Kenapa Healing Class Direkomendasikan

Lantas di mana letak salahnya kok ada manusia yang mampu berdamai dengan masalah dan ujian, tapi banyak pula yang gagal paham dan menepi kejauhan? Kalau memang ALLAH tidak memberi beban melebihi kemampuan kita, kenapa kita seperti kepayahan mengarungi kehidupan? Kok rasanya kesusahan ini tak berujung?



Aduh ini kalimat cukup nyesek ya? Kok bikin penasaran ya? Kok gue banget yaa haha ~
Sebelum akhirnya saya kepengen banget baca buku Soul Healing Therapy, saya dihadapkan pada kondisi bisnis yang stuck bangeeeet nget nget nget padahal sebelumnya lancar jaya dan saldo rekening aman sentausa. Pas saya jatoh, liat rekan sejawat lainnya makin mencuat melesat bikin sirik beraaaat.
Eungap. Sesak nafas rasanya.
Saya sempat “marah” pada keadaan. Menyimpan sedikit kesal pada Tuhan. Perasaan kerja udah edan, pengorbanan udah dilakukan. Tahajud, dhuha, infaq, sodaqoh, dan membantu sesama udah. Tapi kenapa doa belum juga ketemu jawabannya. Hidup makin sempiiiit aja rasanya. Mulai kan sombong dan perhitungan sama Tuhan. Amit-amit deh itu kelakuan hahaha. Mau ngapa-ngapain bawaannya males dan emosiiii aja jadinya.
Pas “dipaksa” baca buku Soul Healing Therapy ama Bu Nani Kurniasari, brand owner NKsyari, ada kalimat di atas yang cukup nusuk dan bikin penasaran. 
Iya.. iya iya sih kenapa kok tetiba suka ngerasa hidup gini-gini amaaadddd??? Pake D amat nya juga biar nendang! Padahal sebenernya masih banyak yang bisa disyukuri tapi kok yaaa rungsing a.k.a kacau terus pikiran. Hayati butuh piknik…
Dan di buku itu dijelaskanlah bahwa ada yang namanya PROSES dan KONSEKUENSI DOA.



Beuh. Apapula itu.
Pertama, doa yang baik dan cepat sampe ke Tuhan Yang Maha Mengabulkan, adalah doa dari jiwa yang tenang. Haduuuh tuh kan jiwa yang tenang lagi kyaaaaa susah banget gaes punya jiwa yang tenang itu. Prosesnya panjaaaaang dan berliku. Bentuknya juga abstrak gatauuuu. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang “menyerah” pada kuasa Tuhan. Bisa menyelaraskan setiap emosi negatif yang ada dan mengetahui dan mengakui setiap ketakutan yang paling dalam pada diri kita. Jiwa yang tenang dan eling akan lebih enak saat kirim doa pada Sang Kuasa.
Wahai jiwa yang tenang.. Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS Al Fajr 27-30)

Kedua, harus siap dengan segala konsekuensi doa. Konsekuensi doa ini hadir dalam bentuk masalah.

Jadi selama coaching sama Teh Irma, tiap kali ngeluh dan protes sama hidup, Mamak cuma bilang dengan entengnya, “Coba yaaa diinget lagi doa-doanya…”
Glek. Jlebbb. Keselek!
Langsung lemes.
Doa ingin jadi istri shaleha yang setia mendampingi suami. Jadi ibu yang baik.

Doa ingin keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Doa ingin diangkat derajatnya jadi ummat yang mulia.

Doa ingin dibersihkan hartanya dari yang haram dan syubhat.

Doa ingin bisa membahagiakan orang tua dan lingkungan sekitar.

Doa ingin hidup lebih baik terus lebih baik setiap harinya.

Doa… doa gue dipikir-pikir cliche tapi yaaa konsekuensinya yaaa gakan mudah lah pastinya πŸ˜­πŸ˜‚πŸ˜­πŸ˜‚πŸ˜­πŸ˜‚

Belum lagi ditambah doa pengen bebaa hutang dan jadi horang kayah. Punya penghasilan ratusan juta. Bisa bangun sekolah gratis dan menggerakan sejuta ibumuda. Whaaaaat doa lo luarbiasaa. Gak sebanding sama usaha dan kondisi jiwa 😭😭😭
Tareeeek napas dulu Sis. Eungap bangeeet inih.
Tiap inget doa yang udah “direngekin” sama Allah dan bandingin sama kelakuan, langsung istighfar. Ya ampuuun minta semprot dulu beauty water biar segeerr huhu. Aerr putih mana aerrr putih… malu banget liat kelakuan sendiri. Hiks. 
Satu tahap hidup yang berhasil kita naiki ketika kita sadar bahwa setiap yang terjadi adalah ulah diri sendiri. Masalah yang datang sebenarnya nyuruh kita bangun. Woooi itu banyak banget yang kudu dibenahin dalam diri lo. Allah mau  ngasih nih apa yang lo minta tapi itu benerin dulu hatinya. Siapin dulu mentalnya. Biar lo gak makin belingsatan. Biar Allah ridho dengan setiap apapun yang Dia kasih dan dia ambil. Biar Allah selalu ridho sama hidup lo. Wakeeee upppp!!!! Lukanya dibuka, diobatin, dibikin sembuh. Penyakit hatinya gosokiiiin, bikin kinclong duluuu. Biar kalau lo dikasih nikmat yang banyak, lo tau cara yang bener untuk tetap berpijak dan gak bertindak seenak jidat.
Haaaahhh. Sesak yaaah. 

Kurang lebih itu yang selama ini didapat sepanjang baca buku Soul Healing Therapy dan ikut kelas Healing. Dibelek matanya untuk melihat indahnya proses ketika Allah ingin mengabulkan doa kita. Kayak mau lahiran. Sakiiiit banget nunggu pembukaan. Sampe kadang kudu diinduksi dulu dua kali baru keluar deh anugerah Tuhan paling seksi. Seksi soalnya pas keluar belum dibajuin. Garing.
Setiap doa ada proses dan konsekuensinya. Siap-siap ajaaa.
Jadi kalau tiap hari ada aja masalah yang harus dihadepin yaaa dimamam ajaa. Vitamin Sis biar siap jiwa raga ketika Allah kasih yang kita semua minta saat doa. 
Tareeek napas dalaam. Keluarkan perlahan…
Tenang… tenang… maka lo MENANG

Semoga bermanfaat yaaaw. 

Selamat mengingat kembali doa yang udah diminta dan menerima konsekuensinyaaah! Kalau bener-bener gak ngerti sama diri sendiri harus digimanain, gabung yuk di kelas healingπŸ™‚

Salam hangat penuh semangat,

AF

part of IBUMUDA Indonesia 😚

Tentang IBUMUDA Indonesia

​Malam itu di sudut kota Bandung. Di antara tumpukan kosan dan kontrakan Sekeloa yang semakin padat, saya dan dua sahabat teman curhat sedang membicarakan strategi bisnis untuk menguatkan ikatan secara personal dengan customer pada sebuah brand yang kami buat namanya *KAMA*. Agar lebih loyal, dan semakin rajin belanja gamis di toko kami. Hahaha materialistis banget.
Akhirnya tercetuslah acara Arisan IBUMUDA sebagai wadah bagi kami mengumpulkan para customer dan calon customer untuk saling berbagi kisah dan cerita, serta saling menguatkan. Bandung, 11 Desember 2013 saya bertemu dengan 20 orang ibumuda dari berbagai latar belakang. Ada yang memang saya kenal sebelumnya, ada yang baru kenal dan memang daftar via sosial media. Belum pernah ketemu sebelumnya.
Hari itu hari yang cukup bersejarah. Hari pertama bagi saya untuk mengenal jenis hidup yang berbeda-beda dari setiap sudut cerita para ibumuda. Sebenernya sih nama IBUMUDA sendiri hanya simbol asal wkwk. Biar gemes aja gitu dengernya. Sekaligus rasa prihatin saya dengan konotasi ibumuda yang selalu jadi sasaran predator gakjelas di luaran sana. Mudah-mudahan ibumuda yang ini mah shaleha semua terjaga semuanya yaaa Aamiin.
Dari awal anggota IBUMUDA sangat beragam. Single, newlywed, senior, senior banget juga ada. Ibumuda yang masalahnya gitu doang dan gitu banget juga ada. 
Tahun pertama perjalanan komunitas ini diisi dengan saling mengenal satu sama lain terutama bagi yang baru kenal. Mulai curhat satu persatu anggotanya, dan dari sesi curhat itu lah tak terasa kami semakin dekat. Saya pribadi merasa semakin kaya akan ilmu dan rasa syukur. Bahwa ternyata ada yang hidupnya lebih menyakitkan daripada yang saya alami. 
Alhamdulillah pada tanggal 21 Desember 2014 komunitas ini dikukuhkan secara resmi oleh ibu walikota Bandung, Teh Atalia Kamil. Member pun bertambah, tidak hanya di Bandung. Kota Bogor dan Jakarta pun sudah mulai ada. Tapi di tahun kedua saat itu kegiatan malah kurang terarah hehehe. Saya nya sih yang salah. Wara wiri gak jelas sebenarnya mau ngurusin apah hahaha.
Sempet mikir, apa bubarin aja yaah. Berat gini ternyata pegang komunitas πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Tapi karena dorongan dan support dari teman-teman juga komunitas ini tetap bertahan dan masing-masing di kota nya tetap rutin mengadakan pertemuan dan menjadikan sesi arisan sebagai sesi lepas lelah dan curhat-curhatan.
Saya masih ingat doa saya di awal membuat komunitas ini. Yaitu ingin menggerakkan 1 juta ibumuda Indonesia untuk memiliki hidup bahagia dunia akhirat. Hahahaha berat emang doanya. Konsekuensinya juga beraaaat. Berkali-kali saya menghadapi konflik bathin untuk komunitas ini. Terusin gak yaa. Gedein gak yaaa. Karena saya sendiri belum bener ngurus apa yang ada di rumah. Ini sok sokan mau gerakin 1 juta ibumuda. Istighfar Ukhti πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Makanya pergerakan komunitas ini senyaaap sekali. Karena saya nya sendiri masih meraba-raba mau gimana dan harus digimanain buibu ini.
Kejadian demi kejadian dan curhat demi curhat membuat saya memilih untuk tidak berharap banyak dan berkonsep hebat. Saya akan besarkan komunitas ini sebagai tempat yang nyaman untuk para ibu *merebahkan badan*. Saya ingin di komunitas ini kita berani mengakui rasa sakit dan jadi diri sendiri, sekaligus menguatkan. Saya ingin melalui komunitas ini kita tau betul siapa diri kita dan apa yang kita mau. Belajar untuk menerima dan bersyukur dengan tidak membanding-bandingkan hidup satu sama lain.
Karena itu yang selama prosesnya saya rasakan. Bertemu dan berbincang dengan satu ibu dan ibu lainnya. Ujiannya beda-beda dan kadang mereka hanya butuh *telinga yang siap mendengar* tanpa mengeluarkan judge, paling dikit lah yaaa saya lemparin bakiak hehe.
Biar waras.

Biar melek.

Biar kalau memang ada luka membusuk yang selama ini kita tutup, bisa sembuh.
Allah lah tempat segala berawal dan bermuara. Apa yang terjadi di hidup ini udah Allah atur serinci mungkin. Rezeki tidak ada yang tertukar. Begitu juga dengan cobaan.
Semoga dengan adanya komunitas ini, kita bisa saling menguatkan dan mengingatkan.
Terima kasih untuk setiap kepercayaan sudah bergabung dan aktif di komunitas ini.
Jangan takut.

Jangan merasa sendiri..

IBUMUDA Indonesia ada untuk menemaniπŸ™‚

Asri Fitriasari

Part of IBUMUDA Indonesia 

Tarik Napas Dalam

Hari ini. Lebih tepatnya dalam satu minggu ini, saya cukup rungsing. Kalau dijelaskan apa penyebabnya, kurang paham juga. Pokoknya mah rungsing ajah. Semuanya bikin emosi dan bikin saya uring-uringan sama suami. Duh, kasian si Aa. Mungkin ini efek PMS juga. Kasian juga sih kalau PMS disalahin terus haha. Engga, ini emang lagi ada yang korslet dari dalam diri saya. And I have to fix it.

Hari ini. Puncaknya hari ini. Menjelang sore air mata netes aja terus-terusan. Dada sesak kayak ada jin mau keluar. Kayak yang tau aja gimana sistematika jin mau keluar. Hahahaha (((sistematikaaa)))

Saya tarik napas dalam. Istighfar.

Β 
Dan ada banyak rasa marah yang sembunyi di dalam hati. Pada beberapa kejadian. Terutama pada diri sendiri. Pada masa kemarin yang penuh penyesalan. Pada hal-hal yang sedang ingin saya perbaiki. Saya teliti satu demi satu titik. Banyak kekeliruan dan ilusi yang saya kejar selama ini. Hingga akhirnya saya sadari bahwa gak pernah mudah untuk berubah.
Poin pertama yang saya dapat adalah, susah kan yaah ngerubah diri sendiri juga, jangan maksa orang lain berubah untuk diri mereka, karena mengakui salah itu pahit. Mengakui salah itu sakit. Apalagi maksa orang lain berubah untuk kita. Jangan. Kita bukan Tuhan.

Lalu saya tarik napas dalam lagi.Β 

Muter waktu ke masalalu, mencoba memaafkan dirisendiri atas kesalahan-kesalahan yang sudah saya perbuat. Rasanya lebih pahit dan lebih sakit daripada memaafkan orang lain. Kenyataannya kayak gitu. Kalau memori masalalu yang bikin sakit belum juga hilang, artinya kita belum memaafkan secara penuh keadaan itu. Gak semua orang mau melakukan itu. Kalaupun mau, belum tentu dia bisa. Karena memaafkan itu prosesnya memang rumit. And I know what it feels.

Dan tarik napas dalam lagi.Β 

Saya sadar kalau saya masih hobi sirik sama hidup orang. Masih payah bersyukurnya sama Tuhan. Apa yang Tuhan kasih ke semua makhluknya itu udah sesuai porsi dan usaha masing-masing. Kalaupun saya ngeliatnya, ih-kok-dia-hidupnya-ya-enak-banget-cuma-gitu-doang-tapi-bisa-dapet-ini-ina-itu, saya gak tau di belakang layar orang itu punya kejadian apa aja.

Kayak barusan banget ngobrol di WA sama temen yang lagi naik daun, lagi ngehits deh pokoknya sampe cukup banyak media yang pengen wawancara, pas denger cerita bahwa dia selama hidupnya pernah ngalamin 3x c-section dan 3x kuret dan perdarahan hebat selama 5 bulan, saya langsung diem. Ajegile, ‘digosoknya’ seru banget yaaa. Ogah deh makasih haha 😁

Lalu sebagai pengobat rungsing saya coba surfing kesana kemari di dunia maya. Mantan istrinya Ahmad Dani. Lah bukan itu Sis.Β 

Saya jadi jalan-jalan ke sebuah sosmed sepasang suami istri yang iri-able banget. Alhamdulillah nya saya gak terlarut dalam iri lalu baper. Tumben. Yaa mungkin udah takdir malem tadi saya jadi buka sosmed mereka. Mungkin itu cara Tuhan mau nasehatin saya.

Saya cuma noyor aja kepala sendiri pake gagang sapu. Sadis. Haha..
Saya jadi mikir, dan cukup sedih juga, karena sadar bahwa saya masih sangat jauh jadi istri yang baik untuk suami. Masih suka ngeyel, jarang bikin masakan spesial, gampang lupa, suka lalai, kerjaanya rungsing mulu, gak serius jaga badan, endebre, endebra.. Masih amat sangat sangat sangat jauh jadi ibu yang baik untuk anak saya. Dan terutama, saya masih sangat payah untuk diri saya sendiri. Jadi terlepas saya harus jadi wanita yang baik untuk sosok suami dan anak, saya belum bisa jadi sosok yang baik untuk diri saya sendiri.

Kenapa?

Karena saya sendiri belum memaafkan diri saya Β yang dulu.
Balik lagi ke topik yang tadi kan jadinya.

Masalalu yaudah aja. Semua cerita yang ada di dalamnya adalah bagian yang tidak terpisahkan Β dengan apa yang terjadi sekarang. We’re humans. We do mistakes. A lot. Kedodolan-kedodolan itu harus diterima dan dikunyah pelan-pelan. Enak kok dodol, ada manis-manisnya gitu πŸ˜‚

Well. Sekarang sih udah lebih lega. Udah mulai terang cakrawala. Ceileee cakrawalaaa. Efeknya juga langsung mules dipanggil alam hahaha.
Intinya, kita semua pernah punya salah. Kadang kesalahan yang udah kita buat bikin kita takut bergerak ke arah yang lebih terang. Atau mungkin kita berpikir bahwa kita gak akan menemukan orang lagi yang tetep mau nemenin kita.

Sujud aja yuk.

Kata temen saya, sujud itu seperti kita berbisik pada bumi, tapi yang ada di langit tetep dengerin.

Sujud aja.

Apapun busuknya kita, Allah gak akan kemanaπŸ™‚

Udah gitu aja. Udah kebelet πŸ˜‚

Midnight Sale

“Mas, aku berangkat yaa… Si kecil juga ikut…”

“Kalian mau kemana?”

“Biasa, mau ngejar midnight sale!”

“Haaa wanitaaa.. Yaudah, hati-hati yaaa. “

Dan Anjani beserta putri kecilnya, Kinanti sudah Β duduk manis di bazaar midnight sale yang selalu dua wanita ini nantikan. Sepekan lebih promo besar-besaran ini diadakan. Anjani dan Kinanti benar-benar sudah tidak sabar menahan kantuk untuk mendapatkan diskon yang benar-benar diinginkan, terutama Kinanti yang selalu bersemangat untuk berlari kesana kemari melihat situasi riuh di tengah perburuan setiap malamnya.

Ada yang berbeda pada Anjani, dia tidak membawa segepok uang atau deretan kartu siap gesek untuk melunasi belanjaannya. Midnight sale yang didatangi Anjani hanya bermodalkan sajadah, qur’an, dan mukena.

LOH?

Iya, apa yang Anjani buru bukan berkantong-kantong baju baru ataupun sepatu baru. Kebetulan memang Anjani sedang tidak butuh itu. Tapi… kalaupun butuh, Anjani tetap lebih memilih midnight sale yang ini. Beli baju dan sepatu baru dengan diskon besar tidak harus malam ini, akan selalu ada malam lain untuk berburu diskon. Tapi malam istimewa ini belum tentu ia temukan lagi di bilangan waktu berikutnya.

Apa yang Anjani lakukan tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan pada gebyar midnight sale di toko sebelah. Anjani harus menahan kantuk, menyiapkan kekuatan betis, dan mengantri, bukan untuk bayar tagihan belanja, tapi untuk membuang hajat yang ingin berpisah dengan raga hahaha ~ ribet amat cuna mau bilang ‘ke toilet’ doang..

Midnight sale ini sangat istimewa bagi Anjani. Momen yang ia pilih untuk berlatih mengalahkan diri sendiri, dari rasa malas, kantuk, dan rasa cepat puas dalam mengabdi pada Sang Rabbi. Hanya setahun sekali dan 10 hari saja ia menarik diri dari ratusan hari yang ia habiskan untuk memenuhi kemelut dunia. Anjani berharap ia mendapat diskon yang sangat besar atas khilaf dan lalai yang selama ini dilakukan tanpa henti. Anjani berharap ia mendapat promo menarik dari setiap penyesalan yang mengendap dalam hati. Anjani tau, pada akhirnya toh hidup bukan tentang dia dan dunia ini, tapi tentang dia dan Tuhannya saja. Ia berharap keluar dari ‘pertokoan’ ini, akan ada banyak semangat dan cahaya untuk meneruskan hidup dan selalu kuat menghadapi setiap takdir yang disuguhkan.

Tidak terasa 9 hari sudah perburuan itu dilewati. Rasa bahagia, damai, dan isak tangis mengingat dosa menjadi barang baru yang menetap dalam hati dan memori Anjani. Sesuatu yang bagi Anjani lebih mahal harganya dari tumpukan baju atau sepatu yang seharusnya ia beli. Dalam midnight sale ini, ia paham dan merasakan bahwa ternyata kebahagiaan terletak pada hati yang tenang. Bukan pada barang atau bahkan uang. Dan hati yang tenang ia dapat ketika ia menyatu dengan Tuhan nya, dalam kesunyian lirih dzikir dan juga kekuatan doa yang mengalir dari hati yang terus dibersihkan dengan taubat..

Allahuakbar… Sungguh apa yang Engkau suguhkan di 10 malam terakhir ini begitu luarbiasa. Begitu indah dan membuat jiwa tentram tak terkira.

Dan apapun tentang dunia, menjadi sangat kecil, mudah, dan murahπŸ™‚

“Jadi kamu udah dapet aja dari midnight sale kemarin, Bu?

“Hati yang lebih tenaaaang dan cinta sama kamu yang semakin kuat mengakar karena Allah ta’ala.”

“Ciee bisa banget gombalnya. Seru banget kayaknya ‘belanjaannya’ Buuu 😊😊😊”

“Lebih dari kata SERU kali Pak! Semoga tahun depan bisa ‘belanja’ lagi…”

“Kalau Kinan dapet apa ikut sama Ibu ke midnight sale?”

“Dapet mainaaaaan..” sambil menunjukkan mainan plastik yang ia beli di lapak pasar sekitar mesjid.

“Kinan seneng??”

“Senengbangeeet Pak.. Kinan pengen ikut Ibu lagi ke sana, tiap hari. Sampai capek!”

“Hahaha kamu ini. Sini peluuk. Peluk burgeeeerr”

Bapak, Ibu Anjani, dan Kinanti pun berpelukan. Hati mereka semua sudah jauh lebih damai dari tahun sebelumnya. Hati mereka bertiga sudah lebih tenang dari tahun sebelumnya. Karena ketika kita bisa menyimpan nafsu dunia di tempat yang semestinya, hati akan lebih lapang dan hidup terasa lebih menyenangkaaaaaan.
Wallahu’alam bishawab

Bandung, 29 Ramadhan 1437H

AF

Al Insyirah

1. Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?
2. dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,

3. yang memberatkan punggungmu,

4. dan Kami tinggikan sebutanmu bagimu,

5. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,

6. sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,

7. Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),

8. dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

QS Al Insyirah 1-8
Duh dalem.. Suka banget kan sama surat yang satu ini? Apalagi di ayat 5 dan 6. Kalau ada yang posting tentang dua ayat itu, langsung dikasih like dan love deh ama orang-orang. Tapi ya percuma sih di-like dan di-love kalau pas dikasih sulit malah mewek kejer terus misah-misuh gak jelas hahahaha..

Saya sih gitu orangnyaaaah *toyooor

Itulah manusia. Itulah Asri Fitriasari namanya. Udah jelas-jelas di Al Qur’an bilang kalau hey lo kalem kali gausah lebay drama nya, abis lo pusing, abis lo pening, Allah bakal kasih hadiah selama lo nya sabar dan mau usaha. Kerjain aja itu urusan. Nanti juga kelaaar.

Bulan ini saya kembali ditampar sama ayat dalam surat Al Insyirah. Mendadak dapet banyak kesulitan di tengah-tengah hidup yang adem ayem asal klakon. Mendadak kudu beresin requirement GTSL (gigi tiruan lengkap sebagian), di mana kasus itu pasiennya udah ganti sampe 3x hiksss. Kalau gak dikerjain saat ini juga, requirement GTL (gigi tiruan lengkap) gak boleh lanjut dikerjain hiksss..

Yaudah mau gak mau ngubek-ngubek kontak dan kenalan yang bisa dan mau jadi pasien GTSL. Sebelumnya udah hopeless dan males banget ngerjain requirement ini. Yaaa udah ganti 3 pasien tapi gak ada yang jalan. Moodnya udah berkerak πŸ˜‚

Pas lagi kaget dan shock ditodong harus segera beresin GTSL baru boleh lanjut ke GTL, saya cuma bisa doa sambil usaha sebisanya nyari pasien…. Eh, gak lama dapet. Kasusnya gampang pulak. Pasiennya juga kooperatif lagi. Pas Acc kerjaan tiap tahap tetep dikasih deg-degannya siih. Tetep ada fase ‘gak gampang’ nya tapi at the end kelar dan hanya butuh waktu kurang dari sebulan! Alhamdulillah….

Abis drama GTSL beres, lanjut todongan jadi seminaris Bedah Umum. Mulai dari nyari literatur, ngajuin makalah, jadi seminaris, dan pas proses revisinya tuh yaaa cukup bikin kepala dan hati keritiiiing. Sampe migrain dan batuk-batuk. Tapi at the end requirement itu kelar juga dalam waktu kurang dari 2 minggu. Berakhir bahagia karena pas minta tanda tangan pelunasan kerjaan gak pake ribet dan dapet nilai A. Alhamdulillah…

Ini bukan kejadian sekali dua kali kayak gini. Banyak bangeeet nget nget nget di saat hidup berasa sempit, sesak dan pengen teriak, Allah langsung nyamperin ngasih kemudahan di luar ekspektasi. Sampe bikin amaze sendiri. Ya Allah, Engkau so sweet sekaliiii..

Ahhh jadi inget waktu sidang skripsi S1 dulu. Saya kan ngerjain skripsi pas lagi hamil gede tuh. Bolak-balik Bandung-Jatinangor bawa-bawa buku tebel dan perut kandel. Capek, pusing, kesel lah bawaannya. Tapi alhamdulillah dikasih dosen pembimbing yang baik bangeeet. Dikasih dosen penguji yang baik bangeeet. Pas sidang, kurang dari setengah jam udah keluar ruangan wkwkwk.. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kan kau dustakan, Asriiii?

Jadi kesimpulan saya adalah… Semua ayat di Qur’an itu bener banget. Kejadian banget. Dan memang tugas iman itu bukan hanya terucap di lisan dan diyakini dalam hati, tapi juga dibuktikkan dalam perbuatan. Ngesoot, ngesooot daah..

Gak peduli seberapa ayat Qur’an yang sudah kita baca hingga hari ini, kalau misalnya belum ada ayat Qur’an yang bisa kita imani lewat amal  perbuatan.

Kyaaaa gaya banget bahasa looo..

Gapapa yaah, ngomong doang mah gampang kaaan. Prakteknya itu yang bikin m*ncret dan sulit dideskripsikan oleh kata hahahaha.

Udah sekarang mah kalau baper jangan keterusan. Baper yang keterusan itu tanda iman belum bener.. Jangan geer, ini bukan ngomongin kalian.. Ini ngomongin diri sendiri, anaknya gampang baper dan gampang ilang mood cuma karena dikasih sulit sedikit. Ampun deh. Masih ngesooot banget belajar iman. Masih megap-megap praktekin apa-apa yang Allah sampaikan di Quran..

Alhamdulillah punya Allah yang Sabar nya Maha Daya. Sabaaar banget liatin saya yang jatuh bangun memeluk iman… (Yang namanya Iman gak usah geer yaa, bukan ngomongin lo jugaak ini πŸ˜‚)

Mari ah ngaji lagi…

Alam nasyrah laka shadrak….

Cimahi, 24 Ramadhan 1437 H

Asri Fitriasari

Ibu yang lagi ngesooot melukin iman..

*bukan.. bukan iman, si Iman.. Kalau saya meluk si Iman nanti si Indra maraaah haha #ampungaring

Cerita Sekaleng Susu

Saya anaknya cukup saklek. Kalau ada satu paham yang saya dapet. Yaaa pokoknya kudu begitu. Selain dari pada itu SALAH. Selain daripada itu HARAM.

Salahsatu contoh ketika saya mempelajari ilmu diet Food Combining, di sana dipelajari bahwa mengkonsumsi susu itu kurang baik untuk kesehatan. Bisa bikin usus kotor lah, gak cocok sama enzim pencernaan lah, and de bla and de ble and de blu..

Dari situ saya langsung skeptis sama susu. Lalu nge-judge kalau produsen susu itu jahat. Kalau penjual susu itu cuma mikirin untungnya doang. Haaahhh galak amat Neng ama hidup??? Iyaaa, saya anaknya dulu gitu. Gampang kepengaruh dan gampang skeptis. Ngeselin yaah πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Jadi gak heran selama nikah sama Pak Indra, kita sering ribut oleh hal-hal yang cukup sepele. Masalah yang gak prinsip dan fundamental (eaaa berat yeee pilihan katanya) malah jadi awal drama rumah tangga.

Jadi waktu saya pernah sakit dulu, suami nawarin ini itu biar saya cepet sembuh. Tapi dasar idealis kebablasan, segalanya saya tolak karena takut ini takut itu, nanti kayak gini nanti  bisa kayak gitu.

Duh beneran deh elo yaa Chiii keras amat sama hidup???? Iyasih emang yang keras-keras itu tanda sebuah kehidupan, eaaa.. Tapi gak usah se-saklek itu lah jadi orang. Dilemesin chiii, dilemesiiiin hahahaha…

Peristiwa demi peristiwa dalam hidup bikin saya mikir dan bikin saya makin gak kuat bertahan dengan sifat keras saya.. Ampuuun.. Ilmu Allah gak secetek itu kali Chiii. Sok-sokan kaaan bilang ke orang “kita harus out of the box”, laaah kedoyanan elo bikin box ini itu. Box food combining lah. Box pengusaha lah. Box ibu rumah tangga lah.. And de bla and de ble and de blu ~

Saya akhirnya belajar, bahwa hidup ternyata gak sesempit itu. Kalau kata om Heri Bertus, penulis buku marketing bestseller AIDA, hidup gak setempe itu..

Dilemesin chiii dilemesiiin…

Belajar untuk gak judgy tapi tetep punya prinsip dengan koridor tauhid yang bener. Belajar untuk mau mendengar dan melihat hal lain di luar sana yang mungkin menurut kita buruk, manatau kan kita di dalemnya ada apa… Open your heart, open your mind, and reach the world with a peace soul ~

AZEG bahasa lo mantep gitu Sis..

Jadi sekarang aku udah gak parno lagi minum susu. As long as gak berlebihan. As long as i feel HAPPY… Minum susu gak bikin kamu langsung pingsan dan terkapar gak berdaya. Jangan hanya karena sekaleng susu, jadi ribut ama laki ya Chii. Dilemesiiin hidup tuhhh.. Hidup gak se-susu itu #apasih πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Jadi malem ini, pas lagi angot-angotnya meler karena flu.. Aku lagi nyedotin susu bearbrand yang dibeliin suami tadi pas pulang kantor.. Enaaakk.. Semoga badannya besok lebih enakan juga.. Besok kudu ngadep dosen dan beresin satu requirement. Ihiiiy ayok ahhh lulus lulus lulus doktergigi !!!

image

ngenyot susu dulu

Malam ganjil di Rumah,
Asri Fitriasari
Udah damai sama Susu 😁

Menitipkan Anak

image

Ada yang pernah menitipkan anaknya untuk berbagai alasan? Untuk ngantor? Sekolah? Atau sekedar menikmati waktu sendiri?

Saya pernah dengan 3 alasan di atas, dan ini sekelumit cerita tentang pengalaman saya menitipkan anak…. Feel free to judge me, I’ll be okay and feel bodo amat with what you’re thinking.

Anin lahir di usia saya yang masih 23 tahun. Saat itu saya belum selesai koas. Status saya masih sebagai mahasiswa sebuah fakultas yang harus diam sejenak mengurus bayi dengan segala keterbatasan ilmu dan pengalaman. Anak pertama bokkk. Entah sebuah anugerah atau ujian, hingga pada waktunya lahiran saya belum juga mendapat asisten yang bisa membantu saya mengurus Anin dan menjaganya ketika saya harus melipir ke sekolah. Saya terpaksa menjadi ibu yang anteng duduk manis di rumah, membesarkan Anin.

Ketika Anin berusia sekitar 8 bulan, saya mendapat seorang asisten di rumah, tapi belum saya percayai sepenuhnya untuk menjaga Anin.  Saya tetap memegang Anin hampir full 24 jam, kadang adakalanya dititip kalau mau belanja ke Borma atau mau paketin barang ke ruko depan.

Apa yang saya rasakan saat itu adalah, to be honest, rasa lelah yang amat sangat, rasa jenuh yang amat sangat, dan rasa marah (pada diri sendiri karena gak bisaan ngurus anak dan pada lingkungan yang kadang suka bikin sensi). Saya bahagia punya anak, yaaa kali masa punya anak malah gak bahagia, tapi yagitu deeeeh heu.. Hingga akhirnya di usia Anin yang menginjak 1,5 tahun ada kenalan yang masih kerabat dekat bersedia mengasuh Anin jika saya mau kembali ke rutinitas sekolah. Insya Allah yang ini cukup bikin saya percaya dan siap nitipin Anin.

Masa-masa kacrut itu yang cukup membekas dan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Masa di mana pertama kali saya lihat wajah memelas Anin yang gak rela dan gak suka ditinggal. Sedih sih, tapi pas saya udah asik di luar, saya suka lupa kalau punya anak… Haaah my bad. Saya akui itu sebagai suatu kesalahan dan kedodolan saya sebagai seorang ibu. Asik aktif ini itu dan mulai melakukan aksi pembalasan setelah hampir 2 tahun stuck di rumah.

Semua digunakan sebagai pembenaran, kan saya harus beresin sekolah, kan saya harus bantu suami cari duit juga, kan saya harus punya waktu sendiri. Daaaaan segala tetek bengek alasan yang sebenarnya menutupi aksi PELARIAN saya dari sebuah kenyataan bahwa saya sekarang punya anak, dan ngurus anak itu gak semudah yang saya bayangkan 😭😭😭

Sekolah gak beres juga. Bisnis pun malah meluncur bebas gak bersisa. Lalu saya jadinya bahagia?? Yaaa enggaklah ~

Emosi yang gak karuan yang mengisi hari-hari bersama Anin. Ketika Anin masuk usia 3 tahun, ketika dia sudah mulai bisa berkomunikasi sebagai selayaknya ‘manusia’, saya pelan-pelan mulai tersadar bahwa ada jarak yang cukup besar antara saya dengan dia. Peran saya hanya sebagai ibu biologisnya saja, makna ibu yang sebenarnya dia dapatkan dari lingkungan, dari mana saja dia sempat dititipkan.

Sakit. Perih. Dan merasa kehilangan….

Baper is everywhere ketika Anin mulai merengek lebih ingin main bersama Teteh (ART di rumah), Ateu, atau Enin nya. Apalagi kalau dia udah mulai cranky bilang Bunda nya galak atau bilang dia gak sayang sama Bunda nya, gak mau sama Bunda..

Hiksss… Langsung kayak ditabrak pake buldozer, terus yang lagi nyetir buldozernya itu Gajah Afrika yang lagi hamil 9 bulan. Hahaha lebay bin ngarang wkwkwk.

Satu persatu bagian tubuh yang hancur ketabrak buldozer terus yang nyetirnya Gajah hamil 9 bulan itu (tetep yaa) dikumpulin dan saya pasangkan lagi sesuai posisinya masing-masing. Baper won’t take you anywhere, Chiii..

Ayo bangkit, semangat, waras, dan berbenah..

Fase menerima kenyataan adalah fase yang paling menyakitkan. Karena kenyataan hampir tidak selalu sesuai harapan. Karena harapan manusia terlalu cetek jika dibandingkan rencana yang sudah Tuhan siapkan. Jadi saya pun belajar untuk menerima kenyataan dan berhusnudzon dengan segala skenario yang Allah siapkan.

Saya mencoba memaafkan diri saya sendiri terlebih dulu setelah apa-apa yang saya lakukan sama Anin. Mbakbroooo, jangan tanya prosesnya kayak apa yaaa. Memaafkan diri sendiri itu lebih bikin mual muntah daripada memaafkan orang lain. Feeling gulity itu lebih ganas sifatnya dan menyebar ke setiap sudut sel-sel tubuh. Heu.

Setelah saya memiliki kekuatan untuk menerima dan memaafkan apa yang sudah terjadi, ada banyak hikmah yang bisa saya ambil. Ada banyak pembelajaran hidup yang membuat saya sangat tidak mau mengulanginya lagi. Amat amat amat gak mau. Saya gak kenal sih sama si Amat. Tapi katanya Amat juga gak mau. Hahaha apasih garing.

Saya pernah merasakan bagaimana menjadi ibu yang diam di rumah tapi gak pinter bersyukur, saya juga pernah merasakan menjadi ibu yang asik di luar sampe lupa kodrat awal. Dua-duanya gak proporsional…

Tapi dari situ saya bisa belajar bagaimana menjadi ibu yang bisa tetap tenang dan bahagia meski harus diam di rumah, dan tetap tau diri ketika harus beraktifitas di luar rumah. Baru tau loh yaah, prakteknya masih ngesooooooot hehehehe..

Sekarang, saya gakmau keenakan lagi nitipin Anin. Nitipin yaa hanya karena cukup gak memungkinkan bawa-bawa Anin. Mau serepot dan serempong apapun kalau lagi sama dia, saya dan suami harus terima risikonya, terima tanggung jawabnya, dan terima semua proses yang harus dilalui. Kami mungkin bukan ayah dan ibu yang terbaik untuk Anin, figuritas kami sebagai orang tua juga agak agak gimanaa gitu, tapi saya sendiri yakin… semua bisa karena biasa, saya dan suami pasti bisa jadi partner hidup yang baik untuk Anin…. sebelum dia menemukan partner hidup yang lain setelah dewasa nanti. Eaaaa jadi sararedih ginih hahaha..

Terima kasih Anin, kamu adalah guru cilik di rumah… Maaf yaa Bunda suka keenakan dan hobi banget titip-titip Anin. Doakan Bunda cepet lulus kuliahnya yaaaa!!!

Habiburrahmaan, 22 Ramadhan 1437 H
Asri Fitriasari
Ibu yang mulai waras wkwk