Archive | jago juga gue RSS feed for this section

Renungan malam ini.

8 Dec

Sejujurnya, saya lagi jenuh dengan rutinitas saya. Saya lagi lelah dengan segala keterbatasan saya. But hei, wait a minute. Saya gak punya batas. Manusia tidak pernah punya batas untuk melakukan apa yang dia mau, bukankah? Saya kadang suka malu sendiri deh kalo udah down begini sama diri sendiri, dan suami saya tentunya. Karena suami yang biasanya mengingatkan saya dengan segala teori yang sebenernya saya bikin sendiri untuk memotivasi. Yeah, i’m just a human, right?

Okei… tapi saya tidak boleh hanya berdiam diri dengan segala kejenuhan dan keterbatasan saya. Dari segala kesuntukan ini, ada banyak hal yang saya dapat malam ini.

1. Salah satu cara menghilangkan badmood adalah banyak bergerak. Lakukan apa aja deh, yang penting gak stuck. Gak Fesbukan atau gak anteng twitteran. Badmood? So move! Dan itu berhasil buat saya mah. Saya nyoba memaksakan diri saya bergerak untuk nyuci atau gak nulis (nulis di sini beneran pake pulpen, bukan pake keyboard). Pokoknya BERGERAK!

2. Hal yang membuat kita gak bisa dan gak pernah mendapatkan apa yang kita mau, karena kita gak pernah serius melakukan apa yang seharusnya kita kerjakan. Ya, saya gak pernah serius. Dan itulah kenapa saya hanya merasa terjebak dalam rutinitas. Padahal setiap hari ada tantangannya dan tantangan2 itu beda2 tiap harinya dan apa yang kita harus hadapi setiap hari kalo kita cermat dan serius menyelesaikannya itu akan menjadi anak tangga yang mengantarkan kita ke puncak sukses :)

3. Kenapa saya suka twitter? Banyak hal yang saya pelajari dari twitter. Banyak umpatan, keluhan, dan sampah yang numpuk di timeline. Antara aura positif dan negatif yang ada, selalu saya ulek jadi rahasia sukses. Yeaaa… input sejelek apapun kalo kita prosesnya baik di hati dan pikiran kita, outputnya bakal oke. Hmmm.. contohnya gini: Kalo ada yang ngeluh di twitter, saya selalu melakukan hal yang sebaliknya, meski sebenernya saya pengen banget ikut ngeluh, tapi keluhan orang membuat saya pengen bersyukur. Saya dan kelakuan antonim saya. Hahaha. Saya suka banget melakukan hal yang gak orang lain lakukan. Saya suka melakukan hal yang berbeda. Ada orang yang mengumpat, saya mencoba memberikan simpati. Okei, mungkin saya akan menjadi orang yang menyebalkan. Tapi yaaa teknologi itu akan menjadi manfaat buat kita bagaimana kita memanfaatkannya, iya to? Yah gitulah pokoknya. Saya suka sedih kalo waktu saya habis mikirin diri sendiri, berputar di lingkaran yang sama karena jeratan keluh. Di luar sana ada orang yang tantangan hidupnya lebih berat tapi masih bisa mikirin orang lain. Mereka bisa, kenapa saya engga?

Jadiiiiiiiiiiiiiiii… tetap semangat! Stay young and positive loteks :)

Gudnite!

the letters of memory

15 Nov

Atas permintaan Neng Risma Putri, saya posting-kan tulisan saya untuk Mama dan Papa. Tulisan ini adalah tulisan yang saya bacain pas pengajian nikahan saya 1 Oktober kemarin. Semoga bermanfaat :)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mama, teteh awali semua ini dengan cinta. Cinta tulus seorang anak kepada ibunya yang mungkin tak seberapa. Mama, izinkan aku mencoba mengingat beberapa kenangan indah dan penuh manfaat 21 tahun ke belakang. Mama, mungkin aku tak akan pernah ingat ketika aku dibesarkan dalam kandunganmu yang penuh kasih itu. Aku tak akan ingat saat-saat di mana engkau berpeluh keringat melahirkanku di klinik itu. Aku tak akan bisa mengingatnya.

Tapi aku sudah mulai bisa mengingat ketika Mama selalu menjagaku di pelabuhan antara Jawa dan Sumatra. Mama yang tak pernah menolak ketika kuminta dibelikan popmie di kapal laut penuh kenangan itu. Aku sudah bisa mengingat Ma, ketika Mama selalu mengajakku penuh semangat ke tempat wisata ketika aku kecil. Sungguh Mama, aku saat itu sangat bahagia. Hingga sampai saat ini pun aku tak tau harus membalas kebahagiaan yang kau berikan saat itu dengan apa. Mama, ingat tidak ketika kelas 3 SD aku tidak masuk rangking 5 besar? Aku menagis sejadinya. Dan tubuhmu yang penuh kasih begitu erat mendekapku hangat. Sejak saat itu aku selalu ingat bahwa perjuangan itu tak pernah ada akhirnya. Kau tau, Bisikan semangatmu masih terasa hingga saat ini.

Mama, aku juga masih ingat pertengkaran-pertangkaran kita ketika aku sudah mulai beranjak besar. Ketika aku hanya mementingkan inginku sendiri tanpa menghiraukan nasihatmu. Aku dengan dunia remajaku yang selalu membuatmu risau. Ah sepertinya tak perlu kusebutkan satu persatu kenakalan apa saja yang telah membuatmu menangis banyak. Sungguh mama.. meskipun aku menyesal tak terkira, bagiku itu adalah masa terindah di mana aku menjadi banyak belajar tentang hidup, cinta sejati, dan kasih sayangmu yang tak ada batasnya.

Duhai engkau bidadari hatiku, hanya Allah yang begitu hebat telah mengukir cinta di hatimu. Menambahkan kesabaran yang tak pernah habisnya di kotak hati itu. Apapun kenakalan yang telah membuatmu kecewa, kau tetap bersemangat mencintaiku. Tak pernah berhenti mencintaiku. Hingga ketika aku beranjak semakin dewasa aku selalu berusaha untuk memperbaiki semua. Semakin memahami bahwa nasihatmu adalah kunci berkahnya hidupku. Meski mungkin teteh terlihat cuek dan sangat santai menanggapi nasihat Mama tapi Mama harus tau bahwa aku selalu berusaha menjadi anak perempuan yang baik dan menjadi kakak sulung yang baik untuk 2 adikku. Perjuangan itu berat Ma.. Menjadi semakin baik itu ternyata sulit Ma.. Namun doamu selalu menjadi kekuatan bagiku. Teladanmu selalu menjadi semangat di setiap pagiku. Mama yang tak pernah melewatkan sepertiga malammu. Mama yang tidak pernah terdengar hening di setiap pagi karena syahdunya alunan mengaji. Mama yang mengatur awal hari dengan sigap. Mama yang meski lelah pulang bekerja tapi tetap ada untuk memenuhi keinginan anak-anaknya. Mama yang selalu membuat aku rindu untuk pulang ke rumah meski Mama tak tau itu…

Kini sudah 21 tahun berlalu dengan segala kenangan indah bersama Mama.. Sungguh tak terasa. Perjuangan Mama selama kuliah membesarkan aku dalam rahimnya hingga kini saatnya melepas aku untuk menjalani perjuangan yang mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah Mama jalani. Tidak bisa aku sebutkan semuanya karena sungguh tak terhitung jumlahnya semua kenangan itu. Maaf ma, teteh belum bisa membalas semua kebaikan Mama. Maaf teteh masih saja membuat mama sedih atau kesal. Maaf untuk segala maaf yang belum ada perbaikan ke arah lebih baiknya. Kita tidak pernah tau sampai kapan kita bisa bersama. Kita tidak pernah tau sampai kapan kita masih mampu saling memberi dukungan. Tapi yang pasti, besok teteh mau minta izin ma.. Besok teteh mau nikah. Subhanallah. Sungguh waktu berjalan begitu cepat dan jodoh menjemputku begitu awal. Teteh tidak pernah tau sepenuhnya apakah teteh siap atau tidak. Tapi Allah sepertinya memang memberikan jalan untuk mengabari hati bahwa teteh cukup siap untuk menjalani semua ini. Skenario Allah yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dengan segala  kekurangan teteh, dan dengan sepenuh keridhoan Mama. Izinkan teteh menjadi lebih mandiri lagi ya Ma. Lebih belajar lagi tentang hidup. Lebih bisa mengendalikan diri dan dekat dengan Allah. Terima kasih untuk semua pelajaran, nasihat, dan keteladanan yang Mama berikan. Kasih sayang, motivasi, dan kerja keras yang Mama berikan sehingga teteh bisa menjadi seperti ini. Mama tau? Semua itu yang selalu membuat teteh merasa siap untuk menghadapi hari esok. Hari di mana tanggung jawab akan lebih besar lagi. Hari di mana teteh akan menjadi seperti mama, menjadi istri seorang yang shaleh dan kelak akan menjadi ibu dari cucunya Mama. Hari di mana teteh sudah mulai harus berbagi kebahagiaan dengan keluarga lain selain keluarga kita ini. Maka dari itu, dengan segala cinta, kasih sayang, ucapan maaf dan terima kasih yang tak akan pernah ada habisnya, teteh minta izin Ma.. Doakan teteh biar bisa sehebat Mama, sekuat Mama, dan sesabar Mama menjalani kehidupan rumah tangga. Teteh yakin doa Mama adalah segalanya untuk teteh. Terima kasih ya Mama. Teteh sayaaaang banget sama Mama :)

Satu lagi surat untuk Papa.. Surat untuk seorang pria hebat yang telah membesarkan saya hingga saat ini. Papa, setelah tadi teteh mencoba mengingat beberapa kenangan indah teteh bersama Mama. Sekarang izinkan teteh untuk kembali mengingat kenangan indah teteh dengan Papa. Kalau Papa bertanya sejak kapan teteh bisa mengingat kenangan teteh bersama Papa, jujur saja Pa.. bukan di saat-saat Papa sedang berjuang mencari nafkah untuk menghidupi Mama dan janin yang ada di dalamnya. Bukan di saat papa harus kesana kemari berjualan untuk menambah tabungan untuk kelahiran teteh yang Papa sengaja siapkan di klinik terbaik di Buahbatu saat itu. Bukan pada saat Papa mencari permintaan tolong para dosen yang ingin dibuatkan perkerjaan labnya. Bukan pada saat-saat penuh perjuangan itu. Saat-saat di mana justru teteh ingin ada bersama Papa dan menemani Papa untuk belajar dan meringankan beban Papa.

Teteh baru ingat kebersamaan kita ketika Papa selalu meninabobokan teteh dengan ayat-ayat suci Al quran di gendongan Papa. Teteh baru ingat di saat Papa yang selalu memandikan teteh yang baru pulang main dari lapangan pada saat teteh masih TK. Teteh juga masih ingat ketika Papa selalu mengajak teteh ke tempat yang luar biasa saat di Palembang sana. Papa yang selalu mengajak teteh tau dan lebih kenal dengan dunia luar. Papa masih ingat tidak waktu pertama kali teteh diajak shalat berjamaah? Waktu itu Papa membacakan surat Wal Ashr. Dan dengan polosnya teteh menjawab dengan ucapan Wal Papa Wal Mama. Hahaha.. Papa yang mengajari teteh keberanian saat teteh baru belajar berenang. Papa yang mengajari teteh untuk terus mencoba ketika teteh kesulitan belajar bersepeda. Papa yang selalu mengajarkan teteh bahwa hidup itu selalu bisa ketika kita mau terus berjuang dan berusaha.

Kenangan masa kecil yang sangat sangat indah bersama Papa tidak pernah akan teteh lupakan. Hingga beranjak dewasa entah kenapa kita tidak sedekat dulu. Apalagi ketika di keluarga ini sudah ada anggota baru seorang lelaki yang menjadi adik pertamaku. Kebersamaan kita tidak sesering dulu lagi. Mungkin kita tidak sama-sama menyadarinya saat itu.. karena saat itu pun aku sudah asik dengan sahabat-sahabatku. Meski begitu, Papa lah yang selalu menenangkan dan mengingatkan teteh ketika teteh sedang bersitegang dengan Mama. Papa yang selalu mencoba menenangkan suasana meski teteh tau Papa pun sama kesalnya dengan Mama. Papa selalu mengingatkan bahwa ridho orang tua apalagi ibu adalah segalanya. Papa yang selalu mengingatkan tujuan utama hidup itu harus kemana. Meski tidak seperti dulu lagi, tapi teteh masih selalu merasakan perjuangan yang sama, perjuangan yang tidak pernah berubah sejak teteh masih dalam kandungan, perjuangan terbaik papa untuk menyekolahkan teteh di sekolah-sekolah terbaik. Mulai dari TK hingga kuliah saat ini, perjuangan Papa lah yang selalu menjadi motivasi teteh untuk bisa bersekolah di sekolah terbaik. Perjuangan Papa yang tidak pernah kenal lelah. Perjuangan Papa yang membuat Papa tidak pernah memiliki jam tidur yang cukup untuk beristirahat. Dalam hati paling dalam, teteh malu sekali Pa. Teteh belum bisa memberikan yang terbaik. Belum bisa membuat Papa bangga. Belum bisa meringankan beban Papa. Belum bisa membalas semua perjuangan itu. Teteh belum secemerlang Papa ketika Papa kuliah. Teteh belum segigih Papa dalam berjuang. Teteh belum bisa menjadi apa yang Papa inginkan. Masih banyak sebenarnya hal yang belum teteh berikan dan tunjukkan pada Papa.

Paa… meski begitu, beberapa hal yang Papa mungkin belum menyadarinya. Apa yang sudah Papa berikan untuk teteh, selalu teteh ingat. Meskipun belum teteh aplikasikan sepenuhnya tapi semua didikan Papa selama ini sudah menjadi teman yang setia di manapun teteh berada. Papa yang tidak pernah mendidik teteh dengan materi membuat teteh tidak pernah mengeluh bagaimanapun kondisi lingkungan teteh. Papa dan juga Mama selalu bilang kalau materi itu tidak akan selalu setia menemani kita. Maka dari itu, bukan materi yang selama ini teteh kejar. Tapi sayangnya Allah kepada kita itu yang selalu teteh jadikan teman dan terus teteh kejar. Selain itu, Papa yang selalu sederhana menjadikan teteh selalu bisa menerima keadaan. Tidak pernah malu dengan kesederhanaan. Papa selalu mengajarkan teteh bahwa yang penting itu bukan apa yang kita punya, tapi apa yang bisa kita berikan pada yang lain. Bagaimana bahwa hidup itu harus jadi jalan manfaat bukan jalan kesulitan bagi saudaranya. Papa adalah idola teteh. Setinggi apapun prestasi yang sudah papa capai, papa tidak pernah berhenti untuk tetap rendah hati. Papa selalu bangun pagi sekali untuk membantu pekerjaan Mama dan bibi. Papa yang tidak pernah malu menyapu di jalan. Papa yang selalu apik dan mengajarkan teteh untuk menjadikan kebersihan dan kerapihan menjadi suatu kebiasaan. Papa selalu menjadi inspirasi untuk teteh. Papa yang selalu berprestasi di manapun papa berada. Papa dengan dedikasi yang tinggi, papa yang jujur, papa yang pekerja keras, papa yang selalu bertanggung jawab dan memberikan yang terbaik yang papa bisa lakukan untuk semua orang. Papa yang selalu ringan tangan membantu sesama. Papa yang dekat dengan masyarakat. Papa adalah segalanya dalam hidup teteh. Teteh tau, meski dalam diam, pikiran dan hati Papa tetap bekerja. Papa adalah papa paling hebat dalam hidup teteh. Teteh bisa seperti ini semua karena didikan dan kerja keras Papa. Mungkin teteh belum menjadi seorang anak yang dewasa sepenuhnya. Tapi percayalah

Pa.. apa yang sudah Papa berikan selalu teteh ingat dan berusaha teteh amalkan. Hari ini adalah hari terakhir Papa sepenuhnya menjaga teteh. Besok Pa.. besok akan ada pria yang akan sama hebatnya dengan Papa. Pria yang juga akan bertanggung jawab atas apa yang teteh lakukan. Pria yang akan menjaga teteh seperti selama ini Papa menjaga teteh. Pria yang akan menemani teteh belajar seperti Papa sudah menemani teteh belajar selama 21 tahun ini. Maka dari itu, izinkan pria itu untuk mengambil tanggung jawab itu ya Pa. Percayakan teteh pada dia ya Pa.. Besok.. tugas Papa untuk menjaga dan membesarkan teteh sudah akan selesai. Besok, pria itu akan membawa teteh ikut serta dalam putaran dan aturan hidupnya. Ikhlaskan teteh Pa.. Terima kasih sekali untuk semua hal yang sudah Papa berikan sama teteh. Sungguh, hingga kapanpun teteh tidak akan bisa membalasnya. Maaf pula untuk setiap perilaku, ucap kata, atau tindakan yang tidak berkenan di hati Papa. Maaf ya Pa teteh belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kedua anak papa yang lain. Teteh masih banyaaaak sekali kekurangannya. Masih banyak hal yang belum teteh lakukan untuk membuat Papa bangga. Tapi Papa harus percaya sama teteh, teteh tidak akan pernah berhenti berusaha. Semoga keputusan teteh untuk menikah muda adalah jalan bagi teteh untuk jauh lebih baik dan menjadi teladan untuk Aa dan Neng.

Doakan teteh ya Pa… Doakan teteh untuk selalu jadi yang terbaik untuk Papa dan keluarga kita. Doakan teteh bisa memberikan cucu yang hebat seperti Papa. Terakhir, teteh sayang Papa. Papa adalah pria terbaik dalam hidup teteh. Pria terhebat dalam hidup teteh. Pria yang selalu teteh banggakan. Pria yang selalu membuat teteh kagum. Pria yang sangat setia dan bertanggung jawab pada keluarganya. Papa adalah pahlawan dalam hidup teteh. Sekali lagi terima kasih Pa.. terima kasih untuk semuanya.

Mama, Papa.. Mungkin itu saja curahan hati teteh. Teteh yakin Mama dan Papa pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk teteh. Teteh izin mau pamit ya Ma,.. Pa,.. besok teteh mau nikah. Besok teteh akan mengemban tanggung jawab hidup teteh sendiri bareng A Indra. Jodoh itu misteri. Kita sekeluarga sama-sama tidak mengira akan dating secepat ini. Semoga pernikahan teteh sama A Indra jadi pernikahan yang berkah, sakinah, mawadah, dan warahmah.

Terima kasih untuk semua perjuangan Mama dan Papa yang sudah mengantarkan teteh ke gerbang yang indah ini. Gerbang yang di dalamnya ada lautan lepas penuh badai dan angina kencang. Doakan teteh kuat dan sabar yaa.. Mama dan Papa selalu bilang teteh pasti bisa. Iya Ma.. Iya Pa.. teteh pasti bisa! Bismillah :]

 

Ditulis satu bulan sebelum dibacakan, dengan penuh hormat, kasih, sayang dan cinta.

Bandung, 1 September 2010

Teteh.

sastra pranikah

15 Nov

Lelehan kelenjar air mata ini tak dapat kuhenti. Aku kesepian. Aku kedinginan. Aku kembali berada di sudut kota yang membuatku masih ingin menempuh jarak ke arah timur 3,5 jam lagi menemuinya. Jangan tanya aku kenapa karena aku pun tak tahu mengapa sedalam itu aku membutuhkannya untuk merebahkan beban di bahunya yang hangat dan senyumnya yang tulus. Satu jeda waktu itu telah mempertemukan aku dengannya. Aku tidak meminta kebetulan itu. Aku dan dia hanya disatukan oleh semesta.

Aku pun berjalan di pinggiran sudut kota yang dipenuhi bis, sedang menunggu penumpang. Perjalanan yang semakin menguras perih. Aku masih ingin bersamanya. Tapi realita seakan tak sejalan dengan keinginan. Aku muak.

Aku muak dengan keadaan.

Kedinginanku semakin menjadi karena angin kota itu sedang terpuruk meninggalkan akhir pekan ini. Angin yang selalu ada menemani para mahasiswa yang selalu berat menghadapi awal pekan. Angin yang selalu ada ketika para mahasiswa ingin berlari dan menjauh dari aktivitas kampus yang memuakkan. Akitivitas kampus yang membuat mereka menjauh dari hingar bingar pusat kota. Atau mungkin hangatnya keluarga. Angin yang saat ini ada untuk meruntuhkan rinduku padanya

Laju angkutan kota mengantarkanku ke sebuah rumah. Rumah yang terkadang hangat namun terkadang dingin menyambut kedatangkanku di batas jam malam. Aku sudah sampai di kamar kontrakan itu. Kamar tempat aku menyimpan suka dan tangis yang begitu terisak dalam. Aku lemparkan air mata tanpa sekat ke dalam bantal itu. Aku alami malam yang mendung. Malam yang tanpa bahagia. Malam yang penuh resah dan malam yang ingin segera kutinggalkan. Akhirnya aku pun melepas semua tekan yang meyempitkan jiwa dengan seribu cerita padanya. Pada lelaki yang harus sejauh apa aku katakan bahwa aku penuh yakin padanya. Aku berhenti dan menyeka tangis. Aku mengambil aliran air suci pengantar shalat, aku menyembahNya. Dan ternyata lebih dari cukup Ia menjadi penenang dan penjawab gundah. Aku mereda. Dan sudahlah henti mendung malam ini. Aku menyeduh ayat demi ayat di kitab sepanjang masa itu, aku semakin tenang dan damai.

Aku harus segera merangkai bukti. Aku harus segera merajut bijak, untuk masa depan yang telah matang kurencanakan bersamanya. Agar aku merasa memiliki teman pelipur segala lara. Agar aku merasa telah pantas berbagi segalanya dengannya. Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak boleh patah. Aku terlalu berharga untuk diam dan tak bergerak.

Dan untuk rumahku yang jauh di sana, bukan aku tak sayang atau tak cinta. Aku hanya butuh teman. Aku butuh teman berbagi. Teman sebaya untuk berbagi. Dan aku ingin temen itu aku jadikan keluarga. Karena sudah betapa lama aku menginginkan tempat berbagi di keluarga sendiri. Teman sebaya. Sekali lagi, bukan aku tak sayang dan tak cinta. Hanya saja… selama ini belum pernah aku merasa dimengerti dan diterima apa adanya. Bukan aku tak sayang dan tak cinta… Justru aku terlalu sayang dan terlalu cinta, aku jadi tidak bisa menjadi diri sendiri. Maka, ijinkan ia menjadi teman sebaya yang membuatku bisa tampil apa adanya di keluargaku sendiri… Percayalah, aku yakin dia adalah orang yang tepat. Setepat dan seyakinnya aku menjadikan ia menjadi keluarga kita. Percayalah!

… … …

Ah sepertinya sulit bagi kalian mempercayai aku. Dan akan terasa selalu sulit jika kalian hanya melihat busukku saja. Hanya melihat lemahku saja. Hanya melihat rapuhku saja. Hanya melihat emosiku saja. Hanya melihat burukku saja. Hanya melihat malasku saja. Hanya melihat diamku saja. Tapi aku tidak menyalahkan. Karena sulitnya sama ketika aku harus menunjukkan kedewasaanku, kekuatanku, ketangguhanku, ketenanganku, kebaikanku, kerajinanku, dan keaktifanku. Aku memang payah. Jadi sekarang, yasudahlah, terserah. Aku hanya bisa pasrah.

Pasrah.

Meski tetap aku terus berusaha tanpa menyerah. Meski setiap niat baik selalu terlihat salah. Aku akan tetap berencana, bergerak, dan akhirnya mewujudkannya! Bismillah…

semua indah pada waktunya ;)

24 Sep

Ketika aku lahir di dunia ini.

tidak terpikirkan olehku untuk memintamu menjadi temanku.

Ingin mengenalmu saja aku tak tau..

Dan sekarang kau ada di sini

Bersamaku

Menjadi yang terbaik bagiku.

Dan selalu menjadi doa di setiap tundukku.
(more…)

doa di tengah rindu…

24 Sep

ya Allah..

ada getar yang menggelitik hatiku.

dan aku bertanya, apakah ini cinta..

dan jika iya, aku menjadi saja seseorang yang ketakutan..

ya Allah…

sulitnya mempertahankan cinta yang menderu untukMu..

dan jika inikah yang menggelitik membuatku sendu dan lupa akan cintaMu.

Wajarkan aku takut..

ya Allah..

jikapun iya ini cinta, biarkan ia bersemi atas namaMu.

Mengantarkanku semakin meneriakkan cinta kepadaMu..

Jangan Tuhan..jangan biarkan ia merenggut deru ini untukMu.

ya Allah…

jika aku mencintainya, ajari aku bagaimana mencintai dengan atas namaMu..

jika ia memang teman, jadikan ia teman yang mengajakku membuahkan cinta untukMu.

Bukan hanya saling belajar dan menemani, tetapi juga memadu kasih bermunajat memujaMu..

ya Allah…

jika saja ia akan membawaku berlari menjauhiMu… jauhkan ia dariku. Hempaskan ia dari mimpiku..

biarkan ia tersisa bersama debu… dan bukan untukku..

ataukah mungkin kau ingin ku menariknya bersamaMu…

apapun itu..jangan jauhkan cintaMu untukku..

jangan Tuhan..

biarkan apa yang tersisa dan tertanam dalam hati adalah tasbih kepadaMu..

dianya adalah teman.. dianya bukanlah keabadian.

Karena yang kumau adalah ulasan dzikir yang mengakhiri perjalananku..

spesial untuk partner…

16 Sep

Pembelajaran sepertinya tak cukup hanya dengan sekali selisih

Kurikulum ini kita yang menentukan sendiri

Hanya ada satu ujian di tengah setiap semester atau berkali-kali ujian, sama saja.

Kita harus selalu belajar untuk semua ini

Untuk satu hal yang akan kita rangkul bersama

Tidak ada guru tidak ada murid

Hanya ada aku dan kamu

Yang akhirnya bersinergi menjadi kita

Kita yang selalu membuat masalah

Dan kita sendiri yang menyelesaiakannya

Dan ketika masalah itu berbuah cinta

Aku selalu bahagia menjadikanmu teman satu kelas

Teman satu bangku

Dan teman satu cita…

Dan aku, akan selalu bersemangat mengerjakan PR bersamamu

Membuat makalah bersamamu

Dan menjadi juara satu bersamamu

Bukan dalam kelas di sekolah

Tapi dalam kelas yang hanya kita berdua pemiliknya.

Thx for everything we have been through together, lucky to be with u deh!

–cabeuntuktomat

Mengenal Allah lewat doa..

11 Sep

Bismillahirrahmanirrahim..
Duhai Rabbi..duhai Engkau yang Maha Pemurah..
Tuntunlah hati-hati kami untuk dapat senantiasa menyayangi sekitar kami. Jadikan langkah kami ialah derap langkah yang mengenalkan Maha PemurahMu kepada saudara-saudara kami. Jadikan pancaran hati kami ialah ia yang mengingatkan saudara-saudara kami betapa indahnya bermurah hati.

Duhai Rabbi..duhai Engkau yang Maha Mengasihi..
Tuntunlah ucapan kami ialah ucap yang mengisyaratkan kasih. Jadikan niat kami ialah niat yang penuh kasih. Tunjukkanlah kami jalan di mana kami dapat menjadi orang-orang yang mendekatkan saudara kami kepada Maha Luas kasihMu.

Duhai Rabbi..duhai Engkau yang Maha Menguasai..
Ajari kami bagaimana cara menguasai diri kami sendiri. Ajari kami bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik bagi saudara-saudara kami. Tuntun kami untuk menjadi insan yang jauh dari mendzalimi diri sendiri maupun saudara sendiri. Jadikanlah akhlak kami sebagai akhlak yang agung dan dapat diteladani.
(more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.