Sederhana Tidak Mudah

Saya masih ingat sampai sekarang tentang fakta yang diutarakan oleh Bapak @noveldy seorang pakar pernikahan, bahwa sederhana itu tidak sama dengan mudah.

Bener ajaa. Hal yang sederhana, yang rumusnya tidak butuh algoritma yang rumit, ketika pelaksanaannya malah butuh perjuangan yang tidak sedikit. Contohnya seperti rutinitas sebagai ibu rumah tangga.

Bangun tidur- membereskan rumah- menyiapkan makanan untuk keluarga-dan hal-hal kecil lainnya. Sangat sederhana.. Tidak perlu membutuhkan IQ tinggi untuk paham dan mempraktekkannya.

Bayangkan, hal yang sederhana seperti itu banyak di luar sana para ibu yang mengeluh dan merasa lelah yang amat sangat, apalagi hal yang ribet daripada itu?

Tapi, untuk tulisan kali ini sepertinya bukan sederhana yang seperti itu yang akan saya bahas. Bukan tentang  sebuah pola, melainkan sederhana dalam hal menjalani hidup. Menyederhanakan rasa. Menyederhanakan keinginan.

Ada beberapa orang yang terlahir dengan sifat perfeksionis, mungkin termasuk saya. Semua hal harus berjalan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Tidak boleh tidak. Hingga akhirnya kita lelah sendiri.

Kehidupan terbagi menjadi dua kejadian. Kejadian pertama adalah suatu hal yang bisa kita bisa kendalikan, dan kejadian kedua adalah hal yang tidak bisa kendalikan. Dalam buku “Master Your Mind, Design Your Destiny” karya Adam Khoo, hal terbaik yang harus kita lakukan adalah fokus pada kejadian yang sepenuhnya bisa kita kendalikan.

Ketika ada masalah yang datang dan kita dituntut untuk segera mencari solusinya, mungkin hal yang bisa kita lakukan adalah memisahkan dalam pikiran kita: mana yang bisa kita kendalikan, mana yang tidak. Kerjakan yang bisa kita selesaikan, abaikan yang sulit kita kendalikan.

Orang perfeksionis cenderung selalu ingin ambil kendali. Hal yang harus dilakukan jadi tidak sederhana dan dibuat ribet sendiri. Well, ini sih kayak ngomong sama diri sendiri 😛

Manusia diciptakan dengan berjuta keinginan dan juga kepentingan. Ketika hidup kita mulai penat, dada terasa sesak… Mungkin kita harus belajar untuk menyederhanakan rasa. Memilah mana yang boleh kita ambil, mana yang tidak.

Hidup itu sederhana ketika kita sudah tau mau kemana akhirnya… Dan menuju tujuan akhir kita hanya butuh satu kendaraan. Kendaraan ternyaman, kendaraan tercepat!

Memiliki banyak kendaraan tidak akan mengantarkan kita kemana-mana… Hanya sibuk mencari kunci, hanya sibuk mengisi bahan bakar.  Tanpa memulai apa yang harus diselesaikan.

Sederhana.

Adalah kata yang mampu memberikan ketenangan dalam dada 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s