apa kabar BAHAGIA ?

Alhamdulillah. Allah telah memberikan banyak kebahagiaan untuk saya. Keluarga, teman, sahabat, ‘dia’, dan masih banyak lagi lainnya membuat saya begitu bahagia. Masa lalu, masa kini, dan masa depan akan selalu saya buat menjadi bahagia.

Nah, ngomong-ngomong soal bahagia yaaa, setiap orang saya rasa punya definisi bahagianya masing-masing. Bahagia menurut saya belum tentu sama dengan bahagia menurut kamu. Setiap orang memiliki prioritas dan orientasi hidup yang berbeda-beda. Ya tentu saja itu berhubungan dengan latar belakang dan impian apa yang ingin dia capai. Itulah bahagia. Tidak pernah mutlak untuk setiap orangnya.

Hidup manusia itu kan yang dicari kebahagiaan ya? Terkadang sukses aja gak cukup karena memang hakikatnya setiap manusia selalu mencari kebahagiaan. Nah, untuk itu mari kita klasifikasikan bahagia itu menjadi tiga tingkatan. Sudah sejauh manakah kebahagiaan yang kita rasakan? CEKIDOT!

Bahagia yang pertama adalah bahagia FISIK. Bahagia ketika kita mendapatkan sebuah materi. Bagi Mawar bahagia itu adalah punya handphone! Jadi Mawar akan belajar maksimal, bekerja optimal untuk yang namanya bisa beli handphone. Ketika Mawar bisa beli handphone dia otomatis jadi bahagia dong yaa? Nah beberapa bulan setelah dia punya handphone, Mawar kembali kurang bahagia. Kenapa War? Katanya definisi bahagia buat dia udah berubah lagi. Asalnya bagi Mawar namanya bahagia itu punya handphone tapi ternyata zaman makin maju, kata Mawar bahagia itu punya laptop. Kembali lah Mawar bekerja keras untuk mendapatkan kebahagiaan (baca:laptop). Setelah laptop dapet, Mawar bahagia. Tapi tidak lama setelah itu Mawar merasa tidak bahagia lagi. Sekarang definisi bahagia bagi dia itu punya mobil. Terus dan terus. Manusia memang fitrahnya selalu tidak puas. Jadi, apa yang didapatkan Mawar? Hanya lelah mengejar yang namanya bahagia dan ya, perasaan bahagianya gak pernah bertahan lama. Siapa yang temennya Mawar di sini? Bukan kamu? Oh mungkin kamu temannya Melati. Siapa Melati? Kita lihat bahagia yang kedua =]

Bahagia yang kedua adalah bahagia EMOSIONAL. Bahagia ketika kita mendapat suatu pengakuan di tengah lingkungan sosial. Contohnya ya Melati ini. Melati bukan seseorang yang matrealistis. Baginya punya handphone atau tidak rasanya sama saja. Terus bahagia Melati gimana dong? Ketika masuk kuliah dia merasa bahagia itu punya IPK tinggi. Melati belajar giat sekali untuk mendapatkan IPK tinggi. Ketika IPK nya sangat memuaskan, Melati bahagia. Tapi tidak lama setelah itu, Melati merasa pintar di bidang akademik saja tidak cukup, ia ingin pandai juga dalam bidang organisasi. Melati pun mulai sibuk dengan kegiatan organisasi dan kepanitiaannya. Ketika Melati sudah aktif dan dia memiliki lebih banyak teman ia merasa bahagia. Lalu? Ternyata tidak lama setelah itu Melati belum juga merasa bahagia. Kata Melati, bahagia itu punya penghargaan. Akhirnya Melati pun berusaha menjadi yang terbaik di organisasinya sehingga ia dipercaya menjadi seorang pemimpin sebuah acara. Melati pun bahagia. Ia merasa menjadi berharga ketika semua orang memuji kehebatannya. Ketika lulus kuliah pun Melati terus mencari kabahagiaan itu (baca:pekerjaan, posisi, jabatan, dan kawan-kawannya). Sekali lagi, manusia diciptakan untuk tidak pernah puas dengan keadaan yang sudah ia dapatkan. Hal baiknya adalah manusia menjadi terus bergerak dan dinamis untuk terus berkarya. Hal buruknya adalah manusia tumbuh menjadi individu yang tidak mensyukuri nikmat, tamak, individualis, dan duniawi saja. Apakah kamu temannya Melati?? Oh bukan juga?? Mmmh… mungkin kamu temannya Matahari! Siapa Matahari? Yuk, kita lihat bahagia yang ketiga ;]

Bahagia yang ketiga adalah bahagia SPIRITUAL. Bahagia ketika Allah atau Tuhannya bahagia. Gimana nih kalau yang ini ceritanya? Ini kisah tentang Matahari. Matahari adalah mahasiswa dengan keadaan biasa-biasa aja. Handphonenya bukan handphone keluaran terbaru, laptop yang setia menemani dia ya cuma laptop turunan dari kakaknya yang udah punya laptop baru (sedih banget). Gimana kuliahnya? Dia bukan seorang mahasiswa yang bersinar layaknya Melati. Kegiatan akademisnya standar. Jelek enggak. Bagus banget juga enggak. Dia bukan orang yang cukup dikenal di kampusnya. Matahari hanya orang biasa-biasa aja tapi dia selalu bahagia. SELALU BAHAGIA. Apa rahasianya Mat? (Jelek banget nama panggilannya ya? ;P) Matahari tidak pernah sibuk dengan apa yang harus dia punya. Matahari tidak pernah sibuk dengan pujian orang dan pengakuan teman-temannya. Matahari tidak pernah sibuk dengan di mana dia harus berada dan berkontribusi.  Matahari tidak pernah sibuk dengan itu semua. Matahari hanya sibuk mencari perhatian Tuhannya saja. Matahari hanya sibuk memperbaiki dirinya sendiri. Dia hanya sibuk membuat Allah bahagia. Bahagianya Matahari adalah ketika hatinya tentram, keimanannya mantap, dekat dengan Sang Pencipta, dan tetap menjadi insan yang bermanfaat untuk teman-temannya. Waww! Subhanallah! Siapa yang temennya Matahari di sini??? Apa? Semuanya?  Wah semuanyaaa!! Yeay yeay yeay!

Ya itulah bahagia. Bahagia tidak pernah sama untuk semua orang. Semua tergantung dengan priorotas dan orientasi individunya itu sendiri. Nah, termasuk temannya siapakah kita? Apakah temannya Mawar yang hanya bahagia ketika punya gadget keluaran terbaru, komik keluaran terbaru, fashion keluaran terbaru atau temannya Melati, yang bahagia ketika mendapat teman yang banyak, pujian yang tidak hentinya atas kinerja kita, posisi yang strategis untuk dikenal dan dihormati, pandangan orang-orang karena kita dianggap hebat dalam berbagai hal,  atau temannya Matahari? Seorang yang dalam keadaan apapun selalu merasa bahagia. Punya atau tidak punya materi bahagia. Dikenal atau tidak tetap bahagia. Siapa pun teman kamu, sekali lagi, bahagia itu banyak definisinya. Tinggal pilih, mau yang shorterm happiness atau longterm happiness. Saya rasa teman-teman sudah bisa menyimpulkan sendiri dari tulisan saya yang terinspirasi dari training ESQ kemarin dan pergulatan hati saya selama ini. (Halah)

Jadi, apapun kebahagiaan itu, bagi saya dia bukan hal yang harus dicari, tapi kebahagiaan itu bisa diciptakan!

Bagaimana caranya? Insya Allah dengan selalu menghadirkan Sang Maha Pemberi Kebahagiaan di setiap derap langkah kita. Dijamin, bahagia gak akan pernah absen dari hidup kita. Percaya ama gue 😉

Semoga Bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s