Gampang Terprovokasi

Rame banget dua hari ini membahas sosok salah satu mentri kontroversial yang baru ditunjuk oleh Sang Presiden, siapa lagi kalau bukan Bu Susi. Saking ramenya saya juga jadi gatel pengen komentar. Nope, bukan komentar nyinyir tidak bertanggung jawab. Agak sedih sekaligus kesel sih ngeliat masyarakat yang semakin terbagi dua kubu. Haduuuh, ada apa sih ini brosis…

Buat saya, yang namanya menilai orang itu gak ada di ajaran Islam. Rasul ngajarin umatnya untuk selalu berprasangka baik. Bukan kapasitas kita sebagai manusia untuk menentukan orang ini baik, orang ini buruk. Dua hal yang berbeda antara menegakkan kebaikan dan menilai orang. Kalau yang saya liat sih, kebanyakan mereka yang nyinyirin Bu Susi itu sibuk menilai Bu Susi secara lahiriah, dimana kita kan gatau aslinya kayak apa. Apalagi kubu yang membela Bu Susi dengan sengit pula mengungkapkan data prestasi yang sudah dicapai dan dilakukan oleh beliau. Itu yang nyinyir mau ngomong apa lagi?

Iyasih saya tau kalau Bu Susi itu merokok dan pake tato. Eh emang bener yah doi bertato? Atau cuma rame-rame di media aja?? Terlepas doi melakukan dosa A, B, C, D, E, F, G. Bukan tugas kita yang dengan REAKTIFnya nyinyir si Ibu. Harusnya kita ngaca aja sama diri sendiri, kenapa yaa negri kita udah semakin permisif dengan hal-hal yang dulunya tabu sekarang sudah semakin dimaklumi dan malah dipuja-puji, YANG PENTING ORANGNYA BAIK dan GAK KORUPSI. Begitu kan?

Lantas dibandingkan dengan Bu Atut, gubernur Banten dengan tampilan berkerudungnya. Tuh mending Bu Susi, mending ga pake kerudung tapi gak nyuri uang rakyat. Please, buat saya itu dua hal yang berbeda. Dua kewajiban yang berbeda. Yang satu kewajiban memakai hijab, yang satu kewajiban jujur dalam mencari nafkah. Buat saya, Bu Atut juga punya nilai plus tersendiri, terlepas dia korupsi atau engga. Sekali lagi, tugas kita bukan menghakimi orang secara tidak bertanggung jawab.Yang penting komentar deh, si ini salah si itu bener.

Negara ini buat saya udah semakin abu-abu, udah semakin serem untuk diamati. Orang udah lupa dan gak mau tau sama apa yang Allah suruh, padahal ini bangsa adalah umat muslim terbesar di dunia. Tapi nurut dan nyontoh ajaran Rasulnya udah gak karuan. Jadi wajar makin banyak kejahatan dan adu mulut sesama saudara. Patokannya opini pribadi sih, bukan apa yang tertulis di kitab yang harusnya jadi pedoman umat Islam terbesar ini.

Berhenti merasa benar. Berhenti merasa suci dan ngolok-ngolok orang lain. Kita semua sama-sama berenang di kolam berlumpur. Mau sampai kapan ‘berperang’ dalam hal yang udah jelas tuntunannya dalam Qur’an. Kita semua muslim kan? Kita sama-sama dicontohkan cerdas dan santun dalam mengingatkan ummat kan? Kita sama-sama diamanati Rasul untuk merujuk Qur’an dan Sunnah kan? Kita itu muslim kan? Iya kan? Atau cuma muslim karena lahir dari keluarga muslim?

Nah itu sih, kita itu muslim tapi ALERGI dan GAK MAU BELAJAR tentang ilmu islam. Gak mau belajar tentang akhlak Islam yang manisnya luar biasa. Gimana Rasul dengan ketenanganan dan segala keteladanannya mampu berdakwah ke seluruh penjuru dunia. Kalau umat Islam nya gak mau belajar, yang ada DISETIR sama ummat lain. Kuantitas banyak tapi kualitasnya nol.

Masalah yang cemen kayak gini mah mudah dalam Islam.. Dituntun bukan dituntut.. Diingatkan, bukan dihina dan dinyinyirin. So, please kalau kamu emang muslim… Jadilah muslim yang CERDAS dan KALEM.

Please banget ini mah.. Jangan jadi muslim kampungan.. Pendidikan tinggi gak jamin, selama kita masih suka ngehina orang.. di sosial media pulak. Duh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s