik suami yang memang dari sononya lempeng bin kalem, saya gak bisa berharap banyak. Fortunately, saya punya sobat yang cetakannya gak jauh beda sama suami. Temen saya selalu bilang kalo orang lempeng kayak mereka itu gak perlu harus selalu mengungkapkan apa yang dirasakan. Katanya, dengan mereka tetap setia ada di samping pasangannya, itu udah cukup untuk membuktikan kalo mereka itu sayang sama pasangannya.

Well. Mungkin saya emang belum bisa sepenuhnya santai dengan kelempengan suami. Tapi, saya udah gak seuring-uringan waktu awal mula saya tau dia itu lempeng bin kalem. Saya udah mulai bisa nerima. Saya udah gak berharap dikasih kejutan manis yang segimananya sama dia. Saya gak berharap tiba-tiba didatengin ke klinik dengan sebuket bunga di tangannya, hahaha fairy tale banget ya? But it’s me. Saya emang orangnya tipe yang romantis. Dan dia enggak. Sering saya sharing sama sobat yang juga didiagnosa lempeng itu, mereka itu bukannya gak mau dan bukan gak segitunya sama kita, tapi mereka punya cara yang berbeda untuk nunjukin sayang sama kita. Hal yang kayak gitu-gitu remeh banget buat mereka. Gak kepikiran aja gitu. Okei, baiklah.

Eniwei, apapun tipe suami saya, saya cinta sama dia. Dari awal emang bukan karena keromantisannya saya jatuh cinta sama dia. Saya cinta dia karena dia punya karakter yang kuat. Visi yang jelas, setia, dan penuh tanggung jawab. Kurang apa lagi hayoooo…

Saya tau dia punya cara sendiri untuk menunjukkan cinta dan sayangnya sama saya. Mungkin bukan seperti pangeran dengan kuda putihnya, tapi dengan dia selalu setia mendengarkan keluh kesah saya, manjanya saya, labilnya saya, dan tetap cinta sama saya dengan segala kekurangan saya, oh Men.. itu udah lebih dari cukup sepertinya.

Banyak cara untuk menjadi romantis. Dukungan yang gak pernah hilang itu juga bisa dibilang romantis. Semuanya bisa jadi romantis, bagaimana kita menyikapinya.

 

Terimakasih ya Aa. Kamu sudah mengajari aku keromantisan yang berbeda 🙂

Love u.