Jangan Mau Nikah Muda : sebuah pengakuan

Pernikahan? Siapa yang mau nikah acungkan tangannya katakan SAYA !

Nikah muda? Nikah muda? Siapa yang kepengen nikah muda, acungkan tangannya katakan SAYA !

Tjieeee aku nya udah cocok banget jadi motivator dalam bidang pernikahan gini. Hahaha PRET AH 😀

9 tahun yang lalu, saya masih ingat sekali di mana saya menempel FOTO PERNIKAHAN di halaman awal buku impian saya. Dari SMA udah ngebet pengen nikah anaknya, ampuuun. Makin gede makin ngebet, hingga akhirnya sama Allah dikasih jalan dan lancar. Tahun 2010 dipertemukan dengan jodoh dan dapat momen ijab-sah, mendahului momen dapat ijazah hehehe.

Tahun pertama di awal bulan, happy banget. Euphoria anak muda yang baru dapat mainan baru yang udah lamaaaa banget diidam-idamkan. 6 bulan berikutnya, eh kok gini yaaa.. Tahun berikutnya, aduh kok jadi gini siihhh… Tahun berikutnya lagi, wuaaakss harus gue apain ini.. Tahun berikutnya lagi, ampuuun juragan.. minta bantuaaan hahaha..

Pernikahan adalah hal yang lebih complicated daripada denah perumahan Margahayu dan Pharmindo. Rumit banget. Awalnya gak nyadar, malah sibuk pencitraan dan cari pengakuan. Hai-saya-Asri.. Menikah di usia 21 tahun dan saya sangat bahagia serta bangga karena sudah menikah muda. Ayo dong, kamu juga nikah muda biar seru. Kurang lebih begitu kelakuan saya beberapa tahun yang lalu. Aktif banget koar-koar tentang pernikahan macam ngerti banget dan fasih banget menjalani kehidupan pernikahan. Padahal mah heeey anak kemarin sore. Kagak ngerti ape-ape gueee. Saya sibuk dan asik menutup ketidaksempurnaan dan busuk yang saya punya dengan memberikan tips bagaimana menikah muda dan bagaimana menjalani kehidupan berumah tangga. Duh, aib sih itu sebenernya haha. Malu-malu geli gimana gitu…

Jumlah follower akun sosial media saya beranjak naik dan terus bertambah. Mereka muji-muji saya dan kenyang lah ego saya akan perhatian, pengakuan, dan pujian manusia. Tapi behind the scene nya sih ancur-ancuran. Selayaknya pernikahan manusia normal yang penuh deru debu dan noktah noda.

Saya terjebak dengan ilusi dan ambruk sendiri melihat realita yang ada.

Tidak ada hal bombastis sih dalam pernikahan saya. Tidak carut-marut amat, tapi yaaa gak juga seedan keren amat selayaknya orang-orang di luaran sana berprasangka. Saya, manusia, normal, dan sama keringetan darahnya mengenali cinta dalam pernikahan, sama kayak jutaan orang di luar sana.

Saya sempat terjebak sibuk merapihkan bungkus tanpa lihat di dalamnya ada apa.

Itu saya. Dulu.

Dari kelakuan saya yang aktif dan concern bahas pernikahan, terutama pernikahan muda, tidak sedikit orang yang malah makin ngebet untuk nikah dan curhat-curhat colongan tentang pernikahan lewat jalur pribadi. Makin banyak yang pengen, makin ditunjukkan lah saya dengan berbagai kejadian bahwa HALOOO ACHIIII… Pernikahan itu gak se-simple yang lo koar-koarin loh yaaa. Akhirnya saya ciut dan berhenti. Saya diam dan saya menoleh ke dalam pernikahan saya sendiri. Ampun deh, rujit 😀

Saya pun mengulur tali yang kusut, awal mula darimana semua kepabeulitan ini terjadi. Well, semua berawal dari tujuan dan motif saya menikah. Saya sadari saat itu dan saat ini saya akui bahwa kemarin saya menikah hanya untuk berlari. Lari dari begitu banyaknya hal yang membuat saya merasa sakit hati dan benci. Saya pikir bahwa pernikahan bisa menjadi obat dan penawar racun. Happily ever after.

Hoho… ya mana bisa. Racun yang saya sudah konsumsi bertahun-tahun bukan dengan pernikahan obatnya, tapi dengan mengakui, menerima, dan dibiarkan keluar dari peredaran metabolisme tubuh. Bukan dengan berbagi racun dengan orang yang baru saya kenal dan sekarang menjadi suami saya, imam saya, dan bapak dari anak saya.

Aduh gimana sih chii ini maksudnya? Kok  agak gak ngerti maksudnya gimana..

Hahaha maap, emang ribet sih ini. Saya agak bingung juga nyeritainnya. Tapi saya bener-bener ingin menyampaikan bahwa PERNIKAHAN is a BIG THING.. bener-bener BIG THING banget banget banget. Jadi yaa kalau emang belum waktunya, gak usah heboh dan galau nanya kapan jodoh saya datang, kapan saya halal, atau jatohnya malah berlarut dalam iri liat kehidupan percintaan tetangga sebelah yang lebih pinky warnanya. No.. marriage is a BIG THING ! Perjalanan dan hidup baru yang berbentuk anak tangga-anak tangga menuju Tuhan.

Love is a BIG THING!

Saya punya issue besar dengan diri saya sendiri, cukup banyak. Saya tidak sadar dan saya berlari dan berharap dengan menikah, sesuatu yang kosong itu akan terisi. Tapi saya salah besar. Pernikahan justru menyodorkan dan menyimpan tanggung jawab yang lebih besar lagi. Pondasi hati belum kuat-kuat amat, ini malah megang beban berat. Yaa gitu deh.

Ekspektasi. Harapan. Daaaan segala macam peluru emosi akhirnya meledak di tengah asiknya hidup berumah tangga. Saya mencari dari mana semua peluru ekspektasi dan harapan ini hadir. Harus saya buang dan bereskan agar tidak ada lagi ledakan yang mengganggu.

Butuh proses yang tidak sebentar sampai akhirnya, saya pribadi AWARE dengan diri saya sendiri. Merasakan dan mengakui apa-apa yang kurang dari saya dan tidak melampiaskan semua itu dalam dunia pernikahan. Berbagai kegiatan dan buku dijabanin. Sampai akhirnya ketemu buku Emotional Healing Therapy nya teh Irma Rahayu. Dari sana semua misteri hidup mulai terkuak perlahan. Dari mana semua kegalauan yang gak ada ujungnya ini berasal. Baca deh bukunya, seru bikin pengen nimpuk diri sendiri hahaha..

Sekarag saya memang sedang mengikuti program life coaching yang dibimbing langsung oleh teh Irma Rahayu, di postingan berikutnya akan saya jelaskan apa itu Life Coaching dan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk ikut kelasnya.

Balik lagi ke pernikahan, jadi setelah jujur sama diri sendiri dan sekuat hati mengendalikan ego sendiri. Saya mengubah motif menikah saya. Menikah adalah fase hidup yang SUPER SERIUS. Jelas bukan tempat yang tepat untuk pelarian 😦 Pelarian dari apapun yang kita sempat sakit dan jatuh sebelumnya.

Pernikahan adalah tempat belajar selanjutnya dengan metode berkelompok bersama pasangan dan anak-anak yang hadir di dalamnya. Tempat belajar yang akan menempa kita untuk lebih tangguh dan semakin dewasa dari yang sebelumnya.

Haaah beruntung banget dapat pasangan yang luaaaar biasaaaa sabarnyaaa. Luaaaar biasa pengertian dan dewasanya. Dia tetap setia meski perasaan dan akal sehat saya berantakan gak jelas bentuknya kayak apa hahahaha..

Ini adalah cuplikan dari obrolan saya dan suami beberapa malam kemarin ketika sedang membahas pernikahan dan mem-breakdown perjalanan pernikahan kami, yang masih lebih banyak drama nya daripada pencapaiannya hihihihihi..

A: Jadi Be, sekarang tujuan kamu menikah itu apa?

B: Emmmm. Untuk belajar. Iyaa, untuk belajar.

A: Sama Be. Kalau belajar boleh salah kan?

B: Boleh..

A: Iya boleh, yang penting terus belajar biar gak salah terus dan bisa naik kelas. Mau kan naik kelas bareng Aa?

B: Ah kamuuu *nutup muka*

A: Udah jangan kelamaan duduk di bangku SD. Boleh kamu main ke SD, tapi cuma untuk main aja Be. Jangan betah-betah amat jadi anak SD ahh..

Saya yang biasanya gak terima ‘dihina’ begitu sama suami cuma bisa senyum dan meneteskan air mata. Saya tau maksud dia itu apa dan saya sadar banget ke-anak SD-an saya itu kayak apa.

Well. Bismillah ya A. Gak akan ada lagi anak yang gak lulus-lulus SD ini. Cuma ada mahasiswa yang gak lulus-lulus koas aja hahahaha..

Selamat nongrong sore fellasss! Semoga sedikit pengakuan dan curhat dari seorang (yang dulunya) motikampret #NikahMuda ini memberikan sedikit pencerahan tentang pernikahan. You don’t have to be hurry. Siapin diri bener-bener. Siapin jiwa raga mental rasa untuk kehidupan penuh wahana memacu adrenalin ini!! Semoga dilancarkan segala urusan. Thanks for reading yaaaa. Kismwah :*

ibumuda yang tetap bersemangat,

Asri Fitriasari

 

 

One thought on “Jangan Mau Nikah Muda : sebuah pengakuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s