Archive | February, 2010

luar biasa!

21 Feb

Hay loteekkkssss ;p

Apa kabar? Insya Allah para lotekers pasti sedang dalam keadaan baik. Hihi. Saya lagi seneng banget nih. Semenjak saya iseng-iseng buat grup di facebook dengan nama achiisurachii menulis, mood saya dalam hal tulis menulis jadi mengalir deras. Saking derasnya jadi berlarian nih antara ide dengan kecepatan mengetik saya di keybord laptop. Haha, lebay. So, apa yang membuat mood saya menggelegar *bahasanya adik saya untuk mengungkapkan sesuatu yang wow* ?? Semua itu disebabkan oleh apresiasi dari setiap anggota yang begitu positif. Rasanya kekonsistenan saya dalam hal menulis sejak kecil berbuah manis saat ini. Ya, meski saya belum bisa menerbitkan sebuah buku tapi rasanya sudah luar biasa.

Update terbaru dari grup ini adalah sekarang membernya sudah mencapai angka 317 :D

Hal yang paling bikin saya senang, terharu, dan semakin bersemangat adalah ketika ada beberapa pembaca yang sangat apresiatif memberi komen sambil cerita curhat colongannya dan bilang kalo tulisan saya itu: dia banget. Hehe…. ternyata i’m not alone yaa kalo lagi menghadapi masalah atau sebuah perasaan. Bahkan mungkin apa yang saya rasakan saat ini adalah rasa yang sama yang dirasakan oleh banyak orang di dunia: perasaan luar biasa!

Ah… tidak ada yang lebih membahagiakan selain perasaan bisa merasa bermanfaat untuk sesama. Tulisan saya sengaja saya buat sederhana dan penuh realita -halah- tujuannya adalah biar ada manfaat dan hikmahnya. Saya selalu ingat apa kata teteh mentor saya, kalo punya hikmah, yhaa bagiin lah sama yang lain… biar pahalanya gak terputus dan alhamdulillah saya jadi suka gatel sendiri untuk langsung nulis dan berbagi sama yang lain kalo saya udah ngerasa satu inspirasi dari teman atau keadaan. Semoga setiap tulisan saya menjadi tabungan saya untuk kehidupan akhirat saya kelak yha ^^

Saya yang masih banyak bikin salah ini hanya mencoba berubah ke arah yang lebih baik dengan cara yang sederhana. Saya berubah sambil mengajak yang lain juga ikut berubah. Biar nanti ke surga ada temennya. Kalo kata Kang Asep sang capres Unpad di PRAMA tahun ini mah, apa yang kita lakukan itu sadar atau tidak, kecil atau besar, penting atau enggak, akan berpengaruh pada lingkungan kita. Jadi, mari kita menebar manfaat bersama sahabat :)

Baiklah. Update terbaru yang lainnya adalah saya sedang asik-asiknya menyiapkan printilan pernikahan. Setelah kemarin agak pesimis dengan perubahan tanggal karena terpentok jadwal kuliah, insya Allah sekarang sudah sangat semangat lagi karena sudah ada tanggal yang baru! Pasti pada nanya, emang kapan chii? Haha. Masih R-A-H-A-S-I-A! Insya Allah akan dipublish kalo sudah tepat waktunya. Hehe. *Ketularan misteriusnya Tomat*

Sooooo, sekaranglah saatnya di tahun ini saya akan memulai mengencangkan gas. Kehidupan kuliah denga target IP naik edan2an, kehidupan BEM dengan diamanahi jadi wakil presiden, kehidupan menjelang pernikahan dengan berbagai ke-excited-annya, dan kehidupan lama namun penuh aroma baru alias menjadi penulis dengan segala gairah yang tak ada hentinya ini akan saya jalani dengan serius mulai tahun ini. Bismillah ya Allah. Tiada daya dan upaya tanpa pertolonganMu…

The last, sudahkan Anda menjadi anggota achiisurachii menulis? Hehe.

tomat dan cabe

14 Feb

Hay loteksss!

Tahu tidak kalo saya punya peliharaan blog lain yaitu, tomat vs cabe ?

Blog ini adalah blog saya bersama sang calon suami yang saya rilis 18 April 2009 lalu. Judulnya sih blog berdua, tapi kebanyakan malah saya yang nulis yaaa walaupun isi ceritanya sih tentang kita berdua, si dia nya sibuk banget siihhh. Baiklah, berhubung saya lagi gak ada kerjaan tapi pengen nulis. Izinkan saya untuk pertama kalinya mengenalkan sosok si Cabe dan si Tomat di rumah saya ini, tukang lotek. =)

(more…)

ASIK! aku mau jadi dokter gigi!!!

10 Feb

Bismillah…

Tidak terasa sudah tahun ketiga saya berkuliah di fakultas ini. Fakultas yang tidak pernah saya membayangkan berada di sini sebelumnya. Hampir genap 3 tahun saya berkutat dengan segala dinamika yang ada di sini. Kuliah, praktikum, organisasi, bermain, tertawa, mengeluh, ngegosip (ups!), berkarya, ahh… terlalu banyak hal yang sudah saya lakukan di sini. Benar-benar rasanya saya masih belum percaya kalau ini adalah tahun ketiga. Tahun di mana saya menjadi senior tingkat atas, karena angkatan satu tahun di atas saya sudah mulai disibukkan dengan tugas akhirnya dan jarang terlihat di kampus dan hanya beberapa saja yang masih aktif ikut acara kampus, jadi yha angkatan saya ini yang jadi senior in house. Eh, itu bukan sih istilahnya? Yha anggaplah itu lah yhaa..

Saya masih sangat ingat ketika saya memasuki setiap sudut kampus ini dengan seragam putih hitam. Bukan, saya bukan penjaga toko kelas training, tapi saya adalah mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Gigi yang sedang mengikuti masa orientasi. Masih sangat lekat dalam ingatan ketika saya harus bangun pagi sekali menuju kampus, menghadapi para panitia, mengikuti seminar-seminar yang saya jadikan waktu tidur (hehe), dan saat-saat ketika evaluasi ospek tiba. Ouw… saya juga masih ingat ketika saya dibopong ke ruang medik gara-gara pingsan. Hahaha… Jadi ceritanya saya ditanya sama ordre (satdis-red) waktu itu.

“Kamu tau dek siapa Ketua BPM di FKG?”

“Emm… emmm.. “

“Jawab dek! Sudah hari ketiga kamu masih lupa nama ketua BPM????!!!”

“Emm… Saya tanya temen saya dulu yha teh.”

Ordre itu pun mengangguk kaku.

“Siapa?”

“Nenisashi Neta”

“Angkatan berapa?”

“Emm.. 2005 kalo gak salah.”

“Kalo gak salah?!?! Jadi yang benarnya apa??? Kamu jangan asal dek!”

“Emm…”

“Apa konsekuensinya jika kamu salah?”

“Saya akan mencari tahu lagi Teh langsung ke orangnya.”

Saya langsung mencari-cari ke kumpulan panitia yang sedang berbaris rapi.

“Teh Netaa.. Teh Neta mana yha?”

Saya cari gak ada. Emm… kepala semakin pusing. Badan semakin lemah… dan gubrak. Saya pingsan. HEHE.

Ahh.. kenangan retromolar pad begitu membuat saya merasa nyaman berada di FKG. Meski saya belum menemukan siapa sahabat kental saya nantinya, tapi saya sudah mulai menyayangi FKG.

Saya pun masih ingat ketika saya duduk menangis sangat tersedu karena kesal dengan PTBS. Kesal dengan berbagai tugas dan praktikumnya yang begitu menyita waktu saya dan terlebih kepada SAYA GAK NGERTI FISIKAAAA! Waktu itu saya sempat menelepon papa, minta pindah dari FKG gara-gara yang namanya PTBS dengan mata kuliah fisikanya! HAHAHA… berlebihan yha…

Mata kuliah demi mata kuliah semua saya lewati. Praktikum demi praktikum semua saya lewati. Meskipun saya suka nangis, ngeluh, terlambat kerjaan praktikumnya, daaannn berbagai macam kesukadukaan yang saya alami di sisi akademis saya, di mana lebih banyak dukanya =(

Apa yang membuat saya bertahan di FKG? Alhamdulillah saya jalani semua ini dengan tidak meninggalkan salah satu hobi saya.  Berorganisasi. Banyaaaaaaaaaaaaakkkk sekali yang saya dapatkan di sini. Ahh sepertinya terlalu panjang jika saya harus menguraikan apa yang saya dapatkan di organisasi dan apa saja yang saya rasakan di sini. Terlalu banyak.

Jadi, mari kita kembali pada topik tahun ketiga yang dari awal saya angkat, di sini saya akan bercerita atau lebih tepatnya curhat tentang keresahan hati saya selama ini (halah). Saya adalah calon dokter gigi. Calon tokoh masyarakat di bidang kesehatan. Satu hal yang selalu menjadi hambatan bagi saya adalah sense of dentist yang saya punya itu minim sekali. Saya lebih bangga dan lebih bersemangat ketika saya merencanakan impian saya menjadi seorang penulis atau pembicara di bidang Human Development daripada sebagai dokter gigi.

Diskusi dengan teman, diskusi dengan orang tua, diskusi dengan calon suami, semuanya tidak membuat saya bersemangat menjadi seorang dokter gigi yang mumpuni. Saya bahkan sudah menyerah dengan profesi saya ini. Saya hanya ingin menyelesaikan studi ini dan menjadikannya sebagai satu sisi bekal hidup saya, tapi ketika lulus, saya hanya ingin menjadi penulis. Itu saja.

Alhamdulillah, saat ini, semangat lain selain bersemangat menjadi penulis itu datang. Semangat menjadi dokter gigi itu akhirnya datang juga di tahun ketiga ini. Nah, dari mana saya mendapatkannya? Saya dapatkan dari berbagai event ekternal yang saya ikuti. Kalau di kampus saya sudah asik dengan ke-stress-an kerjaan praktikum dan kebingungan mengerti mata kuliah, di luar saya mendapat gambaran apa yang akan saya jalani setelah saya lulus nanti. Entahlah… saya menjadi bersemangat saja.

Pertama saya ikut ceramah kesehatan di BI Tower. Acara penyuluhan kesehatan gigi dan mulut untuk para pensiuanan BI. Liputannya bisa dibaca di sini.  Teruuss, saya ikut acara DHE di SD Jayasari. Di situ saya diminta panitia penyelenggara untuk menjadi operator yang memeriksa plaque score anak SD. Gatau kenapa saya ngerasa udah jadi dokter gigi aja (hehe) dan itu menyenangkan ternyata! Apalagi melihat masyarakat yang sangat antusias ingin giginya jadi sehat dan bersih. Lalu saya diajak mama mengikuti sidang promosi doktoralnya drg, Inne Suherna. Semakin ke sini semakin sering saya ikut acara-acara eksternal. Apalagi kalau acaranya bareng fakulas lain, di mana kita bisa merasakan bahwa kita itu dianggap lebih ngerti masalah gigi daripada yang lainnya. Kalau di kampus kan, banyak yang lebih jago daripada saya T_T (tragis)

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah….

Sekarang, ketika saya kuliah dan mungkin ketika nanti saya praktikum, semangat belajar dan rasa ingin tahu saya menjadi bertambah-tambah. Saya ingin menjadi dokter gigi yang mumpuni. Dokter gigi yang dapat menghasilkan senyuman-senyuman manis para pasiennya. Dokter gigi yang tidak hanya praktek di klinik saja, tapi dokter gigi yang di setiap jeda waktunya tidak berhenti menulis, tidak berhenti berkarya, dan tidak berhenti member menfaat. Semoga =)

Nah, apa maksud dari saya menulis tentang ini? Mungkin ada beberapa teman di sini yang masih belum ngerasa sense of dentist-nya kayak saya, atau mungkin ngerasa salah jurusan atau hal-hal yang semuanya bermuara pada penyesalan dan keluhan tiada akhir. Jangan menyesal dan berhentilah mengeluh! Insya Allah ini memang sudah jalannya. Seperti apa yang sering saya dapatkan dari nasihat para teman dan orang tua. Yha! Memang ini sudah jalannya. Meski mungkin teman-teman kurang suka, meski sistem masih dalam proses penyempurnaan, insya Allah pasti ada jalannya. Pasti ini yang terbaik bagi kita. Mama saya selalu mengingatkan,

“Teh.. yang baik menurut kita belum tentu baik buat kita. Sebaliknya, yang buruk menurut kita belum tentu buruk buat kita. Jadi, belajarlah untuk tenang, tidak reaktif, dan melihat semuanya dari sisi positif.”

Mungkin apa yang saya lakukan selama ini bisa menjadi alternative teman-teman untuk membangkitkan semangat menjadi dokter gigi. Buat yang memang sudah bersemangat, semoga bisa menambah kebanggaan menjadi seorang dokter gigi. Bagi yang sudah bangga menjadi calon dokter gigi, semoga semakin bersemangat mengembangkan ilmu yang semuanya itu berujung pada perbaikan kehidupan masyakarat.

Sebaik-baik manusia adalah ia yang paling bermanfaat bagi lingkungannya.

Semoga pengalaman pribadi ini bisa menjadi inspirasi, motivasi, dan sarana nasihat-manasihati. Ditunggu masukannya juga untuk penulis.

Semoga bermanfaat!

P.S: Makasi untuk mama, papa, a indra, atha, shali, imbi, sari, icha, kiki, love, drg. Gilang, temen-temen 2009, drg. Inne, semuanyaaaaaaaaaaa.. Tetap komporin saya jadi dokter gigi yhaaa! ^^

Saya bisa. Lalu kamu?

9 Feb

Saat ini saya akan mengisahkan tiga buah kisah inspiratif. Mungkin tidak untuk semua tapi jelas ini inspiratif bagi saya, ya eyalaa makanya ditulis juga ;p

Kisah yang pertama adalah sebut saja Mawar. Ia adalah teman saya sejak SD. Mawar terkenal dengan segala prestasi yang ia punya. Juara 1 di kelas sudah pasti ia yang meraihnya. Sering mengikuti berbagai lomba dan memenangkannya. Cakap berbahasa. Supel dalam pergaulan. Cantik wajah juga hatinya. Ia pun piawai dalam memimpin teman-temannya. Itu terlihat ketika kelompok Praja Muda Karana yang ia pimpin selalu mendapat kelompok terbaik dalam berbagai lomba ketangkasan. Ah dia sempurna… Lulus SMA menikah. Terlihat indah tapi pasti tidak semudah itu juga, apalagi dia masuk ke salah satu fakultas kedokteran terbaik di Indonesia. Sekarang, dia sudah memiliki 2 malaikat kecil yang menemaninya berjuang. Sungguh saya rasa pasti itu tidak mudah. Tapi dia bisa dan dia bahagia. Saya selalu dengan betahnya melihat foto-foto dia bersama keluarga kecilnya, yha dia terlihat bahagia. Dia selalu mengatakan bahwa nikah muda adalah pilihan terbaik baginya. Dia mengatakan bahwa banyak kebahagiaan dan keberkahan yang ia dapat. Sempat saya menulis tentang dia sebelum tulisan ini di sini. Dia bisa. Lalu saya?

Kisah yang kedua adalah Melati. Melati adalah teman satu kost-an. Saya mengenal pribadinya yang begitu ceria. Bersemangat dalam berdakwah dan bersemangat mengajak kami shalat berjamaah. Sujudnya selalu yang paling lama. Dia pun menikah di usia muda, di semester 4 kuliahnya. Dia satu angkatan dengan saya. Dia juga aktivis. Ketika dia menikah, dia sedang menjabat sebagai ketua keputrian di fakultasnya. Benar itu tidak mudah. Apalagi dia harus pulang pergi Jatinangor-Bandung untuk kuliah dan berorganisasi. Kini perutnya semakin buncit saja karena Alhamdulillah dia sudah diamanahi malaikat kecil juga. Meski kesibukan kuliahnya, meski kesibukan organisasinya, meski kesibukan rumah tangganya. Dia tetap bahagia dan menjalani semuanya dengan baik-baik saja. Dia bisa. Lalu saya?

Kisah yang ketiga adalah kisah seseorang yang sangat menginspirasi saya. Banyak buku yang telah ia terbitkan. Setiap detik hidupnya tak luput dari pembelajaran. Sepertinya tidak perlu saya uraikan kisah hidupnya di sini. Terlalu panjang dan terlalu sulit dideskripsikan karena yha itu tadi, begitu indah dan menginspirasi! Teman-teman bisa mencari tahu dengan membaca karya-karyanya dan yha saya yakin kalian sudah pernah membacanya. Sempat saya diberikan kesempatan untuk bisa hadir di salah satu seminar dengan dia sebagai pembicaranya. Alhamdulillah, di seminar itu saya dapat kesempatan bertanya.

“Bun, saya seorang mahasiswi. Di kampus saya termasuk mahasiswi yang aktif mengikuti berbagai macam kegiatan kemahasiswaan. Mau tanya dong tips ‘n trik nya untuk tetap jadi aktivis meski nanti status saya sudah menjadi istri? Hehe.”

Saya masih ingat senyumnya ketika ia mendengarkan pertanyaan polos saya.

“Nak, Tau gak? Bunda dulu juga aktivis lho! Bunda menikah saat kuliah. Waktu bunda menyusun skripsi Bunda sedang hamil. Jadi, Faiz, anak bunda yang pertama ini sering sekali diajak diskusi sama Bunda. Sampe Ayahnya bilang: Bun, jangan diajak mikir terus dong bayinya. Kasian…. Hihi. Tapi semuanya berjalan lancar Alhamdulillah. Bunda bisa menyelesaikan kuliah dan rumah tangga Bunda baik-baik saja. Semuanya tergantung komitmen kamu dengan suami kamu nanti. Percaya deh sama Bunda, yang namanya jadi aktivis itu gak ada ruginya. Kamu jadi pinter mengatur waktu dan nanti ketika kamu sudah jadi istri dan ibu, kamu akan terlatih untuk tetap dinamis. Ilmu yang kamu dapat menjadi seorang aktivis akan sangat bermanfaat untuk kehidupan rumah tangga kamu. Tips ‘n triknya yhaa selalu yakin kalo kita bisa dan tetap bersemangat. Insya Allah selalu ada jalan.”

Helvy Tiana Rosa, inspirator terbesar saya untuk menjalani semua ini. Menikah di usia muda, aktivis, dan penulis dengan banyak karya yang menginspirasi. Dia bisa. Lalu saya?

Inilah tiga kisah yang membuat saya tidak pernah menyesal memilih jalan ini. Jalan di mana saya harus mengisi waktu muda dengan menjadi istri dan ibu suatu saat nanti. Tidak mudah memang. Sangat tidak mudah. Ada banyak godaan, tantangan, hambatan, dan ujian. Tapi itu semua membuahkan pembelajaran. Saya bisa. Lalu kamu?

Bagi yang bekerja keras, keberhasilan bukanlah masalah kemungkinan, tapi masalah waktu. Bersemangatlah menyambut hadiah bagi kerja keras Anda. Itulah tanda iman. –Sebuah nasihat MTGW yang saya dapat dari sms seorang teman.

Semoga bermanfaat!

Ceramah Kesehatan PPBI

1 Feb

Okei.

Where I have to start?

Hari ini hari Senin. Hari pertama di awal pekan dan hari pertama di bulan Februari. Fortunately, I have an amazing experience. Berawal ketika Cut Thysa menelepon saya untuk hadir di sebuah acara seminar tentang komunikasi efektif yang diadakan oleh Dokter Gilang. Mikir sebentar, dan saya pun menyanggupi. Lumayan buat mengisi waktu luang, pengalaman, dan ilmu =)

Jam 9 kurang 10 menit saya sudah dengan cantiknya nongkrong di depan BI Tower di Jl Perintis Kemerdekaan, nunggu Thysa. Saking antengnya nongkrong, Bapak satpam menghampiri saya. Hihi ^^

“Ada acara neng di sini?”

“Iya pak. Seminar tentang dokter gigi gitu… Ada kan yha pak?”

“Dokter gigi yha? Kayaknya gak ada neng!”

“Ah masa sih? Tentang kesehatan-kesehatan gitu…”

“Emang siapa neng penyelenggaranya?”

-mampus gue-

“Ummm… dokter Gilang!” –dengan sok taunya-

“Gak ada neng. Ada sih acara tapi buat pensiunan. Neng ikut itu kali?”

“Heh?? Gak pak.. Beda kayaknya. Yaudah makasih yha pak!”

“Nunggunya di dalem aja atuh neng, kasian di sini mah banyak debu!”

-Aiihh… saya mah gak takut debu pak, udah pake pelindung wajah yang tidak boleh disebut merk-nya, hehe ;D-

Tapi akhirnya saya nurut juga untuk nunggu di dalem. Di lobi BI Tower itu. Sambil baca kumpulan cerpen Mimpi-mimpi si Patah Hati karangan Sendutu Meitulan. Sambil baca sambil memperhatikan sekitar. Iya yha kok yang rame banyaknya para ibu-ibu dan bapak-bapak yang usianya sebayaan ama kakek saya. Sama sekali gak ada suasana seminar FKG seperti biasa. Iseng liat papan deket lift, ada sih tulisan Ceramah Kesehatan PPBI di lantai 5. Aha! Ini kali yha? Awalnya sih mau dengan pedenya langsung nyamperin lantai 5 tapi gak dulu deh. Nunggu Thysa aja dulu. Dia kan yang ngajakin saya ke sini. Dia kayaknya lebih tau tentang acara ini.

Ada seorang ibu hilir mudik gak jelas, sibuk dan kayaknya seorang EO.

“Bu, acaranya di lantai 5 yha!”

Nah lho! Oma itu juga acaranya di lantai 5! Wah jangan-jangan emang bener acara yang ada di sini cuma buat kumpul para pensiunan. Aduh, gak salah gedung kan saya?!

Kecemasan saya tidak bertahan lama karena tidak lama kemudian saya melihat kedatangan dokter Gilang. Yeah! Tapi, saya gak berani nyapa dokter Gilang. Nunggu Thysa aja deh. Hehe.

Gak lama kemudian, Thysa pun datang. Kita berdua ke lantai 5 dan duduk di barisan depan. Iya guys. Ini acara para oma dan opa itu. Saya pun masih bingung. Sebenernya acara apa sih ini?! Nanya Thysa, Thysa juga kurang tau. Akhirnya gak lama kemudian saya baru ngeh ini acara apa. Acara rutin pensiunan pegawai BI dan untuk saat ini temanya adalah tentang kesehatan gigi dan mulut. Oalaaa… kirain acara seminar beneran, ternyata setipe DHE gitu ^^ Saya dan teman seangkatan pernah juga ngadain acara kayak gini, tapi audiensnya anak-anak SD, hihi ;D

Saya mengikuti acara tersebut dengan penuh perhatian dan keseriusan tingkat tinggi. Haha, lebai yha? Maklum, salah satu cita-cita saya kan jadi pembicara juga^^v. Dokter Gilang dengan terampilnya memberikan ilmu dan sharing tentang kesehatan gigi dan mulut pada para audiens. Lalu, apa yang saya dapatkan dari acara ini? Banyak. Hal paling ngena sih ketika ternyata acara penyuluhan ini benar-benar dibutuhkan masyarakat. Buktinya, setelah dokter Gilang selesai memberikan beberapa paparan tentang kesehatan gigi dan mulut, para audiensnya aktif nanya sekaligus konsultasi. Saya semakin yakin aja kalo yang namanya kesehatan gigi dan mulut itu penting banget untuk diedukasikan kepada masyarakat. Dari hal yang paling simple, cara menyikat gigi aja udah banyak hal yang bisa dibahas. Awal kerusakan gigi ternyata most of all itu dari kurang tepatnya cara menyikat gigi.

Sebagai seorang calon praktisi kesehatan, satu hal lagi yang saya dapatkan dengan mengikuti acara ini adalah saya jadi tau dan bisa merasakan bagaimana caranya mengkomunikasikan ilmu yang sudah saya dapatkan di bangku kuliah ke  masyarakat luas yang notabene disiplin ilmunya berbeda. Bagaimanapun, yang namanya kesehatan itu milik dan hak semua orang. Mau itu ekonom, politisi, olahragawan, tentara, bahkan tukang becak sekali pun, butuh yang namanya sehat. Makanya, kita sebagai praktisi kesehatan, yang diamanahi untuk memanfaatkan ilmu tersebut harus bisa cakap di dunia nyata kayak gini. Dunia yang mengharuskan kita berhadapan dengan teman tidak seprofesi.

Seneng banget bisa berada dalam acara ini. Nasib baik bagi saya diberi kesempatan untuk mendapat ilmu seperti ini. Terima kasih Thysa untuk ajakannya, terima kasih dokter Gilang untuk kesempatan dan ilmunya, dan terima kasih juga PPBI. Alhamdulillah ini rizki yang tak disangka-sangka.

Nah, buat teman-teman yang kebetulan membaca resume pengalaman saya hari ini. Jangan berkecil hati karena gak berkesempatan ada di acara itu, masih banyak banget kesempatan untuk ini. Kita bisa buka kesempatan-kesempatan lain untuk berbagi ilmu dan sharing dengan masyarakat luas. Gak usah nunggu jadi dokter gigi dulu kali yha? Sedikit apapun ilmu yang sudah kita punya, insya Allah akan ada manfaatnya untuk mereka. Untuk Indonesia yang lebih baik.

Seperti apa yang sudah dokter Gilang utarakan ketika acara tadi, menjadi lebih baik itu gak bisa sendirian, harus sama-sama, apalagi penyakitnya udah sistemik. Perlu partisipasi dari setiap kalangan masyarakat. Jadiiiii, ayo bangkit! Kita bangun perubahan mulai dari sekarang! Bersama kita bisa! berSAMa Untuk meRAih prestasI ;) [SAMURAI, visinya BEM KEMA FKG UNPAD tahun ini, hehe-

-Asri Fitriasari-

Mahasiswa FKG Unpad Angkatan 2007

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.