Thankyou, Haters.

Tadi pagi pukul 1 saya terbangun, nyari suami yang pindah tidurnya karena gak mau ganggu saya yang lagi mimi-in Kanin. Kebiasaan emang kalau mimi-in Kanin suka ketiduran, hehe. Saya cek BBM dan ada pesan yang masuk.

“Teh, masih bangun ga?”

“Iyaa kenapa say?”

“Mau nanya dong teh… Gimana sih cara mengelola hati menghadapi haters?”

Nah ini dia. Haters. Orang yang kurang suka alias kontra sama apa yang kita lakukan. Gimana sih cara menghadapinya?

Sejak saya sering sharing via twitter, follower tiap hari ada aja yang nambah. Alhamdulillah banyak yang suka tulisan saya, dan ada yang sebel juga. Bukti nyata nya sih dengan berkurangnya follower yang udah lama follow. Mungkin mulai ngerasa risih sama nasihat yang saya share-kan. Sedih, perih, dan galau pastinya, apalagi kalau yang nge unfollow itu orang yang kita kenal, temen kita sendiri. Tapi yaa selama yang gak suka jauh lebih sedikit daripada yang suka, saya sih cuek aja. Belajar cuek sih lebih tepatnya.

Saya menulis bukan untuk dianggap gimana-gimana sama orang lain, suka alhamdulillah.. gakjuga gak apa-apa. Menulis adalah hobi saya. Menulis adalah cara untuk saya menasihati diri sendiri. Lalu kenapa harus media sosial? yaaa kalau ada manfaatnya untuk orang lain kan jadi ada tabungan amal buat saya nya juga. Lumayan. Lagian saya bukan tipe orang misterius yang lebih senang menyimpan apa yang dirasakan dan dipikirkan. Inilah saya. Seneng cerita 🙂

Waktu itu pernah ketika saya lagi semangat-semangatnya banget nulis. Pagi-pagi abis denger tausyiah Ust Yusuf Mansur, ada pesan yang masuk bilang saya “preachy”. Orang itu tentu teman dekat yang punya kontak saya. Ugh, rasanya hati kayak dipukul-pukul sama palu segede monas. Sakit banget nget nget nget.. Yaahhh gimana engga, pas lagi happy dan seneng nebarin aura positif, tiba-tiba ditiup kata negatif. Cukup goyah dan saya refleks nangis..

Tapi dari situ saya sadar kalau apa yang saya lakukan memang jangan ditujukan untuk puji manusia. Allah menanyakan kesungguhan dan keikhlasan hati dalam berbagi lewat caci dan maki orang yang belum mengerti. Nikmatnya dzikir adalah ketika hati kita terasa perih karena kecewa, lalu kita tetap berbuat hanya untuk Allah saja. Laa ila ha ilallah. Tiada Tuhan selain Allah. Puji manusia bukan Tuhan kita, bukan itu yang harus dianggap penting.

Mengelola hati untuk menghadapi haters itu emang gak mudah. Butuh proses yang sangat panjang. Apalagi seiring dengan semakin kita dikenal banyak orang, variasi respon dari apa yang kita sampaikan akan sangat beragam. Selama apa yang kita lakukan gak melanggar quran, sunnah, dan aturan negara.. JANGAN PERNAH TAKUT dan BERHENTI hanya karena caci maki.

Manusia punya keterbatasan dalam mengerti, mereka hanya belum tau niat baik apa yang sebenarnya kita sampaikan. Manusia punya keterbatasan paham untuk menghargai cara apa yang sedang kita lakukan.

Saya percaya kalau pada dasarnya manusia punya niat baik, bersih dan suci dalam hatinya, cuma gak saling klop aja. Setiap orang punya beribu cara untuk mengimplementasikan niat baiknya. Dan orang yang keki sama kita, mereka hanya butuh WAKTU untuk mengerti. Jadi kalau ada yang nyinyir sama saya sih sekarang udah mulai cuek. Saya gak akan berhenti berbuat baik, hingga mereka diam dan akhirnya mengakui bahwa apa yang saya pilih dan lakukan ada pada jalan yang benar.. JIkapun di dunia mereka gak bisa diam dengan nyinyirannya, biar di akhirat saja mereka diamnya ^^

Emang sih agak emosi kalau menghadapi haters, tapi yaa gimana pun haters adalah sunatullah. Lah, Nabi Muhammad SAW yang begitu sempurna aja buanyak hatersnya, apalagi kitaaaa.. Kita ini siapa? Dosanya banyak keleuuss.. Haters cuma lebih rajin dan kurang kerjaan aja merhatiin dan ngomentarin hidup kita.

Biasanya haters itu lebih miskin karyanya daripada orang dibenci, jadi kalem aja. Doain biar mereka segera punya karya. Biasanya orang yang punya karya gak punya waktu dan kepengen untuk jadi haters.

Meski begitu, siapapun yang merasa punya haters… berterimakasihlah.. Mereka yang akan membuat kita terus introspeksi dan mawas diri dari apa yang kita lakukan. Ibarat pedal mobil, haters berfungsi sebagai rem-nya. Bahaya dong kalau nginjek gas mulu tanpa rem. So, just love your haters and say thankyou to them ^^

Salam Semangat,

IBU MUDA

4 thoughts on “Thankyou, Haters.

  1. persis, saia juga bolak-balik istighfar, jangan sampe jadi takabbur gara2 ngerasa paling bener, setelah menyampaikan sesuatu yg memang diperintahkan agama, pada seseorang yg saia gak tau apakah sekarang termasuk ‘hater’ saia atau bukan. semoga tetep jadi ‘liker’ saia aja, hehe… #maksa

    berasa ada adrenaline rush saat proses itu, tapi di situlah sebenernya keimanan kita diuji…

  2. Setuju, haters itu ibarat pengingat kita untuk selalu introspeksi diri.
    Kalau pun memang menyakitkan, ya kita harus mempunyai hati seluas samudera untuk menerima segala kritik dengan hati ikhlas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s