Tag Archives: pernunungan

Renungan malam ini.

8 Dec

Sejujurnya, saya lagi jenuh dengan rutinitas saya. Saya lagi lelah dengan segala keterbatasan saya. But hei, wait a minute. Saya gak punya batas. Manusia tidak pernah punya batas untuk melakukan apa yang dia mau, bukankah? Saya kadang suka malu sendiri deh kalo udah down begini sama diri sendiri, dan suami saya tentunya. Karena suami yang biasanya mengingatkan saya dengan segala teori yang sebenernya saya bikin sendiri untuk memotivasi. Yeah, i’m just a human, right?

Okei… tapi saya tidak boleh hanya berdiam diri dengan segala kejenuhan dan keterbatasan saya. Dari segala kesuntukan ini, ada banyak hal yang saya dapat malam ini.

1. Salah satu cara menghilangkan badmood adalah banyak bergerak. Lakukan apa aja deh, yang penting gak stuck. Gak Fesbukan atau gak anteng twitteran. Badmood? So move! Dan itu berhasil buat saya mah. Saya nyoba memaksakan diri saya bergerak untuk nyuci atau gak nulis (nulis di sini beneran pake pulpen, bukan pake keyboard). Pokoknya BERGERAK!

2. Hal yang membuat kita gak bisa dan gak pernah mendapatkan apa yang kita mau, karena kita gak pernah serius melakukan apa yang seharusnya kita kerjakan. Ya, saya gak pernah serius. Dan itulah kenapa saya hanya merasa terjebak dalam rutinitas. Padahal setiap hari ada tantangannya dan tantangan2 itu beda2 tiap harinya dan apa yang kita harus hadapi setiap hari kalo kita cermat dan serius menyelesaikannya itu akan menjadi anak tangga yang mengantarkan kita ke puncak sukses :)

3. Kenapa saya suka twitter? Banyak hal yang saya pelajari dari twitter. Banyak umpatan, keluhan, dan sampah yang numpuk di timeline. Antara aura positif dan negatif yang ada, selalu saya ulek jadi rahasia sukses. Yeaaa… input sejelek apapun kalo kita prosesnya baik di hati dan pikiran kita, outputnya bakal oke. Hmmm.. contohnya gini: Kalo ada yang ngeluh di twitter, saya selalu melakukan hal yang sebaliknya, meski sebenernya saya pengen banget ikut ngeluh, tapi keluhan orang membuat saya pengen bersyukur. Saya dan kelakuan antonim saya. Hahaha. Saya suka banget melakukan hal yang gak orang lain lakukan. Saya suka melakukan hal yang berbeda. Ada orang yang mengumpat, saya mencoba memberikan simpati. Okei, mungkin saya akan menjadi orang yang menyebalkan. Tapi yaaa teknologi itu akan menjadi manfaat buat kita bagaimana kita memanfaatkannya, iya to? Yah gitulah pokoknya. Saya suka sedih kalo waktu saya habis mikirin diri sendiri, berputar di lingkaran yang sama karena jeratan keluh. Di luar sana ada orang yang tantangan hidupnya lebih berat tapi masih bisa mikirin orang lain. Mereka bisa, kenapa saya engga?

Jadiiiiiiiiiiiiiiii… tetap semangat! Stay young and positive loteks :)

Gudnite!

the letters of memory

15 Nov

Atas permintaan Neng Risma Putri, saya posting-kan tulisan saya untuk Mama dan Papa. Tulisan ini adalah tulisan yang saya bacain pas pengajian nikahan saya 1 Oktober kemarin. Semoga bermanfaat :)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mama, teteh awali semua ini dengan cinta. Cinta tulus seorang anak kepada ibunya yang mungkin tak seberapa. Mama, izinkan aku mencoba mengingat beberapa kenangan indah dan penuh manfaat 21 tahun ke belakang. Mama, mungkin aku tak akan pernah ingat ketika aku dibesarkan dalam kandunganmu yang penuh kasih itu. Aku tak akan ingat saat-saat di mana engkau berpeluh keringat melahirkanku di klinik itu. Aku tak akan bisa mengingatnya.

Tapi aku sudah mulai bisa mengingat ketika Mama selalu menjagaku di pelabuhan antara Jawa dan Sumatra. Mama yang tak pernah menolak ketika kuminta dibelikan popmie di kapal laut penuh kenangan itu. Aku sudah bisa mengingat Ma, ketika Mama selalu mengajakku penuh semangat ke tempat wisata ketika aku kecil. Sungguh Mama, aku saat itu sangat bahagia. Hingga sampai saat ini pun aku tak tau harus membalas kebahagiaan yang kau berikan saat itu dengan apa. Mama, ingat tidak ketika kelas 3 SD aku tidak masuk rangking 5 besar? Aku menagis sejadinya. Dan tubuhmu yang penuh kasih begitu erat mendekapku hangat. Sejak saat itu aku selalu ingat bahwa perjuangan itu tak pernah ada akhirnya. Kau tau, Bisikan semangatmu masih terasa hingga saat ini.

Mama, aku juga masih ingat pertengkaran-pertangkaran kita ketika aku sudah mulai beranjak besar. Ketika aku hanya mementingkan inginku sendiri tanpa menghiraukan nasihatmu. Aku dengan dunia remajaku yang selalu membuatmu risau. Ah sepertinya tak perlu kusebutkan satu persatu kenakalan apa saja yang telah membuatmu menangis banyak. Sungguh mama.. meskipun aku menyesal tak terkira, bagiku itu adalah masa terindah di mana aku menjadi banyak belajar tentang hidup, cinta sejati, dan kasih sayangmu yang tak ada batasnya.

Duhai engkau bidadari hatiku, hanya Allah yang begitu hebat telah mengukir cinta di hatimu. Menambahkan kesabaran yang tak pernah habisnya di kotak hati itu. Apapun kenakalan yang telah membuatmu kecewa, kau tetap bersemangat mencintaiku. Tak pernah berhenti mencintaiku. Hingga ketika aku beranjak semakin dewasa aku selalu berusaha untuk memperbaiki semua. Semakin memahami bahwa nasihatmu adalah kunci berkahnya hidupku. Meski mungkin teteh terlihat cuek dan sangat santai menanggapi nasihat Mama tapi Mama harus tau bahwa aku selalu berusaha menjadi anak perempuan yang baik dan menjadi kakak sulung yang baik untuk 2 adikku. Perjuangan itu berat Ma.. Menjadi semakin baik itu ternyata sulit Ma.. Namun doamu selalu menjadi kekuatan bagiku. Teladanmu selalu menjadi semangat di setiap pagiku. Mama yang tak pernah melewatkan sepertiga malammu. Mama yang tidak pernah terdengar hening di setiap pagi karena syahdunya alunan mengaji. Mama yang mengatur awal hari dengan sigap. Mama yang meski lelah pulang bekerja tapi tetap ada untuk memenuhi keinginan anak-anaknya. Mama yang selalu membuat aku rindu untuk pulang ke rumah meski Mama tak tau itu…

Kini sudah 21 tahun berlalu dengan segala kenangan indah bersama Mama.. Sungguh tak terasa. Perjuangan Mama selama kuliah membesarkan aku dalam rahimnya hingga kini saatnya melepas aku untuk menjalani perjuangan yang mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah Mama jalani. Tidak bisa aku sebutkan semuanya karena sungguh tak terhitung jumlahnya semua kenangan itu. Maaf ma, teteh belum bisa membalas semua kebaikan Mama. Maaf teteh masih saja membuat mama sedih atau kesal. Maaf untuk segala maaf yang belum ada perbaikan ke arah lebih baiknya. Kita tidak pernah tau sampai kapan kita bisa bersama. Kita tidak pernah tau sampai kapan kita masih mampu saling memberi dukungan. Tapi yang pasti, besok teteh mau minta izin ma.. Besok teteh mau nikah. Subhanallah. Sungguh waktu berjalan begitu cepat dan jodoh menjemputku begitu awal. Teteh tidak pernah tau sepenuhnya apakah teteh siap atau tidak. Tapi Allah sepertinya memang memberikan jalan untuk mengabari hati bahwa teteh cukup siap untuk menjalani semua ini. Skenario Allah yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dengan segala  kekurangan teteh, dan dengan sepenuh keridhoan Mama. Izinkan teteh menjadi lebih mandiri lagi ya Ma. Lebih belajar lagi tentang hidup. Lebih bisa mengendalikan diri dan dekat dengan Allah. Terima kasih untuk semua pelajaran, nasihat, dan keteladanan yang Mama berikan. Kasih sayang, motivasi, dan kerja keras yang Mama berikan sehingga teteh bisa menjadi seperti ini. Mama tau? Semua itu yang selalu membuat teteh merasa siap untuk menghadapi hari esok. Hari di mana tanggung jawab akan lebih besar lagi. Hari di mana teteh akan menjadi seperti mama, menjadi istri seorang yang shaleh dan kelak akan menjadi ibu dari cucunya Mama. Hari di mana teteh sudah mulai harus berbagi kebahagiaan dengan keluarga lain selain keluarga kita ini. Maka dari itu, dengan segala cinta, kasih sayang, ucapan maaf dan terima kasih yang tak akan pernah ada habisnya, teteh minta izin Ma.. Doakan teteh biar bisa sehebat Mama, sekuat Mama, dan sesabar Mama menjalani kehidupan rumah tangga. Teteh yakin doa Mama adalah segalanya untuk teteh. Terima kasih ya Mama. Teteh sayaaaang banget sama Mama :)

Satu lagi surat untuk Papa.. Surat untuk seorang pria hebat yang telah membesarkan saya hingga saat ini. Papa, setelah tadi teteh mencoba mengingat beberapa kenangan indah teteh bersama Mama. Sekarang izinkan teteh untuk kembali mengingat kenangan indah teteh dengan Papa. Kalau Papa bertanya sejak kapan teteh bisa mengingat kenangan teteh bersama Papa, jujur saja Pa.. bukan di saat-saat Papa sedang berjuang mencari nafkah untuk menghidupi Mama dan janin yang ada di dalamnya. Bukan di saat papa harus kesana kemari berjualan untuk menambah tabungan untuk kelahiran teteh yang Papa sengaja siapkan di klinik terbaik di Buahbatu saat itu. Bukan pada saat Papa mencari permintaan tolong para dosen yang ingin dibuatkan perkerjaan labnya. Bukan pada saat-saat penuh perjuangan itu. Saat-saat di mana justru teteh ingin ada bersama Papa dan menemani Papa untuk belajar dan meringankan beban Papa.

Teteh baru ingat kebersamaan kita ketika Papa selalu meninabobokan teteh dengan ayat-ayat suci Al quran di gendongan Papa. Teteh baru ingat di saat Papa yang selalu memandikan teteh yang baru pulang main dari lapangan pada saat teteh masih TK. Teteh juga masih ingat ketika Papa selalu mengajak teteh ke tempat yang luar biasa saat di Palembang sana. Papa yang selalu mengajak teteh tau dan lebih kenal dengan dunia luar. Papa masih ingat tidak waktu pertama kali teteh diajak shalat berjamaah? Waktu itu Papa membacakan surat Wal Ashr. Dan dengan polosnya teteh menjawab dengan ucapan Wal Papa Wal Mama. Hahaha.. Papa yang mengajari teteh keberanian saat teteh baru belajar berenang. Papa yang mengajari teteh untuk terus mencoba ketika teteh kesulitan belajar bersepeda. Papa yang selalu mengajarkan teteh bahwa hidup itu selalu bisa ketika kita mau terus berjuang dan berusaha.

Kenangan masa kecil yang sangat sangat indah bersama Papa tidak pernah akan teteh lupakan. Hingga beranjak dewasa entah kenapa kita tidak sedekat dulu. Apalagi ketika di keluarga ini sudah ada anggota baru seorang lelaki yang menjadi adik pertamaku. Kebersamaan kita tidak sesering dulu lagi. Mungkin kita tidak sama-sama menyadarinya saat itu.. karena saat itu pun aku sudah asik dengan sahabat-sahabatku. Meski begitu, Papa lah yang selalu menenangkan dan mengingatkan teteh ketika teteh sedang bersitegang dengan Mama. Papa yang selalu mencoba menenangkan suasana meski teteh tau Papa pun sama kesalnya dengan Mama. Papa selalu mengingatkan bahwa ridho orang tua apalagi ibu adalah segalanya. Papa yang selalu mengingatkan tujuan utama hidup itu harus kemana. Meski tidak seperti dulu lagi, tapi teteh masih selalu merasakan perjuangan yang sama, perjuangan yang tidak pernah berubah sejak teteh masih dalam kandungan, perjuangan terbaik papa untuk menyekolahkan teteh di sekolah-sekolah terbaik. Mulai dari TK hingga kuliah saat ini, perjuangan Papa lah yang selalu menjadi motivasi teteh untuk bisa bersekolah di sekolah terbaik. Perjuangan Papa yang tidak pernah kenal lelah. Perjuangan Papa yang membuat Papa tidak pernah memiliki jam tidur yang cukup untuk beristirahat. Dalam hati paling dalam, teteh malu sekali Pa. Teteh belum bisa memberikan yang terbaik. Belum bisa membuat Papa bangga. Belum bisa meringankan beban Papa. Belum bisa membalas semua perjuangan itu. Teteh belum secemerlang Papa ketika Papa kuliah. Teteh belum segigih Papa dalam berjuang. Teteh belum bisa menjadi apa yang Papa inginkan. Masih banyak sebenarnya hal yang belum teteh berikan dan tunjukkan pada Papa.

Paa… meski begitu, beberapa hal yang Papa mungkin belum menyadarinya. Apa yang sudah Papa berikan untuk teteh, selalu teteh ingat. Meskipun belum teteh aplikasikan sepenuhnya tapi semua didikan Papa selama ini sudah menjadi teman yang setia di manapun teteh berada. Papa yang tidak pernah mendidik teteh dengan materi membuat teteh tidak pernah mengeluh bagaimanapun kondisi lingkungan teteh. Papa dan juga Mama selalu bilang kalau materi itu tidak akan selalu setia menemani kita. Maka dari itu, bukan materi yang selama ini teteh kejar. Tapi sayangnya Allah kepada kita itu yang selalu teteh jadikan teman dan terus teteh kejar. Selain itu, Papa yang selalu sederhana menjadikan teteh selalu bisa menerima keadaan. Tidak pernah malu dengan kesederhanaan. Papa selalu mengajarkan teteh bahwa yang penting itu bukan apa yang kita punya, tapi apa yang bisa kita berikan pada yang lain. Bagaimana bahwa hidup itu harus jadi jalan manfaat bukan jalan kesulitan bagi saudaranya. Papa adalah idola teteh. Setinggi apapun prestasi yang sudah papa capai, papa tidak pernah berhenti untuk tetap rendah hati. Papa selalu bangun pagi sekali untuk membantu pekerjaan Mama dan bibi. Papa yang tidak pernah malu menyapu di jalan. Papa yang selalu apik dan mengajarkan teteh untuk menjadikan kebersihan dan kerapihan menjadi suatu kebiasaan. Papa selalu menjadi inspirasi untuk teteh. Papa yang selalu berprestasi di manapun papa berada. Papa dengan dedikasi yang tinggi, papa yang jujur, papa yang pekerja keras, papa yang selalu bertanggung jawab dan memberikan yang terbaik yang papa bisa lakukan untuk semua orang. Papa yang selalu ringan tangan membantu sesama. Papa yang dekat dengan masyarakat. Papa adalah segalanya dalam hidup teteh. Teteh tau, meski dalam diam, pikiran dan hati Papa tetap bekerja. Papa adalah papa paling hebat dalam hidup teteh. Teteh bisa seperti ini semua karena didikan dan kerja keras Papa. Mungkin teteh belum menjadi seorang anak yang dewasa sepenuhnya. Tapi percayalah

Pa.. apa yang sudah Papa berikan selalu teteh ingat dan berusaha teteh amalkan. Hari ini adalah hari terakhir Papa sepenuhnya menjaga teteh. Besok Pa.. besok akan ada pria yang akan sama hebatnya dengan Papa. Pria yang juga akan bertanggung jawab atas apa yang teteh lakukan. Pria yang akan menjaga teteh seperti selama ini Papa menjaga teteh. Pria yang akan menemani teteh belajar seperti Papa sudah menemani teteh belajar selama 21 tahun ini. Maka dari itu, izinkan pria itu untuk mengambil tanggung jawab itu ya Pa. Percayakan teteh pada dia ya Pa.. Besok.. tugas Papa untuk menjaga dan membesarkan teteh sudah akan selesai. Besok, pria itu akan membawa teteh ikut serta dalam putaran dan aturan hidupnya. Ikhlaskan teteh Pa.. Terima kasih sekali untuk semua hal yang sudah Papa berikan sama teteh. Sungguh, hingga kapanpun teteh tidak akan bisa membalasnya. Maaf pula untuk setiap perilaku, ucap kata, atau tindakan yang tidak berkenan di hati Papa. Maaf ya Pa teteh belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kedua anak papa yang lain. Teteh masih banyaaaak sekali kekurangannya. Masih banyak hal yang belum teteh lakukan untuk membuat Papa bangga. Tapi Papa harus percaya sama teteh, teteh tidak akan pernah berhenti berusaha. Semoga keputusan teteh untuk menikah muda adalah jalan bagi teteh untuk jauh lebih baik dan menjadi teladan untuk Aa dan Neng.

Doakan teteh ya Pa… Doakan teteh untuk selalu jadi yang terbaik untuk Papa dan keluarga kita. Doakan teteh bisa memberikan cucu yang hebat seperti Papa. Terakhir, teteh sayang Papa. Papa adalah pria terbaik dalam hidup teteh. Pria terhebat dalam hidup teteh. Pria yang selalu teteh banggakan. Pria yang selalu membuat teteh kagum. Pria yang sangat setia dan bertanggung jawab pada keluarganya. Papa adalah pahlawan dalam hidup teteh. Sekali lagi terima kasih Pa.. terima kasih untuk semuanya.

Mama, Papa.. Mungkin itu saja curahan hati teteh. Teteh yakin Mama dan Papa pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk teteh. Teteh izin mau pamit ya Ma,.. Pa,.. besok teteh mau nikah. Besok teteh akan mengemban tanggung jawab hidup teteh sendiri bareng A Indra. Jodoh itu misteri. Kita sekeluarga sama-sama tidak mengira akan dating secepat ini. Semoga pernikahan teteh sama A Indra jadi pernikahan yang berkah, sakinah, mawadah, dan warahmah.

Terima kasih untuk semua perjuangan Mama dan Papa yang sudah mengantarkan teteh ke gerbang yang indah ini. Gerbang yang di dalamnya ada lautan lepas penuh badai dan angina kencang. Doakan teteh kuat dan sabar yaa.. Mama dan Papa selalu bilang teteh pasti bisa. Iya Ma.. Iya Pa.. teteh pasti bisa! Bismillah :]

 

Ditulis satu bulan sebelum dibacakan, dengan penuh hormat, kasih, sayang dan cinta.

Bandung, 1 September 2010

Teteh.

apa kabar BAHAGIA ?

12 May

Alhamdulillah. Allah telah memberikan banyak kebahagiaan untuk saya. Keluarga, teman, sahabat, ‘dia’, dan masih banyak lagi lainnya membuat saya begitu bahagia. Masa lalu, masa kini, dan masa depan akan selalu saya buat menjadi bahagia.

Nah, ngomong-ngomong soal bahagia yaaa, setiap orang saya rasa punya definisi bahagianya masing-masing. Bahagia menurut saya belum tentu sama dengan bahagia menurut kamu. Setiap orang memiliki prioritas dan orientasi hidup yang berbeda-beda. Ya tentu saja itu berhubungan dengan latar belakang dan impian apa yang ingin dia capai. Itulah bahagia. Tidak pernah mutlak untuk setiap orangnya.

Hidup manusia itu kan yang dicari kebahagiaan ya? Terkadang sukses aja gak cukup karena memang hakikatnya setiap manusia selalu mencari kebahagiaan. Nah, untuk itu mari kita klasifikasikan bahagia itu menjadi tiga tingkatan. Sudah sejauh manakah kebahagiaan yang kita rasakan? CEKIDOT!

Bahagia yang pertama adalah bahagia FISIK. Bahagia ketika kita mendapatkan sebuah materi. Bagi Mawar bahagia itu adalah punya handphone! Jadi Mawar akan belajar maksimal, bekerja optimal untuk yang namanya bisa beli handphone. Ketika Mawar bisa beli handphone dia otomatis jadi bahagia dong yaa? Nah beberapa bulan setelah dia punya handphone, Mawar kembali kurang bahagia. Kenapa War? Katanya definisi bahagia buat dia udah berubah lagi. Asalnya bagi Mawar namanya bahagia itu punya handphone tapi ternyata zaman makin maju, kata Mawar bahagia itu punya laptop. Kembali lah Mawar bekerja keras untuk mendapatkan kebahagiaan (baca:laptop). Setelah laptop dapet, Mawar bahagia. Tapi tidak lama setelah itu Mawar merasa tidak bahagia lagi. Sekarang definisi bahagia bagi dia itu punya mobil. Terus dan terus. Manusia memang fitrahnya selalu tidak puas. Jadi, apa yang didapatkan Mawar? Hanya lelah mengejar yang namanya bahagia dan ya, perasaan bahagianya gak pernah bertahan lama. Siapa yang temennya Mawar di sini? Bukan kamu? Oh mungkin kamu temannya Melati. Siapa Melati? Kita lihat bahagia yang kedua =]

Bahagia yang kedua adalah bahagia EMOSIONAL. Bahagia ketika kita mendapat suatu pengakuan di tengah lingkungan sosial. Contohnya ya Melati ini. Melati bukan seseorang yang matrealistis. Baginya punya handphone atau tidak rasanya sama saja. Terus bahagia Melati gimana dong? Ketika masuk kuliah dia merasa bahagia itu punya IPK tinggi. Melati belajar giat sekali untuk mendapatkan IPK tinggi. Ketika IPK nya sangat memuaskan, Melati bahagia. Tapi tidak lama setelah itu, Melati merasa pintar di bidang akademik saja tidak cukup, ia ingin pandai juga dalam bidang organisasi. Melati pun mulai sibuk dengan kegiatan organisasi dan kepanitiaannya. Ketika Melati sudah aktif dan dia memiliki lebih banyak teman ia merasa bahagia. Lalu? Ternyata tidak lama setelah itu Melati belum juga merasa bahagia. Kata Melati, bahagia itu punya penghargaan. Akhirnya Melati pun berusaha menjadi yang terbaik di organisasinya sehingga ia dipercaya menjadi seorang pemimpin sebuah acara. Melati pun bahagia. Ia merasa menjadi berharga ketika semua orang memuji kehebatannya. Ketika lulus kuliah pun Melati terus mencari kabahagiaan itu (baca:pekerjaan, posisi, jabatan, dan kawan-kawannya). Sekali lagi, manusia diciptakan untuk tidak pernah puas dengan keadaan yang sudah ia dapatkan. Hal baiknya adalah manusia menjadi terus bergerak dan dinamis untuk terus berkarya. Hal buruknya adalah manusia tumbuh menjadi individu yang tidak mensyukuri nikmat, tamak, individualis, dan duniawi saja. Apakah kamu temannya Melati?? Oh bukan juga?? Mmmh… mungkin kamu temannya Matahari! Siapa Matahari? Yuk, kita lihat bahagia yang ketiga ;]

Bahagia yang ketiga adalah bahagia SPIRITUAL. Bahagia ketika Allah atau Tuhannya bahagia. Gimana nih kalau yang ini ceritanya? Ini kisah tentang Matahari. Matahari adalah mahasiswa dengan keadaan biasa-biasa aja. Handphonenya bukan handphone keluaran terbaru, laptop yang setia menemani dia ya cuma laptop turunan dari kakaknya yang udah punya laptop baru (sedih banget). Gimana kuliahnya? Dia bukan seorang mahasiswa yang bersinar layaknya Melati. Kegiatan akademisnya standar. Jelek enggak. Bagus banget juga enggak. Dia bukan orang yang cukup dikenal di kampusnya. Matahari hanya orang biasa-biasa aja tapi dia selalu bahagia. SELALU BAHAGIA. Apa rahasianya Mat? (Jelek banget nama panggilannya ya? ;P) Matahari tidak pernah sibuk dengan apa yang harus dia punya. Matahari tidak pernah sibuk dengan pujian orang dan pengakuan teman-temannya. Matahari tidak pernah sibuk dengan di mana dia harus berada dan berkontribusi.  Matahari tidak pernah sibuk dengan itu semua. Matahari hanya sibuk mencari perhatian Tuhannya saja. Matahari hanya sibuk memperbaiki dirinya sendiri. Dia hanya sibuk membuat Allah bahagia. Bahagianya Matahari adalah ketika hatinya tentram, keimanannya mantap, dekat dengan Sang Pencipta, dan tetap menjadi insan yang bermanfaat untuk teman-temannya. Waww! Subhanallah! Siapa yang temennya Matahari di sini??? Apa? Semuanya?  Wah semuanyaaa!! Yeay yeay yeay!

Ya itulah bahagia. Bahagia tidak pernah sama untuk semua orang. Semua tergantung dengan priorotas dan orientasi individunya itu sendiri. Nah, termasuk temannya siapakah kita? Apakah temannya Mawar yang hanya bahagia ketika punya gadget keluaran terbaru, komik keluaran terbaru, fashion keluaran terbaru atau temannya Melati, yang bahagia ketika mendapat teman yang banyak, pujian yang tidak hentinya atas kinerja kita, posisi yang strategis untuk dikenal dan dihormati, pandangan orang-orang karena kita dianggap hebat dalam berbagai hal,  atau temannya Matahari? Seorang yang dalam keadaan apapun selalu merasa bahagia. Punya atau tidak punya materi bahagia. Dikenal atau tidak tetap bahagia. Siapa pun teman kamu, sekali lagi, bahagia itu banyak definisinya. Tinggal pilih, mau yang shorterm happiness atau longterm happiness. Saya rasa teman-teman sudah bisa menyimpulkan sendiri dari tulisan saya yang terinspirasi dari training ESQ kemarin dan pergulatan hati saya selama ini. (Halah)

Jadi, apapun kebahagiaan itu, bagi saya dia bukan hal yang harus dicari, tapi kebahagiaan itu bisa diciptakan!

Bagaimana caranya? Insya Allah dengan selalu menghadirkan Sang Maha Pemberi Kebahagiaan di setiap derap langkah kita. Dijamin, bahagia gak akan pernah absen dari hidup kita. Percaya ama gue ;)

Semoga Bermanfaat :)

ASIK! aku mau jadi dokter gigi!!!

10 Feb

Bismillah…

Tidak terasa sudah tahun ketiga saya berkuliah di fakultas ini. Fakultas yang tidak pernah saya membayangkan berada di sini sebelumnya. Hampir genap 3 tahun saya berkutat dengan segala dinamika yang ada di sini. Kuliah, praktikum, organisasi, bermain, tertawa, mengeluh, ngegosip (ups!), berkarya, ahh… terlalu banyak hal yang sudah saya lakukan di sini. Benar-benar rasanya saya masih belum percaya kalau ini adalah tahun ketiga. Tahun di mana saya menjadi senior tingkat atas, karena angkatan satu tahun di atas saya sudah mulai disibukkan dengan tugas akhirnya dan jarang terlihat di kampus dan hanya beberapa saja yang masih aktif ikut acara kampus, jadi yha angkatan saya ini yang jadi senior in house. Eh, itu bukan sih istilahnya? Yha anggaplah itu lah yhaa..

Saya masih sangat ingat ketika saya memasuki setiap sudut kampus ini dengan seragam putih hitam. Bukan, saya bukan penjaga toko kelas training, tapi saya adalah mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Gigi yang sedang mengikuti masa orientasi. Masih sangat lekat dalam ingatan ketika saya harus bangun pagi sekali menuju kampus, menghadapi para panitia, mengikuti seminar-seminar yang saya jadikan waktu tidur (hehe), dan saat-saat ketika evaluasi ospek tiba. Ouw… saya juga masih ingat ketika saya dibopong ke ruang medik gara-gara pingsan. Hahaha… Jadi ceritanya saya ditanya sama ordre (satdis-red) waktu itu.

“Kamu tau dek siapa Ketua BPM di FKG?”

“Emm… emmm.. “

“Jawab dek! Sudah hari ketiga kamu masih lupa nama ketua BPM????!!!”

“Emm… Saya tanya temen saya dulu yha teh.”

Ordre itu pun mengangguk kaku.

“Siapa?”

“Nenisashi Neta”

“Angkatan berapa?”

“Emm.. 2005 kalo gak salah.”

“Kalo gak salah?!?! Jadi yang benarnya apa??? Kamu jangan asal dek!”

“Emm…”

“Apa konsekuensinya jika kamu salah?”

“Saya akan mencari tahu lagi Teh langsung ke orangnya.”

Saya langsung mencari-cari ke kumpulan panitia yang sedang berbaris rapi.

“Teh Netaa.. Teh Neta mana yha?”

Saya cari gak ada. Emm… kepala semakin pusing. Badan semakin lemah… dan gubrak. Saya pingsan. HEHE.

Ahh.. kenangan retromolar pad begitu membuat saya merasa nyaman berada di FKG. Meski saya belum menemukan siapa sahabat kental saya nantinya, tapi saya sudah mulai menyayangi FKG.

Saya pun masih ingat ketika saya duduk menangis sangat tersedu karena kesal dengan PTBS. Kesal dengan berbagai tugas dan praktikumnya yang begitu menyita waktu saya dan terlebih kepada SAYA GAK NGERTI FISIKAAAA! Waktu itu saya sempat menelepon papa, minta pindah dari FKG gara-gara yang namanya PTBS dengan mata kuliah fisikanya! HAHAHA… berlebihan yha…

Mata kuliah demi mata kuliah semua saya lewati. Praktikum demi praktikum semua saya lewati. Meskipun saya suka nangis, ngeluh, terlambat kerjaan praktikumnya, daaannn berbagai macam kesukadukaan yang saya alami di sisi akademis saya, di mana lebih banyak dukanya =(

Apa yang membuat saya bertahan di FKG? Alhamdulillah saya jalani semua ini dengan tidak meninggalkan salah satu hobi saya.  Berorganisasi. Banyaaaaaaaaaaaaakkkk sekali yang saya dapatkan di sini. Ahh sepertinya terlalu panjang jika saya harus menguraikan apa yang saya dapatkan di organisasi dan apa saja yang saya rasakan di sini. Terlalu banyak.

Jadi, mari kita kembali pada topik tahun ketiga yang dari awal saya angkat, di sini saya akan bercerita atau lebih tepatnya curhat tentang keresahan hati saya selama ini (halah). Saya adalah calon dokter gigi. Calon tokoh masyarakat di bidang kesehatan. Satu hal yang selalu menjadi hambatan bagi saya adalah sense of dentist yang saya punya itu minim sekali. Saya lebih bangga dan lebih bersemangat ketika saya merencanakan impian saya menjadi seorang penulis atau pembicara di bidang Human Development daripada sebagai dokter gigi.

Diskusi dengan teman, diskusi dengan orang tua, diskusi dengan calon suami, semuanya tidak membuat saya bersemangat menjadi seorang dokter gigi yang mumpuni. Saya bahkan sudah menyerah dengan profesi saya ini. Saya hanya ingin menyelesaikan studi ini dan menjadikannya sebagai satu sisi bekal hidup saya, tapi ketika lulus, saya hanya ingin menjadi penulis. Itu saja.

Alhamdulillah, saat ini, semangat lain selain bersemangat menjadi penulis itu datang. Semangat menjadi dokter gigi itu akhirnya datang juga di tahun ketiga ini. Nah, dari mana saya mendapatkannya? Saya dapatkan dari berbagai event ekternal yang saya ikuti. Kalau di kampus saya sudah asik dengan ke-stress-an kerjaan praktikum dan kebingungan mengerti mata kuliah, di luar saya mendapat gambaran apa yang akan saya jalani setelah saya lulus nanti. Entahlah… saya menjadi bersemangat saja.

Pertama saya ikut ceramah kesehatan di BI Tower. Acara penyuluhan kesehatan gigi dan mulut untuk para pensiuanan BI. Liputannya bisa dibaca di sini.  Teruuss, saya ikut acara DHE di SD Jayasari. Di situ saya diminta panitia penyelenggara untuk menjadi operator yang memeriksa plaque score anak SD. Gatau kenapa saya ngerasa udah jadi dokter gigi aja (hehe) dan itu menyenangkan ternyata! Apalagi melihat masyarakat yang sangat antusias ingin giginya jadi sehat dan bersih. Lalu saya diajak mama mengikuti sidang promosi doktoralnya drg, Inne Suherna. Semakin ke sini semakin sering saya ikut acara-acara eksternal. Apalagi kalau acaranya bareng fakulas lain, di mana kita bisa merasakan bahwa kita itu dianggap lebih ngerti masalah gigi daripada yang lainnya. Kalau di kampus kan, banyak yang lebih jago daripada saya T_T (tragis)

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah….

Sekarang, ketika saya kuliah dan mungkin ketika nanti saya praktikum, semangat belajar dan rasa ingin tahu saya menjadi bertambah-tambah. Saya ingin menjadi dokter gigi yang mumpuni. Dokter gigi yang dapat menghasilkan senyuman-senyuman manis para pasiennya. Dokter gigi yang tidak hanya praktek di klinik saja, tapi dokter gigi yang di setiap jeda waktunya tidak berhenti menulis, tidak berhenti berkarya, dan tidak berhenti member menfaat. Semoga =)

Nah, apa maksud dari saya menulis tentang ini? Mungkin ada beberapa teman di sini yang masih belum ngerasa sense of dentist-nya kayak saya, atau mungkin ngerasa salah jurusan atau hal-hal yang semuanya bermuara pada penyesalan dan keluhan tiada akhir. Jangan menyesal dan berhentilah mengeluh! Insya Allah ini memang sudah jalannya. Seperti apa yang sering saya dapatkan dari nasihat para teman dan orang tua. Yha! Memang ini sudah jalannya. Meski mungkin teman-teman kurang suka, meski sistem masih dalam proses penyempurnaan, insya Allah pasti ada jalannya. Pasti ini yang terbaik bagi kita. Mama saya selalu mengingatkan,

“Teh.. yang baik menurut kita belum tentu baik buat kita. Sebaliknya, yang buruk menurut kita belum tentu buruk buat kita. Jadi, belajarlah untuk tenang, tidak reaktif, dan melihat semuanya dari sisi positif.”

Mungkin apa yang saya lakukan selama ini bisa menjadi alternative teman-teman untuk membangkitkan semangat menjadi dokter gigi. Buat yang memang sudah bersemangat, semoga bisa menambah kebanggaan menjadi seorang dokter gigi. Bagi yang sudah bangga menjadi calon dokter gigi, semoga semakin bersemangat mengembangkan ilmu yang semuanya itu berujung pada perbaikan kehidupan masyakarat.

Sebaik-baik manusia adalah ia yang paling bermanfaat bagi lingkungannya.

Semoga pengalaman pribadi ini bisa menjadi inspirasi, motivasi, dan sarana nasihat-manasihati. Ditunggu masukannya juga untuk penulis.

Semoga bermanfaat!

P.S: Makasi untuk mama, papa, a indra, atha, shali, imbi, sari, icha, kiki, love, drg. Gilang, temen-temen 2009, drg. Inne, semuanyaaaaaaaaaaa.. Tetap komporin saya jadi dokter gigi yhaaa! ^^

THERE’S NO ABSOLUTE LAW IN LIFE

3 Nov

Ini adalah hari Senin. Ya, I’m ready to rock this week again. Semangatnya numpuk banget nih gara-gara kemarin jalan-jalan sama si Tomat. :D

Makasii yha Tomaaaat :)

Gue sedang dalam ruang kuliah. Mendengarkan drg. Belly memperkenalkan blok baru di semester ini, DSP 6! *dan gak kerasa tinggal 4 blok lagi yeaaay!*

Overall sih yang namanya DSP mah gitu-gitu aja yhaaa.. Bikin makalah, presentasi, diskusi, ujian, dan selesai. Gitu-gitu aja. Tapi kita masih aja merasa berat *sekarang, insya Allah gue sudah tidak termasuk kita di sini, YEAH!*.  Waktu gue masuk kuliah di pagi ini, dan ketika melhat drg. Belly di depan sedang talking talking, what a waaaw! *Klik di sini karena sebelumnya gue pernah nulis tentang dokter ini* dan semakinlah gue semangat gitu yhaaa.

But everybody, like I said in this title, there’s no absolute law in life.  Betapa gue mengagumi dokter ini tapi ternyata di kuliah pagi ini, tepat di sebelah gue, dan di belakang gue, ada lho yang sama sekali gak interest sama dia. Hihi, kog bisa yha (-_-)7

Jadi inget obrolan gue sama si Tomat waktu weekend kemarin.

“Be, di dunia ini gak ada yang mutlak. Contoh aja yha, kalo kamu punya temen, kerudungan semua, yhaa anggaplah komunitas para shaleha, kamu bisa jamin semuanya akhlaknya baik? Jalan hidupnya penuh berkah? Gak bisa, Be. Kita gak bisa jamin. Karena semua itu gak ada yang mutlak.”

Iya, pas banget sama kejadian pagi ini. Gue pikir sebelumnya yang namanya dokter Belly, everybody will love him. Tapi ternyata engga, there’s two side of coin, eh? Tapi, itu kan namanya hidup. There’s no absolute law. Tapi apapun itu, teruslah bergerak. Teruslah berkarya. Orang yang gak suka cara dan sikap kita itu ada, tapi bukan berarti kita harus selalu fokus sama hal-hal kayak gitu. Introspeksi itu perlu, tapi terlalu menyalahkan diri sendiri dan keadaan itu bukan jalan keluar.

Selalu ada orang yang gak suka kita sukses, tapi teruslah sukses. Selalu ada orang yang gak suka kita bahagia, tapi teruslah berbahagia.. Karena kita hidup bukan untuk mereka, kita hidup untuk Allah. Jadi, tetaplah bersemangat!

ikan kecil dan ikan hiu junior

19 Oct

Hay loteks!

Pernah gak sih kalian bête sama seseorang? Atau mungkin sama keadaan di mana membuat kalian merasa ga nyaman dan pengen mempercepat waktu untuk melewatinya? Nah.. There’s a story to solve it nih =)

Sebuah anekdot, atau kisah nyata yha? Saya lupa. (more…)

kuliah, padang, dan perut kembung !

5 Oct

Sebelum kuliah gue pengen nulis dulu deh. Minggu ini akan jadi minggu yang cukup hectic. Ada UTS blok DSP 4, ada tugas translate-an DSP yang harus gue selesaikan juga, dan requirement praktikum tentunya. Bikin pusing sih emang tapi itu semua harus gue selesaikan! Harus gue lewati! YEAY! (more…)

doa di tengah rindu…

24 Sep

ya Allah..

ada getar yang menggelitik hatiku.

dan aku bertanya, apakah ini cinta..

dan jika iya, aku menjadi saja seseorang yang ketakutan..

ya Allah…

sulitnya mempertahankan cinta yang menderu untukMu..

dan jika inikah yang menggelitik membuatku sendu dan lupa akan cintaMu.

Wajarkan aku takut..

ya Allah..

jikapun iya ini cinta, biarkan ia bersemi atas namaMu.

Mengantarkanku semakin meneriakkan cinta kepadaMu..

Jangan Tuhan..jangan biarkan ia merenggut deru ini untukMu.

ya Allah…

jika aku mencintainya, ajari aku bagaimana mencintai dengan atas namaMu..

jika ia memang teman, jadikan ia teman yang mengajakku membuahkan cinta untukMu.

Bukan hanya saling belajar dan menemani, tetapi juga memadu kasih bermunajat memujaMu..

ya Allah…

jika saja ia akan membawaku berlari menjauhiMu… jauhkan ia dariku. Hempaskan ia dari mimpiku..

biarkan ia tersisa bersama debu… dan bukan untukku..

ataukah mungkin kau ingin ku menariknya bersamaMu…

apapun itu..jangan jauhkan cintaMu untukku..

jangan Tuhan..

biarkan apa yang tersisa dan tertanam dalam hati adalah tasbih kepadaMu..

dianya adalah teman.. dianya bukanlah keabadian.

Karena yang kumau adalah ulasan dzikir yang mengakhiri perjalananku..

petuah babeh

24 Sep

Personality come from habit. This quote belongs to bokap gue. Iya, beliau selalu menanamkan ini sama semua anaknya. Satu kasus.

Bokap : “Teh, bangun sih! Nyuci piring sana!

Gue : “Iyaaa sebentaaaaaaaar!”

Bokap : “Ayo biasain dari sekarang. Biar nanti biasa. Jadi perempuan tuh harus bisa nyuci piring. Biar cekatan nanti kalo jadi istri.”

Gue : “Yaelah. Ntar juga bisa sendiri.”

Bokap : “Tapi kalo dibiasain dari sekarang rasanya beda. Udah sana nyuci piring!”

Gue : “Bentar…”

Hahahaha. ‘Bentar’ is our favorite answer =)

Dan setelah 20 tahun malang melintang menjadi anaknya Bapak Asep. Gue merasakan hal yang luar biasa. Hal-hal per-cewek-an emang udah digenjot abis ama bokap nyokap gue. Dan voila! Gue bisa dengan mudahnya mengerjakan semua itu. Tanpa keluh dan beban. Karena apa? Karena udah biasa.

(more…)

sabtu kelabu auuuuuuuuuuuuuuu!

12 Sep

HALLOOOOOOOOOOOOOOOOOOO !!!

Siang begini. Panas sih gak pernah absen yhaa. Tapi gue cukup merasa teduh di pojokan warnet ini, hihiy!

Well.
Hari ini adalah hari terberat yang pernah ada -lebai- Pagi-pagi cuma clingak clinguk. Sambil narik ingus, srooooooooooot…srooooooot..srooott.. -haha, jorok- Berhubung gue gak mau lama-lama jadi tontonan orang rumah yang heran dengan bentuk muka gue yang gak jelas sembabnya kayak apa akhirnya gue memutuskan untuk caw dari rumah. Kabur? Gak.. bukan.. cuma mau cuci mata.
*Pesan sponsor : Janganlah kamu kabur dari rumah karena itu tidak akan menyelesaikan masalah tapi justru menambah masalah, yaitu : LAPAR DAN JATUH MISKIN!
(more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.