Midnight Sale

“Mas, aku berangkat yaa… Si kecil juga ikut…”

“Kalian mau kemana?”

“Biasa, mau ngejar midnight sale!”

“Haaa wanitaaa.. Yaudah, hati-hati yaaa. “

Dan Anjani beserta putri kecilnya, Kinanti sudah  duduk manis di bazaar midnight sale yang selalu dua wanita ini nantikan. Sepekan lebih promo besar-besaran ini diadakan. Anjani dan Kinanti benar-benar sudah tidak sabar menahan kantuk untuk mendapatkan diskon yang benar-benar diinginkan, terutama Kinanti yang selalu bersemangat untuk berlari kesana kemari melihat situasi riuh di tengah perburuan setiap malamnya.

Ada yang berbeda pada Anjani, dia tidak membawa segepok uang atau deretan kartu siap gesek untuk melunasi belanjaannya. Midnight sale yang didatangi Anjani hanya bermodalkan sajadah, qur’an, dan mukena.

LOH?

Iya, apa yang Anjani buru bukan berkantong-kantong baju baru ataupun sepatu baru. Kebetulan memang Anjani sedang tidak butuh itu. Tapi… kalaupun butuh, Anjani tetap lebih memilih midnight sale yang ini. Beli baju dan sepatu baru dengan diskon besar tidak harus malam ini, akan selalu ada malam lain untuk berburu diskon. Tapi malam istimewa ini belum tentu ia temukan lagi di bilangan waktu berikutnya.

Apa yang Anjani lakukan tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan pada gebyar midnight sale di toko sebelah. Anjani harus menahan kantuk, menyiapkan kekuatan betis, dan mengantri, bukan untuk bayar tagihan belanja, tapi untuk membuang hajat yang ingin berpisah dengan raga hahaha ~ ribet amat cuna mau bilang ‘ke toilet’ doang..

Midnight sale ini sangat istimewa bagi Anjani. Momen yang ia pilih untuk berlatih mengalahkan diri sendiri, dari rasa malas, kantuk, dan rasa cepat puas dalam mengabdi pada Sang Rabbi. Hanya setahun sekali dan 10 hari saja ia menarik diri dari ratusan hari yang ia habiskan untuk memenuhi kemelut dunia. Anjani berharap ia mendapat diskon yang sangat besar atas khilaf dan lalai yang selama ini dilakukan tanpa henti. Anjani berharap ia mendapat promo menarik dari setiap penyesalan yang mengendap dalam hati. Anjani tau, pada akhirnya toh hidup bukan tentang dia dan dunia ini, tapi tentang dia dan Tuhannya saja. Ia berharap keluar dari ‘pertokoan’ ini, akan ada banyak semangat dan cahaya untuk meneruskan hidup dan selalu kuat menghadapi setiap takdir yang disuguhkan.

Tidak terasa 9 hari sudah perburuan itu dilewati. Rasa bahagia, damai, dan isak tangis mengingat dosa menjadi barang baru yang menetap dalam hati dan memori Anjani. Sesuatu yang bagi Anjani lebih mahal harganya dari tumpukan baju atau sepatu yang seharusnya ia beli. Dalam midnight sale ini, ia paham dan merasakan bahwa ternyata kebahagiaan terletak pada hati yang tenang. Bukan pada barang atau bahkan uang. Dan hati yang tenang ia dapat ketika ia menyatu dengan Tuhan nya, dalam kesunyian lirih dzikir dan juga kekuatan doa yang mengalir dari hati yang terus dibersihkan dengan taubat..

Allahuakbar… Sungguh apa yang Engkau suguhkan di 10 malam terakhir ini begitu luarbiasa. Begitu indah dan membuat jiwa tentram tak terkira.

Dan apapun tentang dunia, menjadi sangat kecil, mudah, dan murah 🙂

“Jadi kamu udah dapet aja dari midnight sale kemarin, Bu?

“Hati yang lebih tenaaaang dan cinta sama kamu yang semakin kuat mengakar karena Allah ta’ala.”

“Ciee bisa banget gombalnya. Seru banget kayaknya ‘belanjaannya’ Buuu 😊😊😊”

“Lebih dari kata SERU kali Pak! Semoga tahun depan bisa ‘belanja’ lagi…”

“Kalau Kinan dapet apa ikut sama Ibu ke midnight sale?”

“Dapet mainaaaaan..” sambil menunjukkan mainan plastik yang ia beli di lapak pasar sekitar mesjid.

“Kinan seneng??”

“Senengbangeeet Pak.. Kinan pengen ikut Ibu lagi ke sana, tiap hari. Sampai capek!”

“Hahaha kamu ini. Sini peluuk. Peluk burgeeeerr”

Bapak, Ibu Anjani, dan Kinanti pun berpelukan. Hati mereka semua sudah jauh lebih damai dari tahun sebelumnya. Hati mereka bertiga sudah lebih tenang dari tahun sebelumnya. Karena ketika kita bisa menyimpan nafsu dunia di tempat yang semestinya, hati akan lebih lapang dan hidup terasa lebih menyenangkaaaaaan.
Wallahu’alam bishawab

Bandung, 29 Ramadhan 1437H

AF

Menitipkan Anak

image

Ada yang pernah menitipkan anaknya untuk berbagai alasan? Untuk ngantor? Sekolah? Atau sekedar menikmati waktu sendiri?

Saya pernah dengan 3 alasan di atas, dan ini sekelumit cerita tentang pengalaman saya menitipkan anak…. Feel free to judge me, I’ll be okay and feel bodo amat with what you’re thinking.

Anin lahir di usia saya yang masih 23 tahun. Saat itu saya belum selesai koas. Status saya masih sebagai mahasiswa sebuah fakultas yang harus diam sejenak mengurus bayi dengan segala keterbatasan ilmu dan pengalaman. Anak pertama bokkk. Entah sebuah anugerah atau ujian, hingga pada waktunya lahiran saya belum juga mendapat asisten yang bisa membantu saya mengurus Anin dan menjaganya ketika saya harus melipir ke sekolah. Saya terpaksa menjadi ibu yang anteng duduk manis di rumah, membesarkan Anin.

Ketika Anin berusia sekitar 8 bulan, saya mendapat seorang asisten di rumah, tapi belum saya percayai sepenuhnya untuk menjaga Anin.  Saya tetap memegang Anin hampir full 24 jam, kadang adakalanya dititip kalau mau belanja ke Borma atau mau paketin barang ke ruko depan.

Apa yang saya rasakan saat itu adalah, to be honest, rasa lelah yang amat sangat, rasa jenuh yang amat sangat, dan rasa marah (pada diri sendiri karena gak bisaan ngurus anak dan pada lingkungan yang kadang suka bikin sensi). Saya bahagia punya anak, yaaa kali masa punya anak malah gak bahagia, tapi yagitu deeeeh heu.. Hingga akhirnya di usia Anin yang menginjak 1,5 tahun ada kenalan yang masih kerabat dekat bersedia mengasuh Anin jika saya mau kembali ke rutinitas sekolah. Insya Allah yang ini cukup bikin saya percaya dan siap nitipin Anin.

Masa-masa kacrut itu yang cukup membekas dan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Masa di mana pertama kali saya lihat wajah memelas Anin yang gak rela dan gak suka ditinggal. Sedih sih, tapi pas saya udah asik di luar, saya suka lupa kalau punya anak… Haaah my bad. Saya akui itu sebagai suatu kesalahan dan kedodolan saya sebagai seorang ibu. Asik aktif ini itu dan mulai melakukan aksi pembalasan setelah hampir 2 tahun stuck di rumah.

Semua digunakan sebagai pembenaran, kan saya harus beresin sekolah, kan saya harus bantu suami cari duit juga, kan saya harus punya waktu sendiri. Daaaaan segala tetek bengek alasan yang sebenarnya menutupi aksi PELARIAN saya dari sebuah kenyataan bahwa saya sekarang punya anak, dan ngurus anak itu gak semudah yang saya bayangkan 😭😭😭

Sekolah gak beres juga. Bisnis pun malah meluncur bebas gak bersisa. Lalu saya jadinya bahagia?? Yaaa enggaklah ~

Emosi yang gak karuan yang mengisi hari-hari bersama Anin. Ketika Anin masuk usia 3 tahun, ketika dia sudah mulai bisa berkomunikasi sebagai selayaknya ‘manusia’, saya pelan-pelan mulai tersadar bahwa ada jarak yang cukup besar antara saya dengan dia. Peran saya hanya sebagai ibu biologisnya saja, makna ibu yang sebenarnya dia dapatkan dari lingkungan, dari mana saja dia sempat dititipkan.

Sakit. Perih. Dan merasa kehilangan….

Baper is everywhere ketika Anin mulai merengek lebih ingin main bersama Teteh (ART di rumah), Ateu, atau Enin nya. Apalagi kalau dia udah mulai cranky bilang Bunda nya galak atau bilang dia gak sayang sama Bunda nya, gak mau sama Bunda..

Hiksss… Langsung kayak ditabrak pake buldozer, terus yang lagi nyetir buldozernya itu Gajah Afrika yang lagi hamil 9 bulan. Hahaha lebay bin ngarang wkwkwk.

Satu persatu bagian tubuh yang hancur ketabrak buldozer terus yang nyetirnya Gajah hamil 9 bulan itu (tetep yaa) dikumpulin dan saya pasangkan lagi sesuai posisinya masing-masing. Baper won’t take you anywhere, Chiii..

Ayo bangkit, semangat, waras, dan berbenah..

Fase menerima kenyataan adalah fase yang paling menyakitkan. Karena kenyataan hampir tidak selalu sesuai harapan. Karena harapan manusia terlalu cetek jika dibandingkan rencana yang sudah Tuhan siapkan. Jadi saya pun belajar untuk menerima kenyataan dan berhusnudzon dengan segala skenario yang Allah siapkan.

Saya mencoba memaafkan diri saya sendiri terlebih dulu setelah apa-apa yang saya lakukan sama Anin. Mbakbroooo, jangan tanya prosesnya kayak apa yaaa. Memaafkan diri sendiri itu lebih bikin mual muntah daripada memaafkan orang lain. Feeling gulity itu lebih ganas sifatnya dan menyebar ke setiap sudut sel-sel tubuh. Heu.

Setelah saya memiliki kekuatan untuk menerima dan memaafkan apa yang sudah terjadi, ada banyak hikmah yang bisa saya ambil. Ada banyak pembelajaran hidup yang membuat saya sangat tidak mau mengulanginya lagi. Amat amat amat gak mau. Saya gak kenal sih sama si Amat. Tapi katanya Amat juga gak mau. Hahaha apasih garing.

Saya pernah merasakan bagaimana menjadi ibu yang diam di rumah tapi gak pinter bersyukur, saya juga pernah merasakan menjadi ibu yang asik di luar sampe lupa kodrat awal. Dua-duanya gak proporsional…

Tapi dari situ saya bisa belajar bagaimana menjadi ibu yang bisa tetap tenang dan bahagia meski harus diam di rumah, dan tetap tau diri ketika harus beraktifitas di luar rumah. Baru tau loh yaah, prakteknya masih ngesooooooot hehehehe..

Sekarang, saya gakmau keenakan lagi nitipin Anin. Nitipin yaa hanya karena cukup gak memungkinkan bawa-bawa Anin. Mau serepot dan serempong apapun kalau lagi sama dia, saya dan suami harus terima risikonya, terima tanggung jawabnya, dan terima semua proses yang harus dilalui. Kami mungkin bukan ayah dan ibu yang terbaik untuk Anin, figuritas kami sebagai orang tua juga agak agak gimanaa gitu, tapi saya sendiri yakin… semua bisa karena biasa, saya dan suami pasti bisa jadi partner hidup yang baik untuk Anin…. sebelum dia menemukan partner hidup yang lain setelah dewasa nanti. Eaaaa jadi sararedih ginih hahaha..

Terima kasih Anin, kamu adalah guru cilik di rumah… Maaf yaa Bunda suka keenakan dan hobi banget titip-titip Anin. Doakan Bunda cepet lulus kuliahnya yaaaa!!!

Habiburrahmaan, 22 Ramadhan 1437 H
Asri Fitriasari
Ibu yang mulai waras wkwk

Malam yang Istimewa

18.27

Saya bersiap menyalakan mobil dan memasukkan tenda, tumpukan bedcover, tikar, perlengkapan lainnya untuk piknik. Haaaaa hari-hari yang paling ditunggu BANGET tiap tahunnya adalah hari ini. Siap-siap untuk ritual camping tahunan yang sangat seru!

Sampai di lokasi langsung lihat salahsatu tempat nongkrong favorit untuk mengisi malam, yaitu kakak tukang bakso wkwkwk

image

Kakak tukang bakso favorit yang tampilan lapaknya udah lebih kece dari tahun lalu. Udah ada tenda bersponsor dan meja kursinya, tahun lalu sih cuma ngemper ajaa menyatu dengan bumi.

Kudu makan bakso nih sebagai ‘welcome drink’ malam ini hahahaha dasaaar yeee malah ngebet ama ngunyaaah, kelakuan 😅

Saya pun menyusuri selasar tempat ini dengan hati yang riang, gembira, excited tak terkira, dan rasa haru yang luar biasa. Terima kasih Tuhan… masih dikasih umur dan sehat untuk kembali camping di tempat ini. Makasiiii makasiiii makasiiiii !!!

Terlihat puluhan (ratusan sih sepertinyaa) tenda sudah berjejer kokoh berbaris rapi di ruangan luar mesjid. Sudah banyak jemaah yang mulai asik dengan rutinitas di malam malam istimewa ini. Para Ayah yang masih sibuk membenarkan posisi tenda dan bagian ‘teras’, para Ibu yang sedang merapikan barang bawaannya dan ditata serapi dan senyaman mungkin sambil mengamati keriuhan para bocahnya yang sudah semangat berlari kesana kemari menyusuri selasar mesjid. Para remaja putra dan putri yang sedang asik dengan mushaf dan target tilawahnya masing-masing, dan saya yang tidak sadar sudah berkaca-kaca matanya karena bahagia, teramat bahagia diberikan izin lagi untuk merasakan suasana ini… Makasiiii makasiii makasiiii…

image

Ratusa Tenda Berjejer Rapi

Saya pun mulai mencari spot yang sudah saya booking dari jauh-jauh hari. Spot ‘sisa’ karena telat booking, dapetnya deket tangga toilet akhwat. Hiks… Alhamdulillah segini juga masih kebagian tempat di selasar mesjid. Dibantu oleh Anin, saya mendirikan tenda milik saya sendiri dan membuat teras buatan agar nyaman selama camping 10 hari ke depan nanti. Segala posisi dicoba agar nyaman, privasi tetap terjaga, dan enak dipandang. Alhamdulillah Anin yang sudah ketiga kalinya ikut camping di sini sudah cukup hafal apa yang harus dilakukan dan apa yang Bunda nya butuhkan. Taraaa inilah hasil otak-atik tenda dan ‘pekarangannya’ Anin dan Bunda, welcome ‘home’ 😊😊😊

image

Setelah puas merapikan ‘rumah’, saya dan Anin berkeliling di pelataran di mesjid, survey tempat jajan yang menarik untuk dikunjungi wkwkwkw. Bukannya ngaji woooy malah hunting kunyahan.. Hahaha maap. Lapar. Abis membangun tenda. Agak mirip capeknya kayak membangun hubungan keluarga yang harmonis. Muleeeey lebaaaaay wkwk.

Jenis jajanan makin beragam gaes! Kios yang paling menarik hati adalah kakak tukang kopi dan kakang tukang susumurni dan yogurt!! Sama ada seblak, lumpia basah, batagor, sosis bakar, pempek, tekwan, soto madura, eaaaa udah ah jadi laper haha.

Kios baju, kios buku dan peralatan ibadah lainnya juga bikin ijo mata wkwkwk. Istighfar ukhtii istighfaaar. Ingat kesini kan buat ngaji bukan buat belanjiii hahaha..

image

But actually bagi saya tentu bukan itu yang bikin kangen dan bikin gak bisa move on dari ritual tahunan ini. Di mesjid ini saya melihat banyak sekali pemandangan para keluarga yang sangat kompak khusyuk beribadah dari pagi hingga petang, dari petang hingga mata meradang a.k.a ngantooook. Saya melihat dan terpacu bersama berburu harta karun Tuhan di 10 malam terakhir Ramadhan.

image

Tiga Generasi

Berbuat baik itu tidak mudah. Berburu dalam ibadah itu cukup susah, tapi di mesjid ini, di suasana yang ngangenin ini, semua terasa mudah dan indah. Ada banyak kawan seperjuangan nahan ngantuk dan tetap bertahan memuji namaNya. Di tengah hiruk pikuk para jemaah itikaf, di tengah teriakan dan gelak tawa para bocah yang tidak bisa diam, ada ketenangan dalam jiwa, ada kasih sayang Allah yang begitu terasa…

Saya gak bisa move on dari agenda itikaf ini. Rasanya seperti dipaksa berhenti dari rutinitas dunia, dan merasakan hangatnya Ramadhan di penghujungnya. Indaaaah, indaaaaah sekali. Se indah nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Dan pagi ini, spot ‘sisa’ yang awalnya bikin bete untuk ditempati, menyuguhkan pemandangan yang begitu indah dan begitu hangat menyapa pagi pertama di mesjid Habiburrahmaan.

Ahhh Allah, kebiasaan deh emang aku mah suka ngeluh duluan. Padahal takdir yang akhirnya Engkau tetapkan selalu berhasil membuat bibir ini terbungkam, hanya mampu tersenyum dalam dzikir di hati…

Alhamdulillahirrabil’alamiin.. Segala Puji bagi Engkau Penguasa Alam Semesta Rayaa !

Semoga Itikaf tahun ini sukses bikin saya makin waras, makin dekat sama Allah, dan makin kalem dalam menghadapi hidup wkwk

Hayuk ah sini nyusul!!

image

Our Morning View

Salam hangat,
Asri Fitriasari
ibumudaindonesia

Wilujeng Menikah ya Neng!

H-4 menuju pernikahan si sahabat karib sejak embrio

Tulisan ini spesial saya posting untuk neneng Risma Putri Indah Mentari yang dalam hitungan hari akan menikah. Akkk!!!

Kecepetan siii. Pengennya nulis dan posting H-1 tapi berhubung saya orangnya pelupa dan H-1 ada tugas negara ke Tasik, jadi lebih cepat lebih baik lah yaa..

Baik mari kita simak bersama sebuah tulisan dari hati dari seorang sahabat karib untuk sahabatnya yang akan melepas masa lajang… Bismillahirrahmaanirrahiim..

Neng, ini tumben banget sih aku mau nulis beginian untuk temen yang mau nikah. Mungkin karena kita berdua udah gak sesering dulu ketemu dan ngobrol kenyang kayak waktu SD, SMP, dan SMA dulu. Amat sangat jarang. Jadi aku tumpahin semuanya lewat tulisan aja. Lucu sih yaa, tiap ada kesempatan kita ketemu dan ngobrol. Sensasinya selalu sama. Selalu sama-sama ngomong, “AH CUMA SAMA KAMU AKU BISA CERITA KAYAK GINI!!!”

Neeeng, akhirnya, finally yaaa setelah berkelana dengan cinta yang ini dan yang itu… Kang Fikri lah yang menjadi pria terakhir kamu. Pria yang siap mengambil tanggung jawab yang super berat itu. Tanggung jawab penuh atas kamu dan anak-anak kamu di depan Allah nanti. Waw!

Aku gak akan memberikan wejangan tingkat nyonya. Aku gak punya itu neng. Karena aku pun masih merangkak dan meraba-raba.. masih berjuang dan terus memperbaiki hubungan yang unik dam rumit ini.

Pernikahan adalah suatu hal yang menjadi idaman dan impian penuh bunga bagi siapa saja yang mendamba. Aku pun begitu. Gerbang yang sangat indah dan penuh ornamen cerah ceria itu menyedot perhatianku dari apa yang ada di dalamnya. Ternyata di dalamnya amat sangat rumit. Roller coaster level dewa. Ada saatnya bahagia, bahagiaaaa banget. Ada saatnya sedih, sediiiih banget. Aku emang cukup drama untuk menghadapi setiap fase dalam pernikahan ini, Neng. Maju mundur maju mundur maju mundur cantik jadinya. Beruntung sekali Allah menganugerahkan aku sosok pria yang super sabar dan dewasa dalam ngadepin aku yang bocah begini.

Tau gak neng… ternyata saat menikah aku diajarkan bahwa ternyata mencintai itu lebih powerful daripada dicintai. Maksudnya? Iyaa, secara sadar dan tanpa sadar ketika kita menikah. Ketika pasangan melingkarkan cincin cantik di jari manis kita, saat itulah kita berteriak pada hati, “ASIIIKK.. Mulai saat ini aku punya seseorang yang akan membahagiakan aku setiap saat…”

Kenyataannya, SALAH BESAR.

Tidak ada yang dibahagiakan. Karena keduanya ingin dibahagiakan.

Hah, bingung kan…

4 tahun menikah… aku ngerti bahwa ternyata ketika gelitik hati ingin dibahagiakan, justru bahagia itu tidak kita dapat. Bahagia itu seperti mudah menguap. Karena menikah ternyata bukan tentang dibahagiakan, tapi MEMBAHAGIAKAN. Membahagiakan orang yang sebelumnya tidak ada dalam hidup kita.. suami, anak, mertua, ipar, dan kumpulan lainnya yang mengikuti.

Apakah lelah? Apakah rumit? Apakah sakit? IYA.

Kita harus mengajak ego dan nafsu pribadi untuk berkompromi. Karena membahagiakan itu cukup sulit. Susah di awal aja sih, udahannya adalah kepuasan yang tak dapat diuangkan. Berapapun banyak digit di belakang.

Hampir semua orang bilang menikah adalah ibadah, hampir semua orang bilang menikah adalah menggenapkan separuh agama… Tapi, semua orang yang bilang gitu seringnya lupa kalau yang namanya ibadah dan menggenapkan agama kuncinya adalah dekat dengan Tuhan. Alhamdulillah lewat menikah, aku pribadi mengenal Allah lebih jelas. Mengenal Islam lebih dalam. Betapa indahnya. Betapa sempurnanya… itu yang selalu menjadi kekuatan dan semangat dari apapun masalah yang terjadi. Selalu Allah tempat curhat dan menangis… nikmat sekali..

Dan apapun kekecewaan yang hadir, yakin aja kalau pasangan hidup yang sudah halal adalah keranjang untuk mengantongi pahala sebanyak-banyaknya. Apapun kondisinya.

Dulu waktu pacaran, mau calon senyebelin apapun selalu bikin kita merasa happy dan pengen ketemu. Waktu belum nikah, yang pait jadi manis. Tai kucing juga rasa coklat. Kalau udah nikah, sebaliknya neng… asli. Yang biasanya bikin kita happy bakal kerasa biasa ajaa.. yang dulu biasanya kita mikir ‘ih so sweet’ malah mikir ‘ih pait!’ yang dikira pengen ketemu tiap hari, selalu liat mukanya tiap waktu adalah keromantisan.. kalau udah nikah, be-ru-bah. Gakan segitunya.

Jadi biarkan perasaan apapun itu bentuknya yang ada di dalam hati, biarkan bersemi sesuai porsi. Orang yang akan kita nikahi adalah sama-sama makhluk. Gak ada yang lebih baik dari siapapun. Harus sama-sama kuat (minjem quote-ya novel Sabtu Bersama Bapak) Kita yang milih, maka telusurilah kedalaman hati dan pikir pasanngan dengan dzikir dan rasa syukur yang gak pernah abis.

Aku sering banget kesel dan sebel sama Omin.. tapi pada akhirnya aku selalu pengen bilang sama semua orang, kalau gak ada dia dalam hidup aku… kalau gak ada dia yang jadi temen curhat aku pas mau bobo.. aku gak akan jadi aku yang sekarang, aku yang lebih baik (menurutku) dari yang waktu dulu.. aku gakan sekuat dan setangguh ini. Aku bahagia dengan pernikahan. Aku bahagia hidup dengan pasangan yang halal..

Aku harap tanggal 25 Januari 2015 nanti akan menjadi garis start kamu untuk merasakan kebahagiaan yang sama dengan apa yang aku rasakan, bahkan mungkin lebih…

Maaf gak bisa bantuin segala tetek bengek persiapan nikahan.. maap gak sempet ngobrol panjang hingga larut malam dalam rangka melepas masa lajang.. tenang aja, kita masih punya waktu seumur hidup buat ngobrol seru dan saling belajar. Congrats yaa Neng.. aku amat sangat bahagiaa.. semoga kamu segera dianugerahi anak yang shaleh dan shaleha…

Kado pertama dari seorang Asuri.. sebuah tulisan tentang pernikahan.. semoga bermanfaat…

Love u Risuma!

grand #launchingIBUMUDA

Semua berawal dari kebutuhan sendiri, keluh kesah pribadi. Saya dan teman-teman di KAMA syar’i berinisiatif membuat kumpulan para IBUMUDA untuk saling tukar cerita dan menguatkan. Hari itu tanggal 11 Desember 2013 kami berkumpul untuk pertama kalinya di Dapur Eyang Resto di jalan Tubagus Ismail. Terdaftar ada 22 wanita, baik single maupun sudah menikah, baik yang sudah punya anak maupun belum. Senang sekali rasanya punya teman baru dengan berbagai latar belakang berbeda. Sejak saat itu dibuatlah kesepakatan bersama untuk bertemu secara rutin sebulan sekali dengan konsep ketemuan semacam arisan.

Gak kerasa udah setahun berlalu, semua anggota sudah menang. Ilmu dan pengalaman pun sudah bikin kenyang. Rasanya kurang puas jika ini hanya berhenti dalam 22 orang saja. Akhirnya dengan modal nekat bin iseng, kami yang ber 22 orang ini berinisiatif membuka ‘lowongan’ baru untuk IBUMUDA dan wanita lainnya untuk ikut gabung, sekaligus meresmikan kumpulan ibu-ibu rempong ceria ini menjadi sebuah komunitas penuh manfaat.

Persiapan mendekati hari H tentu saja penuh drama dan keribetan ala ibu-ibu. Saya pribadi sempat was-was untuk mengadakan acara ini, aduh bisa gak ya? Jujur aja saya pun mengurus dan mempersiapkan acara ini benar-benar di waktu sisa antara sekolah, mengurus anak, dan menjalani bisnis harian. Tapi karena semangat dalam tim yang gak pernah padam meski hanya berbentuk lentera kecil, saya tidak menjadi goyah dan menyerah. Acara ini harus jadi, sesederhana apapun yang bisa kami lakukan. Niat baik ini harus tetap direalisasikan. Akhirnya dengan segala tantangan, ditentukanlah tanggal event sakral ini di 21 Desember 2014. Pertimbangannya karena menyesuaikan dengan kesanggupan panitia dan mendekati peringatan tahunan hari Ibu di Indonesia.

Melalui acara yang dibuka untuk umum ini, kami semuanya kembali belajar tentang karakter, profesionalitas kerja, totalitas berbagi, dan hal lainnya. Alhamdulillah grand launching pun berjalan apik dan lancar di luar ekspektasi kami sebagai panitia. Antusias dan animo para wanita muslimah untuk turut belajar bersama di acara ini begitu besar. Awalnya sempat khawatir dengan jumlah peserta yang tidak memenuhi kuota anggaran.. tapi alhamdulillah pertolongan Allah begitu dekat, Allah pertemukan hati para IBUMUDA dan wanita lainnya untuk berkumpul dan berbagi di acara ini. Hari H, ruangan acara FULL SEAT! Peserta yang daftar di hari H on the spot cukup banyak. Partisipan stand bazaar pun di luar ekspektasi kami. Kebayang kan paciweuh nya kita, tim masih pada pemula tapi antusias peserta begitu hebat. Alhamdulillah alhamdulillah…

Sedikit review dari acara #launchingIBUMUDA kemarin, saya sangat berterima kasih dan angkat topi pada para pembicara dan narasumber yang hadir. TOP MARKOTOP JOS GANDOSS SIP MARKOSIP NYUS MAKNYUSS YUK! Pertama acara diawali oleh materi superluarbiasa dari Bunda @fufuelmart penulis buku best seller Menikah itu Mudah, Jodoh Dunia Akhirat, dan masih banyak lainnya.

Saya pribadi gak begitu menyimak isi materinya. Hiks. Karena sibuk lalu lalang kesana kemari di backstage untuk memastikan printilan lain sudah selesai dan tepat pada tempatnya. Tapi ada salahsatu teman saya yang bercerita tentang materi yang dibawakan Fufu, bahwa kekesalan dan keresahan yang dialami IBUMUDA ada karena trauma masa lalunya. Jujur aja deh yaa, pernah kan kita kesal atau kecewa dengan apa yang dilakukan Ibu Bapak kita di masa lalu? Apakah itu terpatri kuat an membekas hingga sekarang. Nah, hati-hati, itu bisa jadi polemik untuk kehidupan rumah tangga kita sekarang. As always, materi yang dibawakan Fufu ini selalu bikin JLEBBB dan bikin penasaran untuk tau lebih jauh, langsung deh kayaknya para peserta pengen konsultasi secara pribadi, minta di-cleansing dari trauma masa launya.. hehehehe..

Beranjak ke sesi berikutnya, alhamdulillah saya kedatangan tamu istimewa, teman sekelas di Kajian Dasar Islam Intensif nya ust Fatih Karim, namanya Teh Elma. Beliau adalah salahsatu penggerak dan penggagas SEMAI 2045. Selamatkan Anak Indonesia 2045. Pergerakan ini concern membahas tentang kiprah orang tua dalam proses pendidikan dan pendampingan anaknya. Kasus kriminalitas saat ini udah sangat banyak, dan yang paling bikin ngeri adalah pelaku dan penikmatnya sudah merambah pada usia anak huhuhu. Kemarin teh Elma berbagi informasi tentang pergerakan ini dan mengajak IBUMUDA dan wanita lainnya yang ikut acara kemarin untuk sama-sama bergerak dan siaga 1 terhadap segala kejahatan, terutama bullying dan kejahatan seks pada anak. Thankyou teh Elma, semoga ke depannya kita bisa bersinergi lebih erat lagi yaaa…

Sesi setelahnya adalah talkshow bersama teh Sasa dan teh Atalia Kamil. Ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 11.00 saya dan teh Sasa memulai lebih dulu berhubung Teh Ataia masih di jalan. Ah seruu banget deh sama ustadzah gaul satu ini.. Yang bikin terharu adalah beliau masih ingat saya yang dulu pernah mengudang beliau saat saya masih SMA. Amaazeeee.. Materinya pun asiiik. Materi keislaman yang nyaman untuk disimak dan dipraktekkan. Teh Sasa berbagi ilmu bahwa kiprah perempuan memang banyak. Wanita yang ditempa harus menjadi anak yang baik, istri yang shaleha, ibu penuh teladan, dan sosok penggerak ummat. Kuncinya sih sabar dan jangan dibawa beban. Ketika kita tau apa yang kita lakukan adalah ibadah dan TRANSAKSI sepenuhnya adalah hanya dengan Allah, semua akan lebih santai dijalani. Jangan menuntut di dunia. Bukan di sini waktunya seorang hamba diapresiasi atas segala jerih payahnya. Kunci kehidupan setelah menikah itu fastabiqul khairat bersama suami. Gak usah nunggu siapa yang lebih dulu untuk belajar dan lebih baik, baik suami maupun istri harus berlomba-lomba melakukan dan menyebarkan kebaikan. Biar Allah yang menilai dan membalsanya di akhirat sana. Ahhh, bener banget deh. Kita kan selama ini selalu merasa diri paling repot, riweuh, rempong, dan sulit ceria. Padahal semua yang kita lakukan adalah ibadah indah untuk mendapat kasih sayang Allah. Penting untuk kita untuk tau kemana semua akan berakhir, dan kemana kita akan pulang 🙂

Selanjutnya adalaaah.. sesi istimewa bersama Ibu Walikota. Waw banget yaaa teh Atalia bisa berkenan hadir di acara ini. Sampe speechless sendiri. Nuhuun teh atas waktu, cerita, dan supportnya. Kemarin di #launchingIBUMUDA beliau berbagi kisah seru tentang perjalanan pernikahan di awal bersama Kang Emil. Seruu, haruuu, dan penuh dengan inspirasi. Bagaimana Teh Ataia betul-betul sabar dan mendampingi suaminya untuk mengejar impian. Bagaimana teh Atalia menelaah bahasa cinta pasangan. Jadi yaa bu ibu, kalau misalkan kita kesel sama pasangan.. Coba berhenti sejenak untuk menelaah bahasa cinta kita dan pasangan seperti apa. Apakah dengan kata-kata, sentuhan, hadiah, atau apa..

Teh Atalia juga mengajarkan kita untuk tetap tangguh dan pantang menyerah dalam setiap fase hidup dan tantangan di dalamnya. Dinikmati dan disyukuri setiap apa yang terjadi. Pesan beliau, akan baik untuk para IBUMUDA dan wanita lainnya untuk memiliki sahabat wanita untuk saling berbagi penat dan saling menguatkan. Alhamdulillah di akhir sesi, teh Atalia pun meresmikan kumpulan ini menjadi komunitas IBUMUDA Indonesia yang siap berbagi dan menemani para wanita untuk siap menghadapi segala tantangan.

Jadilah, kemarin tanggal 21 Desember 2014 menjadi hari bersejarah untuk kita semua. Kabar gembira, #IBUMUDA sekarang sudah ada komunitasnya!! Selamat datang bagi para wanita yang ingin bergabung. Info lengkap tentang kegiatan dan pendaftaran bisa hub 081227023499

Akhirul kalam, saya ucapkan terima kasih dan penghormatan yang begitu besar untuk seluruh panitia, anggota ibumuda batch 1, pengisi acara, dan segala pihak yang sudah membantu banyak dalam kesuksesan acara ini. Semoga menjadi tabungan pahala yang akan menjadi saksi di hari akhir nanti.

Terima kasih Allah untuk segalanyaaa..

Bismillahirrahmaanirrahiim, mari bersama saling menguatkan dan tebar kebaikan!!

Salam hangat penuh semangat,

asriFit

Founder Komunitas IBU MUDA Indonesia

antara Senang dan Bahagia

Tau tidak kalau SENANG dan BAHAGIA adalah dua hal yang berbeda?

Ah iyakah? Sepertinya sama.. sama-sama membuat hati riang..

Tapi jika disimak lebih seksama. Senang dan bahagia adalah dua hal yang berbeda. Ketika kita berbicara mengenai kesenangan, itu adalah hal-hal yang membuat kita nyaman dalam kurun waktu sebentar saja. Belanja, memanjakan diri di rumah kecantikan, nongkrong di cafe, dan hal-hal lain yang sangat mudah dilakukan tapi meninggalkan bekas di hati tidak dalam waktu yang lama.

Berbeda dengan kebahagiaan, untuk mencapainya kita harus berproses melawan sakit dan rasa tidak nyaman. Salahsatu contoh adalah membaca qur’an. Hal yang kerap membuat kita malas melakukannya tapi tentu meninggalkan bahagia yang berlangsung lama. Contoh lain adalah membuat hasta karya untuk mainan anak di rumah. Jungkir balik melakukannya tapi ada sensasi bahagia yang begitu terpatri dalam hati.

Secara sunatullah, dalam diri manusia ada bisikan yang senantiasa mengajak pada kesenangan dan kebahagiaan. Qul ‘audzu birabbinaas. Bisikan manakah yang akan kita ikuti? Ajakan kesenangan atau kebahagiaan?

Semoga kita semakin bijak mengiyakan ajakan. Memilih yang bersifat kekal dibanding hal yang semu…

SEMANGAT PAGI !

Salam hangat penuh semangat,

IBU MUDA

5 Tips #NikahMuda

Apa yang membuat saya akhirnya MENIKAH MUDA?

Karena gak sanggup menahan godaan atas perasaan yang membuncah pada lawan jenis. Jujurnya sih begitu.

Saya sudah kenal yang namanya pacaran sejak kelas 6 SD. Mama gak tau nih soal ini hihihi. Saya pertama kali jadian saat duduk di bangku kelas 6SD. Akkkk bisa-bisa nyaaaa >.< Sejak saat itu saya sudah kenal yang namanya cinta (monyet) pada lawan jenis. Rasanya memang indah dan menyenangkan. Ada yang ngasih perhatian dan semangat. Hingga akhirnya saya kapok karena trauma yang cukup dalam. Amat sangat dalam. Saya jadi sebel dan benci sama yang namanya pacaran. Apa yang dijalani lebih banyaknya palsu dan gak jelas.

Udah segala macem deh ini perasaan diajakin main kenalan sama sosok yang ini dan yang itu. HIngga akhirnya awal tahun 2009 saya bertaubat dan berusaha sekuat hati dan tenaga untuk membersihkan hati dari perasaan sayang dan cinta  yang belum waktunya. Eh, langsung dapat hadiah dari Allah dipertemukan dengan pria shaleh yang bersedia melamar tanpa harus berlama-lama pacaran. Jadilah pada tanggal 2 Oktober 2010 saya resmi menjadi pelaku Nikah Muda. Menikah di usia 21 tahun, ketika buku nikah rilis lebih dahulu mendahului ijazah sarjana ^^

3 tahun menjalani kehidupan pernikahan begitu banyak yang dialami. Mulai dari bahagia hingga sakit hati. Semuanya ada. Rasa nano-nano! Alhamdulillah perih dan dukanya pun tetap menjadi kebahagiaan sendiri. Beneran gak yesel deh udah memilih nikah muda daripada pacaran yang terlalu lama.

Well. Buat kamu yang juga kepengen mengakhiri masa lajang dengan nikah muda, berikut adalah tips super singkat yang insya Allah bisa jadi jalan terang ^^

  1. FOKUS sama TUJUAN kamu menikah itu apa. Beneran untuk menggenapkan separuh agama, menghindari zina, atau sekedar BERLARI dari kenyataan yang ada saat ini? Misalkan, karena gerah sama kondisi rumah, kesal berkepanjangan karena ditinggal nikah, atau hal-hal emosi lainnya yang kurang bagus sebagai motif kamu nikah muda. Perbaiki yaa ^^
  2. Jangan khawatir mengenai kemapanan alias materi. Selama kamu sudah NGERTI NILAI CUKUP atau KEWAJARAN, rezeki sudah Allah atur untuk siapa saja yang menyegerakan kebaikan. Yakinnya harus sama ALLAH, bukan yang lain.
  3. USIA tidak mempengaruhi kedewasaan. Kalau sudah siap untuk BELAJAR dan BERPERANG. Pantang untuk mundur dan jadikan setiap masalah yang datang sebagai tantangan
  4. Jangan sibuk merengek minta restu sama orang tua. Tunjukkan aja kalau kita memang pantas untuk hidup dan menghidupi rumah tangga sendiri. Wajar kok kalau orang tua khawatir dan enggan merestui. Mereka jauh lebih ngerti peliknya pernikahan daripada kita. Kuncinya ada di Allah. Minta Allah yang MEMBUKAKAN PINTU HATI orang tua kita. Kalau sudah jalan dan waktunya, suka tiba-tiba kasih restu kok… #pengalamanpribadi
  5. Gak usah terlalu ribet nungguin yang melamar atau nyari yang mau dilamar. Sibuklah memperbaiki dan terus upgrade diri. Jodoh akan Allah antarkan sesuai dengan kapasitas kita. Allah jauuuuh lebih tau kesiapan kita seperti apa. Terus evaluasi apa yang kurang dalam diri, kalau kita memang sudah BENAR-BENAR SIAP MENIKAH. Allah mudahkan, Allah kasih jalan..

5 poin tips super singkat menikah muda. Saya udah berhenti ngomporin orang nikah muda. Soalnya kalau mereka sampe kepancing dan ternyata kaget sendiri sama tantangan yang ada, ntar saya yang kena. Saya cuma merekomendasikan kepada siapa aja yang udah TERLALU LAMA PACARAN, hati-hati… pacaran yang kelamaan lebih banyak gak akan membawamu kemana-mana. Simpan setiap rasa sayang dan cinta untuk nanti saja, ketika akad nikah sudah terucap di depan wali.

Selamat mencoba, semoga setiap niat baik diberkahi..

Salam hangat,

IBU MUDA

@asriFiit

P.S: Doakan tahun ini buku #NikahMuda bisa segera naik cetak. Saya akan cerita abis-abisan mulai dari perasaan yang timbul setelah dan sesudahnya ^^

Ikut Cerita di SekolahPernikahanDotCom

ImageSiapa yang sudah menikah?

Siapa yang sudah merasa BAHAGIA seutuhnya dalam pernikahan?

Siapa yang ingin Nikah Muda?

Siapa yang sudah menemukan bagaimana indahnya Nikah Muda?

Apapun pertanyaan kamu tentang menikah, terutama Menikah Muda… Mampir yuk ke postingan saya di http://www.SekolahPernikahan.com !

Sekalian ubek-ubek artikel lainnya yaa 🙂

Klik langsung aja link yang ini: Satu Cerita tentang Nikah Muda

Semoga bermanfaat!

Mamah Muda

Ada pemandangan yang indah pagi ini di angkot. Seorang ibu yang masih muda dan terlihat sangat fresh. Ia sedang mengantar anaknya berangkat sekolah.

Pada awalnya saya mikir, oh dia berangkat dianter tante-nya. Abis masih muda banget penampakannya dengan anak usia sekolah kayak gitu. Saya hampir gak melepas pandangan ke arah pemandangan manis itu.

“Nak, angkotnya penuh. Sini gendong sama Mama aja..”

Haaaa! Ternyata beneran itu Mama-nyaa. Wiii masih mudah. Pernikahan dini juga nih kayaknya sama kayak saya 😛

Saya pun menyimak obrolan ibu muda ini dengan bapak yang duduk di sebelahnya.

Continue reading

New Year New Chapter

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Ahhh akhirnya bisa nulis lagi dan ini tahun 2013. Alhamdulillah 🙂

Satu tahun itu gak berasa banget yaaa. Dan kalau di-flash back ternyata banyak sekali yang terjadi setahun belakang. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah, jauuuuh lebih banyak kebahagiaan yang berserak daripada kesedihan yang ikut nyempil doang 🙂

Sedikit review tentang 2012, apa aja yang udah saya dapet di satu tahun ke belakang. Tahun 2012 buat saya sangat spesial. Ada 2 momen besar yang terjadi, wisuda dan lahiran. Alhamdulillah semuanya dikasih kelancaran dan kebahagiaan yang gak bisa diurai oleh kata. Continue reading