Bertemu Sosok Penuh Cinta, Bu Atalia

Ingatan saya terlempar pada kenangan 8 tahun yang lalu, berkat kebaikan seorang Guru yang juga sudah seperti kakak sendiri, Teh Febiola Aryanti. Teh Febi dengan kebaikan dan ketulusannya, membantu dan mendukung saya saat itu untuk mengupayakan bisa mengundang istri Walikota Bandung agar bisa meresmikan lahirnya komunitas bagi para ibu, yang saat itu digagas oleh saya dan teman-teman sebagai wadah bagi para ibu muda agar tidak merasa sendiri, dan memiliki ruang untuk berbagi dan belajar bersama.

21 Desember 2014 adalah momen yang sangat berharga bagi hidup saya, Allah izinkan saya dan banyak ibu muda untuk bertemu dan mengenal sosok Ibu Atalia Kamil dari dekat. Menyimak kisah perjuangannya saat menjadi ibu muda di negri orang, menemani sang suami menyelesaikan studi, sembari membesarkan seorang anak dan jauh dari kerabat. 

Satu kali perjumpaan indah yang menjadi energi kebaikan hingga saat ini. Jika saya ingat momen itu, momen yang sangat mahal bagi hidup saya dan mungkin semua ibu yang datang di hari itu, kemudian melihat takdir hidup Ibu Atalia hari ini, sungguh campur aduk sekali rasanya. Terlalu banyak rasa dan rindu yang tiba-tiba menyeruak.

Bu, mungkin Ibu sudah lupa dengan momen hari itu karenanya sudah berjalan 8 tahun yang lalu, karena sejak hari itu Ibu pun semakin banyak kegiatan dan amanahnya. Semakin bersinar dengan semangat kebaikannya. Namun, lewat tulisan ini.. tulisan yang mungkin belum tentu sempat Ibu baca langsung di tengah jutaan rasa terima kasih masyarakat Bandung, Jawa Barat, Indonesia, bahkan di pelosok dunia. Izinkan saya, lewat tulisan ini, menyampaikan kesaksian bahwa begitu besar CINTA yang Ibu bagi untuk setiap warga yang Ibu temui. Termasuk di hari itu, di hari yang sangat bersejarah bagi kami, para anggota Komunitas Ibu Muda Indonesia. Komunitas yang sudah berkembang dan tumbuh dengan banyaaaak sekali cerita di dalamnya. 

Terima kasih sekali Bu, sudah menyempatkan waktunya, sudah memberikan perhatian, dan dukungannya sehingga komunitas ini hadir dan hidup di tengah masyarakat. Merangkul banyak Ibu, bahkan berbagai wanita dengan latar belakang dan statusnya. Kami bertemu di wadah ini saling berbagi beribu cerita, saling menguatkan, saling mengingatkan untuk mau tetap kuat dan berjuang dalam kebaikan yang paling mampu dilakukan.

Tidak ada rekaman yang lengkap tentang apa-apa yang Ibu sampaikan pada hari itu, tapi cintanya Ibu, ketulusan dan kehangatan Ibu, menyesap meresap pada kenangan indah kami, Bu. Menjadi bara dan juga cinta yang kami bawa hingga hari ini.

Maka, bagi saya pribadi, saya paham dan sangat mengerti alasan berjuta cinta dan doa yang meyeruak begitu dahsyat di tengah duka dan kehilangan yang Ibu rasakan. Bu, entah berapa banyak amal jariyah Ibu dan Bapak yang tertanam di bumi Allah ini, saya salah satunya yang merasakan CINTA, kelembutan, dan kehangatan seorang Ibu di momen hari itu. Hanya satu hari, pun hanya beberapa jam kebersamaan dengan Ibu, namun energinya terus mengalir hingga sekarang.

Sungguh memang hanya Sang Pencipta yang berkuasa dengan alur ceritanya yang megah memuliakan Ibu dan Bapak atas  segala kebaikan Ibu Atalia dan Bapak RIdwan Kamil selama ini. 

Terima kasih Ibu, sudah mendidik dan membesarkan Eril menjadi pribadi yang mulia, seorang teladan yang kepulangannya pun menjadi keabadian dan melahirkan beribu pesan. Ia tumbuh dan besar dari orang tua luar biasa, orang tua yang begitu lembut mengenalkan dan mengajarkan bentuk CINTA yang istimewa. Kami selipkan sepenuh doa dan berjuta cinta untuk Bapak, Ibu, dan neng Zara… Kebaikan yang begitu besar akan Allah siapkan untuk Ibu sekeluarga. Aamiin.

Saya, mewakili ratusan anggota yang sudah belajar berjuang bersama di sebuah wadah yang Ibu resmikan 8 tahun yang lalu, KIMI, Komunitas Ibu Muda Indonesia, menghaturkan rasa terima kasih yang tak terkira jumlahnya. Kami akan berusaha sedaya upaya kami untuk mau terus bangkit dan berbenah menjadi penerus penebar CINTA. Dimulai dengan menerima dan mencintai diri sendiri, keluarga, hingga orang-orang yang hadir dalam hidup kami.

Salam hormat Ibu Atalia, Cinta bagi banyak hati.

Grand Launching Komunitas Ibu Muda Indonesia, 21 Desember 2014 – Hotel Kedaton Bandung

Memenangkan Pertandingan

Udah lama sekali saya tidak update blog yang katanya mau rutin menulis tiap hari sejak tanggal 6 Mei dalam rangka #60hari33Asrifit hahahaha LEMAAH!

Things happen, dan saya masih belum cukup berhasil mengelola emosi atas kejadian sulit yang mendadak hadir. Masih belum cukup kuat juga memutar roda kekonsistenan. Tapi yaaah, ini juga yang akan selalu dievaluasi dan saya coba perbaiki setiap waktunya. Jadi mari kita lanjutkan lagi langkah ini, mari kita teruskan lagi niat baik ini. Tetap menulis, berbagi kisah tentang rasa sehari-hari yang bisa jadi di masa yang akan datang menjadi pengingat untuk diri sendiri juga yang rentan lemah dan patah arang ini hahaha..

Kenapa judulnya Memenangkan Pertandingan?

Bisa dibilang, selama kemarin off mandeg pause gak menulis.. saya bergulat dengan bertanding melawan kebaperan diri sendiri. Yang perlahan merasa lemah, gak berdaya, dan merasa gak punya apa-apa (DIH MALES GAK SIH DENGER KATA INI, yakalii gak punya apa-apa wooyyy) karena kejadian yang tidak sesuai dengan rencana. Karena keinginan yang tidak bertemu dengan kenyataan. Masih dongg yaah goreng adatnya teh wkwk.

Tidak sekali dua kali dalam hidup kita akan diasah oleh ketidaksempurnaan jalan cerita, kita akan diuji oleh hal mendadak yang kita tidak merasa siap untuk menghadapi dan menerimanya. Meski itu sering terjadi, dan kita berkali-kali bertemu kecewa dan sakit hati, toh pada dasarnya kita tetap baik-baik saja. Meski hidup menghimpit hingga terasa sangat sempit dan pahit, tapi kita tetap hidup, tetap bisa tertawa meski ada derita. Tetap dikarunia rasa kenyang dan tunduh (ngantuk-red). 

Kesalahan saya yang membuat langkah terasa berat dan hati menjadi sesak adalah ketika saya merasa harus bertanding dengan sesuatu di luar diri saya. Wah ternyata setelah dipikir-pikir yaa ngapain amat. Bertanding dengan teman dan pencapaiannya. Bertanding dengan seleb dengan keindahan di layar kacanya. Bertanding dengan harapan dan ekspektasi orang lain. Bertanding dengan hal-hal yang sepenuhnya di luar kendali kita, sungguh ngapain amat. 

Yang bisa kita lakukan kan sebetulnya bertanding dengan diri kita yang kemarin yah? Mengajak, menuntun, berdamai dengan apa yang sebelumnya kita risaukan menjadi sesuatu yang akhirnya kita pahami dan mengerti kebaikannya dimana. Yaasss tulisan sebelumnya saya menulis tentang pentingnya menghargai pencapaian-pencapaian kecil dan sederhana yang dilakukan diri sendiri, dan itu tuh yaah abis nulis itu BAAAMMM ujian prakteknya langsung aja di depan mata ahahaha..

Saya sadar memenangkan pertandingan bukan untuk siapa-siapa dan bukan untuk mendapatkan apa-apa. Memenangkan pertandingan adalah sebuah usaha dari diri kita untuk mau terus bergerak dan maju ke depan, berganti posisi dari suram menjadi sumringah. Berpindah koordinat dari merasa hampa menjadi penuh cinta. 

Tentu bukan hal mudah karena dunia tempat kita bertanding adalah dunia yang sangat bising, rusuh, dan riuh.. Maka, ada kalanya untuk memenangkan pertandingan justru dengan tidak dalam keramaian. Memenangkan pertandingan dengan berdamai bersama jutaan kecamuk dalam dada, untuk selanjutnya kita urai menjadi detak-detak pencipta bahagia.

Terima kasih Asri sudah kembali mau meneruskan tulisan #60hari33Asrifit ! Mari kita kembali telusuri lagi megahnya karunia Allah, terseraknya berkah dan rasa bahagia. WE ARE LOVED!

Pencapaianku Hari Ini

OMG skip banget gak posting 3 hari huhuhuhu. Inget sih sebenernya buat posting harian tapi energikuuuu wassalam πŸ˜­πŸ‘‹πŸ»

Gapapa yaa Gapapa. Mari kita teruskan lagi perjalanan #60hari33Asrifit ini. Jangan sampe karena gagal posting tiap hari, malah jadi mandeg pundung gak diterusin, kan dodol itu sih namanya. Kebiasaan lama mari kita coba perbaiki. Jangan sampe cuma karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Oke, hari ini mau cerita apa? Cerita tentang yang namanya PENCAPAIAN. Bisa dibilang ini ada kaitannya sama euphoria mantengin speechnya Taylor Swift di momen NYU Graduation, dan juga postingan beberapa teman yang menunjukkan hasil jerih payahnya dalam bekerja dan berbisnis. Wah Bun, hati kotorku sih auto insecure kalau liat yang ginian tuh 🫠

Nah jangan dong ah sekarang mah hehe. Everyone has their own story. Ketika kita menyimak ceritanya orang lain, jangan sampai kita robek-robek kertas cerita kita sendiri. Yang dimana sama kok berharganya. Sama-sama punya nilai penting, selama itu tidak dibandingkan. Karena duh plis banget, hidup masing-masing kita bukan buat dibandingin. Bukan kan yah?

Jadi di postingan kali ini aku pun ingin berbagi pencapaianku hari ini. Pencapaian yang mungkin sangat bersifat domestik, tidak di atas panggung, tidak melibatkan publik atau orang banyak. Yaitu melatih diriku sendiri untuk kembali legowo menerima keadaan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Tidak sesuai yang sudah direncanakan. Heu.

Hari ini harusnya aku kerja shift weekend di klinik di daerah Buahbatu, sebut saja Banteng Dental. Eh namun takdir berkata lain, karena Kinanti yang udah 3 malam kena demam tinggi, belum juga reda keluhannya, membuat aku kayaknya harus bawa dia ke UGD. Precaution untuk gejala yang lebih parah lagi, zaman sekarang parno gak sih Bun kalau anak sakit lebih dari 3 hari tuh huhu..

Dan seharian ini yang tadinya mode kerja, jadi mode ngurusin anak dan rumah. Oiyaa, salah satu faktor yang bikin posting harian mandeg adalaaaah Teteh ART udah ga masuk semingguan ini huaaaa, renyek Kak kita punya badan, hati, dan pikiran πŸ˜«πŸ™πŸΌ

Jadi bisa dibilang hari ini lumayan nyampe ke puncak pergulatan emosi dan lelahnya hati. Satu sisi pengen banget deh teriaaak ngajerit maratan langit, tapi di sisi lain aku harus jadi bidadari yang menenangkan hati anak untuk kooperatif menjalani pengobatan untuk kondisi sakitnya. Dan aku tuh yaa penyakitnya kalau lagi terhinpit kayak gini, malah kumat overthikining dan mikirin hal-hal tidak krusial lainnya. Asliiii susah payah bangeeet hari ini tuh buat bisa tenang dan PERCAYA bahwa ini hanya hari buruk, bukan hidup yang buruk.

Ada lah tadi momen sungguh emosi jiwa dan mood ancyoooorrr berantakan, padahal padahal.. hari ini juga Kanin tuh ulang tahun 😭😭😭 Kan sungguh bergejolak yaah perasaan kawula Bunda ini….

Entah kekuatan dan keajaiban dari mana, aku bisa ngatur pikiran untuk fokus sama satu demi persatu urusan, dan melepas urusan lain yang sekiranya gausah dipusingin semuanya di waktu bersamaan. Fokus jadi ibu peri dulu buat Kinan, bikin Kinan nyaman dan percaya untuk mau minum obat dan cukup makan.

Kemudian nyicil satu persatu kerjaan rumah biar pemandangan gak bikin senewen mata dan mood tambah berantakan. Lalu tidak lupa makan dan tidur siang dulu biar bisa agak pause dengan kesemrawutan hari ini.

Sorenya aku seperti dapet secercah kekuatan baru untuk melihat hari ini tidak seburuk itu, bahwa kenyebelinan hari ini adalah bagian sedikiiiit dari hidup yang sisanya jauh lebih banyak kata baik-baik saja.

Alhamdulillah Kinan bisa masuk semua obat dengan diselipi adegan simulasi mindful breathing ala ala biar gak kemuntahin lagi obatnya. Soale tadi siang dia dua kali muntah ketika makan obat, yang membuat dia traumatis liat obat karena takut muntah (lagi). Dan ada makanan yang masuk meski gak banyak.

Menjelang Maghrib akhirnya ada momen khusus kasih surprise ulang tahun dengan lagu Jamrud buat Kanin hahaha.. Meski yaaa sempet banget itu Bapaknya skip gak kepencet play video pas mau ngerekam momen. Ampuun dah..

Kanin yaa cuma mesem-mesem happy ajaa khas anak mau ABG dikasih surprise. Seneng tapi sok cool gitu yakaan. Dan aku merasa berhasil karena ngasih “birthday cake” nya berupa croissant dari kafe deket rumah, yang dimana itu udah pasti dia makan (dan diabisin sendiri) daripada birthday cake normal.

“Bun, kok tau sih kalau aku gak suka cake yaang cake cake gitu…”

Waah kok yaa aku bangga benerrr rasanya tau yang anak mau dan suka πŸ₯Ή *receh tapi mewah

Fyuuuhh.. what a day sih. Hari yang sebenernya belum sepenuhnya berakhir karena Kinan masih kebangun-kebangun gak enak tidur, yang akhirnya bikin aku pun guling-guling gelisah memikirkan banyak hal (lagi).

Tapi karena itu lah tetiba ada kekuatan untuk menulis di sini, nulisnya juga panjang bener yaah ini. Tulisan tentang pencapaianku hari ini sebagai seorang IBU β™₯️

22 Mei 2012. 10 tahun yang lalu, aku dipercaya oleh Allah, dan dipilih oleh Kanin anak pertamaku sebagai ibunya. Perjalanan yang sungguh TIDAK MUDAH 😭😭😭 Banyak aral, banyak denial, banyak sebalnyaaa selama proses belajar menjadi ibu. Alhamdulillah Allah ‘aza wa jalla memang udah paling TOP LUAR BIASA Maha Ada dan Maha Menuntun nya. Sampe aku di titik ini. Titik dimana aku tetap mau berjuang menjadi ibu yang baik. Ibu yang berani bangkit dari kesalahan. Ibu yang mau berdamai dengan ketidaksempurnaan. Ibu yang bekerja keras untuk menerima keadaan. Ibu yang bisa merasa puas dan berbangga hati atas pencapaian-pencapaian kecil hari ini.

ALHAMDULILLAH! Bahagia sukacita untuk kita semua β™₯️β™₯️β™₯️

Day keberapa dah hari ini hahaha #60hari33Asrifit

Mendefinisikan Diri Sendiri

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, wajar kalau kita bisa lebih kenal dengan diri kita. Iya gak? Atau masih blur-blur aja hehehe.. Itu juga wajar sih, karena gak semua dari kita punya akses yang cukup untuk bisa mengenal dirinya lebih dalam dan komplit.

Melalui tulisan hari ini, aku ingin mengajak kamu untuk menelaah sejenak tentang dirimu sendiri, jadi jika ada pertanyaan, Siapa Kamu? Jawabannya gak melulu aku adalah hamba Allah, anaknya si Fulan, istrinya sidia, atau ibunya anak-anak. Mari kita belajar untuk medefinisikan diri sendiri. Biar apa? Biar kita semakin sadar bahwa sebegitu berharganya kita ada di dunia ini. Karena kamu cuma satu, aku cuma satu. Gak ada tiruan yang sama persis dengan diri kita sendiri. Mari kita mulai!

Kalau aku sih, enaknya memang memulai dari siapa kita dilahirkan, bagaimana kita dibesarkan, kemudian tumbuh sebagai anak keberapa di keluarga. Perjalanan tumbuh kembang dari sejak kita dalam kandungan hingga masa dewasa. Tentang bagaimana perkembangan Triune Brain (Otak Reptil, Otak Limbik, Otak Neokorteks) berproses sepanjang masa hidup kita yang dipengaruhi oleh genetik dan pola asuh. Mengenali hal ini aja udah sangat seru dan gak akan ada habisnya.

Kemudian ketika kita semakin menyatu dengan dunia, bertemu banyak karakter lingkungan, kita pun akan semakin dikenalkan dengan banyak keahlian, pengetahuan, dan keterampilan yang membentuk kita menjadi memiliki ke-khas-an tersendiri. Aku sih yakin, jalan hidup setiap orang itu pasti beda. Ini yang bagiku sangat menarik, dan hal ini pula yang berkontribusi cukup banyak menjadikan setiap individu otentik. Maka penting untuk kita mau mengenal dan memahami alur cerita hidup kita sendiri.

Sehingga dengan bertambahnya usia, kita semakin mantap dengan fungsi dan tujuan kita dilahirkan ke muka bumi ini untuk apa. Tapiiii, kalau berbicara tentang kebermanfaatan, gak usah dulu yaa membayangkan hal-hal besar seperti harus jadi Presiden, Dokter, Lawyer, atau yang sekarang lagi marak sih, jadi Influencer alias KOL (Key Opinion Leader) di media sosial. Bukan terbatas hanya itu saja. Momen dimana kita semakin spesifik mendefinisikan diri kita sendiri, dan mengoptimalkan potensi dan kelebihan yang hanya kita punya, adalah saat dimana kita akan mampu sangat bermanfaat untuk sekitar kita.

Oyaa, pagi ini saya membaca sebuah postingan di Instagram dari akun Edward Suhadi, tentang seorang mediocre. Apa sih mediocre itu? Medioker biasa diartikan sebagai orang yang biasa aja, tidak memiliki sesuatu yang spesial. Sekumpulan orang yang tidak cukup ambisius dalam mengejar karir dan pencapaian dalam hidup. Belakangan ini banyak pihak yang merasa puas dan bangga menjadi seorang medioker, which is fine.. dan meng-embrace kelebihan sebagai medioker itu sendiri.

Aku suka banget tentang bagaimana Ko Edward di postingannya itu memberikan opini geliat medioker yang sedang marak di linimasa, dengan berbagai postingan dan memenya. Poin yang disorot Ko Edward adalah, gapapa kok jadi medioker dalam hal karir atau pencapaian hidup, asal jangan mau jadi medioker dalam hal relationship. Kita bisa mencoba jadi ayah yg baik, ibu yg bertanggung-jawab, anak yg berbakti, saudara yg mendukung, sahabat yang bisa diandalkan, dan rekan kerja yang bisa jadi teladan, ulasnya di postingan tersebut. Tulisan lengkap langsung klik postingannya di sini yaa.

Naah, buat aku pribadi… tentang bagaimana akhirnya kita semakin pandai mendefinisikan diri sendiri, tujuan utama nya sih biar kita gak jadi beban untuk orang terdekat kita. Dampak yang sepertinya gak begitu keliatan tapi berpengaruh banyak pada dunia ini (wuidih vierra gak sih sampe joss langsung bawa-bawa dunia hahaha), ketika kita mampu menempatkan diri di lingkungan terkecil dan terdekat, sebagai anak, sebagai kakak/adik, sebagai pasangan, sebagai orang tua, sebagai sahabat, dan sebagai rekan kerja. Coba deh perhatikan sekitar kita, kalau kita nemu orang yang pintar membawa diri, terlepas apapun karir, jabatan, atau kegiatannya sehari-hari, mereka itu selalu effortless ngasih energi positif dan semangat berkebaikan yang luar biasa.

Mendefinisikan diri sendiri adalah kuncian agar kita mampu menempatkan diri, mampu menunaikan fungsi dan kebermanfaatan kita di dunia ini. Gak harus besar dan terkenal, tapi bisa bikin orang sekitar merasa aman dan nyaman, wah itu aja udah jauh lebih berharga dari kata lumayan. Smoga kamu yang kebetulan baca tulisan ini, dikasih kekuatan dan semangat untuk terus mengenali diri yaa. Yuk ah berjuang barengan!

Day 13 #60hari33Asrifit

Memindahkan Kesemrawutan

Weyyy kemarin aku skip posting tulisan hahaha. Karena udah terlalu nyaman di kasur ninaboboin Kinan, rasanya males banget buat bangun lagi, buka laptop untuk nulis. Atau sekadar buka hape, nulis di aplikasi WP yang ada di hape. Mau nulis apa nya juga bingung mau nulis apaan hahaha..

Tapi hari ini aku gak bingung mau share tulisan tentang apa, dan kayaknya emang harus maksain nulis sebelum jam sore atau malam menjelang. Mepet banget Boss waktunya. Energi udah sisa-sisa tenaga. Waktunya juga kadang mendadak dibajak sama Kinan buat nemenin dia maen.

Oke, mau bahas apa kita hari ini? Tentang menulis di buku harian/agenda. Kegiatan ini sebetulnya udah rutin aku kerjain dari sejak dulu dulu duluuuu banget, cuma ada momennya off atau nulis sekenanya aja. Ritual beli buku agenda tahunan udah jadi habit yang aku pun sampe lupa mulainya sejak kapan, karena se-lama itu. Di rak buku pun numpuk buku agenda dengan oretan ini itu, impian dan rencana yang banyaknya cuma mandeg di tulisan doang wkwkwk.

Sejak 3 tahun ke belakang, rutinitas menulis di buku agenda udah lumayan intense lagi dan lebih rapi, utamanya tahun ini. Lebih ter-struktur apa yang mau dan harus ditulis. Jujur aja, tahun bertambah tahun, keinginan untuk bikin rencana semakin berkurang. Mungkin karena udah eneg sendiri kali yaa tiap bikin rencana, ujungnya hanya wacana hahaha. Jadi aku memilih untuk belajar lebih mindful di setiap harinya daripada ngoyo ngejar rencana tapi hati tetep aja hampa *tsaelah…

Buatku, punya rutinitas menulis di buku agenda selain satistfying, relaxing, part of healing, kegiatan ini membantuku memindahkan kesemrawutan yang ada di kepala. Pusing dan capeeek banget kalau semua-semua cuma ngandelin ingatan di kepala. Pikiran dan perasaan bawaannya jadi lebih mudah gelisah dan berat aja gitu kerasanya.

Dengan rutin menulis (atau untuk beberapa case jatohnya jadi kayak journaling), aku terbantu untuk lebih clear melihat masalah. Semua yang semrawut di kepala lebih terlihat jelas kategorinya kayak gimana. Mana yang emang penting diberesin, mana yang bisa ditunda, mana yang gak perlu dipusingin amat. Termasuk di dalamnya cicilan atau bayaran rutin yang harus diceklis di awal bulan, atau hutang piutang yang belum tunai. Duh, kalau semua cuma disimpen di kepala sih BHAAY!

Buku agenda/harian adalah asisten pribadi yang membantuku mengingat dan menyemangati untuk punya tujuan hari ini, hari per harinya. Liat buku agenda ini pun terasa lebih ringan ketika aku sudah berdamai dengan banyak keinginan. Yaaa bertambahnya usia dan seiring banyaknya pengalaman hidup, aku jadi tau mana yang emang perlu aku urus dan kejar, mana yang tidak.

Smoga kita semua semakin apik yah ngurusin hidup kita sendiri. Semakin fokus menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajiban untuk diselesaikan. Dan berbanggalah pada dirimu sendiri ketika kamu selalu punya kemauan untuk mengurai kesemrawutan hidup, baik yang memang terkondisikan ada, atau yang tanpa sengaja di-ada ada :)))

Day 12 #60hari33Asrifit

Nyaris..

Pernah gak mengalami kejadian yang dinamakan NYARIS! Dalam artian terselamatkan dari kondisi marabahaya dan menyeramkan. Pasti pernah, bahkan sering.

Hari ini aku mengalami itu. Hampir ajaa nyaris dodol ngebiarin pintu mobil kebuka semaleman karena kurang fokus beberes nurunin barang dari mobil setelah seharian beraktifitas. Kebayang gak itu pemandangan dari luar rumah kayak apa. Ya Allah… Horror amat 😭

Sepertinya sih yaaa, banyak sekali keajaiban yang dikasih Allah untuk menjaga dan menyelamatkan hidup kita. Lebih banyak jumlahnya daripada kejadian apes atau sial yang kita hadapi.

Kalau udah dapet rejeki dari kata nyaris, lututku auto lemes sih Kaak. Gak kebayang kalau kejadian sebaliknya yang jadi takdir, dahlah..

Semacam di tahun Oktober 2015, ketika aku gak sadar sedang mengalami pendarahan hebat, aku nyaris lewat gak bernyawa lagi. Untungnya Mama mampir ke rumah tanpa direncanakan dan gercep boyong aku ke UGD.

Banyak sekali NYARIS yang Allah anugerahkan untuk hidup kita. Banyak. Itu artinya kita memang masih berfungsi dan punya arti untuk terus memperbaiki diri untuk hidup di dunia ini. Untuk lebih bersemangat mengucap syukur. Untuk lebih mawas menjaga diri dan menjaga hidup.

Alhamdulillah. Puji syukur kehadirat Allah.. Smoga kita semua dikasih keselamatan lahir bathin, dunia akhirat. Aamiin!

Day 10 #60hari33Asrifit