Anak atau Piala

Dulu waktu awal lahiran, saya sering banget buka internet untuk cari-cari info mengenai bagaimana cara membesarkan anak. Hal receh sih, seperti tentang ruam pada pantat bayi, bagaimana kalau bayi tersedak dan kejadian-kejadian kecil yang mungkin akan saya alami ketika membesarkan bayi di satu tahun usia pertama nya.

Anak pertama pula yekaaan. 

Berlanjut bukain forum-forum para mama, lanjut ku kepoin IG para selebgram mama-mama yang apik dan konsisten menjelaskan kegiatan anaknya sehari-hari. Apa hasil yang didapatkan? Saya berhasil iri tanpa mengerjakan pekerjaan yang sama dan jadinya stress sendiri.

Saya terjebak pada pencapaian dengan motif, duh anak gue juga bisa dong kayak gitu…

Belum lagi dengan segala opini bagaimana cara membesarkan dan mendidik anak yang berbeda-beda gayanya. Ngeliat anak orang lain kok yaa keren banget. Kok anak gue ga sekeren itu sih hiks..  (Padahal lupa ngaca emaknya juga emang udah kalah keren sama emak yang itu, boom!)

Stress banget ternyata jadi follower emak-emak kece yang terlihat berhasil dan sangat happy maen sama anaknya. Kok gue engga yaaa. Kok gue stress dan cenderung menghindar yaa sama anak sendiri.

Alih-alih buat nyari inspirasi, kegiatan berselancar di sosial media malah jadi blaming ke diri sendiri. Deim, kayaknya gue bukan ibu yang baik. Terus aja kayak gitu tanpa membuat pergerakan berarti. 

Alih-alih pengen nyari ilmu buat membesarkan anak, saya malah jadi terjebak untuk pamer tanpa makna pengen ngeliatin, INI LHO ANAK SAYAAA.. Jago makannya, pinter mainnya, lucu mukanya, gemesin tingkah polahnya, dsb dsb dsb. 

Sampe akhirnya ngerasa hampa sendiri dan rungsing sendiri. My life is actually HAMPA. Cuma pamerin 5% dari hidup yang keliatannya bagus, sisanya zonk.

Gausahlah sosial media. Dari ketemuan sesama para ibu aja, kadang kita suka ga sadar untuk saling berkompetisi. Sebenernya ibu nya sih yang berkompetisi, tapi bawa-bawa anak. Pake anak buat menunjukkan kehebatannya. Really??? Hebat atau emang insecure parah, Buk?

Gak semua ibu jadiin anaknya piala. Cuma saya akui, saya pernah ada di dalam kubangan yang seperti itu. Anak dijadikan sebagai trophy keberhasilan ego kita sendiri. Padahal sejatinya setiap anak itu unik, pintar, dan cerdas dengan gaya nya sendiri.

Dunia ibu itu seru seru nyeremin sih. Hahahaha… Seru karena emang gak pernah hilang dari topik baru dan bikin excite. Tapi aroma kompetisinya kenceng bok. Aroma inscure dan penuh pembuktiannya kadang bikin lelah. Somehow kalau kita gak waras, bisa malah bikin drama ga penting.  

Sebagai ibu kita tentu sangat patut berbangga dengan semua pencapaian yang anak punya. Pasti akan sangat gatel buat nyeritain anak sendiri. Tapi kan ya gausah lah dipamerin terus. Tapi kan ya gausah lah dicertain terus. Bisa jadi kita nya puas ngelampiasin excite, tapi yang denger atau lihat merasa tertekan dan mendadak rungsing karena denger cerita kita. Lagian apa sih yang dicari dengan terus-terusan pamerin anak sendiri?

Beda kok rasanya dengerin Ibu yang punya niat sharing dengan tulus, sama Ibu yang harot banget pamerin anak bikin hati yang denger ga nyaman 😦

Advertisements

Pencarian Jati Diri

Beuh.

Judulnya berat cuuyy. Mas Jati kamu kemana, banyak orang yang nyariin. Termasuk sayah. 

Berbicara tentang pencarian jati diri, ini adalah perbincangan yang gak pernah ada ujungnya. Perbincangan yang selalu seru untuk dibahas. Bagi saya terutama. 

Ternyata tidak ada patok usia bagi seseorang bisa bertemu dengan jati dirinya. Setiap individu punya waktunya masing-masing untuk ketemu Bang Jati. Sempat saya berpikir bahwa pada usia 20an awal saya akan bertemu dan mengenal siapa saya. Ternyata tidak semudah itu shay. Usia saya saat ini sudah menginjak 28 tahun. Penghujung usia 20an yang bikin deg-degan. Bisa dibilang, baru di usia ini saya tau apa yang saya mau. Saya yakin dengan apa yang saya jalanin.

Telat? Relatif. Telat menurut siapa dulu…

Mungkin bagi yang sudah menemukan jalan hidupnya di usia 17 tahun, apa yang saya capai saat ini bisa dibilang telat. Tapi jangan salah, banyak di antara kita bahkan usianya sudah mau kepala 4 pun masih oleng dengan kapal yang sudah ia rakit selama ini.

Pencarian jati diri.

Itu memang proses yang berat cuuyy. Apalagi di masa millenial saat ini. Di mana sosial media menambah rusuh kancah pencarian jati diri. Banyak orang terjebak pada hidup orang lain. Berhalusinasi. Berharap dan membayangkan hidupnya seperti yang ia nikmati di layar HP nya. And you know what, itu rasanya gak enak mennn. Being HALU is menyakitkan. Melelahkan. Will bring you going nowhere….

Lalu, apa sih sebenarnya pencarian jati diri itu ?

Ini mah definisi menurut saya yah. Pencarian jati diri itu adalah proses kita mengenal siapa kita dan mau apa kita. Proses menyakitkan karena kita harus menerima diri kita apa adanya dengan segala apapun yang telah membentuk kita. Pola asuh orang tua dan juga peran lingkungan serta pengalaman yang berkontribusi nyata menjadikan diri kita begini adanya.

Kita paham apa kelemahan kita dan apa potensi kita. Gak insecure sama orang lain. Karena kita percaya bahwa kita unik dan sangat berbeda satu dan yang lainnya. Kita membawa pesan lewat passion yang khas untuk menjadi khalifah Allah di dunia yang fana ini. Kanmaeeeen bahasanya yekaan….

Kita tau kita siapa. Kita tau mau dan tujuan kita apa. Niscaya kita agak irit baper dan hemat galau menghadapi dunia nyata. Jamaaaah oohh jamaaaah.

Pernah denger gak quotes yang bilang, do your passion and money will follow. Bahwasanya ketika kita tau apa yang kita suka, apa yang kita cinta, apa yang kita enjoy ngerjainnya no matter what happen, no matter what people say…. Kita akan lebih mudah menggenggam dunia. Gituh. Jamaah ohhhh jamaaah…

Cuma memang proses nemuin jati diri ini PR banget. Ga semua bisa telaten sampai nemu hak paten atas dirinya sendiri. Butuh drama india dan telenovela untuk akhirnya menemukan, SIAPA SIH SAYA. MAU APA SIH SAYA??

Beruntung saya punya komunitas yang concern banget bahas yang namanya pencarian jati diri. Komunitas ini buka pendaftaran membernya pun setahun sekali, untuk memastikan setiap anggotanya matang berproses untuk kenal dirinya sendiri. Saya namai komunitas ini KIMI. Komunitas IBUMUDA Indonesia. Eits, jangan terkecoh dengan kata ibumuda yang ada di dalamnya. Karena itu adalah sebuah kiasan sebuah semangat jiwa muda untuk terus menggali potensi dan inspirasi untuk bertahan dan bersinar di dunia.

Dan terbukti, pencarian jati diri pun memang tidak mengenal usia, latar belakang atau status saat ini. Kita semua, apapun kondisinya, akan selalu mencari daratan terbaik untuk napak dan sadar… kita ini siapa dan kemana semua doa dan harap akan dibawa dan diperjuangkan.

Sabtu ini tanggal 9 Desember 2017 insya Allah KIMI bakal kopi daratan di JAKARTA, yeaaay. Acara ini terbuka untuk umum. Jadi bagi siapa saja yang gak sengaja baca tulisan ini dan berminat ikut nimbrung dan seru-seruan bareng KIMI, boleh banget daftar dan join ketemuan.

Kamu bisa kontak Fely di 0812 8376 7467. Kuota peserta terbatas, jadi jangan kebanyakan mikir cuss aja langsung daftar 🙂

Percayalah…. Siapapun kita, gak akan pernah bosan untuk semakin kenal dengan siapa diri kita yang sebenarnya. Goodluck!


Tersesat dalam Sepi

Tersesat dalam sepi. Ketika ada yang kosong dalam hati.

Ingin memanggil siapa saja untuk mengisi. Tapi sebenarnya hanya kamu yang selalu ingin kucari.

Kamu yang sulit direngkuh. Kamu yang sulit hangat. Sulit menyatu dalam kata.

Tersesat dalam sepi. Setiap malam pada udara yang dingin. Membuat pedih semakin tajam. Membuat risau semakin gaduh. 

Tidak ada yang membahagiakan dari sebuah rasa sepi. Setidaknya untuk aku. Dan anak kecil yang dikelilingi rindu. 

Berdiskusi dengan Hujan

Aku berdiskusi dengan hujan.

Kembali mempertanyakan tentang sesuatu yang sedang aku kejar.

Sesuatu yang tidak semua orang mau paham.

Sesuatu yang selalu disertai hal-hal yang menyakitkan…

Aku berdiskusi dengan hujan.

Mempertanyakan keyakinanku pada apa yang dikejar..

Apakah cukup kuat atau akan kembali terhempas sanggah.

Terhempas kernyit dahi orang yang dekat.

Terhempas sekeliling ragu…

Aku berdiskusi dengan hujan..
Apakah benar aku ini mampu?

Feel Secure

Sebagai wanita yang ogah dibilang istri rese sama suaminya, karena keterlaluan bawel dan interogratif, jadi saya harus pinter-pinter cari kegiatan ketika menunggu suami pulang. Ini jam 10.44 malam dan pangeran tamvan belum terdengar juga suara motornya. Tadi sih udah nelp ngabarin otw pulang dan mau cari makan dulu. Jadi yaudah tinggal ditunggu sambil doa biar selamat.

Setelah kenyang ngelenong di grup WA KIMI, dan khatam baca bukunya Neneng Gita Savitri, saya jadi kepikiran membahas satu hal penting dalam hidup. Hasikk.

Yaitu… Feel Secure. Atau kalau dibahasaindonesiakan mah MERASA AMAN.

Merasa aman dengan diri sendiri. Gak gampang galau, nyolot, atau baperan.

Kalau bahas topik ini 7 tahun yang lalu mah, agak gak pede lah saya mah. Justru kadar insecure nya di atas batas normal banget hahaha. Dicolek dikit aja bisa langsung ganas gak jelas, atau mewek gak karuan. Hahahaha sangat alay lah pokoknya mah. Terus, emang sekarang udah secure gituh? Udah okeh gitu yey?? Yaaa gak banget-banget sih. Masih suka baperan dan suka ambil pusing sama hal yang ga penting. Tapi alhamdulillah kalau dibandingkan sama saya 7 tahun yang lalu… udah ada progress. Bahwasanya ketika kita sudah benar-benar kenal dengan diri kita dan apa yang akan kita kejar, kita akan lebih feel secure. Bakal BOAM alias bodo amat sama omongan orang. Karena well…. kalau ngikutin omongan orang mah gak akan ada wujudnya. Dan apapun ujian yang kudu dihadapin, kita akan tetap tegar kayak judul lagunya Rossa untuk tetap setia kayak judul lagunya Jikustik pada tujuan yang akan kita kejar.

Feel secure di sini pun artinya bisa berarti kondisi dimana kita lebih paham apa itu arti ikhlas, sabar, dan bersyukur. Dan yang jelas 3 kata sakti itu gak akan khatam dimengerti hanya dengan sering membaca buku, hadir dalam seminar atau kajian, atau ikut worksop ini itu. Tiga kata sakti itu sejatinya (((ciee sejatinya))) didapat dari bagaimana kita sadar dengan badai hidup yang harus dihadapi dan berhasil paham akan manfaatnya untuk kehidupan di masa yang akan datang.

Ini juga yang saya tangkap dari tulisan-tulisannya @gitasav di bukunya yang berjudul Rentang Kisah. Peristiwa hidup dan kondisi yang akan mendewasakan kita kalau kita nya mau belajar dan aware. Mau berbenah dengan sepenuh hati. Mau mengakui kekurangan diri sendiri. Karena apalah sebuah perubahan hidup kalau tidak dimulai dengan mengakui apa-apa aja yang salah dalam diri.

Wedewwww kok bahasannya berat amat sih. Mungkin udah mau tengah malam hahaha apa hubungannyaaaa Mbak?

Yaudah deh gitu aja dulu… Suamiku sudah pulaaang. Sudah sampai di rumah. Mari kita mariiiii :))

Apa itu KIMI?

Akhir bulan Oktober ini, saya memantapkan hati untuk kembali membuka registrasi keanggotaan KIMI. Apa itu KIMI? KIMI adalah singkatan dari Komunitas IBUMUDA Indonesia. Komunitas yang sudah saya bangun sejak tahun 2013. Sejarah lengkapnya seperti apa bisa dibaca di sini yaaa

Flyer Open Register New Member sudah disebar via medsos. Dan tentu saja pertanyaan dasar akan bermunculan bagi yang berminat untuk gabung. Baiklah, buibu tercinta…. berikut akan saya jelaskan secara lengkap tentang keanggotaan KIMI dan apa yang akan didapatkan jika bergabung dengan komunitas ini. Check it out 🙂

Apa itu KIMI?

KIMI adalah sebuah komunitas yang menitikberatkan pada pengenalan diri sendiri. Topik yang akan dibahas adalah tentang bagaimana kita SADAR kira-kira masalah atau penyakit yang selama ini kita hadapi akarnya ada di mana. KIMI akan banyak membahas tentang kondisi emosi dan self awareness dalam menyikapi permasalahan hidup, terutama konflik rumahtangga. Atau mungkin tentang…. mantan. Hehe…

Siapa saja yang boleh masuk KIMI?

As long as kamu WANITA, kamu berhak masuk KIMI. Kelahiran berapapun… Sudah menikah atau belum… Sudah punya anak atau belum… IRT atau wanita bekerja…. Boleh…. boleeeh banget gabung, karena balik lagi ke visimisi KIMI, yaitu mengajak para wanita Indonesia untuk bisa kenal SIAPA diri nya dan MAU dibawa kemana hidupnya.

Saya berada di pulau atau kota “X” apakah bisa bergabung KIMI?

Keanggotaan KIMI tidak berbatas domisili. Di manapun kamu, boleh banget gabung KIMI. Karena kegiatannya lebih banyak dilakukan via grup WA. Sejauh ini kopdar hanya dilakukan di kota Bandung, Jakarta, dan Bogor karena jumlah anggota yang terdaftar yang paling banyak. Jadi tidak menutup kemungkinan jika jumlah anggota di kota mu sudah mulai banyak, bisa bikin kopdar sendiri.

Apa saja kegiatan KIMI?

Kegiatan KIMI terbagi menjadi dua agenda besar, diskusi di grup WA dan kopdar KIMI yang dilakukan di 3 kota tadi. Apa saja yang didiskusikan di grup WA KIMI? Selain masalah domestik kegalauan seorang wanita pada umumnya, KIMI memfasilitasi para member untuk curhat dan berbagi beban. Ada juga hari spesial untuk para ibu yang punya bisnis untuk bukalapak di #JumatJualan. Daaan kegiatan yang paling seru dan dinanti adalah #challengeKIMI, yaitu berupa kegiatan sehari-hari yang ditentukan tema nya, manfaatnya bisa mengulik dan mengorek potensi para buibu yang selama ini belum terkuak. Dan tentu akan ada pembelajaran di balik challenge tersebut. Tidak sedikit dari  pengalaman challenge, banyak member yang jadi lebih jauh mengenal dirinya sendiri.

Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dengan bergabung dengan komunitas ini?

Selain bertambahnya saudara sesama perempuan, para member KIMI yang sudah tergabung selama ini merasakan manfaat berupa perspektif baru dan berbeda dalam menyikapi setiap masalahnya. Karena selama prosesnya kita akan sama-sama KENAL dengan diri kita yang sebenarnya. KIMI bisa menjadi sahabat yang akan menerima kamu apa adanya. Well ini abstrak banget sih emang, tapi ini akan kamu rasakan ketika sudah masuk dan merasakan interaksi di KIMI 🙂

Apa yang membedakan KIMI dengan komunitas lain?

KIMI tidak akan secara khusus membahas tentang pernikahan, sekolah anak, parenting, ASI vs Sufor, MPASI, metode lahiran, pilihan karir, dan topik spesifik lainnya. It’s about us, as a WOMAN.

Apa syarat bergabung dengan KIMI?

Pertama, mengisi database di bit.ly/databaseKIMI. Kedua, siap jadi diri sendiri dan MENERIMA diri sendiri.

Oiya, buat yang belum tau dan kenal. Kenalkan…. Saya Asri Fitriasari atau biasa dipanggil Achii. Seorang ibu dengan satu anak yang sedang hamil anak kedua, koas doktergigi di FKG Unpad, domisili Cimahi, dan seorang wanita yang senang sekali menulis. Saya founder dari komunitas ini. Am I an expert in these things??? Engga. Saya pun masih gesrek, butuh masukan dan diingetinnya. Saya membuat komunitas ini karena sadar bahwa wanita itu sebetulnya SANGAT KUAT, hanya saja suka lupa caranya kuat itu kayak gimana. Saya kumpulkan para wanita dengan segala cerita dan latar belakangnya untuk saling mengingatkan dan menguatkan bahwa KITA ITU HEBAT !

Baiklaaah… sekian informasi singkat tentang KIMI, silakan jika berminat kenalan dan merasakan serunya komunitas ini bisa japri saya via WA 0812 2702 3499 🙂

 

 

THANKYOUUU *smooch*

Tahun Ketujuh.

IAda cerita apa di tahun ketujuh ini?

Ada banyak hal baru yang saya baru tau dari Mas Indra Purnama Irawan. Sesuatu yang bikin sebel tapi setelah dipahami lebih dalam, sesuatu itu yang bikin saya butuh dia dan merasa lengkap hidupnya bersama dia. Getekkk loh nulisnya juga hahaha.. Dan juga linu kalau inget bagaimana kami melewati berantem-berantem heboh beberapa bulan kemarin.

Happy anniversary  yang ketujuh Aa. Terima kasih sudah sangat sabar menemani (terutama menemani sekolah profesi yang belum juga selesai hihi). Gatau mau nulis apa da asa udah lebih banyak ngobrol langsung sama kamu sekarang mah ehehe. Masih banyak PR bersama yang harus kita kerjain bareng-bareng. Masih banyak puzzle berantakan yang harus kita selesaikan bareng-bareng. Semoga sampai maut memisahkan. Karena kalau bukan sama kamu…. belum tentu jadi aku yang sadar penuh dengan hidup.

Tahun ketujuh adalah tahun persiapan untuk baby number 2 dan aku yang harus BENERAN lulus!

S M G T 🙂