sastra pranikah

Lelehan kelenjar air mata ini tak dapat kuhenti. Aku kesepian. Aku kedinginan. Aku kembali berada di sudut kota yang membuatku masih ingin menempuh jarak ke arah timur 3,5 jam lagi menemuinya. Jangan tanya aku kenapa karena aku pun tak tahu mengapa sedalam itu aku membutuhkannya untuk merebahkan beban di bahunya yang hangat dan senyumnya yang tulus. Satu jeda waktu itu telah mempertemukan aku dengannya. Aku tidak meminta kebetulan itu. Aku dan dia hanya disatukan oleh semesta.

Aku pun berjalan di pinggiran sudut kota yang dipenuhi bis, sedang menunggu penumpang. Perjalanan yang semakin menguras perih. Aku masih ingin bersamanya. Tapi realita seakan tak sejalan dengan keinginan. Aku muak.

Aku muak dengan keadaan.

Kedinginanku semakin menjadi karena angin kota itu sedang terpuruk meninggalkan akhir pekan ini. Angin yang selalu ada menemani para mahasiswa yang selalu berat menghadapi awal pekan. Angin yang selalu ada ketika para mahasiswa ingin berlari dan menjauh dari aktivitas kampus yang memuakkan. Akitivitas kampus yang membuat mereka menjauh dari hingar bingar pusat kota. Atau mungkin hangatnya keluarga. Angin yang saat ini ada untuk meruntuhkan rinduku padanya

Laju angkutan kota mengantarkanku ke sebuah rumah. Rumah yang terkadang hangat namun terkadang dingin menyambut kedatangkanku di batas jam malam. Aku sudah sampai di kamar kontrakan itu. Kamar tempat aku menyimpan suka dan tangis yang begitu terisak dalam. Aku lemparkan air mata tanpa sekat ke dalam bantal itu. Aku alami malam yang mendung. Malam yang tanpa bahagia. Malam yang penuh resah dan malam yang ingin segera kutinggalkan. Akhirnya aku pun melepas semua tekan yang meyempitkan jiwa dengan seribu cerita padanya. Pada lelaki yang harus sejauh apa aku katakan bahwa aku penuh yakin padanya. Aku berhenti dan menyeka tangis. Aku mengambil aliran air suci pengantar shalat, aku menyembahNya. Dan ternyata lebih dari cukup Ia menjadi penenang dan penjawab gundah. Aku mereda. Dan sudahlah henti mendung malam ini. Aku menyeduh ayat demi ayat di kitab sepanjang masa itu, aku semakin tenang dan damai.

Aku harus segera merangkai bukti. Aku harus segera merajut bijak, untuk masa depan yang telah matang kurencanakan bersamanya. Agar aku merasa memiliki teman pelipur segala lara. Agar aku merasa telah pantas berbagi segalanya dengannya. Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak boleh patah. Aku terlalu berharga untuk diam dan tak bergerak.

Dan untuk rumahku yang jauh di sana, bukan aku tak sayang atau tak cinta. Aku hanya butuh teman. Aku butuh teman berbagi. Teman sebaya untuk berbagi. Dan aku ingin temen itu aku jadikan keluarga. Karena sudah betapa lama aku menginginkan tempat berbagi di keluarga sendiri. Teman sebaya. Sekali lagi, bukan aku tak sayang dan tak cinta. Hanya saja… selama ini belum pernah aku merasa dimengerti dan diterima apa adanya. Bukan aku tak sayang dan tak cinta… Justru aku terlalu sayang dan terlalu cinta, aku jadi tidak bisa menjadi diri sendiri. Maka, ijinkan ia menjadi teman sebaya yang membuatku bisa tampil apa adanya di keluargaku sendiri… Percayalah, aku yakin dia adalah orang yang tepat. Setepat dan seyakinnya aku menjadikan ia menjadi keluarga kita. Percayalah!

… … …

Ah sepertinya sulit bagi kalian mempercayai aku. Dan akan terasa selalu sulit jika kalian hanya melihat busukku saja. Hanya melihat lemahku saja. Hanya melihat rapuhku saja. Hanya melihat emosiku saja. Hanya melihat burukku saja. Hanya melihat malasku saja. Hanya melihat diamku saja. Tapi aku tidak menyalahkan. Karena sulitnya sama ketika aku harus menunjukkan kedewasaanku, kekuatanku, ketangguhanku, ketenanganku, kebaikanku, kerajinanku, dan keaktifanku. Aku memang payah. Jadi sekarang, yasudahlah, terserah. Aku hanya bisa pasrah.

Pasrah.

Meski tetap aku terus berusaha tanpa menyerah. Meski setiap niat baik selalu terlihat salah. Aku akan tetap berencana, bergerak, dan akhirnya mewujudkannya! Bismillah…

One thought on “sastra pranikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s