Sembilan Tahun

Hari ini.

2 Oktober 2019. Adalah sembilan tahun sejak hari itu. Hari dimana kami mengikat janji. Mengucap sumpah. Untuk hidup bersama, saling menemani, saling memahami hingga tua dan mati nanti.

Sejak 2 Oktober 2010 itulah perjuangan dilakukan setiap hari. Berjuang untuk menyatukan dua beda menjadi satu cita. Meramu setiap rencana dengan berbagai drama dan pertahanan ego masing-masing.

Ahhh gakerasa yaa. Sembilan tahun. Masih bertahan untuk tetap saling mendukung dan sayang. Masih siap berjuang untuk terus sama-sama belajar dan berproses menjadi lebih baik.

Selamat ulang tahun menikah, Tom. Meski aku sering rungsing dan riweuh. Sering ngambek dan banyak mau. Aku semakin yakin kalau kamu teh emang diciptakan untuk melengkapi aku. Prestasi hingga tahun ini adalah, kita udah makin enak dan kompak ketika ngobrol dan memutuskan hal bersama. Belum sempurna, tapi lumayan lah yaaa. Pernikahan mah rasa rujak. Amis haseum lada ngumpul semua hahahaha…

 

*ditulis di Blackbird Hotel, Bandung sambil menatap kamu dengan sayang bari cirambay …

*dengan secara kebetulan playlist memutar lagu Teman Hidup nya Tulus

*cukupgetek mohon maaf

Satu Juta Ibu Muda

Ini adalah sebuah doa dan rencana yang saya tulis sekitar tahun 2013 kalau tidak salah. Keinginan yang didasari ambisi yang begitu besar namun tidak disertai dengan kesadaran penuh. Lebih banyaknya karena rasa marah dan rasa kecewa. Saya berharap dengan memiliki sebuah komunitas dengan beranggotakan jumlah yang fantastis, hidup saya akan lebih terasa menggembirakan, sukses bahagia dunia akhirat.

Lalu mari kita percepat waktu hingga ke masa sekarang, di mana rasanya lebih banyak rasa malu ketika diingatkan akan doa itu. Doa yang didasari ambisi yang begitu besar namun tidak disertai dengan kesadaran penuh. Bagaimana mungkin saya yang masih struggling mendidik diri sendiri untuk menjadi istri dan ibu yang baik, dengan heroiknya menggerakkan satu juta ibu muda. Disuruh jadi anggota dewan aja kayaknya saya sudah lebih banyak pingsan daripada sadarnya. Alias gak akan kuat.

Doa Satu Juta Ibu Muda mengingatkan saya akan masa kelam itu. Masa di mana banyak halusinasinya akan diri sendiri. Saya kira saya kenal dengan diri saya. Saya pikir saya paham dengan tujuan saya. Padahal tidak. Dan itu sebetulnya menyedihkan. Doanya keren tapi mentalnya kere. Jiwanya kosong dan hampa amat sangat.

Bisakah doa itu direvisi? Atau boleh gak sih dihapus aja sekalian? Nyesel juga kenapa kudu diceritain ke rang orang, kan jadinya sampe sekarang jadi bahan olokan. Ada kalanya saya bisa ikut mengolok diri sendiri ketika doa itu mulai dibahas. Ada kalanya saya malu. Sedih. Dan ingin teriak…

Dulu gue gak waras heyyy ngucap doa ituu 😭😭😭

Emang kenapa ga setia sama doa itu sih Chii? Kan keren.

Kalimatnya sih keren. Prosesnya bikin mencret. Dehidrasi lahir bathin 😭

Gamaoooo lagi punya doa kayak gitu. Ampuuuun… ga sanggupppp.

KIMI 2020

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Haloo semua! Selamat datang di blog ini. Salam kenal, nama saya Asri Fitriasari atau biasa dipanggil Achii. Kalau di KIMI, panggilannya Popon atau Bupon. Pada tulisan kali ini saya akan menjelaskan mengenai KIMI sebelum teman-teman semua mendaftar menjadi anggota barunya. Yesss, ini adalah tulisan yang dibuat khusus untuk teman-teman yang berminat menjadi bagian dari KIMI di tahun 2020 nanti.

Weleh, kok udah dari Oktober yaa diproses registrasinya. Karena oh karena, kami ingin teman-teman mengenal betul tentang KIMI sebelum nanti seru-seruan bareng di tahun 2020. Apakah memang KIMI yang teman-teman cari, atau bukan. Baiklah saya mulai yaaa FAQ tentang KIMI nya. Mari dibaca dengan baik, perlahan dan mendalam πŸ€—

1. Apa sih KIMI?
KIMI atau Komunitas IBUMUDA Indonesia adalah wadah bagi para wanita yang ingin berproses untuk mengenali dirinya sendiri. KIMI tidak akan membahas issue seputar pernikahan, kehamilan, melahirkan, atau parenting. Jikapun dibahas, poin utamanya kembali lagi terhadap pengenalan diri sendiri. Bagaimana caranya menjadi istri yang percaya diri. Bagaimana caranya menjadi ibu yang bisa berdamai dengan depresi. Bagaimana caranya menjadi wanita yang merasa utuh dan juga tangguh.

2. Siapa saja yang boleh gabung KIMI?
Wanita. Usia maksimal 40 tahun. Tidak masalah sudah menikah atau belum. Tidak masalah belum punya anak dan berapapun jumlah anaknya. Tidak masalah wanita bekerja atau hanya aktif di rumah. Oiya, jika kamu belum berhijab, isokey untuk masuk KIMI yaa. Karena meski terlihat banyak sekali anggota yang berhijab (dan banyaknya berkerudung lebar), KIMI sangat terbuka juga untuk kamu. Jadi tidak usah khawatir yaa.
Keanggotaan KIMI tidak berbatas domisili. Di manapun kamu, boleh banget gabung KIMI. Karena kegiatannya banyak dilakukan via grup WA. Selama siap berproses untuk kenalan ulang sama diri sendiri, hayuk!

3. Apa saja kegiatan KIMI?
Kegiatan KIMI biasanya dibuat sesuai kebutuhan para anggotanya. Ada 2 agenda yang sudah rutin diadakan setiap bulan, yaitu KIMI challenge, tantangan yang diberikan setiap bulan untuk mengasah dan menggosok proses pengenalan diri kita semua. Challenge ini berbeda setiap bulan dan setiap tahunnya. Selama proses challenge ini, akan dilakukan pembahasan dan sharing tentang topik-topik seputar pengenalan diri yang disadari saat mengerjakan challenge.
Ada lagi kopdar KIMI, yaitu acara offline rutin kurang lebih 2 bulan sekali yang terbuka untuk umum dengan mengangkat tema yang sedang hangat dan dibutuhkan para wanita, seputar emosi, pengenalan dan pengembangan diri.
Agenda baru di tahun 2020 nanti adalah MELIHAT, singkatan dari Melingkar Sambil Curhat. Acara offline rutin tiap bulan yang khusus diagendakan untuk wadah berbagi curahan hati secara live, dalam rangka saling mengingatkan dan menguatkan sekaligus jadi ajang silaturahmi sesama member KIMI. Sementara ini hanya diadakan di 3 kota, Bandung, Jakarta, dan Bogor jika memungkinkan.

Di perjalanannya, KIMI akan mengadakan kelas-kelas khusus berbayar yang mendukung pemberian materi seputar Self Awareness dan Self Love.

4. Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dengan bergabung dengan komunitas ini?

Setelah berjalan efektif sejak tahun 2016, KIMI adalah kumpulan wanita dari berbagai macam latar belakang dan kondisi hidup. Kamu bisa bertemu dan belajar dengan begitu banyak sudut pandang. Mengenal perspektif baru dalam hidup yang manatau menjadi salah satu solusi masalahmu saat ini. You will find sisterhood of your soul! Insya Allah.

5. Apa yang membedakan KIMI dengan komunitas lain?

Meskipun diberikan judul IBUMUDA, KIMI justru tidak banyak membahas topik seputar seorang ibu, seperti pernikahan, kehamilan, melahirkan, atau pengurusan anak pada umumnya. KIMI khusus membahas tentang individu wanita itu sendiri, terlepas apapun statusnya. KIMI dibuat sangat eksklusif dan selektif karena akan banyak mendiskusikan hal-hal terkait kesehatan mental dan kondisi jiwa.Β Bagaimana mengenal siapa diri kita dan mau apa, dan mau kemana kita.

6. Apa syarat bergabung dengan KIMI?
Setelah membaca artikel ini, bagi yang berminat gabung, silakan mengisi database di bit.ly/formKIMI2020. Tunggu konfirmasi dari Mincreung KIMI untuk tahap berikutnya. Selama 3 bulan ke depan, kami akan menjelaskan dan mengenalkan lebih rinci dan dalam tentang KIMI itu sendiri, sekalian adaptasi dengan suasana grup WA KIMI. Tidak ada biaya. Cukup siapkan jiwa untuk menggali jati diri sendiri. Bismillah yaaa πŸ™‚

Sekian informasi terkait open registration KIMI 2019. Info lebih banyak, teman-teman bisa kepoin dulu akun Instagram @ibumudaindonesia

Kalau cocok, mangga ditunggu konfirmasi pendaftarannya yaa. Ciao!

Hal Sepele

Kita tidak pernah jatuh karena batu besar yang terlihat oleh mata. Justru oleh batu kecil disebut kerikil yang bikin kita jatuh terpeleset lalu berbekas lecet.

Hidup juga gitu sih. Bisa hancur justru karena hal sepele. Yang tidak kita sadari. Yang enggan kita perbaiki. Sampai baru sadar ketika sakitnya sudah sangat menusuk ke dalam relung hati.

Begitulah…

Akhirnya Pustakalana

Hari ini adalah hari bagi raportnya Kanin, dan saya berencana ngajak Kanin keliling kota sepulang dari sekolah abis ambil raport. Pustakalana-lah yang jadi tujuan untuk trip kali ini. Sejujurnya yang ngidam dan mupeng sih emaknya, anaknya belum tentu mau. Lalu bener ajaa, pas beres urusan dari sekolah, Kanin rewel minta pulang ke rumah, gamau diajak jalan ama emaknya. Hadeuh nengggg, kok yaaa ogah hengot sihhh, ga seru amat hiks.

Saya pun membujuk dengan ribuan rayuan gombal emak-emak pada anaknya yang sudah tidak lagi balita. Ditawarin ini itu gak mempan, maunya pulang aja. Ngadem di rumah. Ampun dah kayak siapa yaah ini 🀣

Singkat cerita, saya berhasil bujukin dan berangkatlah kami ke jalan Taman Cibeunying, menuju sebuah perpustakaan hits di Bandung yang kemarin ngadain acara superseru di pelataran kampus ITB. Yang dimana ku tak berjodoh untuk datang dan hanya bisa menikmati apdetan acaranya di layar HP. Superzaddd.

Sekali lagi, ini emang yang ngidam dan mupeng adalah emaknya. Anaknya sih biasa aja. Cenderung ogah. Tapi yang namanya emak-emak emang seneng maksa jadi ya beginilah adanya hahaha. Maap yaa Kanin πŸ˜„

Ketika sampai di Pustakalana, saya merinding disko excited norak norak jeli gitu deh. Selayaknya ibumuda di zaman milenial, posting instastori dulu dong gaes. Karena pamer adalah pencitraan wkwk

Satu impresi pas masuk ke pustakalana adalah…

Sungguh ADEM…AC-nya.

Lha iya bokkk, di luar panasnya luarbiasa, pas masuk ke ruangan takbisa dipungkiri jiwa raga langsung terhibur dengan indahnya sentuhan udara air conditioner mwihihihi… dan tentu, jajaran buku yang sangat memanjakan mata.

Kanin masih bete. Karena baru bangun tidur juga Mukanya ditekuk kayak sedotan jus.

Saat datang, saya disambut oleh mbak cantik penjaga warung, eh perpus… Saya pun langsung SKSD menanyakan pesanan RAGAM (maenan khusus bulan Ramadhan yang dibuat oleh Pustakalana, yang saya order via instagram).

Setelah saya dapat pesanan, kami pun mulai menyusuri setiap rak yang ada di sana. Masya Allah….bukunya banyak, pariatip (pake p), sangat menggiurkan untuk dibaca satu persatu. Dan ternyata bukan cuma buku anak aja, ada buat emak-emaknya! Ruangannya mode lesehan. Bener-bener HOMY untuk para moms (ciee moms) yang ingin mengajak anaknya ngedate bersama tumpukan buku.

Oiyaa, sebelum saya maceuh liat-liat dan buka buka buku di sana, saya nanya-nanya dulu tentang ketentuan “maen” di tempat tersebut. Jadi, ada biaya membershipnya. Satu, biaya registrasi senilai 75rebu. Dua, biaya untuk peminjaman senilai 120rb (tergantung paket yang diambil, saya ambil paket kelinci). Dengan melakukan registrasi dan pembayaran tersebut, saya berhak meminjam 2buku per 2minggu selama 3bulan masa peminjaman.

Aseliii laaah koleksi buku-bukunya bikin ngacaayyyyy. Dan sangat cukup menjadi solusi untuk menge-rem kebringasan belabeli buku yang belum tentu dibaca langsung. Samhaw emang kadang kita cukup pinjem aja daripada beli, belum tentu dibaca dan jadinya numpuk gajelas di rak dan sudut-sudut rumah, yekaaaan.

Haaaaaa thankyou A LOT Pustakalanaaaaaaa. Saya udah tau lama tapi baru sekarang liat penampakan nyata nya. Sangat jatuh cinta sedalam-dalamnyaa!

Solusi lain juga daripada ngajak jalan Kanin Kinan ke mall, geret bae lah ke sini… Lebih irit dan berpaedah.

Sekian reportase Emak Cabe hari ini. Semoga bermanfaat terutama bagi para moms (ciee moms) yang berdomisili di Bandung dan sekitarnya. Tempat ini amatlah sangat amat rekomen untuk dikunjungi!

Alhamdulillah pulang dari sana Kanin sudah tidak bete lagi. Mukanya udah gak kayak sedotan jus. Cukup berseri kayak buah stroberi. Dan pas ketemu Bapak Tomat, dengan excited pamer buku yang tadi dia pinjam (atas paksaan rekomendasi emaknya, ehm).

Sepeda Baru Kanin

Kemarin, tanggal 26 Mei 2018 akhirnya saya dan Tomat berencana beliin Kanin sepeda baru dalam rangka usianya yang sudah beranjak 6 tahun, biar pas berangkat kuliah gaharus naik transportasi publik (eh, belum yaaa)

Kanin sebetulnya sudah dijanjikan beli sepeda di Mei tahun lalu cuma yaaa karena satu dan lain hal (alasan supercliche hahaha), jadinya baru tahun ini. Kadang suka baper aku nya, meni asa telat beliin dia sepeda. But yaaaa semua itu akan terjadi indah pada waktunya, selayaknya lulus koas drg, am I riteeeee???? Hahahaha plakkkkk!

Niatnya berangkat ke jalan Veteran (pusat jajanan sepeda ter-hits di Bandung) dari pagi-pagi biar dzuhur udah ada di rumah lagi. Soale hari Sabtu bokkk.. Bandung tea kalau weekend skeri banget jalanannya, tetapi sayang disayang saya-nya bangun telaaaat heuheu. Abis shubuhan tepar dan baru ready stock buat caw justru pas udah dzuhuran bahahaha ~

Saya cuma berdua aja sama Kanin ke Veteran berhubung Tomat mau siap-siap di rumah karena sore harinya ada bukber temen-temennya doi. Ketika keluar rumah nginjek gas, saya sudah menyiapkan mental…. it gonna be machetos dan panasos di jalan. Bismillah we lah, demi anak, sayang anak sayang anak.. Udah janji tea, pantang mundur hanya karena macet dan panas.

Tetapiiiii ternyata bukan karena panas atau macet ujiannya… tetapi oh tetapi si aku tetiba salatri 😭😭 Keringet dingin, mual, puyeng, dan sebagainya… di TENGAH KEMACETAN. Saya emang ga puasa karena sedang menyusui tapi tadi juga ga sempet makan siang karena rusuh. Dan fatalnya lupa bawa cemilan laaah. Dodol.

Untung Kanin nya tibra tidur di kursi belakang, jadi saya bisa fokus menenangkan hati menghadapi salatri sendiri. Eh buat yang gatau salatri, itu adalah gejala telat makan dan semacam kayak masuk angin gitu. Sungguh gaenak pokoknya mah…

Nyampe Veteran saya harus cepet cari makan ini sih. Asa ga lucu kalau keterusan pingsan. Masa nyetir pulangnya sama Kanin, dia belum nembak punya SIM soalnya. Emmm yakali lah..

Tapi agak galau juga kalau mau makan, soalnya Kanin kan lagi puasa. Saya asa gatega kalau makan sendirian sambil ditatap bocah yang kecenderungan kabita liat saya makan. Sungguh kondisi yang membingungkan, tapiiiiii suprisingly Kanin mengizinkan saya makan dulu dan selama saya khusyuk menikmati makan (bayangin deh muka ibu-ibu yang udah menerjang kemacetan Cimahi-Bandung dengan berbagai drama salatri ketemu sama makanan, mengharukan!), Kanin tidak goyah sama sekali. Dia asik aja bukain akun instagram di HP saya (padahal akunnya juga yang diliatin teh video2 makanan, you are rockssss Kanin!). Ga ada adegan rewel dan recet ngeluh-ngeluh lapar dan haus. Am so proud Bunda.

Setelah saya wareg makan semangkok yamin dan kuah baso beserta babatnya ditambah segelas es jeruk (yang dimana Kanin ga tergoda sedikit pun. Ku masih amaze), saya dan Kanin menyusuri setiap toko sepeda di jalan Veteran. My bad adalah ga sempet riset dulu merk apa yang bestseller dan kisaran harganya berapa. Jadi yaa blah bloh banget. Nanya-nanya nya tanpa data dan pedoman. Sangatlah jangan ditiru. Sangatlah bukan ibu-ibu sejati. Sangatlah bukan Tomat.

Sampai setelah nanya-nanya ke 4 toko, saya bisa ambil kesimpulan kalau merk yang saat ini best seller adalah PASIFIC. Mon maap ternyata W*im Cycle udah tutup pabrik bok! Meni sedih yaah. Dan merk F*amily yang iklannya sudah eksis sejak saya seusia Kanin pun masih lebih better kualiatasnya Pasific.

Sejujurnya saya gak jago nawar, jadi saya beli berdasarkan kenyamanan hati juga. Harga yang ditawarkan bisa sama, tapi kalau service Enci nya enakeun, yaaa saya beli di situ. Jadi, pertama saya muterin dan nanya dulu harga pasaran rata2nya berapa, udah dapet angka terkecil… cari yang penjualnya nyaman di hati. Karena manatau mau belanja lagi, atau butuh service… ga males buat balik lagi.

Alhamdulillah Kanin akhirnya punya sepeda baru. Pasific ukuran 16. Dengan harga deal di angka 800rb. Garansi 5 tahun.

Enci yang jualnya baik banget, mau ngejelasin secara terperinci dan ngasih gambaran kenapa mending beli Pasific sekalian. Yaaa daripada yang murah tapi bolbal service mah jatohnya keluar duitnya sama aja. Ner ugha Cii.

Kalau saya emang tipe yang liat dulu mana modelnya yang paling disuka, baru nanya harga. Bukan cari yang paling murah terus disuka-sukain sama modelnya. Berat… soalnya dipakenya bertahun-tahun. Saya ga percaya cinta tumbuh karena biasa dalam hal beli barang. Saya lebih percaya, cinta pada pandangan pertama, selanjutnya terserah Anda.

NAON SIH BUN hahaha

Setelah transaksi pembelian sepeda beres, saya dan Kanin dengan noraknya pake sepeda itu di trotoar jalan Veteran yang super lega. Mungkin emang sengaja buat test drive sepeda kali yaa. Dan tidak lupa sebagai manusia milenial zaman ini, kami pepotoan hehe.

Sekian. Semoga tulisan tentang beli sepeda baru ini bisa jadi info juga buat buibu yang mau beliin sepeda buat anaknya. Pasific is terbaik, Buk! Worth to buy.

Jangan Lari Lagi

Malam tadi saya cukup stress. Ada pekerjaan koas yang saya tunda selama 2 minggu tidak dikerjakan, dan malam tadi saya memaksakan diri untuk memulai. Ayolah Chii, mau didiemin sampe kapan kerjaannya?

Bismillah, setelah ngumpulin mood 2 minggu. Ditemenin sambil nonton film musikal juga di laptop. Jadi lebih betah buat duduk di meja kerja.

Lalu tetiba rungsing mulai menyerang ketika sumbu alcohol torch nya kepanjangan dan pas ditarik malah mendelep masuk. Jadilah saya uyek-uyekan dulu benerin alcohol torch nya. Mulai deh dari situ agak bete.

Ditambah konsistensi wax dan gips putih nya yang kurang enak. Proses pengerjaan pun jadi mulai horror dan drama. Pada dasarnya saya itu anaknya gak sabaran dan clumsy parah, tapi suka pengen punya hasil yang sempurna, rapi tanpa cela. Hahahaha.. Kadang saking pengen sempurna, terlalu effort di perencanaan dan gak mulai-mulai buat eksekusinya. But I have to change. Kalau nungguin semua kondisi enak dan paripurna yaa gak akan selesai-selesai. Seorang ahli itu adalah dia yang bisa sampe garis finish dengan apapun hambatan yang harus dia hadapi. Jadi jangan berharap ga ada kendala atau kesusahan, itu mustahil namanya.

Belum rapi. Belum selesai. Tapi udah cantik buat difoto. Namanya Tanggul Gigitan.

Dan ini sebenarnya yang jadi elegi saya dalam menyelesaikan koas. Inginnya sempurna, selalu ingin menghindari konflik, menghindari gagal, gamau ribet, tapi gak sabaran dan suka menyepelekan. Penyakit banget kaaan πŸ˜‚πŸ˜­

Akhirnya jadi sering kabur, dan bikin-bikin alasan serta pembenaran. Sedikit-sedikit gak sadar udah mau 5 tahun saya kabur untuk gak deal with apapun yang ada di kehidupan koas. Ya ampuuuuun.

Ngerjain tanggul gigitan malam ini bikin saya flashback sama kelakuan-kelakuan gak banget yang bikin saya stuck dan gak kelar-kelar masa studinya. Yang ternyata merupakan refleksi sikap saya dalam menghadapi permasalahan hidup lainnya. Selalu ingin yang sempurna, tapi cenderung menghindari konflik dan kegagalan, seneng lari dari proses dan akhirnya menyepelekan. Innalillahi…. Mau sampe kapan hidup kayak gini?

Tadi malam pun pengennya nyerah aja. Gatau deh gimana pokoknya pengen berhenti. Nyesek banget ngerjainnya. Susaaaaaah. Tapi sih kalau dipikir-pikir, udah banyak juga kerjaan koas yang susahnya bikin ampe nangis but at the end saya bisa, dan itu semua lewat juga. Jadi yaudah sih Chii, kerjain aja. Jalanin aja. Enjoy the proses. Jangan lari lagi. Karena kemanapun kamu lari, apa yang seharusnya kamu selesaikan akan terus menghampiri.

Jam 23.30 saya japrian dengan rekan sejawat yang udah duluan lulusnya. Numpang curhat dan ngeluh hihihi. Teman tidak tau diri. Ngehubungin tengah malam buat bikin rusuh. Dulu, saya sama dia partner in crime banget kalau urusan ngerjain kerjaan lab kayak gini. Sama magernya, sama dodolnya, sama oonnya. Tapi dia udah bisa lewatin itu semua, gua mah beluuum 😭

Saya mengeluarkan semua keluhan dan apa-apa yang nyesek di dada selama ngerjain tanggul gigitan (step yang malam tadi saya kerjakan), sekalian minta pencerahan. Shali, dengan sabar nemenin saya dan ngasih beberapa masukan. Ada beberapa chat dari Shali yang bikin semangat sekaligus nusuk juga.

Ini spoiler curhatan tadi malam.

Orang di luaran sana memang udah jobdesk nya rajin dan sangat telaten nanya, Kapan lulus? Kok belum beres juga? Emang segitu susahnya dsb dsb dsb? Somehow, omongan orang yang kayak gitu dan sangat sering masuk telinga bikin kita ingin memangkas proses. Membuat mereka diam dan berhenti bertanya lagi. Tapi kan ngapain juga kebawa drama dan menyusahkan diri sendiri sama bagian tugas orang lain. Orang lain tugasnya bertanya dan komentar. Tugas kita menjalani sesuai track dan porsinya.

Kuakui. Hahaha kayak lirik lagu aje… Selama ini saya suka ribet sama omongan orang, bawaannya jadi mental korban. Bawaannya jadi ga fokus dan gak ENJOY sama proses. Gak menghargai dan memaknai perjalanan diri saya sendiri. Jadinya berasa kosong dan hampa. Jadinya pengen kabur aja bawaannya. Karena saya sendiri yang bikin suasananya ga betah. Bukan untuk dirisaya, tapi untuk bikin orang diam, atau bangga. Capek ternyata.

Huffff ini bahasan jadi kemana-mana yaaah hahaha. Monmaap. 10 tahun cuyyyy. 10 tahun saya masih stuck di kampus ini. It must be A LOT of lesson that I learned. Terutama tentang hidup dan pengenalan diri saya sendiri. Harus ada yang bisa saya ambil hikmahnya. Karena buat mahasiswa angkatan bubuk macam saya mah, udah masuk jurusan ambil hikmahnya.

So, apa hikmahnya Chii?

Hidup itu meminta kita BERPROSES. Tidak akan ada hal sempurna atau paripurna atau istimewa atau membahana tanpa sebuah kendala, drama, dan kegagalan. Gausah repot-repot menghindari konflik, karena itu sudah jadi bagian dari cerita yang harus kita jalani. Karena dari konflik itulah kita akan belajar teguh dan juga tangguh. Terakhir, belajar dari curhatnya Shali yang ini…

Jangan pernah MENYEPELEKAN proses. Live the life. Hadapi yang harus dijalani saat ini. Karena semua kabur-kaburan itu selalu diikuti konsekuensi. Awareness itu penting. Paham dengan situasi dan bisa enjoy menjalani. Biar gak ada lagi unfinished business yang menghantui.

Dalam hal apapun dalam hidup.

Semoga curcol pagi ini bisa bermangpaat yaah. Selamat melanjutkan hidup.

Have a GOOD Monday yah. Kasih madu dulu pagi-pagi biar hidup jadi manis! πŸ™‚