Saya bisa. Lalu kamu?

Saat ini saya akan mengisahkan tiga buah kisah inspiratif. Mungkin tidak untuk semua tapi jelas ini inspiratif bagi saya, ya eyalaa makanya ditulis juga ;p

Kisah yang pertama adalah sebut saja Mawar. Ia adalah teman saya sejak SD. Mawar terkenal dengan segala prestasi yang ia punya. Juara 1 di kelas sudah pasti ia yang meraihnya. Sering mengikuti berbagai lomba dan memenangkannya. Cakap berbahasa. Supel dalam pergaulan. Cantik wajah juga hatinya. Ia pun piawai dalam memimpin teman-temannya. Itu terlihat ketika kelompok Praja Muda Karana yang ia pimpin selalu mendapat kelompok terbaik dalam berbagai lomba ketangkasan. Ah dia sempurna… Lulus SMA menikah. Terlihat indah tapi pasti tidak semudah itu juga, apalagi dia masuk ke salah satu fakultas kedokteran terbaik di Indonesia. Sekarang, dia sudah memiliki 2 malaikat kecil yang menemaninya berjuang. Sungguh saya rasa pasti itu tidak mudah. Tapi dia bisa dan dia bahagia. Saya selalu dengan betahnya melihat foto-foto dia bersama keluarga kecilnya, yha dia terlihat bahagia. Dia selalu mengatakan bahwa nikah muda adalah pilihan terbaik baginya. Dia mengatakan bahwa banyak kebahagiaan dan keberkahan yang ia dapat. Sempat saya menulis tentang dia sebelum tulisan ini di sini. Dia bisa. Lalu saya?

Kisah yang kedua adalah Melati. Melati adalah teman satu kost-an. Saya mengenal pribadinya yang begitu ceria. Bersemangat dalam berdakwah dan bersemangat mengajak kami shalat berjamaah. Sujudnya selalu yang paling lama. Dia pun menikah di usia muda, di semester 4 kuliahnya. Dia satu angkatan dengan saya. Dia juga aktivis. Ketika dia menikah, dia sedang menjabat sebagai ketua keputrian di fakultasnya. Benar itu tidak mudah. Apalagi dia harus pulang pergi Jatinangor-Bandung untuk kuliah dan berorganisasi. Kini perutnya semakin buncit saja karena Alhamdulillah dia sudah diamanahi malaikat kecil juga. Meski kesibukan kuliahnya, meski kesibukan organisasinya, meski kesibukan rumah tangganya. Dia tetap bahagia dan menjalani semuanya dengan baik-baik saja. Dia bisa. Lalu saya?

Kisah yang ketiga adalah kisah seseorang yang sangat menginspirasi saya. Banyak buku yang telah ia terbitkan. Setiap detik hidupnya tak luput dari pembelajaran. Sepertinya tidak perlu saya uraikan kisah hidupnya di sini. Terlalu panjang dan terlalu sulit dideskripsikan karena yha itu tadi, begitu indah dan menginspirasi! Teman-teman bisa mencari tahu dengan membaca karya-karyanya dan yha saya yakin kalian sudah pernah membacanya. Sempat saya diberikan kesempatan untuk bisa hadir di salah satu seminar dengan dia sebagai pembicaranya. Alhamdulillah, di seminar itu saya dapat kesempatan bertanya.

“Bun, saya seorang mahasiswi. Di kampus saya termasuk mahasiswi yang aktif mengikuti berbagai macam kegiatan kemahasiswaan. Mau tanya dong tips ‘n trik nya untuk tetap jadi aktivis meski nanti status saya sudah menjadi istri? Hehe.”

Saya masih ingat senyumnya ketika ia mendengarkan pertanyaan polos saya.

“Nak, Tau gak? Bunda dulu juga aktivis lho! Bunda menikah saat kuliah. Waktu bunda menyusun skripsi Bunda sedang hamil. Jadi, Faiz, anak bunda yang pertama ini sering sekali diajak diskusi sama Bunda. Sampe Ayahnya bilang: Bun, jangan diajak mikir terus dong bayinya. Kasian…. Hihi. Tapi semuanya berjalan lancar Alhamdulillah. Bunda bisa menyelesaikan kuliah dan rumah tangga Bunda baik-baik saja. Semuanya tergantung komitmen kamu dengan suami kamu nanti. Percaya deh sama Bunda, yang namanya jadi aktivis itu gak ada ruginya. Kamu jadi pinter mengatur waktu dan nanti ketika kamu sudah jadi istri dan ibu, kamu akan terlatih untuk tetap dinamis. Ilmu yang kamu dapat menjadi seorang aktivis akan sangat bermanfaat untuk kehidupan rumah tangga kamu. Tips ‘n triknya yhaa selalu yakin kalo kita bisa dan tetap bersemangat. Insya Allah selalu ada jalan.”

Helvy Tiana Rosa, inspirator terbesar saya untuk menjalani semua ini. Menikah di usia muda, aktivis, dan penulis dengan banyak karya yang menginspirasi. Dia bisa. Lalu saya?

Inilah tiga kisah yang membuat saya tidak pernah menyesal memilih jalan ini. Jalan di mana saya harus mengisi waktu muda dengan menjadi istri dan ibu suatu saat nanti. Tidak mudah memang. Sangat tidak mudah. Ada banyak godaan, tantangan, hambatan, dan ujian. Tapi itu semua membuahkan pembelajaran. Saya bisa. Lalu kamu?

Bagi yang bekerja keras, keberhasilan bukanlah masalah kemungkinan, tapi masalah waktu. Bersemangatlah menyambut hadiah bagi kerja keras Anda. Itulah tanda iman. –Sebuah nasihat MTGW yang saya dapat dari sms seorang teman.

Semoga bermanfaat!

3 thoughts on “Saya bisa. Lalu kamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s