KIMI 2019

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Haloo semua! Selamat datang di blog ini. Salam kenal, nama saya Asri Fitriasari atau biasa dipanggil Achii. Kalau di KIMI, panggilannya Popon atau Bupon. Pada tulisan kali ini saya akan menjelaskan mengenai KIMI sebelum teman-teman semua mendaftar menjadi anggota barunya. Yesss, ini adalah tulisan yang dibuat khusus untuk teman-teman yang berminat menjadi bagian dari KIMI di tahun 2019 nanti.

Weleh, kok udah dari Oktober yaa diproses registrasinya. Karena oh karena, kami ingin teman-teman mengenal betul tentang KIMI sebelum nanti seru-seruan bareng di tahun 2019. Apakah memang KIMI yang teman-teman cari, atau bukan. Baiklah saya mulai yaaa FAQ tentang KIMI nya. Mari dibaca dengan baik dan mendalam πŸ€—

1. Apa sih KIMI?
KIMI atau Komunitas IBUMUDA Indonesia adalah wadah bagi para wanita yang ingin berproses untuk mengenali dirinya sendiri. KIMI tidak akan membahas issue seputar pernikahan, kehamilan, melahirkan, atau parenting. Jikapun dibahas, poin utamanya kembali lagi terhadap pengenalan diri sendiri. Bagaimana caranya menjadi istri yang percaya diri. Bagaimana caranya menjadi ibu yang bisa berdamai dengan depresi. Bagaimana caranya menjadi wanita yang merasa utuh dan juga tangguh.

2. Siapa saja yang boleh gabung KIMI?
Wanita. Usia maksimal 40 tahun. Tidak masalah sudah menikah atau belum. Tidak masalah berapapun jumlah anaknya. Tidak masalah wanita bekerja atau hanya aktif di rumah. Oiya, jika kamu belum berhijab, isokey untuk masuk KIMI yaa. Karena meski terlihat banyak sekali anggota yang berhijab (dan banyaknya berkerudung lebar), KIMI sangat terbuka juga untuk kamu. Jadi tidak usah khawatir yaa.
Keanggotaan KIMI tidak berbatas domisili. Di manapun kamu, boleh banget gabung KIMI. Karena kegiatannya banyak dilakukan via grup WA. Selama siap berproses untuk kenalan ulang sama diri sendiri, yuk ah capcus!

3. Apa saja kegiatan KIMI?
Kegiatan KIMI biasanya dibuat sesuai kebutuhan para anggotanya. Ada 2 agenda yang sudah rutin diadakan setiap bulan, yaitu KIMI challenge, tantangan yang diberikan setiap bulan untuk mengasah dan menggosok proses pengenalan diri kita semua. Challenge ini berbeda setiap bulan dan setiap tahunnya. Selama proses challenge ini, akan dilakukan pembahasan dan sharing tentang topik-topik seputar pengenalan diri yang disadari saat mengerjakan challenge.
Ada lagi KIMI luncheon, yaitu acara offline rutin kurang lebih 3 bulan sekali yang terbuka untuk umum dengan mengangkat tema yang sedang hangat dan dibutuhkan para wanita, seputar emosi dan pengembangan diri.
Agenda baru di tahun 2019 nanti adalah MELIHAT, singkatan dari Melingkar Sambil Curhat. Acara offline rutin tiap bulan KHUSUS MEMBER, mewadahi curhat secara langsung, dalam rangka berbagi cerita, saling mengingatkan dan menguatkansekaligus jadi ajang silaturahmi sesama member KIMI. Sementara ini hanya diadakan di 2 kota saja, Bandung dan Jakarta.
Selain itu ada juga Kulwap dan Jumat Jualan yang dimoderasi oleh tim program KIMI sesuai kebutuhan anggota.

4. Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dengan bergabung dengan komunitas ini?
Setelah berjalan efektif sejak tahun 2016, KIMI adalah kumpulan wanita dari berbagai macam latar belakang dan kondisi hidup. Kamu bisa bertemu dan belajar dengan begitu banyak sudut pandang. Mengenal perspektif baru dalam hidup yang manatau menjadi salahsatu solusi masalahmu saat ini. You will find sisterhood of your soul! Insya Allah.

5. Apa yang membedakan KIMI dengan komunitas lain?

Meskipun diberikan judul IBUMUDA, KIMI justru tidak banyak membahas topik seputar seorang ibu, seperti pernikahan, kehamilan, melahirkan, atau pengurusan anak pada umumnya. KIMI khusus membahas tentang individu wanita itu sendiri, terlepas apapun statusnya. KIMI dibuat sangat eksklusif dan selektif karena pembahasannya cukup sensitif, seputar emosi dan trauma masa lalu. Bagaimana kita mengenal siapa diri kita dan mau kemana kita.

6. Apa syarat bergabung dengan KIMI?
Setelah membaca artikel ini, bagi yang berminat gabung, silakan mengisi database di bit.ly/databaseKIMI. Lalu konfirmasi ke nomer official KIMI di 0812 7474 3330 (WA only). Nanti teman-teman akan dimasukan ke dalam grup khusus calon anggota baru KIMI. Selama 3 bulan ke depan, kami akan menjelaskan dan mengenalkan lebih jelas dan dalam tentang KIMI itu sendiri, sekalian adaptasi dengan suasana grup WA KIMI. Tidak ada biaya. Cukup siapkan jiwa untuk menggali jati diri sendiri. Shedaappp.

Sekian informasi terkait open registration KIMI 2019. Info lebih banyak, teman-teman bisa kepoin dulu akun Instagram @ibumudaindonesia

Kalau cocok, mangga ditunggu konfirmasi pendaftarannya yaa. Ciao!

Advertisements

Jangan Lari Lagi

Malam tadi saya cukup stress. Ada pekerjaan koas yang saya tunda selama 2 minggu tidak dikerjakan, dan malam tadi saya memaksakan diri untuk memulai. Ayolah Chii, mau didiemin sampe kapan kerjaannya?

Bismillah, setelah ngumpulin mood 2 minggu. Ditemenin sambil nonton film musikal juga di laptop. Jadi lebih betah buat duduk di meja kerja.

Lalu tetiba rungsing mulai menyerang ketika sumbu alcohol torch nya kepanjangan dan pas ditarik malah mendelep masuk. Jadilah saya uyek-uyekan dulu benerin alcohol torch nya. Mulai deh dari situ agak bete.

Ditambah konsistensi wax dan gips putih nya yang kurang enak. Proses pengerjaan pun jadi mulai horror dan drama. Pada dasarnya saya itu anaknya gak sabaran dan clumsy parah, tapi suka pengen punya hasil yang sempurna, rapi tanpa cela. Hahahaha.. Kadang saking pengen sempurna, terlalu effort di perencanaan dan gak mulai-mulai buat eksekusinya. But I have to change. Kalau nungguin semua kondisi enak dan paripurna yaa gak akan selesai-selesai. Seorang ahli itu adalah dia yang bisa sampe garis finish dengan apapun hambatan yang harus dia hadapi. Jadi jangan berharap ga ada kendala atau kesusahan, itu mustahil namanya.

Belum rapi. Belum selesai. Tapi udah cantik buat difoto. Namanya Tanggul Gigitan.

Dan ini sebenarnya yang jadi elegi saya dalam menyelesaikan koas. Inginnya sempurna, selalu ingin menghindari konflik, menghindari gagal, gamau ribet, tapi gak sabaran dan suka menyepelekan. Penyakit banget kaaan πŸ˜‚πŸ˜­

Akhirnya jadi sering kabur, dan bikin-bikin alasan serta pembenaran. Sedikit-sedikit gak sadar udah mau 5 tahun saya kabur untuk gak deal with apapun yang ada di kehidupan koas. Ya ampuuuuun.

Ngerjain tanggul gigitan malam ini bikin saya flashback sama kelakuan-kelakuan gak banget yang bikin saya stuck dan gak kelar-kelar masa studinya. Yang ternyata merupakan refleksi sikap saya dalam menghadapi permasalahan hidup lainnya. Selalu ingin yang sempurna, tapi cenderung menghindari konflik dan kegagalan, seneng lari dari proses dan akhirnya menyepelekan. Innalillahi…. Mau sampe kapan hidup kayak gini?

Tadi malam pun pengennya nyerah aja. Gatau deh gimana pokoknya pengen berhenti. Nyesek banget ngerjainnya. Susaaaaaah. Tapi sih kalau dipikir-pikir, udah banyak juga kerjaan koas yang susahnya bikin ampe nangis but at the end saya bisa, dan itu semua lewat juga. Jadi yaudah sih Chii, kerjain aja. Jalanin aja. Enjoy the proses. Jangan lari lagi. Karena kemanapun kamu lari, apa yang seharusnya kamu selesaikan akan terus menghampiri.

Jam 23.30 saya japrian dengan rekan sejawat yang udah duluan lulusnya. Numpang curhat dan ngeluh hihihi. Teman tidak tau diri. Ngehubungin tengah malam buat bikin rusuh. Dulu, saya sama dia partner in crime banget kalau urusan ngerjain kerjaan lab kayak gini. Sama magernya, sama dodolnya, sama oonnya. Tapi dia udah bisa lewatin itu semua, gua mah beluuum 😭

Saya mengeluarkan semua keluhan dan apa-apa yang nyesek di dada selama ngerjain tanggul gigitan (step yang malam tadi saya kerjakan), sekalian minta pencerahan. Shali, dengan sabar nemenin saya dan ngasih beberapa masukan. Ada beberapa chat dari Shali yang bikin semangat sekaligus nusuk juga.

Ini spoiler curhatan tadi malam.

Orang di luaran sana memang udah jobdesk nya rajin dan sangat telaten nanya, Kapan lulus? Kok belum beres juga? Emang segitu susahnya dsb dsb dsb? Somehow, omongan orang yang kayak gitu dan sangat sering masuk telinga bikin kita ingin memangkas proses. Membuat mereka diam dan berhenti bertanya lagi. Tapi kan ngapain juga kebawa drama dan menyusahkan diri sendiri sama bagian tugas orang lain. Orang lain tugasnya bertanya dan komentar. Tugas kita menjalani sesuai track dan porsinya.

Kuakui. Hahaha kayak lirik lagu aje… Selama ini saya suka ribet sama omongan orang, bawaannya jadi mental korban. Bawaannya jadi ga fokus dan gak ENJOY sama proses. Gak menghargai dan memaknai perjalanan diri saya sendiri. Jadinya berasa kosong dan hampa. Jadinya pengen kabur aja bawaannya. Karena saya sendiri yang bikin suasananya ga betah. Bukan untuk dirisaya, tapi untuk bikin orang diam, atau bangga. Capek ternyata.

Huffff ini bahasan jadi kemana-mana yaaah hahaha. Monmaap. 10 tahun cuyyyy. 10 tahun saya masih stuck di kampus ini. It must be A LOT of lesson that I learned. Terutama tentang hidup dan pengenalan diri saya sendiri. Harus ada yang bisa saya ambil hikmahnya. Karena buat mahasiswa angkatan bubuk macam saya mah, udah masuk jurusan ambil hikmahnya.

So, apa hikmahnya Chii?

Hidup itu meminta kita BERPROSES. Tidak akan ada hal sempurna atau paripurna atau istimewa atau membahana tanpa sebuah kendala, drama, dan kegagalan. Gausah repot-repot menghindari konflik, karena itu sudah jadi bagian dari cerita yang harus kita jalani. Karena dari konflik itulah kita akan belajar teguh dan juga tangguh. Terakhir, belajar dari curhatnya Shali yang ini…

Jangan pernah MENYEPELEKAN proses. Live the life. Hadapi yang harus dijalani saat ini. Karena semua kabur-kaburan itu selalu diikuti konsekuensi. Awareness itu penting. Paham dengan situasi dan bisa enjoy menjalani. Biar gak ada lagi unfinished business yang menghantui.

Dalam hal apapun dalam hidup.

Semoga curcol pagi ini bisa bermangpaat yaah. Selamat melanjutkan hidup.

Have a GOOD Monday yah. Kasih madu dulu pagi-pagi biar hidup jadi manis! πŸ™‚

Kedewasaan Berpikir

Ampuun. Kenapa judulnya selalu serius-serius amat sih haha. Untuk judul yang satu ini mah salahkan saja Kang Indra. Doi yang nyeletuk tentang kedewasaan berpikir. Topik sarapan kami pagi ini. Di tengah manis kopi dan hangatnya roti bakar.

Pagi ini kami membahas perbedaan dan prioritas kami yang kembali bentrok. Sesuatu yang sangat wajar terjadi dalam kehidupan rumah tangga pada umunya. Alhamdulillah pagi ini bisa ngobrol enak gapake tandukan untuk menyamakan keinginan. Fiuh..

Be, aku pernah baca dimana yaa lupa.. Intinya sih pasangan yang udah lama menikah itu harus dewasa dalam berpikir…

Maksudnya, A? Tanya saya agak kurang paham…

Iyaa.. contoh nih kalau kita lagi jalan-jalan. Mau nonton. Kamu pengennya makan Mekdi, aku pengennya makan Kaefci. Yaudah makan aja masing-masing dulu. Nanti ketemuan di bioskop. Atau sebaliknya, misal makannya yang barengan di Pitsahat, nontonnya masing-masing karena kepengennya beda. Ada saatnya harus barengan, ada saatnya memilih dan menjalani apa yang diinginkan oleh masing-masing pihak.

Hmmmmm… *sebuah gumaman agak gak nerima sebenernya HAHAHAHA maapkan aku Ay.

Menurut aku sih, perbedaan itu harus diterima dan dihadapi. Dibuat sama-sama enak dan saling menghargai. Karena kita gak bisa sepenuhnya memaksakan atau menyamaratakan sesuatu keinginan. Itu yang namanya dewasa dalam berpikir. Gitu, Be..

Tetep sih agak loading menerimanya. Dan sedikit suudzon sama dia karena takut ini akal-akalan dia aja biar gak nge iya-in maunya saya hahahaha. But well, yang diomongin ada benernya sih. Kita dikelilingi oleh perbedaan. Kanan kiri atas bawah. Gausah dulu keluar rumah, di dalam rumah aja kita akan selalu bentrok sama hal yang beda, sama suami terutama. Itulah kenapa kita sama sekali tidak bisa menghindar dari perbedaan. Yang kita butuhkan adalah kedewasaan dalam berpikir. Menjalani apa yang menurut kita benar, dan menghargai apa-apa saja yang berbeda.

Tentu saja prakteknya akan selalu tidak mudah.

Haaaa yang jelas, relationship goal kami sih satu, bisa adem ngobrolin perbedaan. Tetap saling dukung, support, dan paham keinginan satu sama lain. Dikomunikasikan dengan baik. Jangan apa-apa pake tanduk. Tidak ada ruang bagi ego untuk sebuah cinta. Hahahaha KAMANA ATUH GAYA :)))

Terima kasih atas obrolan paginya yaaa Aa nya Bb. Selamat pitness hari ini. Semoga kita bisa kurus kayak gini lagi!!!

DSC00391

Semua Gimana Bunda

Ternyata orang yang paling banyak komplen adalah orang yang sebenarnya bisa mengubah keadaan. Setidaknya itu yang terjadi di rumah saya. Kalau diadakan rapat meja makan dan dikumpulkan aspirasi dan keluhan, saya adalah orang yang paling banyak protes dan banyak maunya. Padahal ada anak kecil yang usianya jauh di bawah saya, seusia Kanin (lah emang Kanin hahaha).

Ayahnya cuma ingin rumah nyaman dan terlayani dengan baik. Kanin cuma ingin diijinkan berantakin rumah dan dibolehin nonton Tayo dan My Little Pony.

Gue? Pengen bisa sering-sering ke kafe kopi, pengen nge make over rumah, bisa belanja buku tiap hari, keliling Indonesia dan dunia, pengen punya event tiap weekend, pengen beli kulkas baru, beli freezer, microwave, baju baru, emm apalagi yaaa. Banyak pokoknya. Dikasih diem di mall 1 jam aja kayaknya saya bisa habisin duit 10 juta hahahahahahaha wanita berbahaya.

Salahkah saya punya banyak maunya? Emmm.. Relatif sih. Kalau memang butuh ya udah. Tapi kalau hanya nafsu, yaaa ke laut aja lo… (Ga kebayang gue kalau semua hal “sampah” ditumpuk di laut. Kasian juga yaa ekosistem di sana. Bahahaha).

Mungkin karena wanita memang diciptakan senang pada sesuatu yang bersifat kebendaan. (Mungkin yaa mungkin lhooo. Kalau bener yaudah kita tosss ajah haha.) Jadi memang terkesan serakah dan gak ada ujungnya. Gak ada puasnya. 

But well… Tapi kalau emang udah rezekinya, saya yakin sih. Wahai wanita, kita bisa dapat apa yang kita mau. Apalagi itu memang perlu. Hanya saja kita lebih sibuk komplen daripada doeng… eh, doing maksudnya. 

Kita protes kenapa suami gue kek gini sih. Ga peka dan perhatian. Ga sayang dan gapernah bisa paham. Kenapa sih anak gue rewel mamat dan susah dikasih taunya. Huffff…

Sampe akhirnya saya sadar dan saya harus berhenti komplen. Merapat ke kaca kamar dan lihat, emang lo udah ngapain aja sih cuy??? Semangat amat komplennya kayak mau merebut kemerdekaan Republik Indonesia?!?!

Saya berhenti komplen dan fokus benerin diri saya sendiri. Sesakit apapun. Bukan untuk suami, anak, atau dunia. Tapi untuk diri saya sendiri.

And voilaaa! Selalu saja ada keajaiban dari sebuah perjuangan benerin diri sendiri. And yes, semua gimana bunda nya. Kalau Bunda nya disiplin, telaten, dan waras… minimal kondisi rumah aman dan terkendali. Suami nyaman dan transferan pun lancar untuk melakukan banyak hal hihihihi. Anak juga gak cranky nyebelin dan lebih mudah diatur.

Semua gimana bunda nya. Setidaknya itu yang terjadi di rumah saya. 

Dan hari ini senang sekali karena bisa membuktikan sekali lagi, kalau saya disiplin, rundown pagi dimulai dengan sangat apik. Bisa lama-lama ngobrol di meja makan sambil nge-teh bareng sebelum Ayah berangkat kerja πŸ™‚

Gak ada yang misah misuh, teriak-teriak atau nangis-nangis bikin pusing dan bikin mood seharian gajelas wujudnya.

Semua gimana Bunda. Penting banget buat Bunda agar tetap waras dan tenang. Setidaknya itu yang terjadi di rumah saya.

Sekian.

Happy MONDAY para Bunda… Jadilah waras agar hidup lebih nyaman dan bahagia!

Anak atau Piala

Dulu waktu awal lahiran, saya sering banget buka internet untuk cari-cari info mengenai bagaimana cara membesarkan anak. Hal receh sih, seperti tentang ruam pada pantat bayi, bagaimana kalau bayi tersedak dan kejadian-kejadian kecil yang mungkin akan saya alami ketika membesarkan bayi di satu tahun usia pertama nya.

Anak pertama pula yekaaan. 

Berlanjut bukain forum-forum para mama, lanjut ku kepoin IG para selebgram mama-mama yang apik dan konsisten menjelaskan kegiatan anaknya sehari-hari. Apa hasil yang didapatkan? Saya berhasil iri tanpa mengerjakan pekerjaan yang sama dan jadinya stress sendiri.

Saya terjebak pada pencapaian dengan motif, duh anak gue juga bisa dong kayak gitu…

Belum lagi dengan segala opini bagaimana cara membesarkan dan mendidik anak yang berbeda-beda gayanya. Ngeliat anak orang lain kok yaa keren banget. Kok anak gue ga sekeren itu sih hiks..  (Padahal lupa ngaca emaknya juga emang udah kalah keren sama emak yang itu, boom!)

Stress banget ternyata jadi follower emak-emak kece yang terlihat berhasil dan sangat happy maen sama anaknya. Kok gue engga yaaa. Kok gue stress dan cenderung menghindar yaa sama anak sendiri.

Alih-alih buat nyari inspirasi, kegiatan berselancar di sosial media malah jadi blaming ke diri sendiri. Deim, kayaknya gue bukan ibu yang baik. Terus aja kayak gitu tanpa membuat pergerakan berarti. 

Alih-alih pengen nyari ilmu buat membesarkan anak, saya malah jadi terjebak untuk pamer tanpa makna pengen ngeliatin, INI LHO ANAK SAYAAA.. Jago makannya, pinter mainnya, lucu mukanya, gemesin tingkah polahnya, dsb dsb dsb. 

Sampe akhirnya ngerasa hampa sendiri dan rungsing sendiri. My life is actually HAMPA. Cuma pamerin 5% dari hidup yang keliatannya bagus, sisanya zonk.

Gausahlah sosial media. Dari ketemuan sesama para ibu aja, kadang kita suka ga sadar untuk saling berkompetisi. Sebenernya ibu nya sih yang berkompetisi, tapi bawa-bawa anak. Pake anak buat menunjukkan kehebatannya. Really??? Hebat atau emang insecure parah, Buk?

Gak semua ibu jadiin anaknya piala. Cuma saya akui, saya pernah ada di dalam kubangan yang seperti itu. Anak dijadikan sebagai trophy keberhasilan ego kita sendiri. Padahal sejatinya setiap anak itu unik, pintar, dan cerdas dengan gaya nya sendiri.

Dunia ibu itu seru seru nyeremin sih. Hahahaha… Seru karena emang gak pernah hilang dari topik baru dan bikin excite. Tapi aroma kompetisinya kenceng bok. Aroma inscure dan penuh pembuktiannya kadang bikin lelah. Somehow kalau kita gak waras, bisa malah bikin drama ga penting.  

Sebagai ibu kita tentu sangat patut berbangga dengan semua pencapaian yang anak punya. Pasti akan sangat gatel buat nyeritain anak sendiri. Tapi kan ya gausah lah dipamerin terus. Tapi kan ya gausah lah dicertain terus. Bisa jadi kita nya puas ngelampiasin excite, tapi yang denger atau lihat merasa tertekan dan mendadak rungsing karena denger cerita kita. Lagian apa sih yang dicari dengan terus-terusan pamerin anak sendiri?

Beda kok rasanya dengerin Ibu yang punya niat sharing dengan tulus, sama Ibu yang harot banget pamerin anak bikin hati yang denger ga nyaman 😦

Pencarian Jati Diri

Beuh.

Judulnya berat cuuyy. Mas Jati kamu kemana, banyak orang yang nyariin. Termasuk sayah. 

Berbicara tentang pencarian jati diri, ini adalah perbincangan yang gak pernah ada ujungnya. Perbincangan yang selalu seru untuk dibahas. Bagi saya terutama. 

Ternyata tidak ada patok usia bagi seseorang bisa bertemu dengan jati dirinya. Setiap individu punya waktunya masing-masing untuk ketemu Bang Jati. Sempat saya berpikir bahwa pada usia 20an awal saya akan bertemu dan mengenal siapa saya. Ternyata tidak semudah itu shay. Usia saya saat ini sudah menginjak 28 tahun. Penghujung usia 20an yang bikin deg-degan. Bisa dibilang, baru di usia ini saya tau apa yang saya mau. Saya yakin dengan apa yang saya jalanin.

Telat? Relatif. Telat menurut siapa dulu…

Mungkin bagi yang sudah menemukan jalan hidupnya di usia 17 tahun, apa yang saya capai saat ini bisa dibilang telat. Tapi jangan salah, banyak di antara kita bahkan usianya sudah mau kepala 4 pun masih oleng dengan kapal yang sudah ia rakit selama ini.

Pencarian jati diri.

Itu memang proses yang berat cuuyy. Apalagi di masa millenial saat ini. Di mana sosial media menambah rusuh kancah pencarian jati diri. Banyak orang terjebak pada hidup orang lain. Berhalusinasi. Berharap dan membayangkan hidupnya seperti yang ia nikmati di layar HP nya. And you know what, itu rasanya gak enak mennn. Being HALU is menyakitkan. Melelahkan. Will bring you going nowhere….

Lalu, apa sih sebenarnya pencarian jati diri itu ?

Ini mah definisi menurut saya yah. Pencarian jati diri itu adalah proses kita mengenal siapa kita dan mau apa kita. Proses menyakitkan karena kita harus menerima diri kita apa adanya dengan segala apapun yang telah membentuk kita. Pola asuh orang tua dan juga peran lingkungan serta pengalaman yang berkontribusi nyata menjadikan diri kita begini adanya.

Kita paham apa kelemahan kita dan apa potensi kita. Gak insecure sama orang lain. Karena kita percaya bahwa kita unik dan sangat berbeda satu dan yang lainnya. Kita membawa pesan lewat passion yang khas untuk menjadi khalifah Allah di dunia yang fana ini. Kanmaeeeen bahasanya yekaan….

Kita tau kita siapa. Kita tau mau dan tujuan kita apa. Niscaya kita agak irit baper dan hemat galau menghadapi dunia nyata. Jamaaaah oohh jamaaaah.

Pernah denger gak quotes yang bilang, do your passion and money will follow. Bahwasanya ketika kita tau apa yang kita suka, apa yang kita cinta, apa yang kita enjoy ngerjainnya no matter what happen, no matter what people say…. Kita akan lebih mudah menggenggam dunia. Gituh. Jamaah ohhhh jamaaah…

Cuma memang proses nemuin jati diri ini PR banget. Ga semua bisa telaten sampai nemu hak paten atas dirinya sendiri. Butuh drama india dan telenovela untuk akhirnya menemukan, SIAPA SIH SAYA. MAU APA SIH SAYA??

Beruntung saya punya komunitas yang concern banget bahas yang namanya pencarian jati diri. Komunitas ini buka pendaftaran membernya pun setahun sekali, untuk memastikan setiap anggotanya matang berproses untuk kenal dirinya sendiri. Saya namai komunitas ini KIMI. Komunitas IBUMUDA Indonesia. Eits, jangan terkecoh dengan kata ibumuda yang ada di dalamnya. Karena itu adalah sebuah kiasan sebuah semangat jiwa muda untuk terus menggali potensi dan inspirasi untuk bertahan dan bersinar di dunia.

Dan terbukti, pencarian jati diri pun memang tidak mengenal usia, latar belakang atau status saat ini. Kita semua, apapun kondisinya, akan selalu mencari daratan terbaik untuk napak dan sadar… kita ini siapa dan kemana semua doa dan harap akan dibawa dan diperjuangkan.

Sabtu ini tanggal 9 Desember 2017 insya Allah KIMI bakal kopi daratan di JAKARTA, yeaaay. Acara ini terbuka untuk umum. Jadi bagi siapa saja yang gak sengaja baca tulisan ini dan berminat ikut nimbrung dan seru-seruan bareng KIMI, boleh banget daftar dan join ketemuan.

Kamu bisa kontak Fely di 0812 8376 7467. Kuota peserta terbatas, jadi jangan kebanyakan mikir cuss aja langsung daftar πŸ™‚

Percayalah…. Siapapun kita, gak akan pernah bosan untuk semakin kenal dengan siapa diri kita yang sebenarnya. Goodluck!


Feel Secure

Sebagai wanita yang ogah dibilang istri rese sama suaminya, karena keterlaluan bawel dan interogratif, jadi saya harus pinter-pinter cari kegiatan ketika menunggu suami pulang. Ini jam 10.44 malam dan pangeran tamvan belum terdengar juga suara motornya. Tadi sih udah nelp ngabarin otw pulang dan mau cari makan dulu. Jadi yaudah tinggal ditunggu sambil doa biar selamat.

Setelah kenyang ngelenong di grup WA KIMI, dan khatam baca bukunya Neneng Gita Savitri, saya jadi kepikiran membahas satu hal penting dalam hidup. Hasikk.

Yaitu… Feel Secure. Atau kalau dibahasaindonesiakan mah MERASA AMAN.

Merasa aman dengan diri sendiri. Gak gampang galau, nyolot, atau baperan.

Kalau bahas topik ini 7 tahun yang lalu mah, agak gak pede lah saya mah. Justru kadar insecure nya di atas batas normal banget hahaha. Dicolek dikit aja bisa langsung ganas gak jelas, atau mewek gak karuan. Hahahaha sangat alay lah pokoknya mah. Terus, emang sekarang udah secure gituh? Udah okeh gitu yey?? Yaaa gak banget-banget sih. Masih suka baperan dan suka ambil pusing sama hal yang ga penting. Tapi alhamdulillah kalau dibandingkan sama saya 7 tahun yang lalu… udah ada progress. Bahwasanya ketika kita sudah benar-benar kenal dengan diri kita dan apa yang akan kita kejar, kita akan lebih feel secure. Bakal BOAM alias bodo amat sama omongan orang. Karena well…. kalau ngikutin omongan orang mah gak akan ada wujudnya. Dan apapun ujian yang kudu dihadapin, kita akan tetap tegar kayak judul lagunya Rossa untuk tetap setia kayak judul lagunya Jikustik pada tujuan yang akan kita kejar.

Feel secure di sini pun artinya bisa berarti kondisi dimana kita lebih paham apa itu arti ikhlas, sabar, dan bersyukur. Dan yang jelas 3 kata sakti itu gak akan khatam dimengerti hanya dengan sering membaca buku, hadir dalam seminar atau kajian, atau ikut worksop ini itu. Tiga kata sakti itu sejatinya (((ciee sejatinya))) didapat dari bagaimana kita sadar dengan badai hidup yang harus dihadapi dan berhasil paham akan manfaatnya untuk kehidupan di masa yang akan datang.

Ini juga yang saya tangkap dari tulisan-tulisannya @gitasav di bukunya yang berjudul Rentang Kisah. Peristiwa hidup dan kondisi yang akan mendewasakan kita kalau kita nya mau belajar dan aware. Mau berbenah dengan sepenuh hati. Mau mengakui kekurangan diri sendiri. Karena apalah sebuah perubahan hidup kalau tidak dimulai dengan mengakui apa-apa aja yang salah dalam diri.

Wedewwww kok bahasannya berat amat sih. Mungkin udah mau tengah malam hahaha apa hubungannyaaaa Mbak?

Yaudah deh gitu aja dulu… Suamiku sudah pulaaang. Sudah sampai di rumah. Mari kita mariiiii :))