Tag Archives: bokap tiada tara

the letters of memory

15 Nov

Atas permintaan Neng Risma Putri, saya posting-kan tulisan saya untuk Mama dan Papa. Tulisan ini adalah tulisan yang saya bacain pas pengajian nikahan saya 1 Oktober kemarin. Semoga bermanfaat :)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mama, teteh awali semua ini dengan cinta. Cinta tulus seorang anak kepada ibunya yang mungkin tak seberapa. Mama, izinkan aku mencoba mengingat beberapa kenangan indah dan penuh manfaat 21 tahun ke belakang. Mama, mungkin aku tak akan pernah ingat ketika aku dibesarkan dalam kandunganmu yang penuh kasih itu. Aku tak akan ingat saat-saat di mana engkau berpeluh keringat melahirkanku di klinik itu. Aku tak akan bisa mengingatnya.

Tapi aku sudah mulai bisa mengingat ketika Mama selalu menjagaku di pelabuhan antara Jawa dan Sumatra. Mama yang tak pernah menolak ketika kuminta dibelikan popmie di kapal laut penuh kenangan itu. Aku sudah bisa mengingat Ma, ketika Mama selalu mengajakku penuh semangat ke tempat wisata ketika aku kecil. Sungguh Mama, aku saat itu sangat bahagia. Hingga sampai saat ini pun aku tak tau harus membalas kebahagiaan yang kau berikan saat itu dengan apa. Mama, ingat tidak ketika kelas 3 SD aku tidak masuk rangking 5 besar? Aku menagis sejadinya. Dan tubuhmu yang penuh kasih begitu erat mendekapku hangat. Sejak saat itu aku selalu ingat bahwa perjuangan itu tak pernah ada akhirnya. Kau tau, Bisikan semangatmu masih terasa hingga saat ini.

Mama, aku juga masih ingat pertengkaran-pertangkaran kita ketika aku sudah mulai beranjak besar. Ketika aku hanya mementingkan inginku sendiri tanpa menghiraukan nasihatmu. Aku dengan dunia remajaku yang selalu membuatmu risau. Ah sepertinya tak perlu kusebutkan satu persatu kenakalan apa saja yang telah membuatmu menangis banyak. Sungguh mama.. meskipun aku menyesal tak terkira, bagiku itu adalah masa terindah di mana aku menjadi banyak belajar tentang hidup, cinta sejati, dan kasih sayangmu yang tak ada batasnya.

Duhai engkau bidadari hatiku, hanya Allah yang begitu hebat telah mengukir cinta di hatimu. Menambahkan kesabaran yang tak pernah habisnya di kotak hati itu. Apapun kenakalan yang telah membuatmu kecewa, kau tetap bersemangat mencintaiku. Tak pernah berhenti mencintaiku. Hingga ketika aku beranjak semakin dewasa aku selalu berusaha untuk memperbaiki semua. Semakin memahami bahwa nasihatmu adalah kunci berkahnya hidupku. Meski mungkin teteh terlihat cuek dan sangat santai menanggapi nasihat Mama tapi Mama harus tau bahwa aku selalu berusaha menjadi anak perempuan yang baik dan menjadi kakak sulung yang baik untuk 2 adikku. Perjuangan itu berat Ma.. Menjadi semakin baik itu ternyata sulit Ma.. Namun doamu selalu menjadi kekuatan bagiku. Teladanmu selalu menjadi semangat di setiap pagiku. Mama yang tak pernah melewatkan sepertiga malammu. Mama yang tidak pernah terdengar hening di setiap pagi karena syahdunya alunan mengaji. Mama yang mengatur awal hari dengan sigap. Mama yang meski lelah pulang bekerja tapi tetap ada untuk memenuhi keinginan anak-anaknya. Mama yang selalu membuat aku rindu untuk pulang ke rumah meski Mama tak tau itu…

Kini sudah 21 tahun berlalu dengan segala kenangan indah bersama Mama.. Sungguh tak terasa. Perjuangan Mama selama kuliah membesarkan aku dalam rahimnya hingga kini saatnya melepas aku untuk menjalani perjuangan yang mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah Mama jalani. Tidak bisa aku sebutkan semuanya karena sungguh tak terhitung jumlahnya semua kenangan itu. Maaf ma, teteh belum bisa membalas semua kebaikan Mama. Maaf teteh masih saja membuat mama sedih atau kesal. Maaf untuk segala maaf yang belum ada perbaikan ke arah lebih baiknya. Kita tidak pernah tau sampai kapan kita bisa bersama. Kita tidak pernah tau sampai kapan kita masih mampu saling memberi dukungan. Tapi yang pasti, besok teteh mau minta izin ma.. Besok teteh mau nikah. Subhanallah. Sungguh waktu berjalan begitu cepat dan jodoh menjemputku begitu awal. Teteh tidak pernah tau sepenuhnya apakah teteh siap atau tidak. Tapi Allah sepertinya memang memberikan jalan untuk mengabari hati bahwa teteh cukup siap untuk menjalani semua ini. Skenario Allah yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dengan segala  kekurangan teteh, dan dengan sepenuh keridhoan Mama. Izinkan teteh menjadi lebih mandiri lagi ya Ma. Lebih belajar lagi tentang hidup. Lebih bisa mengendalikan diri dan dekat dengan Allah. Terima kasih untuk semua pelajaran, nasihat, dan keteladanan yang Mama berikan. Kasih sayang, motivasi, dan kerja keras yang Mama berikan sehingga teteh bisa menjadi seperti ini. Mama tau? Semua itu yang selalu membuat teteh merasa siap untuk menghadapi hari esok. Hari di mana tanggung jawab akan lebih besar lagi. Hari di mana teteh akan menjadi seperti mama, menjadi istri seorang yang shaleh dan kelak akan menjadi ibu dari cucunya Mama. Hari di mana teteh sudah mulai harus berbagi kebahagiaan dengan keluarga lain selain keluarga kita ini. Maka dari itu, dengan segala cinta, kasih sayang, ucapan maaf dan terima kasih yang tak akan pernah ada habisnya, teteh minta izin Ma.. Doakan teteh biar bisa sehebat Mama, sekuat Mama, dan sesabar Mama menjalani kehidupan rumah tangga. Teteh yakin doa Mama adalah segalanya untuk teteh. Terima kasih ya Mama. Teteh sayaaaang banget sama Mama :)

Satu lagi surat untuk Papa.. Surat untuk seorang pria hebat yang telah membesarkan saya hingga saat ini. Papa, setelah tadi teteh mencoba mengingat beberapa kenangan indah teteh bersama Mama. Sekarang izinkan teteh untuk kembali mengingat kenangan indah teteh dengan Papa. Kalau Papa bertanya sejak kapan teteh bisa mengingat kenangan teteh bersama Papa, jujur saja Pa.. bukan di saat-saat Papa sedang berjuang mencari nafkah untuk menghidupi Mama dan janin yang ada di dalamnya. Bukan di saat papa harus kesana kemari berjualan untuk menambah tabungan untuk kelahiran teteh yang Papa sengaja siapkan di klinik terbaik di Buahbatu saat itu. Bukan pada saat Papa mencari permintaan tolong para dosen yang ingin dibuatkan perkerjaan labnya. Bukan pada saat-saat penuh perjuangan itu. Saat-saat di mana justru teteh ingin ada bersama Papa dan menemani Papa untuk belajar dan meringankan beban Papa.

Teteh baru ingat kebersamaan kita ketika Papa selalu meninabobokan teteh dengan ayat-ayat suci Al quran di gendongan Papa. Teteh baru ingat di saat Papa yang selalu memandikan teteh yang baru pulang main dari lapangan pada saat teteh masih TK. Teteh juga masih ingat ketika Papa selalu mengajak teteh ke tempat yang luar biasa saat di Palembang sana. Papa yang selalu mengajak teteh tau dan lebih kenal dengan dunia luar. Papa masih ingat tidak waktu pertama kali teteh diajak shalat berjamaah? Waktu itu Papa membacakan surat Wal Ashr. Dan dengan polosnya teteh menjawab dengan ucapan Wal Papa Wal Mama. Hahaha.. Papa yang mengajari teteh keberanian saat teteh baru belajar berenang. Papa yang mengajari teteh untuk terus mencoba ketika teteh kesulitan belajar bersepeda. Papa yang selalu mengajarkan teteh bahwa hidup itu selalu bisa ketika kita mau terus berjuang dan berusaha.

Kenangan masa kecil yang sangat sangat indah bersama Papa tidak pernah akan teteh lupakan. Hingga beranjak dewasa entah kenapa kita tidak sedekat dulu. Apalagi ketika di keluarga ini sudah ada anggota baru seorang lelaki yang menjadi adik pertamaku. Kebersamaan kita tidak sesering dulu lagi. Mungkin kita tidak sama-sama menyadarinya saat itu.. karena saat itu pun aku sudah asik dengan sahabat-sahabatku. Meski begitu, Papa lah yang selalu menenangkan dan mengingatkan teteh ketika teteh sedang bersitegang dengan Mama. Papa yang selalu mencoba menenangkan suasana meski teteh tau Papa pun sama kesalnya dengan Mama. Papa selalu mengingatkan bahwa ridho orang tua apalagi ibu adalah segalanya. Papa yang selalu mengingatkan tujuan utama hidup itu harus kemana. Meski tidak seperti dulu lagi, tapi teteh masih selalu merasakan perjuangan yang sama, perjuangan yang tidak pernah berubah sejak teteh masih dalam kandungan, perjuangan terbaik papa untuk menyekolahkan teteh di sekolah-sekolah terbaik. Mulai dari TK hingga kuliah saat ini, perjuangan Papa lah yang selalu menjadi motivasi teteh untuk bisa bersekolah di sekolah terbaik. Perjuangan Papa yang tidak pernah kenal lelah. Perjuangan Papa yang membuat Papa tidak pernah memiliki jam tidur yang cukup untuk beristirahat. Dalam hati paling dalam, teteh malu sekali Pa. Teteh belum bisa memberikan yang terbaik. Belum bisa membuat Papa bangga. Belum bisa meringankan beban Papa. Belum bisa membalas semua perjuangan itu. Teteh belum secemerlang Papa ketika Papa kuliah. Teteh belum segigih Papa dalam berjuang. Teteh belum bisa menjadi apa yang Papa inginkan. Masih banyak sebenarnya hal yang belum teteh berikan dan tunjukkan pada Papa.

Paa… meski begitu, beberapa hal yang Papa mungkin belum menyadarinya. Apa yang sudah Papa berikan untuk teteh, selalu teteh ingat. Meskipun belum teteh aplikasikan sepenuhnya tapi semua didikan Papa selama ini sudah menjadi teman yang setia di manapun teteh berada. Papa yang tidak pernah mendidik teteh dengan materi membuat teteh tidak pernah mengeluh bagaimanapun kondisi lingkungan teteh. Papa dan juga Mama selalu bilang kalau materi itu tidak akan selalu setia menemani kita. Maka dari itu, bukan materi yang selama ini teteh kejar. Tapi sayangnya Allah kepada kita itu yang selalu teteh jadikan teman dan terus teteh kejar. Selain itu, Papa yang selalu sederhana menjadikan teteh selalu bisa menerima keadaan. Tidak pernah malu dengan kesederhanaan. Papa selalu mengajarkan teteh bahwa yang penting itu bukan apa yang kita punya, tapi apa yang bisa kita berikan pada yang lain. Bagaimana bahwa hidup itu harus jadi jalan manfaat bukan jalan kesulitan bagi saudaranya. Papa adalah idola teteh. Setinggi apapun prestasi yang sudah papa capai, papa tidak pernah berhenti untuk tetap rendah hati. Papa selalu bangun pagi sekali untuk membantu pekerjaan Mama dan bibi. Papa yang tidak pernah malu menyapu di jalan. Papa yang selalu apik dan mengajarkan teteh untuk menjadikan kebersihan dan kerapihan menjadi suatu kebiasaan. Papa selalu menjadi inspirasi untuk teteh. Papa yang selalu berprestasi di manapun papa berada. Papa dengan dedikasi yang tinggi, papa yang jujur, papa yang pekerja keras, papa yang selalu bertanggung jawab dan memberikan yang terbaik yang papa bisa lakukan untuk semua orang. Papa yang selalu ringan tangan membantu sesama. Papa yang dekat dengan masyarakat. Papa adalah segalanya dalam hidup teteh. Teteh tau, meski dalam diam, pikiran dan hati Papa tetap bekerja. Papa adalah papa paling hebat dalam hidup teteh. Teteh bisa seperti ini semua karena didikan dan kerja keras Papa. Mungkin teteh belum menjadi seorang anak yang dewasa sepenuhnya. Tapi percayalah

Pa.. apa yang sudah Papa berikan selalu teteh ingat dan berusaha teteh amalkan. Hari ini adalah hari terakhir Papa sepenuhnya menjaga teteh. Besok Pa.. besok akan ada pria yang akan sama hebatnya dengan Papa. Pria yang juga akan bertanggung jawab atas apa yang teteh lakukan. Pria yang akan menjaga teteh seperti selama ini Papa menjaga teteh. Pria yang akan menemani teteh belajar seperti Papa sudah menemani teteh belajar selama 21 tahun ini. Maka dari itu, izinkan pria itu untuk mengambil tanggung jawab itu ya Pa. Percayakan teteh pada dia ya Pa.. Besok.. tugas Papa untuk menjaga dan membesarkan teteh sudah akan selesai. Besok, pria itu akan membawa teteh ikut serta dalam putaran dan aturan hidupnya. Ikhlaskan teteh Pa.. Terima kasih sekali untuk semua hal yang sudah Papa berikan sama teteh. Sungguh, hingga kapanpun teteh tidak akan bisa membalasnya. Maaf pula untuk setiap perilaku, ucap kata, atau tindakan yang tidak berkenan di hati Papa. Maaf ya Pa teteh belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kedua anak papa yang lain. Teteh masih banyaaaak sekali kekurangannya. Masih banyak hal yang belum teteh lakukan untuk membuat Papa bangga. Tapi Papa harus percaya sama teteh, teteh tidak akan pernah berhenti berusaha. Semoga keputusan teteh untuk menikah muda adalah jalan bagi teteh untuk jauh lebih baik dan menjadi teladan untuk Aa dan Neng.

Doakan teteh ya Pa… Doakan teteh untuk selalu jadi yang terbaik untuk Papa dan keluarga kita. Doakan teteh bisa memberikan cucu yang hebat seperti Papa. Terakhir, teteh sayang Papa. Papa adalah pria terbaik dalam hidup teteh. Pria terhebat dalam hidup teteh. Pria yang selalu teteh banggakan. Pria yang selalu membuat teteh kagum. Pria yang sangat setia dan bertanggung jawab pada keluarganya. Papa adalah pahlawan dalam hidup teteh. Sekali lagi terima kasih Pa.. terima kasih untuk semuanya.

Mama, Papa.. Mungkin itu saja curahan hati teteh. Teteh yakin Mama dan Papa pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk teteh. Teteh izin mau pamit ya Ma,.. Pa,.. besok teteh mau nikah. Besok teteh akan mengemban tanggung jawab hidup teteh sendiri bareng A Indra. Jodoh itu misteri. Kita sekeluarga sama-sama tidak mengira akan dating secepat ini. Semoga pernikahan teteh sama A Indra jadi pernikahan yang berkah, sakinah, mawadah, dan warahmah.

Terima kasih untuk semua perjuangan Mama dan Papa yang sudah mengantarkan teteh ke gerbang yang indah ini. Gerbang yang di dalamnya ada lautan lepas penuh badai dan angina kencang. Doakan teteh kuat dan sabar yaa.. Mama dan Papa selalu bilang teteh pasti bisa. Iya Ma.. Iya Pa.. teteh pasti bisa! Bismillah :]

 

Ditulis satu bulan sebelum dibacakan, dengan penuh hormat, kasih, sayang dan cinta.

Bandung, 1 September 2010

Teteh.

cerita tentang persiapan pernikahan

27 Jun

KKN bentar lagi, Ramadhan bentar lagi, Lebaran bentar lagi, dan hari pernikahan juga sebentar lagi :)

Apa aja yang udah saya siapin? Mmmh… apa ya? Yang pasti akhir bulan Juni ini saya cukup hectic. Selain nyiapin buat KKN, saya juga kudu packing barang untuk pindahan kosan, ngurusin administrasi Semester Pendek, nyelesaiin requirement praktikum, mengamanahkan beberapa amanah yang akan sementara ditinggalkan selama KKN, dan menyiapkan pernikahan. Phew! Banyak sekali fokus saya akhir bulan ini… Semepet bikin saya uring-uringan dan sedikit mengeluarkan air mata saking pusingnya tapi alhamdulillah saya sudah kembali semangat dan akan segera menyelesaikannya dengan baik, insya Allah :)

Nah, judul posting kali ini kan tentang cerita persiapan pernikahan, emmm…. saya mau share tentang betapa saya makin sayang sama Mama, Papa, keluarga besar dan Aa.

Jujur aja deh kalo yang namanya detik-detik pernikahan itu bukan hal yang mudah untuk saya lewatkan. Saya makin sadar kalo saya ini masih ababil, ahahaha. Alhamdulillah semuanya masih sangat sabar meladeni saya dan akhirnya saya jadi malu sendiri. Gak ada yang bisa saya lakukan kecuali bersikap dewasa dan bijak menghadapi semuanya. Saya terharu banget ketika Papa dan Mama begitu serius dan mengusahakan yang terbaik untuk pernikahan saya nanti. Gak nyangka aja bakal seindah dan semudah ini :) Mudah-mudahan hasilnya baik dan penuh berkah. Semoga Allah selalu memberikan kelapangan rizki dan kemudahan dalam setiap urusan Mama dan Papa.

Dulu saya sempet pesimis dengan keputusan menikah muda karena takut malah jadi ngerepotin Mama dan Papa nyiapin semuanya, tapi Alhamdulillah Mama dan Papa sangat membantu saya menyiapkan semuanya. Hampir semua yang saya pengen dipenuhi sama mereka, ahhh speechless banget. Bener-bener deh yang namanya orang tua luar biasa pengorbanannya. Saya gak bisa bales dengan sesuatu yang sama Ma, Pa.. Sekarang yang teteh bisa adalah menjadi semakin baik dan semakin baik lagi sebagai anak Mama dan Papa. Semoga saya bisa memanfaatkan precious moment sebelum habis masa lajang ini untuk berbakti penuh sama kedua orang tua saya.

Terima kasih ya Mama dan Papa untuk semuanya.. Hanya Allah yang bisa membalas dengan hal yang setimpal :D

Oiya, buat yang mau tau progress persiapan nikah saya bisa dilihat di blog yang satu lagi. Klik aja di sini.

Itu aja kali yaaa. Pesan moral kali ini adalah: stay focus and never give up!

YOSHHH!

apa kabar disiplin?

30 May

Bismillahirrahmanirrahiim.

Halo sahabat pesbuker dan loteks :)

Senang sekali rasanya bisa nulis lagi. Saya lagi bersemangat sekali nih jadi yaa gak ada salahnya ya saya menularkan itu semua sama temen-temen pesbuker dan loteks. Okei, pada kesempatan kali ini saya mau berbagi tentang sebuah kekuatan yang bisa bikin kita sukses. Teori klise, simple, tapi pelaksanaannya perlu upgrade setiap harinya. Apakah itu? Disiplin.

Waaaaaaaaaaaa… saya yakin temen-temen semua di sini udah kenal kata disiplin sejak temen-temen ada di bangku SD atau TK mungkin ya. Nah, kok bisa ya teori yang udah kita kenal kurang lebih 20 tahun ini belum juga nempel di kita. Saya juga. Huhu :(

Yuk ah sama-sama saling ngingetin untuk selalu bersahabat dengan yang namanya disiplin. Setiap orang sukses di dunia ini pasti bahan bakar utamanya disiplin. Mulai dari Rasulullah sampai Mario Teguh. Dari Khadijah sampai Agnes Monica. Semuanya pake disiplin untuk dapetin suksesnya. Disiplin itu maknanya luas banget. Gak perlu deh saya jabarkan di sini karena saya yakin temen-temen udah ngerti banget disiplin itu apa.

Mungkin lebih kepada aplikasinya aja kali yaaa.

Oiya, sedikit bocoran. Saya biasanya nulis biar saya juga terpacu untuk ngejalaninnya. Masa ngasih tau orang lain sendirinya enggak. Jadi kita sama-sama mulai untuk temenan sama yang namanya disiplin mulai dari sekarang yaa. Bismillah.

Pertama, buat kamu yang beragama Muslim, yang namanya disiplin itu udah diajarin banget deh. Hal simple kayak shalat itu udah bantu kita untuk membiasakan diri untuk disiplin lho. Shalat mengajarkan kita untuk selalu tepat waktu.

Hal pertama yang bisa kita lakukan mungkin dengan mengatur jadwal. Jadwal harian, jadwal mingguan, sampai jadwal bulanan. Itu latihan pertamanya. Kalau kita bisa membiasakan diri mematuhi jadwal itu berarti kita udah selangkah lebih dekat dengan disiplin.

Ketika kita sudah terbiasa dengan memenuhi jadwal, biasanya nih yaa dengan sendirinya kita jadi kelatih untuk disiplin. Kalau kata bapak dan ibu saya, kebiasaan itu datangnya dari hal kecil yang dilakukan terus-menerus dan sedikit dipaksakan, insya Allah nanti jadi kebiasaan yang gak kerasa beratnya. Kalo udah kebiasaan nanti jadi karakter diri yang gak bisa pergi. Insya Allah.

Kedisiplinan ini juga berhubungan dengan sejauh mana keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu. Semua impian kunci utamanya ya disiplin. Mau kurus, yaa dietnya disiplin. Mau pinter praktikum, ya latihannya disiplin (which is itu buat saya butuh perjuangan ekstra, heu). Mau bisa bikin buku, ya disiplin nulis. Mau bisnis sukses, ya disiplin ngatur duit. Pokoknya semua kuncinya DISIPLIN.

Okei, okei… untuk teori tentang disiplin, sekali lagi ya, saya YAKIN temen-temen udah khatam banget. Saya di sini bukan mau menggurui tapi cuma mau saling negingetin aja. Apa kabar kedisiplinan kita sekarang? Sudah jadi keiasaan atau cuma memori mata pelajaran PPKn aja? Hehehe.

Itu aja kali yaaaa. Mudah-mudahan Allah kasih kekuatan dan semangat buat kita untuk BERUBAH, BERUBAH, dan BERUBAH! Jadi ksatria baja hitam RX! Hahaha..

Okei deh semua, semoga bermanfaat yaaaa :)

-achiibersiapuntukDISIPLIN-

rapat keluarga, maag, dan zaman dulu.

29 May

Minggu ini long weekend cuy. Macet di mana-mana. Alhamdulillah saya mah gak ikut repot ngantri macet. Lha wong di rumah aja kok :)

Agenda saya minggu ini adalah rapat keluarga untuk membahas detail persiapan pernikahan. Woww menakjubkan. Ini adalah pertama kalinya saya memimpin rapat di keluarga (huaaa… gak lagi-lagi deh ;p) Rapatnya beda dengan rapat di kampus karena saya harus menghadapi opini keluarga dari berbagai tingkat usia. And you know lah yaa family… tau sama tau jadi keterikatannya bukan ikatan kerja professional tapi kekeluargaan jadi harus sangat fleksibel. Well. Alhamdulillah rapat kali ini lancar dengan selesainya agenda budgeting (yang bikin sesek napas) dan pembagian tugas sampai hari H.  Alhamdulillah semuanya udah sangat jelas. Tinggal nunggu cairnya dana dari babeh, DP ini itu, ngobrol sana sini, dan phew! HARI HAAAA!! I love my family deh. Semuanya baik banget mau ngebantuin buat nikahan saya nanti. Yeah… that’s what family are for :)

Oiya, minggu ini saya nemu website tentang pernikahan namanya weddingku. Keren banget deh! Dia ngasih segala yang dibutuhkan sama calon pengantin. Mulai dari info, WO pribadi, dan wadah sharing bareng berjuta calon pasangan pengantin lain. SERU BANGET! VERY RECOMMENDED deh buat yang mau married ;p

Saya banyak dapet masukan dari weddingku. Thanks yaaa weddingku :D

Jumat malam rapat, hari Sabtunya maag saya kambuh (lagi). Gak enak banget rasanya. Ngapa-ngapain gak enak. Jadi pengen ketemu sama si dia bawaannya tapi saya sama dia lagi jauh alias beda kota. Sedih deh. Eh,eh… jadi inget zaman dulu. Zaman si dia masih pedekate sama saya. Kalau saya lagi sedih atau ada masalah dia waktu itu ngasih lagu buat saya. Fix You-nya Coldplay. Dia selalu ngasih semangat dan try to raise me up. Jadi kalo saya lagi butuh dia tapi gak bisa ketemu, saya suka denger lagu itu. Mengingat zaman dulu bahwa dia penah bilang, I’ll always try to fix you, be :)

Hmmm… Sebentar lagi saya bakal nikah sama dia. Seseorang yang selalu bikin saya amaze dengan nasihatnya. Seseorang yang selalu membuat saya bersyukur dapetin dia. Semakin deket hari H, rasanya keyakinan saya semakin diuji. Terkadang ada masanya saya yakin banget sama dia… ada pula masanya saya takut sama semua ini. Saya takut gak bisa bahagiain dan menerima dia apa adanya. Saya takut dia gak suka sama saya setelah nikah nanti. Yah… calon mempelai wanita dengan segala ketakutannya.

Saya masih cukup labil dan belum cukup dewasa untuk semua ini. Saya masih harus banyak belajar untuk mengerti, sabar, dan bijak. Semoga saya jadi lebih baik lagi ketika saya menikah nanti. Gak banyak takutnya, karena kata dia kalau banyak takut gak akan dapet apa-apa. Semoga saya dan dia bisa jadi tim yang kompak untuk membentuk sebuah rumah tangga. Saya percaya kok sama dia. Dia selalu bisa membimbing saya dengan baik. Sejauh ini masalah yang timbul antara kita berdua selalu terselesaikan dengan baik dan manis. Semoga sampai nanti ya, A :)

Eh, tau ga kenapa dinamain rumah tangga? Katanya… karena ketika kita berumah bersama si dia, ada tangga yang harus kita naiki bersama. Setiap harinya selalu ada tanjakan yang dilewati bareng. Nikah itu manajemen ketidakcocokan kata temen saya yang kemarin nikah. Jadi, nikmatin aja lika-likunya. Insya Allah itu akan indah banget rasanya. Hmmm…. Bismillah ya Allah… Semoga saya bisa menjadi wanita pembelajar yang tangguh dan sabar dengan semua proses yang harus saya jalani. Amiin.

Okei, mungkin itu sazaaa… Mudah-mudahan tetep ada manfaatnya racauan saya ini. Hehe.. Writing is always makes me happy deh pokoknya.

Happy long weekend ya semuaaaa :)

Doain maag saya sembuh dong, plissss :’(

nikah nikah dan nikah!

26 Oct

Pagi ini seperti biasa, gue memulai hari dengan ONLINE.

Buka facebook. Check notification dan kasih makan Baby Andra =) Setelah itu gue ngajak chat si ade. Kangen banget sama tuh ibu satu. Sama kayak gue kangen kakaknya, hehe. Ngobrol ngalor ngidul, ujungnya mah teuteup : “Kapan mau beli cincin?” Kapan yha de? Nunggu lampu ijo dari babeh kayaknya. Dan itu entah kapan, hehehe… Haduh, jujur yha… gue teh rada bingung bagaimana memulai semua ini. Memulai merenda langkah untuk menikah. Iya, menikah. Wew, berat juga yha cuy! Iseng-iseng googling dan menemukan proposal nikah. Baca deh! Cukup bisa dijadikan data empiris tuh daripada sekedar bilang, Ma..pa..aku pengen nikah..

Sempet gue chat sana chat sini sama temen gue yang udah nikah. FYI yha, umur gue boleh 20 tahun tapi temen yang udah nikah, banyaaaaaaaak! Haha.. Jadi akses untuk nanya, “Kog bisa sih nikah muda? Apa rasanya? Dulu, pertama ngomong sama ortu gimana?” dan masih banyak lagi pertanyaan yang gue ajukan pada beberapa narasumber itu. Hasilnya? Gue masih bingung. Intinya sih yhaa, semua punya ceritanya masing-masing. Jadi, gue juga gak bisa asal ngikutin aja, harus flexibel dengan keadaan gue sendiri.

Baiklah. Kita tinggalkan dulu kebingungan gue yang tadi. Cukup disimpan dan dibakar habis. Hehe. Saatnya mempersiapkan semuanya. Googling lagi. Nemu artikel ini. Dan membuat gue semakin semangat untuk segera ke arah sana. Coba kita agak serius dan gue menemukan artikel ini. Whuaaa ternyata yha bok, yang namanya menerceu, alias menikah itu rumit sekaleeee.. *Semoga kerumitannya tidak membuat gue mengalami jenuh yang sama ketika gue menemukan kerumitan politik. Cihhh..

Menikah. Buat gue adalah ibadah. Daripada gue menclak menclok sana sini sama cowo yang belum tentu jadi jodoh gue, mending juga langsung nikah kalo udah nemu yang cocok, kayak dia. Iya gak? Dan untuk menikah di usia muda, yhaaa gitu deh.. Asem-asem seger. Banyak lekukan yang harus dipoles biar kontur ceritanya mantap! Gitulhooo. Jadi, gak semudah itu untuk MENIKAH.

Gue juga sebenernya udah bosen ditanya: “Chi, kapan atuh nikah teh??” Seakan-akan gue adalah gadis di penghujung umur yang sudah saatnya mengejar deadline untuk menikah. Hahaha.. padahal gue masih duapulutahun cuyyy!

Jadi, lebih baik gue mempersiapkan semuanya ini dengan mantap. Menyiapkan ilmu tentang pernikahan, tentang mengabdi pada suami, tentang mengatur waktu untuk keluarga, tentang menjadi ibu, tentang semua hal yang harus jadi starter pack buat melangkah di check point berikutnya.

Di saat yang bersamaan, saat gue chat sama si ade, window sebelah gue chat juga sama Teh Asti, temennya Tomat yang punya wedding organization *recomended!* Nah, gue jadi tanya-tanya deh seputar wedding package. Wiwww lumayan yha bok! Bikin gue males ngadain resepsi. Hehe. Badget yha cuy! Bisa ngasih makan 7 turunan itu mah *LEBAY*

Apapun itu, menikah selalu membuat gue semangat. Untuk memperbaiki diri tentunya. Mungkin gue terlihat terlalu visioner, tapi berlari lebih cepat daripada yang lain, rasanya tidak ada yang salah. Kita gak pernah tau sampai kapan kita dikasih kesempatan untuk bersenang-senang di dunia ini, i just want to feel everything that i can feel, just choosing. Stagnant or very dinamic. I choose to be a very dinamic woman. Satu tahun bagi gue akan sangat banyak yang gue lewati. Tahun kemarin, gue masih dengan bahasa ingusannya gue. Tahun ini sudah beberapa langkah lebih maju dan berprogress. Tahun depan? We’ll see. For sure, I never quiet. My self moves an d moves until God take me away =)

Jadi, siapkah saya menikah? Insya allah :-)

petuah babeh

24 Sep

Personality come from habit. This quote belongs to bokap gue. Iya, beliau selalu menanamkan ini sama semua anaknya. Satu kasus.

Bokap : “Teh, bangun sih! Nyuci piring sana!

Gue : “Iyaaa sebentaaaaaaaar!”

Bokap : “Ayo biasain dari sekarang. Biar nanti biasa. Jadi perempuan tuh harus bisa nyuci piring. Biar cekatan nanti kalo jadi istri.”

Gue : “Yaelah. Ntar juga bisa sendiri.”

Bokap : “Tapi kalo dibiasain dari sekarang rasanya beda. Udah sana nyuci piring!”

Gue : “Bentar…”

Hahahaha. ‘Bentar’ is our favorite answer =)

Dan setelah 20 tahun malang melintang menjadi anaknya Bapak Asep. Gue merasakan hal yang luar biasa. Hal-hal per-cewek-an emang udah digenjot abis ama bokap nyokap gue. Dan voila! Gue bisa dengan mudahnya mengerjakan semua itu. Tanpa keluh dan beban. Karena apa? Karena udah biasa.

(more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.