Berdiskusi dengan Hujan

Aku berdiskusi dengan hujan.

Kembali mempertanyakan tentang sesuatu yang sedang aku kejar.

Sesuatu yang tidak semua orang mau paham.

Sesuatu yang selalu disertai hal-hal yang menyakitkan…

Aku berdiskusi dengan hujan.

Mempertanyakan keyakinanku pada apa yang dikejar..

Apakah cukup kuat atau akan kembali terhempas sanggah.

Terhempas kernyit dahi orang yang dekat.

Terhempas sekeliling ragu…

Aku berdiskusi dengan hujan..
Apakah benar aku ini mampu?

Advertisements

Feel Secure

Sebagai wanita yang ogah dibilang istri rese sama suaminya, karena keterlaluan bawel dan interogratif, jadi saya harus pinter-pinter cari kegiatan ketika menunggu suami pulang. Ini jam 10.44 malam dan pangeran tamvan belum terdengar juga suara motornya. Tadi sih udah nelp ngabarin otw pulang dan mau cari makan dulu. Jadi yaudah tinggal ditunggu sambil doa biar selamat.

Setelah kenyang ngelenong di grup WA KIMI, dan khatam baca bukunya Neneng Gita Savitri, saya jadi kepikiran membahas satu hal penting dalam hidup. Hasikk.

Yaitu… Feel Secure. Atau kalau dibahasaindonesiakan mah MERASA AMAN.

Merasa aman dengan diri sendiri. Gak gampang galau, nyolot, atau baperan.

Kalau bahas topik ini 7 tahun yang lalu mah, agak gak pede lah saya mah. Justru kadar insecure nya di atas batas normal banget hahaha. Dicolek dikit aja bisa langsung ganas gak jelas, atau mewek gak karuan. Hahahaha sangat alay lah pokoknya mah. Terus, emang sekarang udah secure gituh? Udah okeh gitu yey?? Yaaa gak banget-banget sih. Masih suka baperan dan suka ambil pusing sama hal yang ga penting. Tapi alhamdulillah kalau dibandingkan sama saya 7 tahun yang lalu… udah ada progress. Bahwasanya ketika kita sudah benar-benar kenal dengan diri kita dan apa yang akan kita kejar, kita akan lebih feel secure. Bakal BOAM alias bodo amat sama omongan orang. Karena well…. kalau ngikutin omongan orang mah gak akan ada wujudnya. Dan apapun ujian yang kudu dihadapin, kita akan tetap tegar kayak judul lagunya Rossa untuk tetap setia kayak judul lagunya Jikustik pada tujuan yang akan kita kejar.

Feel secure di sini pun artinya bisa berarti kondisi dimana kita lebih paham apa itu arti ikhlas, sabar, dan bersyukur. Dan yang jelas 3 kata sakti itu gak akan khatam dimengerti hanya dengan sering membaca buku, hadir dalam seminar atau kajian, atau ikut worksop ini itu. Tiga kata sakti itu sejatinya (((ciee sejatinya))) didapat dari bagaimana kita sadar dengan badai hidup yang harus dihadapi dan berhasil paham akan manfaatnya untuk kehidupan di masa yang akan datang.

Ini juga yang saya tangkap dari tulisan-tulisannya @gitasav di bukunya yang berjudul Rentang Kisah. Peristiwa hidup dan kondisi yang akan mendewasakan kita kalau kita nya mau belajar dan aware. Mau berbenah dengan sepenuh hati. Mau mengakui kekurangan diri sendiri. Karena apalah sebuah perubahan hidup kalau tidak dimulai dengan mengakui apa-apa aja yang salah dalam diri.

Wedewwww kok bahasannya berat amat sih. Mungkin udah mau tengah malam hahaha apa hubungannyaaaa Mbak?

Yaudah deh gitu aja dulu… Suamiku sudah pulaaang. Sudah sampai di rumah. Mari kita mariiiii :))

Melenturkan Hati

Semua manusia punya ingin dan impian.Β 
Punya doa dan juga harap.
Lalu dalam kenyataan,

dalam kehidupan,

apa-apa yang kita inginkan,

apa-apa yang kita impikan,

doakan dan harapkan..

Berjalan jauh dan tidak jarang bersebrangan dengan apa yang kita bayangkan.
Tidak sedikit rasa kecewa, marah, sesal, bingung, sedih, dan lelah kita rasakan.
Sampe sekecil apapun ujian yang datang, selalu aja ada keluhan…

“Hidup gue kok gini-gini amat yaaaa Allah….”

Menepi lah… Atur nafasmu…

Karena Allah lebih mengerti proses apa yang harus kita hadapi.

Karena Allah sudah lengkap menyiapkan semua episode hidup ini untuk kita jalani.

Pahitnya, bahagianya, naik turunnya.

Ketika kita berpikir bahwa hidup kita HANCUR dan TAK BERRWUJUD…
Menepi lah… Atur nafasmu…

Jangan lupa melenturkan hatiΒ karena boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui… (QS. Al-Baqarah:216)

Take a DEEEPPPP breath.

Allah is everywhere.

Allah gives you a sign…
Lewat setiap ujian.

Lewat setiap hal-hal yang kita keluhkan.

Jangan lupa lenturkan hati.

Karena hidup terasa SEMPIT bagi orang-orang yang KERAS HATI.

Wallahu’alam bishawab.

Cimahi, 12 April 2017

Asri Fitriasari

Founder Komunitas IBUMUDA Indonesia

Rasa SAKIT

​Ketika memutuskan untuk ikut program Life Coaching bersama Teh Irma Rahayu, saya pikir urusan saya dengan rasa SAKIT dalam hati akan selesai dan beres. Nyata nya enggaaa wkwkwk. Justru sejak jadi anak LC, saya lebih AWARE dengan rasa sakit… berat badan nambah karena saban hari makan ati muluuu hahaha.
Iyaa, rasa SAKIT gak akan pernah hilang dalam setiap perjalanan kehidupan kita. Dia akan selalu ada, dalam bentuk marah, kesal, kecewa, ataupun terhina. Halaaah bahasa lo Chiii, drama banget πŸ˜‚ Kalau kita udah gak ngerasa sakit, ada dua kemungkinan, pertama mungkin karena kita udah mati, kedua karena kita udah kayak zombie… Hiii ngeri!

Rasa SAKIT itu udah pasti bakal terus ada deh. Skenarionya seperti ini, dalam sebuah ketenangan ragawi dan batiniawi (bahasa apaan sih ini Chii haha) kita tiba-tiba kedatangan KONFLIK. Bisa konflik yang memang baru kita ketemui, atau konflik yang dari dulu menghantui, gak kelar-kelar kayak Tersanjung season 6….

Continue reading

Ada Apa Dengan Cinta?

Cieee gue mau ikutan demam AADC dah.. Emang cuma orang travel aja yang bisa memanfaatkan peluang bikin Jogja Trip AADC? Blogger musiman macam saya ini juga kudu ikutan hajat AADC juga kali.

Pause dulu yaaa cerita Life Coaching nyaa. Biar gak bosen dan saya gak kehilangan momen me-review film hits awal tahun ini.

Well. Sejak film AADC part 1, saya udah berhasil terbius oleh akting dan alur  cerita yang disuguhkan. Apalagi saat film pertamanya liris, yaitu saat saya SMP (ngaaah masih bocah banget padahal yaaah wkwkwk), saya lagi hobi banget nulis puisi, jadi sukak banget deh sama film itu. Dan ada hal lainnya lah yang membuat saya sukak sukak sukaaa banget sama film itu, beserta kumpulan original soundtrack nya tentu πŸ™‚

Waktu berselang. 14 tahun setelah film fenomenal itu muncul di jagat perfilman Indonesia, Mira Lesmana and gengs berinisiatif untuk membuat part 2 nya, tentang bagaimana kelanjutan kisah antara Rangga dan Cinta.

Selama nonton film itu gue cuma bisa kampret-kampretin setiap adegan dan skenario yang dibuat oleh tim Mira Lesmana and gengs.

Kampreeeeet. Bisa banget nulis obrolannya. Bisa banget nyari spot jalan berduaannya. Bisa banget bikin gue baper terbawa memori masalalu. HAH πŸ˜‚

Film itu mengingatkan saya akan hobi lama, yaitu menulis puisi. Dulu tiap kali lagi bete atau happy, doyan amaaaat nulis puisi. Gara-gara film ini, saya jadi baca-baca lagi puisi saya dulu. Dan aduh, jibang deh πŸ˜…

Jijik banget.

Puisi anak baru gede yang masih terjebak ilusi hidup dan cinta semu. Halaaah ~

Oke, balik lagi ke film EE DI SITU. Untuk yang suka banget sama film ini (karena ada segelintir orang yang biasa aja, gak suka, bahkan menghujat, kita skip dulu yaaa geng yang ini…) pasti bawaanya BAPER. Bawa Perut πŸ˜‚ Bukan deng, bawa perasaan, perasaan apapun yang nyangkut sama masalalu nya atau masa sekarang tentang yang namanya CINTA.

Okey, mari sejenak kita berbicara CINTA. Bukan Cinta nya Rangga. Tapi arti Cinta yang sebenarnya… Ihiiiy

Saya gak akan spoiler di dalam film itu terjadi adegan apa aja. Nope. Saya gak tega kasian ama yang belum nonton, ntar greget dan degdegannya ilang.

Saya hanya akan menceritakan apa yang saya dapat dari film itu dan melihat fenomena BAPER yang merajalela di tengah masyarakat Indonesia et causa kisah cintanya Rangga dan Cinta.

Kita semua punya cerita cinta. Baik sedih maupun suka. Baik yang terjadi di masa lalu atau masa ini.

Jujur aja saya cukup baper sama film ini. Karena mengingatkan saya pada atraksi cinta yang selama ini saya mainkan. NGAH, lo pemain sirkus Sis??? Pake atraksi segala πŸ˜…

Oke maafkan pemilihan kata gue yang ngeselin ini hahahaha ~

Di masa lalu, atau mungkin beberapa waktu ke belakang… Saya termasuk wanita yang cukup cetek memaknai cinta. Wanita yang gampang iri liat adegan romantis, gampang mupeng kalau ngeliat kelakuan para pria-pria manis. Lalu dengan dodolnya membandingkan dengan kondisi hidup sendiri. Lalu kecewa dan menghambur-hamburkan rasa syukur dengan drama. Phewww… Kelakuan gue tuh yaa emang minta dilemparin bakiak πŸ˜‚

Cerita demi cerita tentang CINTA saya lewati. Mulai dari susahnya move on dari kenangan, di PHP in sama beberapa ikhwan (gue pake ikhwan biar bagus aja rima tulisanyaa haha udah gak usah protes), hingga jogging-in hati biar kuat menghadapi kenyataan.

Somehow otak kerdil saya selalu berharap romantisme yang disuguhkan oleh layar kaca kejadian juga dalam hidup saya. Adegan manis selama sekitar 120 menit yang menyebabkan baper, padahal hanya seperjuta persen ada dalam dunia nyata.

Hah, mau ngomong apa sih chiiii 😁

Gini, gini… Kita kan kalau nonton film atau baca novel yang ada drama cinta nya suka kebawa perasaan, suka dengan senang hatinya membuka luka lama atau dengan inistiatif tingkat dewa membangun satu kubangan kecewa sama apa yang ada. Eh gatau sih kalau kalian, gue mah gitu orangnya haha.

Sama nih kayak film AADC dan film drama romantis lainnya, durasi cuma 2 jam tapi bikin hati dan perasaan nginjek-nginjek logika dan kewarasan.

Padahal yaaaah saudara sebangsa dan setanah air, kemanisan dan keromantisan yang disuguhkan pun sebenarnya kita ngalamin juga, dengan porsi dan bentuk yang berbeda-beda. Atau bahkan jauh lebih indah dan cukup dalam untuk cerita kita sendiri.

Ini lagi ngomongin gue sih sebenernya ngahahaha~

Saya pernah punya masalalu. Dibilang indah, bisa. Dibilang buruk juga bisa. Dibilang udah move on, bisa. Dibilang masih ada keraknya juga bisa πŸ˜‚

Well. Tapi saya mencoba berpikir waras. Bahwa setiap episode di masalalu adalah titik-titik yang membentuk garis, garis yang mengantarkan hidup saya di titik yang baru. Di titik yang paling baik menurut Allah.

Saya mencoba berpikir dengan AKAL SEHAT bahwa setiap peristiwa yang mengatasnamakan kata cinta, sejatinya adalah cara Allah untuk mendidik kita untuk mengenalNya.

Setiap ujian yang datang mengatasnamakan kata cinta, dengan siapapun objeknya, adalah mata kuliah hidup yang mengajarkan kemelekatan kita harus hanya pada yang Esa saja.

Duh iya itu kerasa bangeeeet sama gue. Di saat dulu saya demen pacaran, lalu ada tragedi yang bikin saya sakit dan perih, perih sekali, di situ pula saya sadar bahwa cinta sama pacar menjadi absurd bentuknya. Jadi bias. Semu. Dan tak berbekas.

Jangan tanya itu proses sakit pedih perihnya kayak apa. Yaaa kayak Cinta ogah makan, ogah mikir waras, dan milih buang-buang waktu keliling Unpad Jatinangor dengan tatapan kosong 😁

Puji syukurnya Allah baik banget, setelah saya nyesel, doa, dan taubat, Allah kasih hadiah. Penampakan calon suami yang tanpa waktu lama bikin saya yakin.

Iya, yakin yang pake proses jugaaa πŸ˜‚

Ketika kita sudah dipertemukan dengan he’s the one, jangan salah, ujian akan terus datang, tragedi akan terus berganti…

Ujung-ujungnya sih bikin kita mikir. What the true love is. Jadi cinta itu sebenernya apa, kayak gimana, untuk siapa, dan cara pengaplikasiannya bagaimana.

Cinta itu memang sesuatu hal yang bikin kita gak berdaya sama sekali. Bikin kita galau tapi juga bahagia. Cinta itu buat saya yaaa saat akal dan rasa merasa payah sepayahnya payah, di situ kita ketemu sama Zat Yang Maha Ada. Ada untuk apa saja. Ada dan setia. Ada dan tidak pernah kasih kecewa. Ada dan selalu membuat kita bahagia. Dengan caraNya yang di luar logika. Dengan caraNya yang selalu bikin kita gemaaaas bertanya-tanya, ini semua akan dibawaNya kemana. Dengan caraNya yang rumit tapi juga asik.

Sebuah Zat yang ketika sadar sesadarnya sadar, kita akan mengakui bahwa skenario yang dibuatNya SELALU membuat kita merasa bahagia dengan cara yang luarbiasa.

Kisah cinta kita dengan si A atau si B atau si C atau mungkin hingga si Z hanyalah satu dialog dalam rangkaian film yang sedang Allah reka untuk hidup kita.

Bersabarlah. Berjuanglah..

Karena film AADC 2 yang bikin baper itu pun dicipta dan diproduksi bukan dengan durasi hanya 2 jam saja. Ada belasan purnama, dengan segala konflik dan lelah yang menggema.

Begitulah…

Haaaah. Sekian yah dari saya, semoga apapun kejadian kecil dalam hidup yang bikin baper tidak mengacaukan perjalanan kita untuk tetap setia mensyukuri cinta yang tidak ada habisnya, Allah πŸ™‚

Semangat pagi Semesta,
Salamkan untuk masalalu yang pernah hinggap.. Terimakasih atas cerita yang pernah kita renda, cerita yang menjadi anak tangga menuju cinta yang sebenarnya. Semoga bahagia selamanya. Tetaplah kamu di situ, menjadi masalaluku yang sudah lumat dan meng-abu πŸ™‚

Batas

Semua perihal diciptakan sebagai batas
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain
Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin
Besok batas hari ini dan lusa

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, Β bilik penjara, dan kantor wali kota, juga rumahku dan seluruh tempat di mana pernah ada kita
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata
Begitu pula rindu. Antara pulau dan seorang petualang yang gila
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang

Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya
Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan
Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur
Apa kabar hari ini?
Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

By @aanmansyur

Belajar dari Khadijah

Saat saya mengikuti seminar Pak Jamil Azzaini mengenai Proposal Hidup, di acara tersebut dijelaskan mengenai impian dunia dan impian akhirat. Apa yang menarik bagi saya adalah ketika beliau menceritakan impian akhiratnya yaitu, ingin memeluk Rasulullah SAW di surga kelak. Sehingga apa yang beliau kejar dan kerjakan dalam impian dunianya adalah agar Rasulullah bangga dan ingin memeluknya. Wow, it’s cool, isn’t?

Saya segera bertanya pada diri sendiri. “Lah terus persisnya impian akhirat gue apaan ya?” Perasaan cuma impian dunia aja yang kebayang gambarannya kayak apa. Impian akhirat, masuk surga doang? Kurang bikin greget kalau kata Pak Jamil. It’s everybody’s dream. Too cliche.

Well, kalau Pak Jamil ingin memeluk Rasul. Saya pengen peluk istrinya ajaa. Istri pertama beliau yang begitu setia dan total mendampingi dalam suka dan duka, dalam susah dan senang, dan dalam setiap juang serta menang. Siapa lagi kalau bukan Khadijah binti Khuwailid.

Beliau adalah salahsatu wanita yang Allah jaminkan surga yang terindah di akhirat kelak. Ihhhh pingiiiin sekali yaa rasanya saat ‘istirahat’ nanti kita bisa satu atap dengan wanita surga bidadari dunia ini. That will be my ultimate dream.

Bagi siapa yang belum kenal Khadijah,Β  dia adalah pengusaha wanita sukses yang pada usianya ke-40 tahun meminang Muhammad bin Abdullah yang berusia 25 tahun. Khadijah besar dari keluarga yang terpandang di kota Makkah pada masa itu. Ia terkenal sebagai wanita yang santun dan istimewa perangainya. Berkat kecerdasan dan ketajaman intuisinya, ia mampu mengembangkan usaha peninggalan suaminya yang pertama dan kedua saat mereka wafat. Khadijah tumbuh menjadi wanita yang kuat secara akhlak, finansial, dan hubungan sosialnya. Maka tak sedikit pula lelaki yang ingin sekali menikahi Khadijah saat ia ditinggal wafat suaminya. Tapi Khadijah menolak dan memilih berjuang sendiri untuk membesarkan 3 anaknya dan mengembangkan bisnisnya tersebut.

Hingga pada satu ketika, Tuhan pertemukan Khadijah dengan pemuda Mekkah yang pandai dalam urusan dagang karena terkenal dengan kejujurannya, yaitu Muhammad bin Abdullah atau sering dijuluki Al Amin (Orang yang Terpercaya). Selain rasa puas karena berhasil melakukan kerja sama dagang dengan Muhammad, Khadijah pun menyimpan rasa kagum pada sosok Muhammad yang sederhana namun penuh karya nyata.

Singkat cerita, akhirnya mereka menikah dan bersama mengemban amanah dakwah penyebaran agama Islam. Bukan hanya sebagai istri, namun Khadijah adalah sahabat terdekat Muhammad saat itu yang menemani beliau berjuang menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Khadijah adalah orang pertama yang memeluk, menenangkan, dan mendukung Muhammad sepenuhnya saat amanah sebagai Nabi diturunkan padanya. Bukan hanya saja dukungan berupa moril tetapi juga harta yang begitu banyak sudah Khadijah sedekahkan untuk kepentingan ummat. Khadijah dengan cekatan dan juga cermat mengurus semua urusan domestik rumah tangga agar Muhammad dapat fokus dalam bidang bisnis dan dakwahnya. Kolaborasi suami istri yang patut dijadikan teladan bagi saya dan untuk kita semua.

Pernah dengar istilah alpha female? Sosok wanita yang kuat dalam karir dan juga pencapaian hidupnya yang lain? Sebut saja Dian Sastro, Najwa Shihab atau mungkin Oprah. Khadijah adalah salahsatunya, bahkan ia tumbuh dan sudah menjadi inspirasi sejak 14 abad lalu. Kiprahnya dalam dunia perdagangan (karir), penyebaran Islam, dan kerumahtanggan benar-benar membuat kagum milyaran manusia sejak zamannya hingga sekarang, termasuk saya.

Ahhh rasanya terlalu singkat, amat sangat singkat jika saya harus menceritakan keistimewaan Khadijah, sang wanita surga bidadari dunia lewat tulisan kecil ini.

Apa yang saya dapat dari membaca beberapa artikel biografi beliau, baik dalam sebuah buku maupun googling kesini kesitu, ada beberapa poin yang menjadi titik semangat dan inspirasi bagi saya seorang wanita yang sudah menjadi istri dan ibu dari seorang Khadijah.

1. Khadijah menunjukkan pada kita bahwa sebagai wanita, kita harus tumbuh menjadi insan yang kuat dan mandiri. Meski sudah ditinggal wafat dua kali oleh suaminya, ia justru berkembang menjadi saudagar kaya diΒ  kotanya. Terkenal dengan kepiawaian dagang dan kesantunan karakternya.

2. Khadijah menunjukkan bahwa sebagai wanita kita harus tumbuh menjadi insan yang memiliki wibawa, dalam hal ini maksudnya adalah kuat menjaga integritas dan harga diri. Tidak mudah mengeluh dan menyerah pada kondisi.

3. Khadijah menunjukkan pada kita bahwa sebagai wanita kita punya hak untuk menyampaikan gagasan dan keinginan, dengan cara yang baik, proporsional dan cerdas. Dia lah yang meminang Muhammad untuk menjadi pendampingnya. Dia tau apa yang dia mau dan butuhkan, yaitu Muhammad dengan karakternya, yang ia yakini betul mampu melengkapi langkah juangnya. Dalam kasus ini, saya belajar bagaimana Khadijah memadukan antara logika dan rasanya. Berani dan terukur!

4. Meski terpaut 15 tahun lebih tua, tidak menjadikan Khadijah sebagai istri yang dominan dan merasa lebih tau daripada Muhammad, padahal jika dilihat dari pengalaman hidup jelas Khadijah lebih berpengalaman. Namun, Khadijah mampu mendampingi, menyamakan posisi dan patuh sepenuhnya sebagai istri bagi Muhammad. Mampu menurunkan ego dan menyelaraskan setiap misi yang mereka jalani bersama.

5. Khadijah dan Muhammad mengajarkan pada kita tentang kerja sama antar suami istri yang apik. Saling mendukung, tidak saling menuntut satu sama lain, tapi memberikan yang terbaik sesuai porsinya masing-masing.

6. Apa yang Khadijah lakukan adalah semata-mata bentuk pengabdiannya pada Tuhan. Itulah yang sebetulnya membuat beliau tak henti dan tak lelah untuk mengabdi dan mendampingi Sang Nabi.

Setiap episode hidup Khadijah tentu tidaklah mudah baginya, tapi yang membuat saya salut… Apapun kondisinya, dia tetap menjadi Khadijah yang kuat. Khadijah yang terbaik di setiap pencapaiannya. Hingga Tuhan pun menganugerahkan pendamping hidup yang tidak biasa, seorang nabi yang kiprahnya begitu lestari hingga akhir zaman. Ada Khadijah yang selalu menguatkan Muhammad dalam beratnya dakwah penyebaran Islam. Tuhan pun langsung menobatkan beliau sebagai wanita terhormat yang dijanjikan surga.

Duh, rasanya ingin menyamainya saja sudah hadir nuansa nirwana di pelupuk mata. Apalagi benar-benar berjuang untuk memiliki karakter yang sama dengannya.

Wanita sudah Tuhan ciptakan begitu mulia dan istimewa dengan setiap kodratnya.

Karena hidup di dunia, jerihnya adalah untuk beroleh surga, nikmati saja setiap episode ujiannya. Sebagai istri yang taat, sebagai ibu yang mengajarkan banyak manfaat, dan sebagai kader terbaik Tuhan agar keselamatan dan kedamaian semakin luas tercipta.

Semoga kita tumbuh menjadi Khadijah-Khadijah berikutnya bagi pasangan, anak, dan lingkungan kita. Menanam benih kebaikan agar menuai hasilnya di taman surga kelak.

Biarkan setiap tangis dan rasa perih menjadi cerita indah yang akan Tuhan usap dengan kenikmatan tiada bertepi.

Selamat berjuang menjadi Khadijah yang istimewa dalam hidupmu. Semoga Allah mempertemukan para wanita tangguhΒ  dan patuh dalam atap yang sama, surga terbaik di akhirat sana…

Salam hangat penuh semangat,
Asri Fitriasari
Part of Komunitas Ibu Muda Indonesia